JIEP: Journal of Islamic Education Papua DOI: 10. 53491/jiep. Vol. No. Januari 2025, pp. 142 Ae 155 ISSN 3021-7180 (Onlin. Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan Budaya Religius di SMK Salafiyah Plumbon Cirebon Sihabudin1. Mochamad Asep Kuswara2 1,2 UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Indonesia syihabuddinachmad1000@gmail. com1, kuswaraasep4@gmail. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan budaya religius dalam pembentukan karakter siswa di SMK Salafiyah Plumbon. Cirebon. Budaya religius dianggap penting dalam membentuk kedisiplinan, tanggung jawab sosial, dan moral Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan implementasi strategi disiplin dan persuasif yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam mendukung kegiatan keagamaan. Pendekatan disiplin menekankan pada penerapan aturan yang konsisten terkait kegiatan keagamaan, sedangkan pendekatan persuasif mengajak siswa untuk lebih memahami nilai-nilai Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua pendekatan ini berhasil meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab sosial, dan perilaku moral siswa. Meskipun ada tantangan seperti keterbatasan fasilitas dan dukungan orang tua, kepala sekolah berhasil menciptakan lingkungan yang inklusif dan mendukung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya religius yang diterapkan secara konsisten dapat membentuk karakter siswa yang lebih baik dan berdampak positif dalam kehidupan pribadi dan sosial mereka. Kata Kunci: Budaya Religius. Karakter Siswa. Pendekatan Disiplin Abstract. This research aims to explore the implementation of religious culture in shaping students' character at SMK Salafiyah Plumbon. Cirebon. Religious culture is considered essential in building students' discipline, social responsibility, and moral This study uses a qualitative descriptive approach to illustrate the implementation of disciplinary and persuasive strategies applied by the school principal in supporting religious activities. The disciplinary approach emphasizes the consistent enforcement of rules related to religious activities, while the persuasive approach encourages students to better understand religious values. The findings show that both approaches successfully improved students' discipline, social responsibility, and moral Despite challenges such as limited facilities and parental support, the principal managed to create an inclusive and supportive environment. This study shows that consistently applied religious culture can shape students' character and have a positive impact on their personal and social life. Keywords: Religious Culture. Student Character. Disciplinary Approach A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. ttps://creativecommons. org/licenses/by/4. http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua Vol. No. Januari 2025 Pendahuluan Pendidikan di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, terutama karakter religius. Di tengah perkembangan zaman yang semakin maju, generasi muda harus dibekali dengan akhlak yang kuat sebagai benteng dari berbagai pengaruh negatif. Salah satu aspek yang penting dalam pendidikan karakter adalah pembentukan budaya religius yang dapat membentuk karakter siswa secara Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pendidikan harus menjadikan peserta didik memiliki kecerdasan, keterampilan, kepribadian yang baik, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, pengembangan budaya religius di sekolah harus menjadi prioritas dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan tersebut. Budaya religius di sekolah meliputi pembiasaan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari siswa, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Ini berarti bahwa pendidikan agama di sekolah bukan hanya sekedar mengajarkan teori, tetapi juga mengarahkan siswa untuk mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam perilaku sehari-hari. Dalam konteks ini, kepala sekolah memegang peranan yang sangat vital. Kepala sekolah sebagai pemimpin di tingkat institusi pendidikan memiliki tanggung jawab dalam merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi berbagai kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan budaya religius di sekolah. Peran kepala sekolah yang strategis ini sangat diperlukan untuk memastikan bahwa program-program keagamaan yang ada di sekolah dapat dilaksanakan dengan baik dan berdampak pada pembentukan karakter siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Fatimah (Beno et al. , 2. di SMPN 53 Makassar mengungkapkan bahwa kepala sekolah memiliki peran yang sangat signifikan dalam mengembangkan budaya religius di sekolah. Fatimah menekankan bahwa kepala sekolah tidak hanya mengatur kebijakan yang mendukung kegiatan keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai teladan bagi seluruh warga sekolah. Dengan menunjukkan sikap yang konsisten dalam menerapkan nilai-nilai agama, kepala sekolah dapat memotivasi siswa untuk lebih memahami dan mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Program-program seperti kegiatan tadarus al-Qur'an, shalat berjamaah, dan pembinaan http://e-journal. id/index. php/jiep Sihabudin, & Mochamad Asep Kuswara Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan. karakter berbasis nilai agama menjadi bagian penting dari kebijakan kepala sekolah dalam membangun budaya religius. Lebih lanjut, penelitian oleh Alawiyah (Awaliyah, 2. di MI Nurul Huda Bangsri Kertosono Nganjuk juga menyoroti pentingnya peran kepala sekolah dalam meningkatkan karakter religius siswa. Dalam penelitian ini. Alawiyah menyatakan bahwa kepala sekolah harus mampu merancang program yang berorientasi pada pembentukan karakter religius siswa. Di MI Nurul Huda, program-program yang dirancang oleh kepala sekolah termasuk pembiasaan tadarus al-Qur'an, pengajian rutin, serta kegiatan sosial berbasis agama yang melibatkan siswa secara aktif. Alawiyah menambahkan bahwa keberhasilan dalam meningkatkan karakter religius siswa sangat dipengaruhi oleh keteladanan yang diberikan oleh kepala sekolah dan guru. Sukmana (Sukmana, 2. dalam penelitiannya mengenai manajemen kepala sekolah di SMK Negeri 1 Kopang, menunjukkan bahwa pengembangan budaya religius di sekolah kejuruan seperti SMK memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan sekolah umum atau madrasah. Di SMK, kepala sekolah menghadapi tantangan dalam mengintegrasikan program keagamaan dengan pendidikan keterampilan yang lebih praktis. Namun. Sukmana menekankan bahwa kepala sekolah yang memiliki visi yang jelas dalam menggabungkan kedua aspek ini dapat menghasilkan lingkungan sekolah yang tidak hanya kompeten dalam keterampilan, tetapi juga berakhlak mulia. Hal ini mengharuskan kepala sekolah untuk lebih kreatif dalam merancang program yang menyatukan pendidikan keterampilan dan kegiatan religius yang rutin. Sementara itu. Al Hulaymi (Pokhrel, 2. meneliti pembentukan karakter religius di SMP Islam Terpadu Bina Insani Kediri, yang menunjukkan bahwa kepala sekolah memiliki peran yang penting dalam menanamkan karakter religius melalui program Bina Pribadi Islam. Al Hulaymi menjelaskan bahwa program ini tidak hanya mencakup pembelajaran agama, tetapi juga membentuk sikap religius siswa dalam kehidupan sehari-hari. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk memastikan bahwa program-program ini dapat diimplementasikan secara efektif dan berdampak positif terhadap perkembangan karakter religius siswa. Istikomah (Istikomah et al. , 2. dalam penelitiannya di SMA Walisongo Semarang juga mengungkapkan pentingnya kepemimpinan kepala sekolah dalam meningkatkan budaya religius. Kepala sekolah yang memiliki kemampuan dalam http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua Vol. No. Januari 2025 memotivasi dan melibatkan seluruh warga sekolah, termasuk guru, siswa, dan orang tua, dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan karakter religius siswa. Istikomah menunjukkan bahwa kepala sekolah perlu memiliki strategi yang jelas dalam mengintegrasikan pendidikan agama dalam kegiatan sekolah, baik dalam pembelajaran formal maupun kegiatan ekstrakurikuler. Dalam konteks SMK Salafiyah Plumbon Cirebon, penelitian mengenai strategi kepala sekolah dalam mengembangkan budaya religius sangat relevan mengingat karakteristik SMK yang lebih menekankan pada pengembangan keterampilan. Namun, meskipun sekolah ini berfokus pada pendidikan keterampilan, pengembangan budaya religius tetap penting untuk menciptakan siswa yang tidak hanya terampil tetapi juga berakhlak baik. Kepala sekolah di SMK Salafiyah Plumbon perlu merancang kebijakan yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam pembelajaran keterampilan, seperti melalui kegiatan ibadah bersama, kajian agama, dan pembinaan karakter religius Dengan demikian, strategi kepala sekolah dalam mengembangkan budaya religius memiliki tantangan dan pendekatan yang berbeda-beda di setiap jenjang pendidikan dan jenis sekolah. Namun, peran kepala sekolah tetap sangat krusial dalam menciptakan lingkungan sekolah yang tidak hanya mendidik siswa dalam bidang akademik, tetapi juga membentuk karakter religius yang kuat. Metode Penelitian Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif, yang sering disebut sebagai metode penelitian naturalistik karena penelitian ini dilakukan dalam kondisi yang alami . atural settin. Metode ini dipilih karena data yang dikumpulkan dan dianalisis bersifat kualitatif, berfokus pada pemahaman mendalam daripada angka atau statistik (Anto et al. , 2. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Salafiyah Plumbon. Cirebon, dengan tujuan untuk mengamati fenomena yang terjadi di lapangan secara Pendekatan kualitatif ini berlandaskan pada filsafat postpositivisme, yang menekankan pentingnya memahami objek penelitian dalam kondisi alamiah tanpa intervensi atau manipulasi dari peneliti, yang berbeda dengan pendekatan eksperimen. Metode penelitian ini melibatkan purposive sampling dan snowball sampling untuk pengambilan sampel data. Peneliti memilih informan yang dianggap relevan dan http://e-journal. id/index. php/jiep Sihabudin, & Mochamad Asep Kuswara Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan. memperluas jaringan sampel berdasarkan rekomendasi informan yang sudah ada. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi, yang menggabungkan berbagai teknik seperti wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini bersifat induktif, dengan fokus pada makna yang terkandung dalam data yang terkumpul, bukan pada generalisasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai fenomena yang terjadi, serta menggali makna dari penerapan budaya religius di sekolah (Zakiyah et al. , 2. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam mengenai strategi kepala sekolah dalam mengembangkan budaya religius di SMK Salafiyah Plumbon Cirebon dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengembangan tersebut. Berdasarkan data yang diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan studi dokumentasi, temuan-temuan utama telah menunjukkan berbagai strategi dan tantangan yang dihadapi dalam penerapan budaya religius di sekolah. Pembahasan ini akan menyajikan temuan tersebut dilengkapi dengan mengilustrasikan berbagai aspek yang terkait dengan implementasi budaya religius. Peran Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Religius Kepala Peran kepemimpinan kepala sekolah di SMK Salafiyah Plumbon sangat penting dalam menciptakan iklim sekolah yang mendukung pembentukan karakter Kepemimpinan yang visioner dan strategis dari kepala sekolah menjadi faktor utama dalam penanaman nilai-nilai agama di seluruh elemen sekolah, mulai dari guru, staf, hingga siswa. Kepala sekolah tidak hanya berfokus pada kegiatan keagamaan formal, tetapi juga mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam kegiatan sehari-hari siswa, sehingga menciptakan suasana yang konsisten dalam mengembangkan karakter religius(Muspiroh, 2. Berdasarkan wawancara dengan kepala sekolah, beliau memiliki visi yang jelas untuk membangun budaya religius yang tidak hanya terbatas pada rutinitas ibadah, tetapi juga mencakup pembentukan sikap dan perilaku siswa yang mencerminkan nilainilai agama. Dalam upaya tersebut, kepala sekolah mengambil langkah proaktif dengan merumuskan kebijakan yang mempromosikan budaya religius, seperti integrasi nilai http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua Vol. No. Januari 2025 agama dalam berbagai kegiatan sekolah, serta memastikan bahwa setiap kebijakan yang diterapkan di sekolah mencerminkan prinsip-prinsip keagamaan. Kepemimpinan kepala sekolah dalam pengembangan budaya religius tercermin dalam beberapa aspek penting (Habib & Mustofa, 2. Pertama, kepala sekolah memastikan bahwa budaya religius menjadi bagian integral dalam kebijakan sekolah. Kedua, beliau memberikan keteladanan yang kuat dalam menjalankan prinsip-prinsip agama, baik dalam disiplin ibadah maupun perilaku sehari-hari. Ketiga, kepala sekolah memiliki visi yang jelas untuk menjadikan SMK Salafiyah Plumbon sebagai sekolah yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga dalam membentuk karakter siswa yang mengintegrasikan nilai-nilai agama secara menyeluruh. Strategi Penerapan Budaya Religius di SMK Salafiyah Plumbon Penerapan budaya religius di SMK Salafiyah Plumbon dilakukan melalui berbagai strategi yang saling mendukung dan melibatkan seluruh elemen sekolah. Kepala sekolah memainkan peran penting dalam mengintegrasikan kegiatan keagamaan ke dalam rutinitas harian siswa serta memastikan bahwa kebijakan yang diterapkan di sekolah mendukung pembentukan karakter religius. Berbagai strategi telah dirancang untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi pembentukan karakter siswa, di antaranya melalui kegiatan keagamaan rutin, integrasi nilai religius dalam kurikulum, serta pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis agama. Semua langkah tersebut bertujuan untuk menciptakan sekolah yang tidak hanya unggul dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pembentukan moral dan karakter religius. Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah kegiatan keagamaan rutin yang dilakukan setiap hari. Kegiatan ini meliputi doa bersama yang dilaksanakan sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, shalat berjamaah yang diadakan di masjid sekolah, serta pengajian rutin setiap minggu untuk memperdalam pemahaman agama. Selain itu, ceramah agama yang diadakan dengan mengundang tokoh agama juga menjadi bagian dari kegiatan keagamaan di sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membiasakan siswa dengan kehidupan religius sehari-hari, sekaligus mempererat hubungan antara siswa, guru, dan masyarakat dalam upaya membangun budaya religius yang kokoh. Kegiatan keagamaan rutin ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tetapi juga sebagai media untuk memperkenalkan nilai-nilai agama kepada siswa secara http://e-journal. id/index. php/jiep Sihabudin, & Mochamad Asep Kuswara Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan. (Candra Wulan et al. , 2. Dengan melakukan doa bersama setiap pagi, siswa diajak untuk memulai hari dengan niat baik dan kesadaran akan pentingnya spiritualitas dalam kehidupan mereka. Shalat berjamaah yang dilaksanakan di masjid sekolah juga menjadi sarana untuk memperkuat rasa kebersamaan dan gotong royong antar siswa. Pengajian rutin dan ceramah agama semakin memperkaya wawasan siswa tentang ajaran agama dan mengajarkan mereka untuk lebih mendalami nilai-nilai yang terkandung dalam agama. Selain kegiatan keagamaan rutin, kepala sekolah juga memastikan bahwa nilainilai agama diterapkan dalam kurikulum yang diajarkan di sekolah. Dalam hal ini, kepala sekolah berupaya agar nilai-nilai agama tidak hanya diajarkan dalam mata pelajaran agama saja, tetapi juga diintegrasikan dalam mata pelajaran lainnya. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, siswa diajarkan tentang pentingnya moralitas, etika, serta nilai-nilai sosial yang berbasis pada ajaran agama. Pendekatan ini bertujuan untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan moral yang baik dalam kehidupan sosial mereka. Integrasi nilai religius dalam berbagai mata pelajaran ini sangat penting untuk membentuk kesadaran siswa tentang pentingnya moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan ini, siswa diharapkan dapat melihat hubungan antara ajaran agama dan berbagai aspek kehidupan mereka, baik itu dalam kehidupan akademik, sosial, maupun pribadi(Candra Wulan et al. , 2. Hal ini juga membantu siswa untuk menginternalisasi nilai agama sebagai pedoman hidup yang menyeluruh, bukan hanya sebagai teori yang terpisah dari kehidupan mereka. Selain kegiatan rutin dan integrasi dalam kurikulum, kepala sekolah juga mendorong pengembangan kegiatan ekstrakurikuler berbasis agama yang dapat memperkaya pengalaman siswa. Kegiatan ekstrakurikuler ini, seperti lomba tahfidz AlQur'an, kegiatan sosial berbasis agama, dan pengajian umum, tidak hanya bertujuan untuk memperdalam pengetahuan agama, tetapi juga untuk mengembangkan kedisiplinan, tanggung jawab, serta sikap saling menghargai antar sesama siswa. Melalui kegiatan ekstrakurikuler ini, siswa diajak untuk menerapkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di luar sekolah, sehingga mereka dapat http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua Vol. No. Januari 2025 tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Pendekatan Disiplin dan Persuasif dalam Penanaman Budaya Religius Pendekatan disiplin dan persuasif dalam penanaman budaya religius di SMK Salafiyah Plumbon merupakan dua strategi utama yang diterapkan untuk membentuk karakter religius siswa. Kepala sekolah berperan penting dalam memastikan bahwa kedua pendekatan ini berjalan beriringan, dengan tujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan pribadi yang berakhlak mulia dan berdisiplin dalam menjalankan ajaran agama. Kedua pendekatan ini saling melengkapi, dengan disiplin yang mengatur perilaku sehari-hari siswa dan persuasif yang mengajak mereka untuk memahami nilai-nilai agama secara mendalam. Pendekatan disiplin diterapkan dengan menegakkan aturan yang jelas mengenai kewajiban siswa mengikuti kegiatan keagamaan, seperti shalat berjamaah, pengajian rutin, dan menjaga perilaku moral di sekolah. Kepala sekolah memastikan bahwa aturanaturan ini dijalankan dengan tegas dan konsisten. Siswa yang melanggar aturan akan diberikan sanksi yang mendidik, bukan hanya sebagai hukuman, tetapi sebagai cara untuk mengajarkan mereka tentang pentingnya menjalankan ajaran agama secara disiplin (Rodryguez. Velastequy, 2. Sanksi yang diberikan lebih bertujuan untuk meningkatkan kesadaran siswa tentang nilai-nilai agama dan bagaimana disiplin dalam beribadah berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Selain pendekatan disiplin, kepala sekolah juga menggunakan pendekatan persuasif untuk membangun pemahaman dan kesadaran spiritual siswa. Pendekatan ini tidak hanya mengandalkan aturan dan sanksi, tetapi juga melibatkan kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan motivasi internal siswa dalam menjalankan ajaran agama. Melalui ceramah agama, diskusi kelompok, dan bimbingan rohani, siswa diberikan pemahaman yang lebih dalam tentang pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam setiap aspek kehidupan mereka. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya patuh pada aturan, tetapi juga mengerti manfaat dari menjalankan ajaran agama dengan penuh kesadaran. Dalam pendekatan persuasif, kepala sekolah berusaha mengajak siswa untuk menyadari bahwa menjalankan ajaran agama bukan hanya kewajiban, tetapi juga http://e-journal. id/index. php/jiep Sihabudin, & Mochamad Asep Kuswara Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan. merupakan bagian dari pengembangan diri yang lebih baik. Dengan memberikan ruang bagi siswa untuk berdiskusi dan bertanya tentang ajaran agama, diharapkan mereka dapat menemukan makna yang lebih dalam dalam setiap ibadah yang mereka lakukan. Kesadaran spiritual yang tumbuh dari pendekatan ini akan mendorong siswa untuk lebih aktif dalam beribadah, serta lebih disiplin dalam menjalani ajaran agama. Kombinasi dari kedua pendekatan ini diharapkan dapat membentuk siswa yang tidak hanya memiliki disiplin tinggi dalam menjalankan agama, tetapi juga memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai agama yang mereka anut. Pendekatan disiplin memberikan dasar yang kokoh bagi siswa untuk menjalankan ajaran agama dengan tertib, sedangkan pendekatan persuasif mengarah pada pemahaman yang mendalam dan motivasi internal untuk menjadikan ajaran agama sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Melalui sinergi kedua pendekatan ini. SMK Salafiyah Plumbon berupaya menciptakan generasi yang memiliki karakter religius yang kuat, yang dapat memberikan dampak positif tidak hanya dalam kehidupan pribadi mereka, tetapi juga di Pengaruh Budaya Religius terhadap Pembentukan Karakter Siswa Implementasi budaya religius yang konsisten di SMK Salafiyah Plumbon memberikan dampak yang signifikan terhadap pembentukan karakter siswa. Salah satu dampak positif yang terlihat adalah meningkatnya kedisiplinan siswa. Melalui kegiatan keagamaan rutin, seperti shalat berjamaah dan doa bersama, siswa terbiasa dengan jadwal yang teratur dan terbentuk kebiasaan disiplin yang tercermin dalam kegiatan sekolah lainnya. Kedisiplinan ini tidak hanya berlaku dalam konteks ibadah, tetapi juga dalam mengikuti kegiatan akademik dan kegiatan ekstrakurikuler, menjadikan siswa lebih tertib dan terstruktur dalam segala hal (Asania et al. , 2. Selain itu, budaya religius yang diterapkan di sekolah juga berpengaruh terhadap peningkatan tanggung jawab sosial siswa. Dengan terlibat dalam kegiatan keagamaan yang mendorong mereka untuk peduli terhadap sesama, seperti bakti sosial dan penggalangan dana untuk anak yatim, siswa menjadi lebih sensitif terhadap kebutuhan sosial dan mampu menunjukkan empati kepada orang lain. Keterlibatan ini tidak hanya mengembangkan rasa tanggung jawab mereka terhadap masyarakat, tetapi juga http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua Vol. No. Januari 2025 membentuk karakter mereka menjadi lebih peduli dan bertindak dengan niat baik untuk membantu sesama, sesuai dengan nilai-nilai agama yang diajarkan (Beno et al. , 2. Terakhir, dampak positif yang paling terlihat adalah perubahan perilaku moral Penanaman nilai agama yang dilakukan secara konsisten berhasil mengurangi perilaku negatif seperti tawuran, perundungan, dan pelanggaran disiplin lainnya. Siswa yang terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan cenderung menunjukkan sikap yang lebih menghargai norma sosial dan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih tinggi. Perubahan ini juga tercermin dalam sikap mereka terhadap sesama siswa, guru, dan masyarakat, yang lebih mengedepankan sikap saling menghormati dan bertoleransi. Dengan demikian, budaya religius di SMK Salafiyah Plumbon berperan penting dalam membentuk karakter siswa yang lebih baik, tidak hanya dari segi disiplin, tetapi juga dalam hal tanggung jawab sosial dan perilaku moral. Tantangan dalam Pengembangan Budaya Religius Meskipun penerapan budaya religius di SMK Salafiyah Plumbon memberikan dampak yang positif, terdapat beberapa tantangan yang perlu dihadapi dalam Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan fasilitas yang mendukung kegiatan keagamaan. Fasilitas seperti ruang untuk pengajian atau masjid sekolah masih terbatas, sehingga menjadi hambatan dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan secara lebih maksimal. Kurangnya ruang yang memadai juga dapat membatasi kenyamanan siswa dalam mengikuti kegiatan ibadah dan pengajian, yang pada gilirannya mempengaruhi partisipasi mereka dalam kegiatan tersebut. Selain itu, peran orang tua siswa dalam mendukung kegiatan keagamaan di sekolah juga masih tergolong terbatas. Sebagian orang tua belum sepenuhnya mendukung dan terlibat dalam kegiatan keagamaan yang diadakan di sekolah, baik dalam bentuk partisipasi langsung maupun dalam memberi dukungan moral kepada anak-anak Hal ini menjadi tantangan, karena dukungan dari orang tua sangat penting untuk memperkuat penanaman nilai-nilai agama di rumah dan memastikan kesinambungan nilai-nilai tersebut di luar lingkungan sekolah. Tantangan lainnya adalah keberagaman pemahaman agama yang dimiliki oleh Beberapa siswa berasal dari latar belakang agama yang berbeda, sehingga kepala sekolah harus lebih berhati-hati dan sensitif dalam mengelola keberagaman ini (Achadah, http://e-journal. id/index. php/jiep Sihabudin, & Mochamad Asep Kuswara Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan. Pendekatan yang inklusif dan menghargai perbedaan sangat diperlukan agar semua siswa merasa dihargai dan tidak terpinggirkan. Hal ini juga memerlukan kebijakan yang mengedepankan toleransi dan saling menghormati antar siswa, serta memastikan bahwa nilai-nilai religius yang diajarkan di sekolah dapat diterima oleh seluruh siswa tanpa mengabaikan keberagaman agama yang ada. Tabel 1. Strategi Kepala Sekolah dalam Membangun Budaya Religius Aspek Strategi Kegiatan Keagamaan Rutin Integrasi Nilai Religius dalam Kurikulum Ekstrakurikuler Berbasis Agama Pendekatan Disiplin Pendekatan Persuasif Deskripsi Doa bersama, shalat berjamaah, pengajian mingguan, dan ceramah agama secara rutin. Penerapan nilai agama dalam mata pelajaran seperti Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Kewarganegaraan. Lomba tahfidz al-Qur'an, kegiatan sosial berbasis agama, dan pengajian umum yang melibatkan siswa dalam pengamalan agama. Penerapan aturan yang tegas terkait kegiatan keagamaan dan perilaku siswa, serta pemberian sanksi yang mendidik bagi siswa yang melanggar Menggunakan ceramah agama, diskusi, dan bimbingan rohani untuk membangkitkan kesadaran siswa tentang pentingnya nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi yang diterapkan oleh kepala sekolah dalam mengembangkan budaya religius di SMK Salafiyah Plumbon Cirebon terbukti efektif dalam membentuk karakter siswa yang lebih baik. Dengan mengintegrasikan kegiatan keagamaan dalam rutinitas harian, serta menerapkan pendekatan disiplin dan persuasif, siswa menunjukkan peningkatan kedisiplinan yang Mereka lebih teratur dalam mengikuti kegiatan sekolah dan lebih aktif dalam berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan. Hal ini berdampak positif terhadap pembentukan karakter siswa, seperti tanggung jawab, kedisiplinan, dan kesadaran moral yang lebih tinggi. Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan budaya religius tersebut. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas yang mendukung kegiatan keagamaan di sekolah, seperti ruang http://e-journal. id/index. php/jiep JIEP: Journal of Islamic Education Papua Vol. No. Januari 2025 pengajian yang terbatas dan kurangnya fasilitas untuk ibadah. Selain itu, keterlibatan orang tua siswa dalam mendukung kegiatan keagamaan di sekolah masih terbatas, yang menghambat upaya penguatan nilai agama di luar lingkungan sekolah. Keberagaman pemahaman agama di antara siswa juga menambah tantangan dalam memastikan bahwa nilai-nilai religius yang diajarkan dapat diterima oleh semua pihak. Meskipun menghadapi tantangan tersebut, kepala sekolah telah mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasinya. Melalui kebijakan yang inklusif, kepala sekolah berhasil menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pembentukan karakter siswa secara holistik. Pengembangan budaya religius yang berbasis pada nilai agama yang kuat memberikan kontribusi positif dalam menciptakan atmosfer sekolah yang tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan moral dan etika siswa. Ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter berbasis agama dapat menjadi pilar yang kokoh dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial yang tinggi. Kesimpulan Penelitian ini berhasil menunjukkan bahwa penerapan budaya religius di SMK Salafiyah Plumbon, melalui pendekatan disiplin dan persuasif, berpengaruh signifikan dalam pembentukan karakter siswa. Pendekatan disiplin yang ditegakkan dengan aturan yang jelas terkait kegiatan keagamaan membantu siswa membangun kebiasaan ibadah yang teratur, sedangkan pendekatan persuasif yang melibatkan kegiatan seperti ceramah dan diskusi agama memperdalam pemahaman spiritual mereka. Kedua pendekatan ini saling melengkapi dalam membentuk siswa yang tidak hanya disiplin, tetapi juga memiliki kesadaran yang mendalam tentang nilai-nilai agama. Namun, penelitian ini juga menemukan beberapa tantangan dalam implementasi budaya religius di sekolah. Keterbatasan fasilitas yang mendukung kegiatan keagamaan dan kurangnya keterlibatan orang tua dalam mendukung aktivitas keagamaan siswa menjadi hambatan yang signifikan. Keberagaman agama di antara siswa juga memerlukan pengelolaan yang hati-hati agar semua siswa merasa dihargai dan tidak Oleh karena itu, pengelolaan yang inklusif dan kebijakan yang mendukung partisipasi seluruh elemen sekolah sangat diperlukan. http://e-journal. id/index. php/jiep Sihabudin, & Mochamad Asep Kuswara Strategi Kepala Sekolah Dalam Mengembangkan. Rekomendasi yang dapat diberikan untuk langkah selanjutnya adalah memperkuat fasilitas pendukung kegiatan keagamaan di sekolah, seperti ruang pengajian dan tempat ibadah yang memadai. Selain itu, penting untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam kegiatan keagamaan di sekolah, sehingga penanaman nilainilai agama dapat diperkuat baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Dengan demikian. SMK Salafiyah Plumbon dapat terus mengembangkan budaya religius yang tidak hanya menciptakan generasi yang disiplin, tetapi juga memiliki karakter yang mulia, berintegritas, dan peduli terhadap sesama. Daftar Pustaka