PENDAMPINGAN PENCIPTAAN BONEKA WAYANG BAGI SISWA DISABILITAS TULI DI PADEPOKAN SENI SAROTAMA KARANGANYAR Dwiyasmono1. Taufik Murtono 2. Jonet Sri Kuncoro3 1,2,3Institut Seni Indonesia Surakarta dwiyasmono@isi-ska. id, taufik@isi-ska. orresponding autho. 3 jonet@isi-ska. ABSTRAK Penyandang disabilitas, terutama yang memiliki keterbatasan tuli, sering menghadapi kendala dalam mengakses dan menikmati pertunjukan wayang kulit tradisional. Artikel ini berupaya mengatasi masalah tersebut dengan memperkenalkan inovasi berupa penciptaan boneka wayang dan penggunaan balon kata, sehingga pertunjukan wayang menjadi lebih mudah diakses dan dinikmati oleh para penyandang disabilitas tuli. Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memberdayakan penyandang disabilitas tuli melalui seni pedalangan dengan menciptakan boneka wayang yang inovatif dan mudah dipahami, serta menggunakan balon kata untuk membantu mereka memahami dialog dan narasi dalam pertunjukan wayang. Metode yang digunakan dalam PKM ini adalah pendampingan desain yang melibatkan proses identifikasi masalah, perumusan gagasan, eksperimentasi, seleksi, implementasi, dan presentasi. Partisipasi mitra seperti Padepokan Seni Sarotama juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program ini. Hasil dari PKM ini menunjukkan bahwa pendampingan pembuatan wayang dengan balon kata berhasil meningkatkan apresiasi dan pemahaman para penyandang disabilitas tuli terhadap pertunjukan wayang. Mereka merasa lebih terlibat dan dapat menikmati pertunjukan wayang dengan lebih baik. Program ini berhasil menunjukkan bahwa inovasi dalam seni pedalangan dapat menjadi sarana yang efektif untuk memberdayakan penyandang disabilitas tuli. Penggunaan boneka wayang yang inovatif dan balon kata membantu mereka mengatasi keterbatasan dalam mengakses dan menikmati pertunjukan wayang, sehingga meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri mereka. Program ini juga memberikan kontribusi positif terhadap upaya pelestarian budaya wayang di kalangan generasi muda, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Kata kunci: disabilitas tuli, wayang, balon kata, pemberdayaan, seni pedalangan. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. ABSTRACT Persons with disabilities, especially those with hearing impairments, often face significant challenges in accessing and enjoying traditional wayang kulit performances. This community service program seeks to address this issue by introducing innovations in the form of specially designed wayang puppets and the integration of speech balloons . alon kat. to make performances more accessible and engaging for deaf audiences. The aim of this initiative is to empower individuals with hearing disabilities through puppetry arts by creating visually intuitive puppets and providing visual dialogue aids that support their understanding of the narrative and character interactions. The method employed involves a structured design facilitation process that includes problem identification, idea formulation, experimentation, selection, implementation, and presentation. The involvement of community partners such as Padepokan Seni Sarotama is a key component of the program's success. The results show that the use of speech balloons in conjunction with puppet design has significantly improved the level of appreciation, comprehension, and engagement of deaf participants during wayang performances. Participants expressed a stronger emotional connection to the performance and reported increased confidence and self-esteem. This program demonstrates that artistic innovation in traditional puppetry can serve as an effective medium for inclusion and empowerment of individuals with special needs. Additionally, the project contributes to the preservation and revitalization of wayang culture among younger generations, including those with Keywords: hearing disability, wayang, speech balloons, empowerment, puppetry arts. PENDAHULUAN Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu yang lama dalam berinteraksi dengan lingkungan. Mereka dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak (AuUndang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas,Ay n. Berdasarkan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia dalam Pasal 42 menjamin setiap warga negara yang berusia lanjut, cacat fisik dan/atau cacat mental berhak memperoleh perawatan, pendidikan, pelatihan, dan bantuan khusus atau biaya negara, untuk menjamin kehidupan yang layak sesuai dengan martabat kemanusiaannya, meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Jumlah penyandang disabilitas di dunia setidaknya 10% dari populasi manusia, mereka menderita berbagai disabilitas seperti disabilitas fisik, mental, dan sosial. Sementara 80% dari penderita disabilitas tersebut berada di negara-negara berkembang (Fajar and Lestari 2. Ketidakpahaman masyarakat mengenai kelompok minoritas kelompok disabilitas masih dipandang rendah dan mendapat perlakuan berbeda dengan masyarakat mayoritas. Ketidakpahaman masyarakat mengenai kelompok minoritas ini mengakibatkan kelompok disabilitas masih dipandang rendah dan mendapat perlakuan berbeda dengan masyarakat mayoritas (Shufya and Pribadi 2. Sejumlah penelitian menyimpulkan penyandang disabilitas masih terpinggirkan dalam pemenuhan fasilitas dan akses terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS). Persamaan hak akses terhadap perkembangan IPTEKS bagi disabilitas masih menjadi persoalan serius di negara ini (SyafiAoie 2. (Shaleh 2. (Dewi 2. Secara empiris, penyandang disabilitas yang sering mendapat pelakuan diskriminatif dalam kehidupan sosial berakibat pada pengabaian terhadap terpenuhinya hak-hak penyandang disabilitas, meskipun secara yuridis telah ada produk hukum yang memberikan perlindungan terhadap hak-hak mereka. Di sisi lain, dunia seni berkesempatan mengambil peran dalam upaya pemenuhan hak penyandang disabilitas melalui aktivitas yang memberdayakan (Murtono 2. Fungsi seni bagi disabilitas dapat memberikan beragam manfaat dan peluang bagi individu penyandang disabilitas dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Seni dapat menjadi sarana ekspresi, terapi, inklusi sosial, dan juga menjadi ajang pengembangan potensi dan bakat bagi mereka. Diperlukan lebih banyak studi, inovasi, dan inisiatif untuk menggali lebih dalam manfaat seni bagi penyandang disabilitas. Mengingat setiap individu memiliki keunikan dalam mengalami dan mengambil manfaat dari seni sesuai dengan kondisi dan potensi mereka masing-masing. Intervensi seni bagi penyandang disabilitas sangat diperlukan sebagai medium ekspresi dan krerativitas, bahkan untuk terapi dan kesehatan Peristiwa seni juga menjadi sarana inklusi sosial yang melibatkan disablitas dalam kegiatan masyarakat, sekaligus untuk pengembangan potensi dan bakat mereka. Seni pedalangan melibatkan aspek seni pertunjukan dan rupa. Bagi penyandang disabilitas tuli, untuk berpartisipasi dalam pertunjukan seni pedalangan pada umumnya Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. akan mengalami beberapa kendala. Perlu dilakukan inovasi boneka wayang, boneka aksesoris, karawitan iringan, serta naskah yang disesuaikan dengan kondisi keterbatasan Dalam banyak kesempatan pagelaran wayang purwa, beberapa dalang seperti Almarhum Ki Manteb Sudarsono dan Ki Seno Nugroho melakukan inovasi adegan dengan minim dialog serta lebih banyak mengeksplorasi gerak dan tingkah boneka wayang. Hal ini dapat menjadi inspirasi bagi inovasi karya untuk para disablitas tuli. Penciptaan boneka dan asesoris seperti balon kata yang biasa digunakan dalam karya komik yang khusus bagi penyandang disabilitas tuli. Gambar 1. Balon kata, caption, dan balon pikiran dapat diterapkan dalam penciptaan boneka wayang. Adapun tema-tema sosialisasi tentang disabilitas dapat menjadi pesan dalam naskah Tema-tema tersebut dapat disebutkan seperti kesetaraan dan inklusi yang mendorong setiap individu termasuk para disabilitas memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya. Para disabilitas juga berhak mendapatkan pendidikan inklusif yang memastikan adanya akses pendidikan yang setara sehingga mereka dapat belajar dan berkembang di lingkungan yang aman dan nyaman. Aksesibilitas merupakan tema penting yang menjamin ruang-ruang publik adalah hak yang mudah diakses setiap orang termasuk para disabilitas. Tema penghapusan stigma terhadap disabilitas saat ini masih relevan mengingat praktik-praktik stigma secara sadar maupun tidak masih terjadi di masyarakat. Dukungan semua pihak, termasuk lembaga seni merupakan upaya memberdayakan dan menjadikan mereka sebagai bagian dari masyarakat secara utuh. Dukungan ini menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 2. Pementasan wayang oleh anak-anak. Padepokan Seni Sarotama adalah salah satu pusat pelestarian budaya yang terletak di Desa Ngringo. Kecamatan Jaten. Kabupaten Karanganyar. Provinsi Jawa Tengah, dengan mengabdikan pada pendidikan luar sekolah sejak tahun 80-an, utamanya pada seni tradisi Jawa, seperti pedalangan, karawitan, dan tari. Sarotama menawarkan pelatihan seni tradisi kepada generasi muda yang bertujuan untuk melestarikan dan mempromosikan bentukbentuk seni tradisi. Padepokan ini sekaligus berfungsi sebagai pusat kegiatan para seniman dan pemerhati seni tradisi untuk memperjuangkan keberlanjutan warisan budaya tradisi. Sarotama membutuhkan partisipasi semua pihak, terutama para akademisi untuk mewujudkan wahana di mana para siswa dapat belajar dan mempraktikkan berbagai aspek seni pertunjukan tradisi dengan cara yang kreatif sehingga berkontribusi pada kekayaan budaya Nusantara. Gambar 3. Praktik pembuatan boneka wayang oleh anak-anak. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Inovasi-inovasi seni tradisi membutuhkan peran para akademisi dan pemerhati seni. Termasuk pula inovasi yang diperlukan oleh para siswa disabilitas. Selama ini berbagai workshop telah dilakukan oleh pengurus padepokan, namun belum dapat menyentuh seluruh kebutuhan peserta didik, apalagi bagi peserta dengan disabilitas. Inovasi seni untuk anak dengan disabilitas tuli ini sesuai dengan prioritas nasional tentang disabilitas yang menjadi fokus penting dalam pembangunan Bangsa Indonesia. Fokus penting tersebut meliputi eliminasi stigma disabilitas tetap menjadi isu prioritas, dengan penekanan pada integrasi sosial, pendidikan, kesehatan, dan ketenagakerjaan. Undang-undang Nomor 19 Tahun 2011 mengamanatkan lima hak penyandang disabilitas, termasuk pengakuan sebagai individu dan pemerintah berkewajiban memenuhi hak-hak Program nasional pembangunan 2020-2024 memasukkan kelompok disabilitas dalam peningkatan SDM dan perlindungan sosial. Terdapat kumpulan kebijakan dan regulasi untuk menyamakan hak dan kesempatan bagi penyandang disabilitas dalam Pemerintah dan masyarakat perlu aktif memenuhi hak penyandang disabilitas, dengan upaya inklusi dan implementasi untuk kemajuan yang lebih baik. Kebijakan pendanaan riset disabilitas di Indonesia mendapat perhatian dengan rekomendasi kebijakan dari Komite Nasional Disabilitas sesuai dengan implementasi mandat Konvensi Hak-hak Penyandang Disabilitas (CRPD) untuk Perlindungan dan Penghormatan Hak-hak Penyandang Disabilitas. Usulan program PKM ini sejalan dengan semangat ekonomi hijau yang menempatkan fokus pada pertumbuhan ekonomi yang kuat dengan ramah lingkungan dan inklusif secara sosial, serta bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesetaraan sosial. Hal ini sejalan dengan Rencana Induk Pengembangan Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat ISI Surakarta yang salah satu fokusnya menggarap bidang seni dan disabilitas. Saat ini ISI Surakarta telah memiliki Pusat Studi Seni dan Disabilitas, sehingga usulan ini memiliki dasar kuat sebagai wujud peran serta civitas akademik dalam membangun pusat kajian dan penerapan seni melalui pusat studi. Pendampingan penciptaan boneka wayang dan aksesoris balon kata, caption, dan balon pikiran serta penulisan naskah pertunjukan wayang bersama penyandang disabilitas tuli untuk mewujudkan karya yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan mereka dalam rangka untuk meningkatkan peran dan harga diri mereka di tengah masyarakat. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Workshop ini dapat menjadi sarana ekspresi dan kreativitas, menghibur dan menyehatkan jiwa, wadah inklusif yang melibatkan potensi dan bakat penyandang disabilitas. Pendampingan ini berupaya mengonstruksi kembali pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas, dilandasi semangat mendukung identitas, mobilitas, diversitas, dan pemberdayaan melalui inovasi penciptaan seni yang berharga. Kontribusi pelaksana program bersama mitra lembaga seni dalam kegiatan ini mendukung pemerintah dengan mengambil peran antara lain. Kontribusi Fasilitatif: Melakukan inovasi penciptaan seni yang memberdayakan dengan memfasilitasi kebutuhan penyandang disabilitas untuk meningkatkan harga diri dan kesejahteraan yang menunjang kehidupan bermasyarakat. Fasilitasi pemberdayaan masyarakat ini akan membangkitkan semangat dan memberi dorongan kepada penyandang disabilitas serta memaksimalkan potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk meningkatkan produktivitas dan daya kreatif. Kontribusi Edukatif: Melakukan workshop pembelajaran yang memuat pengetahuan penciptaan seni yang dibutuhkan penyandang disabilitas, peningkatan pemahaman, keterampilan, serta pengalaman bagi penyandang disabilitas dalam rangka membantu proses pembentukan karakter. Kontribusi Teknis: Melakukan pembelajaran melalui peristiwa langsung dalam produksi dan presentasi seni. Peristiwa ini akan mengasah kemampuan teknis dalam penciptaan dan tata kelola pergelaran seni kepada para penyandang disablitas. HASIL DAN PEMBAHASAN Metode Pendekatan Program pendampingan dilaksanakan di Padepokan Seni Sarotama di Desa Ngringo. Kecamatan Jaten. Kabupaten Karanganyar. Provinsi Jawa Tengah. Menggunakan metode pendampingan desain melalui proses identifikasi masalah, perumusan gagasan, eksperimentasi, seleksi, implementasi, dan presentasi. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Identifikasi masalah dan tema-tema penting tentang disabilitas. Perumusan gagasan dimulai dengan mendiskusikan format karya, menyusun naskah sesuai tema-tema yang telah ditentukan, merancang boneka wayang dan aksesoris balon kata, caption, dan balon pikiran. Eksperimentasi bersama para disabilitas untuk mewujudkan boneka wayang dan aksesoris-aksesoris balon kata, caption, dan balon pikiran. Seleksi dilakukan pengujian melalui diskusi bersama tim produksi, pengguna, dan Implementasi adalah perwujudan karya dengan skala studio untuk menguji hasil Presentasi pada khalayak yang sebenarnya untuk mengukur keberhasilan karya dan menjaring umpan balik. Sosialisasi dilakukan sebelum dan selama program berlangsung dengan publikasi ilmiah dan media massa. Identifikasi Perumusan Sosialisasi Eksperimenta Presentasi Implementasi Seleksi Bagan 1. Metode pendampingan Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Partisipasi Mitra Program ini melibatkan mitra Padepokan Seni Sarotama yang berkewajiban menyediakan lokasi pelaksanaan program serta peserta program HASIL DAN PEMBAHASAN Pendampingan Pembuatan Boneka Wayang Pelaksanaan PKM diawali dengan pendampingan pembuatan boneka wayang dengan bahan kertas karton. Adapun proses pembuatan wayang karton sebagai berikut . sketsa, pengeleman karton, tracing gambar, memotong, mewarnai, memasang . egel/ engse. , memasang gapit, memasang tuding. Menyiapkan alat dan bahan Menyiapkan kertas karton duplex Menggambar sketsa wayang Menyalin gambar wayang Memotong gambar wayang Mewarnai gambar wayang Memasang engsel . Memasang pegangan . Memasang tuas tangan . Membuat balon kata Menyiapkan alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan antara lain. Kertas duplex yang cukup tebal dan bersih Pensil atau spidol untuk membuat sketsa Penghapus . ika menggunakan pensi. Penggaris . Cat akrilik Kuas aneka ukuran Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Cutter Gunting Kertas karbon Menyiapkan kertas karton duplex Berikut adalah langkah-langkah proses pengeleman kertas duplex agar kuat untuk membuat wayang kardus: Persiapan bahan: Siapkan kertas duplex, lem yang sesuai . em kertas atau lem kayu puti. , kuas atau alat pengoles lem, dan pemberat . uku atau benda berat Pemotongan kertas: Potong kertas duplex sesuai dengan pola wayang yang telah Pengolesan lem: Oleskan lem secara merata pada salah satu sisi kertas duplex yang akan ditempelkan. Pastikan seluruh permukaan kertas terolesi lem dengan baik. Penempelan: Tempelkan kertas duplex yang sudah diolesi lem pada kardus atau bagian wayang lain yang ingin disambung. Pastikan posisi sudah sesuai dan tidak ada gelembung udara di antara kedua permukaan. Penekanan dan pengeringan: Tekan perlahan permukaan yang telah ditempel menggunakan jari atau alat bantu untuk memastikan lem menempel dengan kuat. Letakkan pemberat di atasnya agar kertas tidak melengkung saat lem mengering. Biarkan hingga lem benar-benar kering sesuai instruksi penggunaan lem. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 4. Proses menyiapkan kertas karton duplex Beberapa tips perlu diperhatikan seperti menggunakan lem secukupnya. Terlalu banyak lem dapat membuat kertas menjadi basah dan mudah robek. Pastikan lem yang digunakan sesuai dengan jenis kertas. Untuk hasil yang lebih kuat dan rapi, gunakan kuas atau alat pengoles lem yang rata. Jika ingin menambahkan lapisan kertas lain, ulangi langkah 3-5 setelah lapisan pertama kering. Menggambar sketsa wayang Proses menggambar sketsa wayang untuk membuat wayang kardus melibatkan beberapa langkah: Memilih karakter: Menentukan karakter wayang yang ingin dibuat. Biasanya dapat memilih dari berbagai tokoh pewayangan seperti Arjuna. Bima. Gatotkaca, atau karakter lainnya. Dalam kegiatan ini karakter yang dibuat disesuaikan dengan audiens anak-anak. Oleh karena itu karakter yang dipilih adalah guru, murid, dan orang tua. Mencari referensi: Mencari gambar atau foto wayang yang sesuai dengan karakter pilihan sebagai acuan. Acuan bisa menemukannya di buku, internet, atau bahkan menonton pertunjukan wayang untuk mengamati detail-detailnya. Membuat sketsa dasar: Mulailah dengan menggambar bentuk dasar wayang pada Gunakan pensil agar mudah dihapus jika terjadi kesalahan. Perhatikan proporsi tubuh dan detail-detail penting seperti wajah, pakaian, dan aksesoris. Bisa menggunakan penggaris untuk membuat garis lurus yang rapi. Menambahkan detail: Setelah sketsa dasar selesai, tambahkan detail-detail yang lebih rumit seperti ornamen pakaian, ekspresi wajah, dan gerakan tangan. Gunakan referensi gambar yang sudah disiapkan untuk memastikan detailnya sesuai dengan karakter wayang yang dipilih. Penyempurnaan sketsa: Perbaiki garis-garis yang kurang rapi atau proporsi yang kurang tepat. Hapus garis-garis yang tidak perlu dan pertegas garis-garis yang sudah Pastikan sketsa terlihat jelas dan mudah dipahami sebelum dilanjutkan ke tahap penyalinan gambar. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Gambar 5. Proses membuat sketsa gambar wayang Menyalin gambar wayang Ada dua cara yang disampaikan untuk menyalin sketsa gambar wayang ke karton duplex yang sudah disiapkan pada tahap sebelumnya. Metode jiplak . : meletakkan kertas gambar wayang di atas kardus. Jika kardus tidak terlalu tebal. Anda mungkin bisa melihat garis sketsa samar-samar. Jika tidak, gunakan bantuan cahaya dari jendela atau lampu meja untuk membuat garis sketsa lebih terlihat. Jiplak garis sketsa menggunakan pensil atau spidol secara Pastikan semua garis penting terjiplak dengan jelas. Metode kertas karbon: meletakkan kertas karbon di antara kertas gambar wayang dan kardus, dengan sisi karbon menghadap ke bawah . enuju kardu. Jiplak garis sketsa menggunakan pensil atau pulpen. Tekanan yang diberikan akan memindahkan karbon ke kardus, membentuk salinan sketsa wayang. Perlu memilih metode yang paling sesuai dengan tingkat keahlian dan kenyamanan masing-masing. Gunakan pensil yang tidak terlalu lunak agar tidak mudah patah saat Jika menggunakan kertas karbon, pastikan untuk meletakkannya dengan benar agar hasil salinannya rapi. Setelah sketsa wayang berhasil disalin ke kardus. Anda bisa melanjutkan dengan memotong sesuai garis gambar. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 6. Proses pendampingan menjiplak gambar wayang Memotong gambar wayang Proses memotong gambar wayang pada kardus untuk membuat wayang kardus adalah langkah krusial setelah sketsa selesai dibuat. Berikut langkah-langkahnya: Persiapan alat: Siapkan alat pemotong yang sesuai, seperti gunting atau cutter. Gunting cocok untuk potongan lurus dan sederhana, sedangkan cutter lebih presisi untuk detail yang rumit. Mulai memotong: Pegang gunting dengan mantap dan ikuti garis sketsa dengan hati-hati. Potong perlahan untuk hasil yang lebih rapi. Gunakan penggaris sebagai panduan untuk potongan lurus. Tekan cutter dengan stabil dan buat potongan Untuk detail kecil atau bagian yang rumit, gunakan ujung cutter dengan hati-hati. Memotong bagian terpisah . : Jika wayang memiliki bagian-bagian terpisah seperti tangan atau kaki yang dapat digerakkan, potong bagian tersebut secara terpisah dari badan wayang utama. Merapikan hasil potongan: Setelah semua bagian wayang selesai dipotong, periksa kembali dan rapikan bagian-bagian yang mungkin masih kasar atau tidak Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Gambar 7. Proses memotong gambar wayang Untuk melindungi permukaan meja dan menjaga keamanan, gunakan alas potong yang sesuai saat menggunakan cutter. Jika belum terbiasa menggunakan cutter, sebaiknya berlatih terlebih dahulu pada potongan kardus yang tidak terpakai. Hati-hati saat menggunakan cutter karena permukaan yang sangat tajam. Setelah proses pemotongan selesai, wayang kardus siap untuk diwarnai. Mewarnai gambar wayang Proses mewarnai gambar wayang pada kardus adalah tahap penting setelah wayang Berikut langkah-langkahnya: Persiapan alat dan bahan: Siapkan alat dan bahan mewarnai yang diinginkan. Bisa berupa spidol, cat air, krayon, atau pensil warna. Jika menggunakan cat poster, siapkan kuas dengan ukuran yang sesuai untuk detail kecil dan besar. Palet untuk mencampur warna jika diperlukan. Jika menggunakan cat poster, siapkan air untuk membersihkan kuas dan mencampur warna. Memilih warna: Tentukan warna-warna yang akan digunakan. Anda dapat menggunakan warna-warna cerah dan kontras untuk membuat wayang terlihat lebih Perhatikan karakter wayang yang Anda buat. Tokoh protagonis biasanya menggunakan warna-warna cerah, sedangkan antagonis menggunakan warna gelap. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Mulai mewarnai: Warnai bagian-bagian wayang sesuai dengan karakter dan referensi yang Anda miliki. Mulailah dengan mewarnai bagian-bagian kecil seperti mata, hidung, dan mulut. Kemudian beralih ke bagian yang lebih besar seperti wajah, badan, dan pakaian. Jika Anda ingin menambahkan dimensi pada wayang. Anda dapat menggunakan teknik gradasi warna dengan mencampurkan beberapa Setelah selesai mewarnai bagian-bagian utama, tambahkan detail akhir seperti garis-garis atau pola pada pakaian. Pengeringan: Biarkan wayang mengering sepenuhnya sebelum melanjutkan ke tahap selanjutnya. Jika menggunakan cat poster, pastikan cat sudah benar-benar kering agar tidak luntur saat disentuh. Gambar 8. Proses mewarnai gambar wayang Jika ragu dengan pemilihan warna, lakukan uji coba pada potongan kardus yang tidak terpakai. Aplikasikan pewarna dalam lapisan tipis agar tidak membuat kardus menjadi basah dan mudah rusak. Jika menggunakan cat poster, bersihkan kuas secara teratur agar warna tidak tercampur. Jangan takut untuk bereksperimen dengan warna dan teknik mewarnai yang berbeda untuk menciptakan wayang kardus yang unik dan menarik. Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Memasang engsel . Istilah yang lebih tepat untuk engsel pada wayang adalah "gegel". Gegel adalah bagian yang menghubungkan lengan wayang dengan badan wayang agar lengan bisa Proses memasang gegel pada wayang kardus adalah sebagai berikut: Persiapan: Siapkan gegel wayang. Gegel dapat dibuat dari kertas tebal, kain, atau benang yang kuat. Siapkan alat seperti jarum, benang, lem kertas, gunting, dan tang . ika diperluka. Penempatan gegel: Tentukan titik-titik di mana gegel akan dipasang pada lengan dan badan wayang. Biasanya, gegel dipasang di bagian bahu dan siku. Buat lubang kecil pada titik-titik tersebut menggunakan jarum. Pemasangan gegel: Masukkan benang melalui lubang pada lengan dan badan Ikat benang dengan kuat agar gegel tidak lepas. Anda juga bisa menggunakan cara lain sesuai dengan jenis gegel yang digunakan. Misalnya, jika menggunakan kertas tebal. Anda bisa membuat lipatan pada gegel agar lebih kuat dan tahan lama. Penyesuaian: Setelah gegel terpasang, coba gerakkan lengan wayang untuk memastikan gegel berfungsi dengan baik. Sesuaikan kekencangan gegel agar lengan wayang dapat digerakkan dengan leluasa namun tetap terpasang dengan kuat. Gambar 9. Proses memasang engsel . wayang Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Memasang pegangan . Proses memasang pegangan . dari bambu pada wayang kardus adalah sebagai Persiapan: Siapkan bambu atau lidi dengan ukuran yang sesuai dengan wayang Siapkan alat seperti gunting atau pisau untuk memotong bambu, lem tembak, dan spidol atau pensil untuk menandai posisi pegangan. Menentukan posisi pegangan: Tentukan posisi pegangan pada badan wayang Biasanya, pegangan ditempatkan di bagian tengah badan wayang atau sedikit di atasnya agar wayang dapat dipegang dan digerakkan dengan mudah. Tandai posisi tersebut dengan spidol atau pensil. Membuat lubang: Gunakan gunting atau pisau untuk membuat lubang kecil pada posisi yang telah ditandai. Pastikan lubang cukup besar untuk memasukkan ujung Memasang pegangan: Oleskan lem tembak pada salah satu ujung bambu. Masukkan ujung bambu yang telah diberi lem ke dalam lubang pada badan wayang Tekan dan tahan beberapa saat hingga lem mengering dan pegangan terpasang kuat. Penyesuaian akhir . : Jika diperlukan. Anda dapat menambahkan hiasan pada pegangan wayang, seperti manik-manik, pita, atau kain, agar terlihat lebih Gambar 10. Proses memasang pegangan . wayang Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Memasang tuas tangan . Tuding adalah bagian dari wayang yang berfungsi sebagai pegangan untuk menggerakkan wayang saat pertunjukan. Pada wayang kardus, tuding tangan biasanya terbuat dari bambu. Berikut adalah langkah-langkah memasang tuding tangan pada wayang Tentukan posisi tuding: Tentukan posisi di mana tuding akan dipasang pada tangan wayang kardus. Biasanya, tuding dipasang di bagian tengah telapak tangan. Tandai posisi tersebut dengan spidol atau pensil. Buat lubang: Gunakan gunting atau pisau untuk membuat lubang kecil pada posisi yang telah ditandai. Pastikan lubang cukup besar untuk memasukkan ujung bambu. Oleskan lem: Oleskan lem tembak secukupnya pada ujung bambu yang akan dimasukkan ke dalam lubang. Pasang tuding: Masukkan ujung bambu yang sudah diberi lem ke dalam lubang pada tangan wayang kardus. Tekan dan tahan beberapa saat hingga lem mengering dan tuding terpasang kuat. Ulangi untuk tangan lainnya: Lakukan langkah yang sama untuk memasang tuding pada tangan wayang yang satunya. Gambar 11. Proses memasang tuas tangan . wayang dan boneka wayang siap dimainkan Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Jika menggunakan bambu, potong ujungnya menjadi runcing agar lebih mudah dimasukkan ke dalam lubang. Pastikan lem sudah kering sempurna sebelum memainkan Anda dapat menggunakan tang untuk memegang ujung bambu atau lidi saat mengoleskan lem dan memasangnya ke dalam lubang agar lebih mudah dan aman. Membuat balon kata Proses memasang balon kata pada wayang kardus untuk memberikan kesan komik dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut: Menentukan dialog atau narasi: Tentukan dialog atau narasi apa yang ingin disampaikan melalui balon kata. Sesuaikan dengan karakter wayang dan cerita yang ingin divisualisasikan. Membuat sketsa balon kata: Buat sketsa bentuk balon kata yang diinginkan di sekitar kepala wayang. Bentuk balon kata bisa bervariasi, seperti bulat, oval, kotak dengan ujung runcing, atau bentuk-bentuk kreatif lainnya. Memotong balon kata: Potong kertas atau bahan lain . eperti karton, kertas lipat, ) sesuai dengan bentuk balon kata yang telah dibuat pada sketsa. Menulis teks: Tulis dialog atau narasi pada balon kata yang telah dipotong menggunakan spidol, pulpen, atau alat tulis lainnya. Pastikan tulisan jelas dan mudah dibaca. Menempelkan balon kata: Tempelkan balon kata pada posisi yang sesuai di sekitar kepala wayang menggunakan lem atau selotip. Pastikan balon kata terpasang dengan rapi dan tidak menghalangi bagian wajah atau detail penting lainnya pada Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. Gambar 12. Proses membuat balon kata Gunakan warna yang kontras antara teks dan balon kata agar mudah dibaca. Variasikan bentuk dan ukuran balon kata untuk menambah dinamika visual. Tambahkan efek suara atau simbol pada balon kata untuk memperkuat ekspresi karakter. Anda juga bisa menggambar "ekor" balon kata yang mengarah ke mulut wayang untuk menunjukkan siapa yang sedang berbicara. Gambar 13. Hasil workshop boneka wayang kardus dengan balon kata Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENUTUP Untuk mengetahui dampak pelaksanaan pendampingan pembuatan wayang dengan balon kata untuk mengajak siswa disabilitas tuli ikut menikmati pertunjukan wayang, maka dilakukan jajak pendapat kepada para partisipan. Partisipan adalah anak-anak anggota sanggar Sarotama yang nantinya dapat mendiseminasikan hasil pendampingan kepada rekan-rekan mereka yang berkebutuhan khusus, utamanya teman tuli. Anak-anak peserta workshop membuat wayang umumnya memberikan respon Mereka merasa senang karena kegiatan ini tidak hanya mengajarkan cara membuat wayang dari karton secara mudah dan menyenangkan, tetapi juga menumbuhkan apresiasi terhadap wayang sebagai warisan budaya. Anak-anak juga belajar tentang tokoh pewayangan dan cerita-ceritanya, serta dapat bermain wayang bersama teman-teman setelah selesai membuatnya. Kegiatan menghias wayang kardus sesuai kreativitas masing-masing juga menjadi pengalaman seni yang menyenangkan bagi mereka. Selain itu, workshop ini juga mengajarkan anak-anak untuk memanfaatkan barang murah menjadi sesuatu yang berguna dan indah, serta menginspirasi mereka untuk lebih kreatif dan peduli lingkungan. Penambahan balon kata pada wayang juga mendapatkan respon positif. Anak-anak merasa wayang menjadi lebih seru dan menarik karena mereka dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakan oleh tokoh-tokoh wayang, serta lebih memahami jalan cerita. Balon kata juga membuat wayang menjadi lebih mirip komik, sehingga lebih menarik minat anak-anak yang gemar membaca komik. Beberapa anak bahkan terinspirasi untuk belajar membuat wayang dan menciptakan cerita mereka sendiri dengan menambahkan balon kata . Volume 16 Nomor 1 Juni 2025 Dwiyasmono. Taufik Murtono, dan Jonet Sri Kuncoro Pendampingan Penciptaan Boneka Wayang Bagi Siswa A. DAFTAR PUSTAKA