DIPLOMASI ISLAM: PENDIDIKAN NILAI-NILAI ISLAM DAN KAPITALISASI Pasiska dan Ongky Alexander STAI Bumi Silampari. Lubuklinggau. South Sumatera. Indonesia bruspasiska@gmail. Keywords: Islamic Diplomacy. Education of Islamic. Capitalization Abstrak This paper seeks to review the concept of Islamic diplomacy with an approach to the education of Islamic values in the form of capitalization, the method used in this paper is a qualitative approach, with a perspective of library studies, data sources used in the form of writing, whether journals, books, or the web that support the theory raised , then selected and then analyzed, and the results of this paper, so that Islam can master world diplomacy, that is by mastering world science, by creating concepts and organizations that are ready to accommodate world scholarship, such as Scopus or If this concept and organization becomes successful, an organization can automatically provide diplomacy in the field of education and science, then it is socialized to become a world scientific body. Pendahuluan Pada era sekarang bahwa kemajuan disuatu pendidikan tinggi ditandai dengan banyaknya penelitian dan dibuktikan dengan banyaknnya terbitan sebuah tulisan yang menjadi standar sekaligus bukti sebuah penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan, nah dalam proses penerbitan sebuah tulisan maka membutuhkan sebuah lembaga yang menaungi hal tersebut sebut saja misalkan Lembaga penerbitan Press Kampus seperti Lembaga pengabdian dan penelitian dikampus, kemudian press kampus, lalu kalau yang bergensi di Indonesia sebut saja ada LIPI(Beranda | Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, t. Moraref yang dinahkodai oleh Kementrian Agama (Moraref, t. ),dan yang paling bergensi misalkan di dunia internasional seperti Oxford Press(Oxford University PressAiHomepage, t. Cambrige Press (Home, t. Sage Publision (SAGE Journals, t. ), dan semuanya di indeksasi oleh Scopus (Scopus previewAiScopusAiWelcome to Scopus, t. ), atau Thomson (Home | Thomson Reuters, t. ) yang semuanya menangungi tulisan tertentu dalam sebuah riset dengan kreteria tertentu yang dapat dipertanggung jawabkan, semuanya terstandar berdasarkan dengan standar yang dibuat dilembaga tersebut. Semua lembaga tersebut tersistem, dan semuanya tersetruktur, terorganisisr dan bahkan berbentuk kaplitalisasi, dari konsep tersebut mau tidak mau ilmu pengetahuan jikalau ingin diakui dan lirik banyak orang akan hasil penelitian, maka harus mengikuti system yang dibuat seperti diulas diatas, maka secara kekuatan system tersebut mampu membuat kekuatan mau tidak mau dunia ilmu pengetahuan harus ikut dan tunduk dengan system yang telah dibuat, berkenaan dengan kekuatan tersebut dalam persepektif diplomasi didunia lebih mudah diakomodasi dan didengar didunia maka dapat digunakan juga sebagai kekuatan politik yang notabenenya sebagai alat interpensi melalui studi ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan, dikarenakan besar potensi yang dimiliki subsistem ilmu pengetahuan dunia ini dalam mengubah dunia maka untuk itulah penulis ingin mengekplorasi dan mengulas konsep diplomasi Islam dengan cara baru dengan pendekatan baru yakni dengan bagaimana membangun sebuah pendekatan melalui pendidikan nilai-nilai Islam? dan bagaimana strategi kapitalisasi Pendidikan Islam sebagai diplomasi Islam didunia?. Pada kajian pustaka ini penulis akan mereview beberapa tulisan yang berkenaan dengan tema yang diangkat, alasannya tidak lain guna melahirkan posisi penelitian, sehingga ada perbedaan antara penelitian yang sudah ada dan penelitian yang akan dilakukan penulis, penelitian yang pertama yang dilakukan (Pasiska, 2019, hlm. dimana dengan menanamkan kembali nilai-nilai Islam sebagai karakter, sebagai upaya untuk menghadapi sisi negatif dari Globalisasi seperti mengingkatkan sisi spiritualitas, nilai tanggung jawab, nilai saling menghargai, amanah dan kejujuran, demokratis dan peduli, kemudian. Sejalan dengan konsep pendidikan nilai tersebut yang harus diikat sebagai sebuah jalan hidup yang melembaga tentu saja ada sangkut pautnya nanti ketika dijadikan sebagai sebuah semangat dalam membangun fondasi dari sebuah pendidikan, untuk itu pendidikan yang dibangun umat Islam tidak hanya dilihat dari aspek nilai tetapi dilihat dari segi aspek lain agar mampu bersaing dengan pendidikan lainnya yang non Islam, dari situlah seharusnya menjadi semangat untuk dijadikan spirit untuk membangun etos kerja guna membangun sebuah system pendidikan Islam, lembaga ilmu pengetahuan, dan sistem penguasaan Ilmu pengetahuan sebagaimana dalam penelitian (Habiburrahman, 2019, hlm. bahwa spirit ayat-ayat al-qurAoan mengajarkan semangat kapitalisme. Sebagaimana Firman Allah Swt: A!$# z. Aymr& !$yc2 uyIAymr&uA ( $uAyAoA9$# OIyae y7t7yIyAt . ? OuA ( ntAsyIzFO$# uAo#A$!$# A!$# AA9t?#u !$ycAyay yItGy/$#uA o tyaAyIAyycy9$# Aa=yatyA O A!$# Ay. ( yNyoyAoF{$# Aoyay y$|Axy9$# yIy7s? OuA ( AAyAs9y. dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu . negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari . duniawi dan berbuat baiklah . epada orang lai. sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di . Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (Q. S Al-Qasas:. Ayat diatas menjelaskan secara detail bahwa ketika kita ingin memperjuangkan kehidupan dunia maka jagan lupa ada negeri akhirat yang harus juga diperjuangkan, dan sebaliknya maka dari itu konsep yang ditawarkan adalah sebuah keseimbangan yang menuntut kita manusia untuk selalu beristiqmah dalam menjalankan keseimbangan kehidupan mengaktualisasikan diri sebagai manusia yang sempurna (Insan Kami. , sebab rasanya kurang sempurnalah manusia ketika tidak ada keseimbangan keduanya, dan bagaimana pula ingin menjalankan kehidupan akhirat tanp adanya kehidupan dunia, dan semuanya timbal balik. Dan hendaknya setiap apa yang telah dilakukan merupakan wujud pengabdian yang mengatasnamakan pengabdian dengan jalan kerusakan, sebab kerusakan yang dibuat pada akhirnya nanti akan berimbas kepada diri sendiri pelakunya sendiri, seperti ketika sering membuang sampah sembarangan, efeknya akan menyumbat saluran air dan akan menyebabkan banjir dan lain-lain. Dan dilanjutan oleh ayat lain: Aoyay tAyAyaOOpgyBuA ya&ya!yEuAouA A!$$ya/ OONOEO tynyaeyEy? 8uya9r& A>#xAty yuyaie /y3yOfny? . tAsOOpgyaB 4Aon?ty y/y3Ai9yr& yOIy (#ynte#u tya%A!$# $pAr'AOOte OONONO tys>yys? yuyny. y/y3A9 yAayAsyz y/y3ya9Ose 4 y3yIAyr&uA yy3ya9Ouyer'ya/ A!$# yOOIAya6yE Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? . kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Saff. Dari ayat diatas Allah Swt mengajak manusia tidak lain untuk melakukan perniagaan yang untung dan menyelamatkan dari azab Allah, tentu saja perniagann tersebut tidak lain adalah dengan beriman dan berjihad menegakkan ajaran Allah melalui Rasulnya, baik melalui harta, jiwa dan raga dan segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan ajaran Allah dapat dijadikan media untuk memperjuangkan ajaran Allah hingga membumi (Hamka, 1989, hlm. Hal ini sangat relevan dengan kondisi Islam kekinian yang dalam fase tidak beruntung dalam segala sisi dan dapat dijadikan inspirasi sebagai jalan perjuangan. Islam menyikapi kapitalisme dengan memformulasikan sistem ekonomi yang berlandaskan pada Al-Quran. bukan hanya itu dengan semakin banyaknya kapitalisasi system ilmu pengetahuan yang dilaukukan didunia Islam bukan tidak mungkin akan mampu menguasai ilmu pengetahuan didunia tanpa harus berkiblat ke system ilmu pengetahuan yang sudah ada. Maka guna mampu mengenalkan konsep Islam melalui pendidikan Islam maka harus ada komersialisasi sebagaimana yang ditulis (Sulfasyah & Arifin, 2016, hlm. pendidikan harus dilakukan pengenalan, melalui pemasaran, tentu saja di iringi dengan kualitas yang mumpuni sebagai sebuah system ilmu pengetahuan. Maka dari situlah peneliti tertarik melakukan penelitian tersebut. Metode Penelitian Dalam tulisan ini metode yang digunakan adalah studi Literasi (Library Reserc. 5, hlm. dimana mengumpulkan data melalui literature yang berkaitan dengan pembahasan yang akan dibahas, seperti artikel jurnal, web. Koran dan lain sebagainya, kemudian penulis analisis dan ditarik sebuah kesmimpulan yang berkenaan dengan diplomasi islam didunia tentu saja dengan pendekatan pendidikan nilai-nilai Islam, jenis penelitian yang penulis gunakan merupakan penelitian kualitatif, yang keseluruhan sumber data penelitiannya berupa artikel penelitian sebelumnnya, buku-buku pendukung teori, serta beberapa situs-situs tertentu yang mendukung dari penulisan yang dilakukan ini baik berupa berita maupun web Pembahasan Fenomena yang dihadapai Islam didunia adalah lemahnya diplomasi dalam segala posisi, di posisi ekonomi misalkan hampir penguasa ekonomi didunia adalah Amerika. China. Rusia. Jepang. Uni Eropa dan lain-lain (AuEkonomi dunia,Ay 2. , yang secara internasional perannya sangat kuat dan mampu memberikan pengaruh kepada dunia dan membuat dunia bergantung kepada Negara-negara tersebut sebab, mereka dapat mengatur segala tatanan ekonomi dunia, apabila membuat sebuah kebijakan ekonomi maka Negara-negara diduniapun mau tidak mau harus ikut dan patuh, kemudian dalam segi politikpun Islam didunia juga hanya sedikit memiliki posisi, sebut saja Negara yang memiliki posisi, tidak lain Amerika Serikat. Inggris. Arab Sudi, dan lain-lain (Liputan6. com, 2. , fenomena tersebut semakin menjadi-jadi ketika membuat sebuah kebijakan yang berkenan dengan politik dan ekonomi yang semuanya harus menguntungkan pihak penguasa tersebut, dan akan mengubah tatanan pola kehidupan dunia, sebab tatanan system management yang dibuat sudah tersetruktur, yang mekanisme dibangun berdasarkan kebutuhan dunia sehingga mampu memberikan hegemoni kepada Negara-negara didunia, dan pada akhirnya semua Negara akan berkiblat kepada Negara-negara adidaya dan adikuasa tersebut, kuat secara militer, politik dan ekonomi, tentu saja menjadi pusat perhatian juga tentang ilmu pengetahuannya kemudian menjadi kiblat dunia segala sesuatu. Dalam konteks diplomasi dunia ada badan internassional yang menaungi diplomasi seperti Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) (Nations, t. ) sebuah organisasi dunia yang bukan hanya perkumpulan organisasi Negara-negara tetapi, tugas lainnya adalah tempat mediasi perdamaian dunia ketika terjadi konflik, organisasi anak dan perempuan dunia, kemiskinan, kelaparan, dan bahkan wabah penyakit. Organisasi tersebut berperan aktif membantu memediasi, memfasilitasi dan bahkan menjadi payung hukum. Membangun Pendidikan Islam Sebagai Nilai Islam pada dasarnya merupakan ajaran Universal (Madjid, 2019, hlm. yang tidak hanya mengurus masalah kehidupan manusia dalam kontekstasi kegiatan ritual ibadah semata namun lebih dari itu Islam merupakan ajaran untuk hidup dan kehidupan (Abdurrahman, 2003, hlm. yang sejatinya dijadikan spirit untuk melakukan perjuang yang manifestasinya pada kehidupan sehari-hari (Abdurrahman, 2003, hlm. dan seharusnya dijadikan sebuah idelologi pribadi yang melembagakan nilai-nilai Islam. Sederhananya membangun konsepsi Nilai-nilai Islam sebagai sebuah spirit perlunya sebuah jalan yang harus dilalui agar nilai-nilai yang mengikat dan menginspirasi dari Islam yakni dengan jalan pemberian pemahaman yang dimulai sejak dini dan dilakukan secara sederhana dengan cara menempuh pendidikan, pendidikan ini bias saja dimulai sejak usia dini hingga dewasa, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pada perguruan tinggi, gunanya tidak lain untuk meninternalisasi ajaran-ajaran agama Islam yang telah menjadi sumber ajaran kehidupan, tujuannya tidak lain Implementasi dari penanaman nilai-nilai Islam untuk menjadikan Insan Indonesia cerdas komprehensif dan kompetitif yakni cerdas spiritual: beraktualisasi diri melalui olah hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur dan kepribadian unggul, cerdas emosional dan sosial: beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiasivitas akan kehalusan dan keindahan seni dan budaya, serta kompetensi untuk mengekspresikannya (Pasiska, 2019, hlm. Sehingga lahirlah sosok manusia yang layak dijadikan sebagai Khalifah dimuka bumi yakni Insan Kamil (Muthahhari, t. , hlm. yang tidak lain berderajat tinggi dan memiliki ilmu pengetahuan dan kesadarn tinggi tentang ajaran Islam. Kapitalisasi Pendidikan Islam Sebagai Diplomasi Islam Di Dunia Pendidikan Islam setelah dijadikan sebuah nilai seharusnya diamalkan sebagai bentuk pengabdian diri kepada Allah SWT sebagai Nilai Ibadah, meskipun dalam implementasi ibadah ada berbagai macam cara dalam persepektif spiritualitas misalkan berbentuk Rukun Islam yang selama ini telah diketahui sebagai bentuk ibadah: Syahadat. Sholat. Puasa. Zakat. Haji. Dalam persepektif yang lebih luas bahwa ibadah kepada Allah merupakan segala aktivitas ummat manusia yang mengarah kepada perintah Allah dan menjahui larangannya merupakan manifestasi ibadah dan pengabdian secara universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berkenaan dengan pandangan bahwa diplomasi Islam di Dunia masih lemah maka perlunya sekali lagi penekanan aspek aktualisasi pengabdian kepada Allah, dalam dunia pendidikan, maka sejalan dengan Q. S Shaff ayat 10-11 menganjurakn manusia melakukan pergiagaan yang menguntukkan dimata Allah yakni dengan beriman bertakwa serta siap berkorban dijalan Allah dan untuk agama Allah agar tetap tegak dan kokoh sebagai penuntun jalan kehidupan manusia secara universal, maka dalam paradigma diplomasi Islam didunia pada saat ini lemah dalam segala hal, perlunya semacam usaha yang kongkrit dalam upaya menghadapi fenomena tersebut. Kita lihat saja ummat muslim didunia merupakan termasuk terbanyak kedua didunia, yang tersebar diseluruh dunia mulai dari benua Asia. Afrika. Eropa. Amerika dan Autralia (AuAgama menurut jumlah penganut,Ay 2. yang semuanya hari ini bila dilihat, terkotakkotakkan baik berupa mazhab fikih. Negara, maupun sikap politiknya,tentu saja hal ini dapat membuat umat Islam itu sendiri menjadi terpecah-pecah menjadi bagian yang kecil hingga mudalah kepentingan pihak yang ingin merusak Islam masuk dan mampu mencampur adukkan kepentingan dengan agma hingga terpecah sudah Islam, dalam Bidang keilmuanpun sama halnya terjadi demikian, semua kelimuan harus mengikuti system yang dibuat orang Padahal tidak sedikit umat Islam didunia menguasai bidang Ilmu tertentu yang mampu menjadi pusat perhatian dunia. Boleh dibilang umat Islam didunia saat ini adalah kaum yang tak terorganisir, meskipun kita menyadari bahwa ada organisasi islam didunia seperti OKI atau organisasi konferensi Islam (Organisation of Islamic Cooperation, t. ), namun masih terlalu lemah sebab masih saja tidak punya daya diplomasi yang kuat, sebut saja fenomena yang menimpah umat Islam hari ini, mulai pergusuran pemukiman di Palestina oleh Negara Israel yang tak berkesudahan (Israel Kembali Gusur Rumah Warga Palestina di Yerusalem, t. pembantaian etnis muslim di Rohingya (Welle . , t. ), perang saudara di Yaman selatan oleh Arab Saudi (Liputan6. com, . ), dan mungkin yang tidak asing adalah Etnis muslim di Uhgyur China yang disiksa(Tak Tahan Disiksa Pemerintah China. Wanita Muslim Uighur Minta DibunuhAiKumparan. com, t. ), kesemuanya terjadi serta menimpa umat muslim didunia, hal lain yang cukup mencoreng dunia Islam adalah Islam dituduh sebagai Agama teroris. Radikal dan anti Nasionalime (Sekjen MUI: Tuduhan-Tuduhan Terhadap Umat Islam Sangat Menyakitkan | Republika Online, t. ), dan dijadikan bahan kampanye dunia untuk alat politik hingga pada akhirnya Islam dipandang duni saat ini hanya pelengkap sebuah penderitaan dunia, yang terbelakang, miskin dan tak berdaya. Fenomena ini tidak bisa didiamkan saja dan tidak dengan didiamkan saja, perlu upaya yang kongkrit sebagai sebuah solusi atas apa yang diderita umat muslim hari ini, agar kuat dalam sebuah system maka, harus menguasai sebuah system atau membuat sebuah system yang lebih elegant sebagai upaya menghadapai dunia yang hari ini Nampak membuat posisi umta islam menjadi lemah, dalam konteks pendidikan islam: bukan hanya sebagai aspek mendidik dengan ajaran dan nilai-nilai Islam semata namun diamalkan serta, harus menjadi sebuah system yang mengikat dan dibuat sebagai satu kesatuan yang utuh yang tersistem, terorganisisr, terencana, dan berasaskan Good and Clean system. Berkenaan dengan system yang akan dijadikan rujukan utama maka, system tersebut harus disosialisasikan atau dijadikan bahan kampanye didunia sebagai bahan kajian yang baru dan kita dapat dan mampu menguasai apa-apa yang ada didunia ini termasuk Ilmu dan pengetahuan, selama ini hamper semua ilmu pengetahuan harus tunduk dan patuh pada system dunia, seperti Scopus. Thomson ataupun Sistem lainnya. Apabila tidak mengikuti system tersebut maka tidak dapat diakui oleh dunia, dalam hal ilmu dan pengetahuan, yang berupa hasil penelitian berbentuk artikel ataupun berbentuk tulisan, bila disadari Scopus dan Thomson kuat dan mampu menghegemoni dunia ilmu pengetahuan yang ada dimuka bumi ini, dan secara diplomasi dalam ilmu pengetahuan cukup kuat dan berpengaruh, krena didukung oleh system keroganisasian yang baik dan bersih, hingga dunia mengakui akan Seharusnya Pendidikan Islam harus melakukan hal yang sama dengan apa yang sudah dilakukan oleh perusahan ilmu pengetahuan seperti Scopus. Thomson dan lainnya, sebagai uapaya memenangkan diplomasi didunia di dalam kemajuan dan pengembangan Ilmu dan pengetahuan. Pendidikan Islam harus mandiri berdiri sendiri dengan system keorganisasian yang baik, bersih berintegritas serta menjunjung tinggi Nilai Islam sebagaimana ajaran Allah yang harus diakuliasaikan sebagai bentuk kongkrit pengabdian sebagai Khafiatullah, umat Islam harus menguasai bentuk ilmu pengetahuan dan dikumpulkan dalam system keorganisasian keilmuan yang sama, yang memeliki legitimasi yang sama untuk keluruh keilmuan Islam yang ada dimuka bumi, kemudian setiap keilmuan yang ada harus saling terintegrasi dan interkoneksi satu sama lain, sehingga melahirkan sebuah perusahaan atau organisasi yang sana halnya seperti Scopus ataupun badan keilmuan dunia lainnya, ketika hal system dan orgnaisasi ini dapat didiriakan amak secara tidak langsung dapat dikomersilkan dan bahkan dapat menguasai seluruh dunia, dan tidak lagi berkiblat kebada scopus ataupun yang lain, tentu didukung juga dengan sumber daya mansuia yang siap diandalkan dalam segala hal seperti pendidikan yang memadai, berkepribadian yang mengedepankan Uhwah Islamiah (Anshori, 2016, hlm. , berpegang teguh dengan ajaran Allah. Maka lahirlah badan ilmu dan pengetahuan yang menangui yang levelnya stara dengan scopus atau yang lain. Kemudian pendidikan islam sudah seharusnya di perkenalkan dan di pasarakn sebagai sebuah system keorganisasian yang baik berkualitas yang mampu secara sumberdaya maupun secara financial. Dan terus dikampanyekan sebagai sebuah badan keilmuan dunia yang siap menampung tulisan keilmuan yang ada didunia yang sat ini massih dikuasi pihak kapitalisme yang saling menyokong kuat dan saling membesarkan. Nah untuk itu Islam juga harus melakukan hal yang sama agar mampu dan bersaing serta memenangkan diplomasi didunia meskipun dalam persepektif pendidikan Islam yang sejatinya sebagai modal untuk memenangkan diplomasi lainnya didunia dan bukan hanya itu Islam harus melkukan kapitalisasi keilmuan dan pendidikan agar dapat bersaing dengan pendidikan dunia lainnya. Simpulan Ketika umat Islam ingin menguasai diplomasi dunia, maka upaya yang dilakukan adalah menjadikan nilai-nilai Islam sebagai spirit dan etika yang kemudian dijadikan fondassi membangun sebuah organisasi, diplomasi yang dilakukan dengan jalan menguasai Ilmu pengetahuan dan membangun organisasi yang menanguginya sama seperti halnya Scopus dan lainnya yang kemudian berdasarkan nilai-nilai dan ajaran Islam. Selain dari pada itu kerogganisasian yang dibuat harus mengedepankan asas keorganisasian yang baik dan bersih, lalu di sosialisasikan dan bahkan di pasarkan sebagai badan keilmuan yang siap bersaing dengan keilmuan lainnya didunia, ketika konsep dan system ini berhasil maka dapat mewarnai dunia ilmu dan pengetahuan dan apabila sudah berpengaruh otomatis siap dan berperan dalam diplomasi dalam bidang pendidikan dan keilmuan. DAFTAR PUSTAKA