JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali Exploring the potential of creative economy building equality at the Women's Prison in Kerobokan. Denpasar. Bali Ramayani Yusuf 1*),Gunardi. Dyah Bayu Framesthi. Yaya Mulya Mantri. Ayulia Nirwani. 1,2,3,4,. Politeknik Pajajaran Insan Cinta Bangsa. Grand Surapati Core,Bandung , 40000 . Universitas Katolik Parahyangan . Jalan Ciumbuleuit 94 ,Bandung , 40000 Email: ramayani. yusuf@poljan. *) penulis korespondensi DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. Diterima: Juni, 2025. Disetujui: Juli, 2025. Dipublikasikan: Juli, 2025. Abstrak: Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan warga binaan perempuan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali melalui pengembangan potensi ekonomi kreatif. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan pembinaan berbasis keterampilan yang mampu memberikan bekal hidup dan mendukung reintegrasi social pascapembebasan. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yang melibatkan partisipasi aktif warga binaan dalam setiap tahap kegiatan, mulai dari identifikasi masalah, perencanaan, pelatihan hingga evaluasi. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan keterampilan seperti kerajinan tangan, kuliner, seni lukis, dan tata rias. Program ini berhasil meningkatkan keterampilan praktis warga binaan. Produk yang dihasilkan mencakup boneka kain felt, keripik singkong bersertifikat halal, tas lukis, dan kesiapan usaha salon dari hasil pelatihan tata rias. Evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kepercayaan diri dan motivasi warga binaan untuk mandiri secara ekonomi. Program ini terbukti efektif dalam menggali potensi ekonomi kreatif dan membangun kesetaraan di lingkungan pemasyarakatan. Diharapkan model ini dapat direplikasi di lembaga pemasyarakatan lain sebagai strategi pembinaan berkelanjutan dan inklusif. Kata kunci: Ekonomi Kreatif. Warga Binaan. Participatory Action Research. Lapas. Kerobokan Abstract: This community service program aims to empower female inmates at the Kerobokan Women's Correctional Facility in Denpasar. Bali, through the development of creative economy potential. The program was initiated based on the need for skill-based rehabilitation that can provide life preparedness and support social reintegration postrelease. The approach used is Participatory Action Research (PAR), involving active Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 participation of the inmates in every stage of the activity, from problem identification, planning, training, to evaluation. Activities were carried out in the form of skill-building workshops such as handicrafts, culinary arts, painting, and makeup. The program successfully improved the practical skills of the inmates. The products created include felt dolls, halal-certified cassava chips, hand-painted bags, and readiness for salon business from the makeup training. Evaluation results indicated increased self-confidence and motivation among inmates to become economically independent. This program proved effective in harnessing creative economic potential and fostering equality within the correctional It is hoped that this model can be replicated in other correctional facilities as a sustainable and inclusive rehabilitation strategy. Keywords: Creative Economy. Inmates. Participatory Action Research. Correctional Facility. Kerobokan Pendahuluan Ekonomi kreatif muncul sebagai pilar penting dalam pengembangan ekonomi masyarakat, yang tidak hanya berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi (Shafitri & Yusuf, 2. , tetapi juga menawarkan solusi dalam masalah social seperti ketidaksetaraan gender dan kemiskinan(Veranita et al. , 2. Ekonomi kreatif adalah sektor ekonomi yang mengandalkan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan produk dan layanan yang bernilai tambah. Sektor ini mencakup berbagai bidang, seperti seni, desain, musik, film, kuliner, dan kerajinan tangan (Yasa, 2. Dalam konteks ini, penempatan ekonomi kreatif dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapa. Perempuan Kerobokan di Denpasar. Bali, menjadi sangat relevan (Sari, 2. Pemberdayaan perempuan di dalam lingkungan penjara melalui sektor ekonomi kreatif dapat menginspirasi perubahan sosial yang luas (Al-Fikri, 2. , memberikan mereka keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan menurunkan angka kemiskinan di kalangan mantan narapidana perempuan (Fajrian et al. , 2. Kondisi ekonomi di Indonesia menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif semakin menjadi fokus utama dalam agenda Pembangunan ( Nisa, 2. Ekonomi kreatif diharapkan dapat memfasilitasi penciptaan lapangan pekerjaan dan menjadi tulang punggung ekonomi nasional (Melati et al. , 2. Dengan mengintegrasikan mekanisme ekonomi kreatif ke dalam program rehabilitasi di Lapas Perempuan, bukan hanya mengurangi angka pengangguran di kalangan perempuan pasca penjara (Cahyono, 2. , tetapi juga mempromosikan pembangunan berkelanjutan dengan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada (Devi et al. , 2. Lebih jauh lagi, potensi ekonomi kreatif dapat berfungsi sebagai penghidupan yang berkelanjutan jika didukung oleh inisiatif pelatihan dan penerapan model bisnis yang tepat( Yusuf, 2. Melalui pengembangan produk yang berbasis kreativitas dan inovasi, seperti kriya dan kuliner, perempuan dapat memiliki akses lebih luas pada pasar dan memperluas jaringan yang mendukung keberadaan mereka di masyarakat( Nisa, 2. Ini menunjukkan bahwa dengan pemberdayaan yang tepat, narapidana perempuan tidak hanya dapat Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 diintegrasikan kembali ke masyarakat, tetapi juga berkontribusi positif pada perekonomian lokal dan mengurangi stigma sosial yang mereka hadapi( Utari, 2. Pengembangan ekonomi kreatif di dalam Lapas Perempuan Kerobokan juga mencerminkan integrasi nilai-nilai lokal dan budaya yang dapat meningkatkan pengenalan produk kreatif di pasar luar (Veranita et al. , 2. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Rukmana et al. yang menggarisbawahi pentingnya pemberdayaan masyarakat dengan prinsip lokal di Badung, di mana eksploitasi potensi lokal berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan (Rukmana et al. , 2. Dalam hal ini, pengelolaan melalui pelatihan dan dukungan berkelanjutan dari pihak terkait menjadi krusial untuk mencapai tujuan sosial dan ekonomi yang lebih luas (Indriani et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut , menggali potensi ekonomi kreatif dalam Lapas Perempuan Kerobokan bukan hanya sekadar upaya untuk meningkatkan kesejahteraan individu yang terlibat, tetapi juga merupakan sebuah langkah strategis menuju kesetaraan sosial dan ekonomi. Dengan pendekatan yang tepat dan dukungan sistemik dari pemerintah dan masyarakat, diharapkan perempuan yang menjalani hukuman dapat merebut kembali posisi mereka di masyarakat dan berperan aktif dalam pembangunan ekonomi lokal, menciptakan keterkaitan antara kreativitas dan keberdayaan ekonomi (Devi et al. , 2. Metode Kegiatan ini melibatkan dosen dan komunitas Forum Komunikasi Dosen Denpasar dan Bandung sebagai pelaksana, bekerjasama dengan petugas lapas serta warga binaan sebagai subjek utama. Lokasi kegiatan berada di Lapas Perempuan Kelas II A Kerobokan. Denpasar. Bali, yang menjadi pusat pelaksanaan program pelatihan keterampilan. Program ini bertujuan menciptakan kesetaraan kesempatan dan meningkatkan kepercayaan diri warga binaan melalui pengembangan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Dalam tahap perencanaan, tim pelaksana melakukan observasi dan diskusi kelompok terfokus (FGD) bersama warga binaan dan petugas lapas untuk menggali potensi serta minat yang relevan dengan kegiatan ekonomi kreatif. Proses ini mengutamakan partisipasi aktif dari warga binaan dalam menyampaikan aspirasi dan menentukan bentuk pelatihan yang paling Hasil diskusi digunakan untuk menyusun rencana program secara kolaboratif agar kegiatan berjalan sesuai kebutuhan lapas dan kondisi warga binaan. Gambar 1 menggambarkan siklus Penelitian Tindakan Partisipatif (Participatory Action Research/PAR), yang merupakan metode penelitian kolaboratif antara peneliti dan partisipan untuk memecahkan masalah nyata secara langsung. Proses dimulai dengan identifikasi masalah yang dilakukan bersama oleh semua pihak yang terlibat, dilanjutkan dengan perencanaan aksi yang dirancang berdasarkan kebutuhan dan kondisi lapangan. Setelah itu, aksi dilaksanakan sesuai dengan rencana, dan selama pelaksanaannya dilakukan observasi dan dokumentasi untuk mencatat perkembangan serta dampak yang terjadi. Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Gambar 1 : Metode PAR Sumber : Penulis, 2025 Seluruh proses dalam program ini dirancang untuk menumbuhkan kemandirian warga binaan dan menghasilkan produk yang dapat dipamerkan atau dipasarkan guna mendukung keberlanjutan kegiatan. Pendekatan yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR), yaitu metode penelitian berbasis tindakan yang mengutamakan keterlibatan aktif komunitas sasaran dalam setiap tahapannya. Proses diawali dengan identifikasi masalah, yang dilakukan melalui observasi langsung dan diskusi kelompok terfokus (FGD), di mana warga binaan Lapas Perempuan Kerobokan menyampaikan aspirasi, potensi, dan minat mereka di bidang ekonomi kreatif seperti kerajinan tangan, kuliner, seni, dan tata rias. Langkah ini memungkinkan warga binaan berperan sebagai subjek aktif yang ikut merancang arah program, bukan sekadar objek pelatihan. Setelah masalah dan potensi berhasil diidentifikasi, dilanjutkan ke tahap perencanaan aksi, di mana seluruh pihak terlibat bersama-sama menyusun agenda kegiatan. Proses berlanjut pada pelaksanaan aksi, berupa pelatihan keterampilan sesuai minat dan kebutuhan warga binaan. Kegiatan ini disertai dengan observasi dan dokumentasi untuk memantau Selanjutnya dilakukan refleksi dan evaluasi bersama, guna menilai capaian maupun kendala selama pelatihan berlangsung. Hasil refleksi ini menjadi dasar untuk perbaikan dan perencanaan siklus berikutnya, termasuk merancang langkah lanjutan yang lebih relevan dan berdaya guna. Program ditutup dengan pameran hasil karya warga binaan dalam forum internal maupun eksternal. Dengan pendekatan PAR yang kolaboratif dan transformatif ini, program tidak hanya menghasilkan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan, tanggung jawab, dan kemandirian warga binaan dalam membentuk masa depan mereka. Hasil dan Pembahasan Lapas Perempuan Kelas II A Kerobokan, yang terletak di Kabupaten Badung. Bali, merupakan salah satu lembaga pemasyarakatan khusus perempuan yang berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia. Awalnya merupakan bagian dari Lapas Kelas II A Kerobokan yang dibangun pada era 1970-an, lapas ini kemudian dipisahkan Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 secara administratif untuk menangani narapidana perempuan secara lebih fokus. Pemisahan ini dilakukan seiring dengan meningkatnya jumlah penghuni perempuan dan perlunya pendekatan rehabilitasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan gender. Lapas ini dirancang untuk memberikan pembinaan yang tidak hanya bersifat hukum dan keamanan, tetapi juga sosial, psikologis, dan keterampilan kerja bagi para narapidana perempuan. Dalam kondisi terkini. Lapas Perempuan Kerobokan menghadapi tantangan berupa over kapasitas dan keterbatasan sarana pembinaan. Meskipun dirancang untuk menampung sekitar 100Ae150 orang, jumlah warga binaan kerap kali melebihi kapasitas tersebut, terutama karena kasus narkotika yang mendominasi. Meskipun begitu, pihak lapas tetap berupaya mengembangkan program pembinaan yang melibatkan pelatihan keterampilan seperti menjahit, kerajinan tangan, serta kegiatan keagamaan dan psikososial. Lapas ini juga menjadi perhatian nasional dan internasional karena pernah menjadi tempat penahanan narapidana asing dalam kasus besar, menjadikannya ikon sistem pemasyarakatan di Bali. Upaya kolaboratif dengan pihak luar, seperti perguruan tinggi dan LSM, menjadi langkah penting dalam menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih humanis dan produktif bagi para Tabel 1. Kegiatan untuk Mendukung Ekonomi Kreatif Kegiatan Ekonomi Kreatif Kerajinan Tangan Kuliner Seni dan Budaya Pendidikan Pelatihan Penjelasan Realisasi Warga binaan dilatih untuk membuat kerajinan tangan, seperti anyaman, perhiasan, atau produk daur ulang. Produk-produk ini dapat dipasarkan secara lokal maupun online. Mengembangkan usaha kuliner dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal. Narapidana dapat belajar memasak dan mengolah makanan tradisional Bali yang dapat dijual di pasar atau acara tertentu. Mengadakan pelatihan seni lukis, menggambar, atau desain grafis. Karya seni yang dihasilkan dapat dipamerkan dan dijual, memberikan penghasilan tambahan bagi narapidana. Warga binaan sudah membuat boneka dari kain felt dan syal dari benang wol Menyediakan program pendidikan dan menjahit, tata rias, atau teknologi Keterampilan ini dapat mereka bebas. Warga binaan sudah mendapat pelatihan tata rias sehingga membuka usaha salon/ make up artist Membuat keripik singkong dan sudah tersertifikasi halal Warga binaan membuat tas dengan lukisan Sumber : Penulis, 2025 Program ekonomi kreatif di Lapas Perempuan Kerobokan dirancang untuk memberdayakan warga binaan melalui berbagai kegiatan produktif dan bernilai ekonomi. Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Gambar 2. Contoh produk karya warga binaan Sumber : Penulis, 2025 Kegiatan seni dan budaya juga menjadi bagian penting dalam program ini. Warga binaan telah menghasilkan karya seperti tas bergambar lukisan tangan, yang mencerminkan ekspresi seni sekaligus potensi bisnis. Di sisi lain, aspek pendidikan dan pelatihan keterampilan difokuskan pada pemberian keahlian praktis, seperti tata rias. Melalui pelatihan ini, warga binaan tidak hanya memperoleh kemampuan teknis tetapi juga bekal untuk membuka usaha mandiri, seperti salon atau jasa make-up artist, setelah masa tahanan berakhir. Keseluruhan kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan peluang baru bagi para narapidana, membangun rasa percaya diri, dan mempersiapkan mereka untuk reintegrasi sosial yang Reintegrasi merupakan proses strategis untuk mempersiapkan narapidana kembali ke masyarakat dengan bekal keterampilan, sikap, dan nilai-nilai positif agar mereka dapat hidup mandiri, tidak mengulangi tindak pidana, dan diterima oleh lingkungan sosialnya. Lapas Kelas II, reintegrasi menjadi salah satu tujuan utama pembinaan, yang mencakup berbagai aspek: Gambar 3. Kegiatan Kesenian Warga Binaan Sumber : Penulis, 2025 Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Pemberian materi mengenai pentingnya manfaat ekonomi kreatif di warga binaan Lapas Perempuan Kerobokan ini dijelaskan bahwa akan berguna di saat mereka keluar. Dengan memiliki keterampilan dan pengalaman dalam ekonomi kreatif, warga binaan dapat lebih mandiri secara finansial setelah keluar dari lapas. Gambar 4. Penyerahan plakat kepada Ketua Lapas Wanita Kerobokan Sumber :Penulis, 2025 Dijelaskan juga Ekonomi kreatif mendorong inovasi dan kreativitas di berbagai bidang, menjadi wadah bagi pelaku kreatif untuk mengembangkan ide-ide baru yang bernilai ekonomi dan sosial. Dalam konteks Lapas Perempuan Kerobokan, program ekonomi kreatif tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelatihan keterampilan, tetapi juga sebagai media ekspresi diri, penyembuhan psikologis, dan pemberdayaan. Melalui kegiatan seperti kerajinan tangan, kuliner, seni, dan pelatihan vokasional, warga binaan didorong untuk menghasilkan karya orisinal yang bisa dipasarkan dan bernilai jual. Hal ini tidak hanya memberikan penghasilan tambahan, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri serta membangun kesiapan mental dan keterampilan mereka untuk kembali ke masyarakat dengan peran yang lebih produktif dan Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Gambar 5 . Penjelasan Kalapas mengenai kondisi Lapas Wanita Kerobokan Sumber :Penulis, 2025 Gambar 6. Photo Bersama panitia. FKD Bali dan Bandung serta dosen Sumber : Penulis 2025 Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Tabel 2 : bentuk dan indikator pertisipasi tinggi Tahapan PAR IdentifikasiMasalah Bentuk Partisipasi Warga Indikator Partisipasi Tinggi Binaan Berpartisipasi dalam FGD. Warga binaan mengemukakan menyampaikan aspirasi, pengalaman, masalah secara aktif dan memberi dan minat secara terbuka masukan terhadap arah program Perencanaan Aksi Terlibat dalam menyusun agenda pelatihan dan menentukan bentuk Usulan warga binaan diakomodasi dalam desain pelatihan. turut menyusun jadwal dan metode Pelaksanaan Aksi Mengikuti pelatihan secara aktif, menunjukkan inisiatif, dan berbagi pengetahuan dengan sesama Tingkat kehadiran tinggi, keterlibatan dalam diskusi, antusiasme dalam mempraktikkan Observasi dan Dokumentasi Membantu mendokumentasikan proses, memberi umpan balik secara Terdapat catatan atau dokumentasi hasil karya dan proses dari warga binaan sendiri Refleksi dan Evaluasi Warga binaan menyampaikan Aktif dalam diskusi reflektif, mengulas analisis pribadi dan solusi terhadap hambatan dan keberhasilan kendala yang muncul TindakLanjut dan Perbaikan Menyusun rencana pengembangan lanjutan, mempersiapkan pameran Keterlibatan dalam merancang kegiatan pascapelatihan dan persiapan kegiatan ekspose produk Sumber : diolah penulis, 2025 Indikator partisipasi warga binaan di Lapas II Kerobokan mencerminkan sejauh mana mereka terlibat secara aktif dalam seluruh tahapan Participatory Action Research (PAR). Keterlibatan ini terlihat mulai dari tahap identifikasi masalah, di mana warga binaan tidak hanya hadir, tetapi juga menyampaikan aspirasi, pengalaman, dan minat secara terbuka dalam forum diskusi kelompok. Partisipasi yang tinggi ditunjukkan ketika mereka mampu mengemukakan masalah secara aktif dan memberikan masukan terhadap arah program. Dalam tahap perencanaan aksi, indikator partisipasi tinggi tampak dari akomodasi ide warga binaan dalam agenda pelatihan, serta keterlibatan mereka dalam menyusun jadwal dan metode kegiatan. Pada tahap pelaksanaan, warga binaan menunjukkan partisipasi tinggi melalui kehadiran yang konsisten, inisiatif dalam kegiatan, dan antusiasme berbagi pengetahuan dengan sesama. Di tahap observasi dan dokumentasi, mereka turut mencatat dan merekam proses serta hasil karya secara mandiri. Refleksi dan evaluasi menjadi momen penting untuk mengukur kedalaman partisipasi, di mana warga binaan yang aktif mampu menganalisis hambatan serta menawarkan solusi. Terakhir, dalam tahap tindak lanjut dan perbaikan, indikator partisipasi tinggi terlihat dari keterlibatan mereka dalam menyusun rencana lanjutan dan mempersiapkan pameran produk. Seluruh indikator ini menunjukkan adanya proses pembelajaran partisipatif yang transformatif, memperkuat rasa kepemilikan dan kesiapan warga binaan untuk reintegrasi sosial. Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Sebagai penutup, kegiatan pengabdian masyarakat di Lapas Perempuan Kerobokan ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis ekonomi kreatif mampu menjadi sarana efektif dalam pemberdayaan warga binaan. Melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan, warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan praktis, tetapi juga dorongan moral dan rasa percaya diri untuk membangun masa depan yang lebih baik. Kolaborasi antara institusi akademik, pihak lapas, dan masyarakat luas menjadi kunci keberhasilan program ini. Harapannya, inisiatif seperti ini dapat terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai lembaga pemasyarakatan lainnya untuk menciptakan perubahan yang inklusif, berkelanjutan, dan bermakna bagi semua pihak. Kesimpulan Program pengabdian masyarakat bertajuk AuMenggali Potensi Ekonomi Kreatif: Membangun Kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali Ay berhasil mencapai tujuan utamanya, yaitu memberdayakan warga binaan perempuan melalui pendekatan ekonomi kreatif yang partisipatif dan berkelanjutan. Berdasarkan hasil pelaksanaan, kegiatan ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi, dengan keterlibatan aktif warga binaan dalam seluruh tahapan mulai dari perencanaan, pelatihan, hingga Terukur dari realisasi kegiatan, sejumlah keterampilan telah berhasil ditransfer, seperti pembuatan boneka dari kain felt, keripik singkong bersertifikat halal, tas lukis, serta pelatihan tata rias yang mendorong potensi usaha mandiri pasca-pembebasan. Program ini juga berhasil memperkuat kerjasama antara institusi akademik dan lembaga pemasyarakatan, serta membuka peluang bagi warga binaan untuk menghasilkan produk bernilai ekonomi yang dapat dipasarkan secara luas. Dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR), program ini terbukti efektif dalam menggali potensi tersembunyi sekaligus membangun kesetaraan di lingkungan pemasyarakatan. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini tidak hanya berhasil secara teknis dan administratif, tetapi juga membawa dampak sosial dan psikologis yang positif bagi warga binaan. Kontribusi utama dalam hal kebaruan dari program berbasis Participatory Action Research (PAR) di Lapas II Kerobokan terletak pada pendekatan partisipatif yang menyeluruh dan transformatif, yang menempatkan warga binaan sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima program. Berbeda dengan program komunitas serupa yang sering kali bersifat topdown atau hanya fokus pada pelatihan keterampilan teknis, program ini mengintegrasikan warga binaan dalam setiap tahap mulai dari identifikasi masalah hingga tindak lanjut. Hal ini menciptakan ruang dialog yang setara, mendorong rasa kepemilikan, serta menumbuhkan kemampuan reflektif dan analitis warga binaan terhadap proses pembelajaran mereka sendiri. Kebaruan lainnya adalah adanya indicator partisipasi tinggi yang terukur dan sistematis, yang jarang digunakan dalam program sejenis. Indikator ini tidak hanya mengukur kehadiran atau keikutsertaan pasif, tetapi mencerminkan keterlibatan yang bermakna seperti member masukan program, mendokumentasikan proses, hingga menyusun rencana pasca pelatihan. Dengan demikian, program ini tidak hanya membekali keterampilan, tetapi juga membangun kapasitas berpikir kritis, kolaboratif, dan perencanaan jangka panjang Ai hal-hal esensial dalam proses reintegrasisosial yang berkelanjutan. Menggali potensi ekonomi kreatif membangun kesetaraan di Lapas Perempuan Kerobokan. Denpasar. Bali DOI: http://10. 37577/jamari. v%vi%i. JAMARI Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri E-ISSN : 3090-7810 Vol. No. Juli, 2025, 45 - 56 Saran Untuk pengembangan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) selanjutnya, disarankan agar program ekonomi kreatif di Lapas Perempuan Kerobokan diperluas dengan integrasi sistem pemasaran digital, pendampingan kewirausahaan berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor seperti UMKM lokal dan lembaga pelatihan profesi. Selain itu, perlu adanya monitoring jangka panjang terhadap dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan, termasuk pelacakan keberhasilan warga binaan dalam mengimplementasikan keterampilan setelah bebas. Peningkatan kapasitas fasilitator serta penyediaan sarana produksi yang lebih lengkap juga penting agar hasil pelatihan lebih optimal dan produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasar. Ucapan Terimakasih Terima kasih kepada Kalapas Wanita Kerobokan Bali yang telah memberikan kami kesempatan melakukan pengabdian pada Masyarakat dan ikut serta mempersiapkan warga binaan yang akan keluar dengan lebih baik lagi. Kepada Ketua FKD Denpasar beserta jajarannya yang telah berkolaborasi dengan baik, kepada rekan- rekan dosen Politeknik Pajajaran Insan Cinta Bangsa. Kepada Pimpinan dan jajaran Dekuta Hotel yang telah memberikan akomodasi pada kami selama berada di Kuta. Daftar Pustaka