Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 3 Nomor 2 Desember 2020 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Penerapan Safety Management System pada AMTO 147D-13 Program Studi Teknologi Pemeliharaan Pesawat Udara Politeknik Penerbangan Makassar Implementation of the Safety Management System at AMTO 147D-13 Aircraft Maintenance Technology Study Program Makassar Aviation Polytechnic Adhitya Octavianie adhityaoctavianie@gmail. Politeknik Penerbangan Makassar ABSTRAK Keselamatan penerbangan merupakan hal mutlak yang diinginkan oleh seluruh stakeholder pada indsutri penerbangan. Keselamatan penerbangan menjadi hal yang sangat serius yang secara terusmenerus diupayakan keterwujudannya. Kecelakaan penerbangan dapat terjadi karena berbagai macam Faktor alam, faktor manusia maupun faktor kegagalan sistem dapat menjadi faktor langsung maupun tidak langsung terhadap terjadinya kecelakaan penerbangan. Pembentukan budaya keselamatan . afety cultur. dan kepedulian keselamatan . afety awarenes. terhadap penerbangan pada organisasi akan dapat memberikan kontribusi positif pada terciptanya keselamatan penerbangan. Dan hal tersebut tidak terlepas dari keberhasilan penerapan Safety Management System pada organisasi ataupun entitas yang terkait dengan industri penerbangan. Maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk dapat menjelaskan sejauh mana Safety Management System telah diterapkan pada AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar serta untuk dapat mengidentifikasi faktor-faktor atau kendala yang dapat menghambat upaya penerapannya. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif melalui wawancara dengan SMS Manager dan key persons AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar, pengisian e-kuesioner oleh personel AMTO, observasi dan juga Dengan menggunakan Gap analisis, dilakukan pembandingan terhadap indikator-indikator capaian keberhasilan SMS pada kondisi aktual dan ideal. Berdasarkan hasil penyajian data diketahui bahwa terjadi kegagalan yang cukup signifikan terhadap indikator-indikator capaian SMS yang tertera pada manual SMS AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar. Pemahaman dan kepedulian pada tingkat yang berbeda-beda terkait dengan penerapan SMS pada organisasi di level manajemen hingga pelaksana merupakan kontribusi terbesar dari belum maksimalnya SMS dapat Kata kunci: Safety Management System. GAP Analisis. SMS Manager. key persons ABSTRACT Aviation Safety is absolutely desirable by all the stakeholders in the aviation industry. It became a serious matter which why it is continuously strived to make it happen. Accidents may occur for some Natural factors, human factors, or even the systemAos failure factors are possibly to be a direct or indirect cause of accidents. Shaping up the safety culture and awareness in each organization will positively contribute to aviation safety. And these things are related to the success of Safety Management System implementation in each organization or entity. The purposes of this research are to find out how was Safety Management System was carried out in AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 3 Nomor 2 Desember 2020 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 Penerbangan Makassar and also to identify the possible problems and obstacles to its implementation. This research is done in the qualitative descriptive method through an interview with the SMS Manager and key persons of AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar. AMTOAos personnel questionnaire, observation, and documentation. Through GAP analysis. SMS indicators were compared in actual and ideal conditions. The research data shows a quite significant failure on SMS indicators which were mentioned in the SMS Manual of AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar. A different level of comprehension and awareness about the SMS implementation importance in management and staff levels was a great contribution to the SMS implementation that was not yet carried out at the maximum. Keywords: Safety Management System. GAP Analysis. SMS Manager. key persons PENDAHULUAN Safety merupakan istilah atau kata yang sudah pasti tak bisa terlepaskan dari dunia Penerbangan. Dalam penerbangan, safety merupakan suatu kondisi dimana risiko yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung pada operasi penerbangan telah dapat dikendalikan pada tingkatan yang dapat ditolerir, sebagaimana tercantum dalam ICAO Annex 19 Safety Management System. Keselamatan penerbangan, aspek keselamatan penerbangan merupakan syarat mutlak yang harus terpenuhi dalam operasional penerbangan. Beragam teori dan pendekatan digunakan untuk terus meningkatkan dan mempertahankan keberhasilan faktor aspek keselamatan dalam penerbangan salah satunya melalui Safety Management System (SMS). Lembaga Pendidikan dan Pelatihan merupakan tempat dimana sumber daya manusia dibekali dengan knowledge . dan skill . yang nantinya akan digunakan dalam melaksanakan tugas dan fungsi serta tanggung jawab di lingkungan kerja (Idyaningish & Bahrawi, 2. Penerapan SMS secara konsisten dan berkelanjutan akan menjadi contoh dan teladan baik bagi siswa maupun personel organisasi itu sendiri untuk senantiasa menjaga melalui pengendalian dan pengelolaan terhadap risiko keselamatan. Pada lingkup kegiatan pemeliharaan pesawat udara, manajemen keselamatan yang diterapkan akan memberikan dampak secara langsung terhadap keselamatan penerbangan serta tentunya budaya keselamatan atau Safety Culture akan terbentuk sebagai sikap perilaku dari siswa . melalui konsistensi dan pembiasaan penerapan SMS dalam Definisi Safety adalah suatu kondisi atau keadaan dimana suatu resiko yang berhubungan dengan penerbangan, terkait dengan penerbangan atau berhubungan langsung dengan operasional penerbangan dapat diminimalisir, dipertahankan didalam atau dibawah suatu tingkat yang dapat diterima (ICAO Annex 19 Second Edition. July Data International Civil Aviation Organization (ICAO) pada kurun waktu 2012 hingga 2018 menyatakan bahwa kecelakaan penerbangan secara global paling tinggi terjadi pada tahun 2012 sebanyak 3,2 kecelakaan untuk setiap satu juta keberangkatan. Sementara pada tahun terakhir pencatatan yakni 2018, terdapat sejumlah 2,6 kecelakaan per satu juta keberangkatan penerbangan. Gambar 1. Tingkat Kecelakaan Penerbangan Global Safety Management System adalah suatu pendekatan sistematis yang bertujuan untuk mengelola keselamatan, termasuk didalamnya akuntabilitas, tanggungjawab, kebijakan maupun prosedur (ICAO Annex 19 Second Edition. July Safety Management System atau yang biasa SMS meningkatkan kinerja keselamatan melalui serangkaian proses yaitu: identifikasi potensi bahaya, pengumpulan dan analisis data dan Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 3 Nomor 2 Desember 2020 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 informasi keselamatan serta penilaian . terhadap risiko keselamatan secara berkelanjutan. Melalui SMS, upaya untuk dapat melakukan mitigasi risiko keselamatan secara proaktif sebelum terjadinya kecelakaan maupun kejadian serius menjadi sangat mungkin untuk Dalam ICAO Document 9859 Safety Management Manual Fourth Edition, 2016, dijelaskan bahwa Human Factors adalah tentang memahami bagaimana cara manusia berinteraksi dengan dunia, kemampuan dan batasan yang dimiliki oleh manusia, dan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi aktivitas manusia dalam meningkatkan kinerja manusia dalam melakukan Sebagai akibat dari hal tersebut maka penting untuk menyadari bahwa Human Factors adalah merupakan bagian tak terpisahkan dari manajemen keselamatan. Identifikasi dan mitigasi risiko menjadi sangat penting untuk dipahami sebagai upaya optimalisasi peran manusia di dalam mewujudkan keselamatan Penerapan Safety Management Systems (SMS) sangat bergantung kepada faktor manusia, selain juga perkembangan era teknologi terkini. Didalam ICAO Document 959 Safety Management Manual Fourth Edition, 2016 disebutkan beberapa kunci utama terkait faktor manusia dalam keberhasilan penerapan Safety Management System (SMS) dengan penjabaran sebagai berikut: Komitmen manajemen senior atau tingkatan manajemen tertinggi di suatu organisasi dalam mengoptimalkan kinerja personel serta mendorong personel untuk dapat secara aktif terlibat dan berkontribusi pada proses pengelolaan manajemen keselamatan. Tanggung jawab personel terkait manajemen keselamatan dipastikan berada pada tingkatan yang sama dalam hal pemahaman maupun ekspektasi pencapaian tujuan manajemen Organisasi membekali personel dengan . gambaran mengenai sikap perilaku yang diharapkan sehubungan dengan proses dan prosedur kerja pada organisasi. gambaran mengenai kebijakan organisasi terhadap sikap perilaku personel secara Tingkatan sumber daya manusia dipantau dan disesuaikan dalam rangka memastikan ada cukup banyak personel yang memenuhi kualifikasi operasional. Kebijakan, proses dan prosedur dibuat dalam rangka untuk mendorong berjalannya system pelaporan terkait keselamatan. Data dan informasi keselamatan dianalisa untuk mempertimbangkan keterkaitan risiko dengan performa atau kinerja serta keterbatasan yang dimiliki manusia, tidak melupakan juga untuk secara khusus operasional dan organisasional. Kebijakan, proses dan prosedur yang dikembangkan secara singkat, jelas, aplikatif dan bertujuan: Optimalisasi kinerja personel . Mencegah terjadinya kesalahan yang tidak . Menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan terkait dengan kinerja personel. efektivitas dari hal-hal ini secara berkelanjutan dimonitor selama kondisi operasi normal. Pemantauan terhadap operasi normal yang sedang berjalan mencakup penilaian terkait pelaksanaan ketentuan proses dan prosedur, dan 131ndepe ketentuan tidak dilaksanakan maka investigasi dilakukan untuk mencari penyebab permasalahan. Investigasi keselamatan meliputi penilaian terhadap kontribusi faktor manusia, tidak hanya memeriksa tindakannya tetapi juga alasan daripada 131 depend tersebut, dengan pemahaman bahwa di banyak kasus yang orang-orang melakukan yang terbaik untuk menyelesaikan Proses manajemen perubahan mencakup pertimbangan tugas dan peran manusia di dalam sistem. Personel memastikan bahwa personel memiliki melaksanakan tugasnya, dilakukan review terhadap efektivitas pelaksanaan pelatihan serta program pelatihan diadaptasi sesuai dengan kebutuhan. Penerapan Safety Management System pada organisasi pendidikan dan pelatihan pesawat udara bukanlah merupakan suatu hal yang Dalam pelaksanaan implementasi atau penerapannya tentu terdapat kendala baik berupa teknis maupun non teknis (Irfan, 2. Karenanya sangat dibutuhkan komitmen yang kuat dari organisasi untuk memastikan bahwa sistem manajemen keselamatan ini dilaksanakan Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 3 Nomor 2 Desember 2020 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 dengan mengacu standar dan ketentuan yang Dalam penerapannya. Safety Management System ini dapat secara efektif berjalan dengan pola Top-down, yang bisa diartikan dimulai dari tingkatan manajemen senior hingga personel yang berada di posisi paling dasar. Pentingnya hal ini dilakukan adalah untuk dapat menjamin terciptanya pengelolaan keselamatan yang baik pada organisasi AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar dalam melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan penerbangan serta menciptakan budaya dan pembiasaan prosedur SMS pada seluruh personel AMTO maupun juga taruna Prodi TPPU dimana kelak akan berkecimpung dalam industri yang terkait langsung dengan operasi keselamatan METODE Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan penggambaran dan peringkasan terhadap data penelitian yang didapatkan dari hasil interview, kuesioner, observasi dan dokumentasi. Interview dilakukan terhadap SMS Manager selaku penanggungjawab implementasi SMS pada organisasi serta SMS Key persons pada AMTO berjumlah 6 orang, e-kuesioner diberikan kepada personel dan instruktur AMTO berjumlah 13 Penelitian mendapatkan gambaran mengenai implementasi atau penerapan Safety Management System pada AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar serta juga kendala dan hambatan yang dihadapi oleh organisasi dalam upaya penerapannya. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini berfokus pada . sejauh mana SMS telah diimplementasikan pada AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar . hal apa saja yang dapat menjadi kendala dalam penerapan SMS. Data penelitian ini diambil pada AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar periode bulan Agustus sampai dengan Oktober 2020. Pada SMS Manual AMTO 147D13 Politeknik Penerbangan Makassar tercantum beberapa poin Safety Objective or Target yang merupakan tolak ukur dari implementasi SMS. Adapun beberapa indikator tersebut adalah: Improve 5% Number and rate safety reports submitted . Decrease 5% Number of noncompliance / Number of findings . Improve 5% Number and rate training attendance minimum 80% . Improve 5% Number and rate safety report submitted . Improve 5% Student examination passing grade minimum 70% . Decrease 5% number occurrence . njuries, accidents, broken tools and Dari kesimpulan adanya indikasi kegagalan dalam pencapaian dari Safety Objective/Target Keselamatan dengan rincian sebagai berikut: Tabel 2 GAP Analysis Safety Objectives / Target Keselamatan Safety Objectives/ Target Keselamatan Peningkatan terhadap jumlah dan Penurunan 5% jumlah Peningkatan 5% jumlah pelatihan minimal 80% Peningkatan 5% jumlah siswa yang lulus ujian minimal 70% Penurunan 5% angka . ecelakaan, kerusakan alat, dan luka-luka, lingkungan pelatihan. Ideal State . Curruent State (Tidak tercapa. Aa Aa Aa Aa Aa Pada tabel diatas, terdapat 4 indikator yang tidak tercapai. Pada poin pertama diketahui bahwa SMS Manager belum melakukan pelaporan terkait, tidak didapatkan adanya data dokumentasi laporan terkait. Hal yang sama terjadi pada poin 2,3 dan 5 yang dikarenakan tidak adanya dokumentasi terkait upaya pencapaian target keselamatan. Indikasi terjadinya kegagalan pencapaian kondisi ideal diperkirakan sangat berkaitan dengan kontribusi dari SMS Manager pada organisasi AMTO. Sebagaimana disebutkan dalam SMS Manual terdapat beberapa tanggungjawab daripada SMS Manager yang Managing the SMS implementation plan Facilitating hazard identification and risk Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 3 Nomor 2 Desember 2020 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 assessment activities Monitoring the effectiveness of mitigation Providing periodic reports on safety Maintaining the SMS implementation Planning and organizing staff safety Providing independent advice on safety matters to senior Management Berikut disajikan GAP analysis terkait tugas dan tanggung jawab SMS Manager berdasarkan hasil wawancara serta observasi : dilakukan juga interview terhadap Key persons AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar yang terdiri dari: - Accountable Manager - Head of Training - Quality Manager - Instructional Manager - Chief Administration - Chief Maintenance Facilities Hasil interview terhadap key persons memberikan gambaran bahwa hingga saat ini penerapan SMS pada organisasi AMTO 147D13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar belum dapat dikatakan telah dipahami serta terlaksana secara maksimal. Berikut adalah respons dari interview yang dilakukan terhadap key persons AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar: Tabel 4. Hasil Interview Analisis GAP terkait tugas dan tanggung jawab Manajer SMS dilakukan dengan membandingkan tugas dan tanggung jawab yang tertera pada Manual SMS dengan hasil interview terhadap Manajer SMS serta pengumpulan data dokumentasi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Manajer SMS. Dari hasil pembandingan tersebut didapatkan fakta bahwa Manajer SMS belum melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana yang tercantum pada dokumen manual SMS sehingga belum terdapat dokumentasi pelaksanaan dari tugas dan tanggung jawab tersebut. Lebih jauh disampaikan oleh Manajer SMS bahwa hal tersebut terjadi karena belum cukupnya pemahaman terhadap tugas dan tanggung jawab selaku Manajer SMS, selama ini Manajer SMS melaksanakan tugas rangkap jabatan selaku Quality Manager dan yang bersangkutan mengira bahwa kedua jabatan tersebut memiliki tugas dan peran yang sama. Sementara pada kenyataannya terdapat beberapa perbedaan spesifik diantara kedua jabatan Selain terhadap SMS Manager. Dari pengolahan data tersebut maka dapat diperoleh gambaran umum mengenai belum maksimalnya penerapan SMS pada AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar. Meskipun pada tabel diatas terdapat beberapa poin pertanyaan dari indikator SMS . Pilar SMS) dengan nilai persentase yang cukup tinggi namun pada saat peneliti melakukan observasi dan pencarian data dokumentasi terkait, data dokumentasi tersebut tidak dapat ditemukan pada arsip organisasi AMTO 147 D13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar. Dalam pelaksanaan implementasi dari suatu ketentuan ataupun regulasi tentu terdapat Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 3 Nomor 2 Desember 2020 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 faktor pendukung dan juga faktor penghambat atau kendala, tak terkecuali dalam penerapan SMS pada organisasi AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar. Dari data interview didapatkan beberapa respons yang mengarah pada pentingnya komitmen dari semua unsur pada organisasi terkait penerapan SMS dan juga faktor ketersediaan anggaran dinilai sebagai faktor yang dapat mendukung keberhasilan penerapan SMS. Sementara berdasarkan hasil interview terhadap key persons didapatkan respon yang menyatakan bahwa kendala terbesar yang dihadapi oleh organisasi saat ini adalah terkait belum adanya persamaan persepsi mengenai pentingnya penerapan SMS dalam organisasi serta kurangnya koordinasi dan komunikasi di dalam organisasi. Dari data tabel GAP Analysis Safety Objective diatas, dapat dilihat bahwa dari total 5 . indikator target keselamatan yang harus dipenuhi, hanya terdapat 1 . indikator yang berhasil terpenuhi. Selanjutnya hasil wawancara dengan key persons pada AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar yang berjumlah 6 . orang dapat disimpulkan bahwa sejauh ini Safety Objective/Target memang baru sebatas perencanaan namun belum sepenuhnya dilaksanakan. Sementara data pada Tabel 3 GAP Analysis Tugas dan Tanggung Jawab SMS Manager diatas juga menunjukkan bahwa fungsi daripada SMS Manager belum terlaksana, lebih lanjut dari hasil wawancara maupun observasi didapatkan kesimpulan sementara bahwa fungsi SMS Manager pada AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar belum dapat terlaksana dengan baik dikarenakan saat ini posisi tersebut masih dirangkap oleh 1 . orang personel yang juga bertugas sebagai Quality Manager yang bertugas untuk menjamin terlaksananya pelaksanaan Pendidikan dan pelatihan pada AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar sesuai ketentuan yang Sementara hasil dari interview terhadap key persons, dapat terlihat bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai target penerapan SMS pada organisasi serta sejauh mana penerapan SMS telah berjalan pada organisasi. Perbedaan pendapat ini sangat mungkin disebabkan oleh belum berjalannya sosialisasi yang baik terkait SMS pada lingkup internal organisasi serta belum terdokumentasikannya kegiatan terkait penerapan SMS pada Data interview juga menunjukkan bahwa key personss pada AMTO 147D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar memiliki persamaan pendapat mengenai pentingnya dukungan manajemen terhadap keberhasilan penerapan SMS pada organisasi, sementara terkait pelaksanaan audit SMS terdapat 5 . dari 6 . key persons menyatakan belum terlaksana, sementara 1 . orang menyatakan terlaksana. Hal ini dapat menjadi indikasi bahwa kegiatan pengawasan atau audit implementasi SMS belum secara konsisten dilaksanakan dan belum Belum terwujudnya persamaan persepsi mengenai pentingnya penerapan SMS bagi organisasi serta masih kurangnya komunikasi dan koordinasi terkait dinilai sebagai kendala terbesar bagi penerapan SMS di dalam Pada kegiatan observasi yang dilakukan, diketahui bahwa pemahaman dan pengetahuan mengenai dokumen manual SMS masih sangat minim diantara para personel AMTO 147 D-13 prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar. Observasi interview yang dilakukan menunjukkan hasil bahwa personel yang ditugaskan belum sepenuhnya memahami tugas dan tanggung jawab utama sebagai SMS Manager. Hal tersebut disebabkan oleh karena adanya rangkap jabatan sehingga personel yang ditunjuk merasa mengalami work overload dan menganggap bahwa tugas antara kedua jabatan adalah serupa sehingga memilih untuk fokus hanya pada salah satu tugas jabatan yaitu AMTO Quality Manager. Alasan yang dapat disampaikan mengenai rangkap jabatan salah satunya dikarenakan minimnya jumlah personel serta belum adanya Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara terkait implementasi SMS sangat memungkinkan mengakibatkan terabaikannya kepentingan bagi SMS untuk diimplemetasikan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian dan juga pembahasan maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut : Penerapan Safety Management System pada AMTO 147 D-13 Prodi TPPU Politeknik Penerbangan Makassar dapat dikatakan masih belum terlaksana dengan baik. Hal ini terindikasi dengan belum adanya target capaian yang spesifik serta minimnya dokumentasi dari kegiatan perencanaan. Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 3 Nomor 2 Desember 2020 P-ISSN 2622-0105 | E-ISSN 2716-1196 penerapan maupun pengawasan Safety Management System pada organisasi serta fakta belum terlaksananya audit internal maupun eksternal menjadikan belum adanya evaluasi terkait berjalannya implementasi dari SMS. Kendala terkait penerapan Safety Management Systems pada organisasi antara lain adalah belum adanya persamaan persepsi mengenai pentingnya penerapan SMS untuk organisasi serta belum terjalin koordinasi dan komunikasi yang mendukung berjalannya SMS pada organisasi serta belum ditunjuknya implementasi SMS. Dari pelaksanaan rangkaian penelitian yang meliputi pengumpulan dan analisis data, maka dapat disampaikan saran antara lain: Agar organisasi dapat melakukan evaluasi ulang terhadap dokumen manual SMS yang telah disusun dan melaksanakan poin Ae poin yang tercantum pada manual SMS seperti contohnya terkait dengan target capaian dari implementasi SMS. Koordinasi dan komunikasi terkait SMS perlu segera dibangun, hal ini dapat dilaksanakan melalui kegiatan pertemuan rapat maupun dalam bentuk lain. Sosialisasi atau pengenalan dokumen manual SMS kepada seluruh personel juga sangat penting untuk dilakukan sehingga setiap orang di dalam organisasi akan memiliki tingkat pemahaman dan persepsi yang sama dalam memandang pentingnya SMS untk diterapkan di dalam organisasi dan untuk berjalannya penerapan SMS yang lebih baik pada organisasi maka dibutuhkan kebijakan untuk menunjuk personel yang secara khusus membidangi SMS. Hal ini bertujuan agar tugas dan fungsi dari SMS Manager dapat dijalankan secara penuh tanpa tumpang tindih dengan tugas dan tanggungjawab lainnya. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih disampaikan kepada Direktur Politeknik Penerbangan Makassar yang telah menyetujui pendanaan penelitian ini serta semua pihak yang telah mendukung terselesaikannya penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA