42 Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A Upaya Meningkatkan Kemampuan Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi Di Taman Penitipan Anak Darun Najah Helina Himmatul Ulya Lina Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Sekolah Tinggi Agama Islam Khozinatul Ulum Blora. Jl. Mr. Iskandar No. 42 Mlangsen. Kec. Blora Kota. Kabupaten Blora Email: helinaulya93@gmail. Abstract The low ability to imitate prayer movements in children is because the applied learning methods such as showing pictures of prayer movements have not been able to develop children's ability to imitate prayer movements. In addition, it is known that not all educators provide training and instructions to students in performing prayer movements because it is considered that children have not been required from an early age so that the activities of performing prayer movements are only conveyed at a glance through the use of image Therefore we need an appropriate method to be applied in prayer material, including the demonstration method. The research objectives of this thesis are as follows: . To find out efforts to improve the ability to imitate prayer movements with the demonstration method at the Darun Najah Day Care Center Megawon. To find out the results of increasing the ability to imitate prayer movements with the demonstration method at the Darun Najah Day Care Center Megawon. The location of this research will be in the Darun Najah Megawon Student Care Park with the research subjects being students aged 5-6 consisting of 15 students. This research was conducted in the first semester starting from the mid week of the 4th month to the middle of the 5th month which was carried out for 1 month. However, before carrying out the action, the researcher had made a research design This study was conducted to determine the results of increasing the ability to imitate the prayer movements of students 5-6 years old at TPA Darun Najah Megawon in Megawon Village. Jati District. Kudus Regency, for the 2021/2022 Academic Year through the demonstration Based on the research, the authors can draw the conclusion that the efforts made by educators have succeeded in increasing the ability to imitate prayer movements, students achieve the indicators contained in the activity plans that have been prepared even though in practice there are several factors that become obstacles to achieving these indicators including participants Students are less focused on paying attention when the teacher gives directions. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina Keywords: Ability to Imitate Prayer Movements. Demonstration Method Abstrak Rendahnya kemampuan meniru gerakan shalat pada anak karena metode pembelajaran yang diterapkan seperti memperlihatkan gambar gerakan shalat ternyata belum dapat mengembangkan kemampuan anak meniru gerakan shalat. Selain itu diketahui bahwa tidak semua pendidik memberikan latihan dan petunjuk kepada peserta didik dalam melakukan gerakan shalat karena dianggap anak belum diwajibkan sejak dini sehingga untuk kegiatan melakukan gerakan shalat hanya disampaikan secara sekilas melalui penggunaan media gambar. Oleh karena itu perlu suatu metode yang tepat untuk diterapkan dalam materi shalat, diantaranya yaitu dengan metode demonstrasi. Adapun tujuan penelitian dari skripsi ini adalah sebagi berikut: . Untuk mengetahui upaya meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat dengan metode demonstrasi di Taman Penitipan Anak Darun Najah Megawon. Untuk mengetahui hasil peningkatan kemampuan meniru gerakan shalat dengan metode demonstrasi di Taman Penitipan Anak Darun Najah Megawon. Lokasi penelitian ini akan dilakukan di Taman Penitipan Peserta didik Darun Najah Megawon dengan subyek penelitian peserta didik usia 5-6 yang terdiri dari 15 peserta didik. Adapun penelitian ini dilakukan pada semester I dimulai dari minggu pertengahan bulan 4 hingga pertengahan bulan 5 yang dilakukan selama 1 bulan. Namun sebelum melakukan pelaksanaan tindakan peneliti sudah membuat kegiatan rancangan penelitian. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hasil peningkatan kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik 5-6 tahun di TPA Darun Najah Megawon di Desa Megawon Kecamatan Jati Kabupaten Kudus Tahun Ajaran 2021/2022 melalui metode demonstrasi. Berdasarkan penelitian, penulis dapat menarik kesimpulan bahwasanya upaya yang dilakukan oleh pendidik telah berhasil meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat, peserta didik mencapai indikator-indikator yang terdapat dalam rencana kegiatan yang telah disusun meskipun dalam pelaksanaannya ada beberapa faktor yang menjadi penghambat untuk mencapai indikator tersebut diantaranya peserta didik kurang fokus memperhatikan saat pendidik memberikan arahan. Kata kunci: Kemampuan Meniru Gerakan Shalat. Metode Demonstrasi E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A Pendahuluan Perkembangan agama sejak usia dini memerlukan dorongan dan rangsangan sebagaimana pohon memerlukan air dan pupuk. Minat dan cita-cita anak, perlu ditumbuh kembang ke arah yang baik dan terpuji, melalui pendidikan. Cara memberikan pendidikan atau pengajaran agama, haruslah sesuai dengan perkembangan psikologis anak. Oleh karena itu, dibutuhkan pendidik yang memiliki jiwa pendidik dan agama, supaya segala gerakgeriknya menjadi teladan dan cermin bagi peserta didiknya. Penerapan nilai-nilai agama sangat erat kaitannya dengan penanaman akhlak kepada anak yang dimulai sejak masa balita, bahkan semenjak anak dalam kandungan, terutama bagi kedua orang tua. Pengembangan nilai-nilai agama untuk anak usia dini berkisar pada kegiatan kehidupan sehari-hari. Secara khusus penerapan nilai-nilai keagamaan bagi anak usia dini adalah meletakkan dasar-dasar keimanan, kepribadian atau budi pekerti yang terpuji, dan kebiasaan ibadah sesuai dengan kemampuan anak. Pendidikan agama yang diberikan orang tua kepada anaknya, yang pertama yaitu tentang ketauhidan dan yang kedua adalah ibadah Shalat. Kewajiban orang tua dalam menumbuhkan fitrah kehidupan ini adalah dengan membina anak- anaknya agar beriman kepada Allah, kekuasaan dan ciptaan-Nya. Bimbingan ini dilakukan ketika anak-anak sudah dapat mengenal dan membedakan sesuatu serta diberikan secara berjenjang. Dari halAehal yang kongkrit hingga abstrak. Kemudian orang tua menanamkan perasaan ingat kepada Allah SWT pada diri anak-anak dalam setiap perilakunya setiap saat1. Menyuruh anak sebagai anggota keluarga untuk melaksanakan shalat merupakan kewajiban bagi orang tua terutama ayah. Perintah Allah kepada orangtua untuk memerintah anaknya malaksanakan shalat tidaklah mudah,dan sederhana, sekadar memerintah dan membutuhkan waktu yang pendek. Di dalamnya tersirat banyak perintah lainnya yang berkaitan dengan proses pendidikan anak yang tidak sepi dari rintangan dan tantangan, serta membutuhkan waktu yang panjang. Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak mengenai ibadah Shalat, juga tidak lepas dari faktor lingkungan lain yaitu sekolah. Sesuai dengan fungsi dan peranannya, sekolah merupakan lembaga pendidikan lanjutan dari pendidikan dikeluarga. Lembaga ini akan memberikan pengaruh bagi pembentukan jiwa keagamaan anak. Pengaruh pendidik di sekolah merupakan suatu hal yang tidak dapat dihindari lagi, dalam melaksanakan aktivitas sehar-hari seorang anak cenderung meniru apa yang diajarkan atau dilihat dari seorang Ia meniru dan mencontoh apa saja yang didengar dan dilihatnya. Proses meniru dan mencontoh yang dilakukan oleh anak adalah bagian dari proses belajar yang diharapkan akan terjadi perubahan pada diri anak. Perubahan yang terjadi karena proses belajar itu bersifat positif dan aktif. Muhammad yusuf, 2014 AuMeningkatkan Kemampuan Melaksanakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi Pada Anak Usia 5-6 TahunAy Skripsi. Pontianak. Fakultas Kependidikan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjung Pura Pontianak IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina Lingkungan sekolah khususnya pendidik akan selalu memberikan bimbingan kepada semua peserta didiknya, sehingga mereka mendapatkan perubahan yang positif dan aktif dari proses belajar itu. Untuk pembelajaran di Sekolah terutama tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), mereka diberikan kegiatan belajar yang memuat aspek nilai agama dan moral, kognitif, bahasa, sosial emosional dan fisik motorik dengan cara belajar sambil Dari aspek motorik, anak pada masa kanak-kanak awal telah mampu mengontrol geraknya sehingga untuk melakukan gerakan-gerakan Shalat, peserta didik telah mampu Oleh karena itu pendidik dalam mendidik dapat membiasakan peserta didik untuk bersama-sama melakukan ibadah Shalat. Dari sini diharapkan akan terbentuk jiwa keagamaan yang positif dan mereka dapat tumbuh menjadi insan-insan yang benar-benar bertaqwa kepada Allah SWT pada diri peserta didik dikemudian hari. Meniru gerakan shalat merupakan kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitra dalam dirinya serta kemampuan seseorang mengenali Tuhannya yang telah menciptakannya, sehingga dimanapun berada merasa dalam pengawasan. Gerakan shalat merupakan bagian dari olahraga otot-otot dan persendian tubuh. Shalat dapat membantu menjaga kebugaran tubuh tetapi syarat semua gerakan shalat dilakukan dengan benar, perlahan dan tidak terburu-buru serta istiqomah atau konsisten2. Memberikan pelajaran ibadah shalat terhadap anak usia dini tidaklah mudah,karena pada umumnya seorang anak itu mudah merasa bosan dan jenuh. Kadang - kadang anak akan patuh dan menurut dengan apa yang diajarkan pendidik di sekolahnya, tetapi kadang pula melawan dan menjadi marah jika ditegur pendidiknya, seorang pendidik harus pandaipandai menarik perhatian peserta didiknya, sabar, ikhlas dalam tugas, serta bisa mengelola kelas dan menggunakan metode yang tepat sesuai dengan materi. Rendahnya kemampuan meniru gerakan shalat pada peserta didik karena metode pembelajaran yang diterapkan seperti memperlihatkan gambar gerakan shalat ternyata belum dapat mengembangkan kemampuan peserta didik meniru gerakan shalat. Selain itu diketahui bahwa tidak semua pendidik memberikan latihan dan petunjuk kepada peserta didik dalam melakukan gerakan shalat karena dianggap anak belum diwajibkan sejak dini sehingga untuk kegiatan melakukan gerakan shalat hanya disampaikan secara sekilas melalui penggunaan media gambar. Dengan demikian seorang pendidik harus mampu menyampaikan informasi atau pelajaran dengan berbagai metode, tidak hanya dengan satu metode saja. Sebab dengan menggunakan metode yang tepat peserta didik akan dapat dengan mudah menyerap dan memahami apa yang disampaikan pendidik. Dengan kata lain pendidik harus memiliki kemampuan untuk mengajar secara bervariasi, sehingga peserta didik tidak cenderung Muhammad yusuf, 2014 AuMeningkatkan Kemampuan Melaksanakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi Pada Anak Usia 5-6 TahunAy Skripsi. Pontianak. Fakultas Kependidikan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Tanjung Pura Pontianak. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A bersifat pasif dan tidak mudah bosan dalam proses pembelajaran. Apalagi untuk materi ibadah shalat, haruslah ada kesesuaian antara bacaan dengan gerakan-gerakan shalat. Bacaan-bacaannya harus hafal dan gerakan-gerakan shalatnya harus faham. Oleh karena itu perlu suatu metode yang tepat untuk diterapkan dalam materi shalat, diantaranya yaitu dengan metode demonstrasi. Metode demonstrasi adalah pengajaran yang menunjukkan fungsi setiap unsur dan pengorganisasi yang mengarahkan pencapaian tujuan pengajaran yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Metode pembelajaran demonstrasi dapat digunakan untuk memperagakan barang, kejadian,aturan, dan atau urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan3. Kelebihan metode demonstrasi antara lain keaktifan peserta didik bertambah, pengalaman peserta didik bertambah, pengertian lebih cepat dicapai, perhatian peserta didik terpusat penuh pada pokok pelajaran, mengurangi kesalahan, masalah yang timbul dapat langsung terjawab. Metode ini dalam prakteknya menirukan bacaan-bacaan dan gerakan shalat secara berulang-ulang, sehingga akan tercapai keserasian antara bacaan dengan gerakan shalatnya, peserta didik bisa hafal bacaannya dan mempraktekkan shalat sendiri. Berdasarkan permasalahan di atas, maka penulis mencoba mengkaji dan meneliti sejauh mana keberhasilan penggunaan Metode demonstrasi dalam upaya meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat anak usia dini dengan mengambil judul AuUpaya Meningkatkan Kemampuan Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi di Taman Penitipan Anak Darun Najah MegawonAy Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alami. Pendekatan ini dipilih karena dalam pengumpulan data berada di TPA Darun Najah Megawon Desa Megawon Kecamatan Jati Kabuaten Kudus. Jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus ialah penelitian yang dilakukan untuk mengungkap suatu keadaan secara mendalam, inisiatif, baik mengenai perseorangan secara individual maupun berkelompok lembaga organisasi sekolah. Metode studi kasus ini dirancang untuk menyelesaikan masalah bukan untuk menemukan atau menciptakan teori baru. Penelitian dilakukan dengan melalui penelitian lapangan . ield reserac. di mana untuk memperoleh data yang akurat serta objektif, maka penulis datang langsung ke lokasi. 4 Dalam hal ini peneliti mengambil sebuah penelitian yang membahas tentang upaya meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat melalui metode demonstrasi di TPA Darun Najah Megawon. Ali Mudlofir, dkk. Desain Pembelajaran Pembelajaran Inovatif, (Jakarta : PT Raja grafindo Persada, 2. Sudarwan Danim. Au Menjadi Peneliti Kualitatif Au (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2. , hlm. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina Hasil dan Pembahasan Proses Pembelajaran Ibadah Shalat Proses pembelajaran merupakan kegiatan inti dari proses pendidikan yang di dalamnya terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik. Berdasarkan pedoman pembelajaran ditaman kanak-kanak bahwasannya shalat masuk kedalam kategori pembelajaran kelompok dengan sudut kegiatan, yaitu sudut ketuhanan. Dalam sudut ketuhanan ada beberapa alat yang disediakan pendidik antara lain tema rumah ibadah seperti masjid, peralatan ibadah, alat-alat lain yang sesuai untuk menjalankan ibadah agama, gambar yang memupuk ketuhanan dan sebagainya. 5 Serta dalam pembelajaran berdasarkan minat, shalat masuk dalam bagian area agama, didalam pembelajaran berdasarkan minat area agama terdapat tempat ibadah, gambar tata cara shalat, gambar tata cara berwudhu, sajadah, mukenah, peci, sarung, kerudung, buku Aoiqra, kartu huruf hijaiyah, tasbih, jus amma. Al- QurAoan dan sebagainya. Berikut ini hal-hal yang harus diajarkan secara sederhana dan mudah dipahami oleh peserta didik mengenai pengenalan ibadah shalat, diantaranya: Mengenalkan shalat pada usia yang tepat. Secara umum sosok pertama yang mengajarkan shalat pada peserta didik adalah kedua orang tua. Namun sebagai pendidik islam, pendidik juga memiliki peran penting dan kewajiban mengenalkan hal-hal keagamaan kepada peserta didik. Terlebih pendidik usia dini, yang memiliki kesempatan menanamkan agama sejak usia yang lebih dini dibanding tingkat sekolah selanjutnya. Hikmah dari pengenalan ibadah terhadap peserta didik usia dini . Agar peserta didik belajar shalat sejak masa pertumbuhan mereka, sehingga terbiasa mengajarkan ibadah terutama shalat. Agar peserta didik terdidik dalam ketaatan terhadap Allah melaksanakan perintahNya, bersyukur kepada-Nya, percaya dan bersandar kepada-Nya dan kembali kepada-Nya dalam hal yang menimpa dan menakuti dirinya. Agar dalam ibadah tersebut mereka mendapatkan kebersihan rohaniyah, kesehatan jasmaninya, pendidikan akhlaknya, serta perbaikan perkataan dan perbuatannya. Mengajarkan WudhuAo Sebelum melaksanakan ibadah shalat kita pun harus berwudhuAo, maka wudhuAo juga wajib di perkenalkan kepada peserta didik. Cara yang tepat adalah dengan praktik. Dampingi peserta didik menuju tempat wudhuAo dan saat berwudhuAo. Berikut cara berwudhuAo yang dapat diajarkan kepada peserta didik: Ajak peserta didik ketempat berwudhuAo, dan singsingkan bajunya. Mulai dengan membaca Basmalah dan membaca niat wudhuAo . Membasuh kedua telapak tangan . Berkumur-kumur . Membasuh muka sebanyak 3 kali sambil menerangkan batas wajah, yaitu antara 2 daun telinga dan dari bawah janggut sampai ke tempat tumbuhnya rambut dikepala. Pastikan air sampai ke semua bagian itu . Membasuh kedua tangan sampai kesiku, mulai dari tangan kanan dan berakhir di tangan kiri sebanyak 3 kali . Mengusap kepala Departemen Pendidikan Nasional. Pedoman Pembelajaran Di Taman Kanak-Kanak. Jakarta, 2006. Hlm. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A . Mengusap kedua daun telinga . Membasuh kedua kaki, mulai dari kaki kanan dan berakhir di kaki kiri sambil memastikan ratanya air dikedua kaki sampai mata kaki . Membaca doAoa setelah berwudhuAo Cara tersebut dipraktikan secara rutin setiap hendak shalat hingga peserta didik mampu melakukannya sendiri. Selain itu juga beri pengertian tentang hal-hal sederhana yang dapat membatalkan wudhuAo. Mengajarkan Gerakan Dan Bacaan Shalat Upaya yang dapat dilakukan pendidik dalam pembelajaran gerakan dan bacaan shalat kepada peserta didik disekolah dapat dilakukan dengan berbagai macam pembelajaran, namun hal yang paling utama dalam pembelajaran ibadah shalat bagi anak usia dini adalah dengan cara pengulangan dan membiasakan peserta didik untuk shalat secara baik dan benar, memberi tahu tujuan shalat untuk apa, menasehati peserta didik agar mengerjakan shalat yang baik dan benar. Upaya Meningkatkan Kemampuan Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi Di TPA Darun Najah Megawon Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan penulis, dapat diketahui bahwa pembelajaran ibadah shalat di TPA Darun Najah Megawon selama ini dilaksanakan secara rutin setiap hari jum'at di ruang aula. Pengenalan gerakan shalat dan bacaan shalat dilaksanakan berjamaah yang terdiri dari 50 peserta didik dengan pengawasan pendidik. Dari ke empat kelas dengan jumlah peserta didik yang mencapai 50 peserta didik, maka kegiatan praktik shalat berjamaah dilaksanakan dengan dibagi menjadi dua kelompok diwaktu yang berbeda secara bergantian. Hal ini guna menciptakan suasana yang kondusif untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Upaya yang dilakukan di TPA Darun Najah Megawon dalam meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat dengan metode demonstrasi adalah sebagai berikut: Memberi contoh setiap gerakan shalat yang di awali dari berdiri tegak, takbiratul ikhram, bersedekap, rukuAo, iAotidal, sujud, duduk tasyahud, duduk tahiyat awal, duduk tahiyat akhir sampai salam, pendidik mempraktekkan setiap gerakan shalat tersebut dengan baik dan sesuai dalam tuntunan cara gerakan shalat yang baik dan benar, yang kemudian peserta didik mengikuti gerak shalat tersebut secara berurutan sesuai indikator gerakan shalat yang baik dan benar. Dalam bacaan shalat pun pendidik berupaya melafadzkan satu per satu bacaan shalat yang baik dan benar sesuai dengan ketentuan bacaan shalat, yang kemudian setiap bacaan tersebut peserta didik mengikuti dan mengulang apa yang telah pendidik bacakan, yang mana bacaan shalat tersebut diawali dari niat, takbiratul ikhram, bacaan iftitah, bacaan al-fatihah, bacaan surat pendek, bacaan rukuAo, bacaan iAotidal, bacaan sujud, bacaan duduk tasyahud, bacaan duduk tahiyat awal, bacaan duduk tahiyat akhir hingga bacaan salam, dan bacaan dalam shalat tersebut disesuaikan dengan indikator ketentuan bacaan shalat yang baik dan benar. Melakukan pengulangan didalam pembelajaran ibadah shalat baik itu gerakan maupun bacaan shalat . Melakukan monitoring dengan cara memperhatikan masing-masing peserta didik dalam pelaksanaan kegiatan ibadah shalat. Melakukan evaluasi yang berguna untuk mengetahui sejauh mana perkembangan peserta didik dalam pembelajaran gerakan dan bacaan shalat dengan cara mempersilahkan peserta didik untuk mencoba shalat secara berkelompok sesuai IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina dengan kelompok yang dibagi oleh pendidik, dan masing- masing kelompok terdiri dari 5-6 orang peserta didik. Dari hasil observasi di TPA Darun Najah Megawon, upaya pendidik dalam pembelajaran ibadah shalat terhadap peserta didik dan rata-rata usianya 5 tahun sampai dengan 6 tahun yang tergabung dalam kelompok mangga ditemukan sudah banyak peserta didik yang mampu melaksanakam kegiatan pembelajaran ibadah shalat yang telah diberikan pendidik, sesuai dengan data yang ditemukan dari jumlah 15 peserta didik kelompok mangga, dengan jumlah mulai berkembang 4npeserta didik, berkembang sesuai harapan terdapat 8 peserta didik dan berkembang sangat baik terdapat 3 orang peserta didik, pembelajaran dikatakan berhasil dalam pencapaian indikator apabila peserta didik yang berkembang diatas 60% dari jumlah murid. Mengajar dikatakan berhasil apabila peserta didik belajar sebagai akibat dari usaha yang dilakukan. Hasil yang diharapkan bukan hanya bersifat pengetahuan, akan tetapi juga sikap, pemahaman, perluasan minat, penghargaan norma-norma, kecakapan, sehingga meliputi seluruh pribadi peserta didik. 6 Keberhasilan pencapaian kegiatan pembelajaran dapat di tunjang dengan beberapa unsur, salah satunya ialah upaya pendidik. Hal ini karena pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam proses kegiatan pembelajaran di dalam Upaya pendidik merupakan implementasi dari profesional pendidik anak usia dini yang seperti kita ketahui harus memiliki inovasi dan kreatifitas. Dalam mengembangkan segala aspek perkembangan anak usia dini, dapat dilakukan beragam upaya yang mampu mengoptimalkan pencapaian tugas perkembangan peserta didik termasuk dalam pengembangan aspek nilai moral dan agama. Tentunya hal ini didukung dengan pengetahuan pendidik mengenai karakter setiap peserta didik yang berbeda dan mengingat usia peserta didik yang masih dini. Sehingga upaya yang dilakukan dapat menjadi stimulasi yang tepat bagi aspek yang ingin dikembangkan secara optimal. Pada aspek perkembangan nilai moral dan agama terdapat berbagai indicator, beberapa mengenai ibadah. Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan penelitian terhadap peningkatan kemampuan meniru gerakan shalat. Berdasarkan hasil interview dengan pendidik kelompok mangga TPA Darun Najah Megawon, ia mengungkapkan bahwa beberapa upaya dilaksanakan dalam proses peningkatan kemampuan meniru gerakan shalat. Proses ini dilaksanakan dengan metode demonstrasi, yaitu dengan dilaksanakannya praktek shalat berjamaah secara langsung. Kegiatan ini dilaksanakan satu kali dalam seminggu, yaitu di hari jum'at selama 1 jam. Berikut ini upaya-upaya yang dilaksanakan pendidik kelompok mangga TPA Darun Najah Megawon: Melaksanakan praktek shalat berjamaah setiap minggunya secara rutin . Mengajarkan gerakan dan bacaan shalat dengan benar . Mengajak peserta didik agar melaksanakan dengan benar . Menunjukkan tujuan shalat . Menasehati agar rajin mengerjakan shalat . Memanfaatkan sarana dan prasarana yang dapat menunjang kegiatan praktek shalat Selain melaksanakan interview terhadap pendidik, peneliti juga melakukan pengamatan terhadap berbagai aspek penunjang kegiatan belajar mengajar di TPA Darun Najah Megawon. Pada pengamatan terhadap sarana dan prasarana, selain ruang kelas, kantor, kamar kecil, gudang, halaman bermain dan fasilitas bermain peserta didik, di Nasution. Didaktik Asas-asas Mengajar, ( Jakarta: Bumi Aksara, 2. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A lembaga ini juga terdapat aula yang berada di lantai 2 dan cukup besar untuk melaksanakan kegiatan praktek shalat berjamaah. Dalam pelaksanaan kegiatan pengenalan gerakan dan bacaan shalat ini, peserta didik diajarkan berwudlu terlebih dahulu, termasuk di dalamnya manfaat wudlu. Pengenalan terhadap cara berwudlu dilakukan melalui cara yang menyenangkan yaitu dengan Autepuk wudluAy dan praktek wudlu yang di dalamnya juga diperkenalkan niat berwudlu. Setelah peserta didik mengenal wudlu dan manfaatnya, barulah peserta didik dikenalkan gerakan dan bacaan shalat melalui metode demonstrasi. Peserta didik membentuk shaf seperti hendak shalat lalu peserta didik diperkenankan duduk ketika melihat pendidik mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat. Setelah peserta didik melihat pendidik mempraktekkan gerakan dan bacaan shalat sampai selesai barulah peserta didik mempraktekkan langsung, dengan menunjuk salah satu pendidik sebagai imam nya. Salah satu pendidik berdiri di posisi imam untuk memimpin gerakan dan bacaan shalat lalu peserta didik mengikutinya, sedangkan pendidik yang lain berada diantara shaf-shaf peserta didik untuk bersama sama dengan peserta didik mengikuti gerakan dan bacaan shalat sambil mengawasi peserta didik. Peran pendidik yang lain yaitu memperbaiki gerakan peserta didik yang kurang benar. Pengamatan lainnya juga dilakukan terhadap program atau perencanaan pembelajaran, yaitu Rencana Kegiatan Mingguan dan Rencana Program Pembelajaran Harian yang disusun berdasarkan program semester sebagai berikut. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A Table diatas menunjukkan bahwa pembelajaran pengenalan ibadah pada kegiatan praktek shalat berjamaah di kelompok mangga TPA Darun Najah Megawon mencapai 73%, sehingga dapat dikatakan berhasil. Hal tersebut merupakan buah dari upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pendidik dan didukung oleh sarana dan prasarana di TPA Darun Najah Megawon. Pendidik telah menyadari pentingnya mengenalkan ibadah kepada peserta didik, dimana pada masa ini perkembangan berbagai aspek terjadi dengan pesatnya. Tentunya sebagai seorang pendidik tidak boleh melewatkan kesempatan ini untuk mengoptimalkan potensi peserta didiknya dengan upaya-upaya yang maksimal, terutama dalam menanamkan pembiasaan nilai agama dan moral. Mengingat agama merupakan kebutuhan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, karena dengan berpegangan pada ajaran agama, maka manusia akan selamat baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Dalam pengenalan gerakan dan bacaan shalat, upaya yang dilakukan oleh pendidik TPA Darun Najah Megawon adalah sebagai berikut : Mengajarkan gerakan dan bacaan shalat dengan benar Memerintahkan peserta didik agar melaksanakan dengan baik dan benar Menunjukkan tujuan shalat Menasehati agar rajin mengerjakan shalat41 Member pemahaman tentang perintah shalat melalui bersyair Memanfaatkan fasilitas yang tersedia . empat ibadah Menggunakan metode demonstrasi yang diulang-ulang Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan melalui bernyanyi dan bersyair Memberi reward berupa sticker prestasi Peneliti melakukan diskusi dengan pendidik kelompok mangga TPA Darun Najah Megawon untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat yang dijumpai dalam kegiatan pengenalan gerakan dan bacaan shalat. Adapun beberapa indikator yang belum dicapai oleh sebagian peserta didik yaitu mengikuti bacaan shalat, dikarenakan kemampuan bahasa peserta didik tersebut belum sesuai dengan tahap perkembangannya yaitu pengucapan yang belum jelas dan daya hafal yang rendah mengingat terdapat beberapa bacaan shalat yang cukup panjang bagi anak. Sedangkan faktor yang mendukung pelaksanaan kegiatan praktek ibadah shalat berjamaah yaitu pengetahuan pendidik mengenai perkembangan anak usia dini, kesadaran pendidik untuk menanamkan ajaran agama Islam sejak usia dini, inisiatif dan kreatifitas pendidik dalam menentukan metode dan media pembelajaran, serta penggunaan fasilitas ibadah yang memadai. Mengetahui pelaksanaan meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat melalui metode demonstrasi pada anak usia 5-6 tahun di TPA Darun Najah Megawon kelompok IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina Mangga peneliti mengadakan observasi dan wawancara di kelompok Mangga. Adapun hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan yaitu ada beberapa langkah untuk meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat melalui metode demonstrasi yang dilaksanakan pendidik antara lain: Persiapan Pembelajaran Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi di TPA Darun Najah Megawon Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan bahwa persiapan yang pendidik lakukan yaitu satu hari sebelum kegiatan bersama peserta didik. Persiapan pembelajaran yang dilakukan pendidik menentukan tema dan subtema. Berdasarkan tema tersebut pendidik memilih kegiatan yang akan dilakukan bersama peserta didik disesuaikan dengan aspek perkembangan dan minat anak. Pendidik memulai pembelajaran dengan menyiapkan terlebih dahulu posisi anak agar siap mengikuti pembelajaran. Menyediakan Alat Dan Bahan Yang akan Digunakan Untuk Melakukan Kegiatan Pembelajaran Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi di TPA Darun Najah Megawon Dalam kegiatan pembelajaran pendidik berperan sebagai fasilitator yang harus menyediakan alat dan bahan untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran hari itu yang berorientasi pada minat anak dan kemampuan yang menantang anak untuk mencurahkan kemampuan dan keterampilan serta kreativitas. Alat dan bahan yang digunakan harus diperhatikan keamanannya, jangan sampai alat dan bahan yang digunakan mengandung unsur yang berbahaya untuk peserta didik. Pendidik selalu menciptakan suasana yang menyenangkan serta nyaman untuk peserta didik, menyediakan kebututuhan peserta didik dalam kegiatan yaitu : meniru gerakan shalat. Pendidik menyediakan alat dan bahan seperti : tempat wudlu, tempat untuk shalat berjamaah, sajadah dan mukena. Setelah itu pendidik menjelaskan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan, kemudian pendidik menjelaskan manfaat alat dan bahan yang akan digunakan dalam kegiatan. Pendidik membimbing peserta didik ketika kegiatan berlangsung. Mendampingi peserta didik ketika kegiatan belangsung seperti kegiatan meniru gerakan shalat. Pendidik membantu peserta didik jika mengalami kesulitan. Memberikan Pengarahan Tahapan-tahapan Dalam Proses Kegiatan Pembelajaran Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi di TPA Darun Najah Megawon Setelah menetentukan kegiatan serta menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan lalu pendidik memberikan pengarahan mengenai tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam kegiatan meniru gerakan shalat. Dalam menjelaskan kegiatan pembelajaran pendidik menjelaskan kegiatan dari awal sampai akhir. Dalam tahap ini pendidik menjelaskan bagaimana gerakan-gerakan shalat. Pada proses kegiatan yang pertama pendidik lakukan yaitu menyediakan peralatan yang digunakan dalam kegiatan meniru gerakan shalat menggunakan metode demonstrasi seperti menyiapkan tempat wudlu, tempat shalat berjamaah, sajadah dan mukena. Pada tahap selanjutnya sebelum peserta didik melakukan kegiatan yang akan dilakukan pendidik mencontohkan lebih dulu kepada peserta didik bagaimana caranya melakukan kegiatan tersebut. Setelah peserta didik mengerti kegiatan yang telah di jelaskan oleh pendidik selanjutnya pendidik mengarahkan peserta didik untuk melakukan kegiatan meniru gerakan shalat. Dan pendidik dapat mengamati perkembangan anak. Hasil observasi yang dilakukan di TPA Darun Najah Megawon, yaitu pendidik sebagai fasilitator serta menciptkan suasana yang menyenangkan bagi peserta didik. Pendidik menangani segala kekurangan dan kelebihan peserta didik serta pendidik mengajarkan kepada peserta didik gerakan gerakan shalat. Senada dengan wawancara E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A peneliti dengan salah satu pendidik yang dilakukan di TPA Darun Najah Megawon dapat diketahui bahwa pendidik telah mengenalkan gerakan-gerakan shalat pada peserta didik yang dapat meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat. Mengamati Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Meningkatkan Kemampuan Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi di TPA Darun Najah Megawon Setelah memberikan pengarahan mengenai tahapan-tahapan dalam proses kegiatan meniru gerakan shalat melalui metode demonstrasi pendidik mengamati kegiatan untuk meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat pada peserta didik. Pendidik mengamati proses kegiatan yang peserta didik lakukan dalam kegiatan meniru gerakan shalat. Sehingga pendidik dapat melihat apakah kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik dapat berkembang sesuai dengan tingkat pencapaian perkembangan, belum berkembang, mulai berkembang, berkembang sangat baik, berkembang sesuai dengan harapan. Senada dengan hasil wawancara peneliti terhadap pendidik di TPA Darun Najah Megawon dapat diketahui bahwa pendidik telah mengamati proses kegiatan meniru gerakan shalat menggunakan metode demonstrasi untuk meningkatkan kemampuan meniru gerakan Pendidik mengawasi pelaksanaan kegiatan yang bertujun agar peserta didik mampu menyelesaikan kegiatan serta pendidik dapat menilai masing-masing peserta didik dalam melaksanakan kegiatan. Hasil observasi peneliti di TPA Darun Najah Megawon dengan salah satu pendidik dapat diketahui bahwasanya pendidik mengamatai proses kegiatan yang dilakukan peserta didik yaitu meniru gerakan shalat. Pendidik mengamati kegiatan tersebut yang berguna untuk mengetahui kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik, apakah peserta didik mampu menyelesaikan tugas yang di berikan oleh pendidik atau tidak menyelesaikan tugas yang di berikan oleh pendidik. Serta pendidik dapat menilai peserta didik sesuai dengan kemampuan masing-masing. Evaluasi Pembelajaran Dalam Kegiatan Meningkatkan Kemampuan Meniru Gerakan Shalat Melalui Metode Demonstrasi di TPA Darun Najah Megawon Pada langkah terakhir dalam penggunaan metode demonstrasi untuk meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik yaitu pendidik menetapkan evaluasi kepada peserta didik setelah kegiatan berakhir. Senada dengan hasil observasi penelitian dalam menetapkan evaluasi pendidik menggunakan lembar observasi penilaian terhadap indikator perkembangan kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik. Hal tersebut dilakukan sesuai dengan tema dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Lembar observasi penilaian berisikan indikator-indikator yang sesuai dengan tahapan perkembangan kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik. Dalam lembar ceklis tersebut berisi keterangan belum berkembang (BB), mulai berkembang (MB), berkembang sesuai harapan (BSH), berkembang sangat baik (BSB). Hal tersebut didukung dengan hasil wawancara dengan salah satu pendidik di TPA Darun Najah Megawon yang mengatakan bahwa pendidik dalam melakukan penilaian hasil kegiatan meniru gerakan shalat dengan menggunakan metode demonstrasi, pendidik melakukan pengamatan terlebih dahulu dalam perkembangan kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik. Selanjutnya pendidik mengisi lembar ceklis yang telah dibuat sebelumnya. Seperti yang dijelaskan oleh Tekin. Ali Kamal, bahwa guru dalam membimbing anak usia dini harus memberikan perhatian khusus serta motivasi kepada anak seperti motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik sehingga memotivasi anak untuk masa depannya. Dan dalam penerapan pembelajaran dengan metode demonstrasi peneliti melihat peserta didik sangat antusias dalam pembelajaran ini tapi masih ada yang kurang fokus untuk memperhatikan pendidik. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina Sesuai dengan teori dan kisi-kisi observasi pada penelitian ini adapun hasil yang dapat dilihat pada tabel berikut: E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A Berdasarkan hasil observasi, peneliti melihat bahwa kemampuan meniru gerakan shalat peserta didik meningkat ketahap berkembangan sesuai harapan dengan jumlah mulai berkembang 4 peserta didik, berkembang sesuai harapan terdapat 8 peserta didik dan berkembang sangat baik terdapat 3 orang peserta didik. Dapat diperjelas dari diagram batang di bawah ini: IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina Berdasarkan analisis data yang bersifat deskriptif maka bagian ini akan peneliti uraikan hasil observasi dan wawancara dengan pendidik dalam upaya meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat melalui metode demonstrasi di TPA Darun Najah Megawon, bahwa pendidik: Menentukan tema yang akan digunakan dalam pembelajaran. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan dalam kegiatan . Memberikan contoh dalam mengerjakan kegiatan . Membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan. Pendidik dalam proses meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat telah melaksanakan beberapa tahap diantaranya menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan sesuai tema yang akan digunakan untuk melaksanakan kegiatan. Sejalan dengan pendapat Dadan Suryana yang berpendapat bahwa menyiapkan tema terlebih dahulu sebelum melakukan proses kegiatan akan memudahkan dalam membangun konsep tentang benda atau pristiwa yang ada dilingkungannya. 7 Pendidik bukan hanya mempersiapkan alat atau bahan yang menarik namun pendidik juga harus melakukan penilaian hasil dari pelaksanaan kegiatan karena ada beberapa peserta didik yang mau memperhatikan pendidik dalam mengenalkan gerakan-gerakan shalat. Namun ada sebagian peserta didik yang tidak memperhatikan pendidik tidak dapat meniru gerakan shalat dengan baik karna dipengaruhi dengan belum matangnya pemprosesan informasi peserta didik dalam menerima rangsangan dari pendidik. Salah satunya karena faktor lupa. Menurut C Asri budiningtyas lupa di sebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali informasi yang sudah masuk. 8 Dalam proses memperoleh informasi pada peserta didik hal ini mudah saja terjadi karena berkaitan dengan fokus perhatian peserta didik yang tidak lama, pada kemampuan peserta didik yang belum dapat meniru gerakan shalat dengan baik beberapa peserta didik lupa karena fokus perhatian peserta didik tiba- tiba berubah memperhatikan temannya yang mengajak berbincang saat pendidik mengenalkan gerakan-gerakan shalat, ada yang tiba-tiba terlihat melamun dan yang tiba-tiba menangis karena tidak mau ditinggal oleh orang tuanya. Sehingga saat pendidik bertanya kepada peserta didik, beberapa peserta didik belum dapat menjawab pertanyaan yang dimaksud pendidik, misalkan peserta didik sudah dapat meniru 3 gerakan shalat namun gerakan yang lain masih belum mampu menirukannya. Namun beberapa peserta didik ada yang sudah mampu menirukan gerakan shalat. Terlihat pada peserta dalam kategori belum dapat dan tidak dapat saat peserta didik diminta menirukan gerakan shalat oleh pendidik, anak terlihat berfikir pada saat akan menirukan gerakan shalat sehingga harus dibantu pendidik. Hal tersebut terkait dengan ikatan peserta didik seperti yang dipaparkan E. Papalia bahwa informasi yang sedang dikodekan atau diambil kembali disimpan diingatan kerja yaitu tempat menyimpan jangka pendek untuk informasi yang akan digunakan anak seperti berusaha dan mengingat-ingat memikirkan sesuatu. Sebagaimana pula terjadi pada anak dalam kriteria kurang baik, saat anak menjawab atau melakukan perintah guru anak masih tebata-bata dan kelihatan berfikir dulu sebelum menunjuk, menyebut dan mengelompokan warna sesuai yang diminta guru. Dadan Suryana. Pendidikan Anak Usia dini Dan Aspek Perkembangan (Jakarta : Kencan, 2. , hlm. C Asri Budiningsih. Belajar Dan Pembelajaran. ( Yogyakarta : Rineka Cipta, 2. , hlm. Papilia. Human Devlovment . (Jakarta : Selemba Humanika,2. , hlm. E-ISSN : 2797-9172 P-ISSN : 2655-6952 Journal IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Volume 5. No. April 2022, pp. Kemampuan Meniru Gerakan Shalat A Kemampuan anak dalam meniru gerakan shalat dipengaruhi fokus penglihatan anak saat mengikuti kegiatan meniru gerakan shalat. Salah satunya adalah peran pendidik dalam mengenalkan gerakan-gerakan shalat pada peserta didik. Seperti pendapat Harun Rasyid dkk bahwa konsentrasi penglihatan anak usia dini dalam melihat suatu objek diperlukan frekuensi yang berulang kali sensitifitas benda yang dilihat, intensifitas warna yang dilihat, efektivitas penglihatan anak, serta durasi atau lamanya waktu yang digunakan untuk melihat objek benda itu. 10 Oleh sebab itu peserta didik butuh waktu dan konsentrasi yang berulang kali dalam meniru gerakan shalat, harus memberikan stimulasi secara terus menerus agar peserta didik benar-benar mengenal gerakan-gerakan shalat. Hal ini terjadi pada saat proses pengenalan gerakan-gerakan shalat, beberapa pendidik yang belum menyadari pentingnya memberikan stimulasi secara terus menerus pada peserta didik, menyebabkan beberapa peserta didik kurang dalam menerima stimulasi sehingga kematangan berfikir . roses berfiki. peserta didik dalam menerima informasi kurang sehingga menyebabkan peserta didik belum dapat meniru gerakan shalat dengan Pendidik harus memberikan stimulasi pada peserta didik sesering mungkin agar kemampuan meniru gerakan shalat dapat tercapai. Dari kegiatan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat, pendidik melakukan pengamatan pada saat kegiatan berlangsung, langkah selanjutnya pendidik menetapkan evaluasi kepada peserta didik setelah kegiatan berakhir, kegiatan ini bertujuan untuk mengingat kembali apa yang telah dilakukan selama pelaksanaan kegiatan berlangsung. Pendidik mengevaluasi proses kegiatan meniru gerakan shalat untuk meningkatkan kemampuan peserta didik, dari kegiatan tersebut peserta didik dapat memahami yang diperintah oleh pendidik, peserta didik dapat menyelesaikan apa yang sudah dijelaskan, sehingga pendidik dapat menilai peserta didik tersebut sesuai dengan tahap perkembangannya apakah kemampuan meniru gerakan shalat belum berkembang, mulai berkembang, berkembang sesuai harapan, berkembang sangat baik. Menurut Polina resty mengatakan bahwa guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan kesempatan untuk anak untuk mengungkapkan Keberhasilan seorang anak bergantung pada kesiapan seorang guru. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara peneliti menyimpulkan bahwa pendidik di TPA Darun Najah Megawon kelompik Mangga telah meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat melalui metode demonstrasi. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, penulis dapat menarik kesimpulan bahwasanya Upaya yang dilakukan di TPA Darun Najah Megawon dalam meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat dengan metode demonstrasi adalah memberi contoh setiap gerakan shalat, melafadzkan satu per satu bacaan shalat yang baik dan benar, melakukan pengulangan didalam pembelajaran ibadah shalat, melakukan evaluasi yang berguna untuk mengetahui sejauh mana perkembangan peserta didik. Upaya yang dilakukan oleh pendidik telah berhasil meningkatkan kemampuan meniru gerakan shalat, perkembangan kemampuan peserta didik meningkat ketahap berkembangan sesuai harapan sebanyak 73%. Peserta didik sudah mencapai indikatorindikator yang terdapat dalam rencana kegiatan yang telah disusun meskipun dalam pelaksanaannya ada beberapa faktor yang menjadi penghambat untuk mencapai indikator Harun Rasyid dkk. Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini, (Yogyakarta: Multi Pressindo, 2. , hlm. IKLILA: Jurnal Studi Islam dan Sosial Helina Himmatul Ulya Lina tersebut diantaranya peserta didik kurang fokus memperhatikan saat pendidik memberikan Daftar Pustaka