Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2025 pp. P-ISSN 2301-6671 E-ISSN: 2580-6416 Open Access: https://ejournal. uncm/index. php/gm MENINGKATKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA MELALUI PENGGUNAAN MEDIA KONKRET PADA MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN SOSIAL Maya Anggraini1. Sri Mulyani2. Deistamalina Musa3 1Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 2 Pendidikan Profesi Guru. FKIP. Universitas Tadulako. Indonesia 3 UPT SPF SDN 1 Tatura Palu. Indonesia * Corresponding Author: mayaanggrainii256@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar peserta didik kelas V SDN 1 Tatura Palu melalui penggunaan media konkret pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) dengan materi gaya magnet. Penelitian dilakukan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang terdiri dari dua siklus. Data dikumpulkan melalui observasi, tes, dan wawancara, kemudian dianalisis secara deskriptif untuk mengukur peningkatan keaktifan belajar siswa. Penelitian ini melibatkan 20 siswa kelas V sebagai subjek. Pengumpulan data dilakukan dengan menganalisis data kualitatif dan kuantitatif dari lembar observasi, tes keaktifan belajar, dan wawancara selama proses Indikator keberhasilan yang ditetapkan dengan target ketuntasan keaktifan belajar sebesar 80 persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media konkret secara signifikan meningkatkan keaktifan belajar siswa. Pada tahap prasiklus, keaktifan belajar siswa hanya mencapai 52 persen. Setelah penggunaan media konkret, keaktifan belajar meningkat menjadi 70 persen pada Siklus I dan mencapai 89 persen pada Siklus II. Penelitian ini membuktikan bahwa media konkret mampu mendorong keaktifan belajar siswa secara konsisten, terutama dalam aspek partisipasi aktif, interaksi siswa, keterlibatan dalam diskusi, dan kemampuan menyelesaikan tugas. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan media konkret pada pembelajaran IPAS dengan materi gaya magnet efektif dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas V SDN 1 Tatura Palu. Kata Kunci : Keaktifan Belajar. Gaya Magnet. Pembelajaran. Abstract This study aims to improve the learning activity of fifth grade students of SDN 1 Tatura Palu through the use of concrete media in learning Natural and Social Sciences (IPAS) with magnetic force material. The study was conducted using the Classroom Action Research (CAR) method consisting of two cycles. Data were collected through observation, tests, and interviews, then analyzed descriptively to measure the increase in student learning activity. This study involved 20 fifth grade students as subjects. Data collection was carried out by analyzing qualitative and quantitative data from observation sheets, learning activity tests, and interviews during the learning The success indicators were set with a target of learning activity completion of 80 percent. The results showed that the use of concrete media significantly increased student learning activity. At the pre-cycle stage, student learning activity only reached 52 percent. After the use of concrete media, learning activity increased to 70 percent in Cycle I and reached 89 percent in Cycle II. This study proves that concrete media is able to encourage student learning activity consistently, especially in aspects of active participation, student interaction, involvement in discussions, and the ability to complete tasks. These results indicate that the use of concrete media in science learning with magnetic force material is effective in increasing the learning activity of fifth grade students at SDN 1 Tatura Palu. Keywords : Learning Actively. Magnetic Force. Learning Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar PENDAHULUAN Keaktifan belajar merupakan salah satu aspek penting dalam mencapai hasil belajar yang optimal, terutama dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS). Keaktifan siswa mencerminkan partisipasi mereka dalam proses pembelajaran, termasuk bertanya, berdiskusi, dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan pembelajaran. Menurut Hutagaol, . , siswa yang aktif dalam pembelajaran cenderung memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap materi pelajaran karena mereka terlibat langsung dalam proses belajar dan mampu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengalaman mereka. Namun, tingkat keaktifan belajar siswa pada materi gaya magnet di kelas V SDN 1 Tatura Palu masih tergolong rendah. Berdasarkan observasi awal, sebagian besar siswa hanya menjadi pendengar pasif selama proses pembelajaran. Hal ini terlihat dari rendahnya partisipasi siswa dalam kegiatan diskusi, rendahnya keberanian siswa untuk bertanya, dan minimnya interaksi siswa dengan guru maupun teman sebaya. Kondisi ini menyebabkan hasil belajar siswa belum mencapai standar yang diharapkan. Menurut Sihwinedar, . , salah satu penyebab rendahnya keaktifan siswa adalah metode pembelajaran yang kurang melibatkan siswa secara langsung, sehingga pembelajaran menjadi monoton dan kurang menarik. Materi gaya magnet merupakan salah satu materi penting dalam IPAS yang membahas interaksi antara benda-benda yang memiliki sifat magnetik. Materi ini membutuhkan pemahaman konkret agar siswa dapat menerapkan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Namun, gaya pembelajaran magnet sering kali disampaikan secara verbal melalui metode ceramah atau menggunakan media visual sederhana seperti gambar di buku teks. Menurut Hernawan, . , metode pembelajaran yang bersifat abstrak cenderung menyulitkan siswa, terutama pada usia sekolah dasar yang lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman langsung. Penggunaan media Konkret dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keaktifan belajar Media konkret, seperti alat peraga magnet, memungkinkan siswa untuk melakukan eksplorasi langsung, sehingga mereka dapat memahami sifat dan interaksi magnet secara nyata. Menurut Anggraini, . Media konkret adalah alat atau benda nyata yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada siswa. Media konkret dapat dilihat, diraba, dipegang, dan digunakan oleh siswa. Media konkret dapat digunakan untuk membantu siswa memahami konsep abstrak, sehingga dapat meningkatkan pemahaman dan minat belajar siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Ardi, . menunjukkan bahwa penggunaan media konkret dalam pembelajaran mampu meningkatkan keaktifan siswa hingga 30% dibandingkan dengan metode konvensional. Selain itu, media beton juga dapat memfasilitasi siswa dalam memahami konsep abstrak menjadi lebih mudah dicerna. Penelitian-penelitian sebelumnya telah membuktikan efektivitas media konkret dalam meningkatkan partisipasi siswa. Misalnya, penelitian oleh Hidayati, . di SDN 4 Karanganyar menemukan bahwa penggunaan alat peraga fisik pada materi listrik statistik dapat meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat dalam diskusi kelas. Selain itu, penelitian Fitria, . menunjukkan bahwa media konkret dapat mendorong siswa untuk lebih berani tampil di depan kelas karena mereka memiliki pengalaman langsung yang mendukung argumen mereka. Meskipun demikian, penelitian tentang penerapan media konkret dalam gaya pembelajaran magnet khususnya di kelas V SD masih terbatas. Penelitian-penelitian sebelumnya umumnya fokus pada aspek pemahaman konsep, namun belum banyak yang menyoroti keaktifan belajar sebagai indikator keberhasilan pembelajaran. Hal ini menimbulkan ketidakseimbangan penelitian, yaitu perlunya kajian mendalam mengenai bagaimana P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar penggunaan media beton dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada materi gaya Untuk itu, penelitian ini berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan fokus pada peningkatan keaktifan belajar siswa kelas V SDN 1 Tatura Palu melalui penggunaan media konkret dalam pembelajaran gaya magnet. Media beton yang digunakan akan dirancang untuk memfasilitasi siswa agar lebih aktif dalam belajar, seperti melalui eksperimen sederhana dan kegiatan kelompok. Dengan pendekatan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep gaya magnet tetapi juga lebih terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa melalui penggunaan media konkret pada mata pelajaran IPAS, khususnya pada materi gaya magnet. Dengan menggunakan media konkret, siswa diharapkan dapat lebih aktif dalam bertanya, berdiskusi, menyelesaikan masalah, dan melakukan presentasi hasil belajar mereka. Pada akhirnya, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPAS di tingkat sekolah dasar, khususnya dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa pada materi yang bersifat abstrak. Berdasarkan latar belakang ini, penelitian ini memiliki pertanyaan utama: AuBagaimana penggunaan media konkret dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa pada materi gaya magnet di kelas V SDN 1 Tatura Palu?Ay Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi praktis bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik, sehingga siswa dapat belajar dengan lebih aktif dan bermakna. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Menurut Kemmis dan McTaggart . PTK merupakan sebuah proses penelitian yang dilakukan oleh pendidik secara sistematis untuk mengatasi masalah praktis yang dihadapi di kelas dan untuk meningkatkan kualitas praktik pembelajaran mereka melalui perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi dalam siklus yang berulang (Hanifah, 2. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keaktifan siswa dengan menerapkan media konkret. PTK dipilih karena pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi masalah pembelajaran di kelas, menerapkan tindakan perbaikan secara langsung, dan terus memantau dampaknya. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari empat tahap: . Perencanaan, . Pelaksanaan, . P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar Observasi, dan . Refleksi. Desain ini diadopsi untuk memungkinkan evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam penggunaan media Konkret dalam pembelajaran IPAS. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Subjek penelitian ini adalah 26 siswa kelas kelas V di SDN 1 Tatura Palu. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik ini digunakan untuk mengamati perilaku dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Data yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menggambarkan respons siswa terhadap media konkret secara mendalam, sementara analisis kuantitatif digunakan untuk mengukur peningkatan keaktifan belajar siswa dari prasiklus hingga Siklus II. Data kuantitatif ini dihitung dalam bentuk persentase dan kategori untuk menunjukkan tingkat pencapaian keaktifan belajar Indikator keberhasilan dalam penelitian ini adalah tercapainya ketuntasan 80% dari siswa yang menunjukkan keakt belajar yang tinggi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian tindakan kelas mengenai penggunaan media konkrit diorama pada pembelajaran IPAS materi Gaya Magnet kelas V di SDN 1 Tatura Palu diawali dengan tahap pra-siklus atau tahap penilaian sebelum dilakukannya tindakan menggunakan media konkrit diorama. Hasil penilaian pada tahap prasiklus disajikan sebagai berikut: Prasiklus Pada prasiklus peneliti melakukan pre tes untuk melihat kemampuan awal siswa sebelum diterapkan media konkrit pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) materi Gaya Magnet kelas V di SDN 1 Tatura Palu. Hal ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan kerja sama siswa. Terdapat lima indikator yang dinilai dalam sikap kerja sama, yaitu: . Turut serta dalam tugas belajar, . Berpartisipasi dalam pemecahan masalah, . Berani Bertanya . engemukakan pendapa. , dan . Berani tampil di depan kelas Tabel berikut memberikan gambaran hasil mengenai tingkat keaktifan siswa pada kelas V SDN 1 Tatura Palu sebelum diterapkannya media konkrit. Adapun Nilai rata-rata kemampuan keaktifan siswa pada tahap pratindakan untuk setiap indikator dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Hasil Keaktifan Siswa Praksiklus Indikator Penilaian Nilai Rata-Rata Turut serta dalam tugas belajar Berpartisipasi dalam pemecahan masalah Berani Bertanya . engemukakan pendapa. P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar Berani tampil di depan kelas Jumlah Tabel 1 menampilkan hasil penelitian pratindakan mengenai keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika berdasarkan empat indikator keaktifan siswa. Berikut adalah penjelasan dari setiap indikator serta nilai rata-rata keseluruhan: Indikator Auturut serta dalam tugas belajarAy menunjukkan sebanyak 55% siswa berpartisipasi dalam tugas-tugas belajar. Ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh siswa terlibat aktif dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan, meskipun masih ada ruang untuk peningkatan partisipasi. Indikator Auberpartisipasi dalam pemecahan masalahAy menunjukkan bahwa 65% siswa berpartisipasi dalam pemecahan masalah, angka yang cukup tinggi dibandingkan indikator lainnya. Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar siswa memiliki kecenderungan untuk terlibat aktif dalam kegiatan pemecahan masalah yang mungkin dianggap menantang dan menarik. Pada indikator Auberani bertanya . engemukakan pendapa. Ay hanya 40% siswa yang berani bertanya atau mengemukakan pendapat. Angka ini merupakan yang terendah di antara semua indikator, menunjukkan bahwa keberanian siswa dalam mengungkapkan pemikiran mereka di kelas masih perlu ditingkatkan. Indikator Auberani tampil di depan kelasAy menunjukkan setengah dari siswa 50% berani tampil di depan kelas, menunjukkan bahwa ada proporsi yang seimbang antara siswa yang merasa percaya diri untuk tampil dan yang mungkin masih merasa kurang nyaman. Adapun nilai rata-rata keaktifan siswa dari keempat indikator adalah 52%. Ini mengindikasikan bahwa secara umum, tingkat keaktifan siswa berada pada tingkat yang rendah pada mata pelajaran IPAS materi Gaya Magnet. Meskipun ada kecenderungan yang positif dalam hal partisipasi dalam pemecahan masalah, aspek lain seperti keberanian bertanya dan keterlibatan penuh dalam tugas belajar masih memerlukan perhatian lebih. Hasil ini menunjukkan bahwa perlu adanya Tindakan yang dapat meningkatkan keaktifan Hal ini dilakukan agar siswa lebih interaktif dan mendukung siswa untuk lebih berani berpartisipasi aktif di kelas, seperti melalui kegiatan yang mendorong mereka untuk bertanya dan tampil di depan kelas. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan keaktifan belajar siswa peneliti melakukan tindakan dengan menerapkan media Konkret pada pembelajaran IPAS pada materi gaya Magnet. Berdasarkan hasil pada tahap pratindakan ini, terlihat bahwa tingkat keaktifan siswa masih rendah. Adanya media Konkret pada siklus berikutnya diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa, khususnya dalam kemampuan berbicara di depan kelas, memberikan contoh yang benar, dan menerapkan konsep dalam pemecahan masalah di depan kelas, mengemukakan pendapat dan bertanya. Hal ini sekaligus menggarisbawahi pentingnya penggunaan media yang interaktif dan konkret untuk meningkatkan kualitas pembelajaran konsep-konsep abstrak seperti gaya dan magnet. Siklus I Pada tahap perencanaan, sebelum menyusun perangkat pembelajaran, peneliti melakukan asesmen awal untuk mengetahui dan memahami kebutuhan serta karakteristik peserta didik. Peneliti menggunakan berbagai teknik asesmen, seperti wawancara, observasi, dan angket, untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial, khususnya materi gaya magnet. Data-data hasil asesmen ini menjadi dasar untuk merancang pembelajaran yang relevan dan efektif. Selanjutnya, peneliti menetapkan tujuan pembelajaran yang spesifik dan terukur, yaitu meningkatkan keaktifan belajar siswa melalui penggunaan media konkret. Media yang dipilih dirancang untuk mendukung pemahaman siswa terhadap konsep gaya magnet, seperti magnet batang, magnet lingkaran, serta benda-benda sehari-hari yang bersifat P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar Media ini diharapkan dapat memicu keterlibatan aktif siswa dalam Selain itu, peneliti menyediakan lembar observasi, lembar kerja peserta didik (LKPD), dan instrumen penilaian yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran dilaksanakan dalam dua pertemuan. Selama pembelajaran, siswa diajak untuk melakukan berbagai kegiatan praktikum menggunakan media konkret, seperti menguji daya tarik magnet pada benda tertentu dan membuat kompas sederhana. Media ini bertujuan untuk menarik minat siswa sekaligus meningkatkan partisipasi mereka dalam proses belajar. Siklus I merupakan Tindakan penelitian setelah melakukan Pada siklus I ini peneliti menerapkan media konkrit dalam pembelajaran IPAS siswa kelas V di SDN 1 Tatura. Adapun hasil siklus I dapat dilihat pada tabel 2 berikut: Tabel 2. Hasil Keaktifan Siswa Siklus I Indikator Penilaian Nilai Rata-Rata Turut serta dalam tugas belajar Berpartisipasi dalam pemecahan masalah Berani Bertanya . engemukakan pendapa. Berani tampil di depan kelas Jumlah Hasil Tabel 3 menunjukkan hasil penelitian mengenai keaktifan siswa setelah penerapan media konkret pada pembelajaran IPAS materi gaya dan magnet untuk siswa kelas V di SDN 1 Tatura. Berikut adalah penjelasan dari setiap indikator keaktifan siswa beserta nilai rata-rata keseluruhan: Pada indikator AuTurut Serta dalam Tugas BelajarAy memperoleh presentase 80%, ini menunjukkan bahwa media konkret seperti magnet, magnet batang lingkaran, dan benda sehari-hari yang bersifat magnetis digunakan untuk melibatkan siswa dalam tugas-tugas Selama kegiatan, siswa diajak untuk menguji gaya tarik magnet pada berbagai benda dan membuat kompas sederhana. Penggunaan LKPD yang dirancang untuk aktivitas praktikum juga membantu siswa mengikuti proses pembelajaran secara Temuan di atas juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa terlihat antusias dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan praktikum. Mereka mengikuti instruksi guru dengan baik, menyelesaikan tugas di LKPD, serta bekerja sama dalam kelompok. Media konkret memberikan pengalaman langsung yang menarik, sehingga mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam tugas belajar. Menurut Pratiwi, . , media konkret dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam tugas pembelajaran, terutama dalam materi yang memerlukan pemahaman konsep abstrak seperti gaya magnet. Teori Bruner . menegaskan bahwa pembelajaran melalui manipulasi langsung . membantu siswa memahami konsep secara lebih mendalam. Hal ini sejalan dengan hasil di kelas, di mana siswa lebih mudah memahami konsep gaya magnet melalui pengalaman praktis (Rusmiati. Pada indikator AuBerpartisipasi dalam Pemecahan MasalahAy memperoleh presentase Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa aktif terlibat dalam diskusi dan kolaborasi untuk memecahkan masalah. Mereka terlihat percaya diri dalam menyampaikan ide-ide mereka di dalam kelompok. Media konkret berperan penting dalam menghubungkan teori dengan praktik, sehingga memudahkan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas berdasarkan masalah. Temuan di atas sejalan dengan penelitian oleh Setiawan dkk. yang menemukan bahwa penggunaan media konkret meningkatkan partisipasi siswa dalam pemecahan masalah hingga 88%. Pembelajaran berbasis eksperimen memotivasi siswa untuk berpikir kritis dan analitis. Selain itu. Teori Vygotsky . menyatakan bahwa pembelajaran yang melibatkan interaksi sosial, seperti P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar diskusi kelompok, mendorong perkembangan kognitif siswa. Dalam hal ini, media konkret menjadi alat bantu yang efektif untuk memfasilitasi interaksi tersebut. Pada indikator AuBerani Bertanya (Mengemukakan Pendapa. Ay memperoleh presentase 50%. Pada penerapannya guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya dan menyampaikan pendapat setelah setiap aktivitas praktikum. Siswa terdorong untuk mengajukan pertanyaan yang relevan dengan hasil eksperimen yang telah Adapun hasil penerapan media konkret, hanya setengah dari siswa yang berani bertanya atau menyampaikan pendapatnya di kelas. Sebagian siswa masih merasa ragu atau kurang percaya diri untuk berbicara di depan teman-temannya. Media secara konkret menarik perhatian mereka, tetapi belum cukup untuk mendorong semua siswa mengemukakan pendapatnya. Hal ini sejalan dengan penelitian Hidayat yang menunjukkan bahwa keberanian siswa untuk bertanya meningkat ketika pembelajaran didukung oleh media konkret. Namun, diperlukan strategi tambahan, seperti pemberian penghargaan atau bimbingan pribadi, untuk mendorong partisipasi lebih aktif. Teori Bandura tentang efikasi diri menyatakan bahwa rasa percaya diri berperan penting dalam keberanian siswa untuk bertanya atau menyampaikan pendapat (Ananda, 2. Guru perlu menciptakan lingkungan yang mendukung agar siswa merasa nyaman berbicara di Pada indikator AuBerani Tampil di Depan KelasAy memperoleh 60%. Hal ini menunjukkan bahwa sekitar 60% siswa bersedia tampil di depan kelas untuk memahami hasil kerja kelompok. Namun, masih ada siswa yang merasa kurang percaya diri. Media konkret membantu siswa memahami materi dengan baik, namun belum sepenuhnya meningkatkan keberanian mereka untuk berbicara di depan kelas. Hal ini sejalan dengan Wijayanti . menyebutkan bahwa penggunaan media konkret dapat meningkatkan keberanian siswa tampil di depan kelas, terutama ketika didukung oleh suasana kelas yang Menurut teori kecerdasan majemuk Gardner . , kecerdasan interpersonal, seperti keberanian berbicara di depan umum, dapat dikembangkan melalui pengalaman praktis dan interaksi sosial. Kegiatan presentasi membantu siswa melatih keterampilan ini. Secara keseluruhan, hasil siklus I menunjukkan bahwa penggunaan media konkret berhasil meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam pembelajaran IPAS materi gaya magnet di SDN 1 Tatura Palu, dengan rata-rata nilai indikator sebesar 70%. Indikator terbaik adalah penyelesaian dalam pemecahan masalah . %), menunjukkan keefektifan media konkret dalam melatih keterampilan berpikir kritis siswa. Indikator terendah adalah berani bertanya . %), menunjukkan bahwa keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat masih perlu ditingkatkan. Keberhasilan pembelajaran ini didukung oleh teori Vygotsky yang menekankan pentingnya pengalaman langsung, interaksi sosial, dan rasa percaya diri dalam pembelajaran (Handayani, 2. Untuk siklus berikutnya, diperlukan strategi tambahan, seperti pemberian penghargaan dan bimbingan pribadi, untuk meningkatkan keberanian siswa bertanya dan tampil di depan kelas. Hasil ini menunjukkan bahwa penerapan media Konkret pada pembelajaran IPAS materi gaya magnet cukup efektif dalam meningkatkan keaktifan siswa. Meskipun demikian, masih ada beberapa aspek seperti keberanian siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat yang perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil penelitian di atas tata-rata keaktifan siswa dari keempat indikator adalah 70%. Ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan belum mencapai Kriteria Ketuntasan Maksimal yaitu 80%. Oleh sebab P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar itu, peneliti akan melanjutkan ke siklus II dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan di siklus I . Mohon ditambahkan foto minimal 2 foto saat kegiatan siklus 1 Siklus II Pada tahap ini, peneliti melaksanakan prosedur yang sama seperti pada siklus sebelumnya, namun dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada di siklus Pada pelaksanaan siklus I, hasil belajar peserta didik belum mencapai standar ketuntasan, dengan persentase keberhasilan hanya sebesar 70%, yang masih di bawah 80%. Hal ini menunjukkan perlunya perubahan tindakan pada siklus II. Peneliti melakukan perubahan yang lebih inovatif dan menarik serta membantu dengan memberikan arahan secara komprehensif. Peneliti juga mempertimbangkan kemampuan belajar masingmasing siswa agar mereka dapat berpasrtisipasi aktif di dalam kelas. Adapun hasil observasi kemampuan keaktifan siswa pada Siklus II melalui penerapan media konkret dapat dilihat pada tabel 3 di bawah ini: Tabel 3. Hasil Keaktifan Siswa Siklus II Indikator Penilaian Nilai Rata-Rata Turut serta dalam tugas belajar Berpartisipasi dalam pemecahan masalah Berani Bertanya . engemukakan pendapa. Berani tampil di depan kelas Jumlah Pada Siklus II, peneliti menerapkan perbaikan dari kekurangan yang ditemukan pada Siklus I, seperti memberikan arahan yang lebih komprehensif, inovasi dalam penggunaan media konkret, serta pendekatan yang mempertimbangkan kemampuan individu siswa. Langkah-langkah ini dilakukan untuk mengoptimalkan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Media beton, seperti magnet batang, magnet lingkaran, dan benda sehari-hari yang bersifat magnetis, digunakan untuk membantu siswa memahami konsep gaya magnet secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keaktifan belajar siswa mengalami peningkatan yang signifikan pada semua indikator dengan nilai rata-rata keseluruhan 89% , melampaui standar ketuntasan sebesar 80%. Berikut adalah penjelasan dari setiap indikator beserta nilai rata-rata: Pada indikator AuTurut Serta dalam Tugas BelajarAy memperoleh nilai presentase 90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada Siklus II, siswa semakin aktif dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar yang diberikan. Dengan bimbingan yang lebih intensif dari guru, siswa mampu memanfaatkan media konkret secara efektif untuk mengerjakan tugas yang tercantum dalam LKPD, seperti menguji daya tarik magnet terhadap benda-benda tertentu dan membuat kompas sederhana. Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa sebagian besar siswa terlibat aktif dalam menyelesaikan tugas belajar. Arahan yang lebih jelas dan penggunaan media konkret yang relevan membuat siswa lebih memahami tugas mereka dan berpartisipasi penuh dalam proses pembelajaran. Penelitian oleh Kurniati, . menunjukkan bahwa penerapan media konkret dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam menyelesaikan tugas belajar hingga mencapai rata-rata 90%, terutama jika disertai dengan arahan guru yang mendetail. Menurut Bruner pengalaman belajar melalui manipulasi objek nyata memungkinkan siswa membangun pemahaman P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar konsep secara lebih konkret dan mendalam. Dalam konteks ini, penggunaan media konkret mempermudah siswa untuk terlibat langsung dalam tugas belajar (Taliak, 2. Pada indikator AuBerpartisipasi dalam Pemecahan MasalahAy memperoleh presentase Hal ini menunjukkan bahwa pada indikator ini, siswa diberi tugas untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan gaya magnet, seperti menentukan bendabenda yang bersifat magnetis dan membandingkan daya tarik magnet yang berbeda. Guru memfasilitasi diskusi kelompok kecil untuk mendukung kemampuan berpikir kritis siswa. Meskipun indikator ini menunjukkan nilai terendah dibandingkan indikator lainnya, ratarata keberhasilannya tetap tinggi . %). Beberapa siswa memerlukan lebih banyak waktu untuk memahami konsep gaya magnet, tetapi dengan bimbingan tambahan, mereka mampu menyelesaikan tugas dengan baik. Temuan di atas sejalan dengan hasil penelitian Islahiyah, . menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis masalah yang didukung oleh media konkret mampu meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa. Dalam pembelajaran ini, media konkret berfungsi sebagai alat bantu untuk memfasilitasi eksplorasi dan pemahaman siswa. Pada indikator AuBerani Bertanya (Mengemukakan Pendapa. Ay memperoleh presentase 90%. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran yang kondusif pada Siklus II membuat siswa merasa lebih percaya diri untuk bertanya dan menyampaikan pendapat mereka. Guru mendorong siswa untuk lebih aktif dengan memberikan penghargaan bagi yang bertanya atau berkontribusi dalam diskusi. Sebagian besar siswa tidak lagi ragu untuk mengemukakan pendapat atau meminta penjelasan saat menghadapi kesulitan. Pendekatan ini berhasil meningkatkan keberanian siswa untuk berbicara selama pembelajaran berlangsung. Penelitian oleh Muammar, . menunjukkan bahwa penggunaan media konkret dan lingkungan belajar yang mendukung dapat meningkatkan keberanian siswa bertanya. Menurut teori Bandura tentang efikasi diri, keberanian siswa untuk bertanya dipengaruhi oleh pengalaman sukses yang alami mereka sebelumnya. Media konkret memberikan pengalaman belajar yang langsung, sehingga siswa lebih percaya diri untuk mengajukan pertanyaan (Gunadi, 2. Pada indikator AuBerani Tampil di Depan KelasAy memperoleh presentase 90%. Hal ini menunjukkan bahwa pada indikator ini, siswa diminta untuk menampilkan hasil eksperimen mereka di depan kelas. Guru memberikan dukungan moral dan penghargaan untuk meningkatkan motivasi siswa agar lebih percaya diri tampil di depan temantemannya. Temuan di kelas juga menunjukkan bahwa sebagian besar siswa dengan antusias menunjukkan hasil kerja mereka, seperti cara membuat kompas sederhana atau menunjukkan benda-benda yang bersifat magnetis. Keberanian siswa untuk tampil meningkat secara signifikan dibandingkan Siklus I. Menurut Mariyaningsih, . , pemberian penghargaan dan bimbingan individu selama pembelajaran berbasis media konkret dapat meningkatkan keberanian siswa untuk tampil di depan kelas. Fadlillah, . menekankan pentingnya pengembangan kecerdasan interpersonal, seperti keberanian untuk berbicara di depan umum. Media konkret membantu siswa memahami materi dengan baik, sehingga mereka lebih percaya diri saat menampilkan hasil kerja Mohon di tambahkan 2 foto kegiatan saat siklus 2. Hasil penelitian pada Siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan pada semua indikator keaktifan belajar siswa dengan rata-rata keseluruhan 89% , yang melampaui standar ketuntasan minimal . %). Indikator terbaik : Turut serta dalam tugas belajar. Berani Bertanya, dan Berani Tampil di Depan Kelas . %). Indikator yang perlu diperhatikan lanjutan : Berpartisipasi dalam Pemecahan Masalah . %), meskipun tetap menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan Siklus I. Penggunaan media konkret berhasil meningkatkan keaktifan siswa dengan memberikan pengalaman belajar langsung dan relevan. Secara keseluruhan rata-rata P-ISSN: 23553790 . E-ISSN: 25794655 Maya Anggraini1. Meningkatan Keaktifan Belajar keaktifan siswa dari keempat indikator adalah 89%. Ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dari siklus sebelumnya dan mencerminkan bahwa penerapan media konkret sangat efektif dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran hanya dilakukan sampai pada siklus II, karena pada siklus II sudah mencapai Kriteria Ketuntasan Maksimal yaitu 80%. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media konkret diorama dalam pembelajaran IPAS secara signifikan mampu meningkatkan keaktifan pada pembelajaran IPAS materi Gaya dan magnet siswa kelas di SDN 1 Tatura Palu. Berdasarkan data yang dikumpulkan pada dua siklus, diorama terbukti efektif dalam membantu siswa menginternalisasi konsep Gaya magnet melalui pengalaman visual dan konkret, sehingga mendorong keaktifan siswa secara konsisten di setiap indikator. Pada siklus II, keaktifan siswa meningkat dari nilai rata-rata 52% pada prasiklus menjadi 89%, melampaui target ketuntasan yang telah ditetapkan sebesar 80%. Temuan ini mengonfirmasi bahwa media konkret tidak hanya dapat memudahkan siswa dalam pembelajaran, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar mereka dalam lingkungan yang lebih interaktif dan nyata. Selain itu, penelitian ini membuktikan bahwa pembelajaran yang didukung oleh media dapat memantun siswa dalam pembelajaran sehingga siswa dapat termotivasi dalam belajar yang akhirnya menjadikan siswa aktif dalam kelas. Pendekatan ini relevan dengan kebutuhan pembelajaran di era saat ini yang berorientasi pada pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman berbasis praktik nyata. Untuk penerapan di masa depan, disarankan agar penggunaan media konkret lainnya terus dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran siswa dalam memahami konsep-konsep sains yang kompleks. DAFTAR PUSTAKA