Analisis Posisi Antena (Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani) ANALISIS POSISI ANTENA AIS UNTUK MISI PEMANTAUAN KAPAL SATELIT SAR MIKRO LAPAN (ANALYSIS OF AIS ANTENA POSITION FOR SHIP MONITORING MISSION OF LAPAN SAR SATELLITE) Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani Pusat Teknologi Satelit, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional e-mail: dwiyanto@lapan.go.id Diterima: 2 Juli 2019; Direvisi: 22 Agustus 2019; Disetujui : 28 Oktober 2019 ABSTRACT The trend of the application of AIS data usage is currently growing with the installation of AIS receivers on satellites. Different placements of antena position will produce different coverage area as well. It will affect the AIS data that can be received by the AIS receiver on the satellite. The combination of AIS and SAR data from satellites is now increasingly an option to monitor marine crime continuously, especially for a wide waters area such as in Indonesia. Coverage of AIS antena can also affect the possibility of combining AIS data and SAR data. In this research, a simulation of AIS antenna placement on satellites in several positions will be carried out to obtain the optimal position on the satellite by analyzing the link margin value of the AIS signal generated at each position. The purpose of this study is to obtain an optimal AIS antenna placement for LAPAN SAR satellites. The simulation and calculation show that antena placement on the Y axis is of the satellite is the optimal position to be used on SAR satellites. In this antena position the antena has a narrow coverage which is extends in the direction of the Y axis so it will reduce the amount of data collision. In this position coverage AIS is also in line with SAR coverage so that when the AIS data is received from the ship it is the same as when the ship is detected by SAR sweeps. Keywords: AIS, Antena, SAR, Link Margin, Coverage 1 Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 18 No. 1 Juni 2020 : hal 1 - 14 ABSTRAK Kecenderungan aplikasi penggunaan data AIS semakin berkembang dengan dipasangnya receiver AIS di satelit. Penempatan antena AIS pada posisi yang berbeda akan menghasilkan luasan dan bentuk coverage yang berbeda juga. Hal ini akan mempengaruhi data AIS yang dapat diterima oleh receiver AIS di satelit. Saat ini kombinasi antara data AIS dan data SAR dari satelit semakin menjadi pilihan untuk memantau kejahatan kelautan secara kontinu khususnya untuk wilayah perairan yang luas seperti di Indonesia. Coverage antena AIS juga akan mempengaruhi kemungkinan penggabungan antara data AIS dan data SAR. Dalam penelitian ini akan dilakukan simulasi penempatan antena AIS di satelit pada beberapa posisi untuk mendapatkan posisi yang optimal di satelit dengan menganalisa nilai link margin sinyal AIS yang dihasilkan pada masing masing posisi. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan penempatan antena AIS yang optimal untuk di satelit LAPAN SAR. Hasil simulasi dan perhitungan yang dilakukan bisa diketahui bahwa penempatan antena pada sumbu Y satelit merupakan posisi yang optimal untuk digunakan dalam satelit SAR. Pada posisi ini antena memiliki coverage yang cukup sempit dan memanjang sejajar sumbu Y sehingga akan mengurangi jumlah data collision. Selain itu pada posisi ini coverage AIS juga sebidang dengan coverage SAR sehingga waktu diterimanya data AIS dari kapal sama dengan saat kapal terdeteksi oleh sapuan SAR. Kata kunci: AIS, Antena, SAR, Link Margin, coverage 1 PENDAHULUAN Automatic Identification System (AIS) adalah sebuah sistem yang mampu menyediakan informasi kapal dan mengirimnya dari kapal ke kapal maupun dari kapal ke darat melalui stasiun penerima menggunakan gelombang radio VHF secara otomatis (Saputra, 2016). Frekuensi AIS yang digunakan saat ini adalah pada Channel 87B (161.975Mhz), 88B (162.025Mhz). Modulasi yang digunakan adalah GMSK dengan kecepatan data 9,6 kbps (ITU, 2014). Dalam beberapa tahun terakhir, pelanggaran hukum dengan menggunakan kapal telah menjadi perhatian banyak negara sehingga sistem pemantauan kapal yang menggabungkan antara kapasitas informasi yang kuat dari teknologi AIS dengan jangkauan global dari teknologi satelit telah dimulai dan terus dilanjutkan sejak awal abad ini (Chen, 2014). 2 Satelit SAR LAPAN sebagai satelit LAPAN generasi selanjutnya memiliki misi yang salah satunya adalah untuk pemantauan lalu lintas kapal (Triharjanto, 2018). Selain membawa muatan SAR, satelit SAR LAPAN juga membawa muatan AIS dimana data AIS ini nantinya akan digunakan untuk mengakuisisi data kapal – kapal yang terdeteksi oleh muatan SAR. Kombinasi dua data ini nantinya bisa digunakan untuk memetakan dan mengidentifikasi kapal untuk mengurangi illegal fishing dan tindak kejahatan di laut. Untuk dapat digabungkan dengan data SAR, antena AIS harus memiliki wilayah sapuan yang sama dengan sapuan antena SAR. Hal ini akan memudahkan dalam analisis saat data AIS dan kapal digabungkan (Chaturvedi, 2012). Pengembangan sistem AIS berbasis satelit telah dilakukan oleh beberapa negara termasuk Indonesia dimana satelit LAPAN membawa muatan AIS di Analisis Posisi Antena (Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani) satelit LAPAN-A2 dan LAPAN-A3. Satelit LAPAN A2 dan LAPAN A3 yang dilengkapi penerima AIS saat ini bisa menerima banyak data AIS akan tetapi masih banyak data yang mengalami kerusakan. Hal ini disebabkan karena adanya saturasi di lokasi yang jumlah kapasitas kapal yang besar, juga karena kualitas transmisi yang dihasilkan kapal kurang baik (Karim, 2018). Salah satu karakteristik receiver AIS adalah semakin banyak jumlah kapal yang melebihi jumlah slot TDMA menyebabkan data yang bisa diterima dengan benar semakin kecil. Selain jumlah kapal yang banyak, penerimaan sinyal AIS dari kapal yang berjauhan dan tidak tersinkronisasi akan menyebabkan terjadinya tabrakan sinyal dan akan menyebabkan penurunan kualitas sinyal yang bisa didekodekan (Clazzer, 2014). Beberapa metode dilakukan untuk menaikkan tingkat kesuksesan dalam mendekode sinyal AIS yang diterima oleh satelit. Ada juga penelitian yang mengusulkan penggunaan beam scanning antena untuk meningkatkan kapasitas data AIS yang bisa di terima reveiver AIS. Metode ini bertujuan untuk memecah coverage satelit dalam beberapa subcoverage yang lebih sempit dengan cara menggunakan beberapa antena dengan arah radiasi yang berbeda. Selain besaran signal yang diterima lebih besar juga mempersempit wilayah coverage tiap antena, sehingga jumlah kapal yang diterima lebih sedikit dan akhirnya peluang terjadinya tabrakan sinyal semakin kecil (Harchowdhury, 2015). Pergerakan satelit terhadap kapal juga akan menyebabkan terjadinya efek Doppler dalam frekuensi sinyal yang diterima receiver. Dengan tersebarnya posisi kapal terhadap satelit maka akan menyebabkan variasi Doppler sinyal yang tinggi. Penambahan bandwidth receiver dilakukan untuk mengkompensasi efek Doppler yang terjadi (Reiten, 2007). Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan penempatan antena AIS yang optimal untuk satelit LAPAN SAR. Posisi antena yang ingin dicapai adalah posisi yang bisa menerima sebanyak mungkin data AIS di sekitar orbit satelit, mempunyai kesamaan waktu antara data AIS sebuah kapal dengan waktu saat kapal tersapu oleh SAR. Serta posisi antena yang mungkin bisa mengurangi terjadinya collision sinyal AIS yang diterima satelit. 2 METODOLOGI Metodologi yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan simulasi penempatan antena AIS pada beberapa posisi dengan menggunakan perangkat lunak. Sesuai dengan ketentuan organisasi maritim internasional (IMO), antena AIS di kapal adalah antena vertikal dengan pola radiasi omnidirectional (IMO SN/Circ.227, 2002). Berbagai macam antena vertikal di pasaran bisa digunakan untuk komunikasi AIS baik yang mempunyai gain besar maupun kecil. Gambaran pola radisasi antena ini digambarkan dalam Gambar 2-1. (Burder, 2019). Gambar 2-1: Tipikal penempatan antena AIS diatas kapal. (Burder, 2019) Dalam simulasi yang dilakukan menggunakan perangkat lunak MMANAGAL, asumsi pemasangan antena di 3 Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 18 No. 1 Juni 2020 : hal 1 - 14 satelit adalah antena monopole ¼ λ dengan beberapa posisi penempatan antena yaitu: 1. 1 antena mengarah ke titik pusat bumi atau nadir pointing, seperti ditunjukkan pada Gambar 2-2. 4. 1 antena dengan posisi 450 terhadap sumbu X dan 450 terhadap sumbu Z, seperti ditunjukkan pada Gambar 2-5. Gambar 2-5: Penempatan antena 45° terhadap sumbu X dan sumbu Z Gambar 2-2: Penempatan antena sejajar sumbu Z 2. 1 antena dengan posisi sejajar sumbu arah pergerakan satelit (sumbu X), seperti ditunjukkan pada Gambar 2-3. Gambar 2-3: Penempatan antena sejajar sumbu X 3. 1 antena dengan posisi tegak lurus sumbu arah pergerakan satelit (sumbu Y), seperti ditunjukkan pada Gambar 2-4. Dari tiap – tiap posisi penempatan antena dilakukan simulasi pola radiasi antena yang dihasilkan dan selanjutnya dilakukan perhitungan dan analisa link margin-nya. Link margin sistem komunikasi satelit dipengaruhi oleh parameter komunikasi pemancar dan penerima seperti daya keluaran pemancar, penguatan dan pola radiasi antena serta lainnya seperti Free Space Loss, E" N$ yang digunakan. Free Space Loss adalah rugi – rugi ruang bebas yang dipengaruhi oleh jarak stasiun bumi ke satelit dan besarnya frekuensi pembawa yang digunakan dalam transmisi radio. Free Space Loss dapat dihitung dengan persamaan berikut (Fred J., 1999): 𝐿&' (𝑑𝐵) = 10 log 234 6 5 (2-1) Dimana , Lfs adalah Path loss, D = slant range (m) dan λ = panjang gelombang. Nilai E" N$ ini merepresentasikan berapa energi per bit data dibanding kerapatan noise (noise density). E" N$ dapat dihitung dengan persamaan dasar berikut (Fred J., 1999): Gambar 2-4: Penempatan antena sejajar sumbu Y 78 9: 4 = ;<= >? <@ B CD@ E (2-2) Analisis Posisi Antena (Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani) Dimana E" N$ adalah energi per bit data dibanding kerapatan noise, P adalah daya pancar transmitter, Ll adalah redaman kabel dari transmitter ke antena pemancar, Gt adalah gain antena pemancar, Ls adalah path loss, La adalah redaman dari antena penerima ke receiver, Gr adalah gain antena penerima, k adalah konstanta Boltzmann, Ts adalah temperature sistem dan R adalah kecepatan transmisi data. Link margin merupakan perbedaan antara sensitivitas receiver dengan daya receiver sesungguhnya. Link margin dapat dihitung dengan persamaan berikut: 𝐿𝑖𝑛𝑘 𝑚𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 = 78 9P − 78 9P 𝑟𝑒𝑞𝑢𝑖𝑟𝑒𝑑 (2-3) Dimana E" N$ minimal yang dibutuhkan untuk komunikasi AIS menggunakan modulasi GMSK dimana dengan nilai BER 10-5 adalah 9,6 dB (Fred J., 1999). 3 HASIL DAN PEMBAHASAN Parameter yang digunakan dalam perhitungan awal link margin AIS merujuk pada sistem AIS standar di kapal dan sebagai penerimanya menggunakan modul receiver AIS khusus satelit. Sistem AIS didesain untuk komunikasi terestrial maka antena tipikal yang digunakan oleh transceiver AIS adalah antena dengan polarisasi vertikal yang ditempatkan di atas kapal. Dengan menggunakan antena ini pola radiasi antena berbentuk donat dengan medan elektromagnetik akan tersebar ke samping. Karena orientasi satelit terhadap kapal berubah–ubah, maka pada saat terjadi mismatched polarization akan terjadi penurunan nilai gain. Parameter AIS yang digunakan ditunjukkan dalam Tabel 3-1. Tabel 3-1: PARAMETER AIS KAPAL DAN SATELIT AIS Tx (Kapal) Parameter Nilai Satuan Frekuensi 162.025.000 Hz Panjang Gelombang 1,8515661 m Transmision Loss 2 dB Pointing Loss 0,5 dB Data Rate 9.600 bps Gain Antena 12,5 (kelas A) 5 (kelas B) 2,1 (maks) Bandwidth 25000 Hz Gain Antena Satelit 2,1 (maks) dBw Transmision Loss 0,5 dB K(Konst.Boltzman) 1,38E-23 J/K T Antena 290 K G/T Ant Rx Satelit -23,01029996 Sensitivitas receiver -126 dB/K dBm @ 20% PER RF Power Output Rx (Satelit) Watt dB 5 Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 18 No. 1 Juni 2020 : hal 1 - 14 Hasil simulasi penempatan antena AIS adalah sebagai berikut: 1. Posisi nadir pointing. Jika asumsi antena AIS yang digunakan baik di kapal maupun di satelit adalah antena monopole ¼ λ maka berdasarkan simulasi yang dilakukan pancaran pola radiasi antena keduanya dapat ditunjukkan dalam Gambar 3-1. Hasil simulasi menunjukkan terjadi penurunan gain antena dari elevasi 0° hingga 90°. Pada sudut elevasi 60° gain antena mengalami penurunan hingga 6,4 dB. Pada elevasi ini sinyal AIS kapal dideteksi satelit pada sudut 27°, dimana di sudut ini gain antena penerima AIS satelit mengalami penurunan hingga 7,3 dB. Total penurunan sinyal dari kombinasi gain antena di kedua sisi pada kondisi ini adalah 13,7 dB. Penurunan gain antena AIS ini nantinya akan dijadikan acuan penghitungan link margin komunikasi AIS antara kapal dan satelit. Gambaran komunikasi pada posisi ini ditunjukkan dalam Gambar 3-2. Gambar 3-1: Pola Radiasi antena monopole ¼ λ Pola radiasi antena Satelit Gain antena AIS satelit saat berada pada elevasi 600 dari antena kapal Signal AIS Pola radiasi antena AIS Kapal Gambar 3-2: Gambaran komunikasi sinyal AIS kapal dan satelit pada posisi elevasi satelit 60° 6 Analisis Posisi Antena (Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani) Komunikasi antara satelit dan kapal akan terjadi jika antena satelit dan kapal pada posisi line of sight. Kondisi line of sight pada kapal terjadi jika satelit berada diatas garis horizon kapal (elevasi 0°), sedangkan pada satelit bergantung pada field of view antena satelit. Dalam simulasi tersebut asumsi ketinggian satelit adalah 600 km diatas permukaan bumi. Gambaran geometris posisi satelit, bumi dan kapal menunjukkan kapal dapat dilihat oleh satelit mulai sudut 66° dari arah posisi nadir. Sehingga jika field of view antena satelit adalah 132° maka akan memungkinkan satelit menerima sinyal AIS kapal dari segala arah. Gambar kondisi ini ditunjukkan dalam Gambar 3-3. Dengan menggunakan simulasi antena yang ditunjukkan dalam Gambar 3-1 dan 3-2, dapat diketahui perubahan gain antena pada tiap posisi satelit terhadap sudut elevasi antena kapal. Gambar 3-3: Geometri posisi satelit, bumi dan kapal pada komunikasi AIS. LINK MARGIN SINYAL AIS TERHADAP POSISI ELEVASI SATELIT DILIHAT OLEH KAPAL LINK MARGIN (DB) AIS klas A AIS klas B 50 0 -50 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 SUDUT ELEVASI POSISI SATELIT (DEGREE) Gambar 3-4 : Grafik perbedaan link margin AIS kelas A dan B posisi elevasi satelit terhadap antena kapal 7 Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 18 No. 1 Juni 2020 : hal 1 - 14 Nilai link margin AIS baik tipe AIS kelas A dan kelas B dihitung untuk tiap posisi dan path loss yang terjadi pada posisi tersebut. Perhitungan dilakukan dari nilai posisi satelit pada elevasi 0° – 90°. Grafik hasil perhitungan link margin untuk tiap kelas AIS ditunjukkan dalam Gambar 3-4. Dari Grafik 3-4, dapat dilihat dimana penurunan link margin secara signifikan terjadi mulai saat satelit mulai berada pada sudut elevasi 70° ke atas. Link margin di atas 3 dB untuk AIS kelas B saat sudut elevasi di bawah 70° sedangkan untuk kelas A saat posisi satelit di bawah elevasi 75°. Dengan perhitungan ini dapat ditunjukkan bahwa akan terjadi perpotongan ruang sapuan antara sapuan muatan SAR dan muatan AIS. Perhitungan selanjutnya yang dilakukan adalah memasukkan parameter baik transmitter di kapal maupun receiver AIS. Jika elevasi 66° adalah elevasi tertinggi sinyal berdasarkan gain tx AIS kapal dan gain antena receiver AIS satelit AIS dapat terdeteksi satelit maka gambaran coverage satelit ditunjukkan dalam Gambar 3-5. 2. Posisi sejajar sumbu X. Selanjutnya dilakukan analisis untuk penempatan antena AIS di satelit pada sumbu X satelit. Untuk simulasi posisi antena ini tidak dilakukan perhitungan link margin karena pemilihan posisi optimal didasarkan pada coverage antenna. Hasil simulasi yang didapatkan pola radiasi antena ini ditunjukkan dalam Gambar 3-6. Dengan menggunakan urutan perhitungan yang sama dengan simulasi antena dengan posisi pertama maka didapatkan bahwa coverage antena AIS satelit adalah kapal kapal di sekitar lokasi kapal pada sumbu satelit X positif dan X negatif. Hasil simulasi ini ditunjukkan dalam Gambar 3-7. Horizon Satelit 5325 km 396 km Blankspot AIS Coverage AIS Gambar 3-5: Gambaran coverage antena AIS satelit posisi sumbu Z 8 Analisis Posisi Antena (Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani) Gambar 3-6: Gambaran hasil simulasi pola radiasi antena AIS penempatan sejajar sumbu X satelit -Y Coverage Satelit -X Coverage AIS Coverage AIS X Y Gambar 3-7: Gambaran coverage antena AIS satelit terhadap AIS kapal untuk antena satelit sejajar sumbu X 3. Posisi sejajar sumbu Y. Selanjutnya dilakukan simulasi ketiga yaitu penempatan antena AIS di satelit sumbu Y satelit. Untuk simulasi posisi antena ini tidak dilakukan perhitungan link margin karena pemilihan posisi optimal didasarkan pada coverage antena. Pola radiasi antena pada posisi ini ditunjukan dalam Gambar 3-8. Hasil simulasi didapatkan bahwa coverage antena AIS satelit adalah kapal kapal di sekitar lokasi kapal pada sumbu satelit Y posisif dan Y negatif seperti ditunjukkan dalam Gambar 3-9. 9 Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 18 No. 1 Juni 2020 : hal 1 - 14 Gambar 3-8: Gambaran hasil simulasi pola radiasi antena AIS penempatan antena sejajar sumbu Y satelit -Y Coverage AIS Coverage Satelit X -X Coverage AIS Y Gambar 3-9: Gambaran simulasi dan coverage antena AIS satelit terhadap AIS kapal untuk antena satelit sejajar sumbu Y 4. Posisi 450 terhadap sumbu X positif. Simulasi keempat adalah menempatkan antena penerima AIS dengan sudut 450 terhadap sumbu X positif. Hasil simulasi pola radiasi antena AIS satelit ditunjukkan dalam Gambar 3-10. Hasil simulasi yang didapatkan menunjukkan terjadinya ketidaksamaan sinyal dari kapal pada posisi arah sumbu 10 X positif dimana terjadi penurunan signal pada X sudut 450. Grafik hasil perhitungan link margin untuk tiap kelas AIS dalam posisi antena ini ditunjukkan dalam Gambar 3-11 dan Gambar 3-12. Sedangkan gambaran coverage antena AIS satelit ditunjukkan dalam Gambar 3-13. Analisis Posisi Antena (Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani) Gambar 3-10: Hasil simulasi pola radiasi antena dengan sudut 450 terhadap sumbu x dan z LINK MARGIN AIS UNTUK LOKASI KAPAL DARI ARAH SUDUT +X SATELIT LINK MARGIN (DB) AIS klas A AIS klas B 50 0 5 10 15 20 -50 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 SUDUT ELEVASI POSISI SATELIT (DEGREE) Gambar 3-11: Grafik link margin AIS untuk lokasi kapal dari arah sudut +X satelit LINK MARGIN AIS UNTUK POSISI KAPAL DARI ARAH SUDUT -X SATELIT LINK MARGIN (DB) AIS klas A AIS klas B 30 10 -10 -30 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60 65 70 75 80 85 90 SUDUT ELEVASI POSISI SATELIT (DEGREE) Gambar 3-12: Grafik link margin AIS untuk lokasi kapal dari arah sudut -X satelit 11 Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 18 No. 1 Juni 2020 : hal 1 - 14 -Y -X Coverage AIS Sumbu X Coverage AIS Sumbu X Coverage AIS Sumbu X X Coverage Satelit Y Gambar 3-13: Coverage AIS berdasar link margin AIS dengan posisi antena 450 terhadap sumbu +X. Langkah selanjutnya dalam penelitian ini adalah menentukan pemilihan posisi antena AIS yang tepat untuk digunakan dalam Satelit LAPAN SAR yang membawa muatan SAR. Pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan ini adalah: 1. Coverage satelit yang berpengaruh terhadap kemungkinan collision sinyal yang terjadi. 2. Coverage yang dipilih harus bisa mengambil semua data AIS di sekitar orbit satelit. 3. Karena data AIS ini nanti akan digabungkan dengan data SAR, maka diharapkan coverage AIS berada dalam coverage SAR pada saat yang bersamaan yaitu di sepanjang lintasan satelit yaitu dengan swath width 22 km pada look angle 23°. Sehingga sinyal AIS yang diterima dari kapal waktunya sama dengan saat kapal dalam sapuan SAR satelit. Dengan melihat 3 aspek pertimbangkan di atas, maka untuk penempatan antena pada posisi antena AIS satelit sejajar sumbu Z mempunyai kelebihan untuk poin 2 dan 3 akan 12 tetapi untuk poin 1 posisi ini mempunyai kelemahan karena semua sinyal AIS kapal di sekitar satelit akan diterima receiver AIS satelit. Kondisi ini menyebabkan peluang terjadinya collision sinyal sangat besar. Posisi antena sejajar sumbu X mempunyai kelebihan di poin 1 akan tetapi mempunyai kelemahan untuk poin 2 dan 3. Hal ini mengingat coverage AIS yang hanya pada arah sumbu X menyebabkan kapal pada sumbu Y satelit tidak akan terdeteksi oleh satelit dan juga karena posisi muatan SAR satelit adalah pada posisi sumbu Y sehingga posisi sapuan SAR berbeda dengan sapuan receiver AIS. Posisi antena 450 terhadap sumbu X mempunyai kelebihan untuk poin 1 karena coverage paling besar pada kapal pada arah sumbu –X sehingga peluang terjadinya collision sinyal lebih baik dari posisi sejajar sumbu X. Namun posisi ini mempunyai kelemahan yang sama dengan posisi sejajar sumbu X, yaitu terkait poin 2 dan 3. Analisis Posisi Antena (Dwiyanto, Ade Putri Septi Jayani) -Y Coverage AIS Coverage Satelit SAR X -X Coverage AIS Y Gambar 3-14: Gambaran coverage AIS dan SAR untuk posisi antena pada sumbu –Y Posisi antena paling optimum untuk mengakomodasi ketiga pertimbangan adalah menaruh antena pada posisi sejajar sumbu Y positif. Dimana pada posisi ini bentuk coverage AIS sama dengan posisi antena pada sumbu X sedang posisinya diputar 900. Pada kondisi ini mempunyai keuntungan di poin pertimbangan 1, 2 dan 3. Untuk poin 1 karena coverage sempit maka terjadinya collision sinyal AIS semakin bisa dikurangi. Pada poin pertimbangan 2 walaupun coverage-nya sempit tapi saat satelit bergerak maka semua kapal yang berada di orbit satelit akan tersapu walaupun pada waktu yang berbeda. Sedangkan untuk poin 3 karena coverage AIS pada sumbu Y dan posisi sapuan SAR pada sumbu Y maka dapat dipastikan kapal kapal yang disapu oleh SAR sinyal AIS nya akan dideteksi oleh receiver AIS satelit. Gambaran coverage satelit dengan posisi antena pada sumbu Y dan sapuan SAR ditunjukan dalam Gambar 3-14. KESIMPULAN Dari hasil analisis keempat simulasi posisi penempatan antena AIS didapatkan bahwa berdasarkan coverage antena, penempatan antenna yang paling optimal adalah pada saat diletakkan sejajar dengan sumbu Y. Karena dari pertimbangan coverage, penempatan antena di posisi ini menghasilkan coverage yang sempit sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya data collision, dan karena coverage-nya memanjang di sumbu Y maka data kapal yang berada di sekitar lintasan satelit dapat ter-cover seluruhnya. Selain itu karena sapuan antena memanjang sejajar sumbu Y penggabungan data AIS dengan data SAR untuk satelit LAPAN SAR dapat dilakukan karena keduanya menyapu area yang beririsan. 13 Jurnal Teknologi Dirgantara Vol. 18 No. 1 Juni 2020 : hal 1 - 14 UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Mujtahid, M.T. selaku Kepala Pusat Teknologi Satelit LAPAN dan kepada seluruh tim Redaksi Jurnal Teknologi Dirgantara atas dukungannya sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan dengan baik. DAFTAR RUJUKAN Saputra, H., A. Budi, D. Istardi, S. Wiratno, (2016). Penggunaan Data Automatic Identification System (AIS) Untuk Mengetahui Pergerakan Kapal (Studi Kasus Pada Lalu Lintas Kapal di Selat Singapura dan Perairan Batam), Jurnal Integrasi Vol. 8 No. 2, 139 – 143. ITU-R M.1371-5, (2014). Technical characteristics for an automatic identification system using time division multiple access in the VHF maritime mobile frequency band. Chen, Y., (2014). Satellite-Based AIS and Its Comparison with LRIT, The International Journal on Marine Navigation and Safety of Sea Transportation Vol. 8 No. 2, 183-187. Karim, A., R. Permala, M. Mukhayadi, W. Hasbi, (2018). Koreksi Data Automatic Identification System (AIS) Satelit Lapan-A2 Dan Lapan-A3 Menggunakan Metode Interpolasi Dan Ekstrapolasi, Jurnal Teknologi Dirgantara Vol.16 No.2, 159 – 168. Clazzer, F., A. Munari, S. Plass, B. Suhr, (2014). On the impact of coverage range on AIS message reception at flying platforms, Paper presented at the Advanced Satellite Multimedia Systems Conference (ASMS), 2014 7th, and the Signal Processing for Space Communications Workshop (SPSC), 2014 13th. Reiten, K., R. Schlanbusch, R. Kristiansen, F. Vedal, J. Nickelasson, C. Berntsen, (2007). Link and Doppler Analysis for Space-Based AIS 14 Reception, Paper presented at the International Conference on Recent Advances in Space Technologies, 2007 3rd. Triharjanto, R.H., P. A. Budiantoro, D. Yanto, J. T. S. Sumantyo, (2018). The Design Progress of LAPAN-Chiba University SAR Micro-Satellite, Paper presented at the IEEE International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology (ICARES), 2018. Harchowdhury, A., B. K. Sarkar, K. Bandyopadhyay, (2015). Beam Scanning for Reception Performance Improvement of Satellite-Based AIS, Paper presented at the IEEE International Conference on Aerospace Electronics and Remote Sensing Technology (ICARES), 2015. International Maritime Organization (IMO), SN/Circ.227, (2003). Guidelines for the installation of a Shipborne Automatic Identification System (AIS). Tom Burden, Selecting a VHF Antena, https://www.westmarine.com/WestA dvisor/Selecting-a-VHF-Antena diunduh: 25 Juni 2019. Chaturvedi, S.K., C.-S. Yang, K. Ouchi, and P. Shanmugam, (2012). Ship Recognition by Integration of SAR and AIS, The Journal of Navigation, Vol. 65, 323-337. Fred J. Dietrich, Globalstar L. P. and Richard S. Davies. (1999). Space Mission Analysis and Design . edited by W. J. Larson and J. R. Wertz.