Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1793-1800 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Gambaran Kadar Hemoglobin dan Karbon Monoksida pada Pedagang Sate Yuvita1. Surahma Asti Mulasari 2. Dyah Suryani 3 1,2,3 Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan yuvitatita12@gmail. ABSTRACT Background: Satay smoke contains a pollutant called carbon monoxide (CO). Carbon monoxide (CO) is a colorless and odorless substance, but contains toxins that can adversely affect human health, especially will affect hemoglobin levels in the body. This systematic review of literature review aims to describe hemoglobin and carbon monoxide (CO) levels in satay traders. This research is a literature review, so the data base used in searching this article uses secondary sources derived from google scholar and sage publications with the keywords "hemoglobin, carbon monoxide. Carbon Monoxide (CO)" which have been done by previous researchers both domestically and abroad. From a total of 300 articles, finally obtained 5 articles relevant to the title made by the researcher. From these 5 selected articles, data were obtained that the substances contained in satay smoke have an influence on hemoglobin levels in the body. The longer the exposure to smoke, the high risk of hemoglobin levels in the body of the satay seller will decrease. This is certainly not good for the health of the body. Therefore, satay sellers are advised to use PPE (Personal Protective Equipmen. in the form of masks to minimize the absorption of substances contained in satay smoke. Carbon monoxide (CO) can affect hemoglobin levels in the body of satay traders Keywords: Hemoglobin. Carbon Monoxide. Satay Seller ABSTRAK Asap sate mengandung polutan yang bernama karbon monoksida (CO). Karbon monoksida (CO) merupakan zat yang tidak berwarna dan tidak berbau, tetapi mengandung racun yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia khususnya akan berpengaruh pada kadar hemoglobin pada tubuh. Tinjauan sistematis pada literature review ini bertujuan untuk menggambarkan kadar hemoglobin dan karbon monoksida (CO) pada pedagang sate. Penelitian ini merupakan literature review, sehingga data base yang digunakan dalam pencarian artikel ini menggunakan sumber sekunder yang berasal dari Google Scholar dan sage publication dengan kata kunci Auhemoglobin, karbon monoksida. Carbon Monoxide (CO)Ay yang telah dilakukan peneliti sebelumnya baik yang ada di dalam negeri maupun di luar Dari total 300 artikel, akhirnya diperoleh 5 artikel yang relevan dengan judul yang dibuat oleh peneliti. Dari 5 artikel pilihan tersebut diperoleh data bahwa zat yang terdapat pada asap sate memiliki pengaruh terhadap kadar hemoglobin dalam tubuh. Semakin lama terpapar asap maka berisiko tinggi kadar hemoglobin pada tubuh penjual sate akan semakin Hal ini tentu tidak baik bagi kesehatan tubuh. Oleh sebab itu penjual sate disarankan menggunakan APD (Alat Pelindung Dir. berupa masker untuk meminimalisir penyerapan zat yang terkandung dalam asap sate. Karbon monoksida (CO) dapat memengaruhi kadar hemoglobin pada tubuh pedagang sate. Kata kunci: Hemoglobin. Karbon Monoksida. Penjual Sate 1793 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1793-1800 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. PENDAHULUAN Tingkat racun di udara yang dihirup orang setiap hari secara konsisten akan mempengaruhi tingkat kesehatan untuk saat ini atau masa depan. Risiko yang dialami para pedagang sate yang terpapar karbon monoksida dari pembakaran makanan dengan menggunakan arang sering kali tidak dipahami. (Putri, 2. Manusia dapat menghirup udara sebanyak-banyaknya, namun tidak semua komponen yang ada di udara dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Di antara sekian banyak komponen di udara, hanya oksigen yang dibutuhkan manusia untuk siklus Kualitas udara merupakan bagian penting dalam menentukan status kesejahteraan sekaligus kesehatan masyarakat di mana pun mereka berada. Namun pada kenyataannya, di era pemanasan global seperti sekarang ini, sebagian besar udara sudah terkontaminasi. Racun udara ini disebut polutan. Polutan terdiri dari karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO. , sulfur dioksida (SO. , nitrogen dioksida (NO. , hidrokarbon (HC), klorourokarbon (CFC), timbal (P. dan partikel (PM. (Abidin et. al, 2. Aktivitas manusia yang semakin rumit menambah tingkat polusi udara yang semakin tinggi. Organisasi atau perusahaan yang lingkupnya sangat besar menghasilkan racun, namun organisasi atau industri lokal dalam skala kecil, misalnya dalam proses penanganan makanan dengan cara dibakar, juga dapat menjadi sumber pencemaran udara. Salah satu kelompok yang paling terancam terhadap penumpukan udara pembakaran adalah para pedagang sate (Deiin, 2. Semakin lama seseorang terpapar oleh zat karbon monoksida (CO) kemungkinan akan berisiko pada berkurangnya kadar hemoglobin bahkan juga dapat menyebabkan rusaknya kadarnya hemoglobin pada tubuh. Oleh karena itu tinjauan sistematis ini dilakukan untuk menggambarkan kadar hemoglobin dan karbon monoksida (CO) pada pedagang sate. Sate merupakan masakan khas Indonesia yang dapat ditemukan di berbagai Sate terdiri dari berbagai jenis daging, baik daging ayam giling maupun daging sapi. Pembuatan sate ini memerlukan teknik pembakaran yaitu dengan cara mengipasi arang hingga menghasilkan bara api dan asap. Asap ini menghasilkan polutan yang berbahaya bagi manusia jika terhirup. Asap ini tersusun dari bahan partikulat, karbon monoksida (CO), hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), senyawa organik yang mudah menguap (VOC), logam berat, dan senyawa beracun lainnya. Banyak tempat kerja yang berisiko terpapar polusi udara, salah satunya adalah usaha Umumnya sate dijual di pinggir jalan, sehingga penjual sate terpapar asap pembakaran serta asap sisa pembakaran mobil (Masrizal, 2. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah melaporkan bahwa paparan kronis terhadap polusi udara konsentrasi rendah dapat menyebabkan anemia pada Mekanisme biologis udara dapat mengganggu proses produksi sel darah merah tercermin pada sintesis heme, pembentukan sel darah merah (Nurlina, 2. Kadar Hb normal jika 12 g/dl atau lebih tinggi, sebaiknya 13 g/dl atau lebih tinggi. Bila kadar Hb menurun yaitu kadar Hb 10-12 g/dl disebut anemia ringan, sedangkan bila kadar Hb 8-10 g/dl disebut anemia sedang dan kadar Hb 10- 12 g/dl Nilai antara 6 dan 8 g/dl disebut anemia berat (Akmal Mutaroh, 2. Organisasi Kesehatan 1794 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1793-1800 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Dunia (WHO) melaporkan terdapat 2 miliar orang di dunia yang kadar hemoglobin (H. masih di bawah normal (Rahayu, 2. Menurut WHO, prevalensi anemia secara global pada tahun 2017 adalah 40-88%, namun hasil riset kesehatan dasar terbaru yang dikeluarkan pemerintah Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi anemia meningkat dari 37,1% pada tahun 2013 menjadi 48,9% telah meningkat pada Hemoglobin merupakan suatu protein yang setiap gugus hemenya merupakan cincin porfirin yang mengandung zat besi dan molekul pengikat oksigen (Mabruroh, 2. Hemoglobin hadir dalam jumlah yang sangat besar dalam sel darah merah. Ketika jumlah hemoglobin dalam sel darah merah terlalu rendah, seseorang terlihat pucat dan lesu, suatu kondisi yang disebut anemia atau kurang darah (Purbayanti, 2. Salah satu penyebab gejala anemia adalah polusi udara yang terkandung dalam asap. Salah satunya adalah proses pembakaran sate yaitu karbon monoksida (CO) yang juga merupakan sumber polutan udara yang dapat merusak ikatan antara hemoglobin dan oksigen dalam darah (Makawekes et al. , 2. Patofisiologi keracunan CO-karbon monoksida mempengaruhi keadaan tubuh manusia melalui sistem hipoksia akibat kekurangan gas oksigen pada jaringan organ utama manusia. Organ tubuh yang paling terkena dampaknya adalah jantung dan otak (Dewanti, 2. Hb merupakan protein yang setiap gugus hemenya mengandung zat besi dan merupakan cincin porfirin yang mengikat molekul oksigen. Hemoglobin hadir dalam jumlah yang sangat besar dalam sel darah merah. Ketika jumlah hemoglobin dalam sel darah merah terlalu rendah, seseorang terlihat pucat dan lesu, suatu kondisi yang disebut anemia atau kurang darah (Pande Made Indra Premana, 2. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan pada literature review ini adalah critical review atau kajian kepustakaan yang menitikberatkan pada kajian dari berbagai literatur dengan menganalisis kandungan di dalamnya yang bersumber pada data sekunder yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Critical review penting diterapkan pada suatu penelitian dengan tujuan untuk menginformasikan kepada pembaca mengenai hasil-hasil penelitian lain yang berkaitan erat dengan judul penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti, menghubungkan penelitian dengan beberapa literatur yang ada, dan mengisi celah yang terdapat dalam penelitian-penelitian sebelumnya. Proses pencarian artikel atau literatur ditentukan dengan kriteria sebagai Artikel penelitian diterbitkan tahun 2019 s/d 2023 Artikel penelitian dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Subjek penelitian pedagang sate Artikel penelitian dengan akses terbuka Artikel penelitian memiliki teks lengkap 1795 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1793-1800 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Ada beberapa langkah dalam melakukan penelitian ini, yaitu . memilih artikel yang relevan, . mengumpulkan data awal untuk menyusun artikel, . mengangkat hal terkait topik, . menyatukan data penunjang, serta . menarik Dari hasil screening artikel didapatkan 30 artikel yang dilakukan studi kelayakan dengan membaca intensif dan meringkas. Ditemukan 10 artikel yang tidak spesifik mengenai pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap kadar hemoglobin. Hasil final diperoleh lima artikel yang relevan dengan kriteria dan studi kelayakan. Semua penulis berperan dalam mencari literatur dan proses seleksi. Dari pencarian tersebut diperoleh lima artikel yang diseleksi berdasarkan kata kunci: AuHemoglobin. Karbon Monoksida (CO). Pedagang SateAy. Berikut alur proses pemilihan literatur yang dilakukan oleh penulis: Gambar 1. Proses Pemilihan Literatur HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil kajian dari artikel atau literatur terdahulu yang relevan diperoleh data bahwa penelitian ini menggambarkan pengaruh terpapar zat karbon monoksida (CO) pada kadar hemoglobin dalam tubuh penjual sate dalam jangka waktu yang lama dan konsisten. Semakin lama seseorang terpapar karbon monoksida (CO) maka dapat beresiko tinggi mengakibatkan menurunnya kadar hemoglobin tubuh, bahkan juga dapat mengakibatkan rusaknya kadar hemoglobin. Hal ini tentu akan membahayakan kesehatan tubuh. Penulis menyarankan agar para pedagang 1796 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1793-1800 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. sate menggunakan APD (Alat Pelindung Dir. berupa masker untuk meminimalisir terpaparnya zat karbon monoksida (CO). Tabel 1. Proyek Pertumbuhan GDP Negara Terdampak COVID-19 No. Peneliti Tahun Desain Sampel Tujuan Hasil Dini 2022 Penelitian Sampel untuk mengukur Analisis risiko paparan Arista deskriptif dipilih karbon CO pada pedagang sate Putri, kuantitatif melalui diprediksi akan terjadi Amrina dengan teknik pada pada waktu pajanan Rosyada, pendekata purposive sate ke-10 tahun yang Widya n analisis sampling Lionita, sebanyak 58 menggunakan waktu pajanan yang Desri kesehatan orang arang di kota bertambah. Untuk Maulina Palembang serta mengurangi Sari. Fison menggambarkan pajanan CO tersebut. Hepiman, risiko pedagang Dian dalam disarankan Islamiati beberapa periode menggunakan waktu mendatang pelindung diri seperti masker serta dapat pemanggang listrik Irma 2022 Deskriptif Sampel untuk mengetahui Kadar Maryani kuantitatif penelitian ini kadar hemoglobin pada penjual sate di sebanyak 30 pada pedagang Kecamatan Garut Kota yang sebagian besar . %) asap memiliki Hemoglobin normal pengambilan arang didaerah dan sebagian kecil . sampel yang perkotaan %) dan memiliki kadar hemoglobin rendah. Banyaknya hasil kadar dikarenakan status gizi tahan tubuh yang optimal, yang pastinya dapat meningkatkan produktivitas kerja Suparya 2021 Cross 20 pedagang untuk Sectional sate retikulositnya kurang pembakaran sate dari normal sebanyak terhadap tujuh sampel . %), jumlah retikulosit jumlah pedagang normal empat sampel . %), 1797 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1793-1800 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Annisa Oliviani. Dini Arista Putri Dwi Purbaya Hildayan sate di Kecamatan dan jumlah retikulosit Wiradesa, lebih banyak dari Kabupaten Pekalongan sampel . %) Analitik 50 pedagang Menganalisis Berdasarkan hasil uji observasi sate dengan faktor-faktor yang chi-square diperoleh onal dan teknik dua variabel yang pendekat purposive darah memiliki p-value < an cross sampling serta faktor paling 0,05 yakni variabel dominan dalam kadar darah kebiasaan pedagang mengonsumsi kota yakni sebesar 0,015 Palembang 0,026. Pada terdapat satu variabel yang memiliki nilai p value < 0,05 yakni Karbon Monoksida . -value = 0,. Penelitia 25 pedagang Mengetahui Hasil sate dengan gambaran kadar kada deskriptif teknik hemoglobin pada pada penjual sate penjual sate ayam ayam di Kecamatan observasi sampling di Kecamatan Pahandut Kota Pahandut Kota Palangka Raya. Dari 25 Palangka Raya. orang yang memiliki kadar Hb normal sebanyak 16 orang . %), dan yang memiliki kadar Hb menurun atau anemia sebanyak 9 orang . %). Terlihat banyak yang anemia dibandingkan laki-laki dan juga anemia lebih banyak pada sampel dengan lama berjualan lebih dari 10 tahun. Hemoglobin memainkan peranan penting dalam tubuh, lebih spesifiknya memindahkan oksigen dari paru-paru untuk disalurkan. Hemoglobin adalah protein yang membentuk warna merah yang bertanggung jawab untuk mengirimkan oksigen ke seluruh tubuh yang terdiri dari empat partikel. Setiap partikel terdiri dari zat besi, partikel oksigen, dengan 2 partikel ini satu trombosit merah dapat mengirimkan empat partikel oksigen ke seluruh penjuru tubuh. (Deiin et. al, 2. 1798 | Volume 6 Nomor 3 2024 Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Volume 6 Nomor 3 . 1793-1800 P-ISSN 2656-274x E-ISSN 2656-4691 DOI: 10. 47476/reslaj. Pedagang sate yang setiap harinya terpapar asap pembakaran dari arang yang mengandung zat karbon monoksida (CO) dengan konsentrasi yang tinggi. Konsentrasi zat CO yang tinggi di dalam asap arang yang digunakan untuk pembakaran sate menyebabkan kandungan COHb dalam darah jadi meningkat. Keadaan ini tentu sangat membahayakan bagi kesehatan pedagang sate, termasuk pembeli atau orang-orang yang berada di sekitar lokasi asap. Paparan gas CO juga dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke terutama pada mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit bawaan tersebut. (Rizaldi et. al, 2. Disisi lain, paparan karbon monoksida (CO) juga menimbulkan efek samping. Efek yang paling banyak diketahui karena paparan gas karbon monoksida (CO) yaitu menurunnya daya tahan tubuh alergi, penyakit paru-paru, dan gangguan pernapasan, dan efek samping lainnya. (Rambing et. al, 2. Untuk mengurangi paparan CO pada pedagang yang berasal dari asap bakaran maupun polusi mengandung CO yang ada diudara, pedagang perlu selalu memakai alat pelindung diri berupa masker serta mengurangi waktu paparan. Sedangkan bagi pemerintah setempat dapat mengadakan penggalangan dan penanaman vegetasi di sepanjang area jalan untuk mengurangi jumlah kadar CO di udara sekitar. Hasil review ini mendapatkan bahwa Semakin lama seseorang terpapar karbon monoksida (CO) maka dapat berisiko tinggi mengakibatkan menurunnya kadar hemoglobin tubuh, bahkan juga dapat mengakibatkan rusaknya kadar Temuan ini penting bagi masyarakat khususnya pekerja yang berisiko terpapar karbon monoksida (CO) untuk fokus pada meningkatkan sistem perlindungan diri dengan membiasakan diri memakai APD (Alat Pelindung Dir. untuk meminimalisir risiko terpaparnya karbon monoksida (CO) demi menjaga kadar hemoglobin untuk kesehatan tubuh. KESIMPULAN DAN SARAN Dari beberapa kajian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa paparan karbon monoksida (CO) yang terkandung dalam asap sate dapat memengaruhi kadar hemoglobin pada tubuh pedagang sate. Selain dapat menurunkan kadar hemoglobin, jika terpapar dalam jangka waktu lama juga dapat mengakibatkan rusaknya kadar hemoglobin pada tubuh. Hal ini dapat berisiko terjadinya serangan jantung dan stroke, khususnya bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit tersebut. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terpapar karbon monoksida bagi pedagang sate adalah dengan membiasakan diri menggunakan APD (Alat Pelindung Dir. pada saat bekerja. Sedangkan bagi pemerintah setempat dapat melakukan upaya penanaman pohon yang dapat mengurangi transmisi gas karbon monoksida (CO) pada udara di sekitar. DAFTAR PUSTAKA