Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. Pengaruh Pemahaman Konsep Asesmen HOTS terhadap Kemampuan Guru Matematika SMA/SMK Menyusun Soal HOTS The Effect of Understanding the HOTS-based Assessment Concept on the Ability of SMA/SMK Mathematics Teachers to Develop HOTS-based Assessment I Wayan Widana Prodi Pendidikan Matematika. FPMIPA IKIP PGRI Bali. Denpasar. Indonesia Post-el: i. bali@gmail. Abstract. The ability of SMA/SMK mathematics teachers to develop HOTS-based Assessment is one of the important competencies in the Industrial Revolution 4. However, the field facts show that the ability of teachers to develop HOTS-based Assessment is very low, thus impacting on the low ability of students to solve contextual problems. This study aims to determine the direct effect of the teacher's understanding of the HOTS concept and the teacher's ability to develop HOTS-based Assessment. The study was conducted using a survey method, with a population of SMA/SMK mathematics teachers in the provinces of Bali. NTB, and NTT. The total sample of 400 people, selected using multistage random sampling techniques. The data were collected by questionnaire and analyzed by linear regression using SPPSS 23. The analysis showed that the teacher's understanding of the HOTS concept had a direct positive effect on the ability of the teacher to develop HOTS-based Assessment, with a value of F=521. =0. and a value of R-Square=0. 567 which meant that the understanding of SMA/SMK mathematics teacher about the HOTS concept contributed 56. 7% to the ability of SMA/SMK mathematics teachers to develop HOTS-based Assessment, while 43. 3% was influenced by other factors. Key Words:HOTS concept. HOTS-based Assessment. SMA/SMK Mathematics Teachers semakin tumbuhnya masyarakat padat . nowledge masyarakat informasi . nformation societ. , dan masyarakat jaringan . etwork societ. yang membuat pengetahuan, informasi, dan jaringan menjadi modal sangat penting, dan . makin tegasnya fenomena abad kreatif menempatkan kreativitas dan inovasi sebagai modal penting untuk individu, perusahaan, dan masyarakat (Dikdasmen. Paradigma diantisipasi oleh para guru di sekolah untuk membekali siswa dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) PENDAHULUAN Era Revolusi Industri 4. 0 ditandai oleh 6 kecenderungan, yaitu . berlangsungnya revolusi digital sehingga mampu mengubah sendi-sendi . terjadinya integrasi belahan-belahan dunia yang semakin . berlangsungnya pendataran dunia . he world is fla. sebagai akibat mengglobalnya negara, korporasi, dan individu, . mengakibatkan dunia tampak berlari tunggang langgang, ruang tampak menyempit, waktu terasa ringkas, dan keusangan segala sesuatu cepat terjadi, . Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. pembelajaran dan penilaian (Tang et al. Keterampilan tersebut dirumuskan sebagai 4C yaitu: . critical thinking . emampuan berpikir kriti. bertujuan agar siswa dapat memecahkan berbagai permasalahan kontekstual menggunakan logika-logika yang kritis dan rasional. mendorong siswa untuk kreatif menemukan beragam solusi, merancang strategi baru, atau menemukan cara-cara yang tidak lazim digunakan . memfasilitasi siswa untuk memiliki kemampuan bekerja dalam tim, toleran, memahami perbedaan, mampu untuk hidup bersama untuk mencapai suatu tujuan. emampuan berkomunikas. memfasilitasi siswa untuk mampu berkomunikasi secara luas, gagasan/informasi, menginterpretasikan suatu informasi, dan kemampuan berargumen dalam arti luas (Widana. I Wayan. Suarta. I Made. Citrawan, 2. Penilaian hasil belajar diharapkan dapat membantu siswa untuk meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi karena dapat mendorong siswa untuk berpikir secara luas dan mendalam tentang materi pelajaran (Hong & Lawrence. Dengan demikian guru-guru dituntut untuk memberikan latihan soal-soal HOTS yang bermutu dalam jumlah yang cukup, sehingga siswa terbiasa menyelesaikan soal HOTS dan mampu menyelesaikan masalah-masalah Hal itu berarti bahwa para guru harus mampu menyusun soal HOTS agar memiliki persediaan soal HOTS yang cukup sebagai bahan ujian atau latihan (Kemdikbud. Untuk bisa menyusun soal HOTS yang bermutu, para guru harus memiliki pemahaman yang cukup tentang HOTS. Pemahaman tersebut dapat dilakukan melalui diskusi-diskusi pada forum MGMP, diklat, workshop, atau mencari konsep HOTS secara mandiri melalui berbagai sumber belajar. Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi, yaitu keterampilan berpikir yang tidak sekadar mengingat ( rememberin. , . , menerapkan . Soal-soal HOTS kemampuan: . transfer satu konsep ke konsep lainnya, . memproses dan mengintegrasikan informasi, . mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, . menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan . menelaah ide dan informasi secara kritis. Dengan demikian soal-soal HOTS menguji mengevaluasi, dan mencipta (Brookhart. Dalam pengembangan kompetensi siswa, penilaian tidak hanya mengukur hasil belajar, namun yang lebih penting adalah bagaimana penilaian mampu meningkatkan kompetensi peserta didik dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu penilaian perlu dilaksanakan melalui tiga pembelajaran . ssessment of learnin. , . ssessment for learnin. , dan penilaian sebagai pembelajaran . ssessment as Penilaian atas pembelajaran dilakukan untuk mengukur capaian peserta didik terhadap kompetensi yang telah Penilaian untuk pembelajaran informasi kondisi peserta didik untuk memperbaiki pembelajaran, sedangkan Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. memungkinkan peserta didik melihat capaian dan kemajuan belajarnya untuk menentukan target belajar (Earl & Katz. Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah Anderson Krathwohl, terdiri atas kemampuan: emembering-C. , memahami . nderstanding-C. , . pplying-C. , menganalisis . , mengevaluasi . valuating-C. , dan mencipta . reating-C. Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis . nalyzing-C. , . valuating-C. , mencipta . reating-C. (Nayef et al. , 2. Kata kerja operasional (KKO) yang ada pada pengelompokkan Taksonomi Bloom menggambarkan proses berpikir, bukanlah kata kerja pada soal. Ketiga kemampuan berpikir tinggi ini . nalyzing, evaluating, dan creatin. menjadi penting dalam pembelajaran . ransfer of learnin. dan kreativitas (Krathwohl David R, 2. Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur prosedural saja. Dimensi metakognitif menghubungkan beberapa konsep yang memecahkan masalah . roblem solvin. , memilih strategi pemecahan masalah, menemukan . metode baru, berargumen . , dan mengambil keputusan yang tepat(Widana, 2017. Dalam struktur soal-soal HOTS Stimulus merupakan dasar berpijak untuk memahami informasi. Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan harus bersifat kontekstual dan menarik. Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, infrastruktur, dan lain-lain. Stimulus juga dapat bersumber dari permasalahanpermasalahan yang ada di lingkungan sekitar sekolah seperti budaya, adat, kasuskasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu. Stimulus informasi/gagasan, yang dibutuhkan untuk mengembangkan kemampuan mencari informasi, dan terkait langsung dengan pokok pertanyaan(Raiyn & Tilchin, 2. Karakteristik Soal HOTS Berikut ini dipaparkan karakteristik soalsoal HOTS(Widana, 2017. Mengukur Keterampilan berpikir Tingkat Tinggi Keterampilan berpikir tingkat tinggi . roblem solvin. , keterampilan berpikir kritis . ritical thinkin. , berpikir kreatif . , kemampuan mengambil keputusan . ecision Keterampilan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap siswa. Keterampilan berpikir tingkat tinggi pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada siswa untuk menemukan Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. Aktivitas dalam pembelajaran harus dapat mendorong siswa untuk membangun kreativitas dan berpikir Berbasis Permasalahan Kontekstual dan Menarik (Contextual andTrending Topi. Soal-soal HOTS asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, di mana siswa diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas Permasalahan dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, kehidupan bersosial, penetrasi budaya, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam Kontekstualisasi penilaian membangkitkan sikap kritis dan peduli terhadap lingkungan. Stimulus soal-soal HOTS harus dapat memotivasi siswa untuk mengintegrasikan informasi yang disajikan, tidak sekedar membaca. Salah satu tujuan penyusunan soal-soal HOTS kemampuan berkomunikasi siswa. Kemampuan berkomunikasi antara lain kemampuan untuk mencari hubungan antarinformasi yang disajikan dalam stimulus, menggunakan informasi kemampuan mentransfer konsep pada situasi baru yang tidak familiar, kemampuan menangkap ide/gagasan dalam suatu wacana, menelaah ide dan menginterpretasikan suatu situasi baru yang disajikan dalam bacaan. Tidak Rutin dan Mengusung Kebaruan Salah satu tujuan penyusunan soalsoal HOTS adalah untuk membangun kreativitas siswa dalam menyelesaikan berbagai permasalahan kontekstual. Sikap kreatif erat dengan konsep Soal-soal HOTS tidak dapat diujikan berulang-ulang pada peserta tes yang sama. Apabila suatu soal yang awalnya merupakan soal HOTS diujikan berulang-ulang pada peserta tes yang sama, maka proses berpikir siswa menjadi menghafal dan Siswa hanya perlu mengingat cara-cara yang telah pernah dilakukan sebelumnya. Tidak lagi terjadi proses berpikir tingkat tinggi. Soal-soal tersebut tidak lagi dapat mendorong peserta tes untuk kreatif menemukan solusi baru. Bahkan soal tersebut tidak lagi mampu menggali ide-ide orisinil yang dimiliki peserta tes untuk menyelesaikan masalah. Soal-soal yang tidak rutin dapat dikembangkan dari Kompetensi Dasar (KD) tertentu, dengan memvariasikan stimulus yang bersumber dari berbagai Pokok pertanyaannya tetap mengacu pada kemampuan yang harus dimiliki oleh siswa sesuai dengan tuntutan pada KD. Bentuk-bentuk soal dapat divariasikan sesuai dengan tujuan tes, misalnya untuk penilaian harian dianjurkan untuk menggunakan soalsoal bentuk uraian karena jumlah KD yang diujikan hanya 1 atau 2 KD saja. Sedangkan untuk soal-soal penilaian akhir semester atau ujian sekolah dapat menggunakan bentuk soal pilihan ganda (PG) dan uraian. Untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. tinggi (HOTS) akan lebih baik jika menggunakan soal bentuk uraian. Pada soal bentuk uraian mudah dilihat tahapan-tahapan mentransfer konsep ke situasi baru, kreativitas membangun argumen dan penalaran, serta hal-hal lain yang keterampilan berpikir tingkat tinggi. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS Terlebih dahulu guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS. Tidak semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS. Pilihlah KD yang memuat KKO yang pada ranah C4. C5, atau C6. Guru-guru secara mandiri atau melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS. Menyusun kisi-kisi soal Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru menulis butir soal HOTS. Kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu . kemampuan minimal tuntutan KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS, . memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, . merumuskan indikator soal, dan . menentukan level kognitif. Merumuskan Stimulus yang Menarik dan Kontekstual Stimulus yang digunakan harus menarik, artinya stimulus harus dapat mendorong siswa untuk membaca Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh siswa, atau isu-isu yang sedang Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, mendorong siswa untuk Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk menyusun stimulus soal HOTS: . pilihlah beberapa informasi dapat berupa gambar, grafik, tabel, wacana, dll yang memiliki keterkaitan dalam sebuah kasus. kemampuan menginterpretasi, mencari Langkah-langkah Menyusun Soal HOTS Langkah-langkah penyusunan soal HOTS, disajikan dalam Gambar 1 di bawah ini. Gambar 1. Alur Penyusunan Soal HOTS Penjelasan Untuk menulis butir soal HOTS, terlebih dahulu penulis soal menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan . dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang Pilih materi yang akan ditanyakan menuntut penalaran tinggi, kemungkinan tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan soal HOTS, penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal, dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal yang menarik dan kontekstual. Berikut dipaparkan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS. Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. menyimpulkan, atau menciptakan. kasus/permasalahan konstekstual dan menarik . yang memotivasi siswa untuk membaca. terkait langsung dengan pertanyaan . okok soa. , dan berfungsi. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS. Kaidah penulisan butir soal HOTS, pada dasarnya hampir sama dengan kaidah penulisan butir soal pada Perbedaannya terletak pada aspek materi . arus disesuaikan dengan karakteristik soal HOTS di ata. , sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal. Membuat pedoman penskoran . atau kunci jawaban Setiap butir soal HOTS yang ditulis harus dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian. Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, dan isian singkat. menyatakan tidak tahu apakah soal yang disusun HOTS atau tidak. Hasil telaah tersebut menunjukkan bahwa pengukuran hasil belajar yang dilakukan di sekolah kebanyakan masih mengukur kemampuan tingkat rendah (Lower Order Thinking Skills/LOTS). Hal itu tidak sesuai dengan tuntutan penilaian Kurikulum 2013 yang lebih menekankan pada model penilaian (Higher Order Thinking Skills/HOTS)(Direktorat Pembinaan SMA. Selain itu, hasil studi internasional Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan prestasi literasi membaca . eading literac. , literasi matematika . athematical literac. , dan literasi sains . cientific literac. yang dicapai siswa Indonesia sangat rendah. Pada umumnya kemampuan siswa Indonesia sangat rendah dalam: . menggeneralisasi kasus demi kasus menjadi suatu solusi yang umum. memformulasikan masalah dunia nyata ke dalam konsep mata pelajaran. melakukan investigasi(Puspendik, 2. Berdasarkan uraian di atas dapat sebagai berikut: . apakah pemahaman konsep asesmen HOTS berpengaruh terhadap kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS?. seberapa besar kontribusi pemahaman HOTS kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS? Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hasil telaah butir soal yang dilakukan oleh Direktorat Pembinaan SMA pada Pendampingan USBN tahun 2018 terhadap 26 mata pelajaran pada 136 SMA Rujukan yang tersebar pada 514 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi, menunjukkan bahwa dari 779 butir soal yang dianalisis sebagian besar ada pada Level-1 dan Level-2. Dari 136 SMA Rujukan, hanya 27 sekolah yang menyusun soal HOTS 20% dari seluruh soal USBN yang dibuat. Sebanyak 84 sekolah menyusun soal HOTS di bawah 20%, bahkan terdapat 25 sekolah METODE PENELITIAN Penelitian merupakan penelitian survei. Secara umum,langkah-langkah penelitian meliputi persiapan, pelaksanaan, tabulasi Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. pembahasan, penarikan kesimpulan, dan penyusunan laporan penelitian. Populasi penelitian adalah semua guru matematika SMA/SMK di Provinsi Bali. Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Metode pemilihan sampel menggunakan multistage random Tahap pertama sampel dipilih berdasarkan klaster daerah, masing-masing provinsi dibagi menjadi 3 . bagian yaitu barat, tengah, dan timur. Masingmasing bagian daerah tersebut dipilih kabupaten-kabupatennya secara random. Selanjutnya sekolah-sekolah (SMA dan SMK) dipilih secara random dari kabupaten-kabupaten yang terpilih tersebut. Semua guru-guru matematika pada sekolah terpilih dijadikan sampel penelitian. Berdasarkan langkah-langkah tersebut terpilih 400 orang guru matematika SMA/SMK di seluruh Provinsi Bali. NTB, dan NTT. Sampel-sampel tersebut tersebar pada 64 sekolah di Provinsi Bali, 18 sekolah di Provinsi NTB dan 18 sekolah di Provinsi NTT. Data pemahaman konsep HOTS dan kemampuan guru menyusun soal HOTS dikumpulkan dengan instrumen kuesioner. Penyusunan instrumen meliputi tahapan pembuatan kisi-kisi instrumen, penyusunan draf instrumen Pemahaman Konsep Asesmen HOTS (X) dan Kemampuan Guru Menyusun Soal HOTS (Y), validasi pakar terhadap draf instrumen, dan perakitan instrumen penelitian. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis regresi linear sederhana menggunakan bantuan program SPSS 23. 0 dengan taraf signifikansi 5% (Sig. =0. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Berikut ini disajikan hasil penelitian yang telah dianalisis menggunakan statistik analisis regresi sederhana yang diolah menggunakan program SPSS 23. Tabel 1. Model Summary R Square Adjusted R Std. Error of the Square Estimate Predictors: (Constan. Pemahaman_Konsep Model Tabel 1 di atas menunjukkan nilai koefisien korelasi R=0. 753, yang berarti bahwa pemahaman konsep HOTS memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS. Sedangkan RSquare=0. pemahaman guru matematika SMA/SMK Model 1 (Constan. tentang konsep HOTS berkontribusi 7% terhadap kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS, sedangkan 43. 3% di pengaruhi oleh faktor lainnya. Tabel 2. Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Sig. Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. Pemahaman_ Konsep Dependent Variable: Soal_HOTS Pada Tabel 2 di atas nilai Constant sebesar 872 dan pemahaman konsep . oefisien arah regres. 762 berarti bahwa persamaan garis regresi dapat dinyatakan Y=11. Koefisien arah garis regresi menyatakan perubahan rata-rata variabel X terhadap variabel Y. Oleh karena koefisien regresi bertanda positif, maka berarti bahwa setiap peningkatan 1 satuan nilai variabel pemahaman guru matematika SMA/SMK tentang konsep HOTS, maka akan terjadi peningkatan terhadap kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS sebesar 0. Tabel 3. ANOVAa Model Sum of Squares Mean Square Regression Residual Total Dependent Variable: Soal_HOTS Predictors: (Constan. Pemahaman_Konsep Tabel 3 menunjukkan nilai F sebesar 291 dengan nilai sig. =0. 000<0. berarti bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara pemahaman guru matematika SMA/SMK tentang konsep HOTS terhadap kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS. Sig. langsung terhadap kemampuan guru untuk menyusun soal HOTS. Hal itu berati bahwa pemahaman konsep tentang asesmen HOTS wajib dikuasai guru sebelum mulai menyusun soal HOTS. Jumlah guru yang sangat besar di Indonesia merupakan kendala tersendiri ketika pemerintah akan melakukan kompetensi guru khususnya peningkatan pemahaman guru tentang asesmen HOTS melalui workshop atau diklat-diklat Belum lagi terkendala geografis, domisili guru tersebut menyebar di seluruh pulau yang ada di Indonesia. Untuk mengundang para guru tersebut dalam rangka peningkatan mutu tentu secara langsung memerlukan biaya yang sangat besar dan waktu yang sangat lama. Walaupun sedemikian sulit untuk meningkatkan kompetensi guru di bidang melaksanakan tugas pembinaan terhadap guru matematika SMA/SMK dalam jumlah yang sangat terbatas. Kecilnya jumlah guru Pembahasan Secara teoretis, seorang guru matematika SMA/SMK dapat menyusun soal HOTS dengan baik apabila guru tersebut memahami konsep asesmen HOTS dengan baik pula. Konsep asesmen HOTS berkenaan dengan pengertian soal HOTS, karakteristik soal HOTS, prosedur menyusun soal HOTS. Sebaliknya, guru akan mengalami kesulitan menyusun soal HOTS apabila guru itu tidak memahami konsep asesmen HOTS. Secara empirik, hasil penelitian telah membuktikan bahwa pemahaman guru matematika SMA/SMK tentangkonsep asesmen HOTS berpengaruh positif Jurnal Emasains: Jurnal Edukasi Matematika dan Sains Volume IX Nomor 1 Maret Tahun 2020 Hal : 66 Ae 75 P-ISSN 2302-2124 E-ISSN 2622 8688 DOI :10. 5281/zenodo. yang mendapatkan pembinaan secara langsung oleh pemerintah, juga berdampak pada kecepatan peningkatan mutu Semakin sedikit jumlah guru yang memahami tentang konsep asesmen HOTS, tentu berdampak secara nasional yaitu semakin terbatasnya jumlah guru yang mampu menyusun soal HOTS dengan Mengingat keterbatasan-keterbatasan tersebut, maka sangat wajar bila kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS masih rendah. Sebagaian besar guru belum memahami konsep soal HOTS meliputi pengertiannya, karakteristiknya, dan bagaimana cara Apabila kondisi ini dibiarkan tentu akan berdampak pada rendahnya mutu lulusan SMA/SMK karena para siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk latihan soal dengan frekuensi yang Hal ini disebabkan oleh minimnya soal HOTS yang diproduksi oleh guru atau bahkan tidak punya sama sekali. Hasil riset menunjukkan kontribusi pemahaman konsep tentang asesmen HOTS terhadap kemampuan guru untuk menyusun soal HOTS sebesar 56. penyusunan soal HOTS dengan baik, maka guru akan mengalami kesulitan untuk menyusun soal HOTS. Sebenarnya pemahaman tentang asesmen HOTS dapat dilakukan dengan berbagai cara oleh guru, antara lain melalui diskusi dalam forum MGMP, mencari bahan bacaan pada media internet, atau membaca buku-buku elektronik tentang asesmen HOTS sehingga kendala pembinaan kompetensi guru melalui kegiatan-kegiatan secara langsung seperti workshop, diklat. IHT, atau bentuk lain dapat diminimalkan. Tentu saja SDM guru juga sangat berpengaruh mendapatkan informasi. Pemahaman konsep HOTS dapat mendorong guru untuk mencari informasi lebih rinci tentang konsep soal HOTS melalui berbagai media sosial seperti ebook, browsing internet. HP, dll yang berbasis digital. Pemahaman konsep asesmen HOTS dapat mempengaruhi kinerja seseorang untuk mengerjakan asesmen HOTS secara kreatif. Seseorang akan termotivasi untuk bekerja secara kreatif bila pemahaman konsep yang mantap telah dimiliki. Dengan demikian pemahaman konsep asesmen HOTS juga mempengaruhi kreativitas seseorang untuk menyusun soal HOTS. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan simpulan sebagai berikut: . pemahaman konsep asesmen HOTS berpengaruh positif langsung terhadap kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS. besarnya kontribusi pemahaman konsep asesmen HOTS terhadap kemampuan guru matematika SMA/SMK untuk menyusun soal HOTS adalah sebesar 56. 3% dipengaruhi oleh faktorfaktor lain. Saran