Vol. No. 2, 2025, 164-174. Homepage: https://ejurnal. id/jbd ANALISIS SISTEM PERTUMBUHAN DAN SINTASAN IKAN KAKAP. KERANG HIJAU DAN ANGGUR LAUT PADA BUDIDAYA TERINTEGRASI SISTEM RESIRKULASI TERKONTROL Lusiana1*. Heriansah2. Arnold Kabangga3. Nur Annisa Firliana Muchlis4. Muh. Imanuddin Akmal5 1,2,3,4,5Institut Teknologi dan Bisnis Maritim Balik Diwa Email correspondence*: lusiana@gmail. ABSTRACT Integrated aquaculture or IMTA is a cultivation method that involves several communities with different trophic levels, in terms of the utilization of food sources . in the waters. To determine the effect of species combinations on snapper growth in integrated cultivation of controlled recirculation system and To determine the effect of species combination on snapper survival in integrated cultivation of controlled recirculation system, the research method used was Complete Random Design (RAL) with 4 treatments and 3 replications and used ANOVA (Analysis Of Varianc. The results showed that the survival of white snapper during 5 weeks of maintenance showed that the cultivation system had a significant effect on the ability of fish to survive, with the highest value in P4 treatment (IMTA) of 85. 0% and lowest in P1 treatment . 80%, while P2 and P3 treatment 20% and 60. 40% respectively. This pattern indicates that the integration of snapper with green shellfish and sea grapes in the IMTA system is able to create a more stable maintenance environment and support fish survival through the use of feed waste and feces as a source of nutrition for other organisms, thereby reducing the accumulation of toxic materials such as ammonia that have the potential to trigger stress and death. The results of ANOVA's analysis, which showed a significant influence of species combinations on synthesizers, as well as Tukey's follow-up tests, which confirmed the very real difference between P4 and other treatments, reinforced that integrated aquaculture approaches are more effective than monocultures or simple polycultures in improving the survival of white snapper in a closed recirculation system. Keywords: controlled recirculation. green mussels. nutrient reduction. sea grapes. PENDAHULUAN Limbah nutrien merupakan konsekuensi tak terhindarkan dari budidaya intensif berbasis pakan karena ikan hanya mengasimilasi sebagian nitrogen (N) dan fosfor (P) pakan, sementara sisanya terakumulasi di air dan sedimen atau terbuang ke perairan penerima (Campanati et al. , 2021. Yang et , 2021. Yang et al. , 2. Studi-studi anggaran nutrien pada kolam dan tambak menunjukkan bahwa >90% N dan P masuk dari pakan, tetapi hanya sekitar 40Ae50% N dan 25Ae30% P yang keluar sebagai biomassa panen, sedangkan 30Ae70% lainnya menjadi sedimen atau effluent yang berpotensi memicu eutrofikasi (Yang et al. , 2021. Chaikaew et al. , 2. Pada skala kawasan, tambak udang pesisir di Tiongkok, misalnya, melepas puluhan ton N dan P per tahun ke estuari meskipun efisiensi pemanfaatan nutrien di dalam petakan relatif tinggi (Yang et al. , 2021. Yang et al. , 2. Untuk mengurangi kehilangan nutrien dan dampak lingkungan, teknologi budidaya berkembang ke arah kokultur/IMTA dan sistem resirkulasi (RAS), di mana spesies AufedAy . kan kaka. dikombinasikan dengan spesies ekstraktif seperti kerang hijau . ivalvia filter feede. dan anggur laut . pada satu kesatuan sistem (Nederlof et al. , 2021. Lothmann & Sewilam, 2022. Henares et al. , 2. Pendekatan ini memungkinkan limbah pakan dan feses dari ikan dimanfaatkan kembali oleh kerang sebagai partikel tersuspensi, sementara N dan P terlarut diserap makroalga sehingga meningkatkan efisiensi retensi nutrien, menurunkan FCR sistem, serta menambah produk sampingan bernilai ekonomi (Goda et al. , 2024. Nederlof et al. , 2021. Lohan & Sewilam, 2. Secara konseptual, sistem empat trofik . kanAeseaweedAe bivalviaAedeposit feede. mampu menahan 79Ae94% N, 165 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 164-174 Homepage: https://ejurnal. id/jbd P, dan C pakan. pada sistem tertutup/rasional, efisiensi realistis 45Ae75% dapat dicapai (Nederlof et al. , 2. Dalam RAS, pengelolaan limbah nutrien sangat krusial karena biaya penanganan limbah bisa mencapai 30Ae50% biaya produksi, dan konsentrasi nutrien yang tinggi menuntut solusi pemanfaatan, bukan sekadar pembuangan (Ende et al. , 2. Integrasi komponen biologis seperti mikroalga, makroalga, dan filter feeder di dalam RAS menawarkan jalur sirkular untuk mengkonversi nutrien limbah menjadi biomassa bernilai, sekaligus meningkatkan kualitas air . ksigenasi, penyerapan COCC, penurunan N dan P) (Li et al. , 2019. Ende et al. , 2024. Jakhwal et al. , 2. Studi RASAeIMTA dengan sea bass mikroalga tiram, misalnya, menunjukkan efisiensi penghilangan nitrat dan fosfat >96% di kolam alga, meskipun pertumbuhan bivalvia masih terbatas oleh pasokan pakan alami (Li et al. , 2. Co-culture ikanAeUlva dalam RAS juga dilaporkan memperbaiki kualitas air . eningkatan pH dan OCC, penurunan COCC, amonia dan nitra. sekaligus meningkatkan pertumbuhan dan status nutrisi ikan (Chatzoglou et al. , 2. Sistem RAS berbiaya rendah yang mengintegrasikan ikan, deposit feeder, dan halofit darat mampu menahan sekitar 64% N pakan dengan peluang peningkatan hingga mendekati penutupan beban DIN jika rasio biomassa tanaman ditingkatkan (Senff et al. , 2. Kajian sintesis anggaran nutrien di kolam air tawar menyimpulkan bahwa ikan umumnya mengasimilasi hingga A45% N dan 60% P pakan, dengan 7Ae32% N dan 30Ae84% P berada pada fraksi partikulat dan sisanya terlarut di kolom air (Campanati et al. , 2021. Azad et al. , 2. Pada tambak udang intensif, 43Ae49% N dan 27Ae31% P keluar sebagai biomassa panen, sementara 28Ae44% N dan 56Ae68% P mengendap sebagai sedimen. meski konsentrasi di air masih dalam batas baku mutu untuk N. P tetap melebihi standar sepanjang siklus (Yang et al. , 2021. Chaikaew et al. , 2. Secara agregat, tambak-tambak di pesisir Tiongkok melepaskan sekitar 4,77y10A ton N dan 3,75y10A ton P per tahun ke zona pesisir, menegaskan peran effluent akuakultur sebagai kontributor penting polusi nutrien (Yang et al. , 2. Angka-angka ini mendukung argumen bahwa pakan buatan adalah sumber utama N dan P pada sistem monokultur intensif, dan bahwa fraksi besar dari nutrien tersebut masih potensial untuk dimanfaatkan kembali melalui integrasi spesies ekstraktif. Tema dalam penelitian ini menjadi penting karena menggabungkan tiga komponen kunci: ikan karang bernilai tinggi . sebagai spesies fed, bivalvia filter feeder . erang hija. sebagai pengguna partikel organik, dan makroalga laut . nggur lau. sebagai penyerap nutrien terlarut, semuanya dalam kerangka RAS. Studi IMTA akuaponik air tawar yang ada umumnya berfokus pada nila, lele, mullet, udang air tawar, kerang air tawar, dan sayuran, dengan laporan bahwa kombinasi detrivorAemusselAetanaman dapat meningkatkan retensi N hingga E ISSN: 3032-3177 A83,5% dan P hingga A96,8% (Goda et al. , 2. sisi lain, studi RASAeIMTA laut yang ada banyak berfokus pada kombinasi spesifik seperti sea bass Ulva, abalon rumput laut merah, atau modul IMTA dengan rumput laut komersial (Kappaphycus alvarezi. (Li et al. , 2019. Hamilton et al. , 2022. Chatzoglou et al. , 2020. Azad et , 2. Sampai saat ini, laporan kuantitatif yang secara khusus menganalisis simultan laju pertumbuhan kakap, performa filtrasi dan pertumbuhan kerang hijau, serta serapan nutrien oleh anggur laut dalam RAS yang benar-benar terkontrol masih sangat terbatas. Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebelumnya, maka dalam penelitian ini akan mengisi kekosongan , seperti . Spesies dan kombinasi trofik: Kebanyakan studi IMTAAeRAS berfokus pada sea bass, salmon, atau tilapia dengan satu jenis seaweed dan/atau bivalvia. kombinasi spesifik kakapAekerang hijauAeanggur laut dalam sistem resirkulasi laut sangat jarang dilaporkan (Nederlof et al. , 2021. Li et al. , 2019. Lothmann & Sewilam, 2022. Kerrigan & Suckling, . Pendekatan simultan Aupertumbuhan anggaran nutrienAy: Banyak penelitian hanya menekankan bioremediasi . fisiensi penghilangan N dan P oleh seaweed atau mikroalg. atau hanya pertumbuhan spesies ekstraktif. analisis terpadu yang menghubungkan pertumbuhan kakap dan kerang hijau dengan reduksi konsentrasi NAeP oleh anggur laut dalam satu kerangka anggaran nutrien di RAS masih minim (Goda et al. , 2024. Nederlof et al. , 2021. Li et al. , 2019. Jakhwal et al. , 2. Konteks RAS terkontrol di lingkungan tropis/pesisir: Beberapa studi RASAeIMTA tropis berbiaya rendah sudah ada, namun umumnya pada sistem percobaan skala kecil dengan jenis ikan/halofit lain dan tanpa analisis detail retensi nutrien untuk tiap komponen (Senff et al. , 2. Penelitian Anda berpotensi mengisi kekosongan data untuk kombinasi spesies tropis bernilai ekonomi tinggi dalam RAS laut terkontrol. Dimensi circularity dan efisiensi sistem: Kajian circularity IMTA menunjukkan peningkatan hingga 80Ae90% untuk indikator bioremediasi dan efisiensi sumber daya, tetapi masih jarang yang mengaitkan metrik tersebut dengan konfigurasi spesifik RAS, parameter operasional . aju resirkulasi, kepadatan teba. , dan performa pertumbuhan multi-spesies secara bersamaan (Checa et al. , 2024. Campanati et al. , 2021. Henares et al. Pengelolaan limbah nutrien masih menjadi AubottleneckAy lingkungan dan ekonomi di akuakultur berbasis pakan (Ende et al. , 2024. Tabrett et al. , 2. pengembangan model budidaya terintegrasi kakapAe E ISSN: 3032-3177 166 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 164-174 Homepage: https://ejurnal. id/jbd kerang hijauAeanggur laut dalam sistem resirkulasi terkontrol memiliki dua kontribusi utama. Secara ilmiah, penelitian ini menyediakan data kuantitatif tentang hubungan antara aliran nutrien, fungsi trofik . ed vs ekstrakti. , dan respon pertumbuhan pada sistem laut tertutup, melengkapi kerangka teoritis retensi nutrien IMTA yang selama ini lebih banyak berasal dari studi konseptual atau meta-analisis (Nederlof et al. , 2021. Kerrigan & Suckling, 2. Secara praktis, hasil penelitian dapat digunakan untuk merancang protokol operasional . omposisi spesies, rasio biomassa, manajemen pakan, kontrol kualitas ai. yang menekan beban limbah, meningkatkan produktivitas multi-komoditas, serta mendukung transisi akuakultur menuju sistem resirkulasi rendah limbah dan ekonomi sirkular (Goda et al. , 2024. Ende et al. , 2024. Checa et al. , 2024. Campanati et al. , 2. II. METODE PENELITIAN Penelitian di laksanakan pada bulan Juli - Agustus 2025 di Institut akuakultur moncongloe Maros. Pengujian kualitas air dilaksanakan di Laboratorium Politeknik Pertanian Negeri Pangkep. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan beberapa perlakuan dan ulangan, serupa dengan rancangan eksperimen akuakultur yang digunakan oleh (Nurdini et al. , 2023. Yazed et al. , 2. Tabel 1: Perlakuan penelitian Kode Perlakuan Perlakuan Monokultur ikan kakap putih Pulikultur ikan kakap putih kerang hijau Polikultur ikn kakap putih anggur laut ombinasi ikan kakap putih kerang hijau anggur laut Sumber: (Nurdini et al. , 2023. Yazed et al. , 2. Tata letak wadah penelitian dapat di lihat pada gambar sebagai beikut: Gambar 1: Tata letak wadah penelitian Penelitian ini dilaksanakan sesuai prosedur dan tahapan sebagai berikut: Tahan persiapan, yaitu merupakan tahapan awal penelitian untuk menyiapkan organisme uji serta wadah dan media pemeliharaan. Organisme uji yang digunakan pada penelitian budidaya terintegrai resirkuasi tertutup ini adalah ikan kakap putih (Lates calcarife. , kerang hijau (Perna viridi. , dan Anggur laut (Caulerpa Racemos. Ikan kakap putih (Lates calcarife. diperoleh dari unit pembenihan di Kabupaten Takalar dengan bobot awal 2,0A0,2 g/ekor. Kerang hijau diperoleh dari perairan Segeri Kabupaten Pangkep dengan bobot awal 5,0A0,5 g/individu, dan anggur laut di peroleh dari Pulau Saugi Kabupaten Pangkep dengan bobot masing masing 150 g/tray. Wadah pemeliharaan ikan kakap, kerang hijau, dan anggur laut, menggunakan bak plastik berkapasitas 120 L. Media pemeliharaan menggunakan air laut bersainitas 30-32ppt kualitas air yang dapat ditolerir oleh setiap organisme. Berdasarkan literatur, nilai kisaran yang dapat ditolerir oleh ikan kakap,kerang hijau, dan anggur laut adalah pada suhu 27,5 Ae 34,0AC, oksigen terlarut (DO) 3,5 - 3,9mg/L, salinitas 25 Ae 32ppt, dan pH 7- 9, (Aslamiah et al. , 2019. Sagita et al. , 2. Tahap pemeliharaan, yaitu wadah pemeliharaan ikan kakap, kerang hijau,anggur laut. masingmasing di isi air 80 L. Organisme uji telah diadaptasikan selama 2 hari, ditimbang lebih dahulu sebelum ditebar sebagai bobot awal Selama 5 minggu penelitian di laksanakan pemberian pakan komersil Pakan diberikan dengan dosis 5% dari biomassa ikan dalam setiap wadah pemeliharaan dengan frekuensi 3 . kali sehari pada pukul 08. 00 dan 17. 00 WITA, (Appelbaum & Arockiaraj. Tahap pengumpulan data, yaitu data yang di ambil dari penelitian ini, meliput, sintasan,dan jumlah bobot pertubuhan ikan kakap. Data jumlah berat diperoleh dengan cara menimbang bobot ikan kakap 7 hari sampai pada akhir pemeliharaan. Pengukuran berat menggunakan timbangan digital ketelitian 0. Parameter kualitas air yang diukur . uhu, salinitas. DO, pH, amoni. mengacu pada prioritas parameter utama dalam pemantauan kualitas air akuakultur laut yang dilaporkan (Prapti et al. , 2021. Su et al. , 2. sebagaimana pada tabe 2 di bawah ini: Tabel 2: E ISSN: 3032-3177 167 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 164-174 Homepage: https://ejurnal. id/jbd Pengukuran kualitas air Parameter Waktu pengkuran Suhu . C) Setiap hari . agi dan sor. Salinitas Setiap hari . agi dan sor. Oksigen Setiap hari . agi dan sor. g/L) Setiap hari . agi dan sor. Amoniak Wwal,pertengahan,akhir . g/L) Sumber: (Prapti et al. , 2021. Su et al. , 2. Data pertumbuhan mutlak (PBM), pertumbuhan spesifik, dan sintasan dianalisis secara statistik dengan menggunakan analisis ragam (ANOVA), (Onuwa & Olanihun, 2. Untuk mengetahui pengaruh kombinasi kerang hijau dan anggur laut terharap pertumbuhan, dan sintasan, ikan kakap. Perlakuan yang berpengaruh nyata (P<0,. dilanjutkan dengan uji TukeyAos HSD untuk mengetahui perbedaan RKP antar perlakun, (Agbangba et al. , 2024. Norazmi-Lokman et al. , 2020. Yazed et , 2. Analisis ragam dan korelasi dilakukan pada selang kepercayaan 95% dengan menggunakan soffware program SPSS versi 25. Data parameter kualitas air di analisis secara i. HASIL DAN PEMBAHASAN Sintasan Hasil perhitungan sintasan (SR), ikan kakap yang dipelihara selama 5 minggu dengan metode kombinasi spesies yang berbeda dapat di lihat pada Gambar 2 sebagai berikut: Gambar 2: Sintasan (SR) 100,00% 85,40% sintasan (%) 80,00% 60,00% 60,40% 54,20% 43,80% 40,00% 20,00% 0,00% Sumber: hasil olah data penelitian Hasil perhitungan sintasan (SR) ikan kakap yang dipelihara selama 5 minggu dengan kombinasi spesies berbeda disajikan pada Gambar 2. Sintasan tertinggi diperoleh pada perlakuan P4 (IMTA: kakap kerang hijau anggur lau. yaitu 85,0%, sedangkan sintasan terendah terdapat pada perlakuan P1 . onokultur kaka. yaitu 43,80%. Perlakuan P2 . akap kerang hija. menghasilkan sintasan 54,20% dan P3 . akap anggur lau. 60,40%. Secara statistik, hasil uji Analysis of Variance (ANOVA) menunjukkan bahwa kombinasi ikan kakap, kerang hijau, dan anggur laut berpengaruh signifikan terhadap sintasan ikan kakap . <0,. Uji lanjut Tukey menunjukkan bahwa P1 tidak berbeda nyata dengan P2 dan P3 . >0,. , namun ketiga perlakuan tersebut (P1. P2. berbeda sangat nyata dengan perlakuan IMTA P4 . <0,. Pola ini menunjukkan bahwa penambahan kedua organisme penyerap/filter . erang hijau dan anggur lau. secara bersamaan memberikan peningkatan sintasan yang jauh lebih besar dibandingkan monokultur maupun polikultur dua Sintasan pada IMTA penelitian ini . ,0%) sedikit lebih tinggi dibandingkan sintasan udang vaname dalam sistem IMTA dengan ikan dan rumput laut yang dilaporkan sebesar 71%, (Verdian et al. , 2. , namun masih lebih rendah dibanding beberapa sistem IMTA air tawar dengan tilapia yang melaporkan sintasan di atas 90%, (Goda et al. , 2024a. Nurfadillah et al. , 2. Perbedaan ini dapat dikaitkan dengan jenis biota yang digunakan, kondisi lingkungan, lama pemeliharaan, dan padat tebar, (Goda et al. , 2024a. Nurfadillah et al. Verdian et al. , 2. Selain itu, sintasan monokultur dan polikultur pada penelitian ini lebih rendah daripada polikultur leleAenila . ,11%) dan monokultur . ,07%) yang dilaporkan sebelumnya, yang juga dipengaruhi oleh perbedaan spesies, padat tebar, dan durasi pemeliharaan, (Tawaha et al. , 2021. Wanja et al. , 2020. Yazed et al. , 2. Secara ekologis, sintasan yang lebih tinggi pada sistem IMTA (P. didukung oleh banyak penelitian yang menunjukkan bahwa integrasi spesies penyaring dan penyerapan nutrien mampu menurunkan konsentrasi nitrogen anorganik . monia, nitrit, nitra. serta memperbaiki kualitas air, sehingga menurunkan stres dan meningkatkan kelangsungan hidup ikan, (Cotou et , 2024. Goda et al. , 2024a. Guo et al. , 2022. Nurfadillah et al. , 2021. Rind et al. , 2023. Verdian et al. Pada sistem IMTA kakap laut Eropa, misalnya, sintasan, pertambahan bobot, dan efisiensi pakan lebih tinggi dibandingkan monokultur, dengan konsentrasi nutrien di air dan sedimen yang lebih rendah, (Cotou et , 2. IMTA lain berbasis tilapia, lele, udang, kerang, dan sayuran menunjukkan pemanfaatan limbah pakan dan ekskresi ikan yang lebih efisien. FCR yang lebih rendah . ,90 vs >1,. , serta peningkatan retensi N dan P dalam biota sehingga limbah terlarut E ISSN: 3032-3177 168 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 164-174 Homepage: https://ejurnal. id/jbd Pertumbuhan bobot mutlak (PBM) Hasil perhitungan pertumbuhan bobot mutlak (PBM) ikan kakap yang dipelihara selama 5 minggu dengan kombinasi spesies berbeda disajikan pada Gambar 3. Perlakuan P1 . onokultur kaka. menghasilkan PBM sebesar 1,53 g. P2 . akap kerang hija. sebesar 1,63 g. P3 . akap anggur lau. sebesar 1,74 g. dan P4 (IMTA: kakap kerang hijau anggur lau. sebesar 2,23 g. Nilai PBM tertinggi terdapat pada perlakuan P4 (IMTA), sedangkan yang terendah pada P1 . Gambar 3: Pertumbuhan Bobot Mutlak (PBM) pertumbuhan bobot mutlak . berkurang, (Goda et al. , 2024. Studi IMTA dengan tilapia dan ikan lokal juga melaporkan peningkatan pertumbuhan, sintasan, dan biomassa tilapia pada perlakuan IMTA dibanding tanpa IMTA, (Nurfadillah et al. , 2. Pada penelitian ini, kerang hijau dan anggur laut berperan sebagai filter feeder dan penyerap nutrien, yang memanfaatkan limbah organik dan anorganik dari kakap . eses, urin, dan sisa Peran organisme seperti ini dalam IMTA terbukti dapat menurunkan konsentrasi nitrogen anorganik dan partikel tersuspensi, sekaligus menstabilkan pH dan oksigen terlarut, sehingga mendukung kondisi lingkungan yang lebih baik bagi pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan, (Cotou et al. , 2024. Goda et al. , 2024a. Guo et al. , 2022. Rind et al. , 2023. Verdian et al. , 2020. )Dengan demikian, tingginya sintasan kakap pada perlakuan P4 logis dan sejalan dengan konsep IMTA yang mengoptimalkan pemanfaatan limbah pakan dan ekskresi sebagai sumber nutrien bagi komoditas lain. Sebaliknya, sintasan terendah pada monokultur (P. dapat dijelaskan oleh akumulasi sisa pakan dan kotoran kakap yang tidak termanfaatkan, yang kemudian diuraikan menjadi amonia, nitrit, dan nitrat. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa intensifikasi budidaya dengan manajemen pakan yang kurang efisien menyebabkan sebagian besar nutrien . ebih dari 50Ae 70%) terbuang sebagai limbah, meningkatkan konsentrasi nitrogen anorganik yang bersifat toksik dan menurunkan kelangsungan hidup ikan, (Munguti et al. , 2020. Xu et al. Review tentang toksisitas amonia menegaskan bahwa paparan amonia yang tinggi atau kronis dapat mengganggu fisiologi, imun, perilaku, dan pada akhirnya menurunkan pertumbuhan dan sintasan ikan, (Parvathy et al. , 2. Studi lapangan di kolam budidaya juga menemukan bahwa kadar amonia, nitrit, dan nitrat yang tinggi berkaitan dengan peningkatan kematian ikan dan kejadian penyakit, (Mramba & Kahindi, 2023. Wanja et al. , 2. Dengan demikian, perbedaan sintasan yang nyata antara monokultur, polikultur, dan IMTA pada penelitian ini sangat konsisten dengan literatur 2018Ae2024 yang menunjukkan bahwa: . kualitas air merupakan faktor kunci penentu . sistem IMTA dan teknologi pengelolaan nutrien lain . olikultur, biofloc, eco-substrat. cenderung meningkatkan pertumbuhan dan survival melalui perbaikan kualitas air dan efisiensi pemanfaatan limbah. akumulasi amonia dan nitrogen anorganik pada sistem monokultur intensif merupakan salah satu faktor risiko utama penurunan kelangsungan hidup ikan, (Cotou et al. , 2024. Goda et al. , 2024a. Guo et al. , 2022. Mramba & Kahindi, 2023. Nurfadillah et al. , 2. 2,23 1,52 1,63 1,74 Sumber: hasil olah data penelitian Berdasarkan hasil uji Analysis of Variance (ANOVA), kombinasi ikan kakap, kerang hijau, dan anggur laut berpengaruh nyata . <0,. terhadap PBM ikan kakap selama 5 minggu pemeliharaan. Uji lanjut W-Tukey menunjukkan bahwa perlakuan P1 berbeda nyata dengan P4 . <0,. , namun tidak berbeda nyata dengan P2 dan P3. Hal ini mengindikasikan bahwa integrasi penuh dalam sistem IMTA memberikan peningkatan pertumbuhan bobot yang lebih besar dibandingkan monokultur maupun polikultur dua spesies. Secara definisi, pertumbuhan bobot mutlak merupakan selisih antara bobot total ikan pada akhir penelitian dan bobot total ikan pada awal penelitian . etelah ditambahkan bobot ikan yang mati selama pemeliharaan, (Martadinata et al. , 2. Pada penelitian ini. PBM tertinggi pada P4 . ,23 . menunjukkan bahwa kondisi lingkungan dan pemanfaatan nutrien pada sistem IMTA lebih mendukung pertumbuhan kakap dibanding perlakuan Hasil ini sejalan dengan temuan bahwa perbaikan kualitas media budidaya serta peningkatan pemanfaatan nutrien pakan dapat meningkatkan pertambahan bobot ikan, misalnya pada kakap putih yang diberi pakan dengan penambahan asam humat sehingga pemanfaatan nutrien, pertumbuhan, dan E ISSN: 3032-3177 169 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 164-174 Homepage: https://ejurnal. id/jbd Pertumbuhan bobot spesifik (SGR) Hasil perhitungan laju pertumbuhan bobot spesifik (SGR) ikan kakap yang dipelihara selama 5 minggu dengan kombinasi spesies berbeda disajikan pada Gambar 4. Perlakuan P1 . onokultur kaka. menghasilkan SGR sebesar 1,62%. P2 . akap kerang hija. 1,70%. P3 . akap anggur lau. 1,78%. P4 (IMTA: kakap kerang hijau anggur lau. 2,12%. Nilai SGR tertinggi terdapat pada perlakuan P4 (IMTA), sedangkan SGR terendah pada P1 . Uji Analysis of Variance (ANOVA) menunjukkan bahwa kombinasi ikan kakap, kerang hijau, dan anggur laut berpengaruh nyata . <0,. terhadap SGR ikan kakap selama 5 minggu pemeliharaan. Uji lanjut WTukey memperlihatkan bahwa P1 berbeda nyata dengan P4 . <0,. , tetapi tidak berbeda nyata dengan P2 dan P3. Sementara itu. P3 tidak berbeda nyata dengan P4, namun juga tidak berbeda dengan P1, sehingga pola pengelompokan menunjukkan bahwa sistem IMTA (P. cenderung memberikan pertumbuhan terbaik, diikuti polikultur dua spesies, dan yang terendah Gambar 4: Pertumbuhan Bobot Spesifik (SGR) pertumbuhan bobot spesifik (SGR) kelangsungan hidup meningkat dibanding control, (Rasidi et al. Jika dibandingkan dengan penelitian integrasi kerapu macan, bawal bintang, dan rumput laut selama 150 hari yang menghasilkan rata-rata bobot akhir kerapu 173,45 A 36,61 g/ekor, (Putra et al. , 2. PBM kakap dalam penelitian ini relatif lebih rendah, terutama karena perbedaan spesies, durasi pemeliharaan, dan komposisi biota yang diintegrasikan. Demikian pula, nilai PBM pada penelitian ini lebih rendah daripada pertumbuhan bobot absolut benih ikan mas koki oranda yang mencapai 1,68 g dalam 1Ae2 bulan dengan dosis pakan alami cacing darah yang optimal, (Martadinata et al. Perbedaan-perbedaan tersebut dapat dikaitkan dengan jenis organisme, media . ir tawar vs air payau/lau. , padat tebar, dan strategi pemberian pakan, (Bambang et al. , 2024. Martadinata et al. , 2024. Rasidi et al. , 2020. Secara umum. PBM pada perlakuan IMTA dan polikultur lebih tinggi daripada monokultur. Hal ini konsisten dengan konsep bahwa sistem integrasi mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan limbah nutrien serta menjaga kualitas air. Dalam sistem IMTA, limbah nutrisi dari kakap . isa pakan dan fese. dimanfaatkan oleh kerang hijau dan anggur laut sebagai sumber nutrisi, sehingga mengurangi akumulasi bahan organik dan nitrogen anorganik di perairan. Pendekatan serupa, yakni peningkatan kualitas air dan pemanfaatan nutrisi telah terbukti mendukung pertumbuhan ikan, misalnya melalui penggunaan ecoenzim pada budidaya lele mutiara yang menjaga parameter kualitas air dalam kisaran layak dan tetap memungkinkan terjadinya pertambahan bobot selama pemeliharaan, (Bambang et al. , 2. Penelitian lain menunjukkan bahwa pengelolaan nutrisi dan pakan yang tepat, termasuk penggunaan feed additive, dapat meningkatkan retensi protein, efisiensi pakan, dan laju pertumbuhan spesifik pada ikan kakap putih, (Rasidi et , 2. Dengan menurunnya beban limbah di media budidaya, kualitas airtermasuk oksigen terlarut dan stabilitas parameter kimia lebih terjaga, sehingga mengurangi stres dan mendukung pertumbuhan ikan. Konsep hubungan antara kecukupan nutrisi, kualitas air, dan pertambahan bobot juga tampak pada pemeliharaan larva ikan gabus, di mana frekuensi pemberian pakan awal yang memadai pada sistem air hijau mampu mempertahankan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang baik, (Prihadi et al. , 2. Dengan demikian, peningkatan PBM pada perlakuan IMTA dalam penelitian ini dapat dijelaskan oleh sinergi antara perbaikan kualitas lingkungan dan peningkatan efisiensi pemanfaatan nutrien, yang sejalan dengan temuan riset budidaya modern, seperti, (Bambang et al. , 2024. Martadinata et al. , 2024. Prihadi et al. , 2018. Rasidi et al. , 2020. 2,50% 2,00% 2,12% 1,62% 1,70% 1,78% 1,50% 1,00% 0,50% 0,00% Sumber: hasil olah data penelitian Hasil analisis menunjukkan bahwa laju pertumbuhan bobot spesifik adalah persentase peningkatan bobot ikan per satuan waktu, yang dihitung dari perbedaan logaritmik bobot awal dan akhir dibagi dengan lama pemeliharaan . ari atau mingg. , (Ardiansyah & Permatasari, 2025. Prakoso et al. , 2020. Rahmawati et al. , 2. Pada penelitian ini. SGR tertinggi pada P4 . ,12%) menandakan bahwa ikan kakap dalam sistem IMTA mengalami peningkatan bobot harian relatif yang lebih besar dibandingkan monokultur dan polikultur dua spesies. Nilai SGR kakap dalam penelitian ini sebanding dengan SGR kakap putih yang dipelihara dengan pakan mengandung aditif tepung jinten hitam, di mana dosis optimal menghasilkan SGR sekitar 2,15% per hari, (Mardiana et al. , 2. , dan E ISSN: 3032-3177 170 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 164-174 Homepage: https://ejurnal. id/jbd juga sejalan dengan temuan bahwa penambahan asam humat dalam pakan kakap putih dapat meningkatkan SGR dan efisiensi pemanfaatan pakan dibanding control, (Rasidi et al. , 2020. Jika dibandingkan dengan penelitian IMTA pada ikan nila di sistem air payau. SGR kakap pada penelitian ini relatif lebih Misalnya, ikan nila yang dikokultur dalam sistem IMTApadi di air payau mencapai SGR sekitar 4,24% per hari dan secara signifikan lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur (Heriansah et al. , 2. Penelitian lain pada benih ikan semah di karamba jaring apung mencatat SGR sekitar 0,75% per hari dengan padat tebar optimal, (Subagja et al. , 2. Perbedaan antar studi ini terutama dipengaruhi oleh jenis organisme, ukuran awal, lama pemeliharaan, kondisi lingkungan, jenis pakan, dan kepadatan tebar, yang diketahui berperan besar dalam variasi SGR, (Heriansah et al. , 2023. Kabangnga et al. Kursistiyanto, 2016. Prakoso et al. , 2. Secara umum, nilai SGR kakap pada sistem monokultur dan polikultur pada penelitian ini lebih rendah dibandingkan SGR beberapa spesies air tawar yang diberi pakan kombinasi atau pakan fermentasi, misalnya ikan mas yang diberi pakan kombinasi nabati-hewani dengan SGR 3,52% per hari (Ardiansyah & Permatasari, 2. atau ikan bawal yang diberi tepung Lemna fermentasi dengan SGR 3,7% per hari, (Mose & Manganang, 2. Hal ini wajar mengingat perbedaan media . ir tawar vs payau/lau. , strategi pemberian pakan, dan fase Peningkatan SGR pada perlakuan IMTA dapat dijelaskan melalui perbaikan kualitas air dan pemanfaatan nutrien dalam Dalam IMTA, limbah organik . isa pakan, fese. dan nutrien anorganik dari ikan dimanfaatkan oleh organisme lain seperti kerang dan tumbuhan/rumput laut, sehingga mengurangi akumulasi limbah dan memperbaiki kondisi lingkungan budidaya ((Heriansah et al. , 2. Studi kokultur nila di sistem IMTA-padi menunjukkan bahwa tanaman berperan sebagai penyerap nutrien anorganik (NHCE. NHCEA. NOCEA. POCEAA), menjaga kualitas air, dan pada akhirnya meningkatkan SGR ikan dibanding monokultur, (Heriansah et al. , 2. Konsep serupa juga tampak pada penggunaan pakan atau aditif yang meningkatkan kecernaan dan retensi nutrien, yang berujung pada SGR dan konversi pakan yang lebih baik, (Ardiansyah & Permatasari, 2025. Rasidi et al. , 2020a. Restu et al. , 2. Kualitas Air Adapun variabel kualitas air yang diukur selama penelitian dan hasil lab kualitas air dan pengukuran suhu dan salinitas yang di peroleh pada saat penelitian dapat di lihat pada tabel tabel kualitas air sebagai berikut: Tabel 3 Hasil laboratorium, awal dan pertengahan Sampel NH4 NO3 PO4 NO2 N total Awal 0,048 0,188 0,009 0,027 0,227 0,027 0,798 0,046 0,260 0,565 0,078 0,443 0,638 0,841 0,023 0,061 0,139 0,275 0,577 1,009 0,553 0,738 0,041 0,265 1,026 Sumber: hasil olah data penelitian Tabel 4: Hasil laboratorium akhir Kode Sampel Sampel NH4 NO3 PO4 NO2 N total 0,214 0,031 0,030 0,006 0,239 0,101 0,045 0,018 0,003 0,140 0,111 0,058 0,023 0,011 0,158 Ikan IMTA Ikan Sumber: hasil olah data penelitian Tabel 5: Hasil pengukuran suhu dan salinitas Parameter Suhu . C) Salinitas . Perlakuan 24,9 26,5oC Perlakuan 24,9 26,5oC Perlakuan 25,1 28,3oC Perlakuan 24,9 27,6oC Sumber: hasil olah data penelitian Data laboratorium menunjukkan bahwa konsentrasi nitrogen anorganik (NHCE. NOCC. NOCE) dan fosfat (POCE) cenderung lebih tinggi pada perlakuan monokultur dan polikultur dibandingkan awal pemeliharaan, sedangkan pada fase akhir penelitian nilai-nilai tersebut menurun cukup tajam pada perlakuan IMTA (P. dibandingkan polikultur kakapAeanggur laut (P. dan kakapAekerang hijau (P. Total nitrogen akhir pada P4 . ,140 pp. juga lebih rendah dibanding P2 . ,158 pp. dan P3 . ,239 pp. Pola ini menunjukkan bahwa integrasi kerang hijau dan anggur laut berperan sebagai Auextractive speciesAy yang menyerap limbah nitrogen dan fosfor dari aktivitas metabolisme ikan dan sisa pakan, sehingga menurunkan akumulasi nutrien di kolom air. Temuan ini selaras dengan berbagai studi IMTA yang melaporkan penurunan signifikan amonia, nitrit, nitrat, dan fosfat pada sistem dengan bivalvia dan tanaman/rumput laut dibandingkan sistem kontrol atau polikultur biasa. E ISSN: 3032-3177 171 Jurnal Riset Diwa Bahari Vol. No. 2, 2025, 164-174 Homepage: https://ejurnal. id/jbd (Amalia et al. , 2022. Biswas et al. , 2020. Cotou et al. , 2024. Dong et al. , 2018. Kumara et al. , 2. Dalam konteks ambang kelayakan budidaya, kisaran NHCE. NOCC. NOCE, dan POCE pada penelitian ini masih berada di bawah atau mendekati nilai yang direkomendasikan untuk budidaya payau/laut, di mana amonia total <1 mg/L, nitrit <0,5 mg/L, dan nitrat <0,3Ae0,5 mg/L umumnya dianggap aman untuk banyak spesies budidaya (Zibiene & ibas, 2018. Tarunamulia et al. , 2024. Qiu et al. , 2. Penelitian di tambak bandeng dan udang di Indonesia, misalnya, melaporkan kisaran NHCE-N 0,041Ae0,470 mg/L. NOCC-N 0,001Ae0,040 mg/L. NOCE-N 0,062Ae 0,980 mg/L, dan POCE-P 0,012Ae0,648 mg/L sebagai rentang yang masih mendukung produksi di tambak payau, (Tarunamulia et al. , 2. Dalam studi IMTA udang windu dengan rumput laut dan kerang darah, perlakuan integrasi mampu menurunkan TAN hingga 50%. NOCC hingga 40%, dan NOCE hingga 33% dibanding monokultur, yang sekaligus meningkatkan laju pertumbuhan dan kelangsungan hidup udang, (Amalia et al. , 2. Pola penurunan nutrien di perlakuan IMTA pada penelitian kakap ini sejalan dengan mekanisme tersebut. Parameter fisik perairan pada seluruh perlakuan berada dalam kisaran yang sesuai untuk ikan kakap dan biota laut Suhu berkisar antara 24,9Ae28,3 AC dan salinitas stabil pada 32 ppt untuk semua perlakuan. Studi brackishwater dan marikultur menunjukkan bahwa suhu optimal untuk banyak ikan laut tropis berada sekitar 25Ae30 AC, sementara kisaran salinitas 20Ae34 ppt dianggap layak untuk budidaya ikan dan udang di tambak dan keramba, (Andika et al. , 2024. Tarunamulia et al. Penelitian IMTA bandengAeudangAetiram juga melaporkan kisaran suhu 25Ae29 AC dan salinitas 20Ae25 ppt dengan pertumbuhan yang baik, selama kadar amonia dan nitrit dijaga rendah, (Andika et al. , 2. Dengan demikian, variasi suhu dan salinitas pada penelitian ini relatif kecil dan tidak menjadi faktor pembatas, sehingga perbedaan kinerja pertumbuhan dan SGR kakap lebih mungkin dijelaskan oleh perbedaan kualitas kimia air . utrien/anorgani. dan struktur trofik sistem. Perbandingan antara perlakuan monokultur/polikultur dan IMTA dalam penelitian ini konsisten dengan hasil-hasil studi IMTA terbaru yang menekankan kemampuan sistem multi-trofik untuk memperbaiki kualitas air. IMTA berbasis halofit dan bivalvia dilaporkan mampu menurunkan total ammonia nitrogen hingga A97,5%, nitrit 56%, dan nitrat 41% dibanding kontrol, sekaligus meningkatkan performa pertumbuhan udang dan ikan bandeng, (Kumara et al. , 2. Model IMTA di tambak payau dengan ikan mugil, udang windu, rumput air, dan tiram juga menunjukkan penurunan signifikan karbon organik terlarut dan partikel organik, serta peningkatan efisiensi pemanfaatan nutrien dibanding polikultur konvensional, (Biswas et al. , 2. Dalam penelitian-penelitian tersebut, perbaikan kualitas air . ebih rendah TAN. NOCC. NOCE. POCE. DO stabi. selalu berkorelasi dengan peningkatan pertumbuhan, efisiensi pakan, dan produktivitas total. Hasil penelitian ini menguatkan bahwa keberadaan kerang hijau dan anggur laut dalam sistem IMTA berfungsi sebagai biofilter biologis yang menyerap partikel organik tersuspensi dan nutrien terlarut, sehingga menekan eutrofikasi dan toksisitas metabolit Bivalvia diketahui efektif menghilangkan partikel organik dan plankton melalui filtrasi, sedangkan tanaman air/rumput laut memanfaatkan nitrogen dan fosfor anorganik untuk pertumbuhan, (Dong et al. Kumara et al. , 2023. Oktaviyani et al. , 2. Pendekatan serupa juga diterapkan pada constructed wetlands terapung dan sistem akuaponik, di mana tanaman air mampu mengurangi TN. NOCEA. NHCEA, dan POCEAA hingga >70Ae90% dari air limbah akuakultur, (Oktaviyani et al. , 2023. Rivera-Gomez et al. , 2. IV. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan ikan kakap putih selama 5 minggu pemeliharaan menunjukkan bahwa sistem budidaya berpengaruh nyata terhadap kemampuan ikan untuk bertahan hidup, dengan nilai tertinggi pada perlakuan P4 (IMTA) sebesar 85,0% dan terendah pada perlakuan P1 . sebesar 43,80%, sedangkan perlakuan P2 dan P3 masing-masing mencapai 54,20% dan 60,40%. Pola ini mengindikasikan bahwa integrasi ikan kakap dengan kerang hijau dan anggur laut dalam sistem IMTA mampu menciptakan lingkungan pemeliharaan yang lebih stabil dan mendukung kelangsungan hidup ikan melalui pemanfaatan limbah pakan dan feses sebagai sumber nutrisi bagi organisme lain, sehingga mengurangi akumulasi bahan beracun seperti amonia yang berpotensi memicu stres dan Hasil analisis ANOVA yang menunjukkan pengaruh signifikan kombinasi spesies terhadap sintasan, serta uji lanjut Tukey yang menegaskan perbedaan sangat nyata antara P4 dan perlakuan lainnya, memperkuat bahwa pendekatan budidaya terintegrasi lebih efektif dibandingkan monokultur maupun polikultur sederhana dalam meningkatkan kelulushidupan ikan kakap putih pada sistem resirkulasi REFERENSI