Al-Fahmu: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir Volume 3 No. 2, 2024: 149-162 E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 https://doi. org/10. 58363/alfahmu. Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid Abdul Azis Fatkhurrohman Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga. Yogyakarta. Indonesia Article Info Article History: Abstract *Corresponding Author: Name: Abdul Azis Fatkhurrohman Email: azisfatih18@gmail. This paper tries to present the other side of Nurcholish Madjid's interpretation of the term kalimatun sawA` in surah Ali Imran . The interpretation of the verse, which has tended to be interpreted uniformly in the tafsir tradition, is interpreted differently by Nurcholish Madjid. In addition, behind his interpretation he proposes an offer of locality orientation in a broader context. The aspect of locality that has been the dominant starting point of the interpretation of the Qur'an, for Nurcholish Madjid is used as a point of departure that is sought to strengthen his interpretation. This research belongs to the qualitative research model. By using a library research approach, the author will explore Nurcholish Madjid's argumentation in interpreting Surah Ali Imran verse 64, especially on the term kalimatun sawA`. As a result, the interpretation of the verse shows a legitimization of the view of locality which in this case is interpreted as Pancasila. The term kalimatun sawA` , which is the key word in this verse, leads to the confirmation of the argumentation built with the results of the interpretation carried out. This view is very reasonable because the spirit of the values and messages of the Qur'an that preach the unity of the people does not limit the partition in a broad social context. Although explicitly Nurcholish Madjid's study of the Qur'an does not produce unity in terms of methodology, the spirit that is built cannot be separated from the values of the Qur'an itself. Keywords Indonesian Tafsir. Interpretation. Kalimatun sawA`. Locality. Nurcholish Madjid Received: 15 March 2024 Revised: 01 June 2024 Accepted: 26 June 2024 Published: 15 July 2024 Abstrak Tulisan ini mencoba menghadirkan sisi lain dari penafsiran Nurcholish Madjid terhadap term kalimatun sawA` pada surat Ali Imran . Penafsiran ayat tersebut, yang selama ini cenderung dimaknai seragam dalam tradisi tafsir, ditafsirkan secara berbeda oleh Nurcholis Madjid. Di samping itu, dibalik penafsirannya ia mengajukan suatu tawaran adanya orientasi lokalitas dalam konteks yang lebih luas. Aspek lokalitas yang selama ini dominan menjadi titik tolak dari adanya penafsiran al-QurAoan, bagi Nurcholish Madjid dipakai sebagai titik tuju yang diupayakan untuk meneguhkan penafsirannya. Penelitian ini termasuk pada model penelitian kualitatif. Dengan menggunakan pendekatan kepustakaan . ibrary researc. penulis akan menggali sajian argumentasi Nurcholish Madjid dalam menafsirkan surat Ali Imran ayat 64, khususnya pada term kalimatun sawA`. Hasilnya, interpretasi terhadap ayat tersebut menunjukan sebuah legitimasi terhadap pandangan lokalitas yang dalam hal ini diartikan dengan Pancasila. Term kalimatun sawA` yang menjadi kata kunci dalam ayat ini, mengarah pada peneguhan argumentasi yang dibangun dengan hasil penafsiran yang dilakukan. Pandangan tersebut sangat berdasar karena semangat dari nilai dan pesan alQurAoan yang mendakwahkan persatuan umat tidak membatasi sekat dalam konteks sosial yang luas. Meski secara eksplisit kajian Nurcholish Madjid terhadap al-QurAoan tidak melahirkan kepaduan dalam segi metodologis, namun semangat yang dibangun tidak lepas dari nilai-nilai al-QurAoan itu sendiri. Kata Kunci: Kalimatun sawA`. Lokalitas. Nurcholish Madjid. Tafsir Indonesia Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 150 PENDAHULUAN Terminologi kalimatun sawA` dalam surat Ali Imran . ayat 64 yang selama ini cenderung dimaknai dengan seragam oleh sejumlah kalangan mufassir, mengalami pemaknaan yang berbeda di AutanganAy Nurcholish Madjid. Penafsiran Nurcholish Madjid memperlihatkan adanya distingsi dengan para mufassir baik dalam era klasik hingga kontemporer. Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya memaknai term tersebut dengan Aual-AoadlAy (Imam al-Qurthubi, 2. Uraian panjang lebar yang menjadi kecenderungan tafsir al-Qurtubi mengarah pada pembacaan umum atas struktur ayat ini. Begitupun dengan al-Thabari, memaknainya dengan Ausuatu yang tidak diperselisihkanAy, secara eksplisit diartikan dengan adil (Ath-Thabari, n. Pada era mufassir abad pertengahan, pemaknaan terhadap term tersebut tidak jauh berbeda. Ibnu Katsir mengartikannya dengan tauhid (Ibn Katsir Sedangkan as-Syaukani secara eksplisit mengartikan dengan kata Aoadl (Imam asy-Syaukani. Beranjak ke abad selanjutnya. Hamka dalam tafsirnya, menunjukan penegasan secara implisit dengan seruan kepada agama samawi yang mempunyai satu kecenderungan teologis. Hal tersebut berasal dari masing-masing utusan yang membawa pesan kepada umat, yaitu untuk kembali pada asas ajaran masing-masing Nabi dari agama samawi. Pada prinsipnya, penafsiran ini menegaskan pemaknaan tauhid dalam mengartikan term ini (Amrullah, 2. Senada dengan hal tersebut. Quraish Shihab juga menunjukan pemaknaan ke arah tauhid dalam memaknai term kalimatun sawA`. Shihab menerangkan, bahwa pada prinsip ajaran agama memiliki asas yang sama yaitu ketauhidan yang dibawa oleh para utusan masing-masing agama (Shihab, 2007, . Sejumlah mufassir memperlihatkan adanya kecenderungan yang sama dengan melihat struktur ayat ini secara lengkap, lebih khusus pada term kalimatun sawA` yang menjadi kunci dari pembacaan Nurcholish Madjid. Kalimatun sawA` yang dimaknai dengan Pancasila menjadi hasil penafsiran yang keluar dari tradisi tafsir selama ini. Dalam konteks geografis dan sosiologis yang sama, mendudukan Nurcholish Madjid dengan mufassir Indonesia menjadi penting. Begitupun lokalitas Indonesia dalam konteks ini, cukup memberikan warna dalam kancah studi QurAoan. Baik dari abad klasik hingga modern-kontemporer sekalipun, para mufassir cenderung memiliki pendapat yang senafas dalam menafsirkan term tersebut. Ketertarikan sejumlah peneliti dalam membedah gagasan-gagasan yang ditelurkan oleh Nurcholish Madjid menjadi konsekuensi logis atas popularitas dan luasnya cakrawala keilmuan yang dimilikinya. Sejauh ini dari hasil pemikirannya, baik dalam tataran praksis maupun teoritis telah menghasilkan sejumlah penelitian. Terlihat adanya kecenderungan para peneliti dalam melihat sisi-sisi keunggulan pemikiran Nurcholis Madjid yang dikaitkan dengan sejumlah diskursus. Kecenderungan pertama, para peneliti memperlihatkan aspek pendidikan dalam konsep pemikiran tokoh ini (Munir, 2018. Madakir et al. , 2022. Huda et al. , 2022. Nagri et al. Kedua, prinsipprinsip pemikiran Nurcholish Madjid dalam konteks perpolitikan secara teoritis menjadi sasaran oleh sejumlah peneliti (Muflihudin, 2018. Rahman & Mimbar, 2018. Rasyidin, 2. Ketiga, merupakan sorotan yansg paling jamaAo dari sejumlah peneliti dalam memandang Nurcholish Madjid dalam pandangan keagamaan dan hubungan sosial (Ulfa, 2013. Naim, 2015. Moko, 2017. Suryadi, 2017. NurAoAfifah, 1. Dari sejumlah kecenderungan dari berbagai peneliti terlihat adanya distingsi dengan orientasi dan fokus pada penelitian ini. Nurcholish Madjid yang notabene merupakan intelektual yang kompleks dengan berbagai fokus kajian yang digeluti, memberikan peluang yang Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 151 memungkinkan untuk melihat berbagai sudut pandang. Para peneliti terfokus pada beberapa aspek, pertama pemikiran pendidikan, kedua kajian politik secara teoritis dan ketiga sebagai tokoh inisiator pluralisme di Indonesia. Dari ketiga pijakan penelitian yang telah dilakukan, peneliti ingin masuk pada salah satu aspek yang belum banyak tersentuh. Aspek ini berkaitan dengan bagaimana orientasi penafsiran Nurcholish Madjid dalam memberikan argumen-argumen dan pemikirannya yang terpaut dengan tafsir keagamaan. Sejauh ini, lokalitas menjadi aspek penting yang menjadi titik tolak pembacaan sejumlah peneliti dalam membedah produk penafsiran. Lokalitas dikaitkan dengan konteks yang melingkupi wilayah sosio kultural seorang mufassir. Dalam tataran ini, persoalan konteks lokal menjadi satu sudut pandang dominan dalam melihat sejauh mana hasil penafsiran tersebut dianggap selaras dengan orientasi dan segmentasi yang dituju. Dominasi konteks lokal diposisikan sebagai titik tolak dalam membedah sebuah produk tafsir. Sejalan dengan hal tersebut, peneliti menemukan bahwa lokalitas dalam konteks yang lebih luas, diposisikan sebagai arah atau orientasi penafsiran. Nurcholish Madjid menjadi sosok yang menempatkan lokalitas tidak lagi menjadi titik tolak, namun menjadi titik tuju dalam pembacaannya terhadap kitab suci al-QurAoan. Dalam banyak argumen dan gagasannya. Nurcholish Madjid memberikan pretensi pada dasar-dasar Islam berupa al-QurAoan dan Hadits. Bahkan, di saat yang sama beliau juga menyinggung pandangan dalam beberapa aspek AoUlm al-QurAoan. Luasnya argumen keagamaan yang secara parsial terhadap pembacaan al-QurAoan, penelitian ini akan diarahkan ke dalam batasan mengenai penafsiran surat Ali Imran ayat 64. Hasilnya, penafsiran Nurcholish Madjid pada surat surat Ali Imran . ayat 64 ini, menggariskan adanya distingsi terhadap tradisi tafsir yang selama ini ada. Hal ini disebabkan karena, aspek lokalitas yang selama ini dijadikan titik berangkat oleh sejumlah mufassir, di tangan Nurcholish Madjid dijadikan titik tuju untuk menghadirkan al-QurAoan untuk mengatasi problematika sosial Indonesia. Penelitian ini akan menyajikan sejumlah pembahasan secara komprehensif dari tema yang Pertama pendahuluan, yang mana akan disajikan problem akademik yang menjadi pijakan dari berangkatnya penelitian ini, beserta urgensi, gap penelitian, sudut pandang kebaruan dan kontribusi yang diberikan dari hasil penelitian yang dilakukan. Kedua metode penelitian, berisi tentang bagaimana alur penelitian ini dikerjakan. Ketiga hasil dan pembahasan. Pada bab ketiga ini, akan diuraikan mengenai biografi Nurcholish Madjid, konstruksi penafsiran untuk melihat sejumlah aspek yang menghasilkan penafsiran unik dari tokoh ini, dan mengungkap aspek lokalitas yang dipertimbangkan dalam penafsiran yang dilakukan. Keempat yaitu kesimpulan yang merupakan konklusi dan titik temu keseluruhan penelitian. METODE PENELITIAN Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode kualitatif dengan model pendekatan studi pustaka . ibrary researc. Penelitian kepustakaan menjadikan sumber-sumber tertulis sebagai data utama dalam penelitian. Dalam aspek sumber data, penelitian ini menggunakan sumber primer yang merujuk pada tulisan-tulisan karya Nurcholish Madjid, baik dalam bentuk buku ataupun artikel-artikel yang telah dipublikasikan. Peneliti akan mengarahkan pada pembacaan konten Sumber primer akan dikumpulkan, direduksi serta disajikan secara deskriptif yang kemudian dianalisis untuk menarik kesimpulan. Di sisi lain, peneliti memanfaatkan sumber Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 152 sekunder untuk memperkuat data, yang dalam hal ini peneliti memanfaatkan karya-karya akademik dari berbagai hasil penelitian dan kajian relevan yang telah ada sebelumnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Nurcholish Madjid Nurcholish Madjid atau lebih populer dengan panggilan Cak Nur merupakan salah satu tokoh yang cukup dipertimbangkan dalam dunia akademisi. Pemikiran dan gagasannya dianggap melampaui zaman. Seorang cendikiawan cum intelektual Islam dengan segudang gagasan pembaharuan di berbagai bidang, sangat lekat dengan ketokohannya. Abdul Malik nama kecilnya, dilahirkan pada 17 Maret 1939 dan menutup usia pada 29 Agustus 2005. Nama Nurcholish Madjid lebih dikenal dibanding nama kecilnya, sebab pada usia enam tahun memang namanya diganti pasca beberapa peristiwa internal yang dialami olehnya. Nurcholish Madjid lahir di Jombang Jawa Timur, tepatnya di daerah Mojoagung dari pasangan H. Abdul Madjid dan Hajjah Fathonah Mardiyah (Majid, 2. Latar belakang pendidikannya dimulai di Madrasah al-Wathaniyah. madrasah yang dikelola oleh orang tuanya sendiri. Dalam pendidikan formal Nurcholish Madjid mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat (SR). Jombang. Pasca menyelesaikan pendidikan dasarnya beliau masuk dalam pendidikan pesantren terkenal di Jombang. Darul Ulum. Salah satu pesantren yang juga sangat dekat dengan latar belakang keluarganya. Pendidikan di pesantren tersebut tidak mengantarkannya hingga selesai. Selama dua tahun saja beliau mengenyam di pondok pesantren Darul Ulum Jombang tersebut. Setelah itu ia berpindah melanjutkan pendidikan pesantrennya di Gontor. Pondok Pesantren Darussalam Ponorogo hingga lulus pada tahun 1960 (Sofyan & Madjid, 2003. Karir akademiknya dimulai sejak ia melanjutkan pendidikan di IAIN Jakarta sekarang sudah beralih menjadi UIN. Sejak menduduki status mahasiswa. Nurcholish Madjid sangat mencolok dengan ide dan gagasannya. Keterlibatan aktif di berbagai organisasi baik intra maupun ekstra kampus menjadi ajang aktualisasi diri bagi dirinya. Keunggulan dari gagasan serta ketajaman ide yang dituangkan, mengantarkannya menjabat selama dua periode di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI). Satu-satunya sosok yang pernah menduduki posisi ketua selama dua periode sepanjang sejarah di organisasi ini (Malik and Subandy 1. Sedangkan di organisasi luar, ia menjadi Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara, 1967-1969, asisten Sekjen IIFSO (International Islamic Federation of Students Organization/ Federasi OrganisasiOrganisasi Mahasiswa Islam Internasiona. 1968-1971 (Majid 2. Selama aktif di HMI, ia banyak mengembangkan pandangan tentang jawaban Islam terhadap masalah modernisasi yang dinilai sebagai pandangan seorang muslim yang idealis, yang setelah disempurnakan oleh Endang Saifudin Anshori dan Sakip Muhammad, menjadi dokumen resmi HMI yang berjudul Nilai-nilai Perjuangan HMI. Karena pandangan inilah yang menyebabkan Ia dijuluki AuNatsir MudaAy. Pada tahun 1978 atas prakarsa Leonard Binder. Fazlur Rahman dan Ford Foundation, ia mendapat kesempatan studi lanjut di universitas Chicago. Amerika Serikat, sampai meraih gelar doktor dalam bidang kalam dan filsafat pada tahun 1984. Kemudian pada tanggal 10 Agustus 1998, tepatnya ketika iklim politik Indonesia sedang menghangat, disebabkan gerakan reformasi yang Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 153 digerakkan oleh para mahasiswa dan kalangan perguruan tinggi, termasuk Nurcholish Madjid sendiri terlibat di dalamnya. Ketika itulah ia dikukuhkan sebagai guru besar luar biasa dalam bidang ilmu filsafat Islam di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Ridwan, 2. Terlepas dari pengaruh keluarga, pendidikan, baik selama belajar di Gontor maupun pendidikan di Amerika, pemikiran yang terbangun dalam sosok Nurcholish Madjid dipengaruhi oleh beberapa sosok lain yang memiliki peran penting dalam membangun bangsa. Ada tiga yang mempengaruhi pemikiran Nurcholish Madjid pertama, faktor sosial keagamaan yakni semakin transparannya disintegrasi keagamaan dan pertikaian intern umat Islam yang dikarenakan tidak adanya satu otoritas kepemimpinan. Kedua, faktor kehidupan politik yang mengenal tiga tahap utama proses perkembangan Indonesia, ketiga tahap itu yakni tahap orde baru, orde lama dan orde Pada orde lama dan orde baru iklim perpolitikan negara memandang sinis terhadap aktivitas umat Islam. Ketiga, faktor ekonomi, realitas menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia adalah mayoritas, akan tetapi umat Islam-lah yang paling miskin dan terbelakang, ditambah hegemoni perputaran ekonomi yang dikuasai oleh sekelompok golongan yang dekat dengan kekuasaan (NurAoAfifah, 1. Pendapat lain diungkapkan oleh Azyumardi Azra, bahwa Nurcholish Madjid merupakan sosok pemikir yang sulit ditebak, karena terlalu sulit jika hanya dikaitkan dengan salah satu sumber Seperti halnya dalam beberapa pemikirannya terpengaruhi oleh Fazlur Rahman atau Ibnu Taimiyyah, tetapi dalam sisi lain terkadang bertolak belakang dengan pemikiran keduanya baik secara kreatif ataupun imajinatif (Azyumardi, 1. Sebagai seorang pemikir pembaharu neo modernis. Nurcholish Madjid menggunakan ijtihad dalam memahami dan meresepsi masa klasik Islam . Pentingnya masa salaf dengan ijtihad adalah bahwa proses ijtihad dan pembaharuan pemikiran tidak bisa dimulai dari titik nol. Jadi, melalui pengembangan pemikiran dari permulaan sama sekali hanya akan berakhir dengan kemiskinan intelektual (Aziz, 1. Nurcholish Madjid membangun pemikiran dengan merujuk dalam membangun pemikirannya, yakni perlunya kembali kepada al QurAoan dan hadis sebagai metodologi neo modernis Islam. Dengan demikian, penafsiran Nurcholish terhadap ayat-ayat al-QurAoan diperkirakan menimbulkan perbedaan kerangka metodologis penafsiran yang digunakan. Hal ini sejalan dengan klaim Nurcholish sendiri. Slogan kembali kepada Al-QurAoan dan Sunnah tentu tidak mengandung masalah penolakan atau penerimaan. Tetapi segi pelaksanaannya berbeda. Sebab di sini menyangkut tingkat pengetahuan dan pengertian, menyeluruh atau parsial, aksentuasi yang tepat atau tidak, latar belakang pendidikan, lingkungan dan kepentingan . (Rachman, 2. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pola pemikiran Nurcholish Madjid berada pada posisi seimbang dalam menilai tradisi dan modernitas. Adapun inti dari pola pemikiran tersebut dapat dirinci menjadi tiga, pertama. Nurcholish Madjid adalah figure yang tidak mau terjebak dalam dikotomi tradisionalis-modernis yang dibuktikan dengan penilaiannya yang adil tentang kelebihan modernisme dan tradisionalisme. Hal ini yang kemudian mengantarkannya pada pola pemikiran yang mampu mengatasi keduanya. Kedua, ia adalah figure yang secara sistematis telah merumuskan pandangan dasar keIslaman yang komprehensif, dengan ciri khas penonjolan watak inklusivisme Islam. Ketiga, ia adalah figure yang secara aktif turut dalam bidang sosial politik. Dari semua itu maka cukup alasan mengatakan bahwa ia adalah tokoh neo-modernis Islam di Indonesia (Aziz, 1. Nurcholish Madjid disebut sebut Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 154 menjadi salah satu penerus pemikiran neo-modernis Islam yang dikembangkan guru besar University of Chicago. Fazlur Rahman. Di Indonesia ada beberapa tokoh lainnya yang juga dianggap seperti itu Abdurrahman Wahid. Ahmad Syafii MaAoarif, dan Djohan Effendi (Rachman. Mereka berusaha memadukan tradisi dengan modernitas. Konstruksi Penafsiran Nurcholish Madjid terhadap Surat Ali Imran . Ayat 64 Dalam bangunan metodologi yang diterapkan Nurcholish Madjid, ia cenderung secara eklektik meminjam sejumlah teori penafsiran yang telah ada selama ini. Kecenderungan tersebut baik dipengaruhi oleh sejumlah tokoh yang mempunyai perhatian lebih dalam pengembangan teori-teori penafsiran di satu sisi dan secara bersamaan mengeliminasi tradisi penafsiran yang lain. Bagi Nurcholish Madjid, pendekatan atau teori yang paling pas dalam menafsirkan al-QurAoan adalah pendekatan tematik (Rachman, 2. Pendekatan yang lahir dari rahim modern ini, menurutnya dapat mempermudah masyarakat awam dalam menangkap kesatuan makna al-QurAoan yang tersusun atas sejumlah kesatuan utuh tema di satu sisi dan di sisi lain menghadirkan pemahaman yang komprehensif dan tidak parsial (Rachman, 2. Sejumlah tema yang terdapat dalam kitab suci menjadi realitas yang tercecer, sehingga upaya mufassir dalam pendekatan tematik menjadi konsekuensi logis dalam menghadirkan pesan yang utuh sebagaimana metodologi tematik yang telah ditetapkan para ulamaAo. Kecenderungan atas keberpihakan terhadap tafsir tematik tidak lantas membuat Nurcholish Madjid menganggap metode tafsir lain sebagai kesalahan. Ia tetap menempatkannya dalam ruang khazanah keilmuan Islam yang ikut mewarnai studi al-QurAoan. Pada porsinya, ia tetap merujuk pada tradisi tafsir, yang mau tidak mau bukan hanya dengan bangunan metodologi Metode tersebut, hanya memberikan konsekuensi penyajian dalam melihat satu tema kompleks yang tersebar dalam teks untuk kemudian, saling dikaitkan demi mencapai satu titik temu tentang bagaimana al-QurAoan berbicara dan menanggapi problem yang berkembang dalam Bagi Madjid, di titik tersebutlah kebutuhan yang diperlukan dalam konteks modern ini. Pada step selanjutnya. Nurcholish Madjid cukup AuterobsesiAy pada model tafsir maudhuAoi dengan menghadirkan pembacaan kontekstual. Dalam konteks tersebut, hirarki sumber penafsiran yang menunjukan adanya langkah-langkah dalam memposisikan sumber menjadi satu aspek lain yang penting untuk dipertimbangkan. Bagi Nurcholish Madjid, terdapat hirarki kontekstual dan universalitas dalam kandungan al-QurAoan yang tidak boleh diabaikan. Bahwa hirarki sumber yang menghadapkan teks dengan teks. al-QurAoan dan Hadits menjadi satu perangkat pasti namun di sisi lain, tidak cukup jika tidak melihat konteks yang luas pada satu pembahasan ayat tertentu. Perhatian terhadap konteks dan hirarki sumber tidak banyak mendapat perhatian dalam metodologi tekstual (Tasrif, 2. Penekanan terhadap hirarki tersebut, akan memperlihatkan keunikan setiap masa dalam menghubungkan konteks yang mengitari al-QurAoan. Dengan demikian, setiap generasi pada masa dan tempat tertentu memiliki hak bahkan kewajiban untuk melakukan penafsiran terhadap ajaran-ajaran yang terkandung dalam al-QurAoan. Sehingga pendekatan yang digunakan tentu tekstual dan non tekstual sekaligus. Hal ini bertujuan agar relevan antara hasil tafsiran dengan kondisi masyarakat Indonesia khususnya. Dialektika teks dan konteks menjadi pertimbangan penting bagi cara kerja penafsirannya. Ia menegaskan bahwa pembahasan terhadap tema-tema dalam Islam, diusahakan sejauh mungkin Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 155 tidak hanya bersifat normatif, dalam arti tidak hanya menekankan apa yang seharusnya menurut ajaran, tetapi dikaitkan dengan segi-segi peradaban Islam yang berkaitan, jika mungkin sebagai pembuktian historis perwujudan norma-norma dalam ajaran itu. Dengan kata lain, ketentuanketentuan normatif diusahakan dapat dilihat dalam kemungkinan pelaksanaan historisnya. Maka pendekatan kepada ajaran sejauh mungkin tidak dogmatis, melainkan analitis. Untuk menuju ke arah pendekatan analitis. Nurcholish Madjid membuat semacam prasyarat, yaitu seseorang harus memanfaatkan seluruh kekayaan Islam sejak masa klasik hingga sekarang. Inilah disebutnya sebagai "Membina Bangunan Intelektual Yang Utuh dan Relevan" sebagai respon terhadap tantangan dan tuntutan zaman (Madjid, 1. Cara pandang ini, bisa kita lihat dari upaya Madjid dalam membongkar dogma Islam terhadap agama lain. Madjid berpandangan, bahwa ide tentang pluralisme agama bukan diarahkan untuk menuding hitam-putih . enar atau sala. satu pandangan Lebih daripada itu, penerimaan terhadap keyakinan satu dan yang lainnya harus didahulukan dibandingkan menilai dengan kacamata salah benar (Madjid, 1. Secara keseluruhan upaya membina bangunan intelektual yang utuh dan relevan, bagi Nurcholish Madjid sejalan dengan diktum klasik dari kalangan ahli sunnah wa al-jama'ah yaitu, almuhAfaeah AoalA al-qadm al-sAlih wa al- akdha bi al-jadd al-aslAh . emelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik. Hal tersebut harus dilakukan sebagai upaya fungsionalisasi wahyu dan harus dianggap sebagai bagian dari kegiatan ijtihad. Nurcholish Madjid juga memanfaatkan pandangan para ulama penafsir al-QurAoan, baik klasik maupun modern. Dalam menggunakan pandangan para ulama. Ia melakukan seleksi atas dasar kesesuaiannya dengan makna atau ajaran yang disimpulkan dengan pendekatan tematik terhadap ayat-ayat al-QurAoan, dengan memperhatikan al-muhAfaeah AoalA al-qadm al-sAlih wa al- akdha bi al-jadd al-aslAh. Pancasila dalam Al-QurAoan. Penafsiran Nurcholish Madjid terhadap Terminologi Kalimatun SawA` s s a a a A Oa a e aaE caa a iAUa Oa AoA a a aacac a aA a a ae ea eua oA o a AOI A a A a cAa eUA c U a e U a cAa eUA a a e a a Aa aUaa e u a E au ai a ae cAaea aOcAaeAa au e a Aa eUea a u A a e AeaOaI Aa ae eaA aoa e a aO aEca a ea a aIA Artinya: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah . kepada suatu kalimat . yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak . sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah". Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri . epada Alla. " Sebagaimana metodologi yang dibangun Nurcholish Madjid dalam menafsirkan Al-QurAoan, ia menyasar kepada konsep-konsep kunci yang terdapat dalam al-Qur'an itu sendiri. Meski terfokus dalam konsep kunci, bukan kemudian Nurcholish Madjid tidak memperhatikan struktur ayatnya, namun satu ayat menjadi satu komponen yang juga berpengaruh terhadap pembentukan makna. Pada posisinya, penafsiran surat Ali Imran . ayat 64 yang seringkali ingin diungkap yaitu terminologi kalimatun sawA` . Term ini dianggap sebagai pesan inti dalam satu konteks struktur satu ayat tersebut. Dalam menafsirkan ayat ini Madjid membangun dua argumentasi yang mendasari adanya satu konsep inti dalam term kalimatun sawA` yang kemudian ditafsirkan dengan Pancasila. Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 156 Argumentasi pertama dibangun dalam logika teologis. Dasar teologis ini banyak dikemukakan oleh para mufassir yang telah ada, baik dari masa klasik, pertengahan, modern hingga Salah satu yang menjadi rujukan Nurcholish Madjid dalam logika teologis ini terlihat adanya kesamaan dengan para mufassir tersebut, khususnya dalam tafsir Ibnu Katsir. Ibnu Katsir menjelaskan kalimatun sawA` yang dibangun atas dasar teologis menghasilkan penafsiran bahwa seruan untuk menyembah Tuhan tanpa ada persekutuan terhadap-Nya (Ibn Katsir, 2. Argumentasi teologis ini juga tampak pada pandangan Nurcholish Madjid dalam konteks memperlihatkan penafsiran kalimatun sawA` dengan monoteisme atau kalimat tauhid (Madjid. Ia tidak melepaskan konteks penafsiran yang telah ada, baik dari mufassir klasik, pertengahan modern hingga kontemporer. Pandangan ini tersirat dari gagasan Nurcholish Madjid saat mengetengahkan wawasan inklusif Al-QurAoan. Dengan realitas sosial-budaya yang beragam AlQurAoan harus mampu hadir dalam memberikan sebuah solusi agar heterogenitas identitas sosial di Indonesia mendapat titik untuk mempertemukan hal tersebut. Dengan melihat kondisi bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan seluruh bangsa sepakat bersatu dalam titik pertemuan besar, yaitu nilai- nilai dasar yang terangkum dalam Pancasila (Madjid, 1. Kesamaan agama dalam hal pesan dasar, bukan dalam bentuk yang materil atau formil seperti aturan-aturan positif tertentu. Menurut Nurcholish Madjid, terdapat titik temu kesamaan agama yang paling mendasar yaitu mendakwahkan pesan untuk mengEsakan Tuhan. Di sinilah kemudian titik temu persamaan yang menjadi argumen teologis yang ia jelaskan. Argumentasi kedua didasarkan pada konteks realitas historis-politis. Sejarah peradaban Barat pernah mengalami masa kelam saat dominasi gereja memegang otoritas politik. Sistem teokratik yang dibangun atas nama agama, seperti dalam sistem Kemaharajaan Romawi Suci . oly roman empir. di zaman pertengahan merupakan suatu jenis ketiranian. Secara prinsip tirani berlawanan dengan iman, yang mana seorang beriman dengan sendirinya mengemban kewajiban meruntuhkan tirani. Konsekuensi logis daripada ekspresi keimanan tersebut yaitu, mendorong individu-individu berupa pemutlakan hanya kepada Allah. Oleh karena itu di kutub yang berseberangan daripada iman ini ialah sikap memutlakkan sesuatu selain Allah, termasuk kepada manusia (Asad, 1. Dalam hal tersebut Nurcholish Madjid mengaitkan dengan ayat lain yang mempunyai irisan pesan yang sama, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 165. AuDan di antara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada AllahAAy Persoalan di atas berkaitan dengan syirik yang dipraktikan orang-orang Mekkah yang menyembah objek- objek fisik, seperti patung atau benda-benda sejenisnya. Dari persamaan pesan tersebut memposisikan padanan terhadap Tuhan dengan otoritas kekuasaan yang dilebih-lebihkan atau bahkan mendapat legitimasi agama, menjadi suatu bentuk kesesatan sebagaimana terjadi pada sejarah peradaban Barat. Hal ini yang kemudian menjadi irisan dari pesan yang ingin disampaikan oleh Nurcholish Madjid. Argumentasi selanjutnya, memperlihatkan bahwa Nurcholish Madjid tidak sekali atau dua kali dalam memberikan komentarnya terhadap ayat ini. Pola yang ia bangun memang tidak cukup Ini akan terlihat ketika dalam berbagai konteks tulisan atau pembicaraannya dalam Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 157 menyinggung atau menafsirkan ayat ini. Ini yang juga menjadi penting untuk dicatat bahwa, penafsiran tidak semata-mata terkumpul dalam satu kumpulan produk penafsiran, namun menjadi satu hal yang memberikan bentuk baru pada perhatiannya terhadap pembacaan al-QurAoan. Nurcholish Madjid kemudian memberikan penafsirannya dalam pembicaraan mengenai AuIslam di Indonesia dan Masalah KemajemukanAy. Realitas sosial dalam masyarakat Indonesia tidak lepas dari fakta masyarakat yang plural dalam berbagai aspek kehidupan. budaya, agama, bahasa, adat, suku dan lain-lain. Fakta pluralitas sosial yang hadir dalam masyarakat menjadi aspek kekuatan lokal yang membentuk sendi-sendi bernegara di satu sisi namun juga riskan akan perpecahan di kutub yang lain. Hal ini menandakan perlunya agama hadir sebagai penengah dalam mencarikan paying besar yang mampu untuk meneduhi pluralitas yang ada. Dalam hal ini lah, term kalimatun sawA` menjadi nilai penting yang harus diajukan untuk mengatasi pluralitas tersebut. Bagi Nurcholish Madjid, lagi-lagi konteks keIndonesiaan dikaitkan dengan Pancasila yang mampu merangkum nilai-nilai kesatuan besar yang mampu dijadikan satu titik temu dalam perbedaan yang ada (Madjid, 1. Di saat yang lain, ia juga memberikan komentarnya pada tulisan yang membahas mengenai AuPluralisme Islam dan Pluralisme PancasilaAy. Tulisan tersebut secara spesifik mengomentari Walter Bonar yang memposisikan Islam sebagai penghambat atas gagasan kemajemukan yang dapat disandingkan dalam konteks keberagamaan Indonesia (Sidjabat, 1. Bagi Walter. Islam dianggap meneguhkan eksklusifitas paham keagamaan Islam yang dipaksakan atas realitas kemajemukan dalam konteks keyakinan. Tanggapan ini kemudian mendapat respon dari Nurcholish Madjid dalam tulisannya tersebut. Ia kemudian membeberkan argumen sanggahan bahwa apa yang disangkakan oleh Walter tidak bisa dibenarkan. Dengan membawa sumber alQurAoan yang dalam hal ini term kalimatun sawA` diposisikan sebagai peneguhan bahwa Islam sesungguhnya tidak bersifat eksklusif sebagaimana anggapan Walter. Memperlawankan Pancasila yang memiliki kutub berlawanan dengan Islam menjadi argumen yang demikian mentah. Padahal Pancasila justru meneguhkan adanya Islam yang inklusif dan menjadi dasar keyakinan apapun dalam ekspresi keagamaan (Madjid, 1. Gagasan yang terus dikembangkan dalam konteks ini adalah upaya Nurcholish Madjid untuk menjadikan bahwa Pancasila menjadi makna tersirat dalam rumusan penafsiran kalimatun sawA`. Ini menjadikan bahwa konteks keIndonesiaan menjadi pertimbangan utama yang mampu menghasilkan penafsiran demikian. Di samping itu, dapat ditemukan dalam tulisan lain Nurcholish Madjid yang menyambungkan pemaknaan terhadap surat Ali Imran . Dalam hal ini. Madjid mengkonsepkan bahwa Pancasila menjadi kalimatun sawA` atau common platform yang menjadi titik temu masyarakat Indonesia majemuk. Bahwa sila pertama dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, menunjukan sebuah penegasan bahwa AuIslamAy pada titik ini menjadi bagian dari esensi ajaran yang dibawa oleh Nabi dan para Rasul. Pada titik ini genealogi agama semitik menjadi kunci atas pemahaman dasar mengenai konsep ketuhanan tersebut. Bagi Nurcholish Madjid, hal tersebutlah yang harusnya direnungkan. Islam yang hari ini dipahami dari kalangan golongan non-Islam sebagai pendaku Tuhan yang Esa, pada prinsipnya agama semitik juga mengajarkan hal demikian. Artinya tidak ada pertentangan ajaran dalam konsepsi ketuhanan yang hari ini dipahami lebih parsial dan cenderung distingtif. Islam tidak pernah tidak mengakui, lebih-lebih menyangkal bahwa ajaranajaran sebelumnya yang dibawa oleh Nabi dan Rasul sebelum Muhammad merupakan ajaran yang Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 158 sesat atau menyeru pada Tuhan yang lain. Pada prinsipnya semua ajaran Nabi dan Rasul menyeru pada Tuhan Yang Esa (Madjid, 1. Sejumlah pandangan di atas menjadi pola bangunan argumentasi dalam penafsiran atas term kalimatun sawA` yang dibangun Nurcholish Madjid. Dengan batasan konteks keIndonesiaan. Madjid kemudian menggali argumen tersebut, bahwa kalimatun sawA` terangkum dalam nilai-nilai Pancasila (Madjid, 1. Nilai dasar Pancasila yang merepresentasikan seluruh nilai persatuan baik dalam entitas sosial, kebudayaan, keagamaan menjadi satu titik temu yang menyatukan. Realitas kemajemukan dalam masyarakat Indonesia menjadi satu hal yang tidak terpisahkan. Bahwa kemudian, keniscayaan atas satu dasar nilai yang berangkat dari ayat Al-QurAoan, merupakan legitimasi teologis dalam melihat segala persoalan yang muncul akibat keberagaman. Oleh sebab itu manusia diserukan untuk kembali kepada kalimatun sawA` untuk melerai segala aktifitas yang menjadi penyebab ketegangan dalam konteks sosial di Indonesia. Lokalitas Penafsiran Nurcholish Madjid Sejauh ini, unsur lokalitas dalam penafsiran membidik adanya aspek-aspek budaya, bahasa, aksara, sosial-politik dan aspek-aspek lain yang berkaitan erat dengan suatu wilayah tertentu. Sejumlah aspek tersebut, dalam konteks Nusantara atau Indonesia menunjukan varian yang cukup Keragaman dari adanya unsur lokalitas tafsir disebabkan karena realitas sosial yang menjadi bangunan dasarnya. Perangkat bahasa, tradisi dan aksara menjadi unsur yang membentuk tafsir AuIndonesiaAy dari awal perkembangannya. Dinamika sosial adanya latar belakang tafsir menjadi sangat beragama (Gusmian, 2. Beragamnya unsur lokal yang dimasukan dalam tradisi penafsiran menjadi konsekuensi logis yang tidak bisa ditanggalkan. Dari seluruh aspek lokalitas di atas, menjadi unsur yang menyentuh seluruh penafsiran baik secara eksplisit maupun implisit (Johns, 2. Dinamika penafsiran dapat diterjemahkan dengan perkawinan antara tekstualitas al-QurAoan dan cakrawala mufassir. Ia menunjukkan adanya proses dialektis antara mufassir dan teks al-QurAoan yang berkaitan erat dengan realitas sosial yang dimiliki mufassir. Teks al-QurAoan kemudian dibaca dan diorientasikan kepada hadirnya suatu pesan real dalam kehidupan manusia. Orientasi tersebut tentu selaras dan tidak menyalahi klaim bahwa al-QurAoan menjadi teks yang mampu AubertahanAy dalam segala konteks kehidupan (Hidayat, 2. Universalitas makna merupakan satu jaminan bahwa al-QurAoan menjustifikasi dirinya sendiri yang mampu hadir di tengah masyarakat manapun. Jaminan tersebut setidaknya ditangkap oleh para mufassir sejauh ini yang mengupayakan suatu jembatan dalam menghubungkan teks keagamaan dengan realitas yang terus berkembang. Istilah Autafsir sebagai hidayahAy, dalam pengertian Johana Pink, menjadikan hal tersebut relevan. Bahwa tafsir al-QurAoan, idealnya mampu menghadirkan suatu pesan yang relevan dengan tidak mengesampingkan konteks yang mengitari mufassir (Pink, 2. Pergumulan tradisi dengan penafsiran memberikan pengaruh yang kuat pada hasil Hasil penafsiran yang lengkap, baik dalam bentuk produk kitab ataupun berbentuk ulasan dalam berbagai tulisan menyangkut tema tertentu, menjadi dua hal yang mendapat porsi perhatian sama dalam wilayah studi QurAoan. Tafsir al-QurAoan dapat dikatakan sebagai produk budaya, yang dalam hal ini merupakan dialektika antara mufassir, teks dan konteks (Gusmian. Konteks lokalitas dalam hal ini, menjadi salah satu struktur yang membentuk hasil Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 159 Ia menjadi sangat luas dan terlacak dalam struktur tradisi, politik dan ideologi yang melahirkan beragamnya penafsiran yang dihasilkan. Dengan demikian cukup tepat jika dikatakan bahwa keragaman tafsir, salah satunya dipengaruhi oleh lokalitas yang bergerak berkelindan dalam wilayah tertentu seorang mufassir dalam menafsirkan al-QurAoan (Putra et al. , 2. Lokalitas penafsiran yang selama ini dijadikan titik tolak dalam membaca hasil penafsiran khususnya di wilayah -Nusantara- Indonesia, menunjukan arah yang berbeda bagi Nurcholish Madjid. Hubungan antara lokalitas konteks dalam sejumlah penafsiran, dalam hal ini menjadi penafsiran yang diorientasikan terhadap lokalitas tersebut. Penafsiran Nurcholish Madjid dalam membaca surat Ali Imran ayat 64, menunjukan spirit lokalitas yang ingin diperjuangkan dalam hasil Lokalitas yang dimaksud di sini mengarah pada hubungan konteks yang lebih luas, yang mana pada tingkat geografis hubungan teritori negara. Aspek lokalitas tidak dapat diterjemahkan secara sempit karena pada tataran konsep, terjadinya hubungan tarik menarik antara konsep nasionalitas di sisi lain (Cooke, 1. Lokalitas yang menjadi tujuan Nurcholish Madjid dalam penafsiran, didukung dengan teori-teori penafsiran al-QurAoan yang selama ini telah banyak dipakai oleh kalangan mufassir lain. Dengan demikian tentu menjadi sangat menarik akan spirit yang dipakai sekaligus ditujukan dalam menampakan penafsiran yang dapat memberikan pesan selaras dengan konteks Indonesia. Dalam istilah Pink, tafsir selayaknya dapat hadir di tengah masyarakat luas dan secara nyata memberikan solusi dalam problematika sosial peradaban (Pink, 2. Pertimbangan konteks menjadi orientasi utama dalam proyek penafsiran al-QurAoan, agar dapat mendekatkan orang muslim dengan rujukan yang otoritatif dan tentu selaras dengan problematika yang muncul. Wajah kontekstualisasi semacam ini agaknya tidak terlalu tampak dalam kitab-kitab atau penafsiran klasik. Ciri khas produk kitab tafsir klasik menandakan adanya sebuah culture system . orak penafsira. yang justru membentuk ruang isolatif pada tafsir al-QurAoan itu sendiri yang jauh dari kehidupan Respon Pink terhadap sejumlah karya tafsir klasik tersebut, juga menjadi komentar yang cukup serius bagi Mustaqim. Ia mengistilahkan bahwa penafsiran al-QurAoan sempat mengalami bentuk ideologisasi tafsir, yang mana hal tersebut melahirkan ruang yang sulit diakses oleh masyarakat awam (Mustaqim, 2. Proses Nurcholish Madjid dalam membangun penafsiran pada surat Ali Imran ayat 64, memperlihatkan terjadinya internalisasi pluralitas sosial yang menjadi realitas sosial masyarakat Indonesia. Kesadaran tersebut, bagi Nurcholish Madjid penting untuk dipertahankan dalam mencarikan legitimasi dalam al-QurAoan sebagai basis yang otoritatif dalam melihat problem sosial yang sering dipantik oleh perbedaan identitas (Supardi et al. , 2023, . Problem sosial terkait dengan perbedaan identitas yang sering mencuat di Indonesia, menjadi suatu tantangan untuk Perbedaan identitas sosial yang menjadi kekayaan di satu sisi, sangat riskan dengan adanya perpecahan di sisi yang lain. Persoalan tersebut tentu penting untuk senantiasa diingat sebagai salah satu konsekuensi sosial. Penting kiranya terus memupuk kesadaran dan menanamkan suatu wacana yang dapat dijadikan pondasi penguatan untuk menanggulangi perpecahan. Pancasila dalam hal ini menjadi satu nomenklatur tepat ditempatkan sebagai acuan. Lebih-lebih lewat gagasan Nurcholish Madjid yang dibangun berdasarkan spirit dari nilai dan pesan al-QurAoan yang mendakwahkan persatuan umat tidak membatasi sekat dalam konteks sosial yang luas. Penafsiran Nurcholish Madjid terhadap kalimatun sawA` dalam surat Ali Imran . ayat 64 menunjukan adanya Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 160 titik temu dengan payung besar tersebut. Pancasila yang menjadi sendi persatuan tidak sama sekali berlawanan, bahkan selaras dengan pesan dalam ayat tersebut. Dengan demikian penafsiran yang dikemukakan oleh Nurcholish Madjid memperlihatkan adanya orientasi lokalitas-bangsa Indonesia, demi terwujudnya hubungan sosial yang harmonis di tengah pluralitas masyarakat Indonesia. Meski begitu, model penafsiran berbasis lokalitas perlu untuk ditempatkan pada ruang pembacaan tersendiri. Pintu masuk yang tepat dalam membaca kecenderungan dari tafsir yang dihasilkan dengan cara pandang tersebut, menjadi aspek yang diutamakan. Jika salah dalam menempatkannya, tidak menutup kemungkinan justru memantik terjadinya kontroversi. Pendekatan semacam itu, sebagaimana yang digunakan Nurcholish Madjid berimplikasi pada penyempitan makna al-QurAoan. Sedangkan, pesan al-QurAoan tidak hanya terbatas pada satu komunitas tertentu. dalam konteks ini, masyarakat Indonesia. Pertautan pesan . yang dalam istilah Walid Saleh mewujud sebagai tradisi genealogis (Saleh, 2. , tidak tercermin dalam hal ini. Penafsiran yang dihasilkan oleh Nurcholish Madjid lewat penekanan lokalitas dalam surat Ali Imran . ayat 64, terlampau jauh untuk melihat keterkaitannya dengan hasil-hasil penafsiran KESIMPULAN Heterogenitas dan pluralitas masyarakat Indonesia menjadi sebuah konsekuensi untuk mencarikan satu payung besar yang mana dalam hal ini diartikan dengan Pancasila. Pandangan tersebut sangat berdasar karena semangat dari nilai dan pesan Al-QurAoan yang mendakwahkan persatuan umat tidak membatasi sekat dalam konteks sosial yang luas. Penafsiran Nurcholish Madjid terhadap kalimatun sawA` dalam surat Ali Imran . ayat 64, menunjukan adanya distingsi dibandingkan dengan mayoritas mufassir selama ini. Penafsiran yang dihasilkan cenderung mengarah pada lokalitas serta batas sosiologis-geografis. Jika sejumlah mufasir membawa konteks lokal dalam penafsiran yang dihasilkan. Nurcholish Madjid justru meletakan lokalitasnya sebagai orientasi penafsiran yang dilakukan. Dalam hal ini memperjuangkan Indonesia dalam keutuhan dan persatuan atas realitas kemajemukan yang riskan akan perpecahan menjadi benang merah dari orientasi yang diperjuangkan. Meski secara eksplisit kajian Nurcholish Madjid terhadap Al-QurAoan tidak melahirkan kepaduan dalam segi metodologis, namun semangat yang dibangun tidak lepas dari nilai-nilai Al-QurAoan itu sendiri. Hal ini kemudian sangat selaras bahwa universalitas makna alQurAoan menjadi dapat diterjemahkan dalam kondisi dan wilayah yang tidak terbatas. Dari penelitian yang telah dilakukan sejauh ini, dapat dijadikan pijakan untuk mengembangkan kajian lebih lanjut khususnya dengan penafsiran dan lokalitas yang memiliki pertautan erat. Mengingat tidak sedikit juga para pakar al-QurAoan Indonesia, sehingga memungkinkan dalam melihat indikator kesamaan geografis terhadap hasil penafsiran dari berbagai ayat dengan apa yang telah ditelurkan oleh Nurcholish Madjid. DAFTAR PUSTAKA Amrullah. Tafsir al-azhar. Singapore: Kerjaya Printing Industries, 2. Asad. The message of the Quran. Dar al-Andalus. https://ixtheo. de/Record/1152452657 Ath-Thabari. Tafsir ath-Thabari . th ed. Pustaka Azam. Aziz. Neo-Modernisme Islam di Indonesia: Gagasan Sentral Nurcholish Madjid dan Abdurrahman Volume 3 No. 2 | 149-162 Copyright A 2024 Author . | E-ISSN: 2962-9314 | P-ISSN: 2964-1659 Nilai Lokalitas Penafsiran Kalimatun sawA` QS Ali Imran Ayat 64 Perspektif Nurcholish Madjid | 161 Wahid. Rineka Cipta. Azyumardi. Menuju Masyarakat Madani: Gagasan. Fakta, dan Tantangan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Cooke. Locality, structure, and agency: a theoretical analysis. Cultural Anthropology, 5. , 3Ae Gusmian. Tafsir al-QurAoan di Indonesia: Sejarah dan Dinamika. Nun: Jurnal Studi Alquran Dan Tafsir Di Nusantara, 1. Gusmian. Tafsir Al-Quran Bahasa Jawa Peneguhan Identitas. Ideologi, dan Politik Perlawanan. Suhuf, 9. , 141Ae168. Hidayat. Memahami Bahasa Agama: Sebuah Kajian Hermeneutik. Paramadina. Huda. Muhammad. , & Susandi. Konsep Pendidikan Islam Multikultural Dalam Pandangan KH. Abdurrahman Wahid Dan Nurcholish Madjid. Jurnal Pendidikan Dan Konseling (JPDK), 4. , 148Ae156. Ibn Katsir. Tafsir Ibnu Katsir . nd ed. Pustaka Imam SyafiAoi. Imam al-Qurthubi. Tafsir al-Qurthubi (IV). Pustaka Azam. Imam asy-Syaukani. Tafsir Fathul Qadir . nd ed. Pustaka Azam.