Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Kompetensi Sosial Guru pada Peningkatan Karakter Peduli Sosial Femas Galih Alfansyah1. Diah Puji Nali Brata2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Universitas PGRI Jombang Email: galihalfansyah593@gmail. Abstrak Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama guru, murid, tenaga kependidikan, orang tua/wali, dan masyarakat Namun, rendahnya kompetensi sosial guru masih menjadi penghambat dalam proses pendidikan, karena sebagian pendidik cenderung bersikap egois dan kurang peduli terhadap kebutuhan dan perasaan murid. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: karakter peduli sosial, . kompetensi sosial guru, dan . bentuk kompetensi sosial dalam penguatan karakter peduli sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik triangulasi data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa: . karakter peduli sosial tercermin melalui perilaku sehari-hari seperti menjadi pendengar yang baik, peduli terhadap lingkungan sekitar, beri perhatian, dan membiasakan diri membantu sesama, . kompetensi sosial guru tercermin dalam bersikap inklusif, objektif, serta tidak diskriminatif berdasarkan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, maupun status sosial ekonomi, kemampuan berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun, beradaptasi dengan lingkungan tempat bekerja, dan berkomunikasi dengan komunitas profesi dan lainnya, . bentuk kompetensi sosial guru dalam penguatan karakter peduli sosial dilakukan melalui pengendalian diri, komunikasi yang santun, kemampuan beradaptasi, kolaborasi antarguru, pembiasaan kegiatan sosial, serta keteladanan dalam perilaku sehari-hari. Kata Kunci: Kompetensi Sosial. Guru. Karakter Peduli Sosial PENDAHULUAN Guru merupakan komponen yang sangat krusial dalam proses belajar mengajar karena bertindak sebagai tenaga pendidik profesional yang tidak hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing, melatih, menilai, serta mengevaluasi perkembangan murid. Fungsi guru mencakup banyak aspek, mulai dari pendidik, pengajar, fasilitator, pembimbing, demonstrator, penasehat, hingga inovator dan motivator dalam mendukung pencapaian tujuan hidup murid (Nidawati, 2. Guru sebagai aktor utama dalam dunia pendidikan, sehingga dapat berinteraksi langsung dengan murid dan keberhasilannya sangat berpengaruh terhadap mutu pembelajaran. Oleh karena itu, kurikulum, sarana prasarana, serta motivasi belajar murid perlu disesuaikan dengan sesuai kebutuhan masa depan, dan disertai dengan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, mutu pendidikan di Indonesia akan semakin meningkat, terutama dalam memperkuat kompetensi sosial. Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama guru, murid, tenaga kependidikan, orang tua/wali, serta masyarakat sekitar (Nuraeni dkk, 2. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007, unsur-unsur kompetensi sosial guru mencakup: . Bersikap inklusif, objektif, serta tidak diskriminatif berdasarkan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, maupun status sosial ekonomi, . Berkomunikasi secara Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat, . Memiliki kemampuan beradaptasi di lingkungan tugas di seluruh wilayah Indonesia yang beragam secara sosial dan budaya, serta . Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, baik secara lisan maupun tulisan. Kompetensi ini tidak hanya berpengaruh terhadap peningkatan kualitas pendidikan, tetapi juga berkontribusi pada penguatan karakter peduli sosial murid di sekolah. Peduli sosial adalah sikap empatik dan kesediaan membantu orang lain secara sukarela sebagai bentuk kepekaan terhadap realitas sosial di sekitarnya. Menurut (Faelasup dan Handayani, 2. , peduli sosial merupakan bagian dari perkembangan emosional yang perlu ditanamkan sejak dini melalui pendidikan dan nilai ini mampu mendorong individu tidak hanya sukses secara pribadi, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Adapun unsur-unsur peduli sosial menurut (Aini dkk, 2. yang meliputi: . Menjadi pendengar yang baik, . Peduli pada lingkungan sekitar, . Beri perhatian, dan . Membiasakan diri membantu sesama. Oleh karena itu, penanaman nilai peduli sosial sangat penting karena tidak hanya membentuk individu yang sukses secara pribadi, tetapi juga berkontribusi positif dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis dan berkualitas. Menurut (Faelasup dan Handayani, 2. menyebutkan bahwa implementasi pendidikan karakter peduli sosial di sekolah dilakukan melalui berbagai kegiatan nyata yang mendorong tumbuhnya kepedulian murid, seperti bakti sosial, jumat berkah, kunjungan ke panti asuhan, serta kegiatan gotong royong. Aktivitas tersebut tidak hanya melatih kepekaan sosial, tetapi juga membentuk karakter murid agar memiliki akhlak mulia, empati yang tinggi, dan rasa tanggung jawab sosial. Pendidikan karakter peduli sosial berkontribusi penting dalam membangun sumber daya manusia yang berintegritas, berkelanjutan, serta siap memberikan manfaat positif bagi masyarakat dan lingkungannya. Pendidikan karakter khususnya karakter peduli sosial memiliki peran yang sangat penting dalam lingkungan sekolah. Namun, kenyataannya banyak sekolah belum mampu membentuk karakter murid secara nyata. Hal ini disebabkan karena pendidikan karakter hanya berhenti pada tataran wacana atau sekadar pemahaman kognitif dan psikomotor, kurangnya penanaman afektif disekolah. Akibatnya, ketika muncul permasalahan sosial, murid kurang mampu menunjukkan sikap simpati, empati, maupun toleransi, dan justru bersikap acuh tak acuh bahkan melakukan tindakan negatif seperti bullying (Taufikurrahman. Oleh karena itu, pendidikan karakter perlu diarahkan pada pembentukan peduli sosial yang nyata, sehingga murid tidak hanya memahami pentingnya nilai peduli sosial saja, tetapi juga mampu membuktikannya melalui sikap dan perilaku postif murid sehari-hari. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Suryanto, 2. , muncul masalah mendasar terkait kompetensi sosial guru di era modern, seperti menurunnya kemampuan untuk membangun komunikasi empatik, berkolaborasi secara efektif, serta merespons dinamika kelas dengan sensitivitas yang tinggi. Kondisi ini memprihatinkan karena fenomena tersebut terlihat dari sikap guru yang cenderung tidak peka dan kurang bertanggung jawab dalam menangani interaksi sosial di lingkungan sekolah. Padahal, menurut Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, guru dituntut untuk menjadi teladan yang utuh, tidak hanya dalam aspek pengetahuan tetapi juga dalam Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 sikap dan perilaku sosialnya. Menurunnya kompetensi sosial ini berpotensi besar menghambat terciptanya iklim belajar yang positif dan menyenangkan bagi murid. Berdasarkan studi pendahuluan di SMA Negeri 1 Jombang menunjukkan bahwa kompetensi sosial guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter peduli sosial di lingkungan sekolah. Namun, sebagian guru masih menunjukkan rendahnya kompetensi sosial yang menjadi hambatan dalam proses pendidikan, karena adanya sikap kurang peka terhadap kebutuhan dan perasaan murid. Oleh karena itu, sikap empati, inklusif, dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci dalam menciptakan suasana belajar yang harmonis dan saling menghargai. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai ilmu, tetapi juga sebagai teladan dalam kepedulian dan pendengar yang baik bagi murid. Melalui pembiasaan positif seperti saling membantu, menjaga kebersihan lingkungan, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial, nilai-nilai kepedulian sosial dapat ditanamkan secara nyata dalam kehidupan sekolah sehari-hari. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa karakter peduli sosial tercermin melalui perilaku saling tolong menolong, bekerja sama, menjaga kebersihan, serta bersikap ramah terhadap guru dan teman (Taufikurrahman, 2. Temuan ini sejalan dengan (Aditya, 2. , menegaskan bahwa sikap peduli sosial membentuk murid yang berakhlak mulia, berempati tinggi, dan bertanggung jawab sosial. Menurut (Kardinus. Akbar, dan Rusfandi, 2. menambahkan bahwa peduli sosial terlihat dalam perilaku toleran, disiplin, jujur, saling menyapa, dan solidaritas. Namun, menurut (Lestari dan Rohami, 2. menilai rendahnya kompetensi sosial guru masih menjadi hambatan karena kurangnya kepekaan guru terhadap kebutuhan emosional murid. Sebaliknya, menurut (Fauziah dan Suwandi, 2. menekankan pentingnya kompetensi sosial guru dalam membimbing murid agar mampu mengembangkan empati dan kepedulian terhadap sesama. Berdasarkan temuan tersebut, fokus penelitian ini adalah upaya penerapan karakter peduli sosial pada murid melalui peran kompetensi sosial guru dan bentuk-bentuk penerapan pada kompetensi sosial guru dalam memperkuat karakter peduli sosial di lingkungan sekolah. Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan: . Karakter peduli sosial, . Kompetensi sosial guru, . Bentuk kompetensi sosial pada penguatan karakter peduli sosial. Penelitian ini bermanfaat untuk memperkaya kajian pendidikan karakter, khususnya hubungan antara kompetensi sosial guru dan penguatan karakter peduli sosial murid, sebagai bahan evaluasi bagi guru dan sekolah dalam meningkatkan kompetensi sosial serta merancang program yang menumbuhkan karakter peduli sosial dan memberikan pemahaman pentingnya karakter peduli sosial guna membentuk pribadi murid yang memiliki sikap empatik, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, bertujuan untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang fenomena yang terjadi. Penelitian tersebut bertujuan untuk memperoleh data tentang kompetesi sosial guru pada penguatan karakter peduli sosial. Menurut (Sugiyono, 2. , penelitian kualitatif adalah pengumpulan data di lapangan dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi, di mana peneliti Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 berperan sebagai instrumen utama. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan triangulasi, dan analisis data bersifat induktif. Hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi. Subjek penelitian ini adalah guru sosiologi dan murid. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber untuk mengumpulkan data, yang meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Wawancara adalah proses pertukaran informasi antara dua orang melalui tanya jawab. Observasi dilakukan dengan mengamati langsung situasi sosial untuk memperoleh pemahaman menyeluruh. Dokumentasi mencakup pengumpulan catatan peristiwa yang telah terjadi, seperti tulisan, gambar, atau karya monumental. Dalam analisis data, peneliti menggunakan teknik kualitatif, yaitu reduksi data, display data, dan kesimpulan atau verifikasi data. HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Karakter Peduli Sosial Karakter peduli sosial merupakan salah satu nilai moral penting yang perlu ditanamkan sejak dini kepada murid. Penanaman nilai ini bertujuan agar murid memiliki empati, tanggung jawab, serta kesadaran terhadap keberadaan dan kebutuhan orang lain. Karakter peduli sosial juga berperan dalam membentuk kepribadian murid agar mampu bersikap solidaritas, menghargai perbedaan, dan hidup harmonis dalam lingkungan Dengan demikian, peduli sosial tidak hanya menjadi bagian dari pembentukan karakter individu, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam pembangunan moral dan penguatan semangat gotong royong di masyarakat. Salah satu unsur penting dalam penguatan karakter peduli sosial adalah kemampuan menjadi pendengar yang baik. Dalam konteks pendidikan, guru perlu memberikan ruang kepada murid untuk berbicara, menyampaikan pendapat, serta mengungkapkan isi hati dan perasaannya tanpa rasa takut. Sikap mendengarkan secara empatik membantu guru memahami kebutuhan murid dan membangun komunikasi yang aman serta nyaman di dalam kelas. Kondisi ini dapat mendorong kepercayaan diri murid untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Namun, realitas di sekolah masih menunjukkan bahwa terdapat guru yang justru menjadi penghambat proses pendidikan karena cenderung bersikap egois, kurang peka terhadap kebutuhan murid, serta kurang memahami perasaan dan isi hati mereka. Selain itu, kepedulian terhadap lingkungan sekitar juga menjadi bagian penting dari karakter peduli sosial. Guru memiliki peran strategis dalam memberikan contoh konkret dan membiasakan perilaku sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya, mematikan listrik setelah digunakan, serta menjaga kebersihan kelas. Pembiasaan tersebut dapat menumbuhkan kepedulian murid terhadap lingkungan sekolah dan lingkungan Kegiatan lain, seperti mendaur ulang botol plastik dan menanam pohon melalui ekstrakurikuler Sahabat Lingkungan, juga dapat memperkuat perilaku peduli sosial karena murid tidak hanya memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi juga terlibat langsung dalam tindakan nyata. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Unsur berikutnya adalah pemberian perhatian kepada murid. Guru memiliki tanggung jawab moral untuk mengenal murid secara lebih dekat, baik dari segi latar belakang, minat, bakat, maupun permasalahan yang mereka hadapi. Upaya ini dapat dilakukan melalui pengisian formulir refleksi dalam pembelajaran sebagai bentuk perhatian guru terhadap kondisi murid. Dengan mengenal murid secara lebih personal, guru dapat menciptakan suasana kelas yang hangat, empatik, dan mendukung perkembangan murid. Kepedulian guru juga tampak melalui tindakan sederhana, seperti menjenguk murid yang sakit, menghadiri takziah ketika ada keluarga murid yang meninggal, serta membantu murid yang sedang mengalami kesulitan. Selanjutnya, karakter peduli sosial dapat dikembangkan melalui pembiasaan untuk membantu sesama. Guru perlu memberikan keteladanan dalam bentuk sikap empati, gotong royong, dan kepedulian melalui berbagai kegiatan, seperti bakti sosial, donasi, dan program tutor sebaya. Selain itu, kebiasaan sederhana seperti saling menolong, berbagi, dan menjaga kebersihan juga dapat memperkuat nilai kepedulian sosial dalam kehidupan seharihari di sekolah. Interaksi positif antara guru dan murid akan menciptakan suasana sekolah yang nyaman, harmonis, dan penuh rasa saling menghargai. Melalui proses pembiasaan dan keteladanan tersebut, karakter peduli sosial dapat berkembang secara alami dalam diri Kompetensi Sosial Guru Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama guru, murid, tenaga kependidikan, orang tua atau wali murid, serta masyarakat sekitar. Guru yang memiliki kompetensi sosial mampu menunjukkan sikap santun, inklusif, objektif, dan empatik dalam membangun hubungan sosial di lingkungan Kompetensi ini sangat penting karena mendukung terciptanya suasana belajar yang kondusif, hangat, dan harmonis. Selain itu, kompetensi sosial juga menjadi sarana bagi guru untuk menanamkan nilai kepedulian, empati, kerja sama, serta sikap saling menghormati kepada murid. Salah satu bentuk kompetensi sosial guru adalah kemampuan untuk bersikap inklusif, objektif, dan tidak diskriminatif. Dalam praktiknya, guru perlu memperlakukan seluruh murid secara adil tanpa membedakan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, maupun status sosial ekonomi. Sikap ini dapat diwujudkan dengan membangun suasana belajar yang aman, menjaga tutur kata, serta menghindari candaan atau guyonan yang berpotensi menyinggung murid tertentu. Guru juga perlu memastikan bahwa tidak ada murid yang merasa tersisih karena perbedaan latar belakang SARA, yaitu suku, agama, ras, dan antargolongan. Selain itu, guru harus peka terhadap dinamika kelas dan mampu bertindak sebagai penengah ketika muncul tanda-tanda bullying, sehingga setiap murid merasa diterima dan dihargai di lingkungan sekolah. Kompetensi sosial guru juga tercermin dari kemampuan berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, serta murid. Komunikasi yang hangat, santun, dan fleksibel dapat menciptakan suasana kelas yang lebih akrab dan menyenangkan. Dalam pembelajaran, guru dapat menggunakan humor ringan atau candaan yang tetap beretika agar murid merasa nyaman Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 dan lebih antusias mengikuti kegiatan belajar. Di sisi lain, guru juga perlu menjaga komunikasi yang baik dengan rekan sejawat melalui sikap saling menghargai, kerja sama dalam pelaksanaan tugas, serta koordinasi yang terbuka. Dengan demikian, hubungan profesional yang harmonis dapat terbangun di lingkungan sekolah. Selain kemampuan berkomunikasi, guru juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tugas yang beragam secara sosial dan budaya. Kemampuan ini penting karena setiap sekolah memiliki karakter warga sekolah, budaya kerja, pola interaksi, dan kebiasaan yang berbeda. Oleh karena itu, guru perlu melakukan observasi awal untuk memahami karakter guru, murid, budaya sekolah, serta pola jam kerja yang Pemahaman terhadap lingkungan sekolah membantu guru menempatkan diri secara tepat dan bijak, bertindak secara proporsional, serta menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, menyenangkan, dan sesuai dengan kondisi sekolah. Melalui kemampuan adaptasi tersebut, guru juga dapat menanamkan nilai-nilai positif, seperti kejujuran, tanggung jawab, dan saling menghargai. Bentuk kompetensi sosial lainnya adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, baik secara lisan maupun tulisan. Dalam hal ini, guru perlu membangun komunikasi dan kolaborasi yang baik dengan rekan sejawat melalui keikutsertaan dalam kegiatan MGMP, koordinasi tugas, serta penyusunan modul ajar atau PPM secara bersama. Kolaborasi tersebut penting untuk menghindari tumpang tindih peran dan memastikan proses pembelajaran berjalan lebih terarah. Guru juga perlu menjaga komunikasi lintas mata pelajaran agar tidak terjadi miskomunikasi Kerja sama yang harmonis antarguru tidak hanya memperkuat profesionalisme di sekolah, tetapi juga menjadi contoh positif bagi murid dalam membangun sikap kooperatif, terbuka, dan saling menghargai. Bentuk Kompetensi Sosial Pada Penguatan Karakter Peduli Sosial Bentuk kompetensi sosial guru dalam memperkuat karakter peduli sosial terlihat dari kemampuan guru dalam mengendalikan diri, menciptakan kelas yang inklusif, berkomunikasi secara santun, serta menyesuaikan diri dengan karakter murid dan budaya Kompetensi sosial ini tidak hanya tampak dalam interaksi verbal, tetapi juga melalui tindakan nyata yang mencerminkan empati, gotong royong, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama. Melalui kompetensi sosial yang baik, guru dapat membangun lingkungan sekolah yang harmonis, saling menghargai, dan mendukung tumbuhnya karakter peduli sosial pada diri murid. Salah satu bentuk kompetensi sosial tersebut adalah pengendalian diri. Guru perlu menjaga tutur kata dan perilaku agar tidak menyinggung murid, termasuk menghindari candaan yang berpotensi menimbulkan diskriminasi, rasa tidak nyaman, atau perasaan Pengendalian diri juga tercermin dari kemampuan guru dalam bersikap tenang, peka terhadap dinamika kelas, serta menyelesaikan konflik secara bijaksana. Ketika guru mampu mengelola sikap dan emosinya dengan baik, suasana kelas menjadi lebih aman, ramah, dan terbuka. Kondisi ini membuat murid merasa dihargai, diterima, dan terdorong untuk berpartisipasi tanpa rasa takut. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Selain pengendalian diri, komunikasi dan kemampuan beradaptasi juga menjadi bagian penting dalam penguatan karakter peduli sosial. Guru perlu menjalin komunikasi yang ramah, sopan, dan empatik agar hubungan antara guru dan murid terasa akrab. Melalui komunikasi yang baik, murid akan merasa diperhatikan dan lebih mudah menyampaikan pendapat, perasaan, maupun kesulitan yang mereka hadapi. Di samping itu, guru perlu melakukan pengamatan awal terhadap budaya sekolah, karakter murid, serta pola interaksi yang berkembang di lingkungan sekolah. Pemahaman tersebut membantu guru menyesuaikan pendekatan pembelajaran dan pembinaan karakter secara lebih efektif, terutama dalam menanamkan nilai kejujuran, kedisiplinan, dan saling menghormati. Hubungan positif yang terbangun antara guru dan murid dapat meningkatkan motivasi murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Bentuk kompetensi sosial lainnya tampak dalam kolaborasi antarguru dan Guru perlu membangun kerja sama yang baik dengan rekan sejawat melalui keterlibatan dalam forum MGMP atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Melalui forum tersebut, guru dapat saling bertukar ide, berbagi tugas, menyusun modul ajar secara bersama, serta menyelaraskan kegiatan pembelajaran. Komunikasi lintas mata pelajaran juga perlu dijaga agar tidak terjadi kesalahpahaman dan agar proses pembelajaran berjalan secara Kolaborasi yang baik tidak hanya memperkuat koordinasi antarguru, tetapi juga membentuk budaya kerja yang saling mendukung dan harmonis. Lingkungan kerja yang positif tersebut menjadi teladan bagi murid dalam membangun sikap kooperatif, peduli terhadap sesama, dan memahami pentingnya kerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Penguatan karakter peduli sosial juga dapat dilakukan melalui pembiasaan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Guru dapat menumbuhkan kepedulian sosial dengan memberikan perhatian kepada murid yang mengalami kesulitan belajar, menjenguk murid yang sakit, serta membiasakan murid menjaga kebersihan lingkungan. Selain itu, murid juga perlu didorong untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, seperti bakti sosial, membantu teman yang sedang mengalami kesusahan, kerja bakti, mendaur ulang sampah botol, merawat tanaman, serta mengikuti edukasi kesehatan, anti-bullying, keselamatan lalu lintas, dan kegiatan keagamaan. Melalui pengalaman langsung tersebut, murid tidak hanya memahami makna kepedulian sosial secara teori, tetapi juga belajar menghayati dan menerapkannya dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian, karakter peduli sosial dapat tumbuh secara alami melalui keteladanan, pembiasaan, dan interaksi positif yang berlangsung di lingkungan sekolah. Pembahasan Karakter Peduli Sosial Penguatan karakter peduli sosial di sekolah sangat ditentukan oleh kemampuan guru dalam menerapkan kompetensi sosialnya melalui interaksi sehari-hari dengan murid. Karakter peduli sosial merupakan nilai moral penting yang berperan dalam membentuk kepribadian murid agar memiliki empati, rasa tanggung jawab, dan kepekaan terhadap Nilai ini menjadi dasar terciptanya kehidupan sosial yang harmonis, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Menurut Aini dkk. , karakter peduli sosial terdiri atas empat unsur utama, yaitu menjadi pendengar yang baik, peduli terhadap Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 lingkungan sekitar, memberi perhatian, dan membiasakan diri membantu sesama. Keempat unsur tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk murid yang berakhlak mulia dan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Unsur pertama dalam karakter peduli sosial adalah kemampuan menjadi pendengar yang baik. Dalam konteks pembelajaran, kemampuan ini perlu dimiliki oleh guru untuk membangun hubungan emosional yang positif dengan Ketika guru memberikan ruang kepada murid untuk berbicara tanpa rasa takut, murid akan merasa dihargai dan lebih berani terlibat dalam proses pembelajaran. Sikap mendengarkan secara empatik juga membantu guru memahami kebutuhan psikologis murid secara lebih utuh. Namun. Ramadhanti . menunjukkan bahwa masih terdapat guru yang kurang peka terhadap lingkungan sekitar, bersikap dominan, dan tidak memberikan kesempatan kepada murid untuk menyampaikan pendapat. Kondisi tersebut dapat menghambat perkembangan karakter sosial murid dan menurunkan motivasi belajar. Oleh karena itu, kemampuan mendengarkan menjadi dasar penting dalam pembentukan kepedulian sosial karena mengajarkan murid untuk menghargai orang lain, memahami perasaan sesama, serta membangun komunikasi dua arah yang saling menghormati. Pembiasaan seperti memberi kesempatan kepada teman untuk berbicara tanpa menyela, memahami perasaan lawan bicara, dan merespons cerita murid secara positif dapat menciptakan suasana kelas yang hangat, suportif, dan penuh empati. Unsur kedua adalah kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dalam hal ini, guru berperan sebagai teladan melalui tindakan sederhana, seperti menjaga kebersihan kelas, mematikan listrik ketika tidak digunakan, dan membuang sampah pada tempatnya. Kebiasaan baik tersebut dapat diperkuat melalui keterlibatan murid dalam berbagai kegiatan sekolah, seperti ekstrakurikuler Sahabat Lingkungan, program penanaman pohon, kerja bakti, dan kegiatan mendaur ulang sampah botol plastik. Aktivitas tersebut tidak hanya menumbuhkan kedisiplinan, tetapi juga membangun kesadaran murid tentang tanggung jawab terhadap lingkungan dan keberlanjutan kehidupan. Guru perlu membantu murid memahami bahwa merawat lingkungan bukan hanya kewajiban menjaga kebersihan, melainkan juga bentuk tanggung jawab sosial dan moral dalam mencintai alam ciptaan Tuhan. Dengan demikian, nilai kepedulian lingkungan di sekolah dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan solidaritas, gotong royong, dan kesadaran ekologis sejak dini sebagaimana ditegaskan oleh Fauzi. Zainuddin, dan Atok . Unsur ketiga adalah memberi perhatian. Aspek ini menjadi bagian penting dalam kompetensi sosial guru karena berpengaruh langsung terhadap kenyamanan, motivasi, dan perkembangan karakter murid. Guru yang berupaya memahami murid, mulai dari latar belakang keluarga, minat, hingga persoalan yang sedang dihadapi, akan lebih mampu menciptakan suasana kelas yang hangat, inklusif, dan penuh empati. Kepedulian guru dapat terlihat melalui tindakan sederhana tetapi bermakna, seperti menanyakan kondisi murid yang tampak tidak bersemangat, menyediakan waktu refleksi untuk menggali perasaan murid, menjenguk murid yang sakit, hingga menghadiri takziah ketika orang tua murid meninggal dunia. Tindakan-tindakan tersebut menunjukkan bahwa perhatian guru dapat membuat murid merasa dihargai, dipahami, dan diterima. Perasaan tersebut pada akhirnya mendorong murid untuk meniru perilaku empatik dalam interaksi sehari-hari. Aditya . menegaskan bahwa guru yang menunjukkan perhatian sosial secara tulus mampu Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 menumbuhkan karakter empati, toleransi, dan solidaritas pada murid. Melalui keteladanan dalam memberikan dukungan emosional dan kehadiran yang bermakna di tengah murid, guru dapat menciptakan rasa aman, keakraban, serta budaya kelas yang suportif dan penuh Unsur keempat adalah membiasakan diri membantu sesama. Kebiasaan membantu sesama merupakan wujud nyata dari karakter peduli sosial di sekolah dan dapat ditanamkan melalui berbagai kegiatan sosial, baik dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun Dalam hal ini, guru berperan sebagai teladan sekaligus penggerak yang menunjukkan empati, semangat gotong royong, dan kepedulian melalui kegiatan seperti bakti sosial, donasi, dan program tutor sebaya. Selain itu, kebiasaan sederhana seperti saling menolong, berbagi, dan menjaga kebersihan juga turut memperkuat nilai kepedulian sosial dalam kehidupan sekolah. Keterlibatan murid dalam berbagai kegiatan sosial tidak hanya menumbuhkan empati, tetapi juga melatih tanggung jawab dan kesadaran sosial. Dengan demikian, tercipta suasana sekolah yang aman, nyaman, dan harmonis. Melalui keteladanan guru, murid belajar bahwa sikap tolong-menolong merupakan bagian penting dari nilai kemanusiaan karena manusia sebagai makhluk sosial senantiasa membutuhkan bantuan orang lain. Nilai ini perlu terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi bagian dari karakter murid, sebagaimana dikemukakan oleh Burhanuddin dkk. Kompetensi Sosial Guru Kompetensi sosial guru merupakan kemampuan yang harus dimiliki setiap pendidik dalam membangun hubungan yang harmonis dengan murid, rekan kerja, orang tua, dan Kompetensi ini mencakup kemampuan berkomunikasi secara efektif, menunjukkan empati, bersikap inklusif, serta beradaptasi terhadap perbedaan sosial dan Melalui kompetensi sosial yang baik, guru dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, aman, dan menyenangkan, sehingga murid merasa dihargai, diterima, dan termotivasi dalam mengikuti proses pembelajaran (Lenny dan Rita, 2. Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007, kompetensi sosial guru mencakup empat aspek utama, yaitu bersikap inklusif, objektif, dan tidak diskriminatif. berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun. memiliki kemampuan beradaptasi dalam lingkungan tugas yang beragam secara sosial dan budaya. serta mampu berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, baik secara lisan maupun tulisan. Keempat aspek tersebut menjadi fondasi penting bagi guru dalam memperkuat hubungan dengan murid, menciptakan kelas yang harmonis, serta menanamkan nilai-nilai karakter seperti empati, toleransi, dan kepedulian sosial. Aspek pertama dari kompetensi sosial guru adalah kemampuan bersikap inklusif, objektif, dan tidak diskriminatif berdasarkan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, maupun status sosial ekonomi. Dalam praktik pembelajaran, sikap inklusif ditunjukkan melalui kesadaran guru untuk menghindari candaan, pernyataan, atau perlakuan yang berpotensi menyinggung perbedaan latar belakang murid, termasuk perbedaan SARA, yaitu suku, agama, ras, dan antargolongan. Sikap ini mencerminkan nilai sosial guru bahwa menghargai perbedaan tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam interaksi sehari-hari di kelas. Guru juga perlu bertindak sebagai penengah ketika terjadi konflik antarmurid serta memastikan setiap murid memperoleh perlakuan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 yang adil. Kesadaran terhadap hal-hal kecil, seperti guyonan ringan, menjadi penting karena dapat menimbulkan kesalahpahaman atau diskriminasi apabila tidak dikendalikan dengan Dengan kemampuan mengendalikan diri dan membangun kebiasaan positif sejak awal pembelajaran, guru dapat menciptakan suasana kelas yang aman, inklusif, serta peka terhadap perasaan dan isi hati murid. Kondisi tersebut sekaligus menjadi upaya pencegahan terhadap praktik bullying, sehingga setiap murid merasa dihargai dan diterima (Jumasril. Aspek kedua adalah kemampuan berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, masyarakat, serta murid. Dalam pembelajaran, komunikasi yang efektif terlihat dari penggunaan bahasa yang mudah dipahami murid, tetap sopan, membangun keakraban tanpa merendahkan, serta memberikan umpan balik yang konstruktif. Komunikasi semacam ini penting untuk menciptakan suasana kelas yang mendukung partisipasi aktif murid dan membuat mereka merasa aman dalam menyampaikan pendapat. Selain itu, guru juga perlu menunjukkan empati ketika murid menghadapi kesulitan, baik secara akademik maupun personal, dengan cara mendengarkan secara teliti dan memberikan respons yang mendukung. Sikap tersebut dapat meningkatkan rasa percaya diri murid karena mereka merasa diperhatikan dan Di luar kelas, guru juga dituntut mampu menjalin komunikasi yang baik dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat agar terbentuk kerja sama yang harmonis dalam mendukung perkembangan murid. Sari . menjelaskan bahwa kompetensi sosial guru tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga afektif, yaitu kemampuan membangun hubungan yang positif dan inklusif. Pengembangan kompetensi sosial guru terbukti berpengaruh terhadap kualitas interaksi antara guru dan murid, sehingga menciptakan lingkungan belajar yang hangat, menyenangkan, dan inklusif, serta meningkatkan motivasi murid dalam mengikuti pembelajaran. Aspek ketiga adalah kemampuan guru dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah yang beragam secara sosial dan budaya. Kemampuan adaptasi ini dapat dilakukan melalui pengamatan terhadap karakter murid, budaya sekolah, pola interaksi, serta sistem kerja yang berlaku sejak awal guru berada di lingkungan tugas. Melalui observasi tersebut, guru dapat memahami kondisi sekolah secara lebih utuh sehingga proses adaptasi berjalan dengan baik. Dalam praktiknya, guru dapat menanamkan nilai kejujuran, keterbukaan, kedisiplinan, dan tanggung jawab kepada murid melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter lingkungan sekolah. Guru juga perlu menyesuaikan pola interaksi dengan latar sosial dan budaya murid, misalnya dengan mengintegrasikan nilai gotong royong, musyawarah, dan saling menghormati dalam kegiatan pembelajaran. Selain itu, kerja sama dengan orang tua dan warga sekolah juga diperlukan untuk mendukung terciptanya lingkungan yang inklusif, tenang, kondusif, dan berkarakter. Suryanto . menunjukkan bahwa kompetensi sosial guru mencakup kepekaan terhadap lingkungan budaya di sekolah dan masyarakat, serta kemampuan beradaptasi dengan nilai-nilai sosial yang berlaku. Kemampuan tersebut berperan penting dalam membentuk kesadaran literasi budaya dan kewargaan murid. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Aspek keempat adalah kemampuan berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri maupun profesi lain, baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan ini tampak dari upaya guru dalam membangun komunikasi dan kolaborasi yang efektif dengan rekan sejawat melalui partisipasi aktif dalam komunitas profesi, seperti MGMP atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Melalui kegiatan tersebut, guru dapat saling berbagi tugas, menyusun modul ajar atau PPM secara bersama, memberikan umpan balik antarguru, serta berbagi praktik terbaik dalam pembelajaran yang inklusif. Komunikasi lintas mata pelajaran juga perlu dijaga agar tidak terjadi miskomunikasi dan agar proses pembelajaran dapat berjalan lebih selaras. Sikap saling mendukung antarguru menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan menjadi teladan bagi murid dalam membangun sikap kooperatif. Susilawati. Ediyanto, dan rekan . menunjukkan bahwa kolaborasi dalam komunitas profesi dapat membangun jejaring profesional yang mendukung pertukaran ide, pengetahuan, dan pengalaman, serta mendorong guru untuk melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran inklusif. Kolaborasi ini juga membantu guru mengenali kebutuhan murid dengan lebih baik dan memperkuat pendekatan pengajaran yang lebih menyeluruh. Dengan demikian, kompetensi sosial guru tidak hanya mendukung profesionalisme pendidik, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap pembentukan karakter sosial murid di lingkungan Bentuk Kompetensi Sosial Pada Penguatan Karakter Peduli Sosial Bentuk kompetensi sosial guru memiliki peran penting dalam membentuk karakter peduli sosial murid. Peran tersebut terealisasi melalui penerapan nilai-nilai sosial secara konsisten dalam proses pembelajaran maupun interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan yang menampilkan perilaku sosial positif, sehingga murid dapat belajar melalui contoh nyata. Kompetensi sosial yang memperkuat karakter peduli sosial mencakup pengendalian diri, komunikasi dan kemampuan beradaptasi, kolaborasi antarguru dan keteladanan, serta pembiasaan kepedulian sosial melalui tindakan nyata. Melalui penerapan keempat aspek tersebut, murid terdorong untuk memiliki kepedulian terhadap teman, lingkungan, dan masyarakat. Aspek pertama adalah pengendalian diri. Guru perlu memiliki kemampuan mengendalikan tutur kata, sikap, dan perilaku agar tercipta suasana kelas yang ramah, inklusif, dan kondusif bagi semua murid. Guru menyadari bahwa hal-hal sederhana, seperti bercanda atau memberikan komentar tertentu, dapat menyinggung perasaan murid apabila tidak disampaikan secara hati-hati. Oleh karena itu, guru perlu menjaga ucapan dan tindakannya agar tidak menimbulkan rasa tidak nyaman, diskriminasi, atau perasaan Selain itu, guru juga perlu peka terhadap dinamika sosial di kelas, mampu menjadi penengah ketika terjadi konflik atau perundungan, serta memastikan setiap murid merasa diterima dan dihargai. Dengan kemampuan mengelola emosi dan kelas secara efektif, guru dapat menjadi teladan bagi murid untuk bersikap sabar, menghargai perbedaan, dan tidak mudah terpancing emosi. Ananda dkk. menegaskan bahwa penguatan kompetensi sosial guru untuk bersikap profesional di sekolah sangat penting dilakukan karena dapat membangun hubungan harmonis antara guru dan murid serta meningkatkan mutu pembelajaran. Dengan demikian, lingkungan belajar menjadi lebih nyaman, aman, dan kondusif, sehingga mendorong keterlibatan aktif murid secara optimal. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Aspek kedua adalah komunikasi dan kemampuan beradaptasi. Guru perlu membangun komunikasi yang hangat, santun, dan mudah diterima oleh murid. Komunikasi tersebut dapat diwujudkan melalui kemampuan guru untuk berbaur secara alami, menggunakan bahasa yang positif, serta menciptakan suasana belajar yang akrab dan Selain itu, guru juga perlu menyesuaikan diri dengan budaya sekolah, sistem kerja, dan karakteristik individu murid melalui observasi terhadap kebiasaan, minat, serta pola interaksi sosial di kelas. Pemahaman terhadap kondisi murid dan lingkungan sekolah membantu guru menanamkan nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, dan saling menghormati secara lebih efektif. Dengan pendekatan yang sesuai, pembelajaran menjadi lebih relevan dengan kebutuhan murid dan hubungan antara guru dan murid menjadi semakin harmonis. Melalui gaya bicara yang empatik dan kemampuan beradaptasi secara sosial budaya, guru menunjukkan kompetensi sosial yang tinggi sekaligus menjadi teladan bagi murid dalam Dewi dan Harahap . menyatakan bahwa budaya komunikasi guru yang santun, dialogis, dan edukatif efektif dalam membentuk karakter tanggung jawab, disiplin, serta akhlak mulia pada murid di sekolah. Aspek ketiga adalah kolaborasi antarguru dan keteladanan. Kolaborasi melalui forum profesional, seperti MGMP atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran, maupun kerja tim lintas mata pelajaran sangat penting dalam membangun karakter murid, termasuk tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, dan sikap peduli sosial. Melalui kolaborasi tersebut, guru dapat saling bertukar strategi pembelajaran karakter, berbagi pengalaman dalam menghadapi tantangan sosial di kelas, serta mendiskusikan berbagai kasus murid secara Kolaborasi yang baik antarguru tidak hanya memperkuat koordinasi pembelajaran, tetapi juga menciptakan keteladanan sosial yang dapat diamati dan ditiru oleh Oktaria. Nita, dan Adison . menjelaskan bahwa guru yang aktif berdiskusi, bertukar informasi, dan membiasakan perilaku positif bersama tidak hanya dapat meningkatkan disiplin dan tanggung jawab murid, tetapi juga membangun budaya kerja yang harmonis. Hal tersebut menanamkan nilai gotong royong, saling menghormati, dan profesionalisme sosial. Dengan demikian, murid dapat belajar secara langsung dari teladan guru tentang cara bekerja sama, menghargai perbedaan, dan membangun relasi sosial yang Lingkungan kerja guru yang positif pada akhirnya tercermin dalam suasana kelas yang aman, inklusif, dan mendorong partisipasi aktif seluruh murid. Aspek keempat adalah pembiasaan kepedulian sosial melalui tindakan nyata. Penanaman nilai peduli sosial akan lebih efektif apabila diwujudkan dalam kegiatan yang konkret, konsisten, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari murid. Guru dapat membiasakan murid untuk membantu teman yang mengalami kesulitan belajar, menjenguk murid yang sakit, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah. Selain itu, murid juga dapat didorong untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan sosial, seperti bakti sosial, membantu teman yang sedang mengalami kesusahan, kerja bakti, mendaur ulang sampah botol, merawat tanaman, mengikuti edukasi kesehatan, anti-bullying, keselamatan lalu lintas, serta kegiatan keagamaan. Melalui pengalaman langsung tersebut, murid tidak hanya memahami makna kepedulian secara teoritis, tetapi juga belajar menginternalisasikan nilainilai sosial dalam kehidupan sehari-hari. Ismi. Sufa, dan Sarafuddin . menunjukkan bahwa penanaman karakter peduli sosial dapat dilakukan melalui keteladanan. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 pembelajaran, pembiasaan, penguatan, dan evaluasi, dengan dukungan lingkungan sekolah dan komunitas yang kondusif. Dengan demikian, nilai-nilai peduli sosial tidak hanya diajarkan sebagai konsep, tetapi juga menjadi bagian dari sikap, kebiasaan, dan perilaku murid dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN Karakter peduli sosial merupakan nilai fundamental yang harus ditanamkan di lingkungan sekolah untuk membentuk murid yang empatik, bertanggung jawab, dan memiliki kesadaran terhadap sesama. Karakter ini tercermin melalui kemampuan menjadi pendengar yang baik, peduli terhadap lingkungan sekitar, beri perhatian, dan membiasakan diri membantu sesama. Pembiasaan melalui keteladanan guru dan kegiatan nyata seperti bakti sosial, gotong royong, serta dukungan emosional terbukti mampu menumbuhkan kepekaan sosial dan solidaritas dalam diri murid. Kompetensi sosial guru berperan signifikan dalam menciptakan suasana belajar yang positif dan harmonis. Guru yang kompeten secara sosial ditandai dengan sikap inklusif, objektif, dan tidak diskriminatif, kemampuan berkomunikasi efektif dan empatik, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial-budaya sekolah, serta kolaborasi yang baik dengan sesama guru dan komunitas profesi. Kompetensi sosial ini membantu guru membangun hubungan yang harmonis dengan murid dan menciptakan suasana kelas yang ramah, aman, dan mendukung perkembangan karakter murid. Penerapan kompetensi sosial guru berkontribusi langsung pada penguatan karakter peduli sosial murid. Sikap guru yang mampu mengendalikan diri, berkomunikasi dengan santun, beradaptasi dengan karakter murid, serta bekerja sama dengan rekan sejawat membantu terciptanya lingkungan belajar yang inklusif. Pembiasaan melalui tindakan nyata seperti membantu teman yang kesulitan, mengikuti kegiatan sosial, dan keteladanan dalam perilaku sehari-hari menjadi cara efektif menumbuhkan kepedulian sosial. Melalui interaksi yang humanis dan konsisten, nilai kepedulian sosial terinternalisasi menjadi bagian dari diri DAFTAR PUSTAKA