p-ISSN 2723-245X e-ISSN 2723-0813 AL-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak MENINGKATKAN KEMAMPUAN MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN KOLASE BAHAN BEKAS PADA ANAK KELOMPOK B DI PAUD AZ-ZAHRA Lathifah. Benny Prasetya Institut Ahmad Dahlan Probolinggo latifahmahrus7@gmail. com Prasetiyabenny@gmail. Abstract The development of children's fine motor skills at PAUD AZ-ZAHRA Lekok Pasuruan is still weak, this is because the choice of methods and tools used do not attract the child's attention, or perhaps the child is too bored with materials that only use ingredients. every day So our researchers want to use new methods and materials to present a collage of used materials. This type of research was classroom action research which aims to improve the fine motor skills of group B or 20 children. This research material was prepared through observation and The results of this research were carried out in two cycles, namely Cycle I and Cycle II. At the same time there was a revival in cycle II. The conclusion of the research is that the development of children's fine motor skills through neck activities made from used materials has increased rapidly. Keywords: Collage. Early childhood education. Fine motor skills Abstrak Perkembangan motorik halus anak di PAUD AZ-ZAHRA Lekok Pasuruan masih lemah, hal ini disebabkan pilihan metode dan alat yang digunakan kurang menarik perhatian anak, atau mungkin anak terlalu bosan dengan bahan yang hanya menggunakan bahan-bahan saja. setiap hari Jadi peneliti ingin menggunakan metode dan bahan baru untuk menyajikan kolase bahan bekas. Bentuk penelitian ini yaitu penelitian tindakan kelas yang bertujuan supaya meningkatkan keterampilan motorik halus kelompok B atau 20 anak. Bahan penelitian ini disusun melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu Siklus I dan Siklus II. Pada saat yang sama terjadi kebangkitan siklus II. Kesimpulan dari penelitian adalah membangun motorik halus anak melalui aktivitas leher berbahan baku bahan bekas meningkat Kata Kunci: Kolase. Motorik halus. Pendidikan anak usia dini. AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 | 234 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. PENDAHULUAN Pembentukan karakter dan kepribadian merupakan aspek krusial dalam pendidikan anak usia dini (PAUD). PAUD bertujuan untuk membuka seluruh potensi anak usia dini pada masa pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental yang Membimbing anak untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan untuk mengembangkan potensi ini sangatlah penting. Salah satu bidang fokusnya adalah pengembangan keterampilan motorik fisik, yang dapat dikategorikan menjadi dua jenis: keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus. Keterampilan motorik kasar melibatkan gerakan-gerakan yang melibatkan otot-otot besar, seperti menendang atau menangkap bola. Di sisi lain, keterampilan motorik halus melibatkan gerakan yang melibatkan otot-otot kecil, seperti mengancingkan baju atau memutar dan meremas (Siahaan, 2. Anak-anak, sebagai individu muda dengan potensi yang belum tergali, memiliki kualitas berbeda yang membedakan mereka dari orang dewasa. Mereka menunjukkan energi yang tak terbatas dan keingintahuan yang tak terpuaskan, terus berupaya mengeksplorasi dan menyerap pengalaman baru (Masitoh, 2. Secara alami egosentris, anak-anak memiliki rasa ingin tahu bawaan dan menunjukkan perilaku berulang yang berkontribusi terhadap perkembangan sosial mereka. Mereka adalah makhluk unik, penuh dengan kegembiraan dan kepuasan, dan memiliki imajinasi yang Melalui bermain, anak-anak memanfaatkan keterampilan sosial mereka dan mengekspresikan kapasitas bawaan mereka untuk belajar. ujiono, perasaan, berkreasi, dan 2. Pasal 1. Pasal 14 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 mengatur bahwa pendidikan anak usia dini adalah bimbingan belajar bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun, yang membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani dengan memberikan rangsangan pendidikan. , untuk mempersiapkan anak-anak untuk pendidikan lebih lanjut. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan suatu bentuk pendidikan yang menitikberatkan pada pertumbuhan dan perkembangan motorik jasmani . otorik halus dan kasa. , kecerdasan sosial emosional, kecerdasan spiritual, kecerdasan bahasa, dan kecerdasan kognitif. (Pura & Asnawati, 2. Taman kanak-kanak merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah formal. Pendidikan prasekolah merupakan pendidikan yang membantu anak tumbuh dan 235 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. berkembang jasmani dan rohani di luar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar (Yuyun Istiana, 2. Pasal 1 Ayat 14 Undang-Undang Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 menyebutkan: AuPendidikan anak usia dini adalah kegiatan bimbingan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang membantunya berkembang jasmani dan rohani dengan memberikan rangsangan pendidikan, tumbuh kembang, dan rohani. , agar anak siap menempuh pendidikan selanjutnyaAy (Yanto, 2. Anak usia dini mempunyai potensi yang sangat besar untuk dioptimalkan, termasuk perkembangan motorik halusnya. (Ridwan dkk. , 2. Keterampilan motorik halus merupakan gerakan yang hanya melibatkan penggunaan otot-otot kecil pada bagian tubuh tertentu, seperti gerakan jari dan pergelangan tangan yang tepat. Tujuan pendidikan taman kanak-kanak adalah pengembangan nilai-nilai agama dan moral, perkembangan fisik motorik kasar dan halus, perkembangan kognitif, perkembangan bahasa dan perkembangan sosio-emosional. Seiring dengan membaiknya perkembangan motorik kasar, perkembangan motorik halus juga akan meningkat antara usia empat dan enam tahun. Kemampuan koordinasi matatangan anak usia 5-6 tahun berangsur-angsur membaik, dan anak-anak dapat menggunakan kemampuannya untuk melatih dirinya sendiri dengan bantuan orang Anak-anak kini dapat menggunakan sendok dan garpu, melepas dan memakai sepatu, mengancingkan baju, menyisir rambut, dan masih banyak lagi. Salah satu permainan yang dapat mengembangkan motorik halus anak adalah dengan menggunakan bahan bekas. Dengan menggunakan bahan-bahan bekas. Anda bisa melatih kemampuan motorik anak. Berdasarkan temuan Tjaya dkk. Jika Anda ingin menggunakan bahan-bahan bekas untuk mengembangkan kemampuan motorik anak. Anda bisa menggunakan sedotan plastik yang dipotong-potong berukuran 15cm. Anak kemudian akan dapat memegang pensil dengan benar - antara ibu jari dan telunjuk, dukung dengan jari tengah Anda. Anak cepat bosan saat belajar karena guru kurang memberikan variasi media. Kegiatan yang banyak diberikan guru untuk melatih motorik halus anak seringkali mengandalkan majalah bulanan seperti: B. Menggambar, mewarnai, dan bermain tanah liat dari majalah. ( Mayar, 2. Keterampilan motorik halus tidak hanya mencakup permainan, tetapi juga aktivitas yang dapat membuat pembelajaran menjadi menyenangkan bagi anak, seperti aktivitas yang menggunakan teknik melipat. Muharrar dan Veranyanti menjelaskan, kata 236 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. kolase yang dalam bahasa Inggris disebut collage berasal dari kata coller . ahasa Peranci. yang artinya lem. Kolase adalah teknik di mana berbagai elemen dilekatkan pada satu bingkai untuk menciptakan sebuah karya seni baru. Oleh karena itu, kolase adalah suatu karya seni yang dibuat dengan memadukan suatu bahan menjadi suatu komposisi yang serasi, sehingga menjadi suatu kesatuan karya. Bermain kolase melibatkan otot, saraf, otak dan jari dalam pelaksanaannya. Anak dilatih untuk menekan dan menempel untuk meningkatkan kelenturan jari-jari anak. sini elemen-elemennya terkoordinasi jika dilakukan secara menyeluruh. Kolase merupakan wadah untuk meningkatkan kreativitas, mengembangkan ide, mengarahkan emosi, meningkatkan minat seni dan mengoptimalkan motorik halus anak (Astawa dan Astuti, 2. Dengan menggunakan kolase bahan bekas, anak-anak dapat berlatih menggerakkan jari dan memfokuskan mata saat merekatkan. Selain itu dapat meningkatkan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar, sehingga dapat memanfaatkan bahan-bahan yang tidak terpakai atau bekas untuk menghasilkan karya yang indah (Putri et al. , 2. Menurut Permendikbud No 137 Tahun 2014 Tentang Standar nasional Pendidikan Anak Usia Dini pasal 10 ayat 1 tentang lingkup perkembangan sesuai tingkat usia anak meliputi aspek nilai agama dan moral, fisik-motorik, kognitif, bahasa, sosial emosional, dan seni. Aspek-aspek perkembangan tersebut dipadukan dalam bidang pengembangan pembentukan perilaku melalui pembiasaan yang terdiri dari: moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, dan kemandirian, dan pengembangan kemampuan dasar, yang jari dan pergelangan tangan terdiri dari: bahasa, fisik/motorik, seni dan kognitif. Keterampilan motorik halus adalah pengorganisasian penggunaan sekelompok otot-otot kecil seperti jari-jemari dan tangan yang sering membutuhkan kecermatan dan koordinasi mata dengan tangan, keterampilan yang mencakup pemanfaatan dengan alatalat untuk bekerja dan objek yang kecil atau pengontrolan terhadap mesin misalnya mengetik, menjahit dan lain-lain (Sumantri, 2005: . Perkembangan motorik halus dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mencakup kesiapan belajar, kesempatan belajar, kesempatan berpraktik, model yang baik, bimbingan motivasi, dan dilakukan secara individu (Depdiknas, 2007: . Keterampilan motorik halus merupakan keterampilan fisik yang melibatkan otototot ujung jari dan koordinasi mata dan tangan serta bagian tubuh lain yang saling 237 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. Karena kepentingannya. Paud Az-Zahra Lekok Pasuruan memilih kapal pengangkut barang yang digunakan untuk merangsangnya. Tidak hanya media yang mudah ditemukan dimana saja, namun media yang digunakan tidak terbatas dan tidak membatasi, mereka bebas memilih apa yang ingin mereka gunakan, dan kita sebagai guru membimbing dan menjaga keamanan dan kenyamanan mereka. barang-barang ini. digunakan oleh anak-anak, kegiatan ini membuktikan bahwa banyak kemajuan yang dapat dicapai. Pada saat perolehan, anak menjadi aktif dan tertarik pada segala aktivitas serta tidak merasa canggung saat melakukan koordinasi tangan, mata, dan lainnya (Siahaan, 2. Pembelajaran bagi anak usia lihat dini pada hakikatnya adalah permainan, bahwa bermain adalah bereksplorasi dan belajar, bermain adalah bersifat sebuah kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan rasa senang dan puas bagi anak, bermain sebagai sarana besosial, mendapatkan kesempatan untuk bereksplorasi, mengekspresikan potensial untuk belajar . ujiono, perasaan, berkreasi, dan 2. Pendidikan anak usia menemukan sarana pembelajaran dini adalah pendidikan yang yang menyenangkan, sekaligus diselenggarakan dengan tujuan untuk sebagai wahana pengenalan diri dan a na k (Kusmiati, dkk. Perkembangan motorik meliputi perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Motorik kasar adalah gerakan yang menggunakan otot-otot seperti berjalan, berlari, melompat, dan sebagainya. Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang berhubungan dengan ketrampilan fisik yang melibatkan koordinasi antara mata dan tangan. Peningkatan motorik halus anak dapat dikembangkan melalui kegiatan kolase. Dalam kegiatan kolase ini melibatkan koordinasi mata dan tangan sehingga dapat melatih konsentrasi anak, melatih koordinasi gerakan tangan dan mata, menumbuhkan kreatifitas, meningkatkan kesabaran dan kerapian. (Ratnawati & Kharizmi, 2. Berdasarkan observasi awal terhadap permasalahan yang ada di kelompok B Paud Az-Zahra Lekok Pasuruan, bahwa kemampuan motorik halus yang dimiliki anak masih rendah dan belum optimal. Sebagian siswa kurang terampil dalam menggunakan jaril jemari tangan. Hal ini dapat terlihat ketika anak-anak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan motorik halus, terutama pada saat siswa harus menfokuskan pandangannya ke objek-objek kecil ukurannya seperti menggunting pola gambar 238 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. mengikuti garis masih banyak yang belum rapi, ketika kegiatan menempel masih memerlukan bantuan dan terkesan terburu-buru ketika menempelkan gambar, kemudian saat mewarnai gambar hanya asal-asalan sehingga kurang tepat dan kurang rapi. Hal tersebut disebabkan kurangnya stimulasi yang tepat dalam mengembangkan motorik halus dan anak kurang tertarik dengan pembelajaran yang monoton . egiatan yang sering dilakukan hanya menggambar dan mewarna. Terkait dengan berbagai masalah tersebut, perlu adanya suatu upaya perbaikan dalam pengembangan kemampuan motorik halus Upaya yang dapat dilakukan pendidik atau guru untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak adalah melalui media yang kreatif dan menyenangkan bagi anak. Pengembangan kreativitas pada anak usia dini dilakukan melalui pelaksanaan program kegiatan pembelajaran sehubungan dengan pengembangan keterampilan dasar, kecerdikan/kreativitas. Menurut Sumanto (Susanto 2017:. , mengembangkan kreativitas adalah mewujudkan anak yaitu lancar, luwes dan orisinal dalam berbicara, berpikir, serta melatih tangan, berlatih seni dan melatih motorik halus dan gerak tubuh. latihan motorik kasar. Ay Salah satu kegiatan pembelajaran yang menarik untuk mengembangkan kreativitas anak adalah kegiatan kolase. Kolase berasal dari bahasa Perancis (Collag. yang artinya lem. Kolase adalah salah satu cabang seni rupa yang melibatkan perekatan kertas atau bahan lain sehingga membentuk suatu desain (Amriani dkk. , n. Kolase adalah kegiatan anak merekatkan dan merekatkan suatu benda untuk dijadikan kolase. Untuk membuat kolase. Anda bisa menggunakan kertas yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian. Kolase adalah salah satu cabang seni visual yang melibatkan pelekatan potongan kertas atau bahan lain untuk membentuk desain tertentu. (Amriani dkk. , n. Kegiatan kreatif yang dirancang untuk mengembangkan keterampilan dasar siswa TK melalui penciptaan kolase. dengan mengenal sifat bahan/alat, kemampuan kreatif anak dapat dilatih untuk leluasa mengekspresikan dirinya dalam karya kreatif. Kolase juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir yaitu membimbing kemampuan penalaran anak dalam kegiatan seni rupa. Anak yang cerdas dan bijaksana dapat memicu munculnya kreativitas. (Hartati dkk. , 2. Meskipun para guru menyadari bahwa keterampilan motorik halus penting bagi anak, namun pengembangan keterampilan ini tidak selamanya dilakukan dengan baik di 239 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. sekolah atau di rumah. Mayoritas sekolah langsung mengajarkan anak mengunakan keterampilan motorik halusnya misalnya untuk mewarnai, menulis, atau menggambar tanpa mempersiapkan kelenturan syaraf-syaraf motorik halus pada tangan anak(Cameron et al. , 2. Para guru juga memilih membantu anak misalnya memasangkan tali sepatu, membuka tempat air minum anak daripada melatih kelenturan jari-jari anak untuk dapat melakukan hal tersebut secara mandiri. (Sit et al. , 2. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan keterampilan motorik Keterampilan motorik halus dikembangkan dengan cara bermain bidak lepas (Ridwan et al. , 2. , bermain kolase, teknik mozaik dan menggunting. Penggunaan bahan yang digunakan juga dipelajari di Lathifah, namun bahan yang digunakan sebatas mulai dari mineral, botol air hingga membuat berbagai karya seni. , seperti botol berirama atau mobil mainan. Perbedaan penelitian dengan sebelumnya adalah dari keragaman bahan bekas yang digunakan dan indikator keterampilan motorik yang halus yang dioptimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk optimalisasi keterampilan motorik halus anak usia dini dengan menggunakan bahan bekas. (Sit et al. , 2. METODELOGI PENELITIAN Penelitian ini merupakan intervensi untuk meningkatkan perkembangan motorik halus anak KB Paud Az-Zahra Lekok Pasuruan. Menurut Wina Sanjaya . , penelitian tindakan kelas adalah proses menyelidiki masalah pembelajaran di kelas melalui refleksi diri dan upaya penyelesaiannya dengan melaksanakan berbagai kegiatan yang direncanakan dalam situasi nyata dan menganalisis setiap dampak dari kegiatan Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penelitian ini adalah memahami adanya masalah, merencanakan tindakan untuk menyelesaikan masalah, melaksanakan tindakan dan melaporkan tindakan yang dilakukan. (Amriani et al. , n. Menjalankan PTK bukan sekadar mencari masalah, tapi melakukan perbaikan. Penelitian ini akan dilaksanakan dalam penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di Kelompok B Paud Az-Zahra Lekok Pasuruan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil yaitu bulan Oktober 2023. Dalam penelitian ini, sebanyak 20 anak, 12 laki-laki dan 8 perempuan berusia 5 sampai 6 tahun, dari Por as Zahra, kelompok B, menjadi sasaran. Penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model Kurt Lewin. Menurut Sanjaya . Model ini adalah model yang mendasari model-model lainnya yang berangkat dari model Action research. Teknik pengumpulan 240 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. data menurut Sugiyono (Fratya Puspita Devi 2014:. adalah andquot. terpenting dalam penelitian karena tujuan utama penelitian adalah mendapatkan data Penelitian ini menggunakan observasi sebagai teknik pengumpulan data. Adapun cara analisis data yang digunakan Purwanto (Fratya Puspita Devi 2014:40 Auhasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis persentase dengan rumus yaitu:(Kumalasari, n. P = f/N x 100% Keterangan: P = Hasil pengamatan f = nilai yang diproleh siswa N = nilai maksimum HASIL PENELITIAN Tabel 1. Monitoring motorik halus anak menggunakan kegiatan kolase (Meningka. Kegiatan yang Anak-anak Prasiklus Sklus 1 Sklus 2 Keterangan Meningkat Meningkat Meningkat mengisi dan merekatkan benda-benda kecil pada gambar dengan tugas Anak-anak memegang benda-benda kecil dengan aktivitas Anak dapat menyusun benda-benda kecil dalam pola melalui kegiatan Persentase rata-rata 241 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. Berdasarkan tabel diatas, perkembangan motorik halus anak melalui kegiatan kolase oleh KB Az-Zahra Lekok Pasuruan: Bermutu sangat tinggi dan tinggi dalam artian anak dapat mengisi dan menyambung gambar-gambar yang ada pada gambar. keadaan awal 10%, pada siklus I 60% dan pada siklus II 90%. Pada aspek kedua, anak dapat mempertahankan benda-benda kecil pada keadaan awal 20%, pada siklus I 40%, dan pada siklus II 65%. Aspek ketiga yang menyangkut penempatan benda-benda kecil anak dalam suatu pola adalah 15% pada keadaan awal, 50% pada siklus I, dan 85% pada siklus II. Tabel 2. Monitoring kemampuan motorik halus anak melalui kegiatan kolase . Kegiatan yang Anak-anak Prasiklus Sklus 1 Sklus 2 Keterangan Rendah Rendah Rendah Rendah mengisi dan merekatkan benda-benda kecil pada gambar dengan tugas Anak dapat memegang benda-benda dengan aktivitas lem Anak dapat menyusun benda-benda kecil dalam pola melalui kegiatan Persentase rata-rata Berdasarkan pengamatan anak melalui kegiatan kolase KB Paud Az-Zahra Lekok di Pasuruan:Kelas rendah dimana anak dapat mengisi dan menempelkan benda kecil pada gambar aslinya. kondisi 90%, pada siklus I 40% dan pada siklus II 10%. Pada aspek kedua, anak dapat mengingat benda kecil 80% pada keadaan awal, 60% pada siklus I, dan 35% pada siklus II. Fakta ketiga anak dapat menyusun benda kecil sesuai pola yang ada pada keadaan awal adalah 85%, siklus I 50%, dan siklus II 15%. 242 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. PEMBAHASAN Kolase adalah kreasi aplikasi yang dibuat dengan menggabungkan teknik melukis . ukisan tanga. dengan menempelkan bahan-bahan tertentu. Kreativitas kolase bagi anak PAUD adalah kemampuan berolah seni rupa yang diwujudkan dengan keterampilan menyusun dan merekatkan bagian-bagian bahan alam, bahan buatan, dan bahan bekas pada kertas gambar / bidang dasar yang digunakan, sampai dihasilkan tatanan yang unik dan menarik. (Esih, 2. Dengan bermain kolase dengan bahan tempel, anak dilatih menggerakkan jari dan memfokuskan mata saat merekatkan dan menggunting. Dengan menggunakan bahan koloid diharapkan dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak khususnya senam jari serta keterampilan kanan dan kiri dalam berbagai aktivitas. Selain itu, anak-anak juga peduli terhadap lingkungan dengan memanfaatkan sisa-sisa makanan untuk dijadikan karya yang indah. Bahan bekas/sisa banyak terdapat di sekitar rumah, agar tidak terbuang sia-sia, peneliti menggunakan bahan kain bekas dari penjahit yang ada di sekitar instansi, yang sudah tidak digunakan lagi dalam penelitian penelitian Pendidikaln seni secalral tidalk lalngsung dalpalt membalntu perkembalngaln otalk kalnaln daln kiri alnalk. Oleh kalrenal itu, salngalt penting memberikaln pendidikaln seni kepaldal alnalk Berdalsalrkaln temualn penelitialn Putu ALdityal yalng dimualt di maljallalh Illumial ditemukaln balhwal pendidikaln seni dalpalt mendorong perkembalngaln pribaldi alnalk . Kontribusi tersebut terkalit dengaln memberikaln rualng berekspresi, mengembalngkaln kemalmpualn krealtif daln imaljinaltif, meningkaltkaln cital ralsal, meningkaltkaln ralsal percalyal diri, daln mengembalngkaln visi budalyal. (Ridwaln et all. , 2. Sallalh saltu pelualng untuk mengembalngkaln keteralmpilaln motorik hallus di talmaln kalnalk-kalnalk aldallalh keteralmpilaln yalng memerlukaln alnalk usial 5-6 talhun yalitu melaltih pengendallialn otot dallalm kegialtaln eksploralsi kecil/hallus daln menyenalngkaln untuk diselesalikaln yalitu kegialtaln kolalse. Menurut Nalncy keteralmpilaln yalng berhalsil. Beall . kegialtaln kolalse merupalkaln Keteralmpilaln motorik hallus alnalk usial 5-6 kegialtaln yalng dalpalt mengembalngkaln talhun telalh berkembalng dengaln pesalt. Paldal usial Pendalpaltini mengkoordinalsikaln yalng salmal jugal dikemukalkaln oleh Sumalnto geralkaln maltal dengaln 243 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. Menurut Yudhal M. balhwal kegialtaln kolalse dalpalt melaltih Salputral & Rudyalnto . balhwal keteralmpilaln motorik hallus paldal alnalk. Pada bagian ini peneliti menemukan hasil positif penggunaan aktivitas kolase pada anak dan perkembangan motorik halusnya. Untuk perkembangan anak dan motorik halusnya, senam kolase sangat baik, dimana anak ikut serta dalam mengisi pola, dan anak juga dapat mengembangkan perasaan sosial untuk melatih kesabaran. Berdasarkan penelitian tingkat I dan II bahwa perkembangan motorik halus anak melalui kegiatan kolase mengalami peningkatan yaitu: Antusiasme serta rasa percaya diri anak untuk mengikuti kegiatan meningkat secara signifikan dibandingkan dengan siklus Sedangkan siklus II anak bisa mengurangi aktivitas guru pada pembelajaran siklus II dinilai berjalan dengan baik dan berhasil. Perkembangan motorik halus anak melalui kegiatan kolase meningkat dengan rincian sebagai berikut: Anak dapat mengisi dan menempelkan benda kecil. untuk gambar yang diperoleh melalui kegiatan kolase pada Siklus I sebesar 60% pada Siklus II meningkat menjadi 90%. Menurut Mahendra. Gunawan memiliki keterampilan motorik halus yang memerlukan pengendalian otot-otot kecil agar keterampilan tersebut berhasil dilakukan (Nuning dan Gunawa, 2. Anak mampu memegang benda kecil melalui kegiatan kolase pada Siklus I antara 40 dan 65% pada Siklus II. Dengan bantuan kegiatan kolase, anak mampu menempatkan benda kecil sesuai pola yang ada pada siklus I 50% dan siklus II 85%. Berdasarkan uraian di atas maka upaya peningkatan perkembangan motorik halus anak melalui kegiatan pengisian pola akan semakin baik dan hasilnya akan lebih konkrit. Hal ini tercermin dari meningkatnya kesiapan anak dalam melaksanakan tugas. Direncanakan pelaksanaan kegiatan pendidikan pertemuan pertama, kedua dan ketiga siklus I, berdasarkan hasil observasi pengaruh kegiatan pendidikan terhadap perkembangan motorik halus anak cukup berhasil. Hal ini tercermin dari perkembangan motorik halus anak melalui kegiatan kolase hampir mencapai kriteria kesempurnaan minimal = 70,00%. Pada siklus II hal ini dilakukan sampai dengan masuk pertama, karena perkembangan motorik halus anak dalam segala hal melebihi kriteria kesempurnaan minimal = 70,00%. Dengan mengikuti informasi peningkatan perkembangan motorik halus anak melalui aktivitas leher di KB PAUD Az-Zahra Lekok Pasuruan Bagian I dan II di atas, 244 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. guru dapat menjadi teladan yang baik. Anak memerlukan keterampilan melihat, mengingat dan mengalami untuk mengembangkan keterampilan motorik halusnya. Perkembangan motorik siswa PAUD penting untuk diperhatikan, karena sejak dini anak bisa mengenal macam aktivitas yang membuat anak bergerak (Halimah, 2. Jika anak mengetahui dan ingin melakukan berbagai macam gerak yang indah kegiatan, yang penting anak dapat melakukan aktivitasnya sendiri maka anak-anak bisa berkreasi sesuai keinginannya. Pengembangan keterampilan motorik halus di Taman Kanak-Kanak menekankan pada koordinasi motorik halus, yang dalam hal ini mengacu pada suatu aktivitas dimana jari-jari tangan digunakan untuk meletakkan atau memegang suatu Pada usia 5-6 tahun, koordinasi gerak motorik halus anak sudah sangat berkembang, bahkan hampir sempurna. (Rania dkk. Pada bahagian ini peneliti menemukan hasil yang positif dari penggunaan kegiatan kolase untuk mengembangkan motorik halus anak. Kegiatan kolase sangat baik digunakan dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak, yang mana anak ikut mengerjakan kegiatan mengisi pola dan anak juga dapat mengembangkan sosial emosional untuk melatih kesabaran. Anak memerlukan keterampilan melihat, mengingat dan mengalami dalam mengembangkan keterampilan motorik halusnya. KESIMPULAN Berdasarkan pengamatan dan informasi yang diperoleh pada siklus I dan II yang sudah dijelaskan sebelumnya yaitu tentang penguatan pengembangan motorik halus anak melalui tugas leher dari materi yang digunakan pada kelompok B Az-Zahra Lekok Pasuruan. Pada lembaga prasekolah, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Perkembangan keterampilan Keterampilan motorik halus anak pada anak usia dini memerlukan perhatian, karena perkembangan keterampilan motorik halus menunjang segala sesuatu yang dilakukan anak. Pembentukan motorik halus anak setelah siklus II meningkat sangat baik, hampir semua anak mampu menyelesaikan tugas pengisian pola . dan mampu menyelesaikan tugasnya sendiri dengan benar. Dengan adanya kegiatan kolase . engisi pol. dapat meningkatkan perkembangan motorik halus anak, karena dengan mengisi pola tersebut juga dapat melatih otot-otot kecil seperti jari dan tangan yang seringkali mengembangkan kecerdasan dan koordinasi tangan-mata. 245 | AL-ATHFAL. Volume 4 Nomor 2. Desember 2023 Lathifah, etc. Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Kolase. SARAN Pentingnya pembentukan keterampilan motorik halus anak pada masa usia dini bisa digambarkan melalui kegiatan kolase yang dilakukan oleh peneliti dari PAUD Az-Zahra Lekok KB Pasuruan, yang membuahkan hasil sangat baik. Berkaitan dengan hal tersebut, peneliti berharap kepada guru atau siswa dapat memanfaatkan kegiatan kolase untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak sebagai berikut: Sebagai guru dapat mengetahui dan memanfaatkan potensi yang ada pada masyarakat atau lingkungan anak. Anda dapat melatih keterampilan motorik halus entah bagaimana Misalnya. Anda dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak dengan memanfaatkan lingkungan untuk mengisi pola . dengan bahan-bahan olahan dan bekas seperti kelapa, cangkang telur, dan majalah bekas. Guru memberikan kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan praktik langsung agar motorik halus anak berkembang dengan baik. DAFTAR PUSTAKA