E-BISMA, 3. , 11-24 37631/e-bisma. ISSN 2774-8790 (Prin. dan ISSN 2774-8804 (Onlin. Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA) Journal homepage: ejournal. id/index. php/j-mae Studi eksplorasi entreprenurial intention berdasarkan Theory of Planned Behavior dan Theory of Entrepreneurial Event pada mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Stefanus Rumangkit, 2*Sri Rahayu, dan 3Yan Aditya Universitas Bina Nusantara. Jl. Syahdan No. Kemanggisan. Palmerah. Jakarta Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya. Jl. Zainal Abidin PA No. 93 Labuhanratu. Lampung *e-mail korespondensi: srirahayu@darmajaya. Article Info Abstract Keywords: Entrepreneurs. Technopreneur. Entrepreneurial Intention. Theory of planned behavior, theory of One of the goals of IIB Darmajaya is to become an Entrepreneurial University, which is included in one of the indicators of a world-class university. This research aims to determine the forming factors that can increase students' desire to become This study is important because the output of this research is to know the driving factors that exist in students becoming entrepreneurs. The population of this research is students who have taken technopreneur courses totaling 1104 The sample used was 92 students. The data analysis method used is the multiple linear regression analysis methods. Based on the results of hypothesis testing, it was found that Self-Efficacy. Subjective Norms. Perceived Desirability. Perceived Feasibility, and Propensity To Act affected Entrepreneurial Intention. This means that to increase Entrepreneurial Intention, students need to pay attention to the constituent variables, namely Self-Efficacy. Subjective Norms. Perceived Desirability. Perceived Feasibility, and Propensity To Act Info Artikel Abstrak Kata Kunci: Wirausaha. Technopreneur. Niat Berwirausaha. Theory of planned behavior, theory of Salah satu cita-cita IIB Darmajaya adalah menjadi Enterpreurial University, yang termasuk dalam salah satu indikator world class university. Dengan adanya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor pembentuk yang dapat meningkatkan keinginan mahasiswa untuk berwirausaha. Kajian ini penting dilakukan karena output dari penelitian ini adalah mengetahui faktor pendorong yang ada di dalam diri mahasiswa untuk berwirausaha. Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa yang sudah mengambil matakuliah technoprenuer sejumlah 1104 Sampel yang digunakan adalah sebanyak 92 mahasiswa. Metode analisa data yang digunakan adalah metode analisis regresi linear berganda. Berdasarkan hasil uji hipotesis ditemukan bahwa Efikasi Diri. Norma Subjektif. Perceived Desirability. Perceived Feasibility, dan Propensity To Act berpengaruh pada Entreprenurial Intention. Hal ini dapat diartikan bahwa untuk meningkatkan Entreprenurial Intention pada mahasiswa perlu memperhatikan variabel pembentuknya, yaitu Efikasi Diri. Norma Subjektif. Perceived Desirability. Perceived Feasibility, dan Propensity To Act This is an open access article under the CCAeBY-SA license. Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya PENDAHULUAN Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya (IIB Darmajay. , merupakan salah satu perguruan tinggi swasta terbaik pada LLDIKTI Wilayah II. Hal ini dibuktikan dengan masuknya IIB Darmajaya dalam klaster 3 dalam pemeringkatan perguruan tinggi tahun 2020 versi Kemendikbud. IIB Darmajaya berada di klaster Utama dalam perangkingan kemenristekdikti dalam hal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam pemeringkatan webometriks. IIB Darmajaya berada pada ranking 72 dari seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta seluruh Indonesia. IIB Darmajaya juga mendapatkan predikat Perguruan Tinggi Swasta (PTS) Terbaik di Provinsi Lampung versi LLDIKTI wilayah II. Kondisi tersebut, mendorong IIB Darmajaya untuk meningkatkan kualitas proses bisnis akademik agar dapat bersaing pada level internasional. Indikator daya saing internasional tersebut meliputi: . Indikator standar pengelolaan perguruan tinggi, . Indikator World Class University/Internasionalisasi dan . Indikator Entrepreneurial University. Merujuk pada ketiga indikator daya saing internasional tersebut. IIB Darmajaya telah melakukan : . Penjaminan mutu internal berdasarkan permenristekdikti No. 50 Tahun 2018, . Kerjasama internasional dengan 60 Universitas di luar negeri , . Pengelolaan inkubator bisnis sebagai tempat menginkubasi calon-calon enterpreneur. Salah satu cita-cita IIB Darmajaya adalah menjadi Enterpreurial University, yang termasuk dalam salah satu indikator world class university. Akan tetapi, berdasarkan data tracer study yang dilakukan masih sangat sedikit sekali presentase lulusan IIB Darmajaya yang menjadi wirausaha. Tracer study yang dilakukan pada lulusan tahun 2016, dari 427 lulusan hanya sebesar 92 mahasiswa yang berwirausaha. Begitu juga dengan tracer study lulusan tahun 2017, menunjukkan bahwa dari 447 lulusan, hanya sebesar 74 mahasiswa yang menjadi wirausaha. Fakta tersebut membuktikan bahwa masih sangat kecil keinginan mahasiswa IIB Darmajaya untuk berwirausaha. Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk yang dapat meningkatkan keinginan mahasiswa untuk berwirausaha. Kajian ini penting dilakukan karena output dari penelitian ini adalah mengetahui faktor pendorong yang ada di dalam diri mahasiswa untuk Sehingga, hasil penelitian ini dapat memperkuat matakuliah kewirausahaan, technopreneurship, dan pengembangan bisnis. FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya Instansi Pemerintah Organisasi Non-Profit Perusahaan Swasta Wiraswasta/ Perusahaan Sendiri SISTEM KOMPUTER SISTEM INFORMASI MANAJEMEN TEKNIK INFORMATIKA Lainnya AKUNTANSI Gambar 1. Tracer Study TA. 2018/2019 Jenis Perusahaan Instansi Pemerintah Organisasi NonProfit Perusahaan Swasta Wiraswasta/ Perusahaan Sendiri Lainnya Gambar 2. Tracer Study TA. 2019/2020 Theory of Planned Behavior (TPB) yang dikemukakan oleh Ajzen . digunakan untuk memprediksi keinginan berwirausaha karna teori ini memiliki beberapa keunggulan. Pertama, efikasi diri mempengaruhi niat seseorang untuk berwirausaha dari sisi internal seseorang yaitu rasa kepercayaan diri untuk memulai suatu usaha. Kedua, norma subjektif bisa mempengaruhi niat berwirausaha dari sisi eksternal berupa dukungan akan lingkungan, baik keluarga, teman, dosen, maupun para pengusaha sukses. Ketiga, sikap bisa mempengaruhi niat seseorang untuk melakukan kegiatan wirausaha dari keputusan seseorang untuk mengambil resiko atau cenderung untuk menghindarinya. Sedangkan. Theory of Entreprenurial Even yang dikemukakan oleh Shapero . menunjukkan bahwa terdapat tiga faktor yang dapat memprediksi keinginan berwirausahan, yaitu perceived desirability, perceived feasibility, dan popensity to act. Perceived desirability adalah keinginan yang dirasakan sebagai daya tarik pribadi untuk memulai bisnis, termasuk dampak intrapersonal dan ekstrapersonal. Perceived feasibility adalah perasaan individu FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya bahwa mereka memiliki keyakinan mampu memulai sebuah bisnis. Sedangkan, propensity to act adalah kecenderungan individu untuk melakukan implementasi atau tindakan memulai sebuah bisnis. Theory of Planned Behavior (TPB) dan Theory of Entreprenurial Even, kedua teori ini akan menjadi dasar untuk melakukan investigasi lebih lanjut mengenai anteseden dari keingian berwirausaha mahasiswa. Bektas . menyatakan bahwa faktor pembentuk atau anteseden dari keinginan berwirausaha di setiap negara bisa berbeda-beda. Hal ini dapat dikarenakan adanya perbedaan karakteristik demografi, budaya, sistem pemerintahan, dan juga faktor situasi ekonomi. Oleh karena itu, tim peneliti akan melakukan investigasi terkait dengan anteseden entreprenurial intention . einginan berwirausahaa. mahasiswa aktif di Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya. KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS Entrepreneurship Hisrich dan Peters . mendefinisikan kewirausahaan atau enterprenurial sebagai Proses menciptakan sesuatu yang baru dengan mencurahkan usaha dan waktu yang diperlukan, sehingga memperoleh penghasilan, kemandirian, serta kepuasaan moneter (Artha. Hadi, dan Khairi, 2. Di Amerika Serikat, kombinasi dari insentif kebijakan, kebijakan imigrasi yang relatif terbuka, dan banyak faktor struktural lainnya, ditambah dengan budaya penentuan dan motivasi, menyumbang keberhasilan kewirausahaan bangsa. Global Entrepreneurship Monitor . melaporkan bahwa Amerika Serikat secara konsisten menunjukkan salah satu tingkat kewirausahaan tertinggi di antara negara-negara maju dari Amerika Utara. Eropa, dan Asia. Dengan demikian, upaya untuk mendorong kewirausahaan melalui pendidikan dan pelatihan tanggal kembali ke 1940-an ketika kursus pertama dalam kewirausahaan diperkenalkan di Harvard Business School (Katz, 2. Amerika Serikat, mayoritas . %) mengatakan mereka lebih suka bekerja sendiri. Ini sangat berbeda dengan sikap mayoritas orang Eropa . %) yang menyatakan bahwa mereka lebih suka bekerja sebagai karyawan daripada risiko memulai bisnis mereka sendiri. The Eurobarometer Survey on Entrepreneurship melaporkan bahwa kurangnya pengalaman bisnis, kesulitan meningkatkan modal awal, birokrasi, lingkungan ekonomi yang buruk dan "ketakutan akan kegagalan Eropa" bawaan sering disalahkan untuk mencegah lebih banyak pengusaha potensial Eropa. dari mengambil risiko. Di Amerika Serikat, lebih dari 60% anakanak berusia 18 hingga 29 tahun melaporkan bahwa mereka ingin memiliki bisnis sendiri (Kuratko, 2. Meskipun angka-angka ini menggembirakan, beberapa penelitian terbaru menunjukkan bahwa para siswa memiliki perasaan campur aduk tentang mewarnai kewirausahaan sebagai karir dan yang sangat berbeda berniat untuk mengejar karir wirausaha segera setelah lulus (Hisrich dan Peters 2. Bosma et al. juga mengklaim bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang bekerja dalam kewirausahaan. Perluasan memulai bisnis baru untuk ekonomi dan masyarakat, ini adalah area penelitian yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Untuk memahami lebih jauh tentang masalah ini, penting untuk mengetahui lebih banyak tentang upaya karir mahasiswa dan berbagai lingkungan masing-masing. FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya Theory Of Planned Behavior (TPB) Theory of Planned Behavior merupakan teori yang dikemukakan oleh Ajzen dan Fishbein mengenai perilaku spesifik dalam diri individu. Secara umum, faktor anteseden keinginan dapat diungkapkan melalui Theory of Planned Behavior (TPB) yaitu keyakinan atau sikap berperilaku, norma subjektif dan kontrol perilaku atau Efikasi diri. Perhatian utama dalam theory of planned behavior adalah pada niat atau intensi seseorang untuk melakukan suatu perilaku. Karena niat merupakan variabel antara yang menyebabkan terjadinya perilaku dari suatu sikap maupun variabel lainnya. Niat merupakan mediator pengaruh berbagai faktor-faktor motivasional yang berdampak pada suatu perilaku dan Di samping itu, niat juga menunjukkan seberapa keras seseorang berani mencoba. Niat menunjukkan seberapa besar upaya yang direncanakan seseorang untuk dilakukannya dan niat adalah paling dekat berhubungan dengan perilaku selanjutnya. Dan teori ini menjelaskan bahwa suatu perilaku akan dilakukan jika seseorang pada dasarnya memiliki keinginan atau rencana untuk melakukannya. Dengan kata lain, semakin kuat keinginan pada diri seseorang tersebut untuk melakukan sesuatu, maka akan semakin kuat pula niat atau motivasi untuk menampilkan suatu perilaku (MaAosumah, 2. TPB terdiri dari efikasi diri, norma subjektif, dan sikap. Efikasi diri merupakan bentuk dari rasa kepercayaan diri seseorang dalam menghadapi masalah. Aspek pokoknya yaitu rasa akan kemampuan suatu individu untuk berani melakukan tindakan yang dihadapinya. Jadi efikasi diri dapat mempengaruhi niat berwirausaha dari sisi internal yaitu rasa kepercayaan diri untuk memulai suatu usaha. Norma subjektif menurut Baron dan Byrne . Aypersepsi individu berhubungan dengan kebanyakan dari orang-orang yang penting bagi dirinya, mengharapkan individu untuk melakukan atau tidak melakukan tingkah laku tertentu, orang-orang yang penting bagi dirinya itu kemudian dijadikan acuan atau patokan untuk mengarahkan tingkah lakuAy. Norma subjektif ditentukan oleh normative beliefes dan motivation to comply. Jadi, seseorang cenderung melakukan suatu tindakan berdasarkan hal- hal yang diharapkan oleh orang yang dianggap penting atau berdasarkan norma yang berlaku pada saat itu. Sedangkan. Sikap merupakan dasar dari intensi di mana sikap mempunyai aspek pokok yaitu keyakinan individu bahwa menampilkan atau tidak menampilkan perilaku tertentu akan menghasilkan akibat atau hasil tertentu, semakin positif pemikiran suatu individu maka akan semakin positif pula sikap individu terhadap obyek Theory of Entreprenurial Even Model Theory Entrepreneurial Event dari Shapero-Krueger, dengan menggunakan efikasi diri sebagai faktor utama kelayakan yang dirasakan . erceived feasibilit. Untuk berperilaku sesuai dengan persepsi yang dimiliki pada feasibility dan desirability, maka seseorang harus memiliki keberanian dalam mengambil resiko yang melekat dalam kegiatan usaha yang dimilikinya. Bandura . menyatakan efikasi diri sebagai keyakinan terhadap kemampuan yang dimiliki untuk melakukan pekerjaan serta memperoleh prestasi, selanjutnya menyatakan bahwa efikasi diri menentukan cara seseorang berpikir, bertindak dan memotivasi dirinya dalam menghadapi kesulitan serta masalah lainnya. Berhasil FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya tidaknya seseorang dalam melaksanakan tugas yang dibebankan sangat ditentukan oleh efikasi diri yang dimiliki. Theory of Entreprenurial Even memiliki tiga faktor yang dapat memprediksi keinginan berwirausahan, yaitu perceived desirability, perceived feasibility, dan popensity to act. Perceived desirability adalah keinginan yang dirasakan sebagai daya tarik pribadi untuk memulai bisnis, termasuk dampak intrapersonal dan ekstrapersonal. perceived feasibility adalah perasaan individu bahwa mereka memiliki keyakinan mampu memulai sebuah bisnis. Sedangkan, popensity to act adalah kecenderungan individu untuk melakukan implementasi atau tindakan memulai sebuah bisnis. Entreprenurial Intention (Keinginan Berwirausah. Keinginan berwirausaha . ntrepreneur intentio. terdiri dari 2 kata, keinginan dan keinginan atau Minat merupakan rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Seseorang yang memiliki keinginan akan suatu aktivitas akan melakukan aktivitas tersebut dengan rasa senang. Menurut Slameto . keinginan adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Faktor yang mempengaruhi tumbuhnya keputusan untuk berwirausaha merupakan hasil interaksi dari beberapa faktor yaitu karakter kepribadian seseorang dan lingkungannya (Walipah, 2. Menurut Nitisusastro . wirausaha merupakan seseorang yang mengorganisasikan, mengoperasikan dan memperhitungkan risiko untuk sebuah usaha yang mendatangkan laba. Kemudian menurut Miredith . wirausaha pada hakikatnya adalah suatu kemampuan melihat dan menilai kesempatankesempatan bisnis, mengumpulkan sumber-sumber daya yang dibutuhkan guna mengambil keuntungan dari padanya dan mengambil tindakan yang tepat guna memastikan sukses. Keinginan berwirausaha merupakan rasa senang dan tertarik dalam melakukan aktivitas Seseorang yang telah memiliki Keinginan dalam berwirausaha akan lebih siap dalam menanggung berbagai risiko yang mungkin terjadi ketika seseorang tersebut telah memutuskan untuk memulai berwirausaha. Keinginan berwirausaha juga akan timbul ketika seseorang telah banyak mendapatkan informasi tentang dunia kewirausahaan baik dari pengalaman orang lain maupun dari buku kewirausahaan. Seseorang yang telah senang dan tertarik untuk menjadi wirausaha ingin lebih mengetahui tentang kegiatan kewirausahaan. Turker dan Selcuk . menemukan bahwa individu yang berwirausaha memiliki keinginan yang kuat untuk terus belajar, sehingga dapat meningkatkan kemampuan dirinya dalam berwirausaha. Hipotesis Penelitian Berdasarkan landasan teori yang digunakan, maka investigasi ini membangun hipotesis H1 : Efikasi diri berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha H2 : Norma subjektif, berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha H3 : Perceived desirability berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha H4 : Perceived feasibility berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha H5 : Propensity to act berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya Gambar 3. Kerangka Konseptual METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Data penelitian kuantitatif, sering ditekankan pada data berisikan tanggapan dari responden yang dikodekan, dikelompokkan, dan diperkecil jumlahnya kemudian dianalisis secara statistik untuk menghasilkan suatu kesimpulan (Kennedy et al. , 2. Populasi yang akan digunakan peneliti sebagai responden dalam penelitian adalah mahasiswa yang berada di lingkungan Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya (IIB Darmajay. Selanjutnya, sampel yang digunakan sebagai responden adalah mahasiswa IIB Darmajaya sebesar 92 mahasiswa. Teknik pengambilan sampling menggunakan purposive sampling. Kriteria pengambilan sampling, yaitu: Mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi yang memilki keinginan berwirausaha. Mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi yang sudah mengambil mata kuliah Teknopreneur, dan mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi yang masih aktif. Seluruh instrumen pengukuran dalam penelitian ini menggunakan definisi operasional yang sama dengan definisi konseptual dan menggunakan kuesioner yang diadapatasi dari penelitian terdahulu. Keinginan berwirausaha diadopsi dari Paco et al. dengan 6 Pertanyaan-pertanyaan di antaranya. I am ready to do anything to be an entrepreneur. My professional goal is to become an entrepreneur. I will make every effort to start and run my own firm. Kuesioner terkait dengan TPB dan Entreprenurial Even diadopsi alat ukur yang dikembangkan oleh Krueger et al. Pertanyaan-pertanyaannya diantara lain, yaitu: Is starting your own business an attractive idea to you. Would family and friends FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya want you to start your own business. Sedangkan, pertanyaan enterprenurial event, yaitu would love doing it. How tense would you be?. How enthusiastic would you be?. How overworked would you be? Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear berganda. Sedangkan, untuk pengujian hipotesis menggunakan pengujian uji T. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Total kuesioner yang didistribusikan kepada responden berjumlah 92 kuesioner. Kuesioner didistribusikan melalui online. Kuesioner yang didistribusikan sudah mencukupi syarat jumlah sampel yang digunakan. Gay dan Diehl . menyatakan bahwa jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian deskriktif minimum 10% dari jumlah populasi. Berikut tabel hasil pendistribusian kuesioner: Tabel 1 Hasil Pendistribusian Kuesioner Jumlah Persentase Kuesioner yang didistribusikan Kuesioner yang tidak dikembalikan Kuesioner yang kembali Kuesioner yang tidak dapat diolah Kuesioner yang dapat diolah Keterangan Responden dalam penelitian ini adalah mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya. Karakteristik responden dalam penelitian ini meliputi: jenis kelamin dan bidang minat berwirausaha. Hasil deskripsi responden memperlihatkan bahwa berdasarkan jenis kelamin responden terbanyak berjenis kelamin laki-laki, berdasarkan usia responden terbanyak adalah karyawan berusia pada rentang umur 31 Ae 35 tahun, berdasarkan jabatan responden terbanyak yaitu dosen tetap, dan berdasarkan masa kerja responden terbanyak memiliki masa kerja lebih dari 5 tahun. Berikut tabel hasil deskripsi responden: Tabel 2. Deskripsi Responden Deskripsi Jenis Kelamin . Pria . Wanita Frekuensi Persentase FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya Bidang Minat Berwirausaha . Kuliner . Desain . Properti . Fashion . Hasil Bumi . Kuliner . Peternakan . Otomotif Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Berikut adalah persamaan dalam analisis regresi linear berganda: Tabel 3 Analisis Regresi Linear Berganda Model (Constan. Efikasi Diri Norma Subjektif Perceived Desirability Perceived Feasibility Propensity To Act Entreprenurial Intention Dependent Variabel: Kinerja Karyawan Unstandardized Coefficients 4,375 0,523 0,306 0, 634 0,453 0,540 0,670 Berdasarkan pada tabel tersebut diketahui bahwa persamaan regresi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = 4,375 0,523 0,306 0,634 0,453 0,540 0,670 Dengan demikian dapat diartikan bahwa: Nilai konstanta sebesar 4,375 menunjukan bahwa jika Efikasi Diri. Norma Subjektif. Perceived Desirability. Perceived Feasibility. Propensity To Act. Entreprenurial Intention bernilai nol maka nilai Entreprenurial Intention sebesar 4,375. Nilai koefisien Efikasi Diri sebesar 0,523 menunjukan bahwa jika variabel Efikasi Diri meningkat maka Entreprenurial Intention akan naik sebesar 52,3% Nilai koefisien Norma Subjektif sebesar 0,306 menunjukan bahwa jika variabel Norma Subjektif meningkat maka Entreprenurial Intention akan naik sebesar 30,6% Nilai koefisien Perceived Desirability sebesar 0,634 menunjukan bahwa jika variabel Perceived Desirability meningkat maka Entreprenurial Intention akan naik sebesar 63,4% FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya Nilai koefisien Perceived Feasibility sebesar 0,453 menunjukan bahwa jika variabel Perceived Feasibility meningkat maka Entreprenurial Intention akan naik sebesar 45,3% Nilai koefisien Propensity To Act sebesar 0,540 menunjukan bahwa jika variabel Propensity To Act meningkat maka Entreprenurial Intention akan naik sebesar Hasil Pengujian Hipotesis Berikut adalah hasil pengujian hipotesis : Tabel 4 Hasil Pengujian Hipotesa Nilai Signifikansi Kondisi Keterangan Efikasi Diri dan Entreprenurial Intention 0,000 0,000 < 0,05 Berpengaruh Norma Subjektif dan Entreprenurial Intention 0,001 0,001 < 0,05 Berpengaruh Perceived Desirability dan Entreprenurial Intention 0,000 0,000 < 0,05 Berpengaruh Perceived Feasibility dan Entreprenurial Intention 0,000 0,000 < 0,05 Berpengaruh Propensity To Act dan Entreprenurial Intention 0,000 0,000 < 0,05 Berpengaruh Variabel Berdasarkan hasil uji hipotesis ditemukan bahwa Efikasi Diri. Norma Subjektif. Perceived Desirability. Perceived Feasibility, dan Propensity To Act berpengaruh pada Entreprenurial Intention. Hal ini dapat diartikan bahwa untuk meningkatkan Entreprenurial Intention pada mahasiswa perlu memperhatikan variabel pembentuknya, yaitu Efikasi Diri. Norma Subjektif. Perceived Desirability. Perceived Feasibility, dan Propensity To Act. Temuan penelitian ini menguatkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mwiya et al. yang menemukan bahwa Entreprenurial Intention dapat ditingkatkan dengan faktor interinsik (Perceived Desirability dan Perceived Feasibilit. dan faktor interinsik (Efikasi Diri. Norma Subjektif, dan Propensity To Ac. dengan berlandaskan theory planned Pembahasan Temuan pertama menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh positif pada entreprenurial intention. Efikasi diri merupakan konsekuensi dari tindakan individu yang menentukan masa depan (Bandura, 2. Efikasi diri yang dimiliki oleh individu dapat mempengaruhi besarnya minat berwirausaha. Ketika individu memiliki efikasi diri maka individu tersebut akan melakukan tindakan yang mengarahkan individu tersebut menjadi Selain itu, dengan efikasi diri yang tinggi, individu juga akan memiliki FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya kegigihan dan semangat juang untuk meraih apa yang telah dicita-citakan. Darmawan . menemukan hal yang sama, dimana efikasi diri dapat memperkuat entreprenurial intention. Temuan kedua dari penelitian ini adalah norma subjektif berpengaruh positif pada entreprenurial intention. Norma subjektif menekankan pada perspsi individu terkait dengan dukungan dari lingkungan sekitar untuk mendukung pencapaian cita-cita (Baron dan Bryne. Dukungan dari lingkungan sekitar dapat berupa keyakinan peran keluarga dalam memulai usaha, keyakinan dukungan teman dalam usaha, keyakinan dukungan dari dosen, keyakinan dukungan dari pengusaha-pengusaha yang sukses, dan keyakinan dukungan dalam usaha dari orang yang dianggap penting (Jaya dan Seminari, 2. Bentuk dukungan tersebut dapat menjadi motivasi atau dukungan pada individu yang akan memulai berbisnis. Ketika keluarga, teman, dan dosen mendorong individu untuk berbisnis, maka di dalam diri individu akan muncul sesuatu tekad dan keinginan kuat untuk memulai berbisnis. Selain itu, pengusaha-pengusaha sukses juga dapat memberikan movitasi, dimana kesuksesan yang dimiliki oleh pengusaha tersebut dapat dijadikan contoh individu untuk meraih kesuksesan yang sama. Santoso dan Handoyo . memperkuat temuan ini, dimana mereka menemukan bahwa individu yang memulai bisnis dipengaruhi oleh tingkat norma subjektif individu tersebut. Temuan lain dari penelitian ini yaitu perceived desirability dan perceived feasibility berpengaruh pada entreprenurial intention. Perceived desirability merupakan individu memandang bahwa penciptaan suatu bisnis merupakan sesuatu hal yang menarik dan Jika individu memiliki perceived desirability, maka individu tersebut merasa tertarik, tertantang, dan memiliki keyakinan yang kuat untuk menciptakan suatu bisnis. Sedangkan, perceived feasibility menekankan pada persepsi individu akan kemampuan dan sumber daya yang dimiliki untuk menciptakan satu bisnis. Ketika individu memiliki persepsi yang kuat akan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki untuk memulai bisnis dan memiliki sumber daya, maka hal tersebut akan mendorong individu untuk mengimplementasikan penciptaan bisnis baru. Darmanto . memperkuat temuan penelitian ini, hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat perceived desirability dan perceived feasibility memperkuat entreprenurial Intention yang dimiliki oleh individu. Temuan terkahir dari penelitian ini adalah propensity to act berpengaruh pada entreprenurial intention. Propensity to act merupakan dorongan dari dalam diri untuk bersikap dan berperilaku dalam mencapai keinginan. Propensity to act sangat penting dalam membentuk entreprenurial Intention. Ketika, individu memiliki propensity to act yang tinggi, individu akan memiliki sikap dan perilaku yang dapat mendukung individu tersebut dalam memulai berbisnis. Sikap dan perilaku tersebut dapat ditunjukkan dengan optimism, keyakinan yang kuat, keingian untuk terus belajar, tidak pantang menyerah, dan inovatif. Perilaku dan sikap tersebut dapat mendorong munculnya keinginan kuat untuk FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian ini, kesimpulan yang dapat diambil adalah : . Efikasi diri berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha, . Norma subjektif, berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha, . Perceived desirability berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha, . Perceived feasibility berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha, dan . Propensity to act berpengaruh positif pada keinginan berwirausaha Saran Untuk meningkatkan keinginan berwirausaha atau entreprenurial Intention mahasiswa, maka Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya disarankan untuk memasukkan faktorfaktor yaitu : Efikasi Diri. Norma Subjektif. Perceived Desirability. Perceived Feasibility, dan Propensity To Act kedalam materi ajar untuk mata kuliah kewirausahaan, technopreneurship, dan pengembangan bisnis. Untuk meningkatkan faktor-faktor tersebut, terdapat beberapa cara yang dapat diimplementasikan kedalam matakuliah yaitu: . Dosen sebagai pengampu matakuliah harus dapat memotivasi mahasiswa untuk menciptakan suatu bisnis baru yang memiliki keberlanjutan. Selain itu, dosen pengampu juga harus melakukan bisnis, agar dapat menceritakan bagaimana proses bisnis yang dilakukan dapat berjalan secara kontinu, . Pada saat perkuliahan berjalan, peer grup dosen pengampu dapat mengundang salah satu pembicara baik skala lokal maupun nasional untuk memotivasi, berbagi pengetahuan, dan menumbuhkan keinginan berwirausaha pada mahasiswa, . Inkubator bisnis yang dimiliki institusi harus melakukan monitoring setelah mahasiswa melakukan penciptaan bisnis, agar kontiuitas bisnis tersebut dapat berjalan. Inkubator bisnis juga harus menyediakan marketplace untuk produk-produk yang dihasilkan oleh mahasiswa, agar hal ini dapat menjadi sarana dukungan bagi mahasiswa yang melakukan usaha rintisan. DAFTAR PUSTAKA Ajzen. The theory of planned behavior. Organizational behavior and human decision processes, 50. , 179-211. Artha. Hadi. , & Khairi. Penyuluhan kepada Siswa Kelas XII SMK Batik Sakti 2 Kebumen untuk Menumbuhkan Jiwa Wirausaha. E-Dimas: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat, 12. , 48-51. Bandura. Exercise of Human Agency Through Collective Efficacy. Current Direstions in Psychological Science. 9, 75-78 Baron. Byrne. , & Branscombe. Social Psychology. Pearson Education. Baron. A & Byrne. Social Psychology. Understanding Human Interactions. 12th Edition. Bektas. Entrepreneurial intentions of Turkish university students. International Journal of Arts & Sciences, 4. , 167-181 Bosma. Schutjens. , & Stam. Entrepreneurship in European regions. Public policies for fostering entrepreneurship. Springer. New York. NY. FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYA MATARAM Entrepreneurship Bisnis Manajemen Akuntansi (E-BISMA), 3. , 11-24 Stefanus Rumangkit. Sri Rahayu, dan Yan Aditya Darmanto. Pengaruh Perceived Desirability. Perceived Feasibility. Propensity To Act Terhadap Intensi Berwirausaha. Jurnal Ilmiah Dinamika Ekonomi dan Bisnis, 1. , 85-99. Darmawan. Pendidikan Kewirausahaan dan Efikasi Diri Serta Pengaruhnya Terhadap Intensi Berwirausaha. Ekonomi. Keuangan. Investasi Dan Syariah. EKUITAS, 1. , 16-21. do Payo. Ferreira. Raposo. Rodrigues. , & Dinis. Behaviours and entrepreneurial intention: Empirical findings about secondary Journal of International Entrepreneurship, 9. , 20-38. Gay. , & Diehl. Research methods for business and management. Macmillan Coll Division. Global Entrepreneurship Monitor . GEM 2013 Global Report. Tersedia di https://w. org/report/gem-2013-global-report, diakses pada Mei Hisrich dan Peters . Entrepreneurship. McGraw-Hill Education Jaya. , & Seminari. Pengaruh norma subjektif, efikasi diri, dan sikap Terhadap intensi berwirausaha siswa SMKN di Denpasar. Doctoral dissertation. Udayana University. Katz. The chronology and intellectual trajectory of American entrepreneurship education: 1876Ae1999. Journal of business venturing, 18. , 283-300. Kennedy. Farrell. Paden. Hill. Jolivet. Cooper. , & Schindler Rising. A randomized clinical trial of group prenatal care in two military Military medicine, 176. , 1169-1177. Krueger Jr. Reilly. , & Carsrud. Competing models of entrepreneurial intentions. Journal of business venturing, 15. , 411-432. Kuratko. Entrepreneurial leadership in the 21st century: Guest editor's Journal of Leadership & Organizational Studies, 13. , 1-11. Ma'sumah. Efektivitas Penegakan Hukum Kejahatan Prostitusi Online yang Melibatkan Perempuan dan Anak. Legal Spirit, 2. , 14-22 Meredith. Doing business internationally: an annotated bibliography. Reference