Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 DOI: https://doi.org/10.38035/jihhp.v2i2 Received: 16 Maret 2022, Revised: 24 Maret 2022, Publish: 30 April 2022 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PARADIGMA BERPIKIR KESISTEMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM: GLOBALISASI, MANAJEMEN LEMBAGA DAN MUTU PENDIDIKAN Achmad Fauzi1, Kemas Imron Rosadi2 1) Mahasiswa Program Doktor Manajemen Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi, achfauzi2batam@gmail.com 2) Dosen Pasca Sarjana, Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi, kemasimronrosadi@uinjambi.ac.id Corresponding Author: Achmad Fauzi 1 Abstract: Dalam kajian ini penulis mencoba mengangkat factor-faktor yang mempengaruhi paradigma berpikir kesisteman pendidikan Islam. Yang menjadi fokus masalah bagi penulis ialah faktor globalisasi, manajemen lembaga dan mutu pendidikan. Selanjutnya dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif. Pendekatan ini lebih dideskripsikan dan diklasifikasikan sesuai dengan kondisi penelitian. Selain itu penulis juga menggunakan pendekatan penelitian kepustakaan atau library research. Dari hasil kajian ini menunjukkan bahwa : Globalisasi, Manajemen Lembaga dan Mutu Pendidikan berpengaruh terhadap Paradigma Berpikir Kesisteman Pendidikan Islam dimana untuk meningkatkan pendidikan islam di era Globalisasi harus dapat memposisikan kedalam komponen sistem terpenting bagi lembaga pendidikan, metode berpikir yang harus di lakukan oleh lembaga pendidikan islam adalah menanamkan pola pikir yang objektif dan kesisteman berpengaruh terhadap pendidikan islam, dimana untuk meningkatkan kualitas Mutu Pendidikan islam melalui kesisteman, maka yang harus di lakukan oleh Manjemen lembaga pendidikan islam adalah memprioritaskan pola manajemenya dengan kesisteman. Dari ketiga pengaruh tersebut menunjukkan adanya tuntutan kecerdasan dan pemahaman untuk lebih memahami pesan dan hukum dari sumber ajaran Islam. Keyword: Paradigma Berpikir Kesisteman, Globalisasi, Manajemen Lembaga, Mutu Pendidikan PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara. Mengutip pendapat (Mukhtar et al., 2016) mengemukakan bahwa Pendidikan merupakan salah satu bidang yang memiliki peran penting dan strategis dalam pembangunan Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 183 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 suatu bangsa. Bahkan menjadi faktor dominan dalam proses peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa Era globalisasi yang ditandai perkembangan teknologi dan informasi dan perdagangan bebas antar negara telah menjadi problematika sendiri bangsa Indonesia. Kekhawatiran yang sering muncul dari adanya perkembangan dunia tersebut adalah sudah siapkah pendidikan kita menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang mandiri dan berdaya saing tinggi atau kompetitif, padahal dari segi mutu dan kualitas pendidikan kita masih jauh di bawah bangsa lain dan negara ASEAN. Menurut Amidong yang mengutip pendapat Alvin Toffler , ia telah meramalkan bahwa di era modernisasi Akan banyak sekali bermunculan sekte-sekte dan pemikiran-pemikiran ekstrem yang bisa mengganggu perjalanan era globalisasi (Amidong et al., 2019). Pendidikan Islam tengah dihadapkan berbagai tantangan dan isu modernisasi. Jika dipandang dari sudut perkembangan zaman tentu akan melahirkan pemikiran-pemikiran yang global dan universal serta akan menghadirkan dampak modernisasi yang begitu cepat serta diiringi dengan munculnya kumpulan-kumpulan manusia ekstrem dan irasional yang membentuk sekte-sekte sebagai counter produk dari globalisasi pemikiran dan budaya tersebut. Penyelenggaraan lembaga pendidikan Islam sebagai sebuah sistem organisasi wajib mengaplikasikan manajemen berbasis mutu untuk mampu bersaing di tengah makin kompleksnya tekanan dari lembaga pendidikan lain serta arus era digital 4.0. Sumberdaya manusia perguruan tinggi yang berkualitas mempunyai peran yang strategis dalam mencapai standar kompetensi lulusan. Hal inilah yang menjadi tantangan terberat pengelola perguruan tinggi dalam mempersiapkan sumberdaya manusia yang cerdas, berbudi pekerti luhur, insan agamis, terampil serta mampu bersaing baik domestik maupun internasional dalam bidang ilmu yang ditekuninya Persaingan antar lembaga pendidikan sering terjadi. Baik lembaga pendidikan umum maupun lembaga pendidikan keagamaan. Persaingan yang terjadi adalah persaingan dalam hal mutu pendidikan yang terbangun dari perencanaan, proses, dan evaluasi yang sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP). Selaras dengan pendapat Saifulloh mutu lembaga pendidikan Islam sebenarnya melebihi pendidikan umum, sebab lembaga pendidikan Islam memiliki kelebihan pada mata pelajaran agama. Hal ini yang menjadi keuntungan lembaga pendidikan Islam untuk menjadi lebih marketable bagi stakeholder. (Kuntoro, 2019) menyatakan bahwa persoalan mutu tidak hanya menyangkut soal input, proses, dan output saja tapi juga outcome. Input pendidikan yang bermutu adalah pendidik, karyawan, peserta didik, kurikulum, sarana dan prasarana serta aspek penyelenggaraan pendidikan lainnya. Proses pendidikan yang bermutu adalah proses pembelajaran dan penyelenggaraan pendidikan. Output yang bermutu adalah lulusan yang memiliki kompetensi yang dipersyaratkan. Dan Outcome yang bermutu adalah lulusan yang mampu melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi Ketatnya persaingan dalam lapangan kerja pada saat ini menuntut lulusan dari suatu lembaga pendidikan.yang bermutu. Hal ini merupakan implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang memungkinkan peluang negara asing membuka lembaga pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu persaingan antar lembaga pendidikan dan pasar kerja akan semakin berat. Artikel ini membahas Faktor-faktor yang mempengaruhi paradigma berpikir kesisteman dalam pendidikan Islam: Globalisasi, Manajemen Kelembagaan dan Mutu pendidikan Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang, maka dapat di rumuskan permasalahan yang akan dibahas guna membangun hipotesis untuk riset selanjutnya yaitu: Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 184 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 1. 2. 3. 4. E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 Faktor–faktor apa sajakah yang mempengaruhi paradigma berfikir kesisteman? Bagaimana pengaruh Globalisasi terhadap paradigma berfikir sistemik? Bagaimana pengaruh Manajemen Lembaga terhadap paradigma berfikir sistemik? Bagaimana pengaruh Mutu Pendidikan terhadap paradigma berfikir sistemik? KAJIAN PUSTAKA Pengertian Paradigma Berpikir Kesisteman Kata Paradigma dalam bahasa Inggris adalah paradigm yang berarti “model”. Sedangkan Barker menyatakan bahwa kata paradigma berasal dari bahasa Yunani yaitu Paradeigma, yang juga berarti model, pola, dan contoh (Barker, 1999). Paradigma ilmu dirumuskan oleh Kuhn sebagai kerangka teoritis, atau suatu cara memandang dan memahami alam, yang telah digunakan oleh komunitas ilmuwan sebagai pandangan dunianya. Paradigma ilmu ini berfungsi sebagai lensa, sehingga melalui lensa ini para ilmuwan dapat mengamati dan memahami masalah-masalah ilmiah dalam bidang masingmasing dan jawaban-jawaban ilmiah terhadap masalah-masalah tersebut (Farid, 2021). Paradigma Haines mendefinisikan; Paradigms are a set of rules and regulations that: (1) establish boundaries, (2) set rules for success, and (3) show what is — and isn’t — important. The world- famous futurist, Joel Barker, brought the paradigm concept dramatically to our attention in the 1990s. It was his observation that organizations (and people, too) establish a set of paradigms that eventually become so entrenched that they are never challenged; Paradigma adalah seperangkat aturan dan regulasi yang: (1) menetapkan batasan, (2) menetapkan aturan untuk sukses, dan (3) menunjukkan apa yang - dan tidak - penting. Futuris terkenal dunia, Joel Barker, membawa konsep paradigma secara dramatis ke perhatian kita pada tahun 1990-an. Itu adalah pengamatannya bahwa organisasi (dan orang-orang, juga) menetapkan seperangkat paradigma yang akhirnya menjadi begitu mengakar sehingga mereka tidak pernah ditantang (Haines, 2000). (Hidayatno, 2013) menyatakan bahwa berpikir merupakan suatu aktivitas pikir dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, berpikir merupakan proses kognitif yang tidak dapat dilihat secara fisik. Hasil dari berpikir itupun bersifat abstrak yakni berupa ide, pengetahuan, prosedur, argumen, dan keputusan. Selanjutnya Hidayatno memaparkan bahwa cara berpikir sistem adalah salah satu pendekatan yang diperlukan agar manusia dapat memandang persoalan-persoalan dunia ini dengan lebih menyeluruh dan dengan demikian pengambilan keputusan dan pilihan aksi dapat dibuat lebih terarah kepada sumber-sumber persoalan yang akan mengubah sistem secara efektif. Sedangkan menurut Badwi, Ismail, Hidayat dkk menyatakan bahwa berpikir yaitu merupakan bentuk interpretasi dan implementasi dari tadhakkur, tafakkur, tadabbur dan ta’aqqalu (Badwi, 2016; Hidayat et al., 2016; Ismail, 2014). Makna Tadhakkur yang berarti mengingat. Maksud dari arti mengingat yaitu suatu proses menyimpan sesuatu yang sebelumnya sudah di ketahui, sehingga timbul kesadaran. Tadhakkur deriviasi dari ad-dhikr yang maknanya segala sesuatu yang terpikir oleh hati dan terucap oleh lisan. Firman Allah dalam QS. Al-A’la:15: Yang Artinya; dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. (Nata, 2010) sebagai sebuah sistem, pendidikan Islam memiliki berbagai komponen yang antara satu dan lainnya saling terkait, dan didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam sebagaimana terdapat di dalam al-Qur‟an dan al-Sunnah, serta pendapat para ulama dan warisan sejarah yang sesuai dengan al-Qur‟an dan al-Sunnah tersebut. Nilai-nilai ajaran Islam tersebut antara lain keadilan, kejujuran, kesederajatan, keseimbangan, keterbukaan, kemanusiaan, kesesuaian dengan fitrah manusia, kesesuaian dengan tempat dan perkembangan zaman, keunggulan, profesionalitas, keikhlasan, dan akhlak mulia lainnya. Kesisteman menurut Russell L. Ackoff “system thinking is a system is a whole consisting of two or more parts, firsth; Each of which can affect the performance or properties Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 185 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 of the whole, seconds; none of which can have an independent effect on the whole and, thrith; no subgroup of which can have an independent effect on the whole, in brief, then, a system is whole that cannot be devided into independent parts or subgroups of parts”. (Ackoff, 1994). Selanjutnya menurut Sumarto kesisteman merupakan kesatuan bagianbagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu wilayah serta memiliki item-item penggeraknya (Sumarto, 2016). Kesisteman dalam pendidikan islam sudah banyak di teliti oleh peneliti sebelumnya di antaranya adalah (Hidayatno, 2013; Salamun, 2017; Syahminan, 2014). Berpikir sistematik menurut paul dan elder adalah sebuah metode dalam memahami sistem dan subsitem yang komplesitasnya rumit dengan analisa bagianbagian-bagian sistem tersebut untuk kemudian mengetahui pola hubungan yang terdapat didalam setiap unsur atau elemen penyusun sistem tersebut. Pada prinsipnya berpikir sistemik mengkombinasikan dua kemampuan berpikir, yaitru kemampuan berpikir analis dan berfikir sintesis (Tiruneh et al., 2014). Menurut (Flood & Marion, 1999), mengambil gambar dari karya Peter Senge tahun 1990 tentang pemikiran sistemik dan bisnis. Pemikiran sistemik mengeksplorasi segala sesuatu secara keseluruhan dan sangat relevan Dengan kualitas keutuhan. Kualitas keutuhan ini berhubungan dengan setiap aspek kehidupan kita ditempat kerja dan di rumah Peristiwa kehidupan dapat dipahami dengan cara yang bermakna hanya dengan pengetahuan itu tindakan kita berkontribusi pada pola tindakan yang saling terkait. Berfikir kesisteman mengisyaratkan kepada ciri dan karakteristik tertentu yang mejadi pokok yang dipenuhi dalam berpikir sistem yakni; holistic, sintetik dan efektif lihat tabel berikut: Tabel Ciri dan karakter berpikir sistem (Tim Penulis, 2017). Berpikir sistem dalam pendidikan Islam sudah banyak di teliti oleh peneliti sebelumnya di antaranya adalah (Ahyat, 2017; Ismail, 2014; Sakir, 2016; Samrin, 2015) (Astutik, 2018; Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 186 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 Hidayatno, 2013; Liberna, 2012; Suryana, 2012; Suwardana, 2018; Amidong et al., 2019; Darmadji, 2013; Galea et al., 2010; Halik, 2016; Musyrifin, 2016; Syahminan, 2014). Globalisasi Globalisasi mengandung arti terintegrasinya kehidupan nasional ke dalam kehidupan global. Dalam bidang ekonomi, misalnya, globalisasi ekonomi berarti terintegrasinya ekonomi nasional ke dalam ekonomi dunia atau global (Fakih, 2002). Bila dikaitkan dalam bidang pendidikan, globalisasi pendidikan berarti terintegrasinya pendidikan nasional ke dalam pendidikan dunia. Waters mendefinisikan globalisasi dari sudut pandang yang berbeda. Dia mengatakan bahwa globalisasi merupakan sebuah proses sosial, dimana batas geografis tidak penting terhadap kondisi sosial budaya, yang akhirnya menjelma ke dalam kesadaran seseorang (Waters, 2001). Definisi ini hampir sama dengan apa yang dimaksudkan oleh Giddens. Dimana, globalisasi adalah adanya saling ketergantungan antara satu bangsa dengan bangsa lain, antara satu manusia dengan manusia lain melalui perdagangan, perjalanaan, pariwisata, budaya, informasi, dan interaksi yang luas sehingga batas-batas negara menjadi semakin sempit (Giddens, 1990). Globalisasi adalah proses intergrasi internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran, dan aspek kebudayaan lainya. Kemajuan infrastuktur transportasi dan telekomunikasi, termasuk kemunculan telegraf dan internet, merupakan salah satu factor utama dalam globalisasi yang semakin mendorong saling ketergantungan(interdependesi)ekonomi dan budaya. Sehingga globalisasi mer upakan pemadatan dunia dan permerkayaan kesadaran dunia secara keseluruhan (Robertson, 1992). Globalisasi mempunyai dampak positif dan negatif, dampak positif yang ditimbulkan oleh globalisasi diantaranya adalah: (1) Perubahan tata nilai dan sikap, adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap masyarakat yang semua irasional menjadi rasional. (2) Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju. (3) Tingkat kehidupan yang lebih baik, dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup masyarakat (Quick-zone, 2010). Namun beberapa dampak negatif sebagai akibat dari globalisasi diantaranya adalah: (1) Pola hidup konsumtif, perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak pilihan yang ada, jika hal semacam ini tidak terkontrol maka bukan tidak mungkin pola hidup konsumtif menjadi keniscayaan. (2) Sikap individualistik, masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitas. (3) Gaya hidup kebarat-baratan, tidak semua budaya barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja, dan lain-lain. (4) Kesenjangan sosial, apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial (Quick-zone, 2010). Manajemen Lembaga Manajemen berasal dari kata manage to man. Kata manage berarti mengatur ataupun mengelola, sedangkan kata man berarti manusia. Jadi jika kedua kata tersebut digabungkan menjadi satu, manajemen yaitu mengelola ataupun mengatur manusia. Menurut Malayu S.P. Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 187 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 Hasibuan, manusia menjadi salah satu unsur sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan organisasi (Karyoto, 2016). Menurut Veblen, kelembagaan adalah sekumpulan norma dan kondisi-kondisi ideal (sebagai subyek dari perubahan dramatis) yang direproduksi secara kurang sempurna melalui kebiasaan pada masing-masing generasi individu berikutnya (Yustika, 2013). James Stoner dan Charles Wankel memberikan batasan pengelolaan (manajemen) merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendalian upayah anggota organisasi dan penggunaan seluruh sumber daya organisasi lainnya demi tercapainya tujuan organisasi (Sastrohadiwiryo, 2003). Di dalam proses manajerial terdapat fungsi-fungsi manajemen, terutama adanya proses kepemimpinan. Untuk mencapai tujuan organisasi terdapat beberapa unsur mendasar, yaitu: a). Organisasi sebagai wadah utama adanya manajemen b). Manajer yang memimpin dan memikul tanggung jawab penuh dalam organisasi c). Aturan main dalam organisasi yang disebut anggaran dasar dan ang-garan rumah tangga d). Tujuan organisasi yang ditetapkan sebelumnya e). Perencanaan yang di dalamnya mengandung berbagai program yang akan dilaksanakan f). Pengarahan, yang memberikan ja-lan pada sumber daya manusia yang ada g). Teknik-teknik dan mekanisme pelaksanaan kegiatan organisasi h). Pengawasan terhadap semua aktivitas organisasi agar tidak menyim-pang dari rencana yang telah ditetapkan i). Sarana dan prasarana yang mengandung pelaksanaan kegiatan organi-sasi sesuai dengan perencanaan j). Penempatan personalitas sesuai dengan keahlian atau profesi-onalitas pekerjaan masingmasing k). Evaluasi terhadap semua kegiatan yang telah dilakukan l). Pertanggungjawaban akhir dari semua aktivitas yang telah dilak-sanakan sesuai dengan tugas dan kewajiban personal organisasi (Hikmat, 2009). Mutu Pendidikan Dalam KBBI, "mutu" mengacu pada kualitas, tingkatan, ukuran bahkan derajat dari sesuatu (Poerwadarminta, 1999). Dalam pengertian pendidikan, mutu meliputi Output, Input, Outcome serta proses dalam pendidikan. Rusman meyakini bahwa hasil dari proses pendidikan yang berkualitas saling berkaitan. Namun, sekolah harus menentukan kualitas output terlebih dahulu, dan harus jelas tentang tujuan apa yang ingin dicapai setiap tahun atau di waktu lain (Rusman, 2018). Menurut Deming, mutu pendidikan yang rendah dapat disebabkan karena tidak terpenuhi beberapa syarat seperti, desain kurikulum yang lemah, bangunan yang tidak memenuhi syarat, lingkungan kerja yang buruk, sistem dan prosedur yang tidak sesuai, jadwal kerja yang tidak teratur dengan baik, sumber daya yang kurang, dan pengembangan staf yang tidak memadai. Selain itu juga bisa juga karena kurangnya motivasi, kegagalan komunikasi, atau masalah yang berkaitan dengan perlengkapan-perlengkapan (Edward Sallis et al., 2006). Hari Sudradjad berpendapat bahwa pendidikan bermutu adalah pendidikan yang memiliki kemampuan untuk melatih lulusannya agar memiliki potensi dan kemampuan yang bersumber dari kemampuan personal dan sosial serta didasari pada nilai yang baik, dan kemampuan atau potensi tersebut didasarkan pada kemampuan pribadi dan sosial, dan kesemuanya merupakan kecakapan hidup yang dapat memupuk semua manusia (manusia seutuhnya) atau memiliki kemampuan komprehensif yang dapat memadukan keyakinan, pengetahuan, dan perbuatan (Suderadjat, 2005). Menurut Sudarwan Danim untuk meningkatkan mutu pendidikan menurut Sudarwan Danim harus melibatkan lima hal yang penting yang mempengaruhi yaitu:(1) Pendidik, (2) Kapabilitas Kepala Sekolah, (3) Curriculum, (4) Peserta didik dan (5) Network/jaringan (Danim, 2008). Secara Input, Output dan Outcome terdapat tigabelas karakteristik mutu pendidikan yaitu: (1) Performance (Kinerja), (2) Timeslines (waktu belajar) (3) Realibility (Handal) (4) Durability (Daya Tahan) dan (5) Aestetis (Indah) (6) Personal Interface (Hubungan manusiawi) (7) Easy of Use (Mudah Penggunaannya) (8) Feature (Bentuk khusus) (9) Conformence to Specification (Standar tertentu) (10) Consistency (Konsistensi) (11) Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 188 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 Uniform (Seragam) (12) Serviceability (Mampu melayanani) dan (13) Acuracy (Ketepatan) (Umar, 2005). Tabel 1: Penelitian terdahulu yang relevan Perbedaan dengan artikel ini 1 Parmoko (2021) Faktor yang mempengaruhi Faktor yang mempengaruhi Paradigma Berpikir pendidikan Islam : pendidikan Islam : Paradigma, kesisteman pendidikan Paradigma, Berfikir dan Berfikir dan Kesisteman (Y) islam (Y) berpengaruh Kesisteman terhadap Globalisasi (X1), Manajemen Pendidikan (X2) dan Mutu Pendidikan (X3) 2 Zulkifli Lubis Paradigma Pendidikan Globalisasi (X1) berpengaruh Manajemen Lembaga (X2) (2019) Agama Islam di Era terhadap Paradigma islam (Y) dan Mutu Pendidikan (X2) Globalisasi Menuju Pendidik berpengaruh terhadap Profesional paradigm berpikir kesisteman (Y) 3 Mutakallim (2020) Paradigma baru Manajemen Tantangan Jaman (X1) Manajemen lembaga (X2) Pendidikan pada Madrasah berpengaruh terhadap dan Mutu Pendidikan menghadapi tantangan Paradigma manajemen berpengaruh terhadap jaman pendidikan (Y) paradigm manajemen pendidikan (Y) No Author (tahun) Hasil Riset terdahulu 4.. Ade Imelda Strategi Pendidikan Islam Frimayanti (2015) Menghadapi Problematika Globalisasi 5. Bresman Paradigma baru dalam Rajagukguk meningkatkan mutu (2009) pendidikan 6. 7. 8. 9. 10 Persamaan dengan artikel ini Mutu Pendidikan (X3) dan Paradigma baru (Y) Globalisasi (X1), Manajemen Lembaga (X2) berpengaruhterhadap paradigma berpikir kesisteman (Y) Eva Iryani (2021) Berfikir kesisteman dalam Mutu Pendidikan(X3) Globalisasi (X1), social support : Ta’awun berpengaruh terhadap berpikir Manajemen Lembaga (X2) upaya peningkatan mutu kesisteman (Y) berpengaruhterhadap pendidikan agama Islam di paradigma berpikir MA ISLAM DI MAS ALkesisteman (Y) IHSANIYAH Sarang Burung Muaro Jambi Mardan Umar Peningkatan Mutu Lembaga Mutu Pendidikan(X3) Globalisasi (X1), (2017) Pendidikan Islam (Tinjauan berpengaruh terhadap berpikir Manajemen Lembaga (X2) Konsep Mutu Edward kesisteman (Y) berpengaruhterhadap Deming dan Joseph Juran) paradigma berpikir kesisteman (Y) Muhamad Arsad Faktor yang mempengaruhi Manajemen dan lembaga Globalisasi (X1) dan Mutu (2021) sistem Pendidikan Islam: pendidikan (X2) berpengaruh Pendidikan (X3) Pendanaan, Manajemen, dan terhadap system pendidikan berpengaruhterhadap Lembaga Pendidikan Islam (Y) paradigma berpikir kesisteman (Y) Sodiah (2016) Manajemen Lembaga Manajemen dan lembaga Globalisasi (X1) dan Mutu Pendidikan Islam Berbasis pendidikan (X2) Pendidikan (X3) Masyarakat dan Sekolah berpengaruhterhadap paradigma berpikir kesisteman (Y) Sumarto (2016) Berpikir Kesisteman Dalam Manajemen dan lembaga Globalisasi (X1) dan Mutu Mengatasi Permasalahan pendidikan (X2) berpengaruh Pendidikan (X3) Lembaga Pendidikan Islam terhadap system pendidikan berpengaruhterhadap (Studi Masalah di Kota Islam (Y) paradigma berpikir Jambi) kesisteman (Y) Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 189 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 METODE PENELITIAN Metode penelitian artikel ilmiah ini adalah dengan metode kualitatif dan kajian pustaka (Library Research). Mengkaji teori dan hubungan atau pengaruh antar variabel dari bukubuku dan jurnal baik secara off line di perpustakaan dan secara online yang bersumber dari Mendeley, Scholar Google dan media online lainnya. Penelitian kualitatif lebih dideskripsikan dan diklasifikasikan sesuai dengan kondisi bidang penelitian. Paradigma penelitian kualitatif adalah berpikir induktif. Setiap pertanyaan penelitian diperlakukan sebagai kasus mikro dan kemudian dibawa ke konteks yang lebih umum (Cruz, 2013). Dalam penelitian kualitatif, kajian pustaka harus digunakan secara konsisten dengan asumsi-asumsi metodologis. Artinya harus digunakan secara induktif sehingga tidak mengarahkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Salah satu alasan utama untuk melakukan penelitian kualitatif yaitu bahwa penelitian tersebut bersifat eksploratif (Ali & Limakrisna, 2013). HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Globalisasi terhadap Paradigma Berpikir Kesisteman dalam Pendidikan Islam Globalisasi telah berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan, baik terhadap tujuan, proses hubungan peserta didik dan pendidik, etika, metode maupun yang lainnya. Dalam hal tujuan misalnya, tujuan pendidikan terdapat kecenderungan yang mengarah pada materialisme, sehingga hal yang pertam yang mungkin ditanyakan oleh orang tua siswa atau siswa adalah lembaga pendidikan tempat ia belajar dapat menjamin masa depan kehidupannya. Demikian juga dengan kurikulumnya, lebih mengarah pada bagimana hal-hal yang materialistik itu dapat dicapai. Dalam hal ini belajar lebih terpokus pada aspek penguasaan ilmu (kognitif) belaka ketimbang bagaimana seorang siswa memiliki sikap yang sesuai dengan nilainilai Islam (Baharuddin & Wahyuni, 2007). Lebih rinci (Baharuddin & Wahyuni, 2007) menjelaskan ada beberapa kelemahan sekaligus problema pendidikan Islam menghadapi era globalisasi yaitu: (1) Kualitas lembaga pendidikan Islam secara umum masih menyedihkan. Meskipun ada bebarapa lembaga pendidikan Islam seperti madrasah yang sudah mampu mengungguli kualitas sekolah umum, tetapi secara umum kualitas lembaga pendidikan Islam belum memadai; (2) Citra lembaga pendidikan Islam relatif rendah. Adalah suatu kenyataan bahwa dalam ranking kelulussan lembaga pendidikan Islam umumnya berada didalam urutan dibawah sekolah umum; (3) Kualitas dan kuantitas guru yang belum memadai. Guru adalah kunci keberhasilan dalam pendidikan. Jika Gurunya berkualitas rendah dan rasio siswa tidak memadai, maka out put pendidikannya dengan sendirinya akan rendah pula; (4) Gaji Guru secara umum masih kecil; (5) Latar belakang siswa di lembaga pendidikan Islam pada umumnya dari keluarga kelas menengah ke bawah; (6) Tuntutan kompetisi dan kompetensi yang semakin meningkat; (7) Gempuran pengaruh globalisasi asing dalam bidang ekonomi, politik dan budaya yang cenderung menggeser budaya nasional yang religious. Hal ini ditandai dengan semakin menonjolnya orientasi global dalam bidang fun, fashion, dan food dikalangan remaja kita; (8) Kenakalan remaja yang semakin menghawatirkan antara lain dalam bentuk penyalahgunaan narkoba yang semakin meluas; dan (9) Harapan umat agar lembaga pendidikan Islam mampu melahirkan orang-orang yang intelek, tetapi alim dan orang-orang alim yang intelek. Harapan ini yang harus dijawab dengan sungguh-sungguh dan terus menerus mengupayakan kualitas lembaga pendidikan Islam yang terus meningkat. Era globalisasi dengan berbagai kecenderungannya sebagaimana tersebut di atas, telah melahirkan berbagai paradigma baru dalam dunia pendidikan. Visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar-mengajar, pendidik, peserta didik, manajemen, sarana prasarana, kelembagaan pendidikan, dan lainnya kini tengah mengalami perubahan besar. Pendidikan Islam dengan pengalamannya yang panjang seharusnya dapat memberikan jawaban yang tepat atas berbagai Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 190 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 tantangan tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini, pendidikan Islam membutuhkan sumber daya manusia yang andal, memiliki komitmen dan etos kerja yang tinggi, manajemen yang berbasis sistem dan infrastruktur yang kuat, sumber dana yang memadai, kemauan politik yang kuat, serta standar yang unggul. Untuk dapat melakukan tugas tersebut, pendidikan Islam membutuhkan unit penelitian dan pengembangan (research and development) yang terus berusaha meningkatkan dan pengembangkan pendidikan Islam. Hanya dengan usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan itulah, pendidikan Islam dapat mengubah tantangan menjadi peluang (Arifin, 2003). Variabel Globalisasi dan Paradigma berpikir kesisteman sudah banyak di teliti oleh peneliti sebelumnya di antaranya adalah (Abdul Khobir, 2009; Maksum & Ruhendi, 2004; Rembangy, 2008; Tantowi, 2009). Pengaruh Manajemen Lembaga terhadap Paradigma Berpikir Kesisteman dalam Pendidikan Islam Pendidikan dari masa ke masa dipelajari dengan cara mengetahui lembaga-lembaga pengajaran, sistemnya, kurikulum, metode, serta tujuannya. Sebagaimana dikemukakan oleh Asma Hasan Fahmi: “Lembaga-lembaga pendidikan Islam adalah merupakan hasil pikiran setempat yang dicetuskan oleh kebutuhan-kebutuhan suatu masyarakat Islam dan berpedoman kepada ajaran-ajarannya dan tujuan-tujuannya (Tafsir, 2006). Secara garis besar, ada tiga macam bentuk lembaga pendidikan Islam, yaitu: lembaga pendidikan informal, lembaga pendidikan nonformal, lembaga pendidikan formal: (1). Lembaga Pendidikan Informal. Maksud dari lembaga informal ini adalah pendidikan keluarga. Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang pertama bagi anak-anak. Di dalam keluarga inilah tempat meletakkan dasar-dasar kepribadian anak didik pada usia dini, karena pada usia ini, anak lebih peka terhadap pengaruh dari pendidikan orang tuanya atau anggota keluarga lainnya. (2). Lembaga Pendidikan Nonformal. Maksudnya adalah lembaga pendidikan yang ada di masyarakat, baik berupa pengajianpengajian, majelis taklim atau yang lainnya. Majelis taklim misalnya, ia adalah lembaga pendidikan yang ada di masyarakat yang tumbuh dan berkembang dari kalangan masyarakat Islam itu sendiri, yang kepentingannya untuk kemaslahatan umat manusia. Maka, majelis taklim adalah lembaga swadaya masyarakat yang keberadaannya didasarkan pada keinginan untuk membangun masyarakat yang madani. (3). Lembaga Pendidikan Formal atau Sekolah. Sekolah adalah lembaga pendidikan yang penting setelah keluarga. Semakin besar kebutuhan anak dan semakin besar kehidupan keluarga, orang tua biasanya menyerahkan tanggung jawabpendidikannya kepada lembaga sekolah. Sekolah di sini berfungsi sebagai pembantu lembaga keuarga dalam mendidik anak. Tugas guru dan pemimpin sekolah, di samping memberikan ilmu pengetahuan dan keterampilan, juga memberikan bimbingan yang sesuai dengan tuntutn agama (Suharto, 2005). Implementasi manajemen terhadap pengelolaan lembaga pendidikan haruslah berorientasi pada efektivitas terhadap segala aspek atau komponen pendidikan baik dalam pertumbuhan dan perkembangan. Lembaga pendidikan memiliki komponen-komponen terikat satu sama lain yang menentukan keberhasilan lembaga tersebut, jika kepala sekolah dapat menjalankan fungsinya secara efektif dalam proses planning, organizing, actuating, dan controlling. Keberhasilan manajemen lembaga pendidikan tidak terlepas dari peran pemimpin yang memiliki integritas dan kredibilitas tinggi. Sebagaimana manajemen proyek yang efektif membutuhkan manajer dengan karakteristik: (a). Knowledge. This refers to what the project manager knows about project management (b). Performance. This refers to what the project manager is able to do or accomplish while applying their project management knowledge (c). Personal. This refers to how the project manager behaves when performing the project or related activity. Personal effectiveness encompasses attitudes, core personality characteristic Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 191 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 and leadership, the ability to guide the project team while achieving project objectives and balancing the project constraints (Institute, 2008). Dari pendapat di atas dipahami bahwa seorang manajer yang berhasil memimpin lembaga harus memiliki pengetahuan, kinerja, dan kepribadian. Pengetahuan ini menunjuk kepada apakah manajer mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan manajemen. Kinerja menunjuk kepada apa yang manajer bisa lakukan ketika menerapkan pengetahuan manajemenya. Kepribadian berkenaan dengan bagaimana manajer bertindak ketika memainkan projek dan menghubungkan aktivitasnya. Efektivitas kepribadian mencakup sikap, inti karakter kepribadian dan kepemimpinan. Kemampuan ini untuk membimbing tim untuk mencapai sasaran dan menyeimbangkan semua kegiatan di dalam lembaga. Maka manajemen lembaga pendi-dikan adalah suatu kegiatan mengelola unsur-unsur lembaga pendidikan secara bersama-sama yang terdiri dari tenaga pendidik dan kependidikan, sarana dan prasarana, kesiswaan dan pembiayaan, yang dimulai dari input, process, sampai output oleh pemimpin dan anggotanya melalui proses perencanaan, penugasan, pelaksanaan, hingga pengawasan Variabel Manajemen Lembaga dan Paradigma berpikir kesisteman sudah banyak di teliti oleh peneliti sebelumnya di antaranya adalah: (Akdon, 2016; Danim, 2008; Maimun & Fitri, 2010; Minarti, 2011; Muhaimin et al., 2015). Pengaruh Mutu Pendidikan terhadap Paradigma Berpikir Kesisteman Pendidikan Islam Menurut (Hamalik, 2014), pengertian mutu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu segi normatif dan segi deskriptif. Dalam artian normatif, mutu ditentukan berdasarkan pertimbangan (kriteria) intrinsik dan ekstrinsik. Berdasarkan kritria intrinsik, mutu pendidikan merupakan produk pendidikan yakni manusia yang terdidik sesuai dengan standar ideal. Berdasarkan kriteria ekstrinsik, pendidikan merupakan instrumen untuk mendidik, tenaga kerja yang terlatih. Dalam artian deskriptif, mutu ditentukan berdasarkan keadaan hasil tes prestasi belajar. Menurut Ismail, penerapan manajemen mutu dalam dunia pendidikan merupakan memerlukan adanya pengelolaan yang baik dan profesional, manajemen organisasi yang baik dan penyediaan personil yang memadai dalam menjalankan proses yang baik sehingga menghasilkan output yang bermutu dan berkualitas tinggi (F. Ismail et al., 2021). Untuk bisa menghasilkan mutu, menurut (Slamet, 1999) terdapat empat usaha mendasar yang harus dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan, yaitu: (1). Menciptakan situasi “menang-menang” (win-win solution) dan bukan situasi “kalah-menang” diantara fihak yang berkepentingan dengan lembaga pendidikan (stakeholders). Dalam hal ini terutama antara pimpinan lembaga dengan staf lembaga harus terjadi kondisi yang saling menguntungkan satu sama lain dalam meraih mutu produk/jasa yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan tersebut. (2). Perlu ditumbuhkembangkan motivasi instrinsik pada setiap orang yang terlibat dalam proses meraih mutu. Setiap orang dalam lembaga pendidikan harus tumbuh motivasi bahwa hasil kegiatannya mencapai mutu tertentu yang meningkat terus menerus, terutama sesuai dengan kebutuhan dan harapan pengguna/langganan. (3). Setiap pimpinan harus berorientasi pada proses dan hasil jangka panjang. Penerapan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan bukanlah suatu proses perubahan jangka pendek, tetapi usaha jangka panjang yang konsisten dan terus menerus. (4). Dalam menggerakkan segala kemampuan lembaga pendidikan untuk mencapai mutu yang ditetapkan, haruslah dikembangkan adanya kerjasama antar unsur-unsur pelaku proses mencapai hasil mutu. Janganlah diantara mereka terjadi persaingan yang mengganggu proses mencapai hasil mutu tersebut. Mereka adalah satu kesatuan yang harus bekerjasama dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan mutu sesuai yang diharapkan. Manajemen Peningkatan Mutu yang merupakan paradigma baru bagi manajemen pendidikan di Madrasah memiliki prinsip (1) Peningkatan mutu harus dilaksanakan di Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 192 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 madrasah, (2) Peningkatan mutu hanya dapat dilaksanakan dengan adanya kepemimpinan yang baik, (3) Peningkatan mutu harus didasarkan pada data dan fakta baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif, (4) Peningkatan mutu harus memberdayakan dan melibatkan semua unsur yang ada di madrasah, dan (5) Peningkatan mutu memiliki tujuan bahwa madrasah dapat memberikan kepuasan kepada siswa, orang tua dan masyarakat (Dzaujak, 1996). Selanjutnya Syafarudin dan Irwan Nasution komponen-komponen dari model implementasi Total Quality Management dalam pendidikan adalah sebagai berikut: (1). Kepemimpinan (2). Pendekatan fokus terhadap pelanggan (3). Iklim organisasi (4). Tim pemecahan masalah (5). Tersedia data yang bermakna (6). Metode ilmiah dan alat-alat (7). Pendidikan dan latihan (Alwi, 2001). Variabel Mutu Pendidikan dan Paradigma berpikir kesisteman sudah banyak di teliti oleh peneliti sebelumnya di antaranya adalah: (Alwi, 2001; Umaedi et al., 2011; Prawirosentono, 1999; Nasution, 2004; Karsidi, 2001). Conceptual Framework Berdasarkan rumusan masalah penulisan artikel ini dan kajian studi literature review baik dari buku dan artikel yang relevan, maka di perolah kerangka artikel ini seperti di bawah ini. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PARADIGMA BERPIKIR KESISTEMAN DALAM PENDIDIKAN ISLAM : GLOBALISASI, MANAJEMEN LEMBAGA DAN MUTU PENDIDIKAN GLOBALISASI (X1) H1 MANAJEMEN LEMBAGA (X2) H2 PARADIGMA BERPIKIR KESISTEMAN (Y) H3 Berdasarkan Kajian teori dan review MUTU PENDIDIKAN (X3) hasil dari artikel yang relevan serta gambar dari conceptual framework, maka: Globalisasi, Manajemen kelembagaan dan Mutu Pendidikan berpengaruh terhadap Paradigma Berpikir Kesisteman dalam Pendidikan Islam Artikel ini membahas faktor-faktor mempengaruhi Paradigma Berpikir Kesisteman Pendidikan Islam, yaitu Globalisasi, Manajemen Lembaga Dan Mutu pendidikan. Selain Dari 3 faktor ini yang mempengaruhi paradigma berpikir kesisteman dalam pendidikan islam, masih banyak faktor lain lagi berdasar riset sebelumnya di antaranya adalah: 1) Sistem Informasi: (Sari & Ali, 2019; Shobirin & Hapzi Ali, 2019; Ashshidiqy & Ali, 2019; Djojo & Ali, 2012; Desfiandi, Desfiandi, et al., 2017). 2) Lingkungan: (Mulyani et al., 2020; Ali & Sardjijo, 2017; Riyanto, Sutrisno, et al., 2017). 3) Pelaksanaan: (Rachman & Ali, 2016; Ansori & Ali, 2017; Rachman & Ali, 2016; Sulaeman et al., 2019; No et al., 2017; Agussalim et al., 2020). KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan teori, artikel yang relevan dan pembahasan maka dapat di rumuskan hipotesis untuk riset selanjutnya. Glogalisasi berpengaruh terhadap paradigm berpikir kesisteman, paradigma baru dalam dunia pendidikan. Visi, misi, tujuan, kurikulum, proses belajar-mengajar, pendidik, peserta didik, manajemen, sarana prasarana, kelembagaan pendidikan, dan lainnya kini tengah mengalami perubahan besar. Pendidikan Islam membutuhkan sumber daya manusia yang andal, memiliki komitmen dan etos kerja yang tinggi, manajemen yang berbasis sistem dan Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 193 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 infrastruktur yang kuat, sumber dana yang memadai, kemauan politik yang kuat, serta standar yang unggul. Untuk dapat melakukan tugas tersebut, pendidikan Islam membutuhkan unit penelitian dan pengembangan (research and development) yang terus berusaha meningkatkan dan pengembangkan pendidikan Islam. Manajemen Lembaga berpengaruh terhadap paradigm berpikir kesisteman, Implementasi manajemen terhadap pengelolaan lembaga pendidikan haruslah berorientasi pada efektivitas terhadap segala aspek atau komponen pendidikan baik dalam pertumbuhan dan perkembangan. Lembaga pendidikan memiliki komponen-komponen terikat satu sama lain yang menentukan keberhasilan lembaga tersebut, jika kepala sekolah dapat menjalankan fungsinya secara efektif dalam proses planning, organizing, actuating, dan controlling Mutu Pendidikan berpengaruh terhadap paradigma berpikir kesisteman. paradigma baru bagi manajemen pendidikan memiliki prinsip (1) Peningkatan mutu harus dilaksanakan di madrasah, (2) Peningkatan mutu hanya dapat dilaksanakan dengan adanya kepemimpinan yang baik, (3) Peningkatan mutu harus didasarkan pada data dan fakta baik bersifat kualitatif maupun kuantitatif, (4) Peningkatan mutu harus memberdayakan dan melibatkan semua unsur yang ada di madrasah, dan (5) Peningkatan mutu memiliki tujuan bahwa madrasah dapat memberikan kepuasan kepada siswa, orang tua dan masyarakat. Saran Saran pada artikel ini adalah bahwa masih banyak faktor lain yang mempengaruhi Paradigma berpikir kesisteman dalam Pendidikan Islam, selain dari Globalisasi, Manajemen Lembaga dan Mutu Pendidikan pada semua tipe dan level organisasi atau perusahaan. Kajian yang lebih lanjut untuk mencari faktor-faktor lainnya adalah seperti Perencanaan, Kebijakan Pemerintah dan Faktor Sumberdaya. Bibliography Abdul Khobir. (2009). Upaya mendidik anak melalui permainan edukatif. Forum Tarbiyah, 7(2), 195–208. Ackoff, R. L. (1994). Systems thinking and thinking systems. System Dynamics Review, 10(2– 3), 175–188. https://doi.org/10.1002/sdr.4260100206 Ahyat, N. (2017). Metode pembelajaran pendidikan agama Islam. Edusiana : Jurnal Manajemen Dan Pendidikan Islam, 4(1), 24–31. Akdon. (2016). Strategic management for educational management: Manajemen strategik untuk manajemen pendidikan (Cet. 5). Alfabeta. Ali, H., & Limakrisna, N. (2013). Metodologi penelitian (petunjuk praktis untuk pemecahan masalah bisnis, penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi). Deepublish Store. Alwi, S. (2001a). Manajemen sumber daya manusia: Strategi keunggulan kompetitif (1st ed.). BPFE. Alwi, S. (2001b). Manajemen sumber daya manusia (Ed.1, cet.). Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Amidong, H. H., Insani, N. M., & Andreawan, A. (2019). Paradigma pendidikan Islam masa kini dan masa depan. https://doi.org/10.31227/osf.io/h4qgm Arifin, A. (2003). Paradigma baru pendidikan nasional dalam Undang-Undang Sisdiknas (Cet. 3). Departemen Agama RI, Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam. Astutik, P. P. (2018). Integrasi penguatan pendidikan karakter (ppk) dan higer order thinking skills (hots) dalam pembelajaran tematik SD. Sinergitas Keluarga, Sekolah, Dan Masyarakat Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Integrasi, 343–354. Badwi, A. (2016). Konsep berpikir dalam Alquran. Ash-Shahabah, 2(1), 50–63. Baharuddin, H., & Wahyuni, E. N. (2007). Teori belajar dan pembelajaran. Ar-Ruzz Media. Barker, J. A. (1999). Paradigma upaya menemukan masa depan. Interajsara. Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 194 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 Cruz, A. P. S. (2013). Metode penelitian dan pengembangan. Journal of Chemical Information and Modeling, 1–30. https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004 Danim, S. (2008). Visi baru manajemen sekolah: dari unit birokrasi ke lembaga akademik (Cet.3). Bumi Aksara. Darmadji. (2013). Tafsir Al-Qur’an tentang teori pendidikan Islam: Persepektif Pendidikan Islam di Indonesia. Hermeneutik, 7(1), 173–192. Dzaujak, A. (1996). Penunjuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar. Depdikbud. Edward Sallis, Fahrurrozi, Anas, Y., & Riyadi, A. A. (2006). Total quality management in education, manajemen mutu pendidikan (Cet. 1). IRCiSoD. Fakih, M. (2002). Runtuhnya teori pembangunan dan globalisasi. Insist Press. Farid, E. K. (2021). Paradigma dan revolusi ilmiah Thomas S . Kuhn serta relevansinya dalam ilmu-ilmu Keislaman. Jurnal Studi Agama-Agama Dan Pemikiran Islam, 19(1), 84–99. Flood, R., & Marion, N. (1999). Perspectives on the recent currency crisis literature. International Journal of Finance & Economics, 4(1), 1–26. Galea, S., Riddle, M., & Kaplan, G. A. (2010). Causal thinking and complex system approaches in epidemiology. International Journal of Epidemiology, 39(1), 97–106. Giddens, A. (1990). The consequences of modernity. Haines, S. G. (2000). The systems thinking approach to strategic planning and management 1st edition (1st (June). CRC Press. Halik, A. (2016). Paradigma pendidikan Islam dalam transformasi sistem kepercayaan tradisional. Al-Ishlah, 14(2), 137–154. Hamalik, O. (2014). Kurikulum dan pembelajaran (Ed. 1, Cet). Bumi Aksara. Hidayat, T., Abdussalam, A., & Fahrudin, F. (2016). Konsep berpikir (Al-Fikr) dalam Alquran dan implikasinya terhadap pembelajaran PAI di sekolah (studi tematik tentang ayat-ayat yang mengandung term Al-Fikr). Tarbawy : Indonesian Journal of Islamic Education, 3(1), 1. https://doi.org/10.17509/t.v3i1.3455 Hidayatno, A. (2013). Berpikir system: Pola berpikir untuk pemahaman yang lebih baik. In Reseachgate (Issue October). Hikmat. (2009). Manajemen Pendidikan (Cet 2). CV. Pustaka Setia. Institute, P. M. (2008). A guide to the project management body of knowledge (iv). Ismail, F., Pawero, A. M. D., & Umar, M. (2021). Education planning and its implications for education policy during the covid-19 pandemic. International Journal for Educational and Vocational Studies, 3(2), 110. https://doi.org/10.29103/ijevs.v3i2.4441 Ismail, M. (2014). Konsep berpikir dalam Al-Qur’an dan implikasinya terhadap pendidikan akhlak. Ta’dib:Journal of Islamic Education (Jurnal Pendidikan Islam), 19(02), 291–312. Karsidi, R. (2001). Paradigma baru penyuluhan pembangunan dalam pemberdayaan masyarakat *). Mediator: Jurnal Komunikasi, 2(1), 115–125. Karyoto. (2016). Dasar-dasar manajemen: teori, definisi dan konsep (Nikodemus (ed.)). Andi Offset. Kuntoro, A. T. (2019). Manajemen mutu Pendidikan Islam. Jurnal Kependidikan, 7(1), 84–97. Liberna, H. (2012). Peningkatan kemampuan berpikir kritis matematis siswa melalui penggunaan metode improve pada materi sistem persamaan linear dua variabel. Formatif, 2(3), 234854. https://doi.org/10.30998/formatif.v2i3.101 Maimun, A., & Fitri, A. Z. (2010). Madrasah unggulan: Lembaga pendidikan alternatif di era kompetitif (P. Raharjo (ed.); xi). UIN-Maliki Press. Maksum, A., & Ruhendi, L. Y. (2004). Paradigma pendidikan universal di era modern dan post-modern : mencari “visi baru” atas “realitas baru” pendidikan kita (Cet. 1). IRCiSoD. Minarti, S. (2011). Manajemen sekolah mengelola lembaga pendidikan secara mandiri (Cet. 1). Ar Ruzz Media. Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 195 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 Muhaimin, Suti’ah, & Prabowo, S. L. (2015). Manajemen pendidikan (aplikasinya dalam penyusunan rencana pengembangan sekolah/madrasah) (Cet. 5). Prenada Media. Mukhtar, Ali, H., & Jannah, S. R. (2016). Analysis of leadership style and organizationa culture effect on career development at ministry religious affairs in Jambi Province. Journal of Business and Management, 18(11), 65–74. https://doi.org/10.9790/487X-1811046574 Musyrifin, Z. (2016). Pemikiran Nurcholis Madjid tentang pembaharuan pendidikan Islam. Madaniyah, 2(XI), 338. Nasution, M. . (2004). Manajemen jasa terpadu (total service management). Ghalia Indonesia. Nata, A. (2010). Ilmu Pendidikan Islam. Penulis, T. (2017). Menuju agribisnis Indonesia yang berdaya saing (B. Krisnamurthi & Harianto (eds.); Issue September, pp. 153–162). Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Poerwadarminta, W. J. S. (1999). Kamus umum bahasa Indonesia/susunan W.J.S. Poerwadarminta; diolah kembali oleh Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Cet.16). Balai Pustaka. Prawirosentono, S. (1999). Manajemen sumberdaya manusia “kebijakan kinerja karyawan” : kiat membangun organisasi kompetitif menjelang perdagangan bebas dunia. BPFE. Quick-zone. (2010). Dampak positif dan negatif globalisasi. Ipoet Media. Rembangy, M. (2008). Pendidikan transformatif ; pergulatan kritis merumuskan pendidikan di tengah pusaran arus globalisasi (Cet.1). Sukses offset. Robertson, R. (1992). Globalization: Social Theory and Global Culture (ed. 1). SAGE Publications. Rusman. (2018). Manajemen Kurikulum (Cet. 5). Sakir, M. (2016). Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional. Cendekia: Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan, 12, 103. Salamun. (2017). Sistem monitoring nilai siswa berbasis Android. RABIT : Jurnal Teknologi Dan Sistem Informasi Univrab, 2(2), 99–109. https://doi.org/10.36341/rabit.v2i2.221 Samrin. (2015). Pendidikan agama Islam dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Jurnal Al-Ta’dib, 8(1), 101–116. Sastrohadiwiryo, S. (2003). Manajemen tenaga kerja Indonesia: Pendekatan administrasi dan operasional. Bumi Aksara. Slamet, M. (1999). Filosofi mutu dan penerapan prinsip-prinsip manajemen mutu terpadu. IPB. Suderadjat, H. (2005). Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS): Peningkatan mutu pendidikan melalui.... Cipta Cekas Grafika. Suharto, T. (2005). Rekonstruksi dan modernisasi lembaga pendidikan Islam (xx). Global Pustaka Utama dan Corpus. Sumarto, S. (2016). Tugas profesional kepala madrasah sebagai supervisor dalam meningkatkan mutu pendidikan. Ri’ayah: Jurnal Sosial Dan Keagamaan, 1(02), 168–187. Suryana, A. (2012). Kemampuan berpikir matematis tingkat lanjut (Advanced mathematical thinking) dalam mata kuliah statistika matematika 1. Seminar Nasional Matematika Dan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, 5(November), 37–48. Suwardana, H. (2018). Revolusi Industri 4.0 berbasis revolusi mental. JATI UNIK : Jurnal Ilmiah Teknik Dan Manajemen Industri, 1(1), 102. https://doi.org/10.30737/jatiunik.v1i2.117 Syahminan, S. (2014). Modernisasi sistem pendidikan Islam di Indonesia pada abad 21. Jurnal Ilmiah Peuradeun, 2(2), 235–260. Tafsir, A. (2006). Filsafat pendidikan Islami: Integrasi jasmani, rohani dan kalbu memanusiakan manusia (vii). Remaja Rosdakarya. Tantowi, A. (2009). Pendidikan Islam di era transformasi global (M. Ramadhan (ed.); Cet.2). Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 196 Volume 2, Issue 2, Februari 2022 E-ISSN: 2747-1993, P-ISSN: 2747-2000 Pustaka Rizki Putra. Tiruneh, D. T., Verburgh, A., & Elen, J. (2014). Effectiveness of critical thinking instruction in higher education: A Systematic review of intervention studies. Higher Education Studies, 4(1), 1–17. https://doi.org/10.5539/hes.v4n1p1 Umaedi, Hadiyanto, & Siswantari. (2011). Manajemen berbasis sekolah (Cet. 10). Universitas Terbuka. Umar, H. (2005). Riset sumber daya manusia (Cet. 7). PT. Gramedia Pustaka Utama. Waters, M. (2001). Globalization (2nd ed.). Routledge. Yustika, A. E. (2013). Ekonomi kelembagaan: paradigma, teori, dan kebijakan. Erlangga. Available Online: https://dinastirev.org/JIHHP Page 197