ANALISIS GENDER DAN PENDIDIKAN FORMAL PADA WIRAUSAHA AGRIBISNIS Budi Chrismanto Sirait. Candra Nuraini . Samuel Agus Triyanto. Bakti Widyaningrum. Octaviana Helbawanti. * A) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jurusan Ilmu Politik. Universitas Siliwangi. Jl Siliwangi No. Kahuripan. Kec. Tawang. Kab. Tasikmalaya. Telp . , budisirait@unsil. Fakultas Pertanian. Jurusan Agribisnis. Universitas Siliwangi. Jl Siliwangi No. Kahuripan. Kec. Tawang. Kab. Tasikmalaya. Telp . , candranuraini@unsil. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Jurusan Pendidikan Biologi. Universitas Siliwangi. Jl Siliwangi No. Kahuripan. Kec. Tawang. Kab. Tasikmalaya. Telp . , agus@unsil. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Jurusan Pendidikan Ekonomi. Universitas Siliwangi. Jl Siliwangi No. Kahuripan. Kec. Tawang. Kab. Tasikmalaya. Telp . , widyaningrum@unsil. Fakultas Pertanian. Jurusan Agribisnis. Universitas Siliwangi. Jl Siliwangi No. Kahuripan. Kec. Tawang. Kab. Tasikmalaya. Telp . , octaviana@unsil. Abstrak Pengangguran merupakan tantangan global yang dapat merugikan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Indoensia menunjukkan tingkat pengangguran yang tinggi mencapai 7,86 juta orang tahun 2023. Sebagai respon terhadap tekanan kemiskinan di sektor pertanian bekerja, tujuan penelitian yaitu mengidentifikasi peran pendidikan formal dan gender terhadap usaha bisnis peserta Wirausaha Baru (WUB) Kota Tasikmalaya. pendidikan formal dan pelatihan wirausaha berperan kunci dalam meningkatkan kemampuan individu. Metode penelitian yaitu deskriptif analitis dengan teknik purposive sampling pada peserta WUB yang bergerak di bidang agribisnis budidaya dan pengolahan. Hasil menunjukkan laki-laki dan perempuan memiliki peran yang sama dalam menjalankan usaha untuk peningkatan perekonomian rumah tangga dan memenuhi kebutuhan hidup. Pendidikan formal dapat mempengaruhi cara berpikir dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dalam menjalankan usaha. Peserta WUB memperoleh pelatihan non-formal untuk meningkatkan keterampilan wirausaha. Pelatihan secara non-formal dapat mendukung pendidikan formal yang telah dimiliki peserta wirausaha. Kata kunci: Agribisnis. Gender. Kewirausahaan. Masyarakat. Pendidikan Abstract Unemployment is a global challenge that can be detrimental to economic growth and social welfare. Data from Indonesia's Central Bureau of Statistics (BPS) shows a high unemployment rate, reaching 7. 86 million people As a response to the pressure of poverty in the agricultural work sector, the research objective is to identify the role of formal education and gender on business ventures of Tasikmalaya City New Entrepreneurs (WUB) participants. Formal education and entrepreneurial training play a key role in improving individual The research method is descriptive analytical with purposive sampling technique on WUB participants engaged in agribusiness cultivation and processing. The results show that men and women have the same role in running a business to improve the household economy and fulfill life needs. Formal education can influence the way of thinking in planning and decision-making in running a business. WUB participants receive non-formal training to improve their entrepreneurial skills. Non-formal training can support the formal education that entrepreneurial participants already have. Keywords: Agribusiness. Communities. Education. P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Sirait, dkk 2024 PENDAHULUAN Pengangguran bukan hanya menjadi masalah lokal, namun juga menimpa banyak negara, termasuk Indonesia. Ketidakseimbangan antara jumlah angkatan kerja dan peluang pekerjaan menjadi pemicu tingginya tingkat pengangguran, dengan dampak serius pada ekonomi dan sosial. Pengangguran dapat merugikan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan tingkat kemiskinan, dan bahkan memicu tindakan kriminal. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2022 menunjukkan bahwa di Indonesia, dari 143,72 juta angkatan kerja, hanya 135,30 juta yang berhasil terserap di dunia kerja. Pandemi Covid-19 memperparah situasi ini, dengan 4,15 juta orang terdampak, termasuk pengangguran dan orang yang mengalami pengurangan jam kerja (Badan Pusat Statistik, 2. Pentingnya mengatasi pengangguran juga terkait erat dengan sektor pertanian. Sekitar 29,68 persen atau 35. 886 orang bekerja di sektor pertanian, tetapi tekanan kemiskinan pada petani tetap tinggi (Saputra, 2013. Sari. , & Maryam, 2. (Dumasari, 2. menyoroti bahwa masalah kemiskinan petani tidak hanya terkait dengan keterbatasan modal produksi, tetapi juga dipengaruhi oleh rendahnya tingkat pendidikan formal petani, terutama mereka yang termasuk dalam kategori miskin atau buruh tani. Peran perempuan dalam agribisnis juga menjadi aspek penting. Data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakerna. Agustus 2016 menunjukkan bahwa 14,3 juta perempuan di Indonesia berprofesi sebagai wirausaha atau pengusaha (Kompas. com, 17 Juni Seorang perempuan juga memiliki peran yang penuh dalam melakukan semua aktivitas untuk mencapai kesejahteraan (Fatmawati et al. , 2. Penelitian (Mutolib, 2. menunjukkan dominasi bias gender dalam pembagian kerja produktif dan sosial dalam usahatani sawi, namun perempuan memiliki tingkat kesetaraan tinggi dalam akses dan kontrol terhadap sumber daya (Mutolib, 2. Dalam konteks pengembangan ekonomi, kewirausahaan menjadi kunci dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Keberhasilan seorang wirausaha dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan mengelola usaha, motivasi, inovasi, dan kemampuan mengambil risiko (Pamela. Rachmat. , & Ratna, 2016. Putra, 2. Pendidikan formal juga memegang peran penting dalam meningkatkan kompetensi individu, terutama penyuluh Tingkat pendidikan formal dapat mempengaruhi tingkat kompetensi individu, sehingga pendidikan formal bagi penyuluh pertanian dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan, sikap, dan keterampilan sesuai dengan tuntutan pekerjaan (Novianda Fawaz Khairunnisa et al. , 2. Analisis gender menjadi aspek penting dalam konteks pertanian, memainkan peran dalam pembagian kerja, distribusi kekuasaan, dan pengambilan keputusan. (Andarwati et al. , 2. menekankan bahwa pemahaman dan analisis gender diperlukan untuk mengidentifikasi pola-pola ini dan memahami dampaknya pada pemberdayaan masyarakat pertanian, terutama perempuan. Keterlibatan pendidikan formal, analisis gender, dan kewirausahaan sebagai strategi holistik dapat menjadi kunci dalam upaya pemberdayaan petani, terutama perempuan. Hal ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi, akses terhadap sumber daya, dan peran dalam pembangunan ekonomi. Inovasi, baik dalam produk pertanian maupun model bisnis, menjadi kunci dalam mengatasi tantangan ekonomi dan sosial yang dihadapi petani, terutama mereka yang berada dalam kondisi kemiskinan (Dumasari, 2. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pertanian secara P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Sirait, dkk 2024 METODE Metode penelitian yang diimplementasikan dalam penelitian ini bersifat analitis, dengan fokus pada analisis faktor-faktor yang memengaruhi kemampuan wirausaha dalam agribisnis di Kota Tasikmalaya. Subjek penelitian terdiri dari Wirausaha Baru (WUB) yang terdaftar dalam bidang budidaya dan pengolahan komoditas pertanian. Komoditas pertanian yang dipilih terdiri dari tanaman pangan dan hortikultura yang terdiri dari buah dan sayuran segar. Komoditas tersebut merupakan komoditas program WUB di Kota Tasikmalaya yang sesuai dengan peluang pasar dan ketersediaan sumber daya seperti benih dan kesesuaian ketersediaan lahan. Pelaksanaan penelitian dilakukan selama satu tahun, dimulai dari bulan Mei 2023 hingga April 2024, di Kota Tasikmalaya. Penentuan responden menggunakan metode purposive sampling, dengan sampel dipilih berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Jumlah responden yang diambil sebanyak 30 responden yang tergabung dalam progam WUB. Pemilihan responden didukung oleh pihak penyelenggaran program WUB agar sesuai dengan tujuan penelitian. Pengambilan sampel responden sebanyak 30 orang untuk memenuhi asumsi distribusi normal jika dilakukan analisis lebih lanjut. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan pertanyaan terstruktur dan wawancara untuk mendapatkan informasi lebih mendalam. Analisis data menggunakan analisis deskriptif untuk menjelaskan peran gender dan pendidikan formal terhadap kemampuan wirausaha dalam agribisnis. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Tabel 1. tersebut jumlah responden perempuan lebih banyak dibandingkan laki laki dengan jumlah 17 perempuan dan 13 laki-laki. Peserta WUB pada bidang usaha budidaya jamur dan hortikultura didominasi peserta yang merupakan ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga memiliki waktu untuk berwirausaha setelah menyelesaikan pekerjaan rumah. Penghasilan dari wirausaha dapat digunakan untuk menambah pendapatan rumah tangga. Ibu rumah tangga memiliki keterampilan dalam pengolahan bahan pangan menjadi produk pangan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat umum. Berdasarkan Tabel 2. para wirausaha lebih banyak berpendidikan terakhir SMA/SMK yang berjumlah 13 orang. SMP 10 orang. SD 4 orang dan yang paling sedikit yaitu pendidikan S1. Sasaran program WUB merupakan individu yang masih mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan perguruan tinggi karena program WUB memberikan pendidikan non-formal berupa pelatihan wirausaha dan magang. Pelatihan wirausaha dan magang tepat untuk menambah keterampilan pada individu yang tidak melanjutkan pendidikan pada perguruan tinggi dan merupakan salah satu kegiatan yang mendukung pengurangan tingkat kemiskinan di masyarakat secara umum. Berdasarkan Tabel 3. Sebaran responden berdasarkan jenis usaha dibedakan menjadi dua yaitu budidaya dan pengolahan. Budidaya dan pengolahan meliputi komoditas pertanian berupa tanaman pangan dan hortikultura. Jenis usaha budidaya merupakan kegiatan usahatani yang meliputi penanaman, pemupukan, perawatan, panen dan pasca panen komoditas pertanian. Kegiatan budidaya menghasilkan produk pertanian yang dominan menjadi bahan baku atau dalam bentuk produk mentah untuk industri pengolahan. Budidaya yang dilakukan wirausaha meliputi budidaya jamur, jagung, pepaya, bawang merah, dan sayuran segar. Jenis usaha pengolahan merupakan kegiatan mengubah bentuk dari bahan baku atau bahan mentah menjadi produk setengah jadi P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Sirait, dkk 2024 maupun produk jadi. Jenis usaha pengolahan terdiri dari anyaman bambu, keripik salak, keripik pisang, pengemasan beras, dan warung makan. Jenis usaha pengolahan lebih banyak dan lebih diminati karena dapat dilakukan pada tempat yang tidak luas, sedangkan kegiatan budidaya sangat tergantung ketersediaan lahan. Responden dengan jenis usaha budidaya sebanyak 10 orang dan jenis usaha pengolahan yaitu 20 orang. Wirausaha yang menginginkan peningkatan produksi harus memperluas lahan usahatani. Berdasarkan Tabel 4. , para wirausaha dalam program WUB lebih banyak membuat usaha dari modal sendiri yaitu mencapai 21 orang, sedangkan wirausaha yang memanfaatkan bantuan pemerintah hanya 9 orang. Hal tersebut karena bantuan pemerintah modalnya berupa pinjaman dari bank yang mana akan memberatkan kepada para wirausaha dalam membayar jika kondisi usahanya sedang sepi. Selain itu, wirausaha yang masih terbatas penggunaan modal dari modal usaha sendiri belum mampu memenuhi persyaratan pembiayaan dari bank. Program WUB memberikan fasilitas permodalan dengan jenis pembiayaan modal kerja yang bersifat jangka pendek, sehingga memerlukan persyaratan perputaran modal yang cukup cepat dan jaminan aset. Beberapa peserta program WUB belum mampu memenuhi persyaratan tersebut karena skala usaha yang kecil dan masih tahap awal menjalankan usaha. Penilaian kelayakan untuk memperoleh modal sangat bergantung pada proses administrasi pada lembaga keuangan. Berdasarkan Tabel 5. wirausaha memulai usaha dengan modal yang beragam yaitu dalam rentang Rp 500. 000 Ae Rp 5. Jenis usaha yang dijalankan oleh peserta WUB sangat bergantung dengan modal awal usaha. Skala usaha peserta program WUB merupakan usaha skala kecil yang tidak memerlukan teknologi mesin yang canggih. Kegiatan budidaya masih dilakukan pada lahan yang kecil dan pengolahan makanan sebagian besar masih menggunakan proses yang manual dan peralatan yang terjangkau. Berdasarkan Tabel 6. wirausaha yang tergabung WUB mendapatkan keuntungan yang beragam sesuai dengan kapasitas produksi yang dilakukan yaitu mulai dari rentang kurang dari Rp 500. sampai dengan lebih dari Rp. Salah satu target program WUB yaitu mengupayakan usaha yang dilakukan memperoleh keuntungan untuk dapat meningkatkan skala usaha. Peserta WUB dengan modal lebih dari Rp 5. 000 memiliki jumlah terbanyak yaitu mencapai sembilan Usaha dengan modal lebih dari Rp 5. 000 memerlukan biaya sewa lahan, alat transportasi, peralatan yang dapat meningkatkan kapasitas produksi dan biaya untuk upah tenaga Berdasarkan tabel 7. para wirausaha semuanya memperoleh bahan baku dari dalam kota dan tidak ada yang memperoleh bahan baku dari luar kota. Perolehan bahan baku diupayakan memanfaatkan ketersediaan sumber daya yang dekat dengan tempat usaha agar dapat meminimalkan biaya Biaya transportasi dapat ditekan jika perolehan bahan baku dekat dengan tempat produksi. Bahan baku berupa bahan mentah dan bahan setengah jadi diperoleh dari Pasar Cikurubuk yang merupakan pasar terbesar di Kota Tasikmalaya dan Priangan Timur, sehingga ketersediaan bahan baku lebih lengkap. Berdasarkan tabel 8. para wirausaha semuanya memasarkan produk mereka hanya di dalam negeri, tidak ada yang memasarkan produk mereka ke luar negeri. Kemampuan pemasaran produk masih dioptimalkan untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Peserta program WUB memperoleh pelatihan pemasaran produk terkait target pasar agar produk dapat dikenal konsumen lebih luas. P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Sirait, dkk 2024 Kemampuan perluasan pemasaran dapat dimulai dari pengenalan produk secara lokal dengan strategi pemasaran sebagai keterampilan yang dimiliki oleh peserta program WUB. Berdasarkan tabel 9. para wirausaha lebih banyak mempromosikan secara konvensional yaitu dari mulut ke mulut . outh to mout. tetapi selain itu ada pula yang menggunakan media sosial serta spanduk untuk menarik perhatian pembeli serta beberapa menggunakan jasa pesan antar aplikasi online seperti gofood, grabfood, dan maximfood. Promosi menggunakan strategi mouth to mouth dan penggunaan media sosial dianggap wirausaha mudah dilakukan dan sesuai dengan kemampuan modal yang tersedia. Penggunaan jasa pesan antar aplikasi online hanya digunakan oleh dua orang karena biaya untuk dapat berjualan pada aplikasi lebih besar dibandingkan dengan strategi pemasaran yang lain. Penjualan pada aplikasi online memerlukan peralatan pendukung seperti data seluler dan mesin kasir android. Peserta WUB pada tahap awal lebih mementingkan pengaturan biaya produksi bahan baku, upah tenaga kerja, dan biaya listrik dan air dibandingkan biaya untuk promosi, sehingga aktivitas promosi diupayakan minimal. Tempat reponden melakukan kegiatan usaha sangat mempengaruhi biaya produksi karena biaya transportasi dapat meningkat jika jarak tempat tinggal dengan tempat usaha semakin jauh. Peserta WUB lebih memilih melakukan usaha di rumah dan di pinggir jalan yang dekat dengan rumah agar tidak menimbulkan biaya transportasi. Peserta WUB dengan status ibu rumah tangga masih dapat melakukan pekerjaan rumah tangga dengan pengaturan waktu yang lebih mudah. Upah tenaga kerja dapat diminimalkan dengan aktivitas wirausaha di rumah dan pinggir jalan karena dapat melibatkan anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah. Berdasarkan tabel 11. para wirausaha paling tinggi pernah mengikuti pelatihan wirausaha dibandingkan tidak pernah mengikuti wirausaha. Kegiatan utama program WUB yaitu peningkatan keterampilan peserta melalui pelatihan. Peserta yang mengikuti pelatihan yang diselenggarakan program WUB mampu memperbaiki kekurangan pada produk yang dijual, seperti cara pengolahan dan pemasaran. Pelatihan yang dapat diikuti oleh peserta WUB yaitu pengolahan produk makanan, pengemasan, dan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan jiwa kewirausahaan. Peserta yang tidak mengikuti pelatihan memperoleh penyuluhan dan pengarahan untuk melakukan usaha melalui media sosial seperti whatsapp group dan pendampingan secara langsung dari pelaksana program WUB. Berdasarkan Gambar 1. menunjukan bahwa persepsi responden terhadap gender menunjukan 100% responden menyetujui bahwa gender bukan menjadi sebuah hambatan atau pertimbangan dalam berwirausaha. Menunjukan bahwa dalam berwirausaha laki-laki maupun perempuan memiliki keseteraan hak dan peluang yang sama dalam berwirausaha. Tahap dalam proses produksi pada wirausaha mampu dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Aktivitas yang dapat dilakukan tanpa membedakan gender yaitu pembelian bahan baku, pengolahan bahan baku, pembibitan, penanaman, pemupukan, penyiangan rumput, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pemanenan, pengemasan, promosi, pemasaran, perijinan pengedaran produk, sortir atau grading, pelatihan atau seminar, pencatatan keuangan, pembinaan pada pegawai, pemilihan pemasok, administrasi pembayaran pajak, dan administrasi biaya operasional seperti air dan listrik. Skala usaha yang masih tahap awal tidak menggunakan alat mesin berat, sehingga laki-laki dan perempuan dapat melakukan berbagai tahapan proses dalam wirausaha. Dalam melakukan tahapan proses, tidak ada pembatasan berdasarkan gender. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menentukan arah usaha dan pengambilan keputusan. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki tujuan dan target yang sama untuk usaha yang menguntungkan dan P-ISSN: 2580-0345 I E-ISSN: 2580-748X Agrisaintifika Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. No. 1, 2024 Sirait, dkk 2024 berkelanjutan, sehingga akan sama dalam mengusahakan keberhasilan dalam wirausaha. Kerjasama yang saling mendukung antara laki-laki dan perempuan dalam satu usaha yang sama sangat mungkin terjadi dalam satu keluarga untuk peningkatan kesejahteraan, sehingga tidak terjadi diskriminasi gender. Baik laki-laki maupun perempuan sebagai peserta WUB merasa sama dalam kesempatan memperoleh informasi dari berbagai sumber seperti media sosial dan media masa. Gambar 2. menunjukan nilai 80% baik, 13% cukup, 7% sangat baik pada persepsi tingkat kepentingan pendidikan dalam wirausaha. Hasil ini menunjukan bahwa tingkat Pendidikan memiliki peran dalam berwirausaha, hal ini menjadi sebuah pertimbangan dalam melakukan wirausaha untuk meningkatkan wawasan mereka melalui pendidikan formal maupun informal. Menurut responden pendidikan merupakan sarana untuk dapat meningkatkan jiwa kewirausahaan, kemampuan manajemen waktu, tanggung jawab, keterampilan komunikasi, manajemen risiko, relasi, strategi bersaing di pasar, strategi pemasaran dan peningkatan kualitas produk. Persepsi responden dominan menganggap pendidikan diperlukan untuk menentukan arah wirausaha, sehingga diharapkan dapat memperoleh keuntungan. Pendidikan mempengaruhi cara berpikir yang kritis tehadap permasalahan dan pencarian solusi, sehingga wirausaha dapat dengan bijak dalam proses pengambilan keputusan. Responden yang tidak menempuh jenjang pendidikan perguruan tinggi masih menganggap pendidikan diperlukan untuk menguatkan jiwa kewirausahaan dengan cara mengikuti pendidikan non-formal yang diselenggarakan oleh pelaksana program WUB. SIMPULAN Wirausaha agribisnis dalam program WUB memiliki persepsi kesetaraan gender dan peran pendidikan dalam wirausaha. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menjalankan dan mengembangkan usaha karena tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan rumah tangga. Kerja sama untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik menjadikan laki-laki dan perempuan memiliki peran dalam menjalakan usaha. Kegiatan mengikuti pelatihan wirausaha sebagai kegiatan pendidikan non-formal mencerminkan kesadaran pentingnya peningkatan keterampilan dan pengetahuan dalam mengelola usaha dan anggapan pendidikan penting untuk keberhasilan wirausaha. Pendidikan non-formal yang difasilitasi oleh program WUB memberikan kesempatan untuk peserta meningkatkan pengetahuan, sehingga memiliki peluang untuk memperluas skala usaha. Pendidikan formal dari jenjang pendidikan dapat membentuk kemampuan berpikir dan kegigihan dalam menjalankan usaha yang dirintis dari tahap awal. Program WUB menjadi salah satu upaya mengatasi masalah kemiskinan karena peserta WUB dapat bekerja di sektor non-formal yang terdiri dari budidaya dan pengolahan. DAFTAR PUSTAKA