A G R I M E T A JURNAL PERTANIAN BERBASIS KESEIMBANGAN EKOSISTEM http://e-journal. id/index. php/agrimeta Vol . 12 No 23 (APRIL, 2. 1 - 6 e-ISSN : 2721-2556 . p-ISSN : 2088-2531 PENGUJIAN EFEKTIFITAS DAYA TANGKAP JENIS PERANGKAP WALANG SANGIT (Leptocorisa oratoriu. PADA TANAMAN PADI SAWAH Damasus Angki. Ni Putu Pandawani*. I Made Sukerta Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Dan Bisnis. Universitas Mahasaraswati Denpasar Corresponding Author: pandawaniputu@unmas. ABSTRACT This research is entitled Testing the Effectiveness of Catching Types of Trap Walang Sangit (Leptocorisa oratoriu. in Rice Fields. Walang sangit (Leptocorisa oratoriu. is an important pest that attacks rice Walang sangit attacks when the rice enters the generative phase . ipe mil. by sucking the liquid on the rice grains, causing the rice grains to become empty. Environmentally friendly control that can be used is to use traps. This study aims to determine the trapping capacity of this type of trap against the pest in rice plants. The study was conducted using a Two-Treatment Paired Experimental Design. The study consisted of two treatments, namely the lamp trap (LT) and the carcass trap (CT). Observations were made eighteen . times as a replication. Lamp traps and crab carcass traps provide different catching power on the number of insect pests of walang sangit in rice plants. Crab carcass traps during the study showed that the catch power of carrion bugs 85% higher than that of light traps. Insect pests found in the research rice fields were legged ladybug (Anasa tristi. , green ladybug (Nezara viridul. , grasshopper (Dissosteira carolin. , beetle (Oulena melanoplu. Keywords: the effectiveness of light trap capture, crab carcass trap, walang sangit Pendahuluan Padi (Oryza sativa L. ) merupakan tanaman pangan terpenting di Indonesia karena lebih dari separuh penduduk Indonesia bergantung pada beras. Sekitar 1,75 miliar dari sekitar 3 miliar orang di Asia, termasuk 210 juta orang Indonesia, bergantung pada beras untuk kebutuhan kalori mereka. Sebaliknya. Afrika dan Amerika Latin memiliki sekitar 1,2 miliar penduduk, 100 juta di antaranya hidup dari beras (Andoko2. Produksi padi pada tahun 2019 sebanyak 70,85 juta ton gabah kering giling (GKG) atau mengalami penurunan sebanyak 0,43 juta ton . ,61%) dibandingkan tahun 2018. Produksi padi tahun 2020 diperkirakan sebanyak 75,55 juta ton GKG atau mengalami kenaikan sebanyak 4,70 juta ton . ,64%) dibandingkan tahun 2019 (Badan Pusat Statistik, 2. Salah satu hama serangga penting adalah walang sangit, dimana hama ini hampir menyerang pertanaman padi setelah padi berbunga. Bulir padi ditusuk dengan rostrumnya, kemudian cairan bulir tersebut diisap. Akibat serangan hama ini pertumbuhan bulir padi kurang sempurna, biji bulir tidak terisi penuh ataupun hampa sama sekali. Dengan demikian dapat mengakibatkan penurunan kualitas maupun kuantitas hasil (Asikin dan Thamrin, 2. Pada umumnya dalam mengendalikan hama, petani bermitra dengan bahan kimia atau pestisida Sedangkan jenis pestisida kimiawi tersebut mempunyai dampak negatif bagi lingkungan seperti terbunuhnya musuh alami serta hama bukan sasaran. Untuk mengatasi atau mengurangi penggunaan pestisida atau insektisida tersebut perlu dikaji alternatif pengendalian yang ramah lingkungan (Qomarodin. Pengendalian hama walang sangit yang ramah lingkungan dapat dilakukan dengan meng-gunakan berbagai cara yaitu secara hayati yaitu dengan menggunakan musuh alami, dan dengan pengen-dalian secara mekanis yaitu menggunakan perangka lampu (PL) dan perangkap bangkai kepiting (PBK). Pengendalian menggunakan perangkap lampu (PB) merupakan pengendalian yang dilakukan untuk menarik perhatian hama walang sangit untuk masuk kedalam perangkap. Sebagai Makhluk nokturnal . eluar di malam har. , walang sangit berevolusi untuk melakukan perjalanan dengan bantuan cahaya bulan. Mereka menggunakan metode yang disebut orientasi transversal. Menurut Jeff Smith . , kurator koleksi walang sangit dan serangga dari Museum Entomologi Bohart mengatakan bahwa apa yang dilakukan walang sangit mengandalkan cahaya bulan untuk berjalan sama seperti manusia yang mengandalkan bintang utara atau bintang Polaris untuk mengetahui kita berjalan ke arah mana National Geographic. Perangkap lampu yang dipasang merupakan perangkap lampu otomatis dimana perangkap lampu akan menyala ketika malam hari dan mati . idak menyal. pada siang hari perangkap lampu mengisi daya dari cahaya matahari untuk penerangan malam hari, ketika perangkap lampu menyala serangga walang sangit akan mendekati sumber cahaya. Dalam pengendalian hama walang sangit dengan menggunakan perangkap bangkai kepiting (PBK) merupakan pengendalian yang dilakukan dengan umpan bau busuk dan didasari oleh kebiasaan hama walang sangit yang tertarik dengan bau busuk (Irsan dkk, 2. Atraktan bau bangkai berperan sebagai penarik hama walang sangit agar masuk dalam perangkap, bahan atraktan bau bangkai tersebut berbentuk bahan organik hewani yang membusuk. Bahan-bahan yang membusuk ini mengandung senyawa volatil, yaitu senyawa yang mudah menguap. Senyawa volatil ini menguap dan menyebar hingga tercium oleh walang sangit. Walang sangit yang tertarik kemudian akan mendatangi umpan yang membusuk. Teknik pengendalian walang sangit dengan pemasangan perangkap bau busuk ini tidak akan membunuh walang sangit. Menurut kusmawati dkk . pengendalian walang sangit dengan menggunakan bangkai kepiting pengendalian yang aman bagi lingkungan dan cukup efektiv dalam menekan populasi hama. Berlandaskan permasalahan tersebut, maka penulis melakukan penelitian dari dua jenis perangkap walang sangit yaitu perangkap lampu (PL) dan perangkap bangkai kepiting (PBK), yang akan diujikan untuk menangkap hama walang sangit, sehingga penulis dapat mengetahui perangkap mana yang paling efektif dalam menangkap hama walang sangit. METODE PENELITIAN Bahan dan alat penelitian Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah alat perangkap tenaga surya (Gambar . dan alat perangkap bangkai kepiting (Gambar . Gambar 1. perangkap lampu Gambar 2. perangkap bangkai kepiting Alat perangkap lampu dengan memerlukan bahanbahan sbb: panel surya, kabel, timah, modul charger 5v, batrei. IRFZ44N, resistor 100k, sensor LDR, kayu 2 m, papan, dan paku. Alat perangkap bangkai kepiting dipersiapkan dengan bahan-bahan yaitu: kepiting, botol plastik, air dan tali. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Solder, obeng, parang, gergaji, palu, meteran, pisau tajam, dan kait dari kawat. Rancangan Penelitian Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Percobaan Berpasangan Dua Perlakuan. Penelitian terdiri dari dua perlakuan yaitu: Perangkap lampu (PL) dan Perangkap bangkai kepiting (PBK). Pengamatan dilakukan sebanyak delapan belas . kali pengamatan sebagai ulangan Persiapan Lahan Tempat Penelitian Lahan peneltian ditentukan pada lahan sawah ditanami padi yang sedang dalam masa pengisian biji (A umur 7 mingg. Luas lahan sawah yang dipergunakan dengan ukuran panjang 30 m dan lebar 20 . Lahan dibagi dalam 6 petakan ukuran 20 m x 5 m untuk penempatan alat perangkap walang sangit. Pelaksanaan Penelitian Perangkap lampu 3 buah dan perangkap bangkai kepiting 3 buah yang telah dipersiapkan dipasang di ditengah patok bambu yang tingginya A 40 cm diatas tanaman padi petak sawah sesuai denah. Walang sangit yang terperangkap pada alat perangkap lampu akan tertampung pada wadah isi air yang diletakkan dibawah lampu perangkap. Walang sangit yang terperangkap pada alat perangkap bangkai kepiting akan tertampung dalam botol perangkap. Setiap alat perangkap dipasang 2 hari (A 48 ja. sebelum pengamatan dengan mengganti wadah air dan bangkai kepiting yang baru. Jadi pengamatan jumlah walang sangit yang terperangkap dihitung setelah 2 hari (A 48 ja. setelah perangkap dipasang. Demikian seterusnya sampai 18 kali pengamatan pada setiap alat perangkap. AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Pengamatan dan Pengumpulan Data Pengamatan dilakukan terhadap jumlah walang sangit yang tertangkap pada setiap alat perangkap dengan jumlah pengamatan delapan belas kali . dalam interval waktu setiap tiga . hari selama delapan . Pengamatan juga dilakukan dengan mengidentifikasi serangga lain yang terperangkap pada setiap perangkap yang telah dipasang. Rencana jadwal pengamatan tertera pada Tabel 1 Analissis Data Analisis data berdasarkan Rancangan Percobaan Berpasangan Dua perlakuan, yaitu perlakuan 2 jenis perangkap walang sangit dan diulang sebanyak delapan belas . kali pengamatan. Analisa melalui Uji t sampel Berpasangan (Paired t-tes. pada taraf signifikansi 5%. Identifikasi jenis serangga lain yang terperangkap diamati melalui pengamatan morfologi serangga secara langsung . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian telah dilaksanakan di Desa Penatih Denpasar Utara pada lahan sawah tanaman padi selama 5 minggu mulai pada fase tanaman padi pengisian bulir yaitu mulai umur 8 minggu sampai 13 minggu setelah tanam (Gambar 3 dan Gambar . Jenis perangkap Walang sangit yaitu Perangkap lampu dan Perangkap bangkai kepiting dipasang di lahan sawah selama penelitian dan hasil tangkapan alat perangkap diamati dan dihitung setiap 3 hari selama 18 kali pengamatan. Gambar 3. perangkap lampu di lapangan Gambar 4. perangkap bangkai kepiting di lapangan Jumlah walang sangit terperangkap pada setiap waktu pengamatan Hasil pengamatan dilapangan dalam 18 kali waktu pengamatan setalah dilakukan analisis dengan Uji t, ternyata bahwa perangakap lampu (PL) dan perangkap bangkai kepiting (PBK) memberikan hasil tangkapan Walang sangit dengan jumlah yang berbeda sangat Jumlah tangkapan pada Perangkap lampu terkecil 2 ekor terjadi pada pengamatan ke-8 dan tertinggi 18 ekor pada pengamatan Ke-13. Jumlah tangkapan pada Perangkap bangkai kepiting terkecil 9 ekor terjadi pada pengamatan ke 8 dan ke 10 kemudian tertinggi 30 ekor pada pengamatan ke 15. Jumlah tangkapan Walang sangit selama penelitian pada Perangkap lampu adalah 140 ekor dan jumlah tangkapan Walang sangit pada Perangkap bangkai kepiting mencapai 319 ekor (Tabel . Jumlah Walangsangit yang terperangkap bangkai Pada perangkap bangkai kepiting jumlah walang sangit yang terperangkap pada setiap waktu pengamatan selalu lebih banyak diban-dingkan jumlah walang sangit yang terpe-rangkap pada perangkap Dari hasil pengamatan ini tampak bahwa perangkap bangkai lebih efektiv dibandingkan perangkap lampu dengan daya tangkap yang cukup besar yaitu: 127, 85% lebih tinggi dari pada daya tangkap perangkap lampu. Peningkatan daya tangkap pada setiap waktu pengamatan pada perangkap bangkai kepiting dibandingkan perangkap lampu ditampilkan pada Tabel 2 AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Tabel 1. Jumlah Walang sangit terperangkap pada Perangkap lampu dan Perangkap bangkai kepiting. Waktu Perangkap 13 b 10 b Perangkap 20 a 15 a 22 a 15 a 19 a 15 a 21 a Waktu Total Rerata Perangkap 7,78 b Perangkap 18 a 15 a 22 a 18 a 30 a 23 a 21 a 17,72 a Keterangan: Angka yang diikuti dengan hurup yang berbeda pada waktu pengamatan yang sama menunjukan hasil berbeda nyata pada Uji t taraf 5% Tabel 2. Peresentase peningkatan daya tangkap perangkap bangkai kepiting dibandingkan perangkap lampu Waktu pengamatan 81,81 peningkatan daya tangkap (%) Waktu pengamatan Persentase peningkatan daya tangkap (%) 66,66 57,14 150 533,33 15,38 83,33 22,22 Serangga Lain yang tertangkap Hasil pengamatan menunjukan bahwa ada beberapa jenis hama serangga tanaman padi selain hama Walang sangit yang terperangkap pada Perangkap lampu sedangkan pada Perangkap bangkai kepiting tidak ditemukan ada hama serangga padi terperang-kap selain serangga Walang sangit. Hasil pengamatan jenis hama serangga tanaman padi selain hama Walang sangit yang terperangkap dari pengamatan ke1 sampai ke 18 ditampilkan pada tabel 3 Table 3. Jenis Serangga Hama Tanaman Padi Yang Terperangkap Selain Walang Sangit Dari Pengamatan 1 Sampai 18 Waktu pengamatan Perangkap lampu Perangkap bangkai Waktu pengamatan Perangkap lampu Perangkap bangkai Data primer hasil pengamatan peneliti AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Gambar 5. Identifikasi Serangga melalui pengamatan morfologi taksnomi ditemukan 4 janis. Keterangan A: Belalang Hijau (Atractomorpha crenulata ) B: Kepik bertungkai (Anasa tristi. C: Belalang (Dissosteira carolin. D: Kumbang (Oulena melanoplu. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukan bahwa jumlah tangkapan Walang sangit selama penelitian pada Perangkap lampu adalah 140 ekor dan jumlah tangkapan Walang sangit pada Perangkap bangkai kepiting mencapai 319 ekor. Hasil analisis Uji t menunjukan jumlah walang sangit yang terperangkap sangat berbeda nyata antara Perangkap lampu dengan Perangkap bangkai kepiting. Jumlah Walang sangit yang terperangkap pada Perangkap bangkai kepiting nyata lebih tinggi dari jumlah Walang sangit yang terperangkap pada Perangkap lampu yaitu mencapai peningkatan 127,85 % selama penelitian dilaksanakan. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa perangkap bangkai kepiting memberikan daya tangkap yang lebih tinggi sehingga dapat dikatakan bahwa Perangkap bangkai lebih efektif dibandingkan Perangkap lampu. Hal tersebut terjadi karena adanya salah satu sifat walang sangit yaitu memiliki ketertarikan terhadap bau busuk yang berada di sekitar Hasil didukung oleh pendapat Solikhin . bahwa walang sangit sangat tertarik dengan bahanbahan yang membusuk. Dalam pengendalian hama walang sangit yang dilakukan secara mekanis, kepiting dapat dimanfaatkan sebagai sumber atraktan. Bau busuk yang timbul akibat terjadinya dekomposisi protein dan lemak akibat aktivitas bakteri dan enzim dari kepiting yang telah mati dan membusuk dapat memikat hama walang sangit. Proses oksidasi udara terhadap lemak tidak jenuh yang mengakibatkan pemecahan senyawa dan menimbulkan bau busuk. Degradasi protein yang menghasilkan sejumlah basa yang mudah menguap mengakibatkan terbentuknya Total Volatile Base (TVB) selama proses pembusukan. Kandungan TVB menjadi indikator dari pembusukan dan kadar N 30 mg merupakan batas bahan atraktan dinyatakan busuk. Kandungan TVB dari setiap jenis bahan atraktan berbeda-beda dan akan terus meningkat selama penyimpanan. Aroma tengik ini diduga yang menarik walang sangit ke dalam perangkap (Paradisa dkk, 2. Perangkap lampu dapat menarik serangga walang sangit menggunakan cahaya yang dipancar sehingga menyebabkan walang sangit terperangkap. Serangga yang tertarik pada perangkap lampu biasanya adalah serangga nokturnal . eluar di malam har. hal ini di dukung oleh pernyataan Jeff Smith (Tahun 1. bahwa perilaku yang dilakukan walang sangit mengandalkan cahaya bulan untuk bergerak dan Walang sangit yang terperangkap pada Perangkap bangkai lebih banyak dari pada Perangkap lampu juga disebabkan karena perangkap bangkai berfungsi seharian dalam menarik Walang sangit sedangkan Perangkap lampu hanya berfungsi pada malam hari untuk menarik Walang sangit. Serangga hama tanaman padi yang terperangkap pada Perangkap bangkai ada beberapa jenis selain walang sangit, sedangkan pada Perangkap lampu tidak ditemukan adanya serangga hama laian terperangkap selain walang sangit. Hal tersebut terjadi karena sebagian besar serangga hama menyukai bau busuk sehingga serangga hama masuk kedalam Perangkap Beberapa jenis serangga hama tanaman padi yang ditemukan di lahan sawah di Desa Penatih Denpasar Timur yaitu Walang sangit (Leptocorica Oratoriu. Belalang hijau (Atractomorpha crenulata ). Kepik bertungkai (Anasa tristi. Belalang (Dissosteira carolin. , dan Kumbang (Oulena KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dapat disimpulkan . Perangkap lampu dan Perangkap bangkai kepiting memberikan daya tangkap yang berbeda terhadap jumlah serangga hama walang sangit pada tanaman padi sawah. Perangkap bangkai kepiting selama penelitian menunjukan daya tangkap terhadap walang sangit lebih tinggi 127,85 % dibandingkan perangkap lampu . Perangkap bangkai kepiting memberikan daya tangkap lebih tinggi sehingga lebih efektif dalam pengendalian serangga hama Walang sangit dibandingkan dengan Perangkap lampu . Jenis AGRIMETA. VOL. 12 NO. AP RI L 2022. p-ISSN : 2088-2531, e-ISSN : 2721-2556 Serangga hama yang ditemukan di lahan sawah penelitian adalah kepik bertungkai (Anasa tristi. , kepik hijau (Nezara viridul. , belalang (Dissosteira carolin. , kumbang (Oulena melanoplu. Adapun saran dari penelitian ini adalah: . Dalam usaha pengendalian serangga hama tanaman padi diharapkan petani dapat menggunakan Perangkap bangkai kepiting dan Perangkap lampu . Untuk mendapatkan hasil pengendalian yang lebih efektif dapat digunakan perangkap bangkai kepiting disamping murah dan mudah cara pelaksanaannya. Perlu dilakukan penyuluhan yang lebih intensif kepada petani agar petani mau melakukan pengendalian serangga hama sehingga petani tidak banyak kehilangan hasil padi. REFERENSI