Kehadiran Ayah. Regulasi Emosi, dan Kepercayaan Diri Remaja Ashri Maulida Rahmawati. Edita Pusparatri. Fania Nurul Khairunnisa. Muhamad Jauhar* Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah Kudus *Email penulis: muhamadjauhar@umkudus. Abstract Father involvement in parenting also contributes to the cognitive, intellectual, behavioural, gender role, and faith development of adolescents Father absence in parenting both physically and psychologically causes negative psychological impact. This study aims to measure the relationship between the absence of a father's role and emotional regulation and self-confidence in adolescents. The research design uses a correlational approach with a cross-sectional The study was conducted at a senior high school (SMA) in Kudus Regency in 2024. The research sample was 106 students through a purposive sampling technique. The research instrument used the Father Presence Questionnaire (FPQ), a self-confidence questionnaire, and an Emotional Regulation Scale questionnaire that has been validated and reliable. Data analysis used the chi square test. The results showed that the presence of fathers in parenting had a significant correlation with adolescent emotional regulation . = 0. The Presence of Fathers in Parenting also had a positive effect on adolescent self-confidence . = 0. The presence of fathers in childcare needs to be increased to achieve good mental health conditions in Future research are expected to evaluate interventions that can enhance the role of fathers in adolescent parenting Keyword: Adolescent. Emotion Regulation. Fatherless. Self Confidence Abstrak Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak turut berkontribusi dalam perkembangan kognitif, intelektual, perilaku, peran gender, dan iman remaja. Jika ayah tidak terlibat dalam pengasuhan anak baik secara fisik maupun psikis akan mengakibatkan dampak psikologis yang mendalam. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur hubungan ketidakhadiran peran ayah . dengan regulasi emosi dan kepercayaan diri remaja. Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Kudus pada tahun 2024. Sampel penelitian sebanyak 106 siswa melalui Teknik purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan Father Presence Questionnaire (FPQ), kuesioner kepercayaan diri dan kuesioner Skala Regulasi Emosi yang telah valid dan Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan Kehadiran Ayah dalam Pengasuhan memiliki korelasi yang signifikan dengan regulasi emosi remaja . =0. Kehadiran Ayah dalam Pengasuhan juga berkorelasi secara positif dengan kepercayaan diri remaja . =0,. Kehadiran ayah dalam pengasuhan anak perlu dilakukan peningkatan untuk mencapai kondisi kesehatan mental yang baik pada remaja. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengevaluasi intervensi yang dapat meningkatkan peran ayah dalam pengasuhan remaja Kata kunci: Fatherless. Regulasi Emosi. Kepercayaan Diri. Remaja. Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 ISSN: . 2656-6222, . 2657-1595 DOI 10. 1234/jkr. Available online: https://jurnal. poltekkes-kemenkes-bengkulu. id/index. php/jkr 102 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 PENDAHULUAN Indonesia dianggap sebagai negara tanpa ayah dengan urutan ketiga di dunia dengan keterlibatan terkait peran pengasuhan ayah yang masih kurang berdasarkan survey yang dilakukan oleh lembaga Komisi Perlindungan Anak Indonesia (Puspa 2023. Setyawan 2. Menurut Laporan Badan Pusat Statistik dari 000 laki-laki menikah di Indonesia, 3,17 persennya adalah ayah remaja, artinya mereka menjadi ayah ketika masih bersekolah, masih sangat muda, dan masih membutuhkan orang Di Jawa Tengah angka perceraian 367 jiwa. Hal ini berdampak pada kurangnya kesiapan seseorang menjadi seorang 13,35% perempuan menjadi kepala rumah tangga pada tahun 2017 disebabkan oleh perceraian, baik perceraian hidup maupun mati. Sementara itu, 3,94% laki-laki memimpin keluarga setelah perceraian. Informasi yang disajikan di sini menunjukkan bahwa jumlah anak yang mengalami fatherless lebih banyak dibandingkan anak yang mengalami motherless (Wahyuni. Khumas, and Eka Jafar 2. Remaja adalah tahap perkembangan yang dihadapkan pada berbagai masalah kesehatan (Athiutama et al. Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa 10Ae20% anak-anak dan remaja di seluruh dunia berjuang dengan masalah kesehatan mental. Pada usia 14 tahun, 50% dari semua penyakit mental diperkirakan muncul, dan pada usia 18 tahun sebanyak 75% (Keles. Mccrae, and Grealish 2. Salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya masalah kesehatan mental pada remaja adalah ketiadaan peran ayah. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa remaja yang mengalami ketiadaan peran ayah cenderung melakukan kenakalan remaja, memiliki kontrol emosi yang rendah, dan berperilaku agresif (Ismail. Murdiana, and Permadi 2. Bagi banyak individu, keterampilan pengaturan emosi meningkat secara dramatis selama masa namun bagi sebagian remaja, masa remaja menandai awal atau memburuknya psikopatologi yang ditandai dengan kesulitan dalam pengaturan emosi (Silvers 2. Peran sebagai ayah di Indonesia berakar kuat pada konsep tradisional yang dikondisikan oleh budaya, agama, dan sistem patriarki. Dibandingkan negara-negara yang sudah menyadari peran ayah dalam mengasuh anak. Indonesia mungkin masih perlu melakukan beberapa langkah. Peran ayah dalam perspektif peran gender tampaknya sangat berkaitan dengan identitas laki-laki dan sistem dalam Hirarki patriarki dan hegemoni maskulinitas laki-laki, menciptakan status quo implementasi dan praktik struktur gender (Yunianti. Mulya, and Nanik 2. Penelitian sebelumnya mengungkapkan agar keterlibatan ayah tetap ada dalam membesarkan anak, apapun kondisinya bahkan perceraian pun tidak dapat dihindari. Sosok ayah harus selalu hadir dalam kehidupan anak baik keterlibatan ayah secara langsung maupun keterlibatan figur ayah lainnya (Nurhayani 2. Remaja yang berasal dari rumah tanpa ayah memiliki kondisi kesejahteraan, mental, dan perilaku yang jauh lebih buruk. Remaja ini seringkali dibebani dengan harga diri yang lebih rendah dibandingkan anak-anak lain, dan merasa tidak mengerti mengapa ayahnya Hal ini menyebabkan kecemasan, penarikan diri dari pergaulan, dan depresi, serta meningkatkan risiko bunuh diri dan bentuk tindakan menyakiti diri sendiri lainnya (Brewer 2. Penelitian sebelumnya yang dilakukan pada mahasiswa menemukan bahwa sebagaian besar responden kesulitan menentukan hubungan mereka dengan ayah mereka, sehingga menimbulkan ketidakpuasan ketidakpercayaan, dan berdampak negatif pada harga diri (Frazier and Cowan 2. Penelitian terdahulu lainnya menunjukkan bahwa remaja yang tumbuh tanpa ayah akan mengalami dampak psikologis yang mendalam. Masalah yang mungkin dirasakan antara lain perasaan malu . , rendah diri . ow self-estee. , marah . , dan kesepian . gangguan hubungan dengan lawan jenis dan menghasilkan perilaku seksual yang tidak Hal ini disebabkan karena remaja tidak mempunyai kesempatan yang sama untuk tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya (Castetter 2020. Nurmalasari et al. Ashri Maulida dkk. Kehadiran Ayah. Regulasi Emosi | 103 Gangguan Kesehatan berkepanjangan yang dialami oleh remaja dapat mempengaruhi kinerja akademik dan praktik siswa remaja (Dwidiyanti et al. Rendahnya pengasuhan di Indonesia dan tingginya angka gangguan kesehatan mental dan kenakalan pada remaja mencapai angka yang memprihatinkan. Hasil studi pendahuluan di sebuah SMA melalui wawancara pada beberapa siswa didapatkan data bahwa beberapa siswa menyatakan tidak memiliki ayah dan tidak merasakan keberadaan ayah karena kesibukaan pekerjaan ayah atau tidak tinggal serumah dengan ayah sehingga. Kondisi tersebut menyebabkan siswa merasa tidak atau kurang percaya diri selama menjalani kehidupan sehari-hari, dan sulit menentukan keputusan akan pilihan hidup karena tidak ada yang mengarahkan, memiliki emosional yang labil. Beberapa penelitian terkait ketiadaan peran ayah . telah dilakukan yaitu studi kuantitaif pengaruh fatherless terhadap perilaku agresif pada remaja yang mengukur ketiadaan peran ayah terhadap perilaku agresif mulai dari fisik, verbal, hingga permusuhan (Ismail et al. Penelitian lain mengukur hubungan ketiadaan peran ayah dengan kenakalan remaja yang dilakukan melalui studi kuantitatif pada responden remaja dengan metode total sampling (Anas. Daud, and Zainuddin 2. Penelitian lainnya juga dilakukan dalam mengukur pengaruh kehadiran ayah terhadap harga diri anak perempuan yang perempuan (Ndifor and Kirimi 2. Adapun kebaruan dari penelitian ini adalah mengukur secara langsung pada remaja melalui studi korelatif dengan variabel yang belum diteliti sebelumnya yaitu hubungan ketidakhadiran peran ayah . dengan kepercayaan diri dan regulasi emosi. Peran ayah yang akan diukur dalam penelitian ini adalah bagaimana hubungan ayah-anak remaja dan keyakinan anak terhadap ayah. Perawat sebagai bidang ilmu yang holistic hendaknya turut memperhatikan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak untuk mengoptimalkan tumbuh kembang serta kesehatan mental anak. Saat ini belum banyak penelitian yang mengidentifikasi peran kehadiran ayah dalam pengasuhan remaja terutama pada kepercayaan diri, regulasi emosi, dan perilaku seksual remaja, sehingga penelitian ini dilaksanakan bertujuan untuk mengukur hubungan ketidakhadiran peran ayah . dengan kepercayaan diri dan regulasi emosi pada remaja. METODE Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen pada penelitian yaitu Ketidakhadiran Peran Ayah (Fatherles. Variabel dependen pada penelitian ini yaitu Kepercayaan Diri, dan Regulasi Emosi Remaja. Penelitian dilakukan di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kabupaten Kudus pada tahun 2024. Penelitian ini telah mendapatkan ethical cleareance dari komite etik penelitian dengan nomor 91/Z7/KEPK/UMKU/VII/2024. Populasi penelitian yaitu seluruh siswa-siswa SMA aktif di Kabupaten Kudus. Besar sampel ditentukan berdasarkan rumus Lemeshow dan didapatkan sejumlah 96 responden. (Dharma 2. Sampel diambil menggunakan purposive Kriteria inklusi pada penelitian ini yaitu siswa terdaftar atau memiliki status aktif sebagai pelajar di SMA. Siswa yang tidak memiliki ayah sejak kecil tetap dimasukkan sebagai responden dalam penelitian ini. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner karakteristik respon terdiri dari usia, jenis Father Presence Questionnaire (FPQ) digunakan untuk mengukur kehadiran peran Nilai validitas kuesioner ini sebesar 0,424-0,909 dan nilai reliabilitas sebesar 0,89 (Krampe and Newton 2. Kuesioner ini terdiri dari 71 pertanyaan dengan 5 skala likert dengan pilihan jawaban tidak pernah hingga Rentang Pengkategorian kehadiran ayah terdiri dari kategori tinggi jika total skor C 260,89 dan karegori rendah jika total skor < 260,89. Pengkategorian menggunakan mean sebagai cut of point karena data terdistribusi normal . =0,. Kuesioner ini terdiri 3 aspek yaitu hubungan dengan ayah, keyakinan tentang ayah, dan pengaruh keluarga Dengan rincian pertanyaan sebagai berikut: 104 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 Tabel 1. Father Presence Questionnaire (FPQ) Variabel Pertanyaan Perasaan terhadap ayah 13 item Dukungan ibu terhadap 14 item hubungan dengan ayah Persepsi keterlibatan ayah 14 item Hubungan fisik dengan ayah 9 item Hubungan ayah dengan ibu 13 item Konsepsi pengaruh ayah 8 item Kuesioner kepercayaan diri untuk menilai kepercayaan diri remaja sebanyak 44 item pertanyaan yang menggunakan 4 skala likert dengan pilihan jawaban sangat tidak setuju, tidak setuju, setuju, dan sangat setuju. Rentang kepercayaan diri terdiri dari kategori tinggi jika total skor C 115 dan kategori rendah jika total skor < 115. Pengkategorian hasil pengukuran menggunakan median karena data tidak terdistribusi normal . =0,. Nilai validitas sebesar 0,330-0,572 dan nilai reliabilitas sebesar 0,788 (Febriyandari. Kuswardi, and Kurniawati 2. Kuesioner regulasi emosi terdiri dari 38 item pernyataan dengan 4 skala likert dengan pilihan jawaban sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Kuesioner ini mengukur emosional, kemampuan tidak terpengaruh emosi negatif dan bertindak positif, kemampuan mengontrol dan merespon emosi, dan kemampuan menemukan cara untuk mengurangi emosi. Pengkategorian regulasi emosi terdiri dari kategori baik jika total skor C 98 dan kategori kurang baik jika total skor < 98. Pengakegorian hasil ukur menggunakan media sebagai cut of point karena data tidak terdistribusi normal . =0,. Kuesioner ini terdiri dari dengan nilai reliabilitas sebesar 0,865 (Yunita Sari and Naqiyah 2. Analisis data pada penelitian ini menggunakan aplikasi pengolahan data komputer terdiri dari analisis univariat dan bivariat. Analisis responden, kehadiran peran ayah, kepercayaan diri, regulasi emosi, dan perilaku seksual Analisis bivariat mengidentifikasi hubungan kehadiran peran ayah dengan kepercayaan diri, regulasi emosi, dan perilaku seksual menggunakan uji chi-square dengan derajat kepercayaan 95% dengan nilai alpha 5% atau 0,05 HASIL Tabel 1. menjelaskan bahwa rerata umur siswa yaitu 16,91 tahun dengan SD 0,582. Sebagian besar siswa berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 60 siswa . ,5%). Setengahnya siswa merupakan anak kedua yaitu sebanyak 40 siswa . ,7%). Sebagian kecil orang tua siswa bekerja sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 26 siswa . ,1%): Tabel 2. Karakteristik Responden . = . Karakteristik Umur Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Anak Ke1 Pekerjaan Orang Tua Tidak Bekerja Pegawai Swasta Wiraswasta Pedagang Buruh Guru/Dosen Pegawai Negeri Sipil Jumlah Mean 16,91 0,582 Ashri Maulida dkk. Kehadiran Ayah. Regulasi Emosi | 105 Tabel 2 menjelaskan bahwa setengahnya siswa merasakan kehadiran ayah pada kategori tinggi yaitu sebanyak 54 siswa . ,3%), memiliki regulasi emosi baik yaitu sebanyak 49 siswa . %), namun memiliki kepercayaan diri rendah yaitu sebanyak 49 siswa . %). Tabel 3. Kehadiran Ayah. Regulasi Emosi dan Kepercayaan Diri Remaja . Variabel Kehadiran Ayah Tinggi Rendah Regulasi Emosi Baik Kurang Baik Kepercayaan Diri Tinggi Rendah Total Tabel 3 menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan secara statistic antara kehadiran ayah dengan kepercayaan diri siswa dengan nilai p=0,007 . <0,. dan regulasi emosi siswa dengan nilai p=0,001 . <0,. Tabel 4. Hubungan Kehadiran Ayah dengan Regulasi Emosi dan Kepercayaan Diri Remaja . = . Variabel Kepercayaan Diri Tinggi Rendah Regulasi Emosi Baik Kurang Baik PEMBAHASAN Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian menjelaskan bahwa rerata umur siswa yaitu 16,91 Hal ini sesuai dengan data bahwa rata-rata umur siswa SMA di Kabupaten Kudus (Kemendikbudristek 2. Rentang usia ini merupakan kelompok usia remaja yaitu antara usia 10 tahun sampai usia kurang dari 18 tahun (Kemenkes RI 2. Masa remaja merupakan tahap kritis dalam proses perkembangan kehidupan. Masa ini merupakan periode transisi saat seorang individu mengalami perubahan fisik, hormonal, dan psikologis (Hegde. Chandran, and Pattnaik 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 60 siswa Kehadiran Ayah Tinggi Rendah Total Nilai p 0,007 0,001 ,5%). Hal ini sesuai dengan data bahwa mayoritas dari siswa SMA di Kabupaten Kudus berjenis kelamin perempuan . ,96%) (Kemendikbudristek 2. Anak perempuan cenderung mengalami dampak negatif ketidakhadiran peran ayah dibandingkan dengan anak laki-laki. Ayah menjadi standar bagi anak perempuan untuk menilai perilaku yang boleh dan tidak boleh diterima dari sosok laki-laki, maka ketika sosok ayah hilang akan cenderung mengganggu peran gender. Kehadiran kesejahteraan psikologis anak perempuan hingga dewasa (Wandansari. Nur, and Siswanti Semakin keterlibatan ayah kandung dalam kehidupan seorang wanita, semakin besar kemungkinan dia untuk terlibat dalam perilaku seksual yang positif (AlleyneGreen et al. 106 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 Pada penelitian ini, sebagian besar siswa merupakan anak kedua yaitu sebanyak 40 siswa . ,7%), anak pertama sebanyak 37 siswa . ,5%), anak ketiga sebanyak 10 . ,4%). Hasil sebelumnya menjelaskan bahwa anak sulung cenderung lebih dekat dengan ayahnya, anak sulung dituntut untuk disiplin dalam melaksanakan tugas di rumah serta memiliki karakter yang lebih dominan dibandingkan adiknya. Anak tengah merupakan anak yang mandiri, periang, serta lebih sering didukung untuk mengerjakan tugasnya sendiri. Sedangkan anak bungsu merupakan anak yang aktif dan manja (Untariana and Sugito 2. Mayoritas orang tua siswa pada penelitian ini adalah bekerja, pekerjaan sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 26 siswa . ,1%), sebagai buruh sebanyak 22 siswa . ,9%), sebagai pegawai swasta sebanyak 18 siswa . ,8%), pegawai negeri sipil sebanyak 13 siswa . ,5%), pedagang sebanyak 7 siswa . ,3%), guru/dosen sebanyak 5 siswa . ,2%), sedangkan orang tua siswa yang tidak bekerja adalah sebanyak 5 siswa . ,2%). Partisipasi ayah dalam keluarga terhambat oleh tuntutan dunia kerja. Beberapa ayah merasa kesulitan untuk menemukan perusahaan yang menawarkan manfaat seperti jadwal kerja yang lebih fleksibel, penitipan anak dengan harga terjangkau, kemampuan untuk bekerja dari rumah, dan cuti untuk liburan keluarga, sehingga mengurangi jumlah waktu yang dapat dihabiskan ayah bersama anak-anak mereka. Ayah yang bekerja dengan jam kerja yang lebih sedikit mungkin tidak memiliki banyak waktu luang untuk dihabiskan bersama anak-anak mereka (Soetopo and Partasari Kehadiran Ayah Hasil penelitian menunjukkan mayoritas remaja mengalami kehadiran ayah dalam kehidupannya pada tingkat tinggi sejumlah 54 remaja . ,3%). Namun, proporsi remaja mengalami kehadiran ayah dalam kehidupannya pada tingkat rendah juga masih cukup tinggi yaitu sejumlah 42 remaja . ,8%). Hasil Ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dimana mayoritas tingkat kehadiran ayah pada remaja pada tingkat tinggi hingga sangat tinggi mencapai 38-51% (Dasalinda and Karneli Kehadiran keluarga adalah seberapa besar keluarga memberikan kehangatan bagi anak, sehingga dalam hal ini kehadiran orang tua baik ayah maupun ibu menjadi Kehadiran orang tua harus menjadi pemersatu tidak hanya dalam hal membesarkan anak tetapi juga mendidik anak menjadi individu yang sukses di lingkungannya, baik di sekolah maupun di keharmonisan dalam keluarga berpengaruh terhadap prestasi belajar anak di sekolah. Peran orang tua dalam mengasuh anak sangat berpengaruh terhadap anak. Tak hanya ibu, figur ayah juga sangat penting dalam hal mengasuh Tidak hanya berkewajiban mencari nafkah dan mencukupi biaya hidup, ayah juga mempunyai peran dan kewajiban dalam mendidik anaknya (Berlian and Chitam 2. Regulasi Emosi Remaja Hasil Penelitian menunjukkan bahya mayoritas remaja memiliki regulasi emosi yang baik sebanyak 49 remaja . %). Namun, proporsi remaja yang memiliki regulasi emosi yang buruk juga masih cukup tinggi yaitu sejumlah 42 remaja . ,8%). Hasil Penelitian ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa regulasi emosi pada remaja SMA mayoritas berada pada tingkat tinggi hingga mencapai 69,2%. Tingginya tingkat regulasi emosi pada siswa dipengaruhi oleh mudahnya komunikasi siswa dengan melalui fasilitas yang disediakan oleh sekolah seperti handphone asrama untuk berkomunikasi dengan orang tua, waktu kunjungan orang tua pada hari tertentu, serta terdapat bidang pengasuhan santri untuk membina para siswa selama berkegiatan di asrama (Nabilah and Hadiyati 2. Penelitian sebelumnya menyampaikan bahwa kemampuan regulasi emosi remaja juga dipenagaruhi oleh usia. Terdapat perbedaan regulasi emosi remaja awal dan Selain itu dalam konteks gender. Ashri Maulida dkk. Kehadiran Ayah. Regulasi Emosi | 107 Temuan menunjukkan bahwa, wanita lebih banyak menggunakan strategi regulasi emosi dibanding dengan laki-laki. Penggunaan . meningkat seiring usia pada wanita, tetapi tidak pada laki-laki dan . tidak menurun seiiring usia, terutama pada wanita (Maharani Swastika and Prastuti 2. Kepercayaan Diri Remaja Hasil Penelitian menunjukkan bahwa mayoritas remaja memiliki kepercayaan diri yang rendah sebanyak 49 remaja . %). Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa sebagian besar remaja smemiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah hingga mencapai 53% dari total remaja. Rendahnya kepercayaan diri pada remaja bisa dipicu salah satunya adalah pengalaman mengalami kekerasan verbal dari orang tua (Juniawati and Zaly 2. Selain itu, penelitian lain menyatakan Penampilan merupakan salah satu faktor penting dalam membangun rasa percaya diri seorang remaja. Setiap orang mempunyai tingkat kepercayaan diri yang berbeda-beda. Beberapa orang merasa sangat percaya diri, sementara yang lain merasa tidak aman. Kondisi ini bergantung pada bagaimana orang lain bereaksi terhadap kondisi fisik, moral, dan sosialnya (Dianingrum and Satwika 2. dengan perasaan menghargai diri yang lebih rendah lebih sensitif terhadap penolakan dan cenderung lebih memahami perilaku orang lain secara negatif, sehingga merusak keterikatan dan kepuasan dalam hubungan sosial, yang menyebabkan depresi (Zhou et al. Hubungan Kehadiran Ayah dengan Regulasi Emosi Remaja Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kehadiran ayah dengan kemampuan regulasi emosi Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya dimana kesepian yang berkorelasi secara positif dengan perilaku agresif pada remaja di Surabaya. Semakin tinggi kesepian terjadi pada remaja fatherless di Surabaya, maka semakin tinggi angka kejadian perilaku agresifnya (Alfasma. Santi, and Kusumandari 2. Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian sebelumnya dimana terdapat pengaruh keadaan fatherless terhadap perkembangan sosial anak, dimana anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung mengalami permasalahan emosional yang lebih besar dibandingkan dengan anak yang memiliki ayah yang aktif dalam Kehilangan sosok ayah dapat menyebabkan anak merasa kurang aman dan stabil, sehingga berpotensi menimbulkan masalah kecemasan, depresi, dan harga diri. Anak-anak seperti ini seringkali merasa kurang dicintai dan tidak berharga sehingga dapat menghambat perkembangan sosialnya (Susanti and Ariyati 2. Dukungan Ayah sebagai anggota keluarga dapat meningkatkan kemampuan regulasi emosi individu (Rahmawati. Jauhar, and Pusparatri 2. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan anak remaja dapat memberikan contoh dalam mengelola emosi mereka. Dengan menunjukkan cara-cara yang sehat untuk menangani frustrasi, stres, atau marah, anak remaja dapat meniru perilaku Kehadiran ayah yang mendukung secara emosional dapat membantu remaja merasa lebih aman dan dihargai, yang pada kemampuan remaja untuk mengatur Ayah mendengarkan, memberikan validasi, dan mengonfirmasi perasaan anak dapat memperkuat kemampuan regulasi emosi (Islamiah et al. Hilangnya peran ayah berdampak pada perasaan rendah diri, marah, dan malu pada anak karena berbeda dengan anak lainnya. Oleh karena itu, peran orang tua khususnya ayah sangat penting dalam perkembangan remaja di lingkungan rumah, sekolah, dan Peran membesarkan anak, artinya memenuhi seluruh kebutuhan finansial anak, menjadi sahabat dan kasih sayang kepada anak, 108 | Jurnal Keperawatan Raflesia. Volume 6 Nomor 2. Nov 2024 termasuk teman bermain, mengasuh anak, mengasuh dan memberikan teladan yang baik, memantau atau mengawasi serta menegakkan aturan disiplin, risiko dan bahaya, nasihat terhadap anak masalah, dan meningkatkan peluang keberhasilan anak (Dasalinda and Karneli 2. Hubungan Kehadiran Ayah dengan Kepercayaan Diri Remaja Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara kehadiran ayah dalam pengasuhan dengan kepercayaan diri Hasil ini didukung oleh penelitian sebelumnya dimana pada responden dengan kondisi fatherless ditemukan mayoritas mengalami tingkat harga diri yang rendah yang akan berpengaruh pada kepercayaan diri. Ditemukan bahwa fatherless memiliki hubungan yang signifikan terhadap kemampuan seseorang memandang dirinya berharga (Sumathi and Rajeswari 2. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan berdampak pada rendahnya harga diri, perasaan marah, dan rasa malu karena anak merasa berbeda dengan anak lainnya. Kehilangan sosok ayah juga dapat menimbulkan perasaan kesepian, cemburu, kehilangan, kurang pengendalian diri, kurang berani mengambil resiko besar, neurotisisme, atau permasalahan lain yang tidak dapat diselesaikan dengan sendirinya, seperti depresi. Emosi dan perasaan negatif mempengaruhi kepuasan hidup dan kepercayaan diri seorang remaja (Rahayu and Saroinsong 2. Penelitian sebagian besar krisis dalam sistem pendidikan saat ini disebabkan oleh rendahnya rasa percaya diri yang menyebabkan sejumlah siswa kurang berpartisipasi dan kemajuan yang tidak memuaskan setelah menghabiskan banyak waktu di kelas. Kepercayaan diri merupakan salah satu faktor dalam pembelajaran yang dapat berdampak pada partisipasi dan kemajuan siswa. Rasa percaya diri sangat diperlukan bagi seorang siswa dalam mengambil resiko dan terlibat dalam kegiatan pembelajaran. Remaja yang memiliki rasa percaya diri menjadi lebih menetapkan tujuan untuk dirinya sendiri serta bekerja keras untuk mencapai tujuan tersebut tanpa mengkhawatirkan hasilnya (Akbari and Sahibzada 2. Ayah yang memberikan dukungan emosional, apresiasi, dan pengakuan terhadap usaha dan pencapaian anak dapat meningkatkan rasa percaya diri remaja. Ketika seorang remaja merasa dihargai dan diakui oleh ayahnya, mereka cenderung merasa lebih mampu dan percaya diri untuk menghadapi tantangan. Kehadiran ayah yang memberikan rasa aman dan melindungi anak remaja dari ancaman atau stres eksternal dapat membantu mereka merasa lebih percaya diri. Anak yang merasa dilindungi oleh orangtua, terutama ayah, dapat merasa lebih siap untuk mengeksplorasi dunia dan menghadapi situasi baru (Reza and Fatimah 2. Pada masa remaja, peran ayah terutama sebagai pemantau dan pendisiplin, yang menghindarkan anak dari perilaku menyimpang, serta sebagai pelindung, yang menjaga lingkungan anak tetap aman. Kurangnya keterbukaan remaja terhadap ayah dan kurangnya kepekaan ayah terhadap kondisi anak akan menimbulkan buruknya hubungan di antara mereka. Remaja merupakan tahap perkembangan mengeksplorasi dan mencari pengalaman Oleh karena itu, peran ayah sebagai pelindung, pemantau, dan pendisiplin tetap diperlukan untuk mencegah remaja membimbing remaja agar terhindar dari perilaku nakal (Jatiningtyas et al. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan Kehadiran Ayah dalam Pengasuhan secara signifikan yang signifikan berkorelasi positif dengan dengan regulasi emosi dan kepercayaan diri remaja Kehadiran ayah dalam pengasuhan anak perlu dilakukan peningkatan untuk mencapai kondisi kesehatan mental yang baik pada remaja. Hasil penelitian ini dapat keperawatan anak untuk meningkatkan pola Ashri Maulida dkk. Kehadiran Ayah. Regulasi Emosi | 109 pengasuhan yang sehat dan mendukung perkembangan mental anak. DAFTAR PUSTAKA