SINERGI KELUARGA DAN SEKOLAH DALAM MEMBENTUK SIKAP PEDULI SOSIAL PADA ANAK USIA DINI: PENDEKATAN HOLISTIK UNTUK GENERASI PEDULI Luthfianah1. Nur Roifah2. Aifatur Rofiqoh3. FuAoad Arif Noor4 Sekolah Tinggi Pendidikan Islam (STPI) Bina Insan Mulia Yogyakarta e-mail: 1 luthfianah4syafii@gmail. com , 2 roifah83@gmail. uqi20@gmail. com, 4 fuad. noor@gmail. Abstrak. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah fase penting dalam pembentukan karakter dan sikap sosial anak, termasuk sikap peduli sosial. Penelitian ini mengkaji peran keluarga sebagai lingkungan pertama dalam menanamkan nilai-nilai sosial dan etika, serta sekolah sebagai tempat anak belajar melalui bimbingan guru dan interaksi dengan teman sebaya. Studi literatur ini menemukan bahwa keluarga yang memberikan teladan positif dan lingkungan sekolah yang mendukung melalui aktivitas kolaboratif mampu mengembangkan empati, keterampilan sosial, dan rasa peduli pada anak PAUD. Metode studi literatur yang digunakan bertujuan memberikan wawasan komprehensif untuk penelitian selanjutnya, dengan kesimpulan bahwa sinergi antara keluarga dan sekolah sangat penting dalam membentuk sikap peduli sosial anak sejak dini. Kata Kunci: Sinergi keluarga, pendidik PAUD, sikap peduli sosial. Abstract. Early Childhood Education (PAUD) is an important stage in child development which includes character formation and social attitudes. One of the key aspects that needs to be emphasized at this stage is the formation of social care attitudes in children. This research explores the role played by the family and school environment in forming social care attitudes in PAUD The family environment is the first environment where children are exposed to social values and ethical norms. Parents, as the main role models, have a central role in shaping children's social care attitudes. In the PAUD school environment, teachers have an important role as role models and facilitators of social learning. Teachers can teach social values, develop children's social skills, and provide meaningful learning experiences. School is also a place where children can interact with peers, develop empathy, and work together to learn. The method applied in this article is a literature study. It is hoped that this literature study can become reference material for other research, and conclusions can be obtained that can be important information for readers. Keywords: Role. Parents. Teachers. Social Attitudes. Child Luthfianah, dkk PENDAHULUAN Anak usia dini berada pada fase kritis dalam pembentukan karakter dan kepribadian, termasuk sikap peduli sosial. Penanaman nilai-nilai kepedulian sosial sejak usia dini sangat relevan, mengingat kemampuan anak untuk memahami, merasakan, dan merespons kebutuhan orang lain adalah fondasi penting dalam interaksi sosial yang sehat. Sikap ini menjadi krusial dalam membentuk generasi masa depan yang empati, kooperatif, dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Kolaborasi antara keluarga dan sekolah memainkan peran sentral dalam mengembangkan sikap peduli sosial anak. Penelitian Retno Listyarti . menekankan bahwa pembentukan karakter peduli sosial memerlukan peran aktif keluarga sebagai lingkungan pertama anak, dan sekolah sebagai institusi yang memberikan pengalaman sosial lebih luas. Menurut laporan UNICEF . , anak yang tumbuh dalam lingkungan suportif dengan interaksi yang memperkuat empati menunjukkan kemampuan sosial yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang mendapatkan dukungan ini. Secara spesifik, intervensi berbasis keluarga dan sekolah dapat mengatasi tantangan seperti egoisme dan konflik interpersonal pada anak. Di sekolah, program seperti pembelajaran berbasis proyek sosial dan aktivitas kolaboratif terbukti meningkatkan kemampuan anak untuk bekerja sama dan memahami perspektif orang lain. Studi oleh Battistich et al. menunjukkan bahwa anak-anak yang terlibat dalam program pengembangan sosial di sekolah lebih cenderung menunjukkan perilaku peduli dan berempati terhadap teman sebaya. Urgensi pembentukan sikap peduli sosial tidak hanya terbatas pada manfaat individu, tetapi juga dampaknya terhadap masyarakat. Anak-anak yang memiliki kepedulian sosial cenderung lebih mampu memecahkan masalah sosial, menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi, dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. Oleh karena itu, keluarga dan sekolah perlu memperkuat kolaborasi untuk menciptakan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan dalam pengembangan karakter peduli sosial anak usia dini. Luthfianah, dkk METODE Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan analisis tematik untuk mengeksplorasi relevansi tema pendidikan karakter dan pembentukan kepedulian sosial pada anak usia dini (Sugiyono, 2. Sumber literatur dipilih berdasarkan kriteria inklusi sebagai berikut: artikel yang diterbitkan dalam jurnal terindeks nasional maupun internasional, berfokus pada topik kepedulian sosial, pendidikan karakter, dan peran lingkungan keluarga serta sekolah, serta diterbitkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir untuk memastikan relevansi data. Kriteria eksklusi meliputi artikel dengan cakupan tema yang terlalu luas, tidak memiliki kaitan langsung dengan pendidikan anak usia dini, atau tidak melalui proses peer-review (Zed, 2. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik dengan langkah-langkah pengkodean, kategorisasi tema utama, serta penarikan kesimpulan yang berfokus pada peran lingkungan dalam membentuk karakter anak. Framework ini membantu dalam mengidentifikasi pola dan hubungan antara berbagai elemen yang berkontribusi pada pengembangan kepedulian sosial pada anak usia dini. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sikap peduli sosial pada anak usia dini mengacu pada kemampuan anakanak yang masih dalam usia prasekolah atau awal sekolah untuk memahami dan merespons kebutuhan, perasaan, dan pengalaman orang lain di sekitar mereka. Ini adalah fondasi penting dalam perkembangan moral dan sosial anak-anak. Sikap peduli sosial pada anak usia dini adalah kemampuan dan kecenderungan anak-anak untuk merasa empati, berempati, dan bertindak dengan baik terhadap teman-teman mereka, anggota keluarga, serta orang lain dalam lingkungan sosial mereka. Ini mencakup perasaan ingin membantu, berbagi, dan merasa perasaan positif terhadap orang lain. Menurut Khadijah. pentingnya sikap peduli sosial pada anak usia dini mencakup beberapa aspek: Pengembangan Empati: Sikap anak-anak mengembangkan empati, yaitu kemampuan untuk merasakan dan memahami Luthfianah, dkk perasaan orang lain. Ini membantu mereka menjadi lebih sensitif terhadap kebutuhan dan perasaan teman-teman mereka. Pengembangan Keterampilan Sosial: Sikap peduli sosial juga terkait dengan pengembangan keterampilan sosial anak-anak. Mereka belajar bagaimana berinteraksi dengan baik dengan teman-teman mereka, berbagi, dan bekerja sama dalam permainan dan aktivitas kelompok. Pengenalan Nilai-Nilai Moral: Sikap peduli sosial dapat menjadi landasan awal bagi pengenalan nilai-nilai moral seperti kebaikan, kerjasama, dan menghormati hak-hak orang lain. Pengurangan Konflik: Anak-anak yang memiliki sikap peduli sosial cenderung lebih baik dalam menyelesaikan konflik dengan teman-teman mereka. Mereka belajar berbicara tentang perasaan mereka dan mencari solusi yang bersamaan dalam situasi konflik. Persiapan untuk Belajar: Sikap peduli sosial dapat membantu anak-anak mempersiapkan diri untuk belajar di lingkungan sekolah. Mereka belajar untuk meningkatkan pengalaman belajar mereka. Pengaruh Positif dalam Keluarga: Sikap peduli sosial juga memiliki dampak positif dalam keluarga. Anak-anak yang merasa peduli terhadap anggota keluarga mereka cenderung memiliki hubungan yang lebih positif dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Pendidikan anak usia dini sering kali berfokus pada pengembangan sikap peduli sosial ini. Guru dan orang tua berperan penting dalam membimbing anakanak dalam memahami pentingnya empati, kebaikan, dan kerjasama. Aktivitas seperti bermain bersama, berbicara tentang perasaan, dan membaca buku-buku cerita tentang nilai-nilai sosial dapat membantu anak-anak menginternalisasi sikap peduli sosial yang penting untuk perkembangan pribadi dan sosial mereka. Peran Lingkungan Keluarga Lingkungan keluarga memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan anak usia dini khususnya untuk kedua orang tua. Ini adalah periode waktu yang kritis dalam kehidupan seorang anak ketika fondasi-fondasi utama Luthfianah, dkk untuk perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan bahasa mereka dibangun. Peran orang tua pada anak usia dini melibatkan berbagai aspek, termasuk: Stabilitas dan Keamanan: Lingkungan keluarga yang stabil dan aman sangat Anak-anak memerlukan perasaan keamanan fisik dan emosional untuk mengembangkan rasa percaya diri dan eksplorasi dunia di sekitarnya. Orang tua yang menunjukan rasa melindungi adalah penting juga dalam menjga aspek Peran Model: Orang tua dan anggota keluarga lainnya adalah peran model yang kuat bagi anak-anak. Anak-anak cenderung meniru perilaku, sikap, dan nilainilai yang mereka lihat di rumah. Oleh karena itu, lingkungan keluarga dapat membentuk perkembangan sosial dan moral anak. Interaksi Sosial: Interaksi antara orang tua dan anak membantu anak-anak belajar berbicara, berinteraksi, dan memahami dinamika sosial. Ini adalah tempat di mana anak-anak belajar cara berkomunikasi, berbagi, dan bekerja Pengembangan Bahasa: Lingkungan keluarga juga memainkan peran besar dalam pengembangan bahasa anak. Membaca buku, berbicara dengan anakanak, dan mengajarkan mereka kosakata baru merupakan bagian penting dari pengembangan bahasa mereka. Pendidikan Awal: Pendidikan awal dimulai di rumah. Orang tua dapatmemainkan peran penting dalam mempersiapkan anak-anak untuk belajar di sekolah dengan membantu mereka mengembangkan keterampilan seperti membaca, menulis, berhitung, dan pemecahan masalah. Pengasuhan dan Batasan: Pengasuhan yang konsisten dan pemberian batasan yang sesuai membantu anak-anak memahami norma-norma sosial dan etika. Ini membentuk dasar moral dan perilaku mereka. Pengembangan Keterampilan Hidup: Anak-anak belajar keterampilan dasar seperti makan, berpakaian, dan menjaga diri mereka sendiri dari lingkungan keluarga mereka. Pengembangan Konsep Diri: Bagaimana anak-anak diperlakukan dan dipersepsikan dalam lingkungan keluarga dapat mempengaruhi pengembangan Luthfianah, dkk konsep diri mereka. Dukungan emosional dan penerimaan diri yang positif penting untuk perkembangan psikologis yang sehat. Nilai dan Keyakinan: Nilai-nilai dan keyakinan yang ditanamkan dalam keluarga dapat membentuk pandangan dunia anak. Ini mencakup nilai-nilai moral, agama, budaya, dan etika. Keterlibatan Orang Tua: Keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak, seperti terlibat dalam kegiatan, permainan, dan pendidikan anak, sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan anak. Jika orang tua dan memahami dan berperan aktif dalam menciptakan lingkungan anak yang baik dan sesuai dengan norma yang ada maka akan tercipta lingkungan yang positif sehingga halini akan memengaruhi bagaimana anak-anak mengembangkan keterampilan, sikap, dan nilai-nilai yang akan membentuk masa depan Karena ayah dan ibu memiliki peranan penting dalam tumbuh kembang anak dalam menjalankan kehidupan sehari-hari diluar lingkungan sekolah. Peran Lingkungan Sekolah Lingkungan sekolah memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan anak usia dini. Sekolah pada anak usia dini, seperti taman kanakkanak atau pendidikan pra-sekolah, bukan hanya tempat di mana anak-anak belajar secara akademis, tetapi juga tempat di mana mereka mengembangkan berbagai keterampilan sosial, emosional, dan kognitif yang penting untuk masa depan Berikut adalah beberapa aspek peran lingkungan sekolah pada anak usia Pendidikan dan Pembelajaran: Meskipun tidak sefokus pendidikan dasar atau menengah, sekolah anak usia dini memberikan pengalaman belajar pertama bagi banyak anak. Mereka terbiasa dengan konsep-konsep dasar seperti membaca, menulis, berhitung, dan pengenalan konsep ilmiah melalui permainan, aktivitas kreatif, dan interaksi sosial. Interaksi Sosial: Lingkungan sekolah adalah tempat di mana anak-anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya dan guru. Ini adalah kesempatan untuk mendengarkan, dan bermain bersama. Interaksi ini membantu anak-anak Luthfianah, dkk mengenal norma-norma sosial dan memahami konsep seperti kerjasama dan Pengembangan Bahasa: Sekolah anak usia dini sering kali memberikan penekanan pada pengembangan bahasa. Anak-anak belajar berbicara, mendengarkan, dan mengungkapkan ide-ide mereka melalui percakapan, cerita, dan lagu-lagu. Keterampilan Kognitif: Lingkungan anak-anak mengembangkan keterampilan kognitif dasar seperti pemecahan masalah, pemahaman konsep, dan kemampuan berpikir kreatif. Mereka juga diajarkan cara mengamati dan mengelompokkan informasi. Kreativitas: Melalui anak-anak mengekspresikan diri secara kreatif di lingkungan sekolah. Mereka diajarkan untuk berimajinasi, berkreasi, dan mengembangkan rasa seni. Persiapan Sosial: Lingkungan sekolah membantu anak-anak beradaptasi dengan struktur dan rutinitas sekolah. Mereka belajar tata tertib, kebersihan, dan keterampilan dasar yang dibutuhkan dalam lingkungan pendidikan. Kemajuan Sosial dan Emosional: Sekolah adalah tempat di mana anak-anak mengalami berbagai situasi sosial dan emosional yang membentuk perkembangan mereka. Mereka belajar mengatasi kecemasan, frustrasi, dan berbagai emosi, serta berinteraksi dengan orang dewasa dan anak-anak lain di luar keluarga mereka. Kecenderungan untuk Belajar: Lingkungan sekolah dapat membentuk sikap anak-anak terhadap pembelajaran. Ketika sekolah menawarkan pengalaman positif, anak-anak lebih cenderung memiliki minat dan semangat untuk belajar di masa depan. Pentingnya Pendidikan: Melalui lingkungan sekolah, anak-anak mulai memahami pentingnya pendidikan dalam hidup mereka. Mereka diperkenalkan dengan konsep belajar sebagai bagian yang integral dari perkembangan Peran Guru: Guru di sekolah anak usia dini adalah model peran yang penting. Mereka membantu membentuk cara anak-anak melihat dunia dan menginspirasi minat mereka dalam belajar. Luthfianah, dkk Pengembangan Kemampuan Motorik: Melalui berbagai jenis permainan dan aktivitas fisik, anak-anak mengembangkan keterampilan motorik kasar dan halus di sekolah. Ini termasuk berjalan, berlari, menggambar, dan Keragaman Budaya: Lingkungan sekolah dapat memperkenalkan anak-anak pada keragaman budaya dan nilai-nilai yang berbeda. Ini membantu mereka memahami dunia yang lebih luas dan mengembangkan toleransi terhadap Dengan demikian, lingkungan sekolah pada anak usia dini memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk perkembangan holistik anak-anak, yang mencakup aspek kognitif, sosial, emosional, dan fisik. Oleh karena itu, penting bagi orang tua dan pendidik untuk memilih lingkungan sekolah yang sesuai dan mendukung perkembangan anak-anak mereka. Rasa Peduli Sosial Pada Anak Rasa peduli sosial adalah perasaan atau sikap yang mencerminkan kepedulian, empati, dan perhatian terhadap kesejahteraan, perasaan, atau kebutuhan orang lain atau masyarakat secara umum (Jito Subianto,2. Rasa peduli sosial dapat muncul dalam berbagai konteks dan mengambil berbagai bentuk. Berikut adalah beberapa jenis rasa peduli sosial yang umum: Empati: Empati adalah kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan dan pengalaman orang lain dengan cara yang mendalam. Ini mencakup merasakan kebahagiaan, kesedihan, atau kebingungan orang lain dan merasakan empati terhadap mereka. Simpati: Simpati adalah perasaan prihatin terhadap orang lain yang sedang mengalami kesulitan atau penderitaan. Ini bisa mencakup perasaan simpati yang mendorong seseorang untuk memberikan dukungan emosional atau praktis kepada orang yang membutuhkan. Altruisme: Altruisme adalah tindakan membantu atau memberikan manfaat kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan atau penghargaan yang besar. Ini adalah bentuk peduli sosial yang kuat yang mendorong tindakan-tindakan positif untuk kebaikan orang lain. Luthfianah, dkk Kepedulian Lingkungan: Kepedulian lingkungan adalah kesadaran dan tindakan untuk melindungi dan menjaga alam serta sumber daya alam bagi generasi mendatang. Ini mencakup penggunaan yang berkelanjutan, daur ulang, dan upaya untuk mengurangi dampak lingkungan. Rasa peduli sosial adalah elemen penting dalam membangun hubungan yang sehat, menciptakan masyarakat yang inklusif, dan mengatasi berbagai masalah Ini adalah kemampuan dan sikap yang dapat ditingkatkan melalui pendidikan, pengalaman, dan refleksi diri. Rasa peduli sosial sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Peran lingkungan keluarga dalam perkembangan anak dapat diberikan melalui pengawasan intern dan ekstern. Mewujudkan generasi anak yang terbaik, dapat dilakukan melalui keahlian dan kesabaran untuk memberikan sistim pendidikan. Hal ini dimaksudakan untuk mewaspadai keutuhan sikap dan prilaku tumbuh kembangnya anak. Baik dari aspek sikap, perilaku dan pertumbuhansocial anak yang selalu berbaur dengan keadaan lingkungan disekitarnya. Peran lingkungan keluarga terintegrasi dengan peran sekolah dan Banyak orang tua yang sibuk dengan hanya mempercayakan perkembangan anaknya kepada sekolah . endidik/gur. dan memperkerjakan kepada masyarakat . untuk mengurus anakanya tanpa mengontrol perkembangan dari anaknya, sehingga sikap dan pribadi anak beragam sesuai dengan situasi dan kondisi yang didapatkannya. Yang seharusnya adalah dalam konteks Islam setiap orang tua dapat menjadi jiwa yang adaptif terhadap perkembangan anaknya, menyiapkan orang tua pendamping yang baik ketika orang tua melaksanakan pekerjaan di luar rumah, agar anaknya dapat tumbuh lebih baik dan mempersiapkan anaknya dengan memilihkan tempat yang aman dan nyaman untuk perkembangan anaknya yang seutuhnya melalui proses transfer nilai, komunikasi dan kreativitas potensi diri yang di miliki masing anak tersebut. Senada dengan hal ini adalah penjelasan Achmadi dalam konteks Islam bahwa: Pendidikan adalah investasi masa depan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang Para pakar umumnya berpandangan bahwa pendidikan merupakan proses pengembangan potensi individu, pewarisan budaya, dan interaksi antara potensi individu dengan lingkungannya menuju kehidupan yang paripurna. Luthfianah, dkk Lingkungan keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter anak, termasuk sikap kepedulian sosial. Berikut adalah beberapa pengaruh lingkungan keluarga terhadap sikap kepedulian sosial anak menurut (Deza Rahayu, 2. Lingkungan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Orang tua yang memberikan contoh positif dan mengajak anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Lingkungan keluarga yang mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan sopan dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Orang tua yang mengajarkan anak untuk saling menghormati, mengasihi, serta peduli terhadap berbagai keadaan yang terdapat di sekitarnya dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Lingkungan keluarga yang memperhatikan perasaan anak dan mengajarkan anak untuk memahami perasaan orang lain dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Dengan demikian, lingkungan keluarga yang positif dan penuh kasih sayang dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Orang tua dapat memberikan contoh positif dan mengajak anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, serta mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan sopan. Sedangkan jika ditinjau dari lingkungan sekolah, hal ini juga memiliki pengaruh yang signifikan juga terhadap pembentukan sikap kepedulian sosial anak. Berikut adalah beberapa pengaruh lingkungan sekolah terhadap sikap kepedulian sosial anak: Sekolah dapat memberikan pelatihan dan pengalaman langsung dalam kegiatan sosial yang dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Lingkungan sekolah yang mendorong kerjasama dan saling tolong menolong dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Luthfianah, dkk Sekolah dapat mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan sopan, sehingga membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Lingkungan sekolah yang memperhatikan perasaan anak dan mengajarkan anak untuk memahami perasaan orang lain dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Dengan demikian, lingkungan sekolah yang positif dan mendorong kerjasama serta saling tolong menolong dapat membentuk sikap kepedulian sosial pada anak. Sekolah dapat memberikan pelatihan dan pengalaman langsung dalam kegiatan sosial, serta mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan dan memperlakukan orang lain dengan sopan. KESIMPULAN Penelitian ini memberikan panduan praktis bagi keluarga dan sekolah dalam membentuk kepedulian sosial anak usia dini. Orang tua dapat menjadi teladan dengan menunjukkan empati, berbagi, dan membantu orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Diskusi rutin tentang nilai-nilai sosial di rumah juga membantu anak memahami pentingnya peduli terhadap sesama. Di sekolah, guru dapat menciptakan kegiatan sosial seperti proyek kelompok atau permainan yang mendorong kerja sama dan empati. Guru juga perlu menjadi contoh perilaku positif dalam interaksi sehari-hari. Metode pengajaran yang menyenangkan, seperti bercerita dan bermain, dapat membuat anak lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai-nilai kepedulian sosial. Kolaborasi antara keluarga dan sekolah sangat penting untuk memastikan konsistensi nilai-nilai yang diajarkan. Orang tua dan guru dapat berkomunikasi rutin melalui pertemuan atau laporan perkembangan anak. Partisipasi orang tua dalam kegiatan sekolah juga memperkuat sinergi ini. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi tersebut untuk membekali anak dengan sikap empati, tanggung jawab, dan kemampuan sosial yang kuat, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi individu yang peduli dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Luthfianah, dkk DAFTAR PUSTAKA