Empowerment of the Aisyiyah Women's Community in Jaten District for Achieving Family Resilience and Addressing Climate Change Siti Khoiriyah1. Agung Hidayat1*. Akbarudin Arif1. Haryani Saptaningtyas1 Article Info Abstract Climate change is a global challenge affecting various aspects of life, including family resilience. WomenAos communities, particularly members of Aisyiyah in Jaten District, have significant potential to lead family resilience efforts in addressing climate change. The impacts of climate change, such as extreme temperature rises and unstable weather patterns, affect the agricultural sector, a primary source of Women, who are often responsible for household food production, face additional burdens due to food and water shortages. Therefore, a community empowerment program is essential, focusing on education about climate change, adaptation, and mitigation, alongside training in environmentally-based economic The activities include composting, liquid fertilizer production, and crafting handicrafts from economically valuable waste. The program aims to enhance community members' understanding of climate change impacts, improve mitigation skills, and promote community welfare through household waste The introduction of simple technologies such as composters, organic liquid fertilizers, and accessories from organic waste received positive responses from the community, providing education and motivation for direct waste management *Correspondence Author Graduate School. Universitas Sebelas Maret Surakarta How to Cite: Khoiriyah. Hidayat. Arif. Saptaningtyas. Empowerment of the Aisyiyah Women's Community in Jaten District Achieving Family Resilience and Addressing Climate Change. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat, 4 . , 34-43. Article History Submitted: 8 January 2025 Received: 9 January 2025 Accepted: 14 January 2025 Correspondence E-Mail: hidayat@staff. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. https://doi. org/jpm. https://prospectpublishing. id/ojs/index. php/jpm/index p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Keywords: Climate Change. Family Resilience. Jaten. Women's Empowerment Creative Commons Share Alike CC-BY-SA: This work is licensed under a Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Creative Commons Attribution- Share-Alike 4. 0 International License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. which permits non-commercial use, reproduction, and distribution of the work without further permission provided the original work is attributed as specified on the Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat and Open Access pages. Pemberdayaan Komunitas Wanita Aisyiyah Kecamatan Jaten dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga dan Menghadapi Perubahan Iklim Siti Khoiriyah1. Agung Hidayat1*. Akbarudin Arif1. Haryani Saptaningtyas1 Info Artikel Abstrak Sekolah Pascasarjana. Universitas Sebelas Maret Perubahan iklim merupakan tantangan global yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk ketahanan keluarga. Komunitas wanita, terutama anggota Aisyiyah di Kecamatan Jaten, berpotensi memimpin upaya ketahanan keluarga dalam menghadapi perubahan Dampak perubahan iklim, seperti kenaikan suhu ekstrem dan cuaca yang tidak stabil, memengaruhi sektor pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian utama. Wanita, yang bertanggung jawab atas produksi pangan rumah tangga, menghadapi beban tambahan akibat kekurangan pangan dan air. Untuk itu, program pemberdayaan masyarakat diperlukan, yang berfokus pada edukasi tentang perubahan iklim, adaptasi, dan mitigasi, serta pelatihan kegiatan ekonomi berbasis lingkungan. Kegiatan ini meliputi pembuatan kompos, pupuk cair, dan handicraft dari limbah bernilai ekonomi. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman anggota komunitas tentang dampak perubahan iklim, keterampilan mitigasi, dan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan limbah rumah tangga. Program ini memperkenalkan teknologi sederhana seperti komposter, pupuk organik cair, dan aksesori dari limbah organik, yang mendapat respons positif dari masyarakat karena memberikan edukasi dan motivasi untuk mengolah limbah secara langsung. *Korespondensi Penulis . Surel Korespondensi: hidayat@staff. Kata Kunci: Jaten. Ketahanan Keluarga. Pemberdayaan Wanita. Perubahan Iklim A Khoiriyah, et al. Pendahuluan Kecamatan Jaten terletak di Kabupaten Karanganyar. Provinsi Jawa Tengah. Indonesia. Sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah yang subur, cocok untuk pertanian. Sawahsawah hijau, kebun-kebun, dan sungai-sungai kecil adalah ciri ekologi utama yang, mendukung produksi pertanian seperti padi, sayuran, dan buah-buahan (Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karanganyar, 2. Namun, perubahan iklim dapat mengancam ekologi ini dengan perubahan pola cuaca dan cuaca ekstrem yang semakin sering Populasi masyarakat di Kecamatan Jaten cukup heterogen dengan beragam latar belakang etnis dan budaya. Penduduknya mayoritas berprofesi sebagai petani dan peternak. Bahasa Jawa merupakan bahasa utama yang digunakan sehari-hari. Secara administratif. Kecamatan Jaten terdiri dari beberapa desa dan dusun. Administrasi pemerintahan lokal diatur oleh pemilihan kepala desa dan aparat pemerintahan desa. Wilayah ini memiliki akses transportasi yang baik, terutama jalan raya yang menghubungkan ke kota-kota terdekat. Kecamatan Jaten juga memiliki beragam fasilitas publik seperti sekolah, fasilitas kesehatan, dan tempat ibadah untuk melayani kebutuhan masyarakat (Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Karanganyar, 2. Gambar 1. Peta Lokasi Pemberdayaan di Kecamatan Jaten. Karanganyar (Sumber: https://w. com/maps/) Wilayah Kecamatan Jaten adalah daerah agraris dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan peternakan. Produksi pertanian dan perdagangan hasil pertanian berkontribusi signifikan pada ekonomi lokal. Sektor perdagangan dan usaha mikro juga memainkan peran penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat. Potensi pariwisata yang belum sepenuhnya dimanfaatkan juga dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi beberapa Masyarakat di Kecamatan Jaten menghadapi sejumlah permasalahan yang memengaruhi kehidupan mereka. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan sering mengancam mata pencaharian petani dan peternak, yang merupakan mayoritas penduduk di wilayah ini (Nugroho & Habiballoh, 2. Kurangnya akses ke A Khoiriyah, et al. pekerjaan yang layak dan pelatihan keterampilan juga merupakan permasalahan yang dihadapi beberapa warga. Perubahan iklim dan cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan telah memberikan dampak yang serius pada mata pencaharian petani dan peternak di Kecamatan Jaten. Sebagai mayoritas penduduk di wilayah ini, mereka menjadi sangat rentan terhadap perubahan iklim yang memengaruhi pola tanam, panen, dan ketersediaan air. Ketidakpastian pangan dan ekonomi seringkali menjadi masalah yang mendalam bagi keluarga petani (BLHK Kabupaten Karanganyar, 2. Oleh karena itu diperlukan program pemberdayaan masyarakat yang fokus pada edukasi tentang perubahan iklim, metode adaptasi, dan praktik mitigasi serta pelatihan kegiatan berbasis ekonomi dan lingkungan. Kegiatan ini dilanjutkan dengan praktik pembuatan kompos, pupuk cair, dan pembuatan handicraft berbahan limbah yang dapat bernilai ekonomi. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman anggota komunitas wanita Aisyiyah tentang dampak perubahan iklim pada ketahanan keluarga, meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam mitigasi untuk melindungi wanita dan keluarga dari dampak perubahan iklim. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penghematan biaya dan penciptaan peluang ekonomi baru dalam pengelolaan limbah rumah tangga. Respon adaptasi terhadap perubahan iklim pada laki-laki dan perempuan biasanya berbeda. Oleh karena itu perlu adanya kebijakan dan strategi yang lebih inklusif dan sensitif terhadap gender dalam menghadapi perubahan iklim, dengan tujuan memastikan ketahanan yang lebih baik bagi semua anggota masyarakat. Perempuan dan anak-anak dinilai paling rentan terhadap dampak perubahan iklim tersebut (Krishnakumar et al, 2. Hubungan antara gender equality . esetaraan gende. dan perubahan iklim. United Nations Framework Convention on Climate Change (UNF. menekankan pentingnya memasukkan dimensi gender dalam upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Dokumen ini menggambarkan bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhi perempuan secara berbeda dan pentingnya memastikan partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan dan solusi terkait iklim (Gender and Climate Change Team, 2. Ketahanan keluarga merujuk pada kapasitas keluarga untuk menghadapai, beradaptasi, dan bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan dan tekanan, baik yang datang dari dalam maupun luar. Aspek-aspek yang membentuk ketahanan ini mencakup faktor ekonomi, sosial, psikologis, dan lingkungan yang saling mendukung agar keluarga dapat tetap stabil dan berfungsi secara efektif meskipun menghadapi kondisi yang penuh tekanan. (Nawawi, 2. Dalam konteks perubahan iklim, ketahanan keluarga merujuk pada kemampuan keluarga untuk mengelola dampak perubahan iklim yang dapat memengaruhi kesejahteraan mereka. Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu, pola curah hujan, dan kondisi cuaca yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi (IPCC, 2. Dampak dari perubahan iklim, seperti peningkatan frekuensi bencana alam . anjir, kekeringan, bada. , perubahan pola musim tanam, serta penurunan kualitas lingkungan, dapat memengaruhi ketahanan keluarga, terutama yang tinggal di wilayah rawan bencana. Perubahan iklim berdampak langsung dan tidak langsung pada berbagai aspek kehidupan keluarga, termasuk kesehatan, ekonomi, ketahanan pangan, dan keberlanjutan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan mereka. Sebagai contoh, bencana alam dapat merusak rumah, menghancurkan mata pencaharian, serta memaksa terjadinya migrasi paksa (Adger et al. , 2. A Khoiriyah, et al. Beberapa faktor yang memengaruhi ketahanan keluarga dalam menghadapi perubahan iklim meliputi ketahanan ekonomi, sosial, lingkungan, dan kesehatan. Keluarga dengan sumber daya ekonomi yang terbatas cenderung lebih rentan terhadap dampak perubahan iklim. Ketahanan ekonomi keluarga bergantung pada pendapatan yang stabil, akses terhadap pekerjaan, serta kemampuan untuk mengelola risiko ekonomi, seperti asuransi atau tabungan Dalam konteks perubahan iklim, keluarga yang mengandalkan sektor pertanian, misalnya, akan terpengaruh oleh perubahan pola curah hujan dan cuaca ekstrem yang mengganggu produksi pangan (Tschakert et al. , 2. Ketahanan sosial berkaitan dengan kemampuan keluarga untuk berinteraksi dan membangun jaringan dukungan sosial di dalam komunitas mereka. Komunitas yang memiliki ikatan sosial yang kuat lebih mampu mengatasi tantangan akibat perubahan iklim. Selain itu, keluarga yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dan keterampilan yang adaptif lebih siap dalam menghadapi perubahan tersebut (Ford et al. , 2. Ketahanan lingkungan keluarga berkaitan dengan kemampuan keluarga untuk memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Di banyak daerah, ketahanan pangan keluarga sangat bergantung pada hasil pertanian atau perikanan yang dapat terpengaruh oleh perubahan iklim. Oleh karena itu, adaptasi terhadap perubahan pola cuaca dan penerapan teknik pertanian yang ramah lingkungan dapat meningkatkan ketahanan keluarga (Bohensky et al. , 2. Perubahan iklim juga dapat memengaruhi kesehatan Keluarga yang tinggal di daerah yang rawan bencana atau kekeringan lebih rentan terhadap penyakit yang ditularkan melalui air atau udara, seperti diare dan penyakit pernapasan (McMichael et al. , 2. Oleh karena itu, penting bagi keluarga untuk memiliki akses yang baik terhadap fasilitas kesehatan dan memiliki pengetahuan mengenai cara-cara pencegahan penyakit yang terkait dengan perubahan iklim. Kegiatan yang sangat diperlukan untuk pembedayaan wanita di wilayah Kecamatan Jaten dapat dilaksanakan dalam beberapa sektor. Pada sektor pelatihan keterampilan berbasis lingkungan berkelanjutan. Pelatihan keterampilan yang relevan untuk membantu warga mendapatkan pekerjaan yang lebih beragam dan meningkatkan tingkat perekonomian warga. Pelatihan membuat pupuk kompos, pupuk cair, serta pembuatan handicraft menggunakan limbah rumah tangga. Pengomposan adalah solusi untuk mengelola limbah rumah tangga dan menghasilkan pupuk Keuntungan praktik pengomposan di rumah, mencakup aspek keuangan dan Tantangan dalam composting adalah pengendalian bau dan pengelolaan cairan. Hal yang tidak kalah penting adalah kesadaran masyarakat dan partisipasi aktif dalam menerapkan pengomposan sebagai langkah menuju gaya hidup berkelanjutan (Xavier et al, 2. Praktik pengomposan limbah dapur perlu dilengkapi dengan aspek-aspek seperti manfaat, teknik, dan tantangan sehingga menjadi pengembangan solusi berkelanjutan dalam mengelola limbah dapur melalui pengomposan (Zhu et al, 2. Handicraft dari limbah rumah tangga memiliki nilai ekonomi yang signifikan dalam berbagai Pertama, mereka mengurangi sampah dan mendukung pengelolaan limbah yang lebih Kreativitas dalam mengubah barang-barang bekas menjadi produk yang berguna juga dapat menciptakan peluang bisnis untuk individu atau komunitas. Handicraft limbah rumah tangga bisa menjadi sumber pendapatan alternatif yang penting, membantu meningkatkan perekonomian rumah tangga. Selain itu, produk-produk ini sering memiliki nilai estetika dan sentimental, sehingga dapat menarik pasar yang lebih luas. Dengan menggabungkan inovasi dan kepedulian lingkungan, handicraft dari limbah rumah tangga dapat menjadi solusi ekonomi yang berkelanjutan. A Khoiriyah, et al. Metode Metode pelaksaan kegiatan Pemberdayaan Komunitas Wanita Aisyiyah Kecamatan Jaten dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga dan Menghadapi Perubahan Iklim adalah dengan menggunakan metode Focus Group Discussion dan sosialisasi. Adapun metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian masyarakat, sebagai berikut: Persiapan: pada tahap awal dilakukan survei awal untuk mengetahui kondisi eksisting di lapangan dan metode yang dilaksanakan adalah metode FGD (Focus Group Discussio. Menurut Irwanto . Focus Group Discussion adalah sebuah proses pengumpulan informasi suatu masalah yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok pemerintah pengusaha dan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan di Kecamatan Jaten untuk meninjau kondisi yang terjadi di lokasi mitra terkait dengan pengelolaan sampah organik. Pelaksanaan: dalam pelaksanaan kegiatan ini diawali dengan sosialisasi melalui penyuluhan tentang tentang perubahan iklim, metode adaptasi, dan praktik mitigasi serta pelatihan kegiatan berbasis ekonomi dan lingkungan. Kegiatan ini dilanjutkan dengan praktik pembuatan kompos, pupuk cair, dan pembuatan handicraft berbahan limbah yang dapat bernilai ekonomi. Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman anggota komunitas wanita Aisyiyah tentang dampak perubahan iklim pada ketahanan keluarga, meningkatkan keterampilan dan pengetahuan dalam mitigasi untuk melindungi wanita dan keluarga dari dampak perubahan iklim. Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penghematan biaya dan penciptaan peluang ekonomi baru dalam pengelolaan limbah rumah tangga. Evaluasi: Evaluasi yang diilakukan dalam kegitaan ini adalah dengan menyebar kuisioner kepada Masyarakat yang berpartisipasi dalam kegiatan untuk mengukur kebermanfaatan program Pemberdayaan Komunitas Wanita Aisyiyah Kecamatan Jaten dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga dan Menghadapi Perubahan Iklim. Hasil dan Pembahasan Komunitas Aisyiyah di Jaten. Karanganyar merupakan bagian dari jaringan organisasi perempuan Muhammadiyah yang berperan dalam berbagai kegiatan sosial, pendidikan, dan Mereka aktif dalam mengembangkan kesadaran lingkungan di komunitas lokal melalui program pengelolaan sampah, penghijauan, dan pelatihan keterampilan. Aisyiyah juga terlibat dalam pemberdayaan ekonomi dan sosial perempuan melalui berbagai kegiatan Dengan nilai-nilai keislaman sebagai landasan, komunitas ini tidak hanya berfokus pada pembinaan spiritual tetapi juga berusaha untuk menciptakan dampak positif dalam aspek lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Karanganyar. Selama ini di Kecamatan Jaten, pengelolaan limbah rumah tangga belum optimal, sehingga diperlukan pelatihan bagi para ibu rumah tangga. Diperlukan pelatihan untuk memaksimalkan pengelolalan limbah rumah tangga sehingga bernilai ekonomi dan mampu menambah penghasilan keluarga. Dari hasil koordinasi, disepakati bahwa pelatihan ketrampilan yang akan dilakukan untuk ibu-ibu anggota Aisyiyah Kecamatan Jaten adalah memanfaatkan kain perca/sisa jahitan dijadikan bros yang cantik dan layak jual, serta pelatihan pembuatan kompos dan POC . upuk organik cai. Lokasi kegiatan pengabdian masyarakat di Musala Ar-Rokhim. Jaten Karanganyar pada pada tanggal 13 Juli 2024, mulai pukul 08. 00 Ae 13. 00 WIB. Kegiatan dihadiri oleh anggota Aisyiyah se-Kecamatan Jaten sejumlah 40 orang, tamu undangan dan tim. Kegiatan ini mengambil tema Pemberdayaan Komunitas Wanita Aisyiyah Kecamatan Jaten dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga dan Menghadapi Perubahan Iklim. Tujuan kegiatan ini adalah A Khoiriyah, et al. memberikan Pelatihan Pengelolaan Limbah Rumah Tangga berbasis Ekonomi di Aisyiyah Jaten, karena wanitalah yang akan menjaga ketahanan keluarga dari kemungkinankemungkinan dampak dari perubahan iklim yang tidak menentu. Kegiatan terbagi menjadi dua sesi, sesi satu adalah pelatihan pembuatan aksesoris bros berbahan limbah rumah tangga. Sesi dua adalah pelatihan pembuatan kompos dan pupuk organik cair. Pembuatan bros dipandu oleh Noer Hidayati, pelaku UMKM aksesoris dari Laweyan Surakarta, dan pembuatan kompos serta pupuk cair oleh Sulistyo. Si. mahasiswa program S3 Ilmu Lingkungan UNS. Gambar 2. Suasana Kegiatan Pemberdayaan Komunitas Aisyiyah Jaten Sumber: Dokumentasi Penulis Pelatihan kegiatan berbasis ekonomi dan lingkungan yang akan dilakukan di komunitas Wanita Aisyiyah Kecamatan jaten adalah praktik pembuatan kompos, pupuk cair, dan pembuatan handicraft berbahan limbah. Pengelolaan limbah organik rumah tangga adalah aspek penting dalam upaya untuk mengurangi dampak negatif lingkungan dan mempromosikan penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. Teknologi dan inovasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTe. telah berperan besar dalam mengembangkan metode yang lebih efisien dan ramah lingkungan dalam mengelola limbah organik tersebut. Aplikasi teknologi dalam pengelolaan limbah organik rumah tangga yang akan dilaksanakan untuk Komunitas Wanita Aisyiyah Jaten adalah composting dan pupuk cair. Komposting adalah proses alami mengurai bahan organik menjadi humus yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman. Dengan menggunakan teknik composting, limbah organik seperti sisa makanan, daun kering, dan potongan-potongan tanaman dapat diubah menjadi sumber pupuk organik yang kaya akan nutrisi. Pemanfaatan komposter rumah tangga yang telah dilengkapi dengan sensor dan pengontrol suhu dapat mempercepat proses kompos dan menghasilkan pupuk yang lebih baik. Composting adalah proses alami menguraikan bahan organik menjadi humus yang kaya nutrisi. Ini melibatkan penguraian mikroorganisme seperti bakteri dan jamur yang mengurai sisa-sisa makanan, daun, dan bahan organik lainnya. Proses ini memerlukan kelembaban, oksigen, dan perbandingan yang tepat antara bahan hijau . isalnya, sisa-sisa makanan sega. dan bahan coklat . eperti daun kerin. Composting membantu mengurangi limbah dapur, memperkaya tanah dengan nutrisi, dan mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia. Dengan melakukan A Khoiriyah, et al. composting, kita dapat berkontribusi pada pelestarian lingkungan dan menciptakan tanah yang subur untuk pertanian atau kebun. Pupuk organik cair adalah pupuk yang terbuat dari bahan organik alami seperti kompos, kotoran hewan, dan sisa tanaman. Proses fermentasi ini menghasilkan cairan kaya nutrisi yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk organik cair mendukung pertumbuhan tanaman secara alami dan berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan dengan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Penerapannya yang mudah dan ramah lingkungan membuatnya populer di kalangan petani organik dan penggemar pertanian berkelanjutan. Gambar 3. Pupuk Organik Cair Sumber: Dokumentasi Penulis Produk kerajinan tangan dari kertas bekas, seperti karton atau koran, bisa menjadi keranjang, tas, atau hiasan dinding yang dijual dengan harga yang layak. Plastik bekas juga bisa digunakan untuk membuat perhiasan, tas, atau bahan kerajinan lainnya. Potongan kain dan pakaian bekas dapat dijahit menjadi tas, baju, atau selimut yang kreatif. Semua ini menciptakan peluang bisnis yang berkelanjutan dan membantu mengurangi limbah di lingkungan. Gambar 4. Susana Praktik Pembuatan Handicraft (Bro. Berbahan Limbah Rumah Tangga (Sumber: Dokumentasi Penuli. A Khoiriyah, et al. Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTe. dalam handicraft dari limbah rumah tangga berbahan plastik dan kain memiliki potensi besar. Pertama, teknologi daur ulang plastik canggih dapat digunakan untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan baku untuk produk kerajinan tangan, mengurangi limbah plastik dan menghemat sumber daya. Pencetakan 3D dan mesin jahit otomatis dapat mempercepat produksi produk dari kain Aplikasi mobile dan platform e-commerce dapat membantu pedagang handicraft mencapai pasar global. Selain itu, pemantauan kualitas produk menggunakan teknologi sensor dan pemakaian energi terbarukan dalam produksi dapat meningkatkan keberlanjutan dan kualitas Semua ini mendukung bisnis handicraft yang inovatif dan ramah lingkungan. Program ini juga akan melibatkan berbagai pihak di antaranya akademisi di Universitas Sebelas Maret, komunitas Aisyiyah se-Kecamatan Jaten dan Kabupaten Karanganyar, pelaku UMKM aksesoris limbah rumah tangga. Salah satu materi utama yang akan dibahas dalam kegiatan ini adalah Kompos dan pupuk organik cair. Kompos dan pupuk organik cair memiliki banyak manfaat untuk pertanian dan perkebunan. Keduanya memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, dan menyediakan nutrisi esensial bagi tanaman. Kompos dan pupuk organik cair juga membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi erosi. Penggunaan kompos dan pupuk organik cair mendukung pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Pengelolaan limbah rumah tangga bernilai ekonomi dapat mengurangi volume sampah, menghasilkan kompos, dan mendaur ulang bahan berguna. Ini menciptakan peluang usaha, menghemat biaya pembuangan, dan mengurangi dampak lingkungan. Dengan memanfaatkan limbah, masyarakat dapat meningkatkan pendapatan dan mendukung keberlanjutan lingkungan serta ekonomi lokal. Kesimpulan Dari hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dapat disimpulkan bahwa: Masyarakat Komunitas Aisyiyah di Kecamatan Jaten bersepakat bahwa permasalahan sampah rumah tangga merupakan permasalahan penting yang harus segera diselesaikan, dan akan melakukan pengolahan di rumah masing-masing. Upaya ini akan mengurangi pembuangan sampah ke TPA yang akan membantu menurunkan emisi dari timbulan sampah yang dapat mempercepat terjadinya perubahan iklim. Beberapa teknologi pengolahan sampah organik rumah tangga yang dapat dipraktikkan oleh Komunitas Aisyiyah di Kecamatan Jaten meliputi komposter, pupuk organik cair dan pembuatan aksesoris bros. Kegiatan yang dilakukan mendapatkan respon yang sangat baik dari mitra dan masyarakat sehingga mereka merasa teredukasi dan ingin mempratikkan secara langsung pengolahan sampah organik sederhana yang telah diajarkan. Daftar Pustaka