Journal of S. Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Training E-ISSN 2620-7699 | P-ISSN 2541-7126 https://doi. org/10. 37058/sport Analisis Pembinanaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan di Provinsi Aceh Yulinar 1,2. Amung MaAomun1. Yunyun Yudiana1. Nuryadi1. Razali3. Amiruddin3 Pendidikan Olahraga. Pascasarjana. Universitas Pendidikan Indonesia. Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. Universitas Abulyatama Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi. Universitas Syiah Kuala Abstrak Penelitian ini mengkaji secara mendalam pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan di Provinsi Aceh dengan fokus pada kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah daerah dalam mendukung keberlangsungan dan peningkatan mutu olahraga di lingkungan pendidikan. Kajian ini menyoroti tiga aspek utama, yaitu peningkatan kompetensi tenaga pendidik pendidikan jasmani, penyediaan sarana dan prasarana olahraga, serta dukungan terhadap pembinaan prestasi peserta didik. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap pejabat Dinas Pendidikan Provinsi Aceh serta observasi di beberapa sekolah menengah yang menjadi lokasi penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Aceh telah melakukan berbagai upaya strategis seperti peningkatan kapasitas guru PJOK melalui pelatihan dan sertifikasi, pengembangan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler berbasis olahraga, serta memperluas akses kompetisi olahraga pelajar di tingkat daerah dan nasional. Selain itu, penguatan sarana dan prasarana olahraga dilakukan melalui pemanfaatan Dana Alokasi Khusus (DAK) guna meningkatkan kualitas pembelajaran jasmani di sekolah. Namun demikian, tantangan yang dihadapi meliputi pemerataan fasilitas olahraga antarwilayah, keterbatasan pembaruan data dalam sistem dapodik, serta belum optimalnya penerapan kurikulum olahraga berbasis kearifan lokal. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah daerah, satuan pendidikan, dan lembaga olahraga dalam membangun sistem pembinaan olahraga pendidikan yang terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan untuk mendukung kemajuan olahraga di Provinsi Aceh. Kata Kunci: Pembinaan. Pengembangan. Olahraga Pendidikan Abstract This study examines in depth the coaching and development of educational sports in Aceh Province, focusing on policies implemented by local governments to support the sustainability and improvement of sports in educational environments. This study highlights three main aspects, namely improving the competence of physical education teachers, providing sports facilities and infrastructure, and Correspondence author: Yulinar. Pendidikan Olahraga. Pascasarjana. Universitas Pendidikan Indonesia. Indonesia. Email: yulinar. por@upi. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Year | 719-732 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. supporting the development of student achievement. The research uses a descriptive qualitative method with data collection techniques through in-depth interviews with officials from the Aceh Provincial Education Office and observations in several secondary schools that were the locations of the research. The results of the study show that the Aceh Provincial Education Office has made various strategic efforts, such as increasing the capacity of physical education teachers through training and certification, developing sports-based intracurricular and extracurricular activities, and expanding access to student sports competitions at the regional and national levels. In addition, sports facilities and infrastructure have been strengthened through the use of Special Allocation Funds (DAK) to improve the quality of physical education in schools. However, the challenges faced include the uneven distribution of sports facilities between regions, limitations in updating data in the Dapodik system, and the suboptimal implementation of a local wisdom-based sports curriculum. The findings of this study emphasize the importance of continuous collaboration between local governments, educational units, and sports institutions in developing an integrated, adaptive, and sustainable educational sports coaching system to support the advancement of sports in Aceh Province. Keywords: Coaching. Development. Sports Education PENDAHULUAN Olahraga pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam pembentukan karakter, kebugaran jasmani, serta pengembangan potensi peserta didik (Bailey et al. , 2013. Kirk, 2. Dalam konteks pendidikan formal, olahraga tidak hanya dipahami sebagai aktivitas fisik semata, melainkan juga bagian dari proses pendidikan yang menumbuhkan disiplin, sportivitas, dan kerja sama sosia (Coakley & Pike, 2. Karena itu, olahraga pendidikan menjadi instrumen penting dalam membentuk positive youth development yang mendukung keberhasilan akademik sekaligus kesejahteraan fisik dan mental siswa , 2025. Holt. Pankow, et al. , 2. Mengingat pentingnya olahraga pendidikan maka perlu adanya pembinaan dan pengambangannya. Pembinaan dan pengembangan olahraga pendidikan yang ada di Provinsi Aceh sudah ada diterapkan dalam (Qanun No. 6 Tahun 2016, n. Qanun tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor 03 tahun 2005 tentang keolahragaan. Ramadhan et al. , . mengatakan bahwa AuUndang-undang tentang keolahragaan dibuat sebagai upaya untuk pengembangan olahraga yang ada di IndonesiaAy. Lebih lanjut MaAomun Yulinar 1,2. Amung MaAomun1. Yunyun Yudiana1. Nuryadi1. Razali3. Amiruddin3 Analisis Pembinanaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan di Provinsi Aceh . AuKebijakan terhadap olahraga pendidikan harusnya memiliki pendidikan jasmani dan olahraga pendidikanAy. Sebagaimana di atur dalam (UU RI No. 11 Tahun 2022, n. ) bahwa olahraga pendidikan mempunyai peranan penting dalam pembentukan karakter, sehat jasmani dan juga sebagai pembinaan prestasi terhadap peserta didik. Di setiap daerah tidak terkecuali daerah Provinsi Aceh pembinaan olahraga pendidikan yang masih adanya keterbatasan di berbagai sektor tidak terkecuali di bidang Kendala yang di hadapi oleh setiap Provinsi berbeda tingkat kesulitan yang hadapi. Di Provinsi Aceh sendiri, pembinaan dan pengembangan terhadap olahraga pendidikan masih terbatasnya fasilitas, tingkat kesadaran dari siswa untuk melakukan aktivitas baik di kegiatan ekstrakulikuler masih kurang, banyak siswa yang berbakat tidak mau mengikuti kegiatan olahraga serta distribusi dari guru Pendidikan Jasmani. Olahraga dan Kesehatan (PJOK) masih termasuk kurang merara, minimnya atau kurangnya pelatih yang secara kontinyu dari guru olahraga menjadi pelatih. Kurangnya jalin kerja sama dengan dinas terkait terhadap pengembangan olahraga Kebijakan terhadap olahraga pendidikan yang terhubungan untuk pengembangan olahraga termasuk didalamnya kebijakan untuk melakukan kerjasama antarlembaga seperti kerjasama antara Dinas Pendidikan dan Dinas Pemuda dan Olahraga. Sedangkan menurut Nugroho, . Aukebijakan yang efektif terhadap olahraga bergantung pada kerjasama antarlembaga, keikusertaan dari pemangku kepentinagan terutama dalam penerapan kebijakan daerahAy. Dipandang dari pembiayaan, dukungan terhadap kegiatan olahraga pendidikan tidak jauh berbeda dengan olahraga masyarakat yaitu masih Kegiatan olahraga yang cukup diperhatikan pada olahraga prestasi seperti pada kegiatan PON XXI baru-baru ini. Jika dipahami bahwa proses pembinaan olahraga pendidikan dapat dijadikan sebagai dasar untuk melahirkan bibit atlet yang profesional di bidangnya. Harsono . menjelaskan bahwa Aupembinaan olahraga dengan sistem yang berjenjang Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Year | 719-732 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. serta berkesinambungan harus dimulai dari pendidikan, sebab dari sekolahlah proses pengidentifikasian juga pembinaan mulanya dapat berlangsung secara sistematisAy. Berdasarkan beberapa permasalah di atas yang dikaji, maka dari pengembangan olahraga terutama dalam olahraga pendidikan karena dapat menjadi awal mula mendapatkan atlet yang berbakat. Pada proses pembelajaran olahraga pendidikan sejak dini dapat mengarah ke positif seperti adanya kecakapan hidup atau life skill bagi setiap siswa. Kendellen et al. , . menjelaskan bahwa olahraga perlu ditanam sejak dini kepada anak karena olahraga dapat meningakatkan nilai-nilai kehidupan . ife Skil. Di sekolah olahraga pendidikan dapat dikembangkan melalui Physical Education and School Sport (PESS) yang terdiri dari 4 . elemen yaitu Partisipasi sepanjang hayat A aktivitas di sekolah diluar jam Pelajaran Aktivitas sepanjang hayat A kurikulum penjas PE Kompetisi olahraga sekolah A pengembangan bakat Pengembangan olahraga (Coakley & Pike, 2017. MaAomun, 2. Elemen tersebut di negara luar sudah berkembang sejak dahulu, dan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengembangan olahraga pendidikan di sekolah (MaAomun, 2. Di Provinsi Aceh kebijakan tentang olahraga pendidikan masih dalam tahap pengembangan dengan harapan adanya pengembangannya secara menyeluruh di seluruh Provinsi Aceh. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan tujuan untuk menggambarkan kondisi faktual yang berdasarkan informasi diperoleh dari objek penelitian (Oktavia, 2021. Sahir, 2. Subjek Snowball merupakan pengambilan subjek penelitian dilihat dari kondisi yang dibutuhkan dilakukan secara bertahap dapat menjadi luas (Nurdiani, 2014. Sahir. Teknik Wawancara. Observasi dan Dokumentasi (Iba & Wardhana, 2. Teknik Yulinar 1,2. Amung MaAomun1. Yunyun Yudiana1. Nuryadi1. Razali3. Amiruddin3 Analisis Pembinanaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan di Provinsi Aceh analisis data menggunakaan teknik dari (Matthew B. Miles et al. , 2. yaitu dengan . reduksi data, . penyajian data, dan . HASIL Hasil wawancara yang dilakukan dengan Kadisdik dalam hal ini diwakili oleh Kabid SMA dan PPLK Dinas Pendidikan Provinsi Aceh yang Kepala Dinas Pendidikan. Kebijakan pengembangan olahraga pendidikan di Provinsi Aceh di analisis berdasarkan empat dimensi utama sebagaimana diadaptasi dari (Coakley & Pike, 2017. MaAomun, 2. , yaitu: . partisipasi sepanjang hayat, . aktivitas sepanjang hayat, . kompetisi olahraga sekolah, dan . pengembangan olahraga. Partisipasi Sepanjang Hayat (Aktivitas di Luar Jam Pelajara. Dinas Pendidikan Provinsi Aceh menunjukkan komitmen kuat terhadap pengembangan aktivitas fisik siswa di luar jam pelajaran formal melalui kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Bentuk kegiatan yang dilakukan mencakup pertandingan futsal antar pelajar, renang, bulu tangkis, dan keterlibatan siswa dalam Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN). Dinas memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk melaksanakan kegiatan olahraga selama tidak mengganggu jam belajar. Selain itu, beberapa sekolah telah mengembangkan klub-klub olahraga internal serta kelompok sporter yang dibentuk secara mandiri oleh Guru PJOK berperan sebagai fasilitator utama dalam pembinaan aktivitas ini, meskipun diakui bahwa tidak semua sekolah memiliki klub formal yang berafiliasi dengan KONI atau lembaga olahraga daerah. Disdik juga memberikan perhatian terhadap inklusivitas dengan memfasilitasi kegiatan olahraga bagi siswa penyandang disabilitas. Siswa disabilitas Aceh bahkan berhasil meraih prestasi hingga tingkat nasional dan memperoleh dua medali emas di ajang PON. Temuan ini menunjukkan bahwa partisipasi olahraga di sekolah Aceh tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga membentuk physical literacyAikemampuan dan motivasi siswa untuk aktif secara fisik sepanjang hidupnya (Whitehead, 2010. Widodo, 2. Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Year | 719-732 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. Aktivitas Sepanjang Hayat (Kurikulum Pendidikan Jasman. Pada aspek kurikulum. Dinas Pendidikan memastikan setiap sekolah memiliki tenaga pendidik PJOK melalui kolaborasi dengan Dispora Aceh dan Universitas Syiah Kuala (Unsyia. Salah satu kebijakan afirmatif yang dilakukan adalah memberikan jalur khusus bagi lulusan SMA Keolahragaan Negeri (SMAKON) untuk diterima di Unsyiah tanpa tes sebagai calon guru Selain itu, program Komunitas Belajar (Kombe. menjadi strategi kunci dalam peningkatan kompetensi guru olahraga di 23 kabupaten/kota. Setiap cabang dinas mendapatkan dukungan anggaran sekitar Rp200 juta untuk memfasilitasi pelatihan dan kolaborasi antar guru dalam memahami kurikulum terkini, khususnya Kurikulum Merdeka (Kume. Kurikulum Merdeka diimplementasikan melalui berbagai pelatihan daring dan live streaming yang diselenggarakan Dinas Pendidikan, dengan fokus pada learning outcomes berupa kebugaran, literasi jasmani, dan pembentukan karakter positif siswa. Guru diminta untuk lebih menekankan aspek esensial dari pembelajaran jasmani, seperti kebugaran dan kerja sama dari pada sekadar hafalan teori olahraga. Temuan ini menegaskan pentingnya peran guru PJOK sebagai agen perubahan dalam pendidikan jasmani yang berorientasi pada lifelong learning dan health-promoting schools (Kirk, 2010. Komaruddin, 2004. Mahendra et al. , 2. Kompetisi Olahraga Sekolah (Pengembangan Baka. Kegiatan kompetisi olahraga di Provinsi Aceh dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, hingga provinsi. Melalui ajang O2SN, siswa berbakat di berbagai cabang olahraga seperti renang, bulu tangkis, dan futsal mendapatkan kesempatan untuk berkompetisi di tingkat nasional. Salah satu kebijakan yang inovatif dari Dinas Pendidikan adalah pemberian nilai akademik maksimal dalam Sistem Informasi Akademik (SIAK) bagi siswa yang berprestasi di bidang olahraga. Kebijakan ini menyeimbangkan prestasi akademik dan non-akademik. Bagi siswa yang mengikuti pemusatan latihan daerah, sekolah diimbau untuk menyediakan Yulinar 1,2. Amung MaAomun1. Yunyun Yudiana1. Nuryadi1. Razali3. Amiruddin3 Analisis Pembinanaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan di Provinsi Aceh platform pembelajaran daring atau jadwal fleksibel, sehingga proses belajar tidak terganggu. Pendekatan ini selaras dengan prinsip athlete-friendly education system yang diterapkan di berbagai negara maju (Bailey et al. Bosscher et al. , 2. Pengembangan Olahraga Aspek pengembangan olahraga di Aceh masih menghadapi kendala utama berupa keterbatasan sarana dan prasarana. Sebagian besar fasilitas olahraga di sekolah berstatus Autidak siap pakaiAy karena usia bangunan yang Dinas Pendidikan mengoptimalkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk membangun dan memperbaiki fasilitas olahraga sekolah. Namun, penyaluran DAK sering terhambat akibat data Dapodik yang tidak diperbarui oleh pihak sekolah, sehingga sekolah-sekolah tertentu tidak masuk dalam prioritas penerima Selain dukungan anggaran pemerintah. Dinas mendorong sekolah untuk menjalin kemitraan dengan masyarakat dan dunia usaha (CSR) guna memperbaiki fasilitas olahraga. Langkah lain yang ditempuh adalah pembangunan Gedung B Dinas Pendidikan Aceh yang berfungsi sebagai pusat kegiatan siswa dan pembinaan olahraga tingkat provinsi. Disdik juga mengintegrasikan olahraga berbasis budaya lokal dalam kurikulum, seperti panahan dan permainan tradisional Aceh, guna memperkuat nilai karakter dan kearifan lokal dalam pembelajaran jasmani. PEMBAHASAN Dari hasil penelitian, berikut diuraikan pembahasan penelitian. Adapun penjelasannya dapat di uraikan sebagai berikut: Partisipasi Sepanjang Hayat dan Literasi Jasmani: Membangun Budaya Gerak di Lingkungan Sekolah Partisipasi sepanjang hayat . ifelong participatio. merupakan indikator utama dalam keberhasilan pembinaan olahraga pendidikan. Aceh. Dinas Pendidikan ekstrakurikuler telah membuka ruang bagi siswa untuk beraktivitas fisik di luar jam pelajaran. Program seperti O2SN, futsal antar pelajar, serta klub Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Year | 719-732 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. olahraga sekolah menjadi wadah konkret bagi siswa untuk menyalurkan minat dan bakat olahraga. Pendekatan ini sejalan dengan konsep physical literacy yang dikemukakan oleh Whitehead . , yaitu kemampuan dari individu untuk memahami, menghargai, dan terlibat dalam aktivitas fisik dengan percaya diri sepanjang hidup. Dinas Pendidikan Aceh melalui kebijakannya telah mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang mendukung literasi jasmani, di mana siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan motorik, tetapi juga motivasi dan kesadaran untuk hidup aktif. Kenyataan yang dihadapi di lapangan yaitu implementasi di lapangan menunjukkan variasi yang cukup besar antar sekolah. Sekolahsekolah di perkotaan cenderung lebih aktif membentuk klub olahraga karena memiliki guru dan fasilitas yang memadai, sedangkan sekolah di daerah terpencil masih terbatas pada kegiatan dasar seperti senam dan Fenomena sebagaimana juga diidentifikasi oleh (Coakley & Pike, 2. bahwa partisipasi olahraga sering kali dipengaruhi oleh akses sosial, ekonomi, dan Selain itu, integrasi siswa disabilitas dalam kegiatan olahraga menunjukkan adanya dimensi inklusivitas sosial yang kuat di Aceh. Pendekatan ini selaras dengan prinsip inclusive physical education (M. Block, 2. , bahwa olahraga di sekolah harus membuka ruang partisipasi bagi semua siswa tanpa diskriminasi. Dengan demikian, program olahraga pendidikan di Aceh tidak hanya membentuk kebugaran jasmani, tetapi juga membangun nilai-nilai sosial, toleransi, dan penghargaan terhadap Aktivitas Sepanjang Hayat dan Reformasi Kurikulum: Menguatkan Profesionalisme Guru PJOK Dimensi aktivitas sepanjang hayat berfokus pada pembelajaran formal dalam mata pelajaran Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dinas Pendidikan Yulinar 1,2. Amung MaAomun1. Yunyun Yudiana1. Nuryadi1. Razali3. Amiruddin3 Analisis Pembinanaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan di Provinsi Aceh Provinsi Aceh telah melakukan langkah strategis untuk memastikan keberlanjutan tenaga pendidik PJOK melalui kerja sama dengan Dispora dan Universitas Syiah Kuala (Unsyia. , termasuk jalur khusus bagi lulusan SMAKON untuk melanjutkan ke perguruan tinggi tanpa tes. Kebijakan ini berfungsi sebagai mekanisme regenerasi guru ketersediaan tenaga pendidik yang kompeten. Sejalan dengan MaAomun . dan Komaruddin . , guru PJOK bukan hanya pengajar keterampilan fisik, melainkan juga pembentuk karakter dan gaya hidup sehat bagi peserta didik. Perlu di pahami bahwa pentingnya guru PJOK sebagai agen perubahan dalam pendidikan jasmani yang berorientasi pada lifelong learning dan health-promoting schools (Kirk, 2010. Komaruddin. Mahendra et al. , 2. Program Komunitas Belajar (Kombe. menjadi salah satu inovasi penting dalam meningkatkan kompetensi guru. Melalui forum ini, guru diberi kesempatan untuk berdiskusi, mengembangkan materi, dan menyesuaikan pembelajaran dengan kurikulum terbaru. Kombel juga menjadi sarana continuous professional development (CPD) yang direkomendasikan oleh UNESCO . sebagai strategi global dalam meningkatkan kualitas pendidikan jasmani. CPD merupakan tindak lanjut yang diperlukan untuk pengembangan kebijakan terhadap kualitas guru (Nancy, 2015. Priadi et , 2023. UNESCO, 2. Namun, hasil observasi menunjukkan bahwa pelaksanaan Kombel masih belum sepenuhnya optimal. Beberapa cabang dinas melaporkan kegiatan Kombel yang bersifat formalitas, belum sepenuhnya terarah pada peningkatan praktik pedagogi. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan mekanisme evaluasi kinerja guru PJOK agar pembinaan yang dilakukan berorientasi pada hasil belajar siswa. Kurikulum Merdeka yang diterapkan juga mendorong perubahan paradigma dari pembelajaran berbasis pengetahuan menuju pembelajaran berbasis kompetensi dan kebugaran. Dinas Pendidikan Aceh memfasilitasi guru melalui webinar dan live streaming agar dapat memahami esensi Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Year | 719-732 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. kurikulum baru. Transformasi ini sejalan dengan pandangan Kirk . bahwa pendidikan jasmani modern harus menekankan pada lifelong physical activity sebagai sarana membangun kebugaran, kepercayaan diri, dan kesejahteraan sosial siswa. Kompetisi Olahraga Sekolah: Jalur Pembinaan Prestasi dan Motivasi Akademik Kompetisi olahraga sekolah di Aceh tidak hanya berfungsi sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai instrumen pembinaan bakat dan pembentukan karakter. Kegiatan O2SN dan kompetisi antar sekolah menjadi wadah penting bagi pengembangan keterampilan, disiplin, dan kerja sama tim siswa. Kebijakan berprestasi di bidang olahraga merupakan bentuk penghargaan terhadap prestasi non-akademik yang jarang diterapkan di daerah lain. Kebijakan ini mencerminkan prinsip whole-child education, yaitu pendekatan pendidikan yang memperlakukan prestasi akademik dan non-akademik secara setara (Bailey et al. , 2013. Bosscher et al. , 2. Selain itu, fleksibilitas belajar bagi siswa yang menjalani pemusatan latihan . elalui pembelajaran daring atau jadwal fleksibe. memperlihatkan bentuk nyata dari athlete-friendly education system yang telah diterapkan di berbagai negara seperti Jepang dan Korea Selatan (Bosscher et al. Dengan kebijakan ini, siswa tidak kehilangan hak belajar sekaligus tetap bisa berfokus pada pengembangan bakatnya. Namun, tantangan yang masih dihadapi adalah keberlanjutan sistem pembinaan berjenjang. Meskipun SMAKON telah menjadi pusat pembinaan olahraga di tingkat provinsi, belum semua daerah memiliki lembaga serupa. Kondisi ini mengakibatkan keterputusan jalur pembinaan dari tingkat sekolah dasar hingga ke jenjang menengah. Model seperti Talent Identification and Development (TID) yang diadopsi oleh SPLISS (Bosscher et al. , 2. dapat menjadi acuan bagi Aceh dalam merancang sistem pembinaan yang lebih sistematis dan berkesinambungan. Yulinar 1,2. Amung MaAomun1. Yunyun Yudiana1. Nuryadi1. Razali3. Amiruddin3 Analisis Pembinanaan dan Pengembangan Olahraga Pendidikan di Provinsi Aceh Pengembangan Olahraga: Sinergi Kebijakan. Sarana, dan Kearifan Lokal Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa salah satu kendala terbesar dalam pengembangan olahraga pendidikan di Aceh adalah keterbatasan sarana dan prasarana. Sebagian fasilitas sekolah sudah menua, sementara proses perbaikan terkendala oleh data Dapodik yang tidak diperbarui. Hal ini memperlihatkan masalah klasik dalam tata kelola pendidikan berbasis data, di mana akurasi data mempengaruhi efektivitas kebijakan (Green, 2. Sebagaman di ketahui bahwa melalui data-data yang disampaikan dapat memberi dapak positif terhadap pengembangan pendidikan khususnya di bidang olahraga pendidikan (Hakim & Yulia, 2024. Harahap & Rekognisi, 2. Dinas Pendidikan mencoba mengatasi hal ini melalui optimalisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) dan mendorong sekolah untuk menjalin kemitraan dengan masyarakat dan sektor swasta melalui program CSR. Pendekatan kolaboratif ini menunjukkan arah menuju model multistakeholder governance, di mana tanggung jawab pembinaan olahraga tidak hanya menjadi beban pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kolektif masyarakat (Block et al. , 2025. Nicholson et al. , 2. Selain itu, pengembangan olahraga di Aceh tidak terlepas dari dimensi kultural dan spiritual. Dinas Pendidikan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal, seperti panahan dan permainan tradisional Aceh, ke dalam kurikulum PJOK. Pendekatan ini memiliki makna penting dalam konteks cultural resilience, yakni pelestarian identitas budaya melalui aktivitas Gay . menyebut Aubahwa pembelajaran yang berbasis budaya . ulturally responsive teachin. meningkatkan rasa kepemilikan dan partisipasi siswa terhadap proses belajarAy. Program selanjutnya. Dinas juga sedang mengembangkan Gedung B sebagai pusat kegiatan olahraga dan pembinaan siswa berprestasi. Fasilitas ini menjadi simbol komitmen pemerintah Aceh dalam membangun sistem pembinaan terpusat yang terintegrasi dengan kegiatan akademik dan pengembangan karakter. Jika dikelola dengan baik, pusat ini dapat Journal of SPORT (Sport. Physical Education. Organization. Recreation, and Trainin. Vol. Year | 719-732 ISSN : 2620-7699 (Onlin. ISSN : 2541-7126 (Prin. menjadi prototipe provincial sports hub yang mendukung integrasi antara sekolah, universitas, dan lembaga olahraga. KESIMPULAN Kebijakan olahraga pendidikan di Aceh telah bergerak dari Dinas Pendidikan tidak lagi berperan sekadar sebagai pelaksana kebijakan, tetapi telah menjadi agen perubahan sosial melalui olahraga. Olahraga pendidikan di Aceh kini berperan sebagai ruang pembentukan karakter. Makna terdalam dari hasil penelitian ini adalah bahwa pembinaan olahraga membangun generasi muda Aceh yang sehat, tangguh, cerdas, dan Dengan pendekatan yang sistemik, kolaboratif, dan berbasis kearifan lokal, kebijakan olahraga pendidikan di Aceh berpotensi menjadi . est mengimplementasikan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan dan Qanun Keolahragaan Aceh. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh responden yang telah bersedia meluangkan waktu untuk dilakukan wawancara. Terima kasih juga kepada rekan-rekan yang sudah membantu dalam menyelesaikan penelitian ini. REFERENSI