ISSN: 2746-3656 Hubungan Antara Problem Solving Matematis Dan Resiliensi Matematis Siswa Di SMP Negeri 11 Kota Pontianak Iis Krisdiyanti1*. Mohamad RifAoat2. Nurfadilah Siregar3 Pendidikan Matematika. Universitas Tanjungpura. Pontianak, 78115. Indonesia *Coresponding author: iiskrisdiyanti130401@gmail. 1,2,3 Submit: 24 Juli 2025, disetujui untuk publikasi 25 Oktober 2025 Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis siswa pada materi Teorema Pythagoras sekaligus tingkat resiliensi matematis mereka, serta menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Sampel berjumlah 29 siswa kelas Vi C SMP Negeri 11 Kota Pontianak. Data diperoleh melalui tes uraian problem solving berbasis empat langkah Polya . emahami masalah, menyusun rencana, melaksanakan rencana, meninjau kembal. dan angket resiliensi matematis 24 pernyataan skala Likert . Ae. yang memuat enam indikator . etekunan/percaya diri, sosialisasi/kolaborasi, kreativitas solusi, pembelajaran dari kegagalan, rasa ingin tahu/refleksi, kontrol emos. Analisis deskriptif menunjukkan kemampuan problem solving berada pada kategori sedang. indikator devising a plan dan carrying out the plan berada pada kategori sedang . %), sedangkan understanding the problem dan look back pada kategori tinggi . %). Resiliensi matematis secara umum berkategori sedang dengan dominasi 66,67% pada indikator sosialisasi/kolaborasi, kreativitas solusi, belajar dari kegagalan, dan rasa ingin tahu/refleksi. sementara ketekunan/percaya diri serta kontrol emosi tergolong rendah . ,67%). Uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi matematis dan kemampuan problem solving . = 0,096. p = 0,622. = 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan problem solving tidak hanya ditentukan oleh resiliensi, melainkan juga dipengaruhi faktor lain seperti penguasaan konsep, strategi pembelajaran, dan motivasi belajar. Implikasi praktis merekomendasikan pembelajaran berbasis masalah yang menumbuhkan refleksi, kolaborasi, dan ketekunan, serta penguatan aspek afektif . secara terstruktur. Kata Kunci: Resiliensi Matematis. Kemampuan Problem Solving Matematis. Teorema Phytagoras Citation: Krisdiyanti. RifAoat. , & Siregar. Hubungan Antara Problem Solving Matematis Dan Resiliensi Matematis Siswa Di SMP Negeri 11 Kota Pontianak. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika: 6. , hal. 1 Ae 9. 24114/jfi. yang penting, merancang strategi penyelesaian Pendahuluan Dalam mendukung proses pembelajaran yang tepat, menelaah serta menilai kembali hasil matematika, memiliki kemampuan pemecahan yang diperoleh, dan melakukan refleksi terhadap masalah matematis menjadi sangat penting bagi keseluruhan proses penyelesaian (Ramadhani & siswa (Sihombing & Pujiastuti, 2. Nugroho & Hakim, 2. Tingkat kemampuan pemecahan Dwijayanti masalah tidak dapat diukur dengan soal rutin, . kemampuan ini menjadi kunci untuk mencapai tujuan utama pembelajaran matematika. Sejalan diturunkan menjadi soal matematika non-rutin, dengan Hadi & Radiyatul . yang menyatakan dan soal tersebut harus menuntut siswa berpikir kritis dan kreatif dalam menemukan solusi. Aupemecahan Siswa permasalahan yang dihadapi, memilih informasi Salah satu bentuk soal non-rutin yang kemampuan utama yang harus dikuasai oleh siswaAy. sering digunakan dalam mengukur kemampuan problem solving adalah soal cerita. Menurut Jumiati, . Kumalasari. Julia. Asriati. & Rambe. Pendekatan Problem Solving. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 penerapan nyata dari konsep matematika yang dan melaksanakan rencana, di mana sebagian besar menuntut siswa memahami konteks permasalahan sebelum melakukan perhitungan matematis. Soal penyelesaian yang tepat atau melakukan kesalahan cerita disajikan dalam bentuk kalimat sehari-hari dalam langkah perhitungan. Selain itu, hanya sebagian kecil siswa yang dapat menuliskan matematika dalam kehidupan nyata (Rahmatiya & informasi diketahui dan ditanyakan secara benar Miatun, serta memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Hal Maulina. Melalui penyelesaian soal cerita, kemampuan ini menunjukkan kesulitan berpikir sistematis dan solving siswa dapat teridentifikasi secara lebih reflektif yang dihadapi siswa dalam menyelesaikan autentik, karena siswa dituntut untuk menafsirkan soal cerita matematika. informasi, memilih strategi yang tepat, serta konsep-konsep secara logis. Selanjutnya, data yang diperoleh melalui angket resiliensi matematis menunjukkan hasil yang Angket yang terdiri dari 12 pernyataan Namun pada kenyataannya, pada soal dengan skala Likert . Ae. menghasilkan nilai rata- cerita matematika, masih banyak siswa mengalami rata sebesar 28,6 dari skor maksimum 60, yang kesulitan menyelesaikannya, salah satu kesulitan termasuk dalam kategori sedang ke rendah. Secara rinci, aspek ketekunan dan kepercayaan diri memahami konteks soal tersebut (Nurhayati, 2. Hal ini diperkuat oleh Komalasari . yang mengontrol emosi 2,5, sedangkan aspek motivasi menyebutkan bahwa penyelesaian soal cerita dan refleksi diri berada pada rata-rata 3,0. Data ini matematika dianggap lebih sulit dibandingkan menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih dengan soal yang langsung disajikan dalam bentuk mudah menyerah saat menghadapi kesulitan dan angka atau simbol matematika. Kesulitan ini dapat belum mampu mengelola emosi secara efektif muncul karena siswa kurang memahami konteks selama proses pembelajaran. Komalasari . soal, belum terbiasa mengaitkan konsep dengan yang menyatakan bahwa Aukesulitan siswa dalam situasi nyata, atau kurang gigih dalam menghadapi menyelesaikan soal cerita matematika tidak hanya Berdasarkan pandangan beberapa ahli disebabkan oleh faktor kognitif, tetapi juga oleh tersebut, secara implisit dapat dipahami bahwa rendahnya ketahanan mental dan rasa percaya rata-rata 2,4, diriAy. Berdasarkan hasil tes diagnostik dan angket dengan kemampuan problem solving matematis, tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan karena keduanya menuntut ketekunan, ketahanan problem solving matematis dan resiliensi matematis mental, dan kemampuan mengelola emosi dalam siswa masih perlu ditingkatkan agar proses menghadapi kesulitan belajar. pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna. Berdasarkan hasil tes diagnostik Phytagoras Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, berbentuk tes uraian yang diberikan kepada 30 peneliti tertarik untuk mengkaji lebih lanjut hubungan antara kedua variabel tersebut, yaitu SMP Vi. Kota Pontianak, resiliensi matematis. Melalui penelitian ini, peneliti Instrumen tes yang terdiri atas empat butir soal berupaya untuk mengetahui sejauh mana tingkat non-rutin uraian yang disusun berdasarkan empat resiliensi matematis berperan dalam membantu langkah Polya. Hasil analisis menunjukkan bahwa siswa meningkatkan kemampuan mereka dalam nilai rata-rata keseluruhan siswa adalah 47 dari memecahkan soal cerita matematika, sehingga skor maksimum 100, dengan 53% siswa berada hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pada kategori rendah, 34% pada kategori sedang, dan hanya 13% yang tergolong tinggi. Kesalahan matematika yang lebih efektif dan humanistik. paling banyak ditemukan pada tahap menyusun Krisdiyanti. RifAoat. , & Siregar. Hubungan Antara Problem Solving Matematis. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Hubungan Antara Problem Solving Matematis Dan Resiliensi Matematis. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 memperkenalkan pertama kalinya resiliensi di bidang matematika, yang merumuskan bahwa "resiliensi matematis adalah sikap positif terhadap matematika yang memungkinkan siswa untuk mengatasi segala Problem Solving Menurut KBBI . sesuatuAy. Aykemampuan Dalam kemampuan diartikan sebagai kesanggupan atau kapasitas siswa untuk melakukan upaya dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Kemampuan dalam menyelesaikan masalah disebut juga dengan kemampuan problem solving. Menurut Marzano (Sulasmono, 2. problem Aysolving adalah salah satu bagian dari proses berpikir yang berupa kemampuan untuk memecahkan persoalanAy. Kemampuan tersebut dapat dilihat dari usaha yang dilakukan seseorang. Hal ini didukung dengan pendapat Suryani . bahwa kemampuan problem solving kepada usaha seseorang untuk mencapai tujuan hambatan afektif yang ditimbulkan ketika belajar matematikaAy. kemampuan yang memperlihatkan sikap tidak mudah menyerah, percaya diri, dan tetap berjuang serta bertahan dalam situasi sulit dalam menghadapi permasalahan pembelajaran matematika merupakan kemampuan dari resiliensi matematis. Hal ini didukung oleh pendapat menurut Goodall & Johnston-wilder . bahwa dengan kemampuan resiliensi matematis, siswa memiliki keyakinan bahwa kemampuan di bidang matematika mereka akan Adapun indikator dari resiliensi matematis yang digunakan untuk melihat resiliensi matematis sebagai berikut (Rahmatiya & Miatun, 2. penyelesaian masalah. Pernyataan tersebut sejalan dengan yang dikatakan Gunantara . bahwa Ayproblem kecakapan atau potensi yang dalam diri siswa sehingga ia dapat menyelesaikan masalah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hariAy. Resiliensi Matematis Kemudian untuk resiliensi matematis dengan kata resiliensi atau dalam bahasa inggris resilience berasal dari kata latin yaitu resilire, yang artinya adalah melambung kembali atau kembali. Pada permulaannya kata resiliensi dirumuskan oleh Block (Klohnen, 1. dengan sebutan ego-resilience yang AuMenunjukkan yakin/percaya diri, berkerja keras dan tidak mudah menyerah menghadapi masalah, kegagalan, dan ketidakpastian. Menunjukkan keinginan bersosialisasi, mudah memberi bantuan, berdiskusi beradaptasi dengan lingkungannya. Memunculkan ide/cara baru dan mencari solusi kreatif terhadap tantangan. Menggunakan pengalaman kegagalan untuk membangun motivasi diri. Memiliki rasa ingin tahu, merefleksi, meneliti, dan memanfaatkan beragam Memiliki kemampuan mengontrol diri dengan sadar akan perasaannya. Ay bermakna kemampuan individu yang mudah dan Resiliensi matematis tidak hanya berkaitan pandai dalam menyelesaikan diri terhadap masalah dengan ketahanan emosional, tetapi juga erat internal ataupun eksternal. Luthar (Mccubbin, 2. hubungannya dengan keyakinan diri . elf-efficac. menyatakan bahwa. AuResilience refers to a dynamic process encompassing positive adaptation within the Individu dengan tingkat self-efficacy context of significant adversityAy, pernyataan ini tinggi akan lebih percaya pada kemampuannya untuk menjelaskan bahwa resiliensi merupakan suatu proses mengatasi tantangan, termasuk dalam menghadapi dinamis yang meliputi adaptasi positif dalam keadaan kesulitan yang signifikan. Jadi, resiliensi merupakan pembelajaran matematika, hal ini berarti siswa yang suatu kemampuan atau daya juang yang dimiliki memiliki resiliensi tinggi tidak mudah menyerah individu untuk dapat beradaptasi pada kondisi sulit. ketika menghadapi soal yang sulit, melainkan Sedangkan Johnston-Wilder Less . Krisdiyanti. RifAoat. , & Siregar. Hubungan Antara Problem Solving Matematis. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Dalam Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 menemukan solusi. Sejalan dengan itu, menurut enam indikator yang akan dinilai (Rahmatiya & Martin Miatun, 2. Untuk mengetahui tingkat resiliensi Marsh mencerminkan kemampuan siswa untuk termotivasi, beradaptasi, dan menjaga performa masing-masing pernyataan dengan skala 1, 2, 3, 4, akademiknya meskipun menghadapi tekanan atau Selanjutnya skor tersebut di konversi Dengan demikian, resiliensi matematis menggunakan Microsoft Excel berbantuan fitur Succesive Interval. Kemudian mengelompokkan pengembangan sikap positif terhadap matematika siswa berdasarkan tingkatan kategori resiliensi matematis dari skor angket yang diperoleh menjadi tiga kategori yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Selain itu, lingkungan belajar dan strategi Pengkategorian tersebut berdasarkan Tabel pengajaran guru memiliki peran penting dalam (Kurnia, 2. membentuk dan memperkuat resiliensi matematis Tabel 1. Kategori Skor Resiliensi Matematis Skor Interval Kategori ycU Ou . cuI ycIy. Tinggi . cuI Oe ycIy. O ycU < . cuI ycIy. Sedang ycU < . cuI Oe ycIy. Rendah Penelitian oleh Johnston-Wilder & Lee . lingkungan belajar suportif, mendorong eksplorasi ide, dan menghargai kesalahan sebagai bagian dari Sedangkan tes kemampuan problem solving matematis berbentuk uraian dengan 4 indikator Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (Problem dan berjumlah 1 soal. Soal yang digunakan dalam Based Learnin. dan kolaboratif misalnya, dapat penelitian ini terdiri dari 1 soal yang berbentuk Dalam tersebut terdapat empat mengalami tantangan nyata sekaligus membangun indikator problem solving yang dinilai yaitu siswa rasa percaya diri dan ketekunan. Oleh karena itu, guru nilai-nilai menyerah, refleksi diri, dan berpikir positif selama memeriksa kembali. Setelah mendapatkan hasil tes dan nontes, selanjutnya data tersebut diuji dengan berkembang secara kognitif, tetapi juga memiliki daya juang yang tinggi dalam menghadapi berbagai menggunakan IBM SPSS Statistics 25 untuk melihat permasalahan matematika. kemampuan problem solving matematis. Melihat Metode Penelitian Pendekatan korelasi antara keduanya dapat membantu untuk proses pembelajaran di kelas dan dengan begitu juga dapat mengetahui faktor-foktor lainnya yang Sampel pada penelitian ini yaitu ada dalam diri siswa kelas Vi C di SMP Negeri 11 Kota Siswa dalam menyelesaikan Pontianak yang berjumlah 29 orang. Pengumpulan resiliensi matematis dan tes kemampuan problem solving matematis kepada siswa. Angket resiliensi matematis berjumlah 24 butir pernyataan dan diukur menggunakan skala likert dengan 5 opsi Angket yang digunakan dalam penelitian Salsabila disesuaikan dengan indikator resiliensi matematis. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMP Negeri 11 Kota Pontianak kelas Vi C diperoleh hasil nontes resiliensi dan tes kemampuan problem solving matematis. Angket resiliensi matematis dengan 24 pernyataan yang terdiri dari pernyataan positif dan pernyataan negatif dengan kriteria penskoran pada Tabel 2. Hasil analisis data angket pada 29 siswa disajikan pada Krisdiyanti. RifAoat. , & Siregar. Hubungan Antara Problem Solving Matematis. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Hubungan Antara Problem Solving Matematis Dan Resiliensi Matematis. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 Tabel 3, terlihat bahwa tingkat resiliensi siswa dalam menyelesaian soal matematika tergolong pada kriteria Tabel 2. Kriteria penskoran resiliensi matematis Pilihan Pernyataan Pernyataan Jawaban Positif Negatif Sangat Setuju Setuju Ragu-Ragu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju Tabel 5. Kategori skor tes kemampuan Problem Solving Matematis Skor Interval Kategori ycU Ou . cuI ycIy. Tinggi . cuI Oe ycIy. O ycU < . cuI ycIy. Sedang ycU < . cuI Oe ycIy. Rendah Analisis yang dilakukan peneliti selanjutnya yaitu melihat hubungan antara resiliensi matematis dan kemampuan pemecahan masalah matematis. Untuk dilakukanlah uji uji korelasi pearson product moment dengan bantuan program IBM SPSS Statistics 25. Tabel 3. Hasil resiliensi matematika Indikator Persentase Kriteria Tekun dan percaya diri 16,67% Rendah Mampu berinteraksi sosial 66,67% Sedang Kreatif mencari solusi 66,67% Sedang Belajar dari kegagalan 66,67% Sedang Rasa ingin tahu tinggi 66,67% Sedang Mampu 16,67% Rendah Selain analisis resiliensi matematis, peneliti Adapun hipotesis nol dan tandingannya yaitu tidak juga menganalisis hasil kemampuan problem Jika nilai signifikansi lebih besar atau sama dengan dan kemampuan problem solving matematis siswa matematis siswa dan kemampuan problem solving matematis siswa. Dengan 0,05. Jika signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka H0 ditolak. 0,05, maka H0 diterima. Hasil ujji spearman rank angket resiliensi matematis dan tes kemampuan berdasarkan 4 indikator pada materi teorema problem solving disajikan pada Tabel 6. Tabel phytagoras yang disajikan pada Tabel 4 dibawah Kemudian untuk mengetahui data persentase nya berdasarkan perhitungan resiliensi matematis sebesar 0,622. dari nilai terdapat hubungan antara resiliensi matematis siswa dan kriterianya berdasarkan pengelompokkan dari signifikansi tersebut menunjukkan bahwa 0,622 > Tabel 4. Hasil kemampuan problem solving Indikator Persentase Kriteria understanding the problem Tinggi devising a plan Sedang carrying out the plan Sedang look back Tinggi Berdasarkan Tabel 4 didapatkan informasi 0,05 yang berarti kemampuan problem solving bahwa kemampuan problem solving matematis pada materi teorema phytagoras kelas ViC tergolong dalam kriteria sedang karena tingkat kemampuan siswa hanya sampai pada indikator dengan kriteria rendah dan kedua indikator lainnya berada pada kriteria sedang. Kemudian untuk dapat mengetahui data persentase dan kategorinya adalah berdasarkan pengelompokkan Tabel 6. uji korelasi pearson product moment Problem Resiliensi Solving Matematis Matematis Kemampuan Pearson Problem Correl. Solving Sig. ,622 Matematis Resiliensi Pearson 0,096 Matematis Correl. Sig. ,622 pada Tabel 5 (Saifuddin, 2. Krisdiyanti. RifAoat. , & Siregar. Hubungan Antara Problem Solving Matematis. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Junnal Fibonaci : Jurnal Pendidikan Matematika Volume: 6. Nomor: 2. Tahun: 2025 Doi. 24114/jfi. ISSN: 2746-3656 Hal Pembahasan konsep dasar siswa cukup baik, tetapi mereka Berdasarkan hasil analisis angket resiliensi matematis terhadap 29 siswa kelas Vi C SMP tingkat tinggi dalam konteks pemecahan masalah. Negeri 11 Kota Pontianak, diperoleh bahwa Kemampuan problem solving tidak hanya berhenti sebagian besar indikator berada pada kategori pada tahap memahami masalah, tetapi harus sedang dengan persentase 66,67% pada indikator kedua, ketiga, keempat, dan kelima. Hal ini melaksanakan, dan menilai kembali solusi yang menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan bersosialisasi yang cukup baik, mampu bekerja Uji Pearson Product Moment sama dan berdiskusi dengan teman sebaya, serta menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan memiliki kreativitas dalam memunculkan ide atau solusi baru dalam pembelajaran. Siswa juga menunjukkan kemampuan refleksi yang cukup signifikansi 0,622 > 0,. Meskipun demikian, baik terhadap pengalaman belajar dan berupaya memanfaatkan kegagalan sebagai motivasi untuk hubungan antara kedua variabel ini bersifat Siswa dengan resiliensi tinggi justru pandangan Martin dan Marsh . bahwa menunjukkan kemampuan problem solving rendah, resiliensi mencakup kemampuan individu untuk cenderung memiliki kemampuan problem solving Hasil akademik dan situasi yang menantang. Namun, . ilai Hal ini mungkin dipengaruhi oleh faktor motivasi belajar. Menurut Azizah dan Abadi . , siswa dengan resiliensi sedang cenderung memiliki tergolong rendah . ,67%). Hal ini menunjukkan motivasi belajar yang cukup baik untuk tetap berusaha meskipun belum mampu menjawab mempertahankan rasa percaya diri serta mudah semua pertanyaan dengan benar. Saepuloh . kehilangan fokus saat menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan soal matematika. Temuan ini sejalan dengan Bernard . yang menyatakan bahwa seseorang untuk bertahan dalam menghadapi rendahnya kepercayaan diri dapat menghambat tantangan akademik. Sebaliknya, siswa dengan perkembangan resiliensi matematis karena siswa resiliensi rendah memiliki kemampuan problem cenderung menghindari tantangan belajar. Kondisi solving sedang, menunjukkan bahwa mereka masih ini menekankan pentingnya pengendalian diri dan motivasi internal agar siswa mampu bertahan dalam situasi belajar yang penuh tekanan. kesulitan, sebagaimana dijelaskan oleh Tri, dkk. Pada hasil tes kemampuan problem solving . bahwa siswa dengan resiliensi rendah matematis, terlihat bahwa dua indikator utama mudah kehilangan motivasi ketika dihadapkan yaitu devising a plan dan carrying out the plan pada permasalahan yang kompleks. memperoleh persentase 50% dengan kategori Secara sedang, sedangkan understanding the problem dan menunjukkan bahwa kemampuan problem solving look back berada pada kategori tinggi dengan matematis siswa tergolong cukup baik, meskipun persentase 25%. Artinya, siswa cukup mampu resiliensi matematisnya masih perlu ditingkatkan. memahami masalah dan meninjau kembali hasil Rendahnya pekerjaannya, namun masih menghadapi kesulitan dalam menyusun rencana dan melaksanakan matematis tidak hanya dipengaruhi oleh faktor langkah-langkah penyelesaian secara sistematis. resiliensi, tetapi juga oleh penguasaan konsep. Krisdiyanti. RifAoat. , & Siregar. Hubungan Antara Problem Solving Matematis. Program Studi Pendidikan Matematika - Universitas Negeri Medan Hubungan Antara Problem Solving Matematis Dan Resiliensi Matematis. Jurnal Fibonaci: Jurnal Pendidikan Matematika 6. - 2025 pengalaman belajar, strategi pembelajaran, serta belajar, self-efficacy, dan strategi metakognitif dukungan lingkungan belajar. Hasil penelitian ini memberikan beberapa implikasi penting dalam konteks pembelajaran Pertama, guru perlu memperhatikan pengembangan resiliensi matematis sebagai bagian Penutup Berdasarkan dari kompetensi afektif siswa, karena resiliensi pemecahan masalah matematis dan resiliensi berperan dalam menumbuhkan sikap pantang matematis siswa kelas Vi C SMP Negeri 11 Kota menyerah dan motivasi belajar yang berkelanjutan. Pontianak berada pada kategori sedang. Walaupun Kedua, aktivitas reflektif, kolaboratif, dan kontekstual penyelesaiannya, masih banyak yang mengalami seperti Problem Based Learning (PBL) untuk hambatan dalam merancang serta menerapkan langkah penyelesaian secara sistematis. Hasil Ketiga, terdapat hubungan yang signifikan antara resiliensi pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi matematis dan kemampuan problem solving . (HOTS) dengan menyediakan lingkungan belajar 0,622 > 0,. Hal ini mengindikasikan bahwa yang memfasilitasi diskusi, eksplorasi ide, dan penggunaan media pembelajaran yang menarik, semata-mata dipengaruhi oleh tingkat resiliensi, sehingga siswa dapat meningkatkan kepercayaan melainkan juga oleh faktor lain seperti motivasi diri dan ketekunan dalam menghadapi tantangan belajar, strategi pembelajaran yang digunakan, belajar matematika. serta penguasaan konsep dasar matematika. Jumlah sampel yang relatif kecil yaitu 29 Guru kemampuan problem solving secara simultan. penerapan model pembelajaran yang mendorong siswa dan pelaksanaannya yang hanya dilakukan resiliensi matematis siswa melalui pembelajaran pada satu sekolah merupakan keterbatasan dalam berbasis masalah yang mendorong kerja sama, penelitian ini, sehingga hasilnya belum dapat refleksi, dan ketekunan belajar. Sekolah perlu digeneralisasi secara luas. Kedua, penelitian ini hanya dilakukan pada satu sekolah dan satu inovatif dan menyediakan lingkungan belajar yang Pythagoras. Peneliti hasilnya mungkin berbeda jika diterapkan pada memperluas jumlah sampel dan variabel penelitian materi atau jenjang pendidikan lain. Ketiga, agar hubungan antara resiliensi dan kemampuan instrumen penelitian hanya menggunakan angket problem solving dapat dipahami secara lebih resiliensi dan tes kemampuan problem solving, wawancara yang dapat memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai perilaku dan strategi berpikir siswa. Keempat, faktor eksternal seperti dukungan keluarga, lingkungan belajar, dan gaya mengajar guru tidak dianalisis secara khusus, padahal faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi resiliensi dan kemampuan pemecahan masalah Oleh disarankan untuk memperluas jumlah sampel, mixed-methods, mempertimbangkan variabel lain seperti motivasi Daftar Pustaka