Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Volume 05 Nomor 01 Tahun 2025 Hal: 66-94 https://ojs. id/index. php/jabi ISSN2828-1411 THE INFLUENCE OF GREEN MARKETING MIX ON LE MINERALE PRODUCT PURCHASE DECISIONS ase study on le minerale consumers in Subang Cit. Devy Widya Apriandi1 Sukmawati2 1 STIE Sutaatmadja Subang. Indonesia 2 STIE Sutaatmadja Subang. Indonesia sukmaawatiofficial@gmail. com1devyapriandi8@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRACT Histori Artikel: Tgl. Masuk: 27-11-2025 Green marketing mix plays an important role in shaping consumer preferences, particularly in industries that are highly exposed to environmental issues such as bottled drinking water. This study aims to examine the influence of the green marketing mix on purchase decisions of Le Minerale consumers in Subang City, considering the growing awareness of sustainability in consumption This research employs a quantitative method with a descriptive-verificative approach. Data were collected through questionnaires distributed to 55 respondents who had purchased Le Minerale in the past month. The descriptive analysis reveals that the green marketing mix is perceived to be in the AugoodAy category with an average score of 87%, while purchase decisions are also categorized as AugoodAy with an average score of 85%. The results of a simple linear regression analysis indicate that the green marketing mix has a positive and significant effect on purchase decisions, with a determination coefficient of 43. 8% and a t-value of 6. (Sig. 000 < 0. These findings highlight that the more effectively Le Minerale implements environmentally friendly product, price, place, and promotion strategies, the higher the likelihood of consumer purchase decisions. Tgl. Diterima: 28-11-2025 Tersedia Online: 30-11-2025 Keywords: Green Marketing Mix. Green Product. Green Price. Green Place. Green Promotion. Purchase Decisions PENDAHULUAN Dalam era modern saat ini, konsumen dihadapkan pada semakin banyaknya pilihan produk yang tersedia di pasar. Sehingga pembelian tidak lagi sederhana, melainkan melibatkan berbagai pertimbangan mulai dari kebutuhan fungsional, kualitas produk, harga, hingga faktor psikologis dan sosial (Rohman, 2. Kotler & Keller . menyebutkan bahwa perilaku konsumen dalam membeli produk dipengaruhi oleh beberapa kombinasi faktor internal . otivasi, persepsi, sika. dan eksternal . arga, promosi, distribusi, serta pengaruh Dengan demikian, keputusan pembelian merupakan hasil evaluasi menyeluruh dari konsumen terhadap berbagai alternatif produk yang tersedia. Proses pembelian tersebut pada dasarnya diawali dengan pengenalan kebutuhan, yaitu ketika konsumen menyadari produk apa yang diperlukan. Setelah itu, konsumen akan mencari informasi terkait produk yang dibutuhkan, kemudian menilai dan berdasarkan informasi yang diperoleh. Tahap berikutnya adalah menentukan pilihan akhir terhadap produk yang akan Volume 05 No. Sesudah pembelian dilakukan, konsumen akan memberikan respons pasca pembelian, baik berupa kepuasan maupun ketidakpuasan terhadap produk Oleh karena itu, perusahaan perlu menyusun strategi pemasaran yang efektif agar mampu menjawab kebutuhan konsumen sekaligus memperkuat nilai Gerakan Penanaman Pohon Satu Juta (KLHK, 2. masih menghadapi kendala dalam keberlanjutan dan partisipasi publik, sehingga ruang terbuka hijau di banyak kota masih di bawah standar 30% UndangUndang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Fenomena tersebut semakin kompleks dengan meningkatnya isu lingkungan, terutama terkait sampah plastik dari produk sehari-hari seperti air (AMDK). Indonesia termasuk salah satu negara dengan konsumsi AMDK cukup tinggi, yang sekaligus menjadi penyumbang sampah plastik rumah tangga (Setiawan et , 2. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS, 2. , konsumsi AMDK per kapita di Indonesia mengalami fluktuasi mencerminkan adanya dinamika dalam perilaku konsumsi masyarakat. Namun, perlu dipahami bahwa persoalan lingkungan di Indonesia tidak hanya sebatas sampah plastik dari AMDK, penghijauan yang lebih luas. Misalnya, deforestasi atau penebangan hutan masih menjadi masalah serius. Forest Watch Indonesia . melaporkan bahwa laju kehilangan hutan mencapai lebih dari 600 ribu hektar per tahun, yang berdampak meningkatnya emisi karbon. Di sisi lain, perubahan iklim membuat suhu rata-rata di Indonesia meningkat sekitar 0,9AC dalam empat dekade terakhir (BMKG, 2. , sehingga menimbulkan risiko gelombang panas, banjir, hingga kekeringan. Selain itu, krisis air bersih juga menjadi ancaman. Kementerian PUPR . menyebutkan bahwa sekitar 12% penduduk Indonesia belum memiliki akses air minum layak, padahal kebutuhan air semakin tinggi. Fenomena ini ironis karena sementara perusahaan air minum dalam kemasan justru berperan besar dalam Fenomena Program pemerintah seperti Tabel 1. Konsumsi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia Tahun 2020Ae2023 . alam liter per kapit. Tahun Konsumsi . iter/kapit. 0,258 0,195 0,185 0,217 Sumber: BPS. Statistik Konsumsi Pangan Minuman 2023 Tabel 1. 1 menunjukkan bahwa konsumsi AMDK di Indonesia mengalami fluktuasi selama periode 2020Ae2023. Pada tahun 2020, konsumsi tercatat sebesar 0,258 liter per kapita, kemudian menurun menjadi 0,195 liter pada tahun 2021 dan kembali turun menjadi 0,185 liter pada Namun, pada tahun 2023 terjadi kenaikan konsumsi menjadi 0,217 liter per kapita. Pola fluktuasi ini mengindikasikan adanya dinamika dalam perilaku konsumsi masyarakat yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi, perubahan gaya hidup, serta kesadaran akan pentingnya kesehatan, kepraktisan dan keberlanjutan lingkungan. Menurut laporan Kontan . Peningkatan Volume 05. No. konsumsi di tahun 2023 dapat dikaitkan mendorong permintaan terhadap produk minuman kemasan dan Pola ini juga perhatian terhadap isu lingkungan meningkat, permintaan AMDK tetap ada sehingga produsen menghadapi dilema antara memenuhi kebutuhan pasar dan mengurangi dampak lingkungan. Untuk memahami dinamika pasar, produsen penting mengkaji segmentasi Segmentasi menyesuaikan strategi pemasaran sesuai karakteristik tiap segmen (Alie & Gustriansyah, 2. Hal ini sejalan dengan semakin kompleksnya preferensi konsumen, di mana keputusan pembelian tidak lagi hanya didorong oleh kebutuhan fungsional, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Tabel 1. Segmentasi Perilaku Konsumen Faktor Segmen Karakteristik Pendorong Konsumen Utama Pembelian Konsumen Konsisten Kualitas Loyal membeli merekproduk, yang sama Membuat Harga, produk, dan Konsumen Jumlah relatif Peduli kecil namun Lingkungan potensial Kemasan citra hijau. Konsumen Rasional Sumber: Olah data berdasarkan literatur Tabel 1. 2 menunjukkan bahwa Segmentasi perilaku konsumen secara umum dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian utama. Pertama, konsumen loyal yang cenderung membeli merek yang dipengaruhi oleh kualitas, kepercayaan, dan kepuasan terhadap merek (Suryono et al, 2. Kedua, konsumen rasional yang berhati-hati perbandingan antar merek sebelum membeli, dengan pertimbangan utama diberbagai tempat penjualan (Ramdani et , 2. Ketiga, konsumen peduli lingkungan, yaitu kelompok yang masih relatif kecil namun potensial meningkat, dipengaruhi oleh atribut ramah lingkungan seperti kemasan daur ulang, citra hijau, promosi dan eco-label (Setiawan et al. Dengan demikian, pemahaman terhadap segmentasi perilaku ini penting agar strategi pemasaran lebih tepat Selain menghadapi dinamika perilaku konsumen, dalam konteks industri minuman dalam kemasan, kompetisi antar merek semakin ketat. Survei dari Katadata Insight Center (KIC) tahun 2023 menyebut bahwa Aqua sebagai merek yang sudah lama hadir di pasar masih mendominasi pangsa pasar, namun Le Minerale sebagai pendatang baru berhasil menunjukkan perkembangan yang signifikan. Gambar 1. Produk Le Minerale Sumber: https://w. Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Le Minerale merupakan salah satu merek air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia yang diproduksi oleh PT Tirta Fresindo Jaya, anak perusahaan Mayora Indah Tbk. Produk ini hadir di pasar sejak 2015 dan terus berkembang hingga kini memiliki fasilitas produksi di berbagai Le Minerale diposisikan sebagai produk air mineral yang higienis karena langsung dibotolkan dari sumbernya, menggunakan teknologi mineral protection untuk menjaga kandungan mineral alami, serta memiliki penutup botol yang rapat guna mencegah pemalsuan. Keunggulan lain yang ditawarkan adalah kemasan berlogo Halal MUI, sehingga aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia (Le Minerale, 2. Sebagai keberlanjutan. Le Minerale menggunakan harga yang kompetitif dan sebanding dengan kualitas produk, kemasan yang dapat didaur ulang menjadi produk baru dan aktif menyelenggarakan program peduli lingkungan lainnya. Promosi yang dilakukan juga sering menekankan pesan kepedulian terhadap kelestarian alam serta distribusi yang disalurkan nya juga tetap menekankan prinsip efisiensi dan Produk ini tersedia dalam berbagai ukuran botol, yakni 330 ml, 600 ml, 1500 ml, serta galon 15 liter. Pada tahun 2020, perusahaan meluncurkan produk baru berupa galon sekali pakai. Inovasi ini dipromosikan sebagai solusi higienis, namun menuai kritik dari sebagian masyarakat karena dinilai berpotensi meningkatkan volume sampah plastik, berbeda dengan galon merek lain yang dapat digunakan berulang kali (Fadillah et. al, 2. Meskipun menghadapi pro dan kontra terkait inovasi kemasannya. Le Minerale berhasil memperoleh pengakuan pasar dan masuk dalam kategori Top Brand untuk AMDK. Hal ini menunjukkan bahwa Le Minerale telah dikenal luas sebagai produk yang berupaya menggabungkan lingkungan, meskipun masih menghadapi strategi pemasaran hijau dengan isu keberlanjutan (Kompas. com, 2. Gambar 1. Top Brand Index Air Minerale Dalam Kemasan Tahun 2024 Sumber:w. topbrand-award. Gambar 1. 2 di atas, memperlihatkan bahwa Le Minerale berada di posisi kedua setelah Aqua dengan perolehan Top Brand Index sebesar 18,80%. Capaian ini cukup signifikan mengingat usia Le Minerale relatif baru dibandingkan Hasil ini menegaskan bahwa meskipun dominasi Aqua tetap kuat. Le Minerale eksistensinya di pasar dengan strategi diferensiasi produk, inovasi kemasan, serta promosi yang menekankan aspek kesehatan dan lingkungan. Namun, perusahaan tetap menghadapi tantangan besar dalam memperluas pangsa pasar, terutama dengan isu lingkungan terkait penggunaan galon sekali pakai yang dinilai justru berpotensi menambah timbulan sampah plastik (Fadillah et. al, 2. Jika ditinjau lebih jauh, permasalahan yang dihadapi perusahaan Le Minerale tidak hanya terbatas pada kontroversi inovasi produk galon sekali pakai, tetapi juga terletak pada tingkat persaingan yang semakin ketat di industri air minum dalam kemasan (AMDK) (Nuryanto et, al, 2. Saat ini, berbagai merek AMDK baru bermunculan dan turut meramaikan pasar. Di wilayah Subang, yang bukan termasuk kategori kota besar, telah beredar beragam merek AMDK seperti Aqua. Cleo. Club. Vit, hingga produk lokal yang diproduksi masyarakat setempat. Kendati demikian, permintaan terhadap Le Minerale di daerah subang tetap tinggi. Hal Volume 05. No. ini terlihat dari ketersediaan produk Le Minerale di berbagai kanal penjualan, mulai dari warung grosir, minimarket, hingga warung kecil. Fakta bahwa pasar Le Minerale di Subang cukup luas dan memiliki potensi pertumbuhan Namun, posisinya di tengah persaingan yang semakin ketat. Le Minerale perlu mengintegrasikan strategi pemasaran yang tidak hanya berfokus pada aspek komersial, tetapi juga memperhatikan isu Salah satu pendekatan yang Green Marketing mix (UGM, 2. Green marketing mix mencakup strategi pemasaran 4P . roduct, price, place, promotio. yang berorientasi pada kepedulian lingkungan. Green product menekankan desain produk ramah lingkungan, green price mencerminkan nilai keberlanjutan pada harga, green place mengedepankan distribusi yang efisien dan minim dampak lingkungan, sedangkan green promotion menyoroti kepedulian terhadap keberlanjutan (Chen et al. , 2. Menurut penelitian Jennah dan Ismail . Green Marketing Mix pembelian, di mana variabel produk, harga, dan promosi hijau memiliki pengaruh signifikan terhadap perilaku konsumen dalam membeli produk ramah Contoh penerapan strategi tersebut dapat dilihat pada Le Minerale, merek AMDK Indonesia mengintegrasikan green marketing mix. Dari sisi green product. Le Minerale menghadirkan produk air mineral dengan teknologi mineral protection, yaitu proses pengemasan yang langsung diambil dari sumber air mineral alami menggunakan botol penutup yang rapat agar kandungan mineral tetap terjaga dan higienis (Mayora Group, 2. Produk Le Minerale juga telah memperoleh sertifikasi Halal MUI dan diposisikan sebagai air mineral berkualitas tinggi. Selain itu. Le Minerale mengedepankan kemasan yang dapat didaur ulang . Perusahaan juga meluncurkan galon sekali pakai sebagai solusi higienis, meski menghadapi pro dan kontra, karena di satu sisi dapat mengurangi risiko kontaminasi, tetapi di sisi lain menimbulkan kekhawatiran terkait penumpukan sampah plastik. Untuk menjawab isu tersebut, perusahaan meningkatkan fasilitas daur ulang dan menggencarkan edukasi pengelolaan sampah plastik (Putri & Suryani, 2. Dari sisi green price. Le Minerale berusaha menjaga harga tetap kompetitif agar produk dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Le Minerale berusaha menerapkan strategi yang menyesuaikan dengan willingness to pay, artinya sejauh mana kesediaan konsumen dalam mengeluarkan uang untuk membayar suatu produk yang menawarkan manfaat tidak hanya dari sisi fungsional . ualitas dan kesehata. , tetapi juga dari nilai tambah ramah lingkungan yang melekat pada produk tersebut. Meski beberapa konsumen menilai produk ini relatif lebih mahal dibandingkan pesaingnya. Le Minerale mengkomunikasikan bahwa harga tersebut sepadan dengan manfaat kesehatan, kebersihan, keamanan dan inovasi teknologi ramah lingkungan yang Dengan demikian, harga Le Minerale bukan hanya mencerminkan nilai produk, tetapi juga komitmen perusahaan terhadap keberlanjutan lingkungan (Putra & Rachmawati, 2. Dari sisi green place. Le Minerale memperluas jaringan distribusinya dengan tetap menekankan prinsip efisiensi dan Perusahaan mendirikan fasilitas produksi di berbagai wilayah Indonesia sekaligus mendistribusikan produknya melalui warung tradisional, minimarket, supermarket hingga ritel modern di berbagai daerah, termasuk Subang Kota, sehingga konsumen dapat memperoleh produk dengan mudah. Distribusi ini diiringi dengan penerapan green logistics, seperti optimasi jalur distribusi untuk menekan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon (Kurniawan. Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Variasi ukuran kemasan yang ditawarkan mulai dari botol 330 ml hingga galon 15 liter juga mendukung efisiensi distribusi sekaligus untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan beragam segmen konsumen (Mayora Group, 2. Sedangkan Minerale melaksanakan komunikasi pemasaran yang tidak hanya menonjolkan kualitas produk, tetapi juga mengedepankan pesan Promosi dilakukan melalui kampanye digital, iklan televisi, hingga (Corporate Social Responsibility/CSR), seperti gerakan plastik, dan kolaborasi dengan komunitas lingkungan untuk membangun citra sebagai merek yang peduli lingkungan. Selain itu. Melalui kampanye AuSehat dari Alam. Kembali ke AlamAy di berbagai media sosial mengajak konsumen lebih bijak mengonsumsi produk AMDK. Dengan ini terhadap kesehatan konsumen sekaligus pelestarian lingkungan (Nugroho, 2. Berbagai menunjukkan bahwa masalah lingkungan bersifat multidimensional. Dalam konteks penelitian ini, upaya Le Minerale menerapkan green marketing mix bukan hanya strategi bisnis, tetapi juga bentuk kontribusi perusahaan dalam menjawab persoalan lingkungan yang lebih luas. Dengan adanya Green Marketing Mix yang terdiri dari green product, green price, green place, dan green promotion, perusahaan berupaya membangun citra sebagai merek yang peduli pada menjawab tantangan global tentang Fakta-fakta ini semakin mengenai penerapan green marketing mix terhadap perilaku konsumen dalam Keputusan khususnya dalam industri AMDK yang erat kaitannya dengan isu sampah plastik, air bersih, dan keberlanjutan sumber daya Selain penelitian ini juga dapat dilihat dari hasil VOSviewer dengan kata kunci AuGreen Marketing MixAy dan AuPurchase DecisionAy. Gambar 1. Peta VOSviewer Hubungan Green Marketing Mix dan Purchase Decision Sumber: Hasil olah data VOSviewer Gambar 1. 3 memperlihatkan bahwa keputusan pembelian . urchase decisio. menjadi pusat perhatian dalam berbagai penelitian, ditunjukkan dengan warna ungu menempati posisi sentral dalam berbagai penelitian terkait perilaku Dominasi warna ungu di tengah peta menegaskan bahwa purchase decision merupakan variabel inti yang sering dikaji karena mencerminkan hasil akhir dari keseluruhan proses pemasaran dan pertimbangan konsumen. Selanjutnya, elemen-elemen berhubungan langsung dengan Green Marketing Mix, seperti green price dan Elemen-elemen ini dipandang sebagai faktor kunci yang mampu memengaruhi preferensi serta perilaku konsumen, terutama dalam konteks meningkatnya kesadaran lingkungan. Dengan demikian, hubungan antara area berwarna ungu . urchase decisio. dan hijau . reen marketing mi. menerangkan bahwa strategi pemasaran berbasis lingkungan menjadi salah satu determinan utama dalam pembentukan keputusan pembelian konsumen. Pemetaan ini juga menegaskan bahwa topik mengenai pengaruh green Volume 05. No. marketing mix terhadap purchase decision masih sangat relevan untuk diteliti, khususnya pada produk konsumsi seharihari seperti air minum dalam kemasan (AMDK). Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul "PENGARUH GREEN MARKETING MIX TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK MINERAL (STUDI KASUS PADA KONSUMEN LE MINERALE DI SUBANG KOTA)". Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Bagaimana green marketing mix pada produk Le Minerale di Subang Kota? Bagaimana keputusan pembelian konsumen terhadap produk Le Minerale di Subang Kota? Bagaimana marketing mix terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk Le Minerale di Subang Kota? Tujuan Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: Untuk mengetahui green marketing mix pada produk Le Minerale di Subang Kota. Untuk produk Le Minerale di Subang Kota. Untuk mengetahui pengaruh green marketing mix terhadap keputusan pembelian konsumen pada Le Minerale di Subang Kota. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak. Adapun manfaat penelitian ini Adalah sebagai berikut: Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat mengenai green marketing mix dan keputusan pembelian, khususnya dalam konteks produk konsumsi cepat saji seperti air mineral dalam Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya yang berfokus Manfaat Praktis Bagi penelitian ini dapat digunakan untuk mengevaluasi efektivitas merumuskan inovasi strategi yang lebih ramah lingkungan. Bagi konsumen: penelitian ini mengenai pentingnya memilih Bagi penelitian ini dapat dijadikan pertimbangan dalam menyusun regulasi terkait pemasaran hijau KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS Tinjauan Pustaka Manajemen Marketing Manajemen pemasaran merupakan aktivitas terintegrasi yang dirancang secara menyeluruh, sistematis, dan terencana oleh organisasi maupun institusi dengan tujuan memenuhi kebutuhan serta permintaan pasar. Proses ini mencakup serangkaian langkah mulai dari penetapan produk dengan nilai jual tertentu, penetapan harga, kegiatan promosi, hingga distribusi, yang keseluruhannya diarahkan untuk memberikan value atau nilai lebih kepada konsumen, klien, maupun masyarakat luas. Fokus utama dari pemasaran adalah bagaimana perusahaan mampu mengkomunikasikan nilai produk atau jasa yang ditawarkan sehingga tidak hanya memberikan Journal of Accounting and Business Issues (JABI) keuntungan, tetapi juga memenuhi Beberapa definisi manajemen pemasaran dari para ahli menegaskan perspektif tersebut. Gultom . pemasaran adalah ilmu yang berfungsi membangun relasi yang menguntungkan dengan konsumen. Basu dan Hani . mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai kegiatan perencanaan dan pengelolaan barang maupun jasa melalui penetapan harga, promosi, serta distribusi untuk memenuhi kebutuhan konsumen sekaligus menghasilkan keuntungan. Sementara itu, menurut Sudarsono merupakan proses perencanaan dan pelaksanaan aktivitas pemasaran yang diarahkan untuk mengatur, mengarahkan, organisasi agar lebih efisien dalam mencapai tujuan. Berdasarkan berbagai pandangan tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran berperan penting dalam membantu organisasi merumuskan strategi untuk mengenali kebutuhan konsumen, menetapkan sasaran pasar, serta menjalin hubungan pertukaran yang berorientasi pada pencapaian tujuan perusahaan dengan lebih efektif. Green Marketing Mix Green Marketing Mix atau bauran pemasaran hijau dipahami sebagai serangkaian aktivitas terpadu yang dirancang untuk menciptakan serta memfasilitasi pertukaran dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan tetap memperhatikan Praktiknya produk, pemanfaatan kemasan ramah lingkungan, hingga strategi promosi yang lingkungan (Amoako, 2. Konsep Green Marketing Mix terdiri dari 4P (Product. Price. Place. Promotio. Green Product: Produk ramah lingkungan, penggunaan kemasan daur ulang, bahan baku sehat. Green Price: Harga yang kompetitif dengan mempertimbangkan nilai tambah ramah lingkungan. Green Place: Distribusi yang efisien dengan meminimalkan dampak lingkungan. Green Promotion: Promosi yang menekankan pesan kepedulian Strategi green marketing mix terbukti terutama ketika perusahaan mampu membangun citra hijau yang kredibel (Mahmoud, et. al, 2. Perilaku Konsumen Perilaku konsumen menggambarkan bagaimana individu dalam mengambil keputusan pembelian, yang dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal. Menurut Kotler dan Keller . , keputusan pembelian konsumen tidak hanya ditentukan oleh karakteristik pribadi, pemasaran yang mencakup produk, harga, tempat, dan promosi. Hal ini sejalan dengan pendapat Chen et al. yang menyatakan bahwa perilaku konsumen berhubungan erat dengan persepsi, motivasi, serta sikap terhadap produk yang ditawarkan perusahaan. Selain itu, perilaku konsumen bersifat kompleks karena konsumen seringkali tidak sepenuhnya menyadari motivasi pembeliannya. Menurut Suprapti dan Wahyudi . , konsumen dapat menyatakan kebutuhan dan keinginannya secara eksplisit, namun dalam praktiknya mereka kerap bertindak berbeda, bahkan dipengaruhi faktor situasional menjelang pembelian dilakukan. Lebih lanjut, perilaku konsumen dapat dipahami sebagai kajian mengenai proses yang dilalui individu, kelompok, maupun organisasi dalam memilih, membeli, menggunakan, dan mengevaluasi produk atau jasa untuk memenuhi kebutuhannya (Kotler & Keller, 2. Hal ini menegaskan bahwa perilaku konsumen menjadi bagian penting dalam memahami Volume 05. No. dinamika pasar, baik pasar kelompok, maupun organisasi. Keputusan Pembelian keputusan pembelian didefinisikan sebagai serangkaian tahapan sistematis yang dilakukan konsumen mulai dari informasi, evaluasi alternatif, pengambilan pembelian yang dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan situasional (Kotler & Keller, 2. Sedangkan Menurut Swastha dan Irawan dalam (Pratama, 2. , keputusan pembelian adalah alternatif yang ada serta adanya evaluasi setelah pembelian dilakukan. Dilihat dari berbagai definisi tersebut, maka dapat dilihat bahwa keputusan pembelian adalah sebuah proses konsumen dalam mengevaluasi berbagai alternatif untuk melakukan melakukan pemilihan produk, pemilihan pembelian, waktu pembelian, serta pemilihan metode pembelian yang akan dilakukan oleh konsumen. Dimensi Indikator Variabel Penelitian Tabel berikut merangkum dimensi dan indikator dari variabel Green Marketing mix dan Keputusan Pembelian: Tabel 2. Dimensi dan Indikator Variabel Variabel Dimensi Indikator Green Green A Kemasan Marketing Product A Kualitas A Inovasi Green Price A Harga Green Place Green Promotion Keputusan Pembelian Pengenalan A Harga A Kesediaan lebih untuk A Produk di berbagai A Distribusi efisien dan A Lokasi A Pesan n nilai A Transparan si informasi A Kampanye Konsumen akan air Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Pencarian Konsumen melalui iklan, media sosial. Evaluasi Konsumen kan satu merek AMDK lain dari segi kualitas, dan Keputusan Konsumen membeli Le Minerale pilihan utama Perilaku Konsumen merasa puas dan bersedia Penelitian Terdahulu Dalam membentuk penelitian ini, penelitianpenelitian terdahulu sebagai tolak ukur dan acuan yang disajikan dalam tabel dibawah ini. Tabel 2. Penelitian Terdahulu N Judul & Penulis Penerbit Hasil o Tahun 1 Exploring Su. Sustainab Green the Impact & Li. of the (MDPI, , price. Green Scopus dan place Marketing Q. Mix on Environme Attitudes Purchase Intentions: Moderatin n green g Role of Environme Knowledge Namun, in ChinaAos Emerging Markets . ruh positif Environm 2 Pengaruh Nadia Jurnal Green Green Irsalina. Manajem product Marketing Heni en Sosial dan Mix Susilow Ekonomi green Terhadap ati (DINAMIK place Keputusan A). Vol. 3 berpenga Pembelian No. Produk Tupperwar e . Volume 05. No. n green price dan 3 Pengaruh Husnatu Journal of Green Green Trends Marketing Jennah. Economic green Mix Andy s and price, dan Terhadap Ismail Accountin green Purchase Decision Research, berpenga Dalam Vol. Mengguna No. kan Eco Friendly Product Green 4 The Siti Jurnal Green Influence Ainun Multidisipli Product. Of Green Fadilah, n Green Marketing Askolan Dehasen. Price. Mix On i. Gian Vol. 3 No. Green Purchasin Riksa 3 Place. Wibawa Decisions Green AMDK Le Promotio n secara Minerale (Survey Of Consumer s Of Bottled Mineral Water Le Minerale In Tasikmala y. Secara Green Price. Green Place. Green Promotio n Green Product 5 Pengaruh Abi Jurnal Green Green Nuryant PenKoMi: marketing Marketing o. Sri Kajian Mix Ernawat Pendidika berpenga terhadap i. Nur n & Keputusan Khusnul Ekonomi, signifikan Pembelian Hamida Vol. 8 No. Produk Le h Minerale di Kota Bima n Le Minerale di Kota Bima. Implikasi: Berdasarkan Tabel 2. 2 di atas, topik mengenai green marketing mix dan keputusan pembelian telah banyak diteliti baik pada konteks produk lokal maupun Hasil penelitian terdahulu pada umumnya menunjukkan bahwa elemen dalam green marketing mix memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian konsumen. Penelitian dilakukan oleh Su dan Li . dalam jurnal Sustainability menegaskan bahwa green promotion, price, dan place berpengaruh signifikan terhadap sikap . nvironmental Namun, pada level niat pembelian . urchase intentio. , green product dan green promotion tetap terbukti Temuan ini memperlihatkan bahwa promosi hijau dan penetapan harga ramah lingkungan mampu membentuk sikap serta preferensi konsumen. Hasil tersebut sejalan dengan penelitian Jennah dan Ismail . yang menemukan bahwa green product, green Journal of Accounting and Business Issues (JABI) price, dan green promotion memiliki pengaruh langsung terhadap keputusan pembelian produk ramah lingkungan, walaupun green place tidak diteliti. Dengan kata lain, kombinasi faktor produk, harga, dan promosi masih menjadi kunci dalam memengaruhi perilaku pembelian Namun demikian, terdapat hasil yang berbeda dalam penelitian Irsalina dan Susilowati . terhadap produk Tupperware. Penelitian ini menunjukkan bahwa hanya green product dan green place yang berpengaruh signifikan sedangkan green price dan green promotion tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh karakteristik produk yang lebih menekankan pada kualitas dan ketersediaan, dibandingkan dengan harga dan promosi. Selanjutnya, konteks lokal oleh Fadilah et al. mengenai Le Minerale di Tasikmalaya menemukan bahwa secara simultan keempat elemen green marketing mix keputusan pembelian. Namun secara parsial, hanya green price, green place, dan green promotion yang berpengaruh, sedangkan green product tidak. Temuan penelitian Nuryanto et al. yang meneliti Le Minerale di Kota Bima. Hasilnya menunjukkan bahwa green marketing mix secara keseluruhan keputusan pembelian, dengan implikasi bahwa strategi pemasaran hijau harus Landasan Teori Untuk digunakan tiga tingkatan teori: Teori Grand: Teori Perilaku Terencana (Theory of Planned Behavio. Menurut Ajzen. Theory of Planned Behavior menjelaskan bahwa perilaku seseorang terbentuk dari niat yang dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kontrol perilaku perseptual (Ajzen, dikutip dalam Hidayat & Sananta, 2. Dalam konteks pemasaran hijau. TPB relevan karena mampu menjelaskan bagaimana konsumen yang memiliki sikap positif terhadap lingkungan, didukung norma sosial, dan merasa mampu mengendalikan keputusan konsumsinya akan lebih cenderung membeli produk ramah lingkungan. Penelitian terbaru TPB digunakan dalam memprediksi keputusan pembelian produk hijau (Dharmayanda & Sobari, 2. Teori Middle: Teori Pemasaran dan Perilaku Konsumen Kotler & Keller . menjelaskan bahwa pemasaran adalah proses menciptakan, mengomunikasikan, dan menyerahkan nilai kepada konsumen, di mana perilaku informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, dan perilaku pascapembelian. Dalam perkembangan terkini, faktor lingkungan menjadi salah satu aspek konsumen (Wijekoon & Sabri, 2. Hal ini menegaskan bahwa keberlanjutan dan isu lingkungan kini menjadi pertimbangan pengambilan keputusan pembelian. Teori Applied: Green Marketing Mix Peattie & Crane mengawali konsep dikembangkan menjadi green marketing mix dengan empat elemen utama: produk, harga, distribusi, dan promosi. Dalam konteks saat ini, penelitian terkini menemukan bahwa green marketing mix khususnya melalui citra merek hijau (IIETA, 2. Penelitian lain juga mengonfirmasi bahwa kombinasi strategi green product, green price, green place, konsumen untuk memilih produk yang (Wijekoon & Sabri, 2. Pembahasan ini memperlihatkan keterkaitan antara teori dasar perilaku konsumen, teori tingkat menengah Volume 05. No. mengenai keptusan, dan teori terapan yang fokus pada strategi pemasaran hijau. Dengan demikian, penelitian ini berupaya menjembatani aspek konseptual dan Kerangka Teoritis Sumber: Penulis, 2025 Pengembangan Hipotesis Green Marketing Mix berpengaruh Penelitian Su & Li . menemukan bahwa green promotion, green price, dan green place berpengaruh signifikan terhadap sikap Namun, green product dan green promotion terbukti berpengaruh positif terhadap green purchase intention. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan elemen-elemen bauran pemasaran hijau dapat mendorong konsumen untuk lebih mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam pengambilan keputusan pembelian. Penelitian Nadia Irsalina & Heni Susilowati . Tupperware juga mendukung temuan tersebut, di mana green product dan green place berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian, sedangkan green price dan green promotion memberikan pengaruh signifikan. Berbeda dengan penelitian Husnatul Jennah & Andy Ismail . yang menemukan bahwa green product, green price, dan green promotion berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk ramah lingkungan, meskipun variabel green place tidak diteliti lebih lanjut. Lebih lanjut, penelitian Fadilah. Askolani, & Wibawa . mengenai Le Minerale menunjukkan bahwa secara simultan keempat variabel . reen product, green price, green place, dan green terhadap keputusan pembelian. Secara parsial, green price, green place, dan green promotion berpengaruh signifikan, sedangkan green product tidak. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Nuryanto. Ernawati, & Hamidah . yang menegaskan bahwa green marketing mix signifikan terhadap keputusan pembelian produk Le Minerale di Kota Bima. Dari berbagai hasil penelitian tersebut terlihat adanya research gap terkait konsistensi pengaruh dimensi Green Marketing Mix terhadap keputusan Sebagian menemukan bahwa green product tidak pengaruh positif. Demikian pula, variabel green price dan green promotion menunjukkan hasil yang beragam pada konteks penelitian yang berbeda. Berdasarkan landasan empiris tersebut, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: H1: Green Marketing Mix berpengaruh terhadap Keputusan Pembelian Produk Mineral Le Minerale. Model Penelitian Green Marketing Mix (X) Keputusan Pembelian (Y) Sumber: Oleh Penulis, 2025 Journal of Accounting and Business Issues (JABI) METODOLOGI PENELITIAN Jenis Penelitian Jenis Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, dengan sifat penelitian ini bersifat deskriptif verifikatif. Pendekatan kuantitatif dipilih karena mampu mengukur fenomena secara objektif melalui pengolahan data numerik dan analisis statistik (Creswell & Creswell, 2. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis fenomena, gejala, maupun peristiwa yang terjadi pada waktu tertentu sehingga memberikan pemahaman yang jelas mengenai kondisi objek penelitian (Sugiyono. Sementara penelitian verifikatif digunakan untuk menguji kebenaran suatu hipotesis dengan cara menganalisis hubungan antara variabel independen dan variabel dependen berdasarkan data empiris (Sekaran & Bougie, 2. Dalam penelitian ini, data diperoleh melalui kuesioner yang dibagikan kepada konsumen Le Mineral di Subang Kota baik secara online dan offline. Data Sekunder Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung. Dalam penelitian ini, data diperoleh dari berbagaii sumber tambahan seperti buku, website, dokumen perusahaan dan jurnal penelitian terdahulu yang berkaitan dengan subjek Unit Analisis Unit analisis dalam penelitian ini adalah Konsumen yang mengonsumsi atau pernah membeli Produk Le Mineral di Subang Kota. Pemilihan unit analisis ini dikarenakan Subang merupakan salah satu daerah dengan tingkat konsumsi air mineral yang tinggi, khususnya produk Le Mineral yang mudah ditemukan di pasar modern, minimarket, maupun toko Teknik pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Kuesioner Untuk mendukung penelitian ini, penulis memerlukan sejumlah data. Untuk memperoleh data dan informasi dalam penelitian ini, penulis melalukan pengumpulan data dengan teknik Penelitian Lapangan (Field Researc. Penelitian Lapangan (Field Researc. yaitu teknik pengumpulan data untuk mendapatkan data Untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, penulis menggunakan teknik mengumpulkan data melalui Kuesioner (Sujarweni, 2020:. pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan beberapa pernyataan atau pertanyaan tertulis kepada para responden untuk mereka jawab. Kuesioner ini disusun dalam bentuk pertanyaan dengan skala interval 1-7 dan responden diminta untuk memberikan jawaban berdasarkan pengalaman mereka. Jenis dan Sumber Data Jenis Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif. Sumber Data . Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh secara langsung dari Populasi dan Sampel Populasi Menurut Sekaran & Bougie . , populasi dapat dipahami sebagai peristiwa, atau objek yang menjadi Adapun populasi dalam Objek Penelitian Menurut (Neng Siti Hamidah 2. Objek penelitian merupakan suatu kondisi yang menggambarkan atau menerangkan suatu situasi dari objek yang akan diteliti untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari suatu penelitian. Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Konsumen Produk Le Mineral di Subang Kota. Volume 05. No. penelitian ini adalah konsumen Le Minerale yang berusia minimal 17 tahun di Subang Kota dan yang pernah melakukan pembelian atau mengonsumsi produk dalam satu bulan terakhir. Pemilihan populasi pertimbangan bahwa kelompok ini memiliki cakupan yang cukup luas dan heterogen, baik dari segi usia, latar belakang sosial ekonomi, sehingga mampu merepresentasikan perilaku nyata konsumen AMDK di wilayah perkotaan. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih untuk mewakili keseluruhan sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan. Sampel adalah sebagian atau wakil yang mewakili ciri-ciri populasi (Amin et al. Roscoe . alam Memon et al. menyebutkan bahwa ukuran sampel yang tepat untuk penelitian perilaku berkisar antara 30 hingga 500 Dengan pedoman tersebut, penelitian ini menetapkan 55 responden sebagai sampel, yang terdiri dari 50 responden melalui penyebaran kuesioner online dan 5 responden melalui penyebaran kuesioner secara offline. Jumlah ini dinilai memadai untuk memperoleh disesuaikan dengan keterbatasan waktu dan sumber daya penelitian. Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel dalam menggunakan teknik non probability sampling yaitu purposive sampling. Teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria penelitian. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Responden merupakan konsumen yang berusia minimal 17 tahun. Responden berdomisili di Subang Kota. Responden membeli produk Le Mineral dalam 1 bulan terakhir. Definisi dan Pengukuran Variabel Penelitian Menurut Creswell & Creswell . , variabel merupakan atribut, karakteristik, atau sifat tertentu dari individu maupun organisasi yang dapat diamati serta diukur dalam suatu penelitian. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel . Variabel Bebas (Independent Variabl. Creswell & Creswell . independen adalah faktor yang diduga memengaruhi, menjadi penyebab, atau menimbulkan perubahan pada variabel dependen. Pada penelitian ini, variabel independennya adalah Green Marketing Mix (X). Variabel Terikat (Dependent Variabl. Variabel Creswell & Creswell . , adalah variabel yang dipengaruhi atau Dalam penelitian ini. Keputusan Pembelian (Y). Operasionalisasi Variabel Operasionalisasi setiap konsep variabel menjadi indikator-indikator yang dapat diukur secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam penelitian ini, operasionalisasi variabel disusun untuk memastikan setiap konstruk dapat diobservasi Journal of Accounting and Business Issues (JABI) operasionalisasi variabel. Tabel 3. Tabel Operasionalisasi Variabel Variabel Definisi Dimensi Indikator Skala Kemasan Green Green Green Marketin Marketin Product ramah g mix (X) g Mix (Amoako atau Kualitas , 2. an hijau konsisten Interval Inovasi Green Harga dirancan Price g untuk kan serta Harga terjangkau Interval an dalam Kesediaan lebih untuk Green Produk konsume Place n dengan di berbagai Distribusi efisien dan Interval Lokasi Praktikny Green Pesan produk. Promotio promosi menekank Interval Transpara Kampanye Keputus keputusa Pengena Konsumen Pembeli pembelia kebutuha kebutuhan (Y) n Interval (Kotler & didefinisi Keller, kan tahapan Pencaria Konsumen yang informasi informasi tentang Le Minerale Interval n mulai pencaria Evaluasi Konsumen alternatif membandi ngkan Le , evaluasi Minerale AMDK lain Interval dari segi n, hingga n yang dipengar Keputus Konsumen uhi oleh an membeli an untuk s, sosial. Interval Minerale Volume 05. No. Perilaku Konsumen pembelia puas dan bersedia Interval Sumber: Berbagai referensi, 2025 Skala Pengkuran Variabel Penelitian Skala pengukuran adalah cara untuk mengatur dan menerjemahkan pengamatan berdasarkan properti yang diukur, dengan menggunakan aturan tertentu (Sekaran et. al, 2. Dalam penelitian ini, peneliti memilih menggunakan skala 7 titik. Artinya, responden diminta untuk memilih satu jawaban dari daftar pertanyaan yang disediakan dalam Bobot nilai kuesioner yang ditentukan yaitu: Tabel 3. Bobot Nilai Skala Interval Jawaban Bobot Nilai Sangat Tidak Baik Tidak Baik Cukup Tidak Baik Kurang Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik Sumber : Berbagai Referensi, 2025 . Variabel Green Marketing Mix (X. Total skor tertinggi : 55 x 12 x 7 = 4. Total skor terendah : 55 x 12 x 1 = 660 Kedua nilai tersebut yaitu 4. 620 dan 660 diselisihkan lalu dibagi 7 . 620 Ae 660 : 7 = 565,. , sehingga rentang nilai dari masing-masing kelas interval untuk variabel X1 yang dimaksud apabila total nilai kuesioner yang didapat adalah: Tabel 3. Kelas Interval Green Marketing Mix (X) Kelas Interval Keterangan 660 Ae 1. Sangat Tidak Baik 225 Ae 1. Tidak Baik 789 Ae 2. Cukup Tidak Baik 353 Ae 2. 917 Ae 3. 481 Ae 4. 045 Ae 4. Kurang Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik Sumber : Olahan Penulis, 2025 . Variabel Keputusan Pembelian Total skor tertinggi : 55 x 5 x 7 = 1. Total skor terendah : 55 x 5 x 1 = 275 Kedua nilai tersebut yaitu 1. dan 275 diselisihkan lalu dibagi 7 . 925 Ae 275 : 7 = . , sehingga rentang nilai dari masing-masing kelas interval untuk variabel Y yang dimaksud apabila total nilai kuesioner yang didapat adalah: Tabel 3. Kelas Interval Keputusan Pembelian (Y) Kelas Interval Keterangan 275 Ae 510 Sangat Tidak Baik 511 Ae 746 Tidak Baik 747 Ae 982 Cukup Tidak Baik 983 Ae 1. Kurang Baik 219 Ae 1. Cukup Baik 455 Ae 1. Baik 691 Ae 1. Sangat Baik Sumber : Olahan Penulis, 2025 Pengujian Kualitas Data Uji Statistik Deskriptif Menurut Iba dan Wardhana . , statistik deskriptif adalah cabang memberikan gambaran yang jelas dan karakteristik data. Uji Validitas Uji validitas data digunakan untuk mengukur valid tidaknya suatu data Kuesioner dikatakan valid apabila pertanyaan yang terdapat mengungkapkan suatu hal yang akan diukur dan untuk menguji masingmasing variabel yang terdapat dalam penelitian (Karnia. Uji Reliabilitas Menurut Karnia . , reliabilitas adalah kemampuan instrumen untuk menghasilkan hasil yang konsisten bila digunakan berkali-kali dalam kondisi Journal of Accounting and Business Issues (JABI) instrumen dikatakan reliabel jika nilai koefisien reliabilitasnya tinggi. Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik digunakan untuk menentukan apakah hasil analisis regresi linier sederhana yang digunakan dalam penelitian ini tidak penyimpangan asumsi Uji Normalitas Menurut Insani, et al . Uji normalitas adalah prosedur statistik yang digunakan untuk memeriksa apakah distribusi data . tau residual dari model regres. mendekati distribusi normal. Untuk membuktikan hal tersebut, dapat dilihat pada grafik normal P-P Plot dan histogram. Pada grafik normal P-P Plot, jika titik-titik tersebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka data dianggap normal. Sedangkan pada histogram, jika membentuk sebuah lonceng maka data dapat dikatakan normal. Uji Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas digunakan untuk menguji apakah varians residual dalam model regresi adalah konstan . Jika varians residual berbeda antar pengamatan, asumsi klasik regresi terganggu, sehingga model mungkin tidak valid. Scatterplot atau grafik plot, dapat digunakan untuk menunjukkan uji heteroskedastisitas (Nugraha. Pengujian Hipotesis Menurut Dasvinder Singh . , hipotesis ialah pernyataan sementara mengenai solusi atas suatu masalah yang masih perlu diuji secara empiris dan bersandar pada bukti atau logika ilmiah. Koefisien Determinasi (RA) Menurut Gao . , koefisien determinasi, atau R squared (RA), adalah ukuran untuk menilai seberapa dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen dalam model Uji t (Parsia. Menurut Nugraha, et al. , uji t parsial digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh variabel terhadap variabel dependen, dengan kriteria bahwa jika . > t tabel atau nilai signifikansi < , maka pengaruh dianggap signifikan. Analisiis Regresi Linier Sederhana Menurut Mustika et, al . , analisis regresi linier sederhana adalah metode statistik untuk memprediksi atau mengestimasi hubungan antar dua variabel, yaitu satu variabel independen dan satu variabel dependen, dengan menggunakan persamaan garis lurus sehingga dapat diketahui seberapa besar variabel dependen. Dalam penelitian ini, regresi linier sederhana digunakan untuk menguji pengaruh Green Marketing Mix (X) terhadap Keputusan Pembelian (Y). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dalam penelitian ini mendapatkan responden. Responden yang diperoleh dan dapat dijadikan sampel yaitu responden yang dapat melengkapi data mengenai jenis kelamin, usia, pekerjaan, domisili, frekuensi responden membeli produk le minerale dalam bulan, serta tanggapan responden mengenai variabel yang diteliti yaitu Green Marketing Mix (X), dan Keputusan Pembelian (Y). Analisis Penelitian Deskriptif Objek Penelitian Dalam penelitian ini responden terdiri dari Konsumen Produk Le Mineral yang berusia minimal 17 tahun, berdomisili di Subang Kota dan Frekuensi membeli Volume 05. No. produk Le Minerale dalam 1 bulan. Penyebaran kuesioner dilakukan secara online dengan bantuan google form dan secara offline. Link kuesioner disebarkan kepada responden melalui aplikasi WhatsApp. Berdasarkan Usia Tabel 4. Rincian Penyebaran Kuesioner Keterangan Jumlah Responden Kuesioner yang terisi Kuesioner yang dapat di olah Sumber: Data peneliti, 2025 Analisis Deskriptif Karakteristik Responden Dalam merupakan konsumen Produk Le Mineral di Subang Kota dengan karakteristik sebagai berikut. Berdasarkan Jenis Kelamin Grafik 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan grafik di atas, menunjukkan bahwa terdapat 84% responden berusia 1725 tahun, 7% responden berusia 26-34 tahun, 2% responden berusia 35-43 tahun dan 7% responden berusia 44 Ae 50 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa responden didominasi oleh yang berusia 17-25 tahun. Berdasarkan Pekerjaan Pekerjaan Grafik 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Sumber: Data diolah, 2025 Data berdasarkan jenis kelamin dikelompokkan menjadi 2 . yaitu lakilaki dan perempuan. Dalam penelitian ini melibatkan responden laki laki sebanyak 24% dan responden perempuan sebanyak Hal ini menunjukkan bahwa responden didominasi oleh perempuan. Pelajar/ Mahasiswa PNS Pegawai Grafik 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan menunjukkan bahwa terdapat 70% dari Pelajar/Mahasiswa, 10% dari pegawai swasta, 20% dari wiraswasta, 0% dari Journal of Accounting and Business Issues (JABI) PNS dan 0% dari dan lain-lain. Hal ini didominasi oleh Pelajar/Mahasiswa. Berdasarkan Domisili Luar Subang Kota Subang Kota Grafik 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Domisili Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan grafik 4. 4, karakteristik responden dilihat dari domisili pada penelitian ini terdapat 100% responden berdomisili di Subang Kota. Berdasarkan Frekuensi Pembelian dalam 1 bulan Grafik 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Frekuensi Pembelian Sumber: Data diolah, 2025 Berdasarkan grafik 4. 5, karakteristik Frekuensi Pembelian pada penelitian ini terdapat 45% dari responden >7 kali, 35% dari responden 4-6 kali dan 20% dari responden 1-3 kali. Hal ini menunjukkan bahwa responden didominasi oleh frekuensi pembelian >7 kali. Analisis Deskriptif Variabel Penelitian Deskriptif menjelaskan hasil tanggapan responden yang berkaitan dengan variabel Green Marketing Mix (X), dan Keputusan Pembelian (Y). Tanggapan Responden Mengenai Green Marketing Mix (X) Pada bagian ini, mendeskripsikan tanggapan responden terhadap Green Marketing Mix berdasarkan kuesioner yang telah disebarkan. Kuesioner yang diberikan berupa pernyataan-pernyataan yang diberi skor dengan menggunakan skala interval. Di bawah ini merupakan tanggapan responden mengenai Green Marketing Mix berdasarkan indikator. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Tanggapan Responden Mengenai Green Marketing Mix(X) Jumlah Jawaban Responden Pertanyaan Menurut Anda, seberapa besar tingkat kemudahan mendaur ulang pada kemasan Le Minerale? Menurut Anda. Seberapa besar 2 tingkat konsistensi kualitas produk Le Minerale ? Menurut Anda, sejauh mana tingkat usaha Le Minerale berinovasi untuk produk dengan kemasan yang ramah lingkungan? Menurut Anda. Seberapa besar tingkat kesesuaian 4 harga Le Minerale dengan kualitas Menurut Anda. Seberapa besar 5 keterjangkauan harga Le Minerale dibandingkan merek Menurut anda, seberapa besar tingkat ketersediaan 6 anda dalam membayar lebih untuk produk Le Minerale? Menurut anda. Seberapa besar 7 tingkat kemudahan anda menemukan Le Minerale di STB TB CTB KB CB B SB Skor Skor Aktual Ideal 2 11 6 18 15 385 77% 4 4 22 24 385 88% 4 5 28 16 385 84% 5 8 17 23 385 85% 0 4 23 27 385 91% 8 7 23 16 385 83% 1 1 10 43 385 96% Volume 05. No. berbagai tempat Menurut Anda, seberapa besar tingkat ketersediaan Le Minerale di tempat penjualan sehingga mudah dibeli tanpa kekurangan stok? Menurut Anda. Seberapa tingkat 9 lingkungan dari tempat penjualan yang menjual Le Minerale? Menurut Anda. Seberapa besar tingkat penekanan 10 pesan peduli lingkungan dalam promosi Le Minerale? Menurut Anda. Seberapa besar tingkat kejelasan keberlanjutan yang disampaikan Le Minerale dalam Menurut Anda, sejauh mana tingkat kampanye promosi 12 Le Minerale memberikan edukasi tentang peduli 0 4 18 33 359 385 93% 3 9 23 18 324 385 84% 3 8 21 21 330 385 86% 3 3 25 24 345 385 90% Pada bagian ini, mendeskripsikan Keputusan Pembelian Kuesioner pernyataan-pernyataan yang diberi skor dengan menggunakan skala interval. Keputusan Pembelian berdasarkan indikator. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Tanggapan Responden Mengenai Keputusan Pembelian (Y) No. 2 4 16 31 347 TOTAL Jumlah Jawaban Responden Pertanyaan STB TB CTB KB CB B SB 385 90% 620 87% Sumber : Data diolah, 2025 Tabel di atas menunjukkan tanggapan responden dan skor mengenai Green Marketing Mix yang diperoleh dari hasil Skor aktual diperoleh sebesar 030, skor ideal 4. 620, dan persentase sebesar 87%. Tabel 4. Kelas Interval Green Marketing Mix (X) Kelas Interval Keterangan 660 Ae 1. Sangat Tidak Baik 225 Ae 1. Tidak Baik 789 Ae 2. Cukup Tidak Baik 353 Ae 2. Kurang Baik 917 Ae 3. Cukup Baik 481 Ae 4. Baik 045 Ae 4. Sangat Baik Sumber : Olahan Penulis, 2025 Berdasarkan total skor yang diperoleh, maka variabel Green Marketing Mix (X) berada pada skala interval 3. 481 Ae 4. dengan keterangan baik. Tanggapan Responden Mengenai Keputusan Pembelian (Y) 1 Seberapa tingkat kebutuhan Anda terhadap air mineral dalam kemasan yang ramah lingkungan seperti Le Minerale? 2 Seberapa tingkat usaha Anda dalam mencari informasi tentang Le Minerale sebelum membeli? 3 Seberapa tingkat pertimbangan Anda dalam membandingkan Le Minerale dengan merek lain sebelum membeli? 4 Seberapa tingkat keputusan Anda dalam memilih Le Minerale sebagai produk utama air mineral yang dibeli? 5 Seberapa tingkat kepuasan Anda setelah membeli Le Minerale hingga mendorong pembelian ulang? Skor Skor Aktual Ideal 2 17 13 8 21 14 7 15 22 4 17 26 5 20 28 TOTAL Sumber : Data diolah, 2025 Tabel di atas menunjukkan tanggapan responden dan skor mengenai Keputusan Pembelian (Y) yang diperoleh dari hasil Skor aktual diperoleh sebesar 637, skor ideal 1. 925, dan persentase sebesar 85%. Tabel 4. Kelas Interval Keputusan Pembelian (Y) Kelas Interval Keterangan 275 Ae 510 Sangat Tidak Baik 511 Ae 746 Tidak Baik 747 Ae 982 Cukup Tidak Baik 983 Ae 1. Kurang Baik 219 Ae 1. Cukup Baik 455 Ae 1. Baik 691 Ae 1. Sangat Baik Sumber : Olahan Penulis, 2025 Berdasarkan total skor yang diperoleh, maka variabel Keputusan Pembelian (Y) Journal of Accounting and Business Issues (JABI) berada pada skala interval 1. 455 Ae 1. dengan keterangan baik. Pengujian Kualitas Data Uji Statistik Deskriptif Tabel 4. Hasil Uji Statistik Deskriptif Descriptive Statistics Minimum Maximum Sum Green Marketing Mix 55 Keputusan Pembelian 55 Valid N . Mea Std. Deviation Sumber : Data SPSS diolah, 2025 Berdasarkan tabel di atas dengan jumlah sampel (N) dari setiap variabel sebanyak 55 responden, dapat dijelaskan sebagai berikut: Pada variabel Green Marketing Mix (X) menunjukkan nilai minimum sebesar 46 dan nilai maksimum sebesar 84. Jumlah nilai keseluruhan jawaban yang diberikan responden adalah sebesar 030, dengan nilai rata-rata sebesar 73,27 serta standar deviasi sebesar 7,984. Hal ini menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap bauran pemasaran hijau cenderung tinggi, dengan tingkat penyebaran data yang cukup rendah. Pada variabel Keputusan Pembelian (Y) menunjukkan nilai minimum sebesar 14 dan nilai maksimum sebesar 35. Jumlah nilai keseluruhan jawaban yang diberikan responden adalah sebesar 637, dengan nilai rata-rata sebesar 29,76 serta standar deviasi sebesar 4,721. Uji Validitas Untuk r hitung didapat dengan melihat kolom Corrected Item-Total Correlation dan r tabel diperoleh dengan melihat pada tingkat signifikansi () sebesar 5% dengan uji two tail dan jumlah data (N), df = N Ae 2. Jumlah data sebanyak 55 responden maka df = 55 - 2 = 53, pada tingkat signifikansi () sebesar 5% atau 0,05 maka diperoleh r tabel = 0,2656. Berikut rincian dari masing-masing variabel. Tabel 4. Hasil Uji Validitas Mengenai Green Marketing Mix(X) Variabel X Corrected Item Total Correlation 0,432 0,416 0,716 0,615 0,542 0,412 0,315 0,310 0,689 0,838 0,630 0,663 r tabel Keterangan 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Sumber : Data SPSS diolah, 2025 Tabel 4. Hasil Uji Validitas Mengenai Keputusan Pembelian(Y) Corrected Item Total Variabel Correlation 0,355 0,542 0,603 0,723 0,652 r tabel Keterangan () 5% 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 0,2656 Valid Valid Valid Valid Valid Sumber : Data SPSS diolah, 2025 Dari data-data menunjukkan bahwa hasil perhitungan uji validitas dimana seluruh r hitung > r tabel pada tingkat signifikansi () sebesar 5%. Dapat disimpulkan bahwa seluruh item kuesioner pada variabel Green Marketing Hijau (X), dan Keputusan Pembelian (Y) dinyatakan valid, artinya instrumen penelitian benar-benar mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Uji Reliabilitas Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas Volume 05. No. Variabel CronbachAos Keterangan Alpha Green Marketing Mix (X) Keputusan Pembelian (Y) 0,865 Reliabel 0,755 Reliabel Sumber : Data SPSS diolah, 2025 Berikut ini merupakan penjelasan untuk uji reliabilitas terhadap setiap variabel: Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai reliabilitas yang diperoleh untuk variabel Green Marketing Mix (X) adalah 0,865 > 0,70, artinya dapat dikatakan bahwa variabel Green Marketing Mix reliabel . udah menggambarkan konse. Hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai reliabilitas yang diperoleh untuk variabel Keputusan Pembelian (Y) adalah 0,755 > 0,70, artinya dapat dikatakan bahwa variabel Keputusan Pembelian reliabel . udah menggambarkan konse. Gambar 4. Normal P-Plot Sumber: Output SPSS, 2025 Berdasarkan gambar di atas, menunjukkan bahwa titik-titik menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal. Maka dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini memenuhi uji asumsi normalitas dan data tersebut layak untuk diuji dengan model regresi. Uji Heteroskedastisitas Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas Gambar 4. Hasil Uji Heteroskedastisitas Sumber: Output SPSS, 2025 Gambar 4. Histogram Normalitas Sumber: Output SPSS, 2025 Berdasarkan gambar diatas, maka menggambarkan pola yang berbentuk Sehingga data dinyatakan memenuhi asumsi normalitas dan dapat digunakan untuk analisis lebih lanjut. Dari hasil output pada Scatterplot di atas, menunjukkan bahwa titik-titik menyebar secara acak dan tidak membentuk pola tertentu, maka dapat disimpulkan bahwa modal regresi tersebut tidak terjadi heteroskedastisitas. Pengujian Hipotesis Koefisien Determinasi (RA) Tabel 4. Journal of Accounting and Business Issues (JABI) Hasil Uji Koefisien Determinasi (RA) Analisis Regresi Linier Sederhana Coefficientsa Std. Error of Squar Adjuste the Mode Durbin Estimat Square e Watso Model Coefficientsa Beta Std. Error (Constan. Green Marketing Mix Beta Std. Error (Constan. Green Marketing Mix Sig. KESIMPULAN Uji t (Parsia. Tabel 4. Hasil Uji t (Parsia. Model Standardized Coefficients Sumber: Output SPSS, 2025 Y = a bX e Y = 0,744 0,396 e Berdasarkan hasil output uji statistik t diperoleh nilai t hitung sebesar 6,556 > t tabel 2,006 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, maka H1 Hal ini menunjukkan bahwa secara parsial variabel Green Marketing Mix (X) berpengaruh positif dan signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian (Y). Berdasarkan tabel di atas, angka Adjusted R Square . oefisien determinas. adalah 0,438 atau 43,8%. Hal tersebut dapat dijelaskan bahwa Green Marketing Mix (X) dipengaruhi oleh Keputusan Pembelian (Y), sedangkan sisanya 56,2% . % - 43,8%) dipengaruhi oleh faktor Standardized Coefficients Unstandardized Coefficients Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber: Output SPSS, 2025 Unstandardized Coefficients Sig. Dependent Variable: Keputusan Pembelian Sumber: Output SPSS, 2025 Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai Nilai t hitung pada konstanta diperoleh sebesar 0,167 < t tabel sebesar 2,005 serta nilai signifikansi 0,868 > 0,05. Hal ini berarti konstanta tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian, sehingga tidak digunakan sebagai dasar pengujian hipotesis. Variabel Green Marketing Mix (X) diperoleh nilai t hitung sebesar 6,556 > t tabel sebesar 2,006 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa Green Marketing Mix berpengaruh signifikan terhadap variabel Keputusan Pembelian (Y), sehingga hipotesis (H. Dari penelitian mengenai Green Marketing Mix (X) terhadap Keputusan Pembelian (Y) pada produk Le Minerale di Subang Kota serta penjelasan dari babbab sebelumnya, maka dapat disimpulkan Tingkat Green Marketing Mix pada produk Le Minerale di Subang Kota berada pada kategori baik, dengan skor aktual sebesar 4. 030 dari skor persentase rata-rata 87%. Hal ini Green Marketing Mix yang diterapkan Le Minerale konsumen, terutama dalam aspek produk, harga, distribusi, dan promosi yang ramah lingkungan. Tingkat Keputusan Pembelian konsumen terhadap produk Le Minerale di Subang Kota berada pada kategori baik, dengan skor aktual sebesar 1. 637 dari skor ideal 925 atau persentase rata-rata Hal konsumen cenderung melakukan pembelian Le Minerale secara rutin sehingga keputusan pembelian tergolong baik. Volume 05. No. Hasil sederhana menunjukkan bahwa variabel Green Marketing Mix berpengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian konsumen, dengan nilai t hitung 6,556 > t tabel 2,006 serta nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Artinya, semakin baik penerapan Green Marketing Mix pada produk Le Minerale, maka semakin tinggi pula keputusan pembelian konsumen di Subang Kota. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa Green Marketing Mix terhadap keputusan pembelian konsumen Le Minerale di Subang Kota. Temuan ini memiliki beberapa implikasi: Implikasi Praktis Perusahaan Minerale mengoptimalkan strategi Green Marketing Mix, khususnya pada aspek kemasan ramah lingkungan, kesehatan dan keberlanjutan, serta distribusi yang efisien. Hal ini penting karena persepsi positif konsumen terhadap pemasaran keputusan pembelian yang lebih Implikasi bagi Konsumen Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen Subang cukup responsif terhadap isu ramah lingkungan. Artinya, edukasi berkelanjutan mengenai manfaat produk sehat dan ramah lingkungan dapat semakin memperkuat loyalitas konsumen dalam memilih Le Minerale. Implikasi Akademis Temuan ini menambah bukti empiris bahwa konsep Green Marketing Mix relevan dalam konteks industri air mineral di Indonesia. Penelitian ini dapat dijadikan rujukan untuk studi antara pemasaran hijau dan perilaku pembelian konsumen di sektor FMCG (Fast Moving Consumer Good. Meskipun penelitian ini memberikan hasil yang signifikan, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan: Lingkup Lokasi Penelitian Penelitian ini hanya dilakukan di Subang Kota. Oleh karena itu, hasil persepsi konsumen di daerah lain karakteristik berbeda. Variabel Terbatas Penelitian ini hanya berfokus pada satu variabel independen, yaitu Green Marketing Mix, sehingga belum mempertimbangkan faktor lain seperti harga pesaing, brand image, atau loyalitas konsumen yang mungkin juga memengaruhi keputusan pembelian. Waktu Penelitian Penelitian dilakukan dalam kurun perubahan perilaku konsumen dalam jangka panjang, terutama terkait tren isu lingkungan yang terus berkembang. Journal of Accounting and Business Issues (JABI) REFERENCES