OPEN ACCESS Indonesian Journal of Spatial Planning P-ISSN: and E-ISSN: 2723-0619 http://journals. id/index. php/ijsp Vol 6. No 1, tahun 2025, pp 49-54 KUALITAS RUANG TERBUKA HIJAU KAWASAN SEMPADAN REL KERETA API BERDASARKAN PRESEPSI MASYARAKAT (STUDI KASUS: KOTA BANDAR LAMPUNG) Chania Rahmah, aMuh. Abdi Danurja Rahman Aziz, aRyansyah Izhar aInstitut Teknologi Sumatera. Jl. Terusan Ryacudu. Way Huwi. Kec. Jati Agung. Kabupaten Lampung Selatan. Lampung 35365. Indonesia Info Artikel: a Artikel Masuk: 2024-12-27 a Artikel diterima: 2025-05-19 a Tersedia Online: 2025-06-04 ABSTRAK . alam Bahasa Indonesi. Kota Bandar Lampung menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) sebagaimana diamanatkan oleh regulasi, di mana luas RTH yang tersedia masih jauh dari standar minimal. Sempadan rel kereta api memiliki potensi besar untuk dioptimalkan sebagai ruang terbuka hijau multifungsi guna mendukung lingkungan perkotaan yang berkelanjutan, meningkatkan interaksi sosial, dan menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas RTH pada kawasan sempadan rel berdasarkan persepsi masyarakat. Metode yang digunakan adalah analisis Importance Performance Analysis (IPA) untuk mengidentifikasi kesenjangan antara harapan dan kenyataan, serta Potential Gain Customer Value (PGCV) untuk menentukan prioritas peningkatan kualitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek infrastruktur, aksesibilitas, dan kenyamanan sebagai tempat berkumpul memiliki kinerja yang baik, sementara keamanan area bermain, sarana tempat sampah, dan kondisi fisik lingkungan membutuhkan perbaikan. Dengan pemanfaatan yang terencana dan berbasis data, kawasan sempadan rel dapat diintegrasikan sebagai RTH yang relevan dan fungsional, memberikan manfaat ekologis dan sosial bagi masyarakat. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan partisipatif dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan sempadan rel untuk meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan di Kota Bandar Lampung. Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau. Sempadan Rel. Persepsi Masyarakat ABSTRACT The city of Bandar Lampung faces challenges in meeting the need for green open spaces (GOS) as mandated by regulations, with the available GOS area falling far below the minimum standard. Railway buffer zones hold significant potential to be optimized as multifunctional green spaces to support sustainable urban environments, enhance social interactions, and create safe and comfortable spaces for the community. This study aims to evaluate the quality of GOS in railway buffer zones based on community perceptions. The methods used include Importance Performance Analysis (IPA) to identify gaps between expectations and reality and Potential Gain Customer Value (PGCV) to prioritize quality improvements. The findings indicate that infrastructure, accessibility, and comfort as gathering spaces show good performance, while security in play areas, waste disposal facilities, and physical environmental conditions require improvement. With planned and data-driven utilization, railway buffer zones can be integrated as relevant and functional GOS, offering ecological and social benefits for the This study recommends a participatory approach in the management and development of railway buffer zones to enhance the quality of urban environments in Bandar Lampung. Keyword: Green Open Space. Railroad Tracks. Community Perception PENDAHULUAN Dalam konteks pengembangan ruang terbuka kota, pemanfaatan ruang yang melibatkan interaksi aktif masyarakat memiliki peran yang sangat penting (Nurlina & Risma. Ruang terbuka berfungsi sebagai arena sosial yang memungkinkan individu untuk berkumpul, berinteraksi, dan membangun Penelitian menunjukkan bahwa karakteristik ruang terbuka yang baik dapat meningkatkan frekuensi dan kualitas interaksi sosial, yang pada gilirannya berkontribusi terhadap kesejahteraan komunitas (Nurhijrah & Wikantaria, 2. Selain itu, keberadaan ruang terbuka hijau publik sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan sehat bagi masyarakat perkotaan, serta mendukung dinamika kehidupan sosial Rahmah. Aziz. Izhar Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 yang positif. Dalam konteks perkotaan yang semakin padat, ruang terbuka hijau (RTH) juga berfungsi sebagai tempat rekreasi sekaligus sarana interaksi sosial yang dapat mengurangi stres dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Febriarto, 2. Namun, banyak kota di Indonesia, termasuk Bandar Lampung, menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan RTH, sebagaimana diamanatkan oleh UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang mewajibkan setiap kota menyediakan minimal 30% dari luas wilayahnya sebagai RTH. Menurut Dokumen Evaluasi RTRW, luas RTH publik di Kota Bandar Lampung saat ini adalah 1. 895,89 hektar . ,61% dari wilayah kot. dikarenakan banyaknya kawasan terbangun. Untuk memenuhi standar minimal, diperlukan tambahan RTH publik hingga mencapai 10,39% atau sekitar 2. Kekurangan ruang terbuka hijau ini dapat berdampak negatif pada kesehatan mental dan fisik penduduk, terutama akibat terbatasnya ruang untuk berinteraksi dan bersantai (Fatmawati et al. , 2. Salah satu kawasan Kota Bandar Lampung yang berpotensi diarahkan sebagai RTH adalah kawasan sempadan rel. Dengan perencanaan yang tepat, sempadan rel dapat mendukung lingkungan kota yang lebih sehat, berkelanjutan, dan inklusif bagi masyarakat Bandar Lampung (Rahma & Supriyanti, 2. Sempadan rel di Kota Bandar Lampung saat ini sebagian besar berada dalam kondisi yang kurang optimal dari segi pemanfaatan Banyak area sempadan rel yang tidak tertata dengan baik, bahkan beberapa di antaranya digunakan untuk aktivitas tidak resmi seperti tempat pembuangan sampah atau pemukiman liar. Selain itu, banyak area di sekitar rel yang tidak dilengkapi dengan fasilitas pendukung sehingga hanya menjadi ruang yang Kondisi mempengaruhi estetika perkotaan tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai masalah lingkungan seperti polusi dan kerawanan sosial. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan ruang terbuka di wilayah perkotaan, kondisi sempadan rel ini menunjukkan perlunya mengintegrasikannya sebagai bagian dari ruang kota yang produktif dan ramah lingkungan (Wahyuningsih, 2. Sempadan rel memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) yang dapat memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat dan lingkungan (Astuti et al. , 2. Dengan pendekatan perencanaan yang terintegrasi, kawasan ini dapat diubah menjadi taman linear yang menarik, area rekreasi publik, atau ruang hijau dengan fungsi ekologis seperti resapan air hujan dan pengurangan polusi udara. Lokasi sempadan rel yang sering kali memanjang dan strategis menjadikannya ideal untuk menghubungkan berbagai kawasan kota, menciptakan jalur hijau yang mendukung mobilitas aktif seperti berjalan kaki dan bersepeda. Pemanfaatan ini juga dapat memperkuat interaksi sosial antarwarga dengan menyediakan ruang yang aman, nyaman, dan Persepsi masyarakat memiliki peranan penting dalam menentukan kriteria ruang terbuka di kawasan sempadan rel, karena masyarakat adalah pengguna utama ruang Pemahaman tentang kebutuhan dan preferensi masyarakat menjadi kunci dalam merancang ruang terbuka yang relevan dan Dalam penelitian ini, metode analisis Importance-Performance Analysis (IPA) akan digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana kebutuhan masyarakat terhadap ruang terbuka telah terpenuhi, sementara metode Potential Gain Customer Value (PGCV) akan membantu mengidentifikasi kesenjangan antara harapan dan kenyataan dalam pemanfaatan ruang sempadan rel. Dengan pendekatan ini, hasil penelitian diharapkan mampu memberikan rekomendasi yang tepat dan berbasis data untuk mengoptimalkan potensi sempadan rel sebagai ruang terbuka hijau yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan Masyarakat. DATA DAN METODE Ruang Terbuka Hijau Untuk memahami kualitas RTH maka data yang diperlukan adalah indikator ideal yang harus dimiliki RTH. Menurut Carmona . ruang terbuka publik merupakan suatu ruang yang kompleks karena ruang tersebut berhubungan dengan segala bagian bangunan dapatdimanfaatkan dengan mudah oleh Rahmah. Aziz. Izhar Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 Masyarakat. Berdasarkan definisi tersebut maka variable RTH meliputi: ycU ycNyaycn = ycycn ycu100%. ycn Table 1. Indikator Ruang Terbuka Hijau Variabel Tata Guna Lahan Indikator Tutupan Lahan Guna Lahan Variabel Relaxation Kepemilikan Lahan Harga Lahan Comfort Jumlah Tanaman Saranan Tempat Sampah Fasilitas Tempat Duduk Fasilitas Lampu Penerangan Kapasitas Parkir Indikator Area Meneduhkan Tatanan Kerapian Tanaman Kebersihan Area Menikmati Suasana Keinginan untuk Menghabiskan Waktu Passive Enggagemenet Kegiatan Dilakukan Active Enggagemenet Tujuan Datang Discovery Keamanan Area Area Bermain Keamanan Pengawasan anak Bermain Kenyamanan sebagai Tempat Berkumpul Keamanan sebagai Tempat Berkumpul Pengelolaan Parkir Kondisi Perkerasan Penataan PKL Sumber: (Carmona, 2. Importance Performance Analysis (IPA) Analisis Importance Performance Analysis (IPA) Merupakan analisis yang kerap digunakan dalam pengukuran tingkat kepuasan konsumen terhadap kualitas pelayanan baik berupa jasa yang dihasilkan manusia, sistem komputer, maupun fasilitas public (Rizqiyah et al. , 2021. Wulan Dari et al. , 2. Dalam penelitian ini RTH menjadi fasilitas publik yang dapat memberikan pelayanan pada Masyarakat melalui elemen fisik dan non fisiknya. Oleh karena itu. IPA dalam penellitian ini digunakan untuk mengukur kualitas pelayanan RTH berdasarkan persepsi Masyarakat. Dalam metoded IPA terdapat dua unsur yang diukur yaitu Tingkat kinerja . yang menjadi kondisi nyata pelayanan saat ini, dan juga Tingkat kepentingan . yang menjadi harapan pengguna. Pengukuran dilakukan dengan skala likert dengan rentang 1 Kedua hasil pengukuran tersebut diformulasikan dengan rumus: Keterangan: TKi : Tingkat kesesuaian responden : Skor penilaian performance : Skor penilaian importance ycuIO ycIO ycuI = Oc ycu ycI = Oc ycu . Keterangan: ycuI : Skor rata-rata tingkat kinerja ycI : Skor rata-rata tingkat kepentingan : Jumlah responden Potential Gain Customer Value (PGCV) Hasil pengukuran dari metode IPA kemudian diolah kembali menggunakan metode Potential Gain Customer Value (PGCV) berdasarkan nilai bobot yang diberikan Potential Gain in Customer Value (PGCV) merupakan suatu pendekatan untuk memprioritaskan upaya peningkatan kualitas Metodologi ini membantu mengidentifikasi areaarea yang memerlukan perbaikan dengan cara yang sistematis, di mana atribut yang memiliki nilai indeks paling tinggi akan mendapat prioritas Melalui penggunaan metode PGCV, organisasi dapat mengalokasikan sumber daya mereka secara lebih efektif dengan fokus pada aspek-aspek yang menawarkan potensi peningkatan terbesar (Dari et al. , 2. Dalam metode PGCV terdapat perhitungan pada unsur yaitu UDCV dan ACV dimana kedua unsur tersebut diformulasikan dengan rumus: yayaycO = ycU. ycUAA. Keterangan: ACV : Nilai pencapaian responden : Skor rata-rata tingkat kepuasan . : Skor rata-rata tingkat kepentingan . ycOyayaycO = ycU. ycUycoycaycuA. Keterangan: : Skor rata-rata tingkat kepentingan Xmax : Nilai performance maksimal pada skala Rahmah. Aziz. Izhar Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 Variabel ycEyayaycO = ycOyayaycO Oe yayaycOA. HASIL DAN PEMBAHASAN Daftar pertanyaan beserta indikator yang digunakan dalam menentukan tingkat kualitas ruang terbuka hijau pada kawasan sempadan rel dapat dilihat pada Tabel 2: Table 2. Kode Variabel Kualitas RTH Variabel Penyediaan ruang terbuka Vegetasi Pernyataan Kode Kondisi tumbuhan yang ada sepanjang kawasan sempadan rel kereta api telah mampu mengurangi dampak negatif . ebisingan dan polus. dari kegiatan Infrastruktur Kondisi Sarana dan prasarana penunjang . istrik, air bersih, drainase, dan fasilitas kesehata. yang ada saat ini telah memenuhi kebutuhan anda Jarak Sempadan Kondisi jarak sempadan rel yang ada di sekitar Anda membuat Anda merasa nyaman dan aman Guna Lahan Kondisi ruang terbuka saat ini di sekitar kawasan permukiman sempadan rel telah memenuhi kebutuhan Anda Aksesibilitas Aksesibilitas . itik Simpangan antara rel dan jalan serta jalan inspeks. di kawasan sempadan rel memudahkan mobilitas anda Kepemilikan Lahan Berdasarkan kawasan sempadan rel ini dapat dimanfaatkan untuk ruang terbuka hijau Kondisi Fisik Lingkungan RTH di area kawasan sempadan rel berada pada lingkungan yang ideal . ukan kawasan rawan bencan. Jumlah Tanaman Jumlah tanaman dan jenis vegetasi yang akan disediakan mampu mendukung preservasi lingkungan dan mengurangi dampak negatif Sarana Tempat Sampah Penempatan sarana pembuangan sampah yang akan disediakan mampu mengatasi permasalahan bau tidak sedap dan estetik Fasilitas Tempat Duduk Sarana tempat duduk yang akan disediakan mampu menjadi tempat istirahat dan Fasilitas Lampu Penerangan Penempatan fasilitas lampu penerangan yang akan disediakan mampu menjadi sumber pencahayaan pada waktu malam Kapasitas Parkir Ketersediaan lahan parkir di sekitar RTH pada kawasan sempadan rel mampu menampung kendaraan pengunjung Pengelolaan Parkir Pengelolaan parkir di sekitar RTH pada kawasan sempadan rel menjadikan lahan parkir RTH tersebut lebih tertib dan terawat Kondisi Perkerasan Rasio area perkerasan atau pemilihan material perkerasan di RTH pada kawasan Kode Penataan PKL Keberadaan PKL di RTH pada kawasan sempadan rel menjadi aktivitas pendukung Area Meneduhkan Pada menyediakan tempat yang sejuk dan meneduhkan untuk pengunjung terutama pada siang hari Tatanan dan Kerapian Tanaman Pengaturan dan kerapian dalam penataan tanaman dapat menciptakan lingkungan yang tertata pada kawasan sempadan rel Kebersihan Area RTH di Kawasan Sempadan rel terjaga kebersihannya tidak terdapat sampah yang Menikmati Suasan Sempadan rel sudah menciptakan suasana dari lingkungan yang tenang dan Penyediaan ruang terbuka di sekitar kawasan sempadan rel telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat Pernyataan sempadan rel berimbang . erdapat area tidak perkerasa. Keingingan Menghabiskan Waktu RTH pada kawasan sempadan rel sesuai atau nyaman digunakan sebagai tempat untuk menghabiskan waktu Keamanan Area Area Bermain Kawasan sempadan rel sudah dapat memberikan rasa aman sebagai area bermain jika ingin dibangun RTH Keamanan Pengawasan Anak Bermain Kondisi ruang terbuka hijau pada kawasan sempadan rel memudahkan pengawasan pada anak yang bermain Kenyamanan Tempat Berkumpul Keamanan Tempat Berkumpul RTH di kawasan sempadan rel sudah bisa membuat nyaman masyarakat Kawasan sempadan rel akan memberikan dapat memberikan rasa aman sebagai lokasi berkumpul dibangun RTH Dari tiap variabel yang ditanyakan dengan metode kuseioner untuk melakukan analisis Importance Performance Analysis didapatkan hasil yang dapat dilihat pada diagram kuadran IPA berikut: Gambar 1. Kuadran Analisis Importance Performance Analysis Berdasarkan diagram di atas, kuadran 1 dimana faktor yang dianggap penting namun masih belum sesuai ekspetasi . ingkat kepuasan masih renda. mempunyai 1 variabel yaitu faktor Rahmah. Aziz. Izhar Indonesian Journal of Spatial Planning. Vol 6. No 1, tahun 2025 keamanan sebagai tempat berkumpul. Kuadran 2 dimana faktor yang dianggap penting dan sesuai dengan ekspetasi . ingka kepuasan relatif lebih tingg. mempunyai 13 variabel yaitu Infrastruktur. Tatanan dan kerapian tanaman. Pengelolaan parkir. Aksesibilitas. Kondisi perkerasan. Penataan PKL. Keinginan untuk menghabiskan waktu. Jumlah tanaman. Fasilitas lampu penerangan. Keamanan pengawasan anak bermain. Jarak sempadan. Kenyamanan sebagai tempat berkumpul, dan Menikmati suasanan. Kuadran 3 dimana faktor yang dianggap kurang penting dan kinerja tidak terlalu istimewa mempunyai sebelas variabel 11 Area yang meneduhkan. Kapasitas parkir. Kondisi fisik lingkungan. Kebersihan area. Fasilitas tempat duduk. Keamanan area untuk area bermain. Kepemilikan lahan. Sarana tempat sampah. Keamanan sebagai tempat berkumpul. Guna lahan. Penyediaan ruang terbuka, dan Vegetasi. Tidak ada faktor yang masuk pada kuadran 4. Faktor yang perlu dipertahankan dalam guna meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau berdasarkan persepsi masyarakat didapatkan pada kuadran 2. Karena itu untuk melakukan analisis PGCV akan difokuskan pada faktor yang berada pada kuadran 2 ini dimana rata rata nilai Performance ada diangka 3. 33 dan nilai Importance ada diangka 3. 70 serta nilai performa maksimal memiliki presentase 89. yang menjadikan yang perlu diperhatikan menjadi 6 faktor utama yaitu. Keamanan area untuk area bermain. Sarana tempat sampah. Area yang meneduhkan. Kondisi fisik lingkungan. Keinginan untuk menghabiskan waktu, serta Keamanan area untuk area bermain. SIMPULAN Berdasarkan masyarakat menjadi kunci dalam menentukan kualitas ruang terbuka hijau (RTH) pada kawasan sempadan rel kereta api di Kota Bandar Lampung, di mana faktor keamanan dan kenyamanan sebagai tempat berkumpul menjadi prioritas utama. Analisis Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa aspek seperti infrastruktur, aksesibilitas, tata kelola parkir, dan penataan tanaman berkinerja baik, namun beberapa aspek seperti keamanan area bermain dan kondisi fisik sebagaimana diidentifikasi melalui analisis Potential Gain Customer Value (PGCV). Dengan potensi sempadan rel yang strategis untuk dioptimalkan sebagai RTH multifungsi, penambahan vegetasi, pengelolaan sampah, dan penguatan keamanan dapat meningkatkan kenyamanan dan mendukung interaksi sosial Penelitian ini merekomendasikan pendekatan partisipatif dalam perencanaan dan pengelolaan RTH sempadan rel agar relevan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus keterbatasan ruang terbuka di Kota Bandar Lampung. REFERENSI