Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni. Media dan Desain Volume 2 Nomor. 4 Juli 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 DOI: https://doi. org/10. 62383/abstrak. Available Online at: https://journal. id/index. php/Abstrak Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari Izza Nurul Imada1*. Nafisah2 Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Indonesia *2204056129@student. id1, 2204056121@student. Alamat: Jalan Prof. Hamka. Ngaliyan. Kota Semarang 50185 Korespondensi penulis: 2204056129@student. Abstract. Abstract This study examines the representation of Islam in the architecture of the KH Hasyim Asy'ari Indonesian Islamic Museum as a symbol of preserving Islamic history and culture in Indonesia. Using a descriptive qualitative method, this study identifies the symbolic and philosophical elements contained in the facade, interior, and circulation of the museum space. The results of the study show that the museum architecture adopts a post-modern style with a triangular pyramid shape that tapers upwards, symbolizing the majesty and sustainability of Islamic civilization. The concept of postmodern space is applied, with unclear boundaries between spaces, creating a continuous visual and functional flow, while providing a harmonious spatial experience for visitors. The arrangement of space and circulation utilizes the principle of postmodern space, where spaces appear separate but remain visually and functionally connected, reflecting diversity and inclusivity in the concept of Islam. The representation of Islam on the museum facade is depicted through a motif that resembles santri sungkem to kyai, a symbol of respect and closeness to religious teachings. The pyramid shape not only adopts world architectural designs, but also has a philosophical meaning related to the majesty, identity, and heritage of Islamic civilization in Indonesia. This study confirms that museum architecture is not only a work of visual art, but also a symbol of Islamic identity that is profound and historically and culturally meaningful. Keywords: Architecture. Indonesian Islamic Museum KH Hasyim Asy'ari. Representation of Islam Abstrak. Abstrak penelitian ini mengkaji representasi Islam dalam arsitektur Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari sebagai simbol pelestarian sejarah dan budaya Islam di Indonesia. Menggunakan metode kualitatif deskriptif, studi ini mengidentifikasi elemen simbolis dan filosofi yang terkandung dalam fasad, interior, serta sirkulasi ruang museum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arsitektur museum mengadopsi gaya post-modern dengan bentuk piramida segitiga yang meruncing ke atas, melambangkan keagungan dan keberlanjutan peradaban Islam. Konsep postmodern space diterapkan, dengan batas antar ruang yang tidak tampak jelas, menciptakan aliran visual dan fungsional yang berkelanjutan, sekaligus memberikan pengalaman ruang yang harmonis bagi Penataan ruang dan sirkulasi memanfaatkan prinsip postmodern space, di mana ruang-ruang tampak terpisah namun tetap terhubung secara visual dan fungsional, mencerminkan keberagaman dan inklusivitas dalam konsep keislaman. Representasi Islam pada fasad museum digambarkan melalui motif yang menyerupai santri sungkem kepada kyai, simbol penghormatan dan kedekatan dengan ajaran agama. Bentuk piramida tidak hanya mengadopsi desain arsitektur dunia, tetapi juga memiliki makna filosofis terkait keagungan, identitas, serta warisan peradaban Islam di Indonesia. Penelitian ini menegaskan bahwa arsitektur museum tidak hanya sebagai karya seni visual, tetapi juga sebagai simbol identitas keislaman yang mendalam dan bermakna historis serta Kata kunci: Arsitektur. Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari. Representasi Islam LATAR BELAKANG Arsitektur aktivitas manusia yang memungkinkan pergerakan manusia dari satu ruang ke ruang yang lainnya serta menciptakan tekanan antara ruang dalam bangunan dan ruang luar bangunan. Arsitektur tidak semata tentang penciptaan ruang, akan tetapi juga tentang estetika bangunan yang akan terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok seperi ranah keteknikan, ranah seni, maupun ranah sosial (Marcella, 2. Arsitektur didefinisikan sebagai dasar sistem organisasi Received: May 19, 2025. Revised: June 02, 2025. Accepted: June 14, 2025. Online Available: June 17, 2025. Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari yang mencakup dari sekumpulan komponen yang memiliki hubungan satu sama lainya serta memiliki keterhubungan dengan lingkungan system, dan memiliki aturan untuk perancangan dan evaluasi (Yeni & Eza, 2. Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1995. Museum merupakan suatu tempat yang digunakan untuk menyimpan, merawat, mengamankan, serta memanfaatkan benda-benda bersejarah bukti materil hasil budaya, guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya (Sepensi, 2. Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari merupakan salah satu contoh bangunan yang di desain dengan elemen arsitektur Islam yang khas, baik dari segi bentuk, fungsi, maupun Museum ini terletak pada Kawasan Wisata Religi Makam Gus Dur serta Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan langsung oleh KH Hasyim AsyAoari untuk mengamalkan ilmunya serta mengajarkannya kepada para santri. Museum MINHA merupakan sebutan dari museum ini mempunyai desain yang cukup menarik, yakni berbentuk piramida terpotong yang menciptakan kesan modern namun masih tetap menghormati tradisi arsitektur Museum ini memiliki peran sebagai pusat edukasi dan informasi mengenai perkembangan islam di Indonesia. Dengan berbagai koleksi artefak yang mencakup Sejarah masuknya islam ke Nusantara dari abad ke 11 hingga ke 19, serta menyuguhkan wawasan mendalam tentang kontribusi islam terhadap kebudayaan dan Sejarah bangsa Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari terletak pada Kawasan Wisata Religi Makam Gus Dur serta Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan langsung oleh KH Hasyim AsyAoari untuk mengamalkan ilmunya serta mengajarkannya kepada para santri. Mulai dibangun pada tahun 2014 hingga 2018 dengan luas lahan sebesar 4,6 hektar, serta memiliki luas bangunan 5. meter persegi dengan anggaran yang ditanggung oleh pemerintah pusat melalui Kemendikbudristek sebesar Rp 30 miliar. Museum ini menyimpan sekitar 200 koleksi barang bersejarah terkait Islam di Indonesia. Koleksi tersebut terbagi di tiga lantai: 120 item di lantai satu, 70 di lantai dua, dan 30 di lantai tiga, sehingga totalnya mencapai 200 koleksi. Saat ini, aktivitas museum baru dibuka untuk pengunjung di lantai satu atau lantai dasar. Masing-masing lantai merepresentasikan perjalanan perkembangan Islam di Indonesia dari masa ke masa. Di lantai satu, tersimpan minimal 120 koleksi yang berasal dari periode awal masuknya Islam di Nusantara antara abad ke-11 hingga 19 M. Koleksi ini meliputi kitab-kitab kuno dari para ulama dari berbagai daerah di Nusantara, artefak, perhiasan, mata uang Islam, prasasti, pakaian, serta hasil rempah-rempah yang pernah dijual oleh saudagar Islam di masa lampau. Sementara itu, di lantai dua, terdapat koleksi pendukung dari abad ke-20 M yang berkaitan ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 dengan gerakan dan munculnya organisasi-organisasi Islam sebelum Indonesia merdeka. lantai tiga, dipamerkan perkembangan Islam di Indonesia pada abad ke-21 M. Indonesia. Museum ini juga menyediakan ruang audiovisual yang dapat menampilkan Sejarah dan perkembangan islam di Indonesia serta menjadikannya tempat belajar yang interaktif bagi para pengunjung. Kajian mengenai representasi Islam dalam arsitektur museum ini penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai Islam diterapkan dan diwakili dalam sebuah ruang publik yang memiliki peran edukatif dan simbolik bagi masyarakat. Deformasi bentuk dari museum ini memiliki makna yang sangat mendalam serta berkaitan erat dengan Berdasarkan latar belakang tersebut, maka menghasilkan rumusan masalah pada penelitian ini adalah berikut ini. Bagaimana estetika bentuk bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari?. Apa gaya arsitektur pada bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari?. Bagaimana representasi islam dalam fasad bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari?. KAJIAN TEORITIS Representasi islam pada bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari ini akan dikaji dengan teori dari Edmund Burke Feldman mengenai estetika bentuk visual. Teori yang digunakan oleh Feldman yaitu: Analisis Deskripsi: mengidentifikasi ciri khas suatu karya agar dapat memperoleh fakta yang dapat digunakan sebagai petunjuk interpretasi dan maksud dari karya tersebut. Analisis Formal: mengamati hubungan di antara berbagai bagian pandangan yang ditampilkan, kemudian memecahkan hasil yang diperoleh dari keterkaitan tersebut. Interpretasi: mengungkapkan interpretasi tentang apa maksud sejati atau apa konsep yang melekat di balik suatu karya tampak. Penilaian: merupakan paduan dari pengamatan terhadap kaitan yang terjadi antar bagianbagian dalam karya kesenian yang ditinjau. Teori ini juga menggunakan dasar teori Ikonologi dan Ikonografi dari sudut pandang Erwin Panofsky. Metode Panofsky dalam mempelajari karya dalam perspektif sejarah seni terdiri atas langkah deskripsi pra-ikonografi, tahap analisis ikonografi, dan tahap interpretasi Tahap awal analisis karya seni, pra-ikonografi adalah mengidentifikasi tema atau subjek utama secara faktual dan ekspresinya. Pada tahap ini diperlukan prinsip koreksi sejarah gaya yang dimaknai sebagai sudut pandang tentang bagaimana obyek diekspresikan oleh dunia bentuk di bawah berbagai kondisi sejarah. Tahap berikutnya adalah tahap analisis ikonografi Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari dengan membahas tema atau subjek tambahan yang bersifat konvensional. Pada tahap ini, makna faktual dan ekspresi yang diidentifikasi pada tahap sebelumnya akan dihubungkan dengan tema dan konsep khusus yang membentuk gambaran, cerita, serta perlambangan yang terdapat pada karya seni. Tahap terakhir adalah tahap interpretasi ikonologi yang menekankan pada pemaknaan mendalam. Dengan kata lain, menyusun makna simbolis yang terkandung dalam karya tersebut. Kehadiran berbagai simbol dalam lukisan tidak lepas dari intuiti dan sintesis sang seniman yang merefleksikan pemikiran serta pandangan hidup yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya. Tahap ini bertujuan memahami makna intrinsik yang disampaikan melalui simbol-simbol yang hadir dalam karya seni. METODE PENELITIAN Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis guna memperoleh pemahaman mendalam mengenai representasi Islam yang terdapat pada bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi aspek sosial, budaya, dan filosofis yang kompleks, khususnya terkait representasi atau makna yang terdapat dalam Museum MINHA. Dalam penelitian ini, metode kualitatif berfokus pada proses, bukan hanya hasil, sehingga analisis deskriptif akan mengidentifikasi masalah, memfokuskan kajian, dan mengolah hasil setelah penelitian selesai. Pendekatan kualitatif akan memungkinkan penulis untuk memahami dan mengeksplorasi makna-makna secara mendalam dari bentuk fasad dari museum tersebut, serta konteks historis dan kultural di sekitarnya. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, dengan meninjau berbagai referensi seperti buku, majalah, dan dokumen yang relevan. HASIL DAN PEMBAHASAN Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari terletak pada Kawasan Wisata Religi Makam Gus Dur serta Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang didirikan langsung oleh KH Hasyim AsyAoari untuk mengamalkan ilmunya serta mengajarkannya kepada para santri. Mulai dibangun pada tahun 2014 hingga 2018 dengan luas lahan sebesar 4,6 hektar, serta memiliki luas bangunan 5. 000 meter persegi dengan anggaran yang ditanggung oleh pemerintah pusat melalui Kemendikbudristek sebesar Rp 30 miliar. Museum ini menyimpan sekitar 200 koleksi barang peninggalan sejarah Islam di Indonesia. Koleksi tersebut terbagi di tiga lantai: 120 koleksi di lantai satu, 70 koleksi di lantai dua, dan 30 koleksi di lantai tiga, sehingga totalnya mencapai 200 koleksi. Saat ini, aktivitas ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 museum baru dibuka untuk pengunjung di lantai satu atau lantai dasar. Masing-masing lantai merepresentasikan perjalanan Islam di Indonesia dari masa ke masa. Pada lantai 1, setidaknya menyimpan 120 koleksi barang dari perkembangan tahap awal Di Museum ini, pengunjung dapat mengetahui perkembangan Islam di Nusantara dari abad ke11 hingga ke-19 M. Selain itu, terdapat koleksi kitab-kitab kuno para ulama dari berbagai penjuru Nusantara, artefak, perhiasan, mata uang Islam, prasasti, pakaian, serta hasil rempahrempah yang pernah dijual oleh saudagar Islam pada zaman dahulu. Pada lantai 2, dipamerkan koleksi penunjang dari abad ke-20 M yang berkaitan dengan zaman pergerakan dan munculnya organisasi Islam sebelum kemerdekaan Indonesia. Sementara itu, lantai 3 digunakan untuk menggambarkan perkembangan Islam di abad ke-21 M, menunjukkan evolusi dan dinamika keislaman di era modern. Estetika Bentuk Bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari Di dalam ilmu arsitekur, terdapat 7 . prinsip dasar dalam mendesain arsitektur bangunan yang akan digunakan untuk membahas estetika bentuk bangunan pada Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari. Keseimbangan (Balanc. Gambar 1. Bangunan Keseimbangan dalam sebuah bangunan arsitektur sangatlah diperhatikan. Pada fasad bangunan museum ini tampak tidak seimbang dengan bentuk segitiga yang dibelah Irama Gambar 2. Foto dari Samping dan Foto Atap Sumber: Picture Google Maps Irama pada museum ini dapat dilihat pada tekstur atap yang yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri atap berbentuk segitiga. Artinya, terdapat pengulangan dengan pola yang sama dan Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari Point of Interest Gambar 3. Monumen At-Tauhid Sumber: detik. Pada halaman depan Museum ini terdapat salah satu objek yang dapat dijadikan sebagai point of interest atau menjadi satu titik tertentu yang dapat menarik seseorang maupun beberapa Objek tersebut yakni AuMonumen at TauhidAy yang berbentuk kubus dengan berisikan tulisan-tulisan 99 nama Allah. Hal inilah yang dapat menjadi daya tarik para pengunjung Ketika berkunjung ke Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari ini. Skala Gambar 4. Interior Museum Sumber: jatim. com Instagram/sefhiahelmayanti Pada bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari ini memiliki langit-langit yang sesuai dengan proporsi skala sehingga tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek sehingga dapat memberikan kesan dan suasana yang nyaman bagi para pengunjung. Proporsi Gambar 5. Letak Museum Sumber: Google Maps Proporsi dalam dunia arsitektur yakni kesesuaian dimensi dari elemen arsitektur dengan lingkungan sekitar. Kawasan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari ini memiliki letak bangunan yang sesuai dengan proporsi serta posisi bangunan terletak pada tengah-tengah kawasan pondok pesantren Tebuireng dan makam Gus Dur. ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 Komposisi Dalam desain arsitektur, komposisi adalah pengaturan elemen-elemen secara menyeluruh agar alur pergerakan pengunjung menjadi lebih nyaman dan alami. Komposisi yang baik menciptakan transisi atau perpindahan antar ruang yang lancar tanpa perubahan yang terlalu mendadak. Pada Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari, prinsip ini diterapkan dengan baik. Setiap lantai memiliki fungsi ruang tersendiri yang sesuai dengan tema koleksi yang Lantai 1 menyimpan sekitar 120 koleksi yang menggambarkan perkembangan awal Islam di Nusantara dari abad ke-11 hingga ke-19 M. Lantai 2 berisi koleksi penunjang dari abad ke-20 M, terkait zaman pergerakan dan munculnya organisasi Islam sebelum Indonesia. Sedangkan lantai 3 digunakan untuk perkembangan Islam di abad ke-21 M. Pengaturan ini menjadikan arsitektur museum memiliki komposisi yang menarik dan harmonis, sehingga pesan dan isi museum dapat disampaikan dengan baik dan mudah dipahami oleh pengunjung. Kesatuan (Unit. Gambar 6. Interior Museum Sumber: jatim. com Instagram/sefhiahelmayanti Kesatuan dalam desain arsitektur merupakan keterpaduan dari beberapa unsur menjadi satu kesatuan yang utuh dan serasi. Pada gambar diatas menunjukkan bahwa bentuk, ukuran, tulisan, pada salah satu interior ruang nampak sama antara satu dengan lain, ditambah dengan penataan papan informasi pada dinding yang tampak seperti bergiliran antara panjang dan pendek guna tampak berbeda serta menghasilkan sesuatu yang indah pada ruang tersebut. Gaya Arsitektur pada Bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari Arsitektur Post Modern Post-modernisme merupakan salah satu reaksi terhadap pergeseran dan kekurangan dari arsitektur modern. Gerakan ini menempatkan diri sebagai bentuk kritik dan dialektika terhadap pemikiran modernisme. Post-modernisme berperan dalam melakukan revisi terhadap Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari kesalahan yang muncul pada gerakan arsitektur modern, terutama terkait kecenderungannya yang bersifat tunggal dan bersifat universal. Menurut Kawatu . , post-modernisme menolak pandangan bahwa satu gaya atau pendekatan arsitektur tertentu dapat berlaku secara universal tanpa memperhatikan konteks lokal, budaya, dan keberagaman. Sebaliknya, gerakan ini menekankan pentingnya keberagaman, simbolisme, dan makna yang lebih kompleks dalam desain arsitektur, serta mengajak untuk lebih fleksibel dan kreatif dalam merancang bangunan dan ruang. Arsitektur postmodern mulai dikenal sejak dekade 1970-an sebagai tanggapan atas modernisme. Gaya ini muncul akibat kejenuhan terhadap pendekatan fungsionalisme yang terlalu fokus pada aspek Sebagai contoh, pemanfaatan elemen geometris tertentu dianggap tidak memiliki fungsi nyata. Selain itu, arsitektur modern yang berkembang saat itu dinilai kurang bervariasi. Postmodernisme mencoba mengubah pandangan modernisme yang cenderung memutus keterkaitan dengan seni dan arsitektur klasik. Kadang-kadang, postmodernisme berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai arsitektur dengan mengadopsi elemen tradisional dan memberikan pilihan gaya serta bentuk yang lebih luas bagi para perancang. Gaya ini juga berusaha melestarikan bangunan bersejarah dengan mengintegrasikannya dengan bangunan baru agar saling melengkapi. Meskipun tidak sepopuler desain arsitektur lainnya, arsitektur postmodern terus berkembang hingga tahun 1990-an. Konsep arsitektur Postmodern sangat memengaruhi tampilan bangunan yang beraneka ragam bentuknya dan mencerminkan identitas bangunan dalam lingkungan sekitarnya. Beberapa tokoh penting yang berpengaruh dalam arsitektur postmodern termasuk Aero Saarinen. Charles Moore. Frank Gehry. Peter Eisenman. Philip Johnson, dan Michael Graves. Ciri utama dari Arsitektur Post-Modern adalah sifatnya yang tidak rasional dan neosculptural, berbeda dengan Arsitektur Modern yang lebih mengedepankan rasionalitas dan Bangunan dalam arsitektur post-modern sering dihiasi dengan ukiran dan ornamenornamen mencolok yang terinspirasi dari zaman Baroque dan Renaissance, sehingga menampilkan keindahan yang lebih dekoratif dan simbolik. Menurut Budi Sukada . , terdapat 10 ciri utama dari Arsitektur Post-Modern, yaitu: Mengandung unsur komunikasi yang bersifat lokal atau populer, menyesuaikan dengan budaya setempat. Membangkitkan kembali tenaga kenangan atau aspek historis dari masa lalu. Berkonteks urban, sesuai dengan lingkungan perkotaan dan kehidupan modern. Menerapkan kembali teknik ornamentasi yang khas dan dekoratif. Bersifat representasional, yaitu mampu mewakili seluruh makna atau identitas tertentu. ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 . Berwujud metafora, yang dapat memiliki arti lain atau simbolik. Dihasilkan dari partisipasi pengguna atau masyarakat. Mencerminkan aspirasi umum dan kebutuhan sosial masyarakat. Bersifat plural, mengakomodasi berbagai unsur budaya dan gaya. Bersifat ekletik, menggabungkan berbagai elemen dan gaya dari berbagai zaman dan Karakteristik ini menunjukkan bahwa arsitektur post-modern lebih fleksibel, simbolik, dan berorientasi pada konteks sosial serta budaya. Charles Jenks, seorang tokoh arsitektur modern, mengidentifikasi ciri-ciri arsitektur postmodern sebagai berikut: Ideological adalah ide yang digunakan untuk memberikan arah agar pemahaman postmodern bersifat terstruktur dan terarah. Stylist adalah cara, bentuk, dan penampilan yang unik dalam arsitektur postmodern. Design Idea adalah ide-ide yang menjadi dasar dalam perancangan arsitektur postmodern Pembagian arsitektur post modern oleh Charles Jenks menjadi enam aliran yaitu: Historicism Aliran arsitektur Historicism menggunakan gaya arsitektur klasik dalam bangunan yang dicampur dengan desain modern. Gambar 7. Tampak Depan Teater Taman Ismail Maszuki Sumber: https://ejournal. id/index. php/dekons/article/view/2905/2244 . Straight Revivalism Aliran arsitektur Straight Revivalism sulit untuk menghilangkan pengaruh gaya yang sudah menjadi bagian dari masyarakat. Arsitektur postmodern dengan aliran ini muncul sebagai respon terhadap arsitektur modern. Arsitektur postmodern menolak tuntutan modern bahwa sebuah bangunan harus mencerminkan kesatuan. Sebaliknya, karya postmodernisme mencoba menunjukkan gaya, bentuk, dan corak yang bertentangan. Gambar 8. Moscow State University Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari Sumber: https://w. com/2018/09/arsitektur-straight-revivalism-lengkap. Neo-Vernocular Aliran arsitektur Neo-Vernocular adalah jenis arsitektur yang dibangun oleh masyarakat menggunakan sumber daya setempat dan teknologi sederhana. Arsitektur ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan karakteristik yang mencerminkan nilai ekonomi dan budaya masyarakat Gambar 9. MuseumNegeri Bengkulu Sumber: https://journal-laaroiba. com/ojs/index. php/reslaj/article/view/3200/2846 . Contextualism Aliran arsitektur Contextualism adalah salah satu aliran dari post-modernisme yang memperhatikan lingkungan dalam penempatan bangunan agar dapat menciptakan komposisi lingkungan yang serasi. Aliran kontekstual sering disebut sebagai aliran Urbanism. Gambar 10. Hotel Asia Sumber: Jenks. Venturi. Phillip Jhonson, and Michael Graves. "Arsitektur Post-Modern. Metaphor Metaphysical Aliran arsitektur Metaphor Metaphysical dalam arsitektur diciptakan melalui implementasi ide desain. Melalui proses desain, konsep tersebut diubah menjadi bentuk tiga dimensi dalam sebuah ruang. Tekstur, bentuk, dan warna direncanakan untuk menciptakan kualitas visual yang unik dalam ruang. Gambar 11. Museum Tsunami Aceh ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 Sumber: https://ojs. id/index. php/arsitekno/article/view/1207/709 . Post-Modern Space Aliran arsitektur Post-Modern Space menunjukkan bagaimana ruang dibentuk dengan menggabungkan berbagai komponen bangunan itu sendiri, srukturnya memiliki ciri-ciri abstrak yang merupakan pengembangan dari grid kartesius, tetapi tetap rasional dan logis, dan batas antar ruang yang tercipta tidak terlihat jelas dan seolah-olah tidak terbatas. Post modern Space berfokus pada desain spatial interpenetration di mana dua atau lebih ruang yang berbeda dapat digabungkan secara tumpang tindih dan bertemu, menciptakan aliran ruang yang Gambar 12. Guggenheim Museum Sumber: https://leoniassetica. com/2010/01/arsitektur-post-modern. Gaya Arsitektur Museum KH Hasyim AsyAoari . Fasad Gambar 13. Fasad Museum KH Hasyi AsyAoari Sumber: Mengintip Isi Museum Islam Indonesia KH. Hasyim Asy'ari - Moderatpers Museum Islam Indonesia K. Hasyim AsyAoari memiliki desain fasad yang menciptakan identitas unik ditandai dengan bentuk simbolik menyerupai semi piramida, bentuk pramida modern futuristik terinspirasi dari arsitektur islam yang sering menggunakan geometri sebagai makna religius yang melambangkan kestabilan, keagungan, dan keindahan Islam. Elemen geometris pada fasad pun, memberikan sentuhan khas arsitektur Islami yang menciptakan multivalensi dimana struktur bangunan memadukan segitiga besar dan panel-panel vertikal yang mempunyai makna sebagai bangunan religius sekaligus modern. Atap Museum Islam Indonesia K. Hasyim AsyAoari mempunyai bentuk atap miring yang unik menyerupai piramida yang sering diasosiasikan dengan sesuatu yang menjulang ke atas, melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan. Fasad dari bangunan Museum Islam Indonesia K. Hasyim Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari AsyAoari memperhatikan efisiensi baik dari struktur maupun fungsi yang terlihat terdapat material seperti panel kaca dan logam yang memberikan kesan futuristik memungkinkan cahaya matahari masuk dan membantu sirkulasi udara yang baik sekaligus menambah estetika bangunan yang melambangkan keterbukaan Islam. Kombinasi bentuk dan warna-warna netral pada fasad mencerminkan kesederhanaan, seperti warna abu-abu dan kuning kecoklatan menambahkan fasad memiliki kesan elegan. Di bagian depan museum terdapat elemen lanskap berupa tanaman hijau dan taman kecil yang menciptakan keseimbangan antara arsitektur dan alam serta memberikan nuansa sejuk. Nama museum yang tertulis dengan huruf besar di bagian depan menjadi elemen visual yang mencolok, menjadikan museum mudah dikenali sebagai representasi Islam dan menambah daya tarik. Kawasan Gambar 14. Museum KH Hasyim AsyAoari Sumber: Dokumentasi Proyek PT. Utomodeck Metal Works Gambar 15. Tampak Atas Sumber: Google Maps Pada kawasan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari ini masih termasuk pada Kawasan Lembaga Pendidikan yang didirikan oleh KH Hasyim AsyAoari. Berdasarkan gambar diatas banyak vegetasi disekitar Kawasan sehingga dapat memberikan sirkulasi udara yang baik dan maksimal. Sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki juga nampak terpisah sehingga dapat menunjang keamanan, keselamatan, dan kenyamanan bagi pengunjung. Pada tata ruang Kawasan terlihat bahwa adanya pengelompokan pada sekitar museum seperti terdapat bagian lembaga pendidikan dan objek wisata yang masih dalam Kawasan yang sama namun terpisah sehingga tidak mengganggu aktivitas antara satu sama lain. ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 . Atap Gambar 16. Desain Atap Museum Islam Indonesia. Bagian Putih yang Berbentuk Mirip Huruf X dalam Gambar Tersebut yang Dipasangi Atap Bermotif Alang-Alang Produksi PT. Utomodeck Metal Works Sumber: Istimewa Atap pada Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari dikerjakan langsung oleh PT. Utomodeck dengan motif alang-alang warna kuning kecoklatan dengan atap baja ringan. Tipe atap yang dipilih yakni tipe utomozip, salah satu atap unggulan dari PT. Utomodeck yang diproduksi secara langsung. Utomozip memiliki Kelebihan dari sistem pemasangan atap tanpa baut tipe standing seam yang diterapkan pada desain melengkung dan mengerucut meliputi kemampuannya untuk menghindari penggunaan baut yang dapat merusak atap serta mengurangi risiko kebocoran di area tumpang tindih. Teknologi seam yang digunakan pada sambungan antar lembaran ini memungkinkan pemasangan yang lebih rapi dan tahan lama, serta memudahkan penyesuaian panjang profil sesuai kebutuhan proyek. Selain itu, sistem ini memudahkan proses pemasangan karena dilakukan pada empat sisi, dengan setiap sisi terdiri dari sejumlah lembar atap yang panjangnya dapat disesuaikan, sehingga cocok untuk bentukbentuk bangunan yang kompleks seperti museum. Penggunaan flashing pada setiap sudut ujung lembaran berfungsi sebagai pelindung tambahan untuk mencegah kebocoran saat hujan, meningkatkan ketahanan bangunan terhadap Keunggulan lain adalah tampilan yang bersih dan modern tanpa hambatan visual dari baut atau sambungan eksternal, mendukung aspek estetika arsitektur post-modern yang mengutamakan makna simbolik dan inovasi. Aspek bentuk Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari yang mengadopsi arsitektur post-modern dengan aliran metafora memperkuat karakter bangunan sebagai simbol dan representasi budaya. Penggunaan sistem atap ini tidak hanya menunjang aspek teknis, tetapi juga memperkuat makna simbolik dan estetika yang ingin disampaikan, menjadikan bangunan sebagai karya arsitektur yang bernilai filosofis dan artistik. Berdasarkan hasil penjelasan diatas bahwa bangunan ini tampak seperti piramid yang berbentuk segitiga mengerucut ke atas. Sisi lain bangunan museum ini juga menggunakan postmodern space, dikarenakan tetap rasional Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari dan logis serta batas antar ruang tidak terlihat jelas dan seolah-olah tidak terbatas dan dapat digabungkan secara tumpang tindih dan bertemu menciptakan aliran yang berkelanjutan pada bagian atas atap. Berdasarkan penataan ruang dan sirkulasi, dapat dikategorikan sebagai postmodern space. Meskipun ruang-ruang nampak terpisah akan tetapi aslinya terhubung. Eksterior dan Interior Museum KH Hasyim AsyAoari Eksterior Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari tidak hanya dirancang untuk menciptakan kesan monumental dan modern tetapi juga dirancang secara fungsional dengan memperhatikan aksesibilitas untuk pengunjung dari berbagai kalangan, termasuk penyandang disabilitas dan tata ruang terbuka yang luas dirancang untuk memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi pengunjung. Estetika bentuk bangunan geometris yang ikonik menjadikan museum sebagai arsitektur kontemporer yang mempunyai kaya makna simbolik. Efisiensi energi memanfaatkan desain fasad yang tidak hanya estetis tetapi juga mendukung pencahayaan masuk melalui panel kaca besar dari lantai satu sampai lantai lima sehingga menciptakan suasana yang nyaman. Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari memiliki area lanskap yang luas, termasuk taman hijau dan pepohonan ini menunjukkan keseimbangan visual antara struktur bangunan dan keterpaduan dengan lingkungan sekitar. Gambar 17. Eksterior Bangunan dan Interior Bangunan Sumber: Transformasi Terbaru Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy'ari Interior Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari merancang tata ruang agar memungkinkan alur kunjungan yang jelas dan terorganisir, dapat dilihat mulai dari lantai satu hingga lantai empat, bangunan ini menjadi kawasan transformasi pengetahuan yang mengulas secara mendalam tentang sejarah masuknya Islam ke Indonesia. Setiap lantai dirancang untuk menyajikan informasi dan pengalaman yang memperkaya pemahaman pengunjung mengenai proses dan perkembangan penyebaran Islam di Nusantara. Melalui berbagai pameran, koleksi, dan fasilitas edukatif, kawasan ini memungkinkan pengunjung menyelami perjalanan sejarah, budaya, dan peran penting Islam dalam pembentukan identitas bangsa Indonesia. Dengan demikian, seluruh area ini berfungsi sebagai pusat edukasi yang mendukung pemahaman yang mendalam dan holistik mengenai masuknya Islam ke Indonesia dari masa ke masa. Beberapa ruang terdapat galeri-galeri pameran yang menampilkan koleksi artefak sejarah Islam ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 Indonesia, seperti benda bersejarah dan dokumentasi sejarah tokoh-tokoh Islam Nusantara. Terdapat ruang yang memusatkan perhatian pada tokoh K. Hasyim AsyAoari sebagai figur utama didukung dengan tata letak interior yang memberi ruang khusus untuk menampilkan kontribusi beliau dalam Islam Nusantara. Interior Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari menciptakan keseimbangan antara fungsi edukasi, estetika Islami, dan pengalaman dengan elemen dekoratif yang menjadikan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari tidak hanya menginformasikan sejarah tetapi juga menginspirasi pengunjung untuk memahami nilainilai toleransi, persatuan, dan kontribusi Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Representasi islam dalam fasad bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari Terdapat beberapa aspek dalam fasad Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari ini yang sesuai dengan arsitektur serta berkaitan dengan makna atau representasi dalam islam. Gambar 18. Museum KH Hasyim AsyAoari Sumber: Dokumentasi Proyek PT. Utomodeck Metal Works Pada tampak fasad dapat dilihat bahwa bagian sisi kanan fasad memiliki segitiga yang lebih tinggi dibanding dengan segitiga disebelah kanan yang nampak seperti santri yang sedang tunduk atau sungkem kepada kyainya. Mengingat bahwa museum ini masih masuk dalam kawasan pondok pesantren yang sangat kental akan ajaran islam bahwa santri yang sungkem kepada kyai nya ini menunjukkan akan penghormatan yang diberikan santri tersebut kepada sang kyai atas ilmu yang telah diberikan selama di pesantren. Dapat diartikan juga bahwa santri yang sungkem kepada kyai nya ini ialah sebagai bentuk ngalap barokah atau mengharap berkah dari sang kyai. Gambar 20. Piramida Giza di Mesir. dan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari Sumber: Google Maps Selain itu, pada tampak atas museum ini tampak seperti piramid seperti pada piramida di giza. Mesir. Hal ini menunjukkan bahwa adanya adaptasi bentuk yang diambil dari arsitektur dunia, tetapi tidak hanya berkaitan dengan itu, juga mengandung makna filosofis yang erat Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari kaitannya dengan nilai-nilai Islam, seperti keagungan. Bentuk piramida yang telah menjadi warisan peradaban manusia selama ribuan tahun, dipilih sebagai simbol yang sesuai untuk menggambarkan fungsi Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari sebagai sejarah, identitas, dan warisan budaya Islam di Indonesia. Penerapan bentuk desain piramida ini juga menggambarkan bahwa konsep arsitektur modern menggabungkan dengan konsep Piramida Giza di Mesir, desain piramida ini merupakan peninggalan besar dari era dinasti FirAoaun. Referensi mengenai piramida ini ditemukan dalam Kitab Suci Al-QurAoan, yang diwahyukan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sekitar 1. 400 tahun yang lalu. Nabi Muhammad, yang tidak dapat /membaca dan menulis, tidak memiliki catatan pernah mengunjungi Mesir semasa hidupnya. Dalam konteks arkeologi. Al-QurAoan dianggap sebagai artefak karena isinya tetap terjaga keasliannya hingga saat ini. Salah satu ayat yang merujuk pada piramida besar terdapat juga dalam Kitab suci Al-QurAoan dalam Surat Al-Fajr Ayat 10. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penjelasan diatas bahwa bangunan ini tampak seperti piramid yang berbentuk segitiga mengerucut ke atas. Sisi lain bangunan museum ini juga menggunakan postmodern space, dikarenakan tetap rasional dan logis serta batas antar ruang tidak terlihat jelas dan seolah-olah tidak terbatas dan dapat digabungkan secara tumpang tindih dan bertemu menciptakan aliran yang berkelanjutan pada bagian atas atap. Berdasarkan penataan ruang dan sirkulasi, dapat dikategorikan sebagai postmodern space. Meskipun ruang-ruang nampak terpisah akan tetapi aslinya terhubung. Eksterior museum dirancang fungsional dengan akses mudah bagi semua pengunjung, termasuk penyandang disabilitas. Bangunan geometris ikonik memberikan kesan arsitektur kontemporer yang kaya makna simbolik. Desain fasad kaca besar mendukung pencahayaan alami untuk efisiensi energi. Museum dilengkapi lanskap luas dengan taman hijau, menciptakan keseimbangan visual antara struktur dan lingkungan. Tata ruang dirancang untuk alur kunjungan yang jelas dan teratur, membentuk kawasan transformasi pengetahuan sejarah masuknya Islam di Indonesia. Museum memiliki galeri pameran yang menampilkan koleksi artefak sejarah Islam Indonesia, serta ruang khusus tentang sosok K. Hasyim Asy'ari. Interior museum menciptakan keseimbangan antara fungsi edukasi, estetika Islami, dan pengalaman bagi pengunjung. Elemen dekoratif tidak hanya menyampaikan informasi sejarah, namun juga menginspirasi pemahaman mengenai nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kontribusi Islam dalam kehidupan masyarakat. ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025 e-ISSN: 3032-1670. p-ISSN: 3032-2456. Hal 33-50 Dalam representasi islam pada fasad bangunan Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari ini dapat dilihat bahwa tampak fasad seperti gambaran seorang santri yang sedang sungkem kepada kyai nya guna memperoleh berkah dari sang kyai. Museum ini menyerupai bentuk piramida seperti Piramida Giza di Mesir. Hal ini mencerminkan adanya adaptasi desain dari arsitektur dunia, namun tidak hanya sekadar itu, melainkan juga makna filosofis yang berhubungan erat dengan nilai-nilai Islam, seperti keagungan. Bentuk piramida, yang telah menjadi simbol warisan peradaban manusia selama ribuan tahun, dipilih untuk merepresentasikan peran Museum Islam Indonesia KH Hasyim AsyAoari sebagai wadah sejarah, identitas, dan warisan budaya Islam di Indonesia. DAFTAR REFERENSI Agung. Kartasudjana. , & Permana. Estetika Nusantara dalam karakter gim Lokapala. Gorga: Jurnal Seni Rupa, 10. , 473Ae477. Aini. Arsitektur post-modern. Rumoh Journal of Architecture, 9. , 4Ae8. https://doi. org/10. 37598/rumoh. Ariotejo. Thahir. , & Tundono. Penerapan konsep arsitektur postmodern pada fasad bangunan museum. Prosiding Seminar Intelektual Muda, 2. https://doi. org/10. 25105/psia. Dafrina. Penerapan arsitektur metafora pada Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh. Arsitekno, 2. , 1Ae8. https://doi. org/10. 29103/arj. Ikhwanuddin. Menggali pemikiran posmodernisme dalam arsitektur. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Ilmy. , & Muali. Urgensi keterlibatan wali asuh dalam dinamika pendidikan di pesantren. Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studie. , 6. , 44Ae66. https://doi. org/10. 15642/jpai. Jenks. Venturi. Johnson. , & Graves. Arsitektur post-modern. (Informasi publikasi tidak lengkapAiperlu ditambahkan jika tersedia. Kawatu. Arsitektur high-tech: Kajian karya arsitektural. Penerbit Tahta Media. https://tahtamedia. id/index. php/issj/article/view/415 Khairi. The continuity of Amrus NatalsyaAos populist paradigm: Iconographyiconology review of AuTanah AirkuAy . Ekspresi Seni: Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Karya Seni, 21. , 67Ae83. Kustiyaningsih. , & Rahmanita. Arsitektur sistem informasi perusahaan. Jakarta: Media Nusa Creative. Marcella. Arsitektur & perilaku manusia. Jakarta: Grasindo. Melihat koleksi Museum Hasyim Asy'ari di Jombang yang gambarkan sejarah Islam Indonesia. Jatim Times. (Link tidak tersedia Ae tambahkan jika ad. Raspati. Hipotesis pendekatan fungsi Piramida Besar (Mesi. History & Future Book Store. Representasi Islam pada Bangunan Museum Islam K. Hasyim AsyAoari Sepensi. Cerdas cermat museum. Lombok Barat: Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia. Utomodeck Metal Works. Atap motif alang-alang Utomodeck menambah elok Museum Islam Indonesia. PT. Utomodeck Metal Works. (Link atau tanggal akses perlu ditambahkan jika onlin. ABSTRAK Ae VOLUME 2 NOMOR. 4 JULI 2025