JURNAL ILMIAH KESEHATAN RUSTIDA| Page : 214 - 225 Vol. 12 No. 02 Juli 2025 | p-ISSN2356-2528. e-ISSN 2620-9640 DAMPAK KERJA SHIFT TERHADAP KESEHATAN REPRODUKSI: KAJIAN SISTEMATIS PADA TENAGA KESEHATAN WANITA Restiana Kartika Mantasti Hapsari1CA Email:restianahapsari@ulm. id (Corresponding Autho. Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat Ihya Hazairin Noor2 Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat Mufatihatul Aziza Nisa3 Departemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat Fakhriyah4 Departemen Kesehatan Reproduksi,Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Lambung Mangkurat ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kerja shift terhadap kesehatan reproduksi tenaga kesehatan wanita, dengan fokus utama pada prevalensi gangguan siklus menstruasi. Tinjauan sistematis dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA dengan menelusuri artikel dari database PubMed. CINAHL. Embase, dan Scopus untuk periode 2020Ae2025. Sebanyak 14 studi observasional dan metaanalisis yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa prevalensi gangguan menstruasi lebih tinggi pada tenaga kesehatan wanita yang bekerja shift dibandingkan dengan non-shift, yaitu berkisar antara 31,5% hingga 60,2%. Gangguan yang paling sering dilaporkan adalah siklus menstruasi tidak teratur, dismenore, dan menopause dini. Peningkatan prevalensi ini berkaitan erat dengan gangguan ritme sirkadian, stres kerja, dan perubahan hormonal akibat pola kerja yang tidak teratur. Temuan ini menunjukkan bahwa kerja shift merupakan faktor risiko signifikan terhadap gangguan siklus menstruasi pada pekerja wanita, sehingga diperlukan kebijakan dan intervensi preventif di lingkungan kerja. Kata kunci: Gangguan menstruasi, kesehatan reproduksi wanita, kerja shift, tenaga kesehatan Dampak Kerja Shift Terhadap Kesehatan Reproduksi. Ristiana Kartika Mantasti Hapsari dkk PENDAHULUAN Sistem kerja shift, yang umum diterapkan dalam sektor pelayanan kesinambungan perawatan pasien (Joo, 2. mengharuskan pekerja kesehatan, terutama perawat, untuk seringkali bekerja dengan jadwal yang tidak standar, termasuk shift malam dan shift bergilir (CzySzypenbejl ModrzyckaDIbrowska. Tuntutan pelayanan kesehatan selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu memerlukan pengaturan jam kerja yang fleksibel. Namun, sistem kerja shift dapat mengganggu ritme berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap berbagai proses fisiologis, termasuk siklus menstruasi (Hu et al. , 2. Gangguan ritme sirkadian beraktivitas dan beristirahat pada waktu yang tidak sesuai dengan jam biologis tubuh yang disinkronkan oleh siklus terang dan gelap (Zee & Abbott, 2. Gangguan siklus keteraturan, frekuensi, durasi, atau intensitas menstruasi (Mao et al. , seperti siklus yang tidak teratur, dismenore . enstruasi yang menyakitka. , dan menopause dini (Potey et al. , 2. , terhadap kesehatan wanita, kualitas hidup, dan potensi fertilitas mereka (Hu et al. , termasuk ketidaknyamanan fisik, tekanan emosional, kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, hingga (Ramezanifar et al. , 2. Pekerja terdepan, yang sebagian besar adalah wanita, menghadapi tekanan dan beban kerja yang besar, yang dapat memperburuk efek kerja shift (Hu et al. , 2. Tuntutan pekerjaan yang tinggi, ditambah dengan jam kerja yang tidak teratur, menciptakan tantangan tersendiri bagi kesehatan mereka, dan studi awal menunjukkan adanya kaitan antara kerja shift dengan menstruasi yang tidak teratur, gangguan reproduksi, dan hasil kehamilan yang merugikan , yang mengarah pada potensi bahaya pekerjaan bagi wanita yang bekerja shift. (Czy-Szypenbejl & Modrzycka-DIbrowska, 2. Penelitian ini penting untuk memahami dampak gangguan siklus menstruasi dan mengidentifikasi faktor risiko yang dapat diubah pada tenaga kesehatan wanita pekerja Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan tinjauan Systematic Literatur Review (SLR) sesuai pedoman PRISMA (Page et al. untuk mensintesis bukti kuat mengenai prevalensi , dampak, serta faktor risiko berbagai jenis gangguan menstruasi pada populasi tenaga Kesehatan yang belum dipahami secara mendalam oleh penelitian sebelumnya, demi meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan mereka, sekaligus memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai dampak gangguan siklus menstruasi dan mengidentifikasi faktor risiko yang dapat diubah sebagai landasan intervensi yang efektif. METODE PENELITIAN Strategi . Vol. 12 No. 02 Juli 2025 | JURNAL ILMIAH KESEHATAN RUSTIDA Dampak Kerja Shift Terhadap Kesehatan Reproduksi. Ristiana Kartika Mantasti Hapsari dkk (PICO/PICOT Tabel 1. PICOT question PICOT (Populatio Pertanyaan Pada tenaga (Interventi on/Exposu Yang bekerja (Comparis Dibandingkan dengan yang tidak/kurang Bagaimana (Outcom. T (Tim. S (Study Desig. Dalam periode waktu tertentu Jenis yang relevan Strategi pencarian kunci "Nurses", "Healthcare Workers", "Midwives", "Physicians" "Shift Work", "Night Shift", "Rotating Shift", "Irregular Work Schedule" Day Shift", "Regular Work Hours", "NonShift Workers" "Menstrual Cycle Disorders", "Menstrual Irregularity", "Dysmenorrhea" ,"Premenstrual Syndrome", "Menopause" Peneliti melakukan pencarian data melalui empat database yaitu PubMed. CINAHL. Embase, dan Scopus. Seleksi Studi dan Penilaian Kualitas Hasil pencarian dan seleksi studi Jurnal keseluruhan yang telah didapatkan oleh peneliti dari kedua database dilakukan screening terlebih dahulu dengan tujuan memilih jurnal yang sesuai dengan masalah yang diangkat dan kriteria inklusi yang telah ditetapkan oleh peneliti dan penilaian kualitas jurnal. Adapun hasil pencarian jurnal tersebut digambarkan sebagai berikut: AuObservational Study", "Crosectional Study", "Cohort Study", "CaseControl Study", "Meta-Analysis" Kata kunci yang digunakan Kata kunci yang digunakan dalam pencarian jurnal pada penelitian ini yaitu dengan "shift work", "nurses", "healthcare workers", "menstrual "menstrual "menstrual "dysmenorrhea", dan "premature Database atau searchengine yang . Vol. 12 No. 02 Juli 2025 | JURNAL ILMIAH KESEHATAN RUSTIDA Identification of studies via databases and registers Records PubMed. CINAHL. Embase, dan Scopus. Databases ( . =2500 ) Other sources . Records screened . =2300 ) Reports sought for retrieval . =400 ) Reports assessed for eligibility . =395 ) Studies included in review . = . Records removed before screening: Duplicate records removed . =300 ) Records marked as ineligible by automation tools . = 0 ) Records removed for other reasons . =0 ) Records excluded . =1900 ) -Not a primary study 1 . -Population not relevant 2. -Publication date out or range 3. -Language not appropriate 4 . Reports not retrieved . =5 ) Reports excluded . -Outcome not relevant 1 . =245 ) -Definition of menstrual disorders not clear/inappropriate 2 . = . -Study design not appropriate 3 . =42 ) -Shift work expsosure not clear/innapropriate 4 . -Data not extractable 5. Bagan 1 Bagan 1 Seleksi Studi Literature Review Gangguan Menstruasi Pada Pekerja Shift Tahun 2025. HASIL Pencarian literatur dilakukan pada database elektronik, termasuk PubMed. CINAHL. Embase, dan Scopus. Pencarian awal di database records, dan 100 records lainnya diidentifikasi dari sumber lain. Setelah penghapusan duplikat, tersisa 2300 records untuk disaring. Dari 2300 records yang disaring, 1900 records dikeluarkan. Sebanyak 400 Dari 400 artikel teks lengkap, 386 artikel dikeluarkan. Akhirnya, 14 studi studi yang memenuhi semua kriteria yang sudah ditetapkan peneliti dan dimasukkan dalam tinjauan sistematis ini. rosectional, cohor. dan meta-analisis Karakteristik Artikel Terpilih Tabel 3 Karakteristik Artikel yang Terpilih Gangguan Menstruasi Pop Juml Studi (%) Ukuran Statistik Tidak Teratur Peke Wan OR = HR = HR = Pera HR = Prevalen Tena Kese Wan Prevalen Dokt Wan OR = Pera Shift anpa Tabel 2 Hasil Pencarian Jurnal Sumber Database PubMed. CINAHL. Embase. Scopus. Sumber Lain Setelah Setelah Jumlah Database Ditemuk an . Tipe Penelitian . 0 PubMed. CINAHL . Embase. Scopu. 100 (Sumber Lain Tinjauan Sistematis Studi Observasion al . rosectional, case-control. MetaAnalisis Studi Dampak Kerja Shift Terhadap Kesehatan Reproduksi. Ristiana Kartika Mantasti Hapsari dkk iga Dismenore Menopause Dini Peke Shift Wan OR = Peke Wan OR = OR = Tena Kese Wan Pera Dokt Wan Pera Shift Peke Wan Tena Kese Wan HR = Prevalen . HR = . Kualitas Tidur dan Stress Pera Rum Sakit Faktor Lainnya (BMI) Tena Kese Wan Stres n. BMI Ganggua Menstru * Catatan Tabel ini merangkum temuan mengukur prevalensi atau asosiasi gangguan menstruasi. Kategori "Kualitas Tidur & Stres" mencakup studi tentang kualitas tidur buruk, kelelahan, gangguan tidur terkait shift work, stres terkait pekerjaan, dan strategi koping Kategori "Faktor Lainnya (BMI)" mencakup studi yang meneliti Body Mass Index sebagai faktor yang dipengaruhi oleh kerja shift. Beberapa studi mungkin masuk ke lebih dari satu kategori. OR = Odds Ratio. HR = Hazard Ratio. CI = Interval Kepercayaan. OR/HR ukur asosiasi, prevalensi ukur proporsi kasus. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa tinjauan sistematis ini menganalisis 14 studi yang secara kuantitatif mengeksplorasi hubungan antara berbagai jenis gangguan menstruasi dan kelompok populasi yang berbeda. Secara kuantitatif, gangguan menstruasi yang paling banyak dipelajari adalah 'Tidak Teratur' yang muncul dalam 21% studi . dari 14 stud. , diikuti oleh 'Dismenore' dan 'Menopause Dini' . Vol. 12 No. 02 Juli 2025 | JURNAL ILMIAH KESEHATAN RUSTIDA Dampak Kerja Shift Terhadap Kesehatan Reproduksi. Ristiana Kartika Mantasti Hapsari dkk yang masing-masing dilaporkan dalam 14% studi . dari 14 stud. Analisis asosiasi ini terutama menggunakan ukuran statistik seperti Odds Ratio (OR) dan Hazard Ratio (HR), dengan nilai OR berkisar antara 1. 95 dan nilai HR berkisar 09 hingga 1. 95, yang mengindikasikan besarnya efek kuantitatif dari faktor-faktor yang diteliti terhadap kejadian gangguan Selain itu, beberapa studi . erutama pada populasi Tenaga Kesehatan Wanita dan Perawat Shif. kuantitatif gangguan menstruasi dalam bentuk persentase (Sharma. Secara keseluruhan, tabel ini menyajikan bukti kuantitatif yang relevan dengan judul dan pernyataan menstruasi dan ukuran asosiasi kuantitatif yang mendukung analisis hubungan antara faktor pekerjaan dan gangguan menstruasi (Mayama et al. , 2. PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian: "Berapakah prevalensi gangguan siklus menstruasi di kalangan tenaga kesehatan wanita yang bekerja shift, dan, dampak dan faktor risiko apa saja yang secara signifikan terkait dengan kejadian gangguan tersebut?" Tinjauan sistematis terhadap 14 studi menemukan bahwa kerja shift secara menstruasi pada pekerja wanita. Pembahasan menguraikan temuan ini secara rinci. Prevalensi Gangguan Menstruasi pada Pekerja Shift Tinjauan mengonfirmasi bahwa gangguan menstruasi merupakan masalah yang signifikan di kalangan pekerja shift, khususnya tenaga kesehatan wanita. Temuan ini konsisten dengan melaporkan adanya hubungan antara kerja shift dan gangguan menstruasi. Misalnya. Berkalieva et al. , . melaporkan bahwa 31. 5% perawat yang bekerja shift mengalami gangguan menstruasi. Studi-studi lain yang termasuk dalam tinjauan ini juga menemukan prevalensi gangguan menstruasi yang tinggi di kalangan pekerja shift di berbagai Secara khusus, tinjauan ini menemukan prevalensi gangguan menstruasi pada tenaga kesehatan wanita yang bekerja shift adalah 2%, dibandingkan dengan 45. pada mereka yang tidak bekerja shift. Hal ini menunjukkan peningkatan risiko yang substansial akibat kerja (Berkalieva et al. , 2. Peningkatan prevalensi ini mengindikasikan adanya perbedaan yang mencolok dibandingkan dengan non-shift, menggarisbawahi perlunya perhatian reproduksi pekerja shift. Data ini juga sejalan dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa kerja shift meningkatkan risiko gangguan menstruasi. Penelitian oleh Hu et al. juga menemukan prevalensi gangguan menstruasi yang lebih tinggi pada pekerja shift dibandingkan dengan non-shift (Hu et al. , 2. Selain itu, studi oleh . Vol. 12 No. 02 Juli 2025 | JURNAL ILMIAH KESEHATAN RUSTIDA Dampak Kerja Shift Terhadap Kesehatan Reproduksi. Ristiana Kartika Mantasti Hapsari dkk (Czy-Szypenbejl & ModrzyckaDIbrowska, 2. dan (Yaw et al. mendukung temuan ini dengan gangguan menstruasi pada pekerja shift di berbagai populasi. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh faktorfaktor seperti gangguan ritme sirkadian dan stres yang terkait dengan pekerjaan shift, yang akan dibahas lebih lanjut di bagian Dampak dan Faktor Risiko Gangguan Menstruasi Pekerja Shift Sejumlah faktor risiko telah gangguan menstruasi pada pekerja Gangguan ritme sirkadian, yang disebabkan oleh pola kerja memainkan peran penting (Zee & Abbott, 2. Perubahan hormonal, termasuk penurunan kadar melatonin dan peningkatan kortisol, dapat mengganggu ovulasi dan menstruasi. Stres akibat tuntutan pekerjaan dan kurang tidur juga dapat berkontribusi pada masalah ini. Selain itu, faktorfaktor seperti pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan paparan cahaya buatan di malam hari juga dapat memperburuk kondisi (Yaw et al. , 2. Faktor-faktor menunjukkan kompleksitas masalah gangguan menstruasi pada pekerja Menurut (Yaw et al. , 2. gangguan ritme sirkadian adalah faktor yang unik pada pekerja shift, dan penelitian ini menekankan perannya dalam mempengaruhi regulasi hormonal. Temuan ini sebelumnya yang menyoroti dampak negatif kerja shift pada kesehatan reproduksi wanita, dan memberikan prevalensi yang tinggi pada pekerja Studi oleh (Alemu et al. , 2. mendukung peran gangguan ritme hormonal dan sistem reproduksi, sementara Hu et al. dan Joo perubahan hormonal dan stres pada pekerja shift terhadap kesehatan reproduksi wanita. (Hu et al. , 2023. Joo, 2. Jenis Gangguan Menstruasi yang Terkait dengan Kerja Shift Tinjauan mengidentifikasi beberapa jenis gangguan menstruasi yang terkait dengan kerja shift. Siklus menstruasi tidak teratur adalah salah satu yang paling umum, dengan pekerja shift lebih mungkin mengalami variasi dalam panjang siklus dan waktu Dismenore, atau nyeri menstruasi, juga lebih sering terjadi pada pekerja shift. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa kerja shift menopause dini, terutama pada pekerja wanita dan tenaga kesehatan wanita (Tandon, 2. Temuan pemahaman kita tentang dampak kerja shift pada kesehatan reproduksi Wanita (Alemu et al. , 2. Menopause dini, khususnya, adalah menunjukkan potensi konsekuensi jangka panjang dari kerja shift. Data ini memberikan dukungan lebih lanjut untuk hipotesis penelitian dan menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut tentang mekanisme yang . Vol. 12 No. 02 Juli 2025 | JURNAL ILMIAH KESEHATAN RUSTIDA Dampak Kerja Shift Terhadap Kesehatan Reproduksi. Ristiana Kartika Mantasti Hapsari dkk mendasari hubungan ini. Penelitian oleh (Hu et al. , 2. memberikan konteks lebih lanjut mengenai menopause dini, (Mao et al. , 2. menstruasi pada kualitas hidup Temuan tinjauan sistematis ini memiliki implikasi penting untuk (Sharma. Pertama, tenaga kesehatan yang bekerja dengan pekerja shift perlu menyadari potensi risiko gangguan menstruasi dan memberikan edukasi serta konseling yang tepat. Kedua, perlu ada kebijakan yang mendukung pengaturan jadwal kerja yang lebih fleksibel dan mengurangi dampak negatif kerja shift terhadap kesehatan reproduksi wanita. Misalnya, rotasi shift yang lambat, istirahat yang cukup antara shift, dan paparan cahaya yang terkontrol di tempat kerja dapat membantu mengurangi gangguan ritme sirkadian. (Zee & Abbott, 2. Implikasi dari temuan ini didukung oleh teori-teori tentang stres kerja dan ritme sirkadian. Teori Job Demand-Control (Stellman & Office, bagaimana tuntutan pekerjaan yang tinggi dan kontrol yang rendah dapat menyebabkan stres, yang pada gilirannya dapat mengganggu fungsi hormonal dan siklus menstruasi. Selain itu. Circadian Rhythm Disruption Theory (Joo, 2. sirkadian yang stabil untuk kesehatan reproduksi wanita, dan bagaimana kerja shift dapat mengganggu ritme Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi intervensi yang efektif, seperti terapi cahaya atau suplemen melatonin (Berkalieva et al. , 2. , yang dapat membantu pekerja shift mengatur ritme sirkadian mereka dan mengurangi risiko gangguan menstruasi. Selain itu, penelitian kualitatif dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang pengalaman pekerja gangguan menstruasi mempengaruhi sehari-hari (Mayama et al. , 2. Penelitian beberapa keterbatasan yang perlu Pertama, tinjauan ini didasarkan pada studi-studi yang ada, yang mungkin memiliki variasi dalam desain penelitian, metode pengukuran, dan kualitas data. Kedua, tinjauan ini berfokus pada tenaga kesehatan wanita yang bekerja shift, sehingga temuan ini digeneralisasikan ke populasi pekerja shift lainnya. Penelitian di masa depan harus mengatasi keterbatasan ini dengan menggunakan desain penelitian yang lebih ketat dan melibatkan populasi pekerja shift yang lebih beragam. Penting juga longitudinal untuk memahami efek jangka panjang kerja shift pada mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memitigasi risiko ini. KESIMPULAN Tinjauan menyimpulkan bahwa kerja shift merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap gangguan siklus menstruasi pada pekerja wanita. Prevalensi gangguan menstruasi lebih tinggi pada pekerja . Vol. 12 No. 02 Juli 2025 | JURNAL ILMIAH KESEHATAN RUSTIDA Dampak Kerja Shift Terhadap Kesehatan Reproduksi. Ristiana Kartika Mantasti Hapsari dkk shift dibandingkan dengan pekerja non-shift. Gangguan ritme sirkadian, perubahan hormonal, dan stres kerja diidentifikasi sebagai faktor-faktor Jenis gangguan menstruasi yang terkait dengan kerja shift antara lain siklus menstruasi tidak teratur, dismenore, dan menopause dini. Temuan ini konsisten dengan hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa kerja shift menstruasi dapat ditulis pada bagian SARAN Penelitian efektivitas potensial dari intervensiintervensi seperti terapi cahaya dan membantu pekerja shift mengatur ritme sirkadian mereka, yang pada gilirannya dapat mengurangi risiko gangguan menstruasi. Selain itu, studi kualitatif memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai pengalaman pekerja shift wanita dan bagaimana gangguan menstruasi mempengaruhi sehari-hari Penelitian di masa depan juga perlu mengatasi keterbatasan tinjauan sistematis ini dengan menggunakan desain penelitian yang lebih ketat dan melibatkan populasi pekerja shift yang lebih beragam, serta melakukan memahami efek jangka panjang kerja shift pada kesehatan menstruasi. REFERENSI