Jurnal Keperawatan Volume 19. Nomor 1. Januari 2026 P-ISSN Jurnal : 1979-7796. E-ISSN Jurnal : 3063-7457 Available Online at : https://e-journal. id/index. php/jk ORIGINAL ARTICLES GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN BULLYING PADA SEKOLAH DASAR DI SD NEGERI 11 KESIMAN Ni Kadek Sri Wahyuni Antari. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali. Denpasar Adreng Pamungkas. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali. Denpasar Theresia Anita Pramesti. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Wira Medika Bali. Denpasar Korespondensi : sriwahyuniantari09@gmail. ABSTRAK Bullying merupakan perilaku agresif yang sering terjadi di lingkungan sekolah dan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan fisik maupun psikologis anak. Pengetahuan siswa mengenai bullying menjadi aspek penting dalam upaya pencegahan sejak dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan tentang bullying pada siswa SD Negeri 11 Kesiman. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Melibatkan 54 responden yang dipilih melalui teknik stratified random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner pengetahuan bullying yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pengetahuan baik . ,3%), pengetahuan cukup . ,8%), dan pengetahuan kurang . ,9%). Meskipun sebagian besar siswa telah memiliki pengetahuan yang baik, masih ditemukan kesalahpahaman terkait perbedaan bullying fisik dan nonfisik serta dampak jangka Variasi pengetahuan ini dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, dan akses Siswa perempuan cenderung memiliki pemahaman lebih baik mengenai bullying psikologis, sedangkan siswa yang lebih tua menunjukkan penguasaan materi yang lebih baik. Secara keseluruhan, pengetahuan siswa tentang bullying tergolong cukup baik, namun masih perlu ditingkatkan terutama terkait jenis bullying dan dampak jangka Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan. Bullying. Anak Sekolah Dasar Kata Kunci : Tingkat Pengetahuan. Bullying. Anak Sekolah Dasar Halaman | 26 | PENDAHULUAN Anak usia sekolah sangat rentan terhadap bullying, karena pada tahap perkembangan ini mereka harus meninggalkan lingkungan keluarga, sehingga mendorong sosialisasi dan interaksi dengan teman sebaya. Bullying ini dapat muncul akibat perbedaan penampilan, agama, warna kulit, budaya, orientasi seksual, dan identitas gender. Perilaku bullying tidak memandang jenis kelamin dan usia, biasanya menyasar korban yang pendiam, pemalu, dan sering kali melibatkan anak-anak penyandang disabilitas. Pada anak sekolah dasar, perilaku bullying sering kali diabaikan karena dianggap normatif oleh orang tua dan pendidik, yang menunjukkan bahwa anak-anak ini kurang memahami perbedaan moral (Safaat, 2. Bullying secara fisik dan psikologis lebih banyak terjadi di sekolah, tetapi bullying verbal lebih sering terjadi di rumah. Anak-anak berusia 9 hingga 12 tahun lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah, sehingga sering terjadi insiden saat istirahat atau saat bermain dengan teman sebaya. Temuan ini didukung oleh penelitian lanjutan Widyastuti & Soesanto . yang dilakukan setelah jam sekolah. Hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari pendidik dan lembaga pendidikan. Prevalensi dari Global Database United Nations ChildrenAos Fund (UNICEF) di Indonesia sendiri terdapat total 21 kasus kejadian bullying, juga terjadi kasus bullying pada laki-laki sebesar 24 kasus dan pada perempuan sebesar 19 kasus (UNICEF. Menurut data dari Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam Pratiwi et al . kejadian bullying di Indonesia menempati posisi ke 5 dengan kasus bullying tertinggi yaitu sebanyak 41,1% dari 78 Negara yang paling banyak mengalami kejadian bullying. Menurut Databoks Katadata, 30% dari 30 kasus perundungan pada 2023 terjadi di jenjang SD. ederasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat 23 kasus bullying di sekolah pada Januari hingga September 2023, di mana 23% terjadi di jenjang SD. Dari data yang dikumpulkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI, 2. , terjadi Bullying sepanjang tahun 2023 dari Januari Ae Agustus, tercatat 837 kasus terjadi di lingkup pendidikan dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), kasus Bullying masih menjadi teror bagi anak-anak di lingkungan Sementara itu untuk jenis Bullying yang sering dialami korban adalah Bullying fisik . ,5%). Bullying verbal . ,3%), dan Bullying psikologis . ,2%). Sedangkan untuk tingkat jenjang pendidikan, siswa SD menjadi korban Bullying terbanyak . %), diikuti siswa SMP . %), dan siswa SMA . ,75%) (Setiyanawati. Menurut data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenpA) yang dihimpun pada tahun 2024, distribusi kasus bullying di Bali menunjukkan ketimpangan yang signifikan antar kabupaten/kota. Kota Denpasar paling tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus bullying tertinggi, yakini 16 Diikuti kabupaten badung 10 kasus. Kabupaten Buleleng 16 kasus. Gianyar 4 kasus. Kabupaten Tabanan 3 kasus, serta Kabupaten Jembrana. Bangli, dan Karangasem masing-masing 1 kasus, serta Kabupaten Klungklung tidak tercatat adanya kasus bullying pada periode tersebut (Sidik, 2. Bullying tidak hanya berdampak pada anak yang menjadi korban, tetapi juga secara luas mengancam seluruh ekosistem sekolah, termasuk anak-anak yang melakukan perundungan, mereka yang menyaksikan, serta reputasi institusi pendidikan itu sendiri. Ketika tindakan bullying dibiarkan tanpa intervensi yang tepat, dampak psikologis dan mental yang muncul dapat bersifat sistemik dan Anak-anak yang menyaksikan peristiwa bullying, misalnya, dapat membentuk persepsi bahwa perilaku agresif tersebut merupakan sesuatu yang diterima secara sosial, bahkan dianggap biasa dalam interaksi sehari-hari. Persepsi ini tidak hanya mendistorsi norma perilaku yang sehat, tetapi juga dapat menciptakan Halaman | 27 | lingkungan belajar yang penuh ketakutan dan ketidakpastian. Lebih lanjut, dampak sosial dari pembiaran bullying dapat memicu reaksi berantai yang memperburuk dinamika di sekolah. Sebagian siswa mungkin memilih untuk bergabung atau mendukung pelaku bullying karena takut menjadi target berikutnya, sehingga memperkuat siklus kekerasan dan intimidasi. Sementara itu, siswa lain yang memilih untuk diam dan pasif dapat mengembangkan perasaan ketidakberdayaan atau sikap apatis, di mana mereka merasa tidak perlu atau tidak mampu untuk menghentikan ketidakadilan yang terjadi di depan mata. Akibatnya, budaya diam . ulture of silenc. ini akan mengikis rasa tanggung jawab kolektif dan empati, yang pada akhirnya membahayakan perkembangan kepribadian dan karakter seluruh siswa serta integritas sekolah sebagai lingkungan yang seharusnya aman dan mendukung (Akbar et al. Meningkatnya kasus bullying di lingkungan sekolah telah memperparah dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap korban. Penelitian Zahroh et al . mengungkapkan bahwa korban bullying rentan mengalami berbagai gangguan psikologis, mulai dari perasaan stres, tidak percaya diri, ketakutan, dan terintimidasi. Lebih jauh, dampak tersebut dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius seperti rendah diri, kesulitan berkonsentrasi, hingga depresi. Dalam kasus yang paling ekstrem, tekanan yang dialami korban dapat berujung pada tindakan bunuh diri, yang menandakan betapa kritisnya dampak psikososial dari perilaku bullying ini. Selain dampak-dampak yang telah disebutkan, perilaku bullying juga secara signifikan menghambat perkembangan emosional dan sosial anak. Abdillah, . menjelaskan bahwa korban cenderung mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaannya, sehingga beban emosional terpendam dalam diri mereka. Hambatan ini kemudian memunculkan berbagai masalah, seperti hilangnya rasa percaya diri, meningkatnya sifat pemalu, dan kesulitan berkonsentrasi selama proses belajar. Lebih lanjut, korban sering kali dilanda kecemasan berlebih dan mengalami kesulitan untuk beradaptasi atau berinteraksi dengan lingkungan sosial di sekitarnya, yang pada akhirnya dapat mengisolasi mereka dari pergaulan yang sehat dan mendukung. Berdasarkan penelitian Ujianto . terungkap bahwa sosialisasi pengetahuan tentang AuDampak BullyingAy di SDN 1 Cibuah berjalan dengan baik. Siswa memahami bahwa perilaku bullying dapat berdampak buruk baik fisik maupun mental, mengetahui cara mencegah dan menjauhi perilaku tersebut, serta terdorong untuk melaporkan kejadian kepada guru, orang tua, atau pihak berwenang jika melihat kejadian bullying. Penelitian Manihuruk . menunjukkan bahwa dari hasil angket yang disebarkan kepada siswa Panti Asuhan Solaya Medan, 80% siswa mengetahui dampak bullying terhadap individu. Penelitian Andriani . menunjukkan bahwa dari 85 siswa kelas Vi SMPN 6 Pariaman, lebih dari separuhnya memiliki pengetahuan dan sikap positif yang tinggi, serta tidak mengalami bullying. Selain itu, ditemukan korelasi yang signifikan antara pengetahuan remaja dengan perilaku bullying di SMPN 6 Pariaman. Penelitian (Lestari . mengungkapkan bahwa sebagian besar responden memiliki pemahaman yang baik tentang bullying, dengan 21 . ,8%) responden kelas 5 dan 13 . ,5%) responden kelas 4 menunjukkan pengetahuan ini. Responden yang dominan dalam penelitian ini adalah perempuan, termasuk 22 orang . ,2%), dengan usia rata-rata 10,72 tahun dan simpangan baku 0,548. Pemahaman tentang bullying di SD Negeri 2 Cepora. Penelitian Maya . mengungkapkan bahwa sebelum pendidikan bullying, tingkat pengetahuan sebagian besar siswa dikategorikan cukup, dengan 36 orang . ,6%). Setelah pendidikan, pengetahuan meningkat ke kategori baik, dengan 50 orang . %). Hal ini menunjukkan bahwa siswa secara efektif mengasimilasi materi bullying. Halaman | 28 | Setelah dilakukan kajian pendahuluan di salah satu SD yang dilakukan peneliti dengan wawancara tertutup di SD Negeri 11 Kesiman, diperoleh data jumlah siswa laki-laki di SD Negeri 11 Kesiman sebanyak 58 orang dan jumlah siswa Perempuan sebanyak 56 orang dengan total keseluruhan siswa sebanyak 114 orang. Studi penelitian ini menunjukan dari 25 responden yang diwawancarai terdapat 15 responden yang mengetahui apa itu bullying. Mereka mengungkapkan bahwa bullying itu merupakan tindakan mengejek atau menghina. Mereka bahkan pernah menjadi korban bullying. Dalam wawancara yang dilakukan di Lokasi penelitian jenis tindakan Bullying sering dialami adalah pelaku sering mengejek, memanggil teman dengan julukan tertentu, sehingga yang dilakukan siswa yang mengalami bullying hanya menangis dan mengadukan ke guru yang ada di SD N 11 Kesiman. Pihak sekolah sudah memberi himbauan terhadap siswa dengan memberikan pengarahan terhadap perlakuan kepada temannya seperti memberikan edukasi terhadap dampak yang akan terjadi ketika sering melakukan hal tersebut. Berdasarkan latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang gambaran tingkat pengetahuan Bullying. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan Bullying di SD Negeri 11 Kesiman TUJUAN PENELITIAN Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan bullying pada anak sekolah dasar di SD Negeri 11 Kesiman. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Desain ini dipilih untuk menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai tingkat pengetahuan bullying pada siswa sekolah dasar di SD Negeri 11 Kesiman sebagaimana adanya. Penelitian difokuskan pada satu variabel independen, yaitu tingkat pengetahuan tentang bullying, yang meliputi aspek definisi, jenis, dampak, dan cara pencegahannya. Data primer dikumpulkan secara langsung dari responden menggunakan kuesioner tertutup yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya, dengan sampel berjumlah 54 siswa yang diambil dari kelas IV. V, dan VI secara proporsional melalui teknik stratified random sampling. Proses pengumpulan data dilakukan melalui serangkaian tahapan administrasi dan teknis yang terstruktur, termasuk memperoleh persetujuan etik, koordinasi dengan sekolah, serta pengisian kuesioner di masing-masing kelas dengan didampingi enumerator. Data yang terkumpul kemudian diolah melalui tahapan editing, coding, entry, dan cleaning sebelum dianalisis secara univariat menggunakan perangkat lunak SPSS. Analisis deskriptif digunakan untuk menyajikan gambaran variabel dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase, yang memungkinkan peneliti untuk mendeskripsikan karakteristik pengetahuan responden secara komprehensif. HASIL PENELITIAN Karakteristik subjek penelitian Tabel 1. Gambaran karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dan usia Karakteristik Jumlah Prosentase (%) Jenis kelamin : Perempuan Laki-laki Usia : 9 tahun Halaman | 29 | 10 tahun 11 tahun 12 tahun Kelas : Kelas IV Kelas V Kelas VI Jumlah Sumber : Data primer penelitian, 2025 Berdasarkan data karakteristik responden penelitian yang disajikan, dapat dianalisis bahwa subjek penelitian berjumlah 54 siswa dari kelas IV. V, dan VI SD Negeri 11 Kesiman yang dipilih dengan teknik stratified sampling untuk menjamin keterwakilan setiap jenjang kelas. Komposisi responden berdasarkan jenis kelamin menunjukkan mayoritas adalah perempuan . ,6% atau 30 oran. , sementara lakilaki berjumlah 24 orang . ,4%). Dari segi usia, kelompok terbanyak berada pada rentang 10 dan 11 tahun yang secara kumulatif mencapai 66,7% dari total sampel, dengan persentase tertinggi pada usia 11 tahun . ,2% atau 19 oran. Sementara itu, distribusi sampel per kelas dibuat secara merata, di mana setiap tingkat kelas (IV. V, dan VI) diwakili oleh 18 siswa . asing-masing 33,3%), sehingga memungkinkan analisis data yang seimbang antarjenjang. Karakteristik ini mengindikasikan bahwa sampel penelitian cukup representatif untuk mewakili populasi siswa tinggi di sekolah tersebut, dengan variasi usia dan jenis kelamin yang dapat memengaruhi temuan penelitian. Tingkat pengetahuan bullying pada anak sekolah dasar Tabel 2. Gambaran tingkat pengetahuan bullying pada anak sekolah dasar Tingkat pengetahuan Jumlah Prosentase (%) Pengetahuan baik Pengetahuan cukup Pengetahuan kurang Jumlah Sumber : Data primer penelitian, 2025 Berdasarkan tabel distribusi tingkat pengetahuan bullying pada anak sekolah dasar, dapat dianalisis bahwa karakteristik responden penelitian menunjukkan variasi yang cukup signifikan dalam hal pemahaman mereka mengenai isu bullying. Sebagian besar responden, yaitu 25 anak . ,3%), memiliki tingkat pengetahuan yang baik, yang mengindikasikan bahwa hampir setengah dari populasi sampel telah memahami konsep bullying dengan memadai. Namun, masih terdapat 21 anak . ,9%) yang memiliki pengetahuan kurang, serta 8 anak . ,8%) dengan pengetahuan cukup. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat kelompok dengan pemahaman yang baik, mayoritas responden . ,7%) masih berada pada kategori pengetahuan cukup hingga kurang, sehingga mengindikasikan perlunya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman tentang bullying di kalangan siswa sekolah dasar. Halaman | 30 | c. Hubungan karakteristik responden dengan tingkat pengetahuan bullying pada anak sekolah dasar Tabel 3. Crosstabulation karakteristik responden dengan tingkat pengetahuan bullying pada anak sekolah dasar Tingkat Pengetahuan Karakteristik Jumlah Pengetahuan Pengetahuan Pengetahuan Jenis kelamin : ,0%) ,0%) ,0%) 30 . ,6%) Perempuan 7 . ,2%) 5 . ,8%) 12 . ,0%) 24 . ,4%) Laki-laki Usia : ,0%) ,5%) ,5%) ,8%) 9 tahun 5 . ,4%) 3 . ,6%) 9 . ,9%) 17 . ,5%) 10 tahun 11 . ,9%) 4 . ,1%) 4 . ,1%) 19 . ,2%) 11 tahun 9 . ,0%) 0 . ,0%) 1 . ,0%) 10 . ,5%) 12 tahun Kelas : ,0%) ,7%) ,3%) 18 . ,3%) Kelas IV ,6%) ,2%) ,2%) 18 . ,3%) Kelas V ,3%) ,6%) ,1%) 18 . ,4%) Kelas VI Sumber : Data primer penelitian, 2025 Berdasarkan hasil tabulasi silang, ditemukan bahwa terdapat hubungan yang teramati antara karakteristik responden . enis kelamin, usia, dan kela. dengan tingkat pengetahuan tentang bullying. Pada variabel jenis kelamin, terlihat disparitas pengetahuan yang cukup mencolok. Sebagian besar perempuan . ,0%) memiliki pengetahuan yang baik, sementara hanya 29,2% laki-laki yang masuk dalam kategori tersebut. Di sisi lain, separuh dari responden laki-laki . ,0%) justru memiliki pengetahuan yang kurang, suatu proporsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan . ,0%). Pola ini mengindikasikan bahwa perempuan dalam sampel ini secara umum memiliki pemahaman yang lebih memadai tentang bullying dibandingkan dengan rekan laki-laki mereka. Hubungan yang lebih kuat dan progresif terlihat pada variabel usia dan kelas. Pengetahuan tentang bullying menunjukkan tren peningkatan yang sangat jelas seiring dengan bertambahnya usia dan jenjang kelas. Pada kelompok usia 9 tahun, tidak satupun responden yang memiliki pengetahuan baik, dan mayoritas . ,5%) justru berada dalam kategori kurang. Pola ini berubah secara signifikan pada kelompok usia lebih tua, di mana 57,9% anak usia 11 tahun dan 90,0% anak usia 12 tahun telah memiliki pengetahuan yang baik. Hal serupa terlihat pada distribusi berdasarkan Tidak ada siswa Kelas IV yang memiliki pengetahuan baik, dan sebagian besarnya . ,3%) justru masuk kategori kurang. Situasi ini berbanding terbalik dengan siswa Kelas VI, di mana 83,3% memiliki pengetahuan baik dan hanya 11,1% yang pengetahuannya kurang. Temuan ini mengonfirmasi bahwa kedewasaan dan tingkat pendidikan formal berperan penting dalam pembentukan pengetahuan tentang bullying. Peningkatan yang konsisten dari Kelas IV hingga VI, serta dari usia 9 hingga 12 tahun, menunjukkan bahwa baik proses pembelajaran di sekolah maupun perkembangan kognitif seiring bertambahnya usia berkontribusi terhadap pemahaman yang lebih komprehensif mengenai isu bullying. Siswa di tingkat yang lebih tinggi kemungkinan besar telah lebih banyak terpapar materi pendidikan, diskusi, atau program sekolah terkait pencegahan bullying. Secara keseluruhan, analisis tabulasi silang mengungkapkan bahwa tingkat pengetahuan bullying pada Halaman | 31 | anak sekolah dasar tidak terdistribusi secara merata, namun sangat dipengaruhi oleh karakteristik individu. Jenis kelamin, usia, dan kelas merupakan faktor-faktor yang berasosiasi dengan variasi tingkat pengetahuan tersebut. Implikasi dari temuan ini menekankan pentingnya pendekatan yang diferensial dalam program intervensi dan Upaya peningkatan pengetahuan, khususnya bagi siswa laki-laki dan anakanak di kelas rendah atau usia lebih muda, perlu mendapatkan perhatian dan desain materi yang lebih khusus agar efektif dalam menanggulangi kesenjangan pemahaman yang ada. PEMBAHASAN Karakteristik responden penelitian Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 54 responden yang terlibat dalam penelitian ini, mayoritas berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 30 responden . ,6%), sedangkan laki-laki berjumlah 24 orang . ,4%). Seluruh responden berada pada rentang usia 10Ae12 tahun . %), yang merupakan kelompok usia umum bagi siswa sekolah dasar kelas tinggi. Rentang usia ini menunjukkan bahwa responden berada pada tahap perkembangan sosial yang semakin kompleks, di mana anak mulai menunjukkan peningkatan kemampuan berinteraksi, memahami aturan sosial, serta membangun hubungan pertemanan yang lebih stabil. Menurut Santrock . Rachmawati et al. , 2. , anak usia 10Ae12 tahun mulai mengembangkan kompetensi sosial, menguasai keterampilan kerja sama, dan menunjukkan pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika sosial di sekolah. Selain itu. Piaget . Oktaviani & Ramadan, 2. menyatakan bahwa anak pada usia ini berada pada tahap operasional konkret, di mana kemampuan berpikir logis mereka berkembang pesat sehingga memudahkan mereka memahami situasi sosial nyata. Dengan demikian, persebaran usia yang relatif seimbang memberikan gambaran karakteristik responden yang representatif dan relevan dengan fokus Temuan ini sejalan dengan penelitian Kesuma et al. yang melaporkan bahwa jumlah responden perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki dalam penelitian di tingkat sekolah dasar. Penelitian Lestari et al. juga menunjukkan pola yang sama, di mana perempuan menjadi kelompok dominan dalam studi terkait pengetahuan dan perilaku sosial di sekolah dasar. Selain itu, rentang usia 10Ae12 tahun dalam penelitian ini turut didukung oleh temuan Sugmalestari . yang menemukan bahwa sebagian besar responden penelitiannya berada pada usia yang sama. Hasil serupa juga ditunjukkan oleh penelitian Handalan et al. yang menyatakan bahwa siswa sekolah dasar umumnya berada dalam kategori usia tersebut. Kesamaan hasil ini menunjukkan bahwa karakteristik penelitian ini tidak berada di luar pola umum yang ditemukan dalam studi sebelumnya. Konsistensi antar penelitian memperkuat keabsahan karakteristik responden dalam penelitian ini. Dengan demikian, temuan penelitian ini dapat dianggap sejalan dengan kondisi populasi siswa sekolah dasar secara lebih Secara teoritis, hasil penelitian ini didukung oleh teori perkembangan psikososial Erikson . alam Khaliza et al. , 2. Teori tersebut menjelaskan bahwa anak usia 10Ae12 tahun berada pada tahap industry vs inferiority. Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan bekerja sama dengan teman sebaya. Mereka juga mulai memahami norma-norma sosial melalui interaksi sehari-hari di Perkembangan sosial pada usia ini membuat anak lebih mampu mengenali Halaman | 32 | perilaku yang benar dan salah, termasuk dalam konteks bullying. Kemampuan sosial yang meningkat juga mempengaruhi cara mereka memaknai informasi yang Oleh karena itu, teori ini relevan untuk menjelaskan temuan penelitian bahwa siswa usia lebih tua memiliki pemahaman yang lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, karakteristik responden mencerminkan kondisi nyata populasi siswa sekolah dasar, khususnya pada jenjang kelas tinggi. Dominasi responden berusia 10Ae12 tahun menunjukkan bahwa subjek penelitian berada pada fase perkembangan sosial yang aktif, di mana anak mulai memperluas interaksi sosial, membentuk kelompok pertemanan, serta meningkatkan pemahaman terhadap norma dan aturan sosial di lingkungan sekolah. Kondisi ini relevan dengan tujuan penelitian yang berfokus pada pengetahuan siswa tentang bullying, karena pada usia tersebut anak sudah mampu mengenali dan menilai perilaku sosial yang terjadi di sekitarnya. Selain itu, jumlah responden perempuan yang lebih banyak dibandingkan laki-laki dapat dijelaskan oleh kecenderungan siswa perempuan yang lebih kooperatif dan memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi terhadap instruksi guru dan peneliti selama proses pengumpulan data. Siswa perempuan juga cenderung lebih komunikatif dan terbuka dalam mengikuti kegiatan pengisian kuesioner. Perbedaan jumlah responden berdasarkan jenis kelamin ini tidak mengurangi keterwakilan data, karena proporsi responden lakilaki dan perempuan masih berada dalam rentang yang relatif seimbang. Dengan demikian, karakteristik responden dalam penelitian ini dapat dianggap representatif untuk menggambarkan kondisi pengetahuan bullying pada siswa sekolah dasar. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan program edukasi bullying yang disesuaikan dengan karakteristik usia dan jenis kelamin siswa. Tingkat pengetahuan bullying pada anak sekolah dasar Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 54 responden, mayoritas memiliki pengetahuan yang baik tentang bullying, yaitu sebanyak 25 orang . ,3%). Temuan ini menggambarkan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar telah memiliki pemahaman yang cukup kuat mengenai bentuk-bentuk bullying, faktor penyebab, serta dampak yang dapat ditimbulkan. Namun demikian, hasil analisis kuesioner juga memperlihatkan bahwa masih terdapat beberapa item yang dijawab keliru oleh sebagian siswa, seperti kesalahpahaman mengenai hubungan keluarga bermasalah sebagai faktor penyebab bullying, ketidaktepatan dalam memahami dampak jangka Hasil silang menunjukkan bahwa pengetahuan baik lebih banyak ditemukan pada siswa perempuan . ,1%) dan siswa berusia 12 tahun . ,5%), yang menunjukkan adanya variasi berdasarkan karakteristik individu dalam memahami bullying. Temuan tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Notoatmodjo . Lactona & Cahyono, 2. , bahwa pengetahuan merupakan hasil dari proses penginderaan yang dipengaruhi oleh usia, pengalaman, lingkungan, pendidikan, serta akses informasi. Pada usia sekolah dasar, khususnya 10Ae12 tahun, anak berada pada tahap perkembangan kognitif yang memungkinkan mereka untuk memahami konsep sosial dengan lebih jelas. Sejalan dengan teori perkembangan kognitif Piaget, usia ini berada pada tahap operasional konkret, di mana anak mulai dapat memahami hubungan sebab-akibat dan konsep moral dengan lebih Kondisi ini mendukung kemampuan siswa untuk mengenali perilaku bullying, membedakan jenisnya, serta memahami dampaknya terhadap korban. Hasil penelitian ini juga konsisten dengan beberapa penelitian sebelumnya. Kesuma et al. menemukan bahwa sebagian besar siswa sekolah dasar memiliki pengetahuan baik hingga cukup mengenai bullying, sementara Halaman | 33 | Damarningrum et al. menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan siswa setelah diberikan edukasi mengenai pencegahan bullying. Penelitian Widyasari . serta Sugmalestari . menunjukkan bahwa perempuan memiliki kecenderungan memahami bullying psikologis lebih baik daripada laki-laki yang lebih sering terlibat dalam bullying fisik. Selain itu, penelitian Lestari et al. dan Budiana et al. juga menguatkan bahwa bertambahnya usia berkaitan dengan meningkatnya kemampuan memahami fenomena bullying. Keseluruhan temuan dari berbagai penelitian tersebut memperkuat validitas hasil penelitian ini. Berdasarkan keseluruhan hasil yang diperoleh, peneliti berpendapat bahwa pengetahuan tentang bullying pada siswa sekolah dasar sudah berada pada kategori baik, meskipun masih terdapat beberapa miskonsepsi yang perlu diperbaiki melalui edukasi lebih lanjut. Faktor usia yang lebih matang, jenis kelamin, serta paparan informasi melalui penyuluhan atau pembelajaran di sekolah tampaknya berperan besar dalam meningkatkan pemahaman siswa. Peneliti menilai bahwa intervensi edukasi tetap harus dilakukan secara berkelanjutan dan sistematis, dengan memanfaatkan media edukatif yang kreatif seperti video animasi, poster, permainan edukatif, dan kegiatan role-playing. Selain itu, kolaborasi antara guru, tenaga kesehatan, dan pihak sekolah dapat memperkuat pemahaman siswa tentang bullying secara menyeluruh. Upaya edukasi yang konsisten diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap dan perilaku siswa agar mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, inklusif, dan bebas dari KESIMPULAN Hasil penelitian mengenai gambaran tingkat pengetahuan bullying pada anak Sekolah Dasar Negeri 11 Kesiman dapat disimpulkan sebagai berikut : Hasil karakteristik responden didapatkan bahwa, dari 54 responden yang diteliti, mayoritas responden berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 30 responden . ,6%) dan mayoritas berada di usia 11 tahun, yaitu sebanyak 11 responden . ,9%). Hasil penelitian gambaran tingkat pengetahuan bullying pada anak Sekolah Dasar Negeri 11 Kesiman menunjukkan bahwa, dari 54 responden mayoritas memiliki pengetahuan yang baik tentang bullying, yaitu sebanyak 25 responden . ,3%) dan minoritas berpengetahuan cukup sebanyak 8 responden . ,8%). SARAN Bagi Pengelola Sekolah Dasar Negeri 11 Kesiman. Berdasarkan temuan penelitian yang menunjukkan adanya kesenjangan pengetahuan, terutama pada siswa laki-laki dan siswa di kelas rendah, disarankan agar pengelola SD Negeri 11 Kesiman dapat mengembangkan dan menerapkan program edukasi anti-bullying yang bersifat diferensial dan Program ini sebaiknya dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik perkembangan peserta didik, misalnya dengan menyajikan materi yang lebih konkret, interaktif, dan menggunakan media yang sesuai untuk siswa kelas IV, sementara untuk kelas V dan VI dapat ditingkatkan kompleksitas Selain itu, perlu ada intervensi khusus yang lebih intensif yang menyasar kelompok siswa laki-laki, misalnya melalui pendekatan mentoring oleh guru atau kegiatan kelompok yang membahas secara eksplisit tentang empati, resolusi konflik, dan konsekuensi dari perilaku bullying. Kolaborasi dengan tenaga Halaman | 34 | kesehatan, psikolog sekolah, atau organisasi terkait juga sangat dianjurkan untuk memperkaya perspektif dan metode penyampaian, sehingga upaya pencegahan bullying tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mampu mengubah sikap dan perilaku seluruh warga sekolah secara efektif. Bagi Responden Berdasarkan temuan penelitian yang mengungkap variasi tingkat pengetahuan bullying berdasarkan karakteristik responden, maka kepada para siswa sebagai responden disarankan untuk secara aktif meningkatkan keterlibatan dalam program edukasi dan sosialisasi mengenai bullying yang diselenggarakan sekolah, mengingat pemahaman yang komprehensif sangat penting untuk pencegahan. Khususnya bagi siswa laki-laki dan siswa di kelas bawah yang memiliki proporsi pengetahuan kurang lebih tinggi, partisipasi aktif dalam kegiatan tersebut menjadi krusial untuk mengejar ketertinggalan pemahaman. Selain itu, seluruh siswa perlu didorong untuk memiliki keberanian dan kepekaan dalam melaporkan setiap insiden bullying, baik yang dialami sendiri maupun yang disaksikan, kepada guru atau pihak sekolah yang dapat dipercaya. Pada akhirnya, diharapkan seluruh siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai empati, kerjasama, dan keterampilan sosial positif untuk secara kolektif menciptakan iklim sekolah yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk perundungan. Bagi Peneliti Selanjutnya Berdasarkan pengalaman lapangan, bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk mengoptimalkan validitas data dengan mengatur tata ruang dan pengawasan yang lebih ketat selama proses pengumpulan data. Pengaturan tempat duduk responden perlu dirancang agar lebih berjarak guna meminimalkan interaksi dan diskusi antar-siswa saat mengisi kuesioner, sehingga jawaban yang diperoleh benar-benar mencerminkan pemahaman individu tanpa pengaruh teman sebaya. Selain itu, pengawasan selama pelaksanaan perlu ditingkatkan, misalnya dengan menambah jumlah enumerator atau membagi responden ke dalam kelompokkelompok kecil yang lebih mudah dikendalikan, agar proses pengisian berlangsung tertib, independen, dan terkontrol secara maksimal. DAFTAR PUSTAKA