ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Desain Soundscape dan Sense of Place sebagai Indikator Inovasi Arsitektur Berkelanjutan pada Ruang Tunggu Operasi Soundscape Design and Sense of Place as Indicators of Sustainable Architectural Innovation in Surgical Waiting Rooms Fitriani1. Anastasia Cinthya Gani2. Wibisono Bagus Nimpuno3. Muji Indarwanto4. Sutrisno Aji Prasetyo5 1Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa 2Desain Interior. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Universitas Tarumanagara 3Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Mercu Buana 4Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Mercu Buana 5Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa 1fitrianisumardi@pelitabangsa. id, 2anastasiag@fsrd. id*, 3wibisono. bagus@mercubuana. 4muji_indrawanto@mercubuana. id*, 5prasetyosutrisno@pelitabangsa. Abstract Surgical waiting rooms are environments characterized by high psychological pressure, as they serve as spaces where patientsAo families wait during surgical procedures marked by uncertainty. Previous research indicates that the surgical waiting room at Mitra Keluarga Hospital. West Bekasi, demonstrates a high level of comfort based on the attributes of physical comfort, social contact, symbolic meaning, and wayfinding. However, the study did not specifically examine auditory aspects as part of the soundscape nor their influence on the formation of sense of place. This study aims to analyze the characteristics of the soundscape in the surgical waiting room and its effect on the sense of place perceived by patientsAo families. The research employs a mixedmethods approach through soundscape observation, noise level measurements, user perception questionnaires, and in-depth The findings reveal that the surgical waiting room is still dominated by external soundscapes, including traffic noise from the hospitalAos front area, corridor activities, and conversations from public areas. Furthermore, no therapeutic auditory elements have been intentionally designed to help reduce anxiety. This condition contributes to a weakened sense of place as a calming waiting environment. The study emphasizes that soundscape design should be positioned as an integral component of hospital architectural strategies, not only to enhance auditory comfort but also to strengthen the quality of sense of place and support usersAo psychological well-being. Keywords: soundscape, sense of place, surgical waiting room, auditory comfort, hospital environment Abstrak Ruang tunggu operasi merupakan ruang dengan tingkat tekanan psikologis tinggi karena berfungsi sebagai tempat keluarga pasien menunggu proses pembedahan yang sarat ketidakpastian. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ruang tunggu operasi pada Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat memiliki tingkat kenyamanan yang tergolong tinggi berdasarkan atribut physical comfort, social contact, symbolic meaning, dan Namun, kajian tersebut belum secara spesifik menelaah aspek bunyi-bunyian sebagai bagian dari soundscape serta pengaruhnya terhadap pembentukan sense of place. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik soundscape di ruang tunggu operasi serta pengaruhnya terhadap sense of place yang dirasakan oleh keluarga pasien. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed-methods melalui observasi soundscape, pengukuran tingkat kebisingan, kuesioner persepsi pengguna, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ruang tunggu operasi masih didominasi oleh soundscape eksternal berupa suara lalu lintas dari area depan rumah sakit, aktivitas di koridor, serta percakapan dari area publik. Selain itu, belum ditemukan elemen bunyi terapeutik yang dirancang secara sadar untuk membantu mereduksi kecemasan. Kondisi ini Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 berdampak pada lemahnya sense of place sebagai ruang menunggu yang menenangkan. Penelitian ini menegaskan bahwa perancangan soundscape perlu diposisikan sebagai bagian integral dari strategi desain arsitektur pada rumah sakit, tidak hanya untuk meningkatkan kenyamanan audial, tetapi juga untuk memperkuat kualitas sense of place dan menunjang kondisi psikologis pengguna. Kata kunci: soundscape, sense of place, ruang tunggu operasi, kenyamanan audial, rumah sakit Pendahuluan Ruang tunggu operasi merupakan salah satu ruang publik rumah sakit yang memiliki karakter psikologis Keluarga pasien yang menunggu tindakan pembedahan berada dalam kondisi cemas, tegang, dan penuh ketidakpastian. Oleh karena itu, kualitas lingkungan binaan ruang tunggu operasi memiliki peran penting dalam memengaruhi kondisi emosional penggunanya. Penelitian sebelumnya di Rumah Sakit Mitra Keluarga Bekasi Barat menunjukkan bahwa ruang tunggu operasi memiliki tingkat kenyamanan yang tinggi berdasarkan empat atribut utama, yaitu physical comfort, social contact, symbolic meaning, dan wayfinding. Dalam atribut physical comfort, bunyi-bunyian disebut sebagai salah satu indikator penting, dengan rekomendasi penggunaan musik klasik dan peredaman kebisingan dari luar ruang. Namun demikian, kajian tersebut masih memandang bunyi-bunyian sebatas ada atau tidaknya kebisingan, dan belum menempatkannya dalam kerangka konseptual soundscape. Konsep soundscape menekankan bahwa kenyamanan audial tidak hanya ditentukan oleh tingkat kebisingan, tetapi oleh bagaimana suara dipersepsikan, dimaknai, dan berinteraksi dengan konteks ruang serta aktivitas Dalam konteks ruang tunggu operasi, soundscape yang tidak dirancang dengan baik berpotensi memperkuat kecemasan dan melemahkan rasa keterikatan emosional terhadap ruang. Oleh karena itu, penelitian ini penting untuk mengkaji bagaimana soundscape di ruang tunggu operasi memengaruhi sense of place keluarga pasien. Soundscape dalam Lingkungan Kesehatan Soundscape didefinisikan sebagai lingkungan bunyi sebagaimana dipersepsikan dan/atau dipahami oleh seseorang atau sekelompok orang dalam konteks tertentu. Dalam fasilitas kesehatan, soundscape berperan besar terhadap kenyamanan psikologis, tingkat stres, dan persepsi kualitas pelayanan. Suara mekanis, percakapan, dan aktivitas sirkulasi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan ketegangan emosional, khususnya pada ruang dengan tingkat stres tinggi seperti ruang tunggu operasi. Bunyi-bunyian sebagai Bagian dari Physical Comfort Dalam kajian arsitektur perilaku dan psikologi lingkungan, bunyi-bunyian merupakan bagian dari atribut physical comfort bersama pencahayaan, penghawaan, dan kualitas visual ruang. Musik lembut, khususnya musik klasik atau suara alam, terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan dan memberikan efek relaksasi. Sebaliknya, kebisingan yang tidak diinginkan dapat mengganggu konsentrasi, meningkatkan iritabilitas, dan memperburuk kondisi psikologis pengguna ruang. Sense of Place Sense of place merujuk pada ikatan emosional dan makna yang terbentuk antara manusia dan ruang. Dalam konteks ruang tunggu operasi, sense of place tercermin melalui rasa aman, tenang, nyaman, dan penerimaan terhadap ruang sebagai tempat menunggu yang suportif secara emosional. Elemen audial merupakan salah satu komponen penting dalam pembentukan sense of place, selain elemen visual dan spasial. Inovasi arsitektur dalam konteks pembangunan berkelanjutan tidak hanya berfokus pada efisiensi energi dan material, tetapi juga pada peningkatan kualitas pengalaman manusia dalam ruang. Penelitian ini menunjukkan bahwa soundscape sebagai elemen sensori ruang memiliki peran strategis dalam membentuk Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 sense of place dan kenyamanan psikologis di ruang tunggu operasi pada rumah sakit. Dengan menghadirkan lingkungan audial yang menenangkan melalui pendekatan desain pasif dan human-centered, arsitektur berkontribusi langsung terhadap pencapaian SDGs, khususnya tujuan kesehatan dan kesejahteraan (SDG . , inovasi infrastruktur (SDG . , dan kota berkelanjutan (SDG . Metode Penelitian Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods dengan mengombinasikan metode kuantitatif dan Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh gambaran komprehensif mengenai kondisi soundscape dan persepsi pengguna ruang. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada Rumah Sakit Mitra Keluarga. JL. Jenderal Ahmad Yani Ae Bekasi Barat 17144. Objek dalam penelitian ini adalah ruang tunggu operasi pada Rumah Sakit Mitra Keluarga Ae Bekasi Barat, terletak di lantai 1 tepat di depan entrance, letak ruang tunggu cukup jauh dari ruang operasi. Gambar 1. Lokasi Penelitian Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dirancang untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai karakteristik soundscape serta pengaruhnya terhadap sense of place di ruang tunggu operasi. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan data kuantitatif dan kualitatif guna memastikan hasil analisis yang objektif sekaligus kontekstual. Instrumen penelitian dipilih berdasarkan relevansinya dalam mengidentifikasi sumber bunyi, mengukur intensitas kebisingan, serta memahami persepsi dan pengalaman emosional pengguna ruang. Adapun uraiannya sebagai berikut: Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 Tabel 1. Teknik Pengumpulan Data Instrumen Penelitian Deskripsi Waktu Dasar Pertimbangan Observasi Soundscape Identifikasi sumber suara, jenis suara, dan karakteristik bunyi yang terdengar di dalam ruang Hari kerja Dilakukan pada hari kerja, karena umumnya tindakan bedah dilakukan pada hari kerja. Pengukuran Pengukuran intensitas suara . B) pada beberapa titik ruang untuk mengetahui dominasi suara eksternal. Tingkat Kebisingan Kuesioner Persepsi Pengguna Wawancara Waktu ditentukan pada jam efektif bedah untuk memperoleh kestabilan hasil observasi. Mengukur persepsi keluarga pasien terhadap kenyamanan audial dan ketenangan ruang. Menggali pengalaman emosional dan harapan pengguna terhadap suasana bunyi di ruang tunggu operasi. Dasar pertimbangan sama seperti instrumen lainnya, akan tetapi wawancara dilakukan setelah hasil akhir dari semua instrumen telah diketahui. Hasil dan Pembahasan Hasil observasi menunjukkan bahwa soundscape ruang tunggu operasi didominasi oleh suara eksternal, seperti lalu lintas kendaraan, percakapan di koridor publik, serta aktivitas administrasi dan pengumuman melalui pengeras suara, dengan peningkatan intensitas pada jam operasional padat akibat tingginya arus kunjungan dan kedekatan ruang dengan jalur sirkulasi utama. Dari sisi internal, ruang juga diwarnai oleh percakapan keluarga pasien, suara televisi, dan gesekan furnitur yang menimbulkan pantulan bunyi karena terbatasnya material penyerap suara, sehingga tercipta tumpang tindih bunyi . uditory layerin. yang bersifat intermiten dan kurang terkontrol. Tidak ditemukannya elemen bunyi terapeutik, seperti musik lembut atau suara alam, menyebabkan ruang tidak memiliki karakter audial yang menenangkan dan lebih menyerupai area publik yang aktif dibandingkan ruang transisi yang suportif secara emosional. Pengukuran intensitas suara pada tiga titik ruang menunjukkan kisaran 45Ae58 dB(A), dengan nilai tertinggi berada di area dekat bukaan dan cenderung sedikit menurun ke bagian dalam ruang, namun perbedaannya tidak signifikan sehingga mengindikasikan dominasi transmisi bunyi dari luar. Jika dibandingkan dengan standar kenyamanan akustik fasilitas kesehatan . Ae50 dB(A)), tingkat kebisingan tersebut berada sedikit di atas ambang yang direkomendasikan dan berpotensi mempengaruhi kestabilan emosional keluarga pasien. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem peredaman pasif, baik melalui material maupun konfigurasi spasial, belum bekerja secara optimal. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa persepsi kenyamanan audial dan ketenangan ruang berada pada kategori cukup namun belum optimal . ata-rata 3,2Ae3,7 pada skala Likert 1Ae. , di mana lebih dari separuh responden menyatakan bahwa kebisingan eksternal mengganggu dan meningkatkan rasa cemas selama Wawancara mendalam memperkuat temuan tersebut dengan mengungkap bahwa bunyi yang muncul tiba-tiba memicu respons kaget dan tegang, sementara ketiadaan bunyi latar yang menenangkan membuat suasana ruang kurang mendukung stabilitas emosional. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kenyamanan visual-spasial dan pengalaman audial pengguna, sehingga soundscape yang belum terkelola secara komprehensif berkontribusi pada lemahnya pembentukan sense of place sebagai ruang menunggu yang menenangkan dan menjadi indikator penting perlunya integrasi Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 ISSN: 2962-3545 Prosiding SAINTEK: Sains dan Teknologi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026 Call for papers dan Seminar Nasional Sains dan Teknologi Ke-5 2026 Fakultas Teknik. Universitas Pelita Bangsa. Februari 2026 desain akustik dalam inovasi arsitektur fasilitas kesehatan yang berorientasi pada pengalaman dan kesejahteraan pengguna. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa soundscape ruang tunggu operasi memiliki peran signifikan dalam membentuk sense of place keluarga pasien. Meskipun secara visual dan spasial ruang telah memenuhi beberapa indikator kenyamanan fisik, hasil observasi dan pengukuran intensitas suara memperlihatkan bahwa lingkungan audial masih didominasi oleh kebisingan eksternal, seperti lalu lintas kendaraan, percakapan di koridor, serta aktivitas administrasi dengan tingkat intensitas suara yang berada di atas standar kenyamanan Kondisi ini diperkuat oleh persepsi pengguna yang menilai kenyamanan audial berada pada kategori cukup tenang namun belum optimal, serta adanya respons emosional berupa peningkatan kecemasan akibat bunyi yang bersifat intermiten dan tidak terprediksi. Selain itu, tidak ditemukannya elemen bunyi terapeutik yang dirancang secara sadar, absennya identitas audial yang menenangkan, menyebabkan ruang lebih dipersepsikan sebagai perpanjangan area publik rumah sakit daripada sebagai ruang transisi yang suportif. Hal ini menunjukkan bahwa perancangan soundscape perlu dipertimbangkan secara strategis dalam inovasi arsitektur, tidak hanya untuk meningkatkan kenyamanan akustik, tetapi juga untuk memperkuat kualitas pengalaman ruang dan pembentukan sense of place yang menenangkan secara psikologis. Dengan demikian, integrasi desain akustik dan elemen bunyi terapeutik menjadi bagian penting dalam pengembangan arsitektur berkelanjutan berbasis pengalaman manusia, sejalan dengan upaya peningkatan kualitas lingkungan kesehatan yang responsif terhadap kebutuhan psikologis pengguna. Rekomendasi Disarankan agar rumah sakit mempertimbangkan penerapan desain soundscape melalui peredaman suara eksternal, penggunaan material penyerap bunyi, serta penambahan bunyi-bunyian positif seperti musik lembut atau suara alam. Penelitian lanjutan dapat mengkaji perbandingan soundscape pada berbagai tipe rumah sakit dan pengaruhnya terhadap kondisi psikologis pengguna. Ucapan Terima Kasih