Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 Nomor 3. Juli 2024 e-ISSN 2549-8134. p-ISSN 2089-0834 http://journal. id/index. php/PSKM HUBUNGAN USIA. JENIS KELAMIN DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN KEPATUHAN PEMBATASAN CAIRAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS Nur Komariyah. Dwi Nur Aini*. Heny Prasetyorini Program Studi Keperawatan. Fakultas Keperawatan. Bisnis dan Teknologi. Universitas Widya Husada Semarang. Jl. Subali Raya No. Krapyak. Semarang Barat. Semarang. Jawa Tengah 50146. Indonesia *dwi. nuraini00@gmail. ABSTRAK Gagal ginjal kronik merupakan penyakit kronis yang mempengaruhi keseimbangan di dalam tubuh sehingga membutuhkan terapi hemodialisis. Pasien yang menjalani terapi hemodialisa perlu melakukan pembatasan cairan. Kepatuhan pembatasan cairan dapat dipengaruhi usia, jenis kelamin dan tingkat Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional Sampel penelitian adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan sebanyak 32 orang yang memenuhi kriteria inklusi dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan data demografi yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan kuesioner kepatuhan pembatasan cairan yang sudah dilakukan uji validitas oleh peneliti sebelumnya dengan nilai r hitung 0,621 Ae 0,872 lebih besar dari r tabel 0,514 dan sudah reliabel dengan cronbachAos alpha sebesar 0,93. Analisa data menggunakan kendall tau c. Mayoritas 26 orang . ,3%) berusia dewasa, 17 orang . ,1%) berjenis kelamin laki-laki, 12 orang . ,5%) berpendidikan tamat SD/ tamat SMP dan 20 orang . ,5%) patuh dalam pembatasan cairan. Ada hubungan usia . : 0,017. CC: 0,. , jenis kelamin . : 0,039. CC: 0,. dan tingkat pendidikan . 0,033. CC: 0,. dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan berhubungan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani Kata kunci: kepatuhan. jenis kelamin. tingkat pendidikan. RELATIONSHIP BETWEEN AGE. GENDER AND EDUCATION LEVEL AND COMPLIANCE FLUID RESTRICTION IN PATIENTS UNDERGOING CHRONIC RENAL FAILURE HEMODIALYSIS ABSTRACT Chronic renal failure is chronic disease that affects the balance in the body, requiring haemodialysis Patients undergoing haemodialysis therapy need to do fluid restriction. Fluid restriction compliance can be influenced by age, gender and education level. The purpose of research was to determine the relationship between age, gender and education level with fluid restriction compliance in chronic renal failure patients undergoing haemodialysis at Kajen Hospital. Pekalongan Regency. The research design used descriptive correlation with cross sectional approach. The research sample was chronic renal failure patients undergoing haemodialysis at Kajen Hospital Pekalongan Regency as many as 32 people who met the inclusion criteria with total sampling technique. The research instrument uses demographic data which includes age, gender, education level, fluid restriction compliance questionnaire which has been tested for validity by previous researchers with a calculated r value of 621 - 0. 872 which is greater than the r table of 0. 514 and is reliable with a Cronbach's alpha of 0. Data analysis using Kendall Tau c. The majority of 26 people . 3%) were adult, 17 people . were male, 12 people . 5%) had elementary school or junior high school education and 20 people . 5%) were compliant in fluid restriction. There were relationship between age . : 0. CC: 0. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 No 3. Juli 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal gender . : 0. CC: 0. and education level . : 0. CC: 0. with fluid restriction compliance in chronic renal failure patients undergoing haemodialysis at Kajen Hospital. Pekalongan Regency. Age, gender and education level are associated with fluid restriction compliance in chronic renal failure patients undergoing haemodialysis. Keywords: age. education level. PENDAHULUAN Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan masyarakat global dengan prevalence dan insiden gagal ginjal kronik yang meningkat, prognosis yang buruk dan biaya tinggi (Kemenkes RI, 2017. Penyakit ginjal kronis adalah kondisi progresif yang mempengaruhi lebih dari 10% populasi umum di seluruh dunia atau lebih dari 800 juta orang (National Kidney Foundation. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. 2018 menunjukkan bahwa prevalensi ginjal kronik pada penduduk di atas 15 tahun di Indonesia tahun 2013-2018 sebesar 3,8% dan di Propinsi Jawa Tengah sebesar 4%, lebih tinggi daripada angka prevalensi nasional (Kemenkes RI, 2. Ginjal dapat tidak berfungsi pada tahap tertentu membutuhkan terapi hemodialisis untuk membantu mengeluarkan toksin uremik dan cairan serta pengaturan keseimbangan cairan, elektrolit dan asam basa (Tjokroprawiro, 2. Indonesian Renal Registry (IRR) melaporkan bahwa jumlah penderita gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis pada tahun 2018 sebanyak 36. 975 orang (Indonesian Renal Registry, 2. Gagal ginjal kronik terjadi karena penurunan kemampuan ginjal dalam mempertahankan keseimbangan di dalam tubuh. Kerusakan ginjal terjadi pada nefron termasuk glomerulus dan tubulus ginjal, nefron yang mengalami kerusakan tidak dapat kembali berfungsi normal. Penurunan kemampuan ginjal mengakibatkan terganggunya keseimbangan cairan di dalam tubuh, mengakibatkan penumpukan sisa metabolisme terutama ureum . enyebabkan terjadinya ureimi. , gangguan keseimbangan cairan, penumpukan cairan dan elektrolit di dalam tubuh (Siregar, 2. Pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa perlu melakukan self care hemodialisa meliputi kepatuhan pada pengobatan, pengelolaan aktivitas fisik olah raga, pengelolaan diet, pengelolaan terapi hemodialisa, pengelolaan respon psikologis dan pembatasan cairan (Peng dkk, 2. Penelitian mengenai kelebihan cairan pada pasien gagal ginjal kronik diketahui bahwa paling banyak perubahan berat badan (IDWG atau Interdialytic Weight Gai. pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa sebesar > 3,5% sebanyak 37 responden . ,7%) (Kurnia, 2. Hasil ini melebihi penambahan berat badan yang baik yaitu berkisar 2,5%-3,5%. Penelitian Melianna . menyebutkan dari 84 pasien gagal ginjal kronik terdapat 45 orang . %) yang kelebihan cairan atau overload (Melianna, 2. Peningkatan 1 kg berat badan sama dengan peningkatan 1 liter cairan. Pemantauan berat badan pasien gagal ginjal kronik merupakan cara yang mudah dan akurat untuk menilai terjadinya pertambahan dan pengurangan jumlah cairan di dalam tubuh. Manajemen cairan merupakan tindakan yang dilakukan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit di dalam tubuh atau menghitung masukan dan pengeluaran cairan. Manajemen cairan juga dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat dari jumlah cairan yang berlebihan. Manajemen cairan yang tidak dilakukan dapat menyebabkan penambahan berat badan Interdialitic Weight Gain (IDWG) sehingga mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas (Siregar, 2. Untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh dibutuhkan kepatuhan pasien gagal ginjal kronik dalam pembatasan cairan. Hasil sebuah penelitian diketahui bahwa pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodilisa sebagian besar . ,00%) klien tidak paham dan tidak patuh dalam pembatasan cairan. Sebagian besar . ,85%) pasien gagal ginjal kronis stadium 5 yang Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 No 3. Juli 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal memiliki penyakit penyerta tidak patuh dalam pembatasan cairan. Sebagian besar . %) pasien yang menjalani hemodialisa kurang dari 12 bulan patuh dalam pembatasan cairan (Fidayanti. Kepatuhan dapat dipengaruhi beberapa faktor. Teori Health Belief Model (HBM) menyebutkan bahwa terdapat 4 . faktor yang mempengaruhi kepatuhan yaitu persepsi individu, faktor modifikasi, faktor likelihood of action . emungkinan besar tindaka. dan cues to action . emungkinan tindaka. Faktor modifikasi meliputi usia, jenis kelamin, ras, pendidikan, status sosial ekonomi, pengetahuan dan kepribadian merupakan faktor yang penting dalam mempengaruhi kepatuhan karena mempengaruhi persepsi individu mengenai manfaat dari suatu pengobatan atau perawatan dan persepsi ancaman jika tidak melakukan pengobatan atau perawatan (Fauzi & Nishaa, 2. Kepatuhan pasien gagal ginjal kronik dipengaruhi beberapa faktor yaitu usia, pendidikan, status pekerjaan. Indeks Massa Tubuh (IMT), lama hemodialisa, durasi hemodialisa, pengetahuan dan Variabel yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan pembatasan cairan adalah usia (Herlina, 2. Demikian pula penelitian yang menunjukkan bahwa kejadian gagal ginjal kronis pada jenis kelamin laki laki cenderung memiliki resiko lebih besar dibandingkan Hal ini disebabkan kebiasaan buruk laki laki dalam gaya hidup yang tidak dapat menjaga kesehatannya (Kemenkes RI, 2017. , dan penelitian lain menyebutkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kepatuhan pembatasan cairan adalah varibel pendidikan, tingkat pendidikan individu memberikan kesempatan yang lebih dalam menerima pengetahuan baru termasuk informasi kesehatan (Mardjan & Aswad, 2. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupten Pekalongan. METODE Desain penelitian menggunakan deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan sebanyak 32 orang dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan data demografi yang meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan kuesioner kepatuhan pembatasan cairan yang sudah dilakukan uji validitas oleh peneliti sebelumnya dengan nilai r hitung 0,621 Ae 0,872 lebih besar dari r tabel 0,514 dan sudah reliabel dengan cronbachAos alpha sebesar 0,93. Analisa data menggunakan analisa univariat yang menghasilkan distribusi frekuensi dalam bentuk prosentase meliputi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan kepatuhan pembatasan cairan. Analisa bivariat menggunakan kendalls tau c. Penelitian ini sudah melalui uji etik Nomor 15/EC-1/PPM/UWHS/II-2023. HASIL Tabel 1. Distribusi Frekuensi berdasarkan Usia. Jenis Kelamin. Tingkat Pendidikan Responden . = . Karakteristik Responden Usia Dewasa ( 20-60 tahun ) Lanjut Usia . iatas 60 tahu. Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Tingkat Pendidikan Tamat akademi/ PT Tamat SMA/SMK Tamat SD/ tamat SMP Tidak sekolah/ Tidak tamat SD Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 No 3. Juli 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas usia responden pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis yaitu 26 responden . ,3%) termasuk dalam kategori usia dewasa. Mayoritas jenis kelamin responden pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis yaitu 17 responden . ,1%) berjenis kelamin laki-laki dan mayoritas tingkat pendidikan responden pada pasien gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisa yaitu 12 responden . ,5%) berpendidikan tamat SD/ tamat SMP. Tabel 2. Distribusi Frekuensi berdasarkan Kepatuhan Pembatasan Cairan Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis . = . Kepatuhan Pembatasan Cairan Patuh Tidak patuh Tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas kepatuhan pembatasan cairan pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa yaitu 20 responden . ,5%) patuh dalam pembatasan cairan. Tabel 3. Hubungan Usia dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis . = . Usia Dewasa . -60 tahu. Lanjut usia . i atas 60 Kepatuhan Pembatasan Cairan Tidak Patuh Total 0,017 0,344 Patuh Tabel 3 diperoleh data responden yang berusia dewasa . -60 tahu. dengan kategori patuh dalam pembatasan cairan sebanyak 19 responden . ,1%) sedangkan kategori tidak patuh dalam pembatasan cairan sebanyak 7 responden . ,9%). Lanjut usia . i atas 60 tahu. dengan kategori patuh dalam pembatasan sebanyak 1 orang . ,7%) sedangkan kategori tidak patuh dalam pembatasan cairan sebanyak 5 responden . ,3%). Hasil uji Kendall Tau-c antara usia dengan kepatuhan pembatsan cairan diperoleh A value sebesar 0,017 < 0,05, yang berarti H0 ditolak, sehingga ada hubungan usia dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Nilai coeficien corrleation (CC) diperoleh 0,344 yang berarti hubungan usia dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis cukup kuat. Penelitian ini mempunyai arah hubungan yang positif, maka semakin dewasa usia pasien gagal ginjal kronik maka semakin patuh dalam pembatasan cairan. Tabel 4. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis . = . Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Total Kepatuhan Pembatasan Cairan Patuh Tidak Patuh Total 0,039 0,328 Tabel 4 menunjukkan responden yang berjenis kelamin perempuan dengan kategori patuh dalam pembatasan cairan sebanyak 12 responden . %) sedangkan kategori tidak patuh dalam pembatasan cairan sebanyak 3 responden . %), dan responden yang jenis kelamin laki-laki dengan kategori patuh sebanyak 8 responden . ,1%) sedangkan kategori tidak patuh dalam pembatasan cairan sebanyak 9 responden . ,9%). Hasil uji Kendall Tau-c antara jenis kelamin Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 No 3. Juli 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal dengan kepatuhan pembatsan cairan diperoleh A value sebesar 0,039 < 0,05, yang berarti H0 ditolak, sehingga ada hubungan jenis kelamin dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Nilai coeficien corrleation (CC) diperoleh 0,328 yang berarti hubungan jenis kelamin dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa cukup kuat. Penelitian ini mempunyai arah hubungan yang positif, maka pasien gagal ginjal kronik yang berjenis kelamin perempuan maka semakin patuh dalam pembatasan cairan. Tabel 5. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis . = . Kepatuhan Pembatasan Cairan Tingkat Pendidikan Tamat akademi/ PT Tamat SMA/ SMK Tamat SD/ tamat SMP Tidak sekolah / tidak tamat SD Patuh Tidak Patuh Total 0,033 0,363 Hasil uji Kendall Tau-c antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatsan cairan diperoleh A value sebesar 0,033 < 0,05, yang berarti H0 ditolak, sehingga ada hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Nilai coeficien corrleation (CC) diperoleh 0,363 yang berarti hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa cukup kuat. Penelitian ini mempunyai arah hubungan yang positif, maka semakin tinggi pendidikan pasien gagal ginjal kronik maka semakin patuh dalam pembatasan cairan. PEMBAHASAN Usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu 26 orang . ,3%) termasuk dalam kategori usia dewasa, sedangkan 6 orang . ,8%) termasuk dalam usia lanjut. Pertambahan usia berisiko terhadap munculnya penyakit kronis seperti gagal ginjal kronik. Penyakit tertentu muncul pada usia tertentu dalam kehidupan pasien seperti halnya penyakit kronis yang membutuhkan rentang waktu yang lama sehingga seringkali muncul pada usia Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa penyakit kronis biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk berkembang sehingga penyakit kronis akan muncul dan berkembang pada usia dewasa atau usia lanjut (Hasnawati dkk, 2. Pertambahan umur menyebabkan sel-sel tubuh melemah, demikian pula pada ginjal, jumlah nefron yang berfungsi mengalami penurunan, sehingga penyakit gagal ginjal kronik lebih banyak dijumpai pada usia dewasa atau lansia. (Smeltzer, 2. Hal ini didukung oleh penelitian yang menyebutkan bahwa mayoritas . %) pasien gagal ginjal kronik berusia 46-55 tahun (Ariyani, 2. Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu 17 orang . ,1%) berjenis kelamin laki-laki. Pasien yang berjenis kelamin laki-laki lebih rentan terhadap penyakit kronis seperti jantung, hipertensi dan gagal ginjal kronik akibat faktor biologis seperti hormon maupun perilaku hidup tidak sehat. Pasien laki-laki berpeluang lebih besar kematian akibat penyakit Hal ini dikarenakan laki-laki mempunyai perilaku kesehatan yang kurang baik sehingga memperburuk penyakit kronis yang diderita. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa angka kesakitan lebih tinggi pada wanita sedangkan angka kematian lebih tinggi pada laki-laki. Perbedaan angka kesakitan dan kematian ini dapat disebabkan faktor instrinsik Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 No 3. Juli 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal meliputi faktor keturunan yang terkait dengan jenis kelamin, perbedaan hormonal, dan faktor eksternal seperti faktor lingkungan, lebih banyak laki-laki yang merokok, konsusmsi alkohol dan bekerja berat (Hasnawati dkk, 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien gagal ginjal kronik berjenis kelamin lakilaki. Hal ini sesuai dengan teori bahwa pembesaran prostat dan pembentukan batu renal lebih banyak diderita laki laki yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal, selain itu laki laki juga lebih banyak mempunyai kebiasaan yang dapat mempengaruhi kesehatan seperti merokok, minum kopi, alkohol dan minuman suplemen yang dapat memicu terjadinya penyakit sistemik yang dapat menurunkan fungsi ginjal (Black & Hawks, 2. Hal ini juga didukung oleh penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa mayoritas . %) pasien gagal ginjal kronik berjenis kelamin laki-laki (Mait, 2. Tingkat Pendidikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu 12 orang . ,5%) berpendidikan tamat SD/ tamat SMP. Seseorang yang mempunyai pendidikan dasar kurang dalam memahami informasi mengenai kesehatan dan kurang memperhatikan masalah kesehatan sehingga muncul penyakit kronis seperti gagal ginjal kronik. Responden dengan tingkat pendidikan rendah dalam mengelola penyakit kornis juga mempunyai keterbasan untuk memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa pasien yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih luas, dan terbiasa dengan pengetahuan yang rumit, seperti dalam membatasi cairan pada pasien gagal ginjal kronis, sehingga akan berpengaruh dalam berprilaku salah satunya membatasi cairan pada kondisi gagal ginjal kronis (Aditya, 2. Penelitian ini diketahui mayoritas pasien gagal ginjal kronik berpendidikan dasar . amat SD/ tamat SMP). Hal ini dapat sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menyebutkan bahwa mayoritas . ,19%) pasien gagal ginjal kronik berpendidikan dasar (Sitiaga, 2. Kepatuhan Pembatasan Cairan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu 20 orang . ,5%) patuh dalam pembatasan cairan, sedangkan 12 orang . ,5%) tidak patuh. Pasien gagal ginjal kronik yang tidak mematuhi pembatasan cairan dapat mengakibatkan penumpukan cairan sehingga terjadi edema paru dan hipertropi pada ventrikel kiri (Price & Wilson, 2. Penumpukan cairan dalam tubuh akan menganggu fungsi kerja jantung dan paru-paru menjadi lebih berat, sehingga pasien mengalami sesak nafas dan cepat lelah. Pasien juga dapat mengalami gangguan dalam beraktivitas baik aktivitas ringan maupun aktivitas yang berat (Siregar, 2. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa pasien gagal ginjal kronik yang tidak patuh dalam pembatasan cairan dapat menyebabkan edema post hemodialisa yang dapat menyebabkan komplikasi oedema pulmo dan decompensasi cordis. Penelitian diperoleh bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pembatasan cairan terhadap terjadinya edema post hemodialisa (Melianna, 2. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa kepatuhan pembatasan cairan berisiko terhadap terjadinya hypervolemia pada pasien gagal ginjal (Rahma, 2. Hubungan Usia dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Hasil uji Kendall Tau-c antara usia dengan kepatuhan pembatsan cairan diperoleh A value sebesar 0,017 < 0,05, yang berarti H0 ditolak, sehingga ada hubungan usia dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Nilai coeficien correlation (CC) diperoleh 0,344 yang berarti hubungan usia dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa cukup kuat yaitu rata rata terjadi pada usia 37- 56 tahun sehingga termasuk dalam Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 No 3. Juli 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal kategori usia dewasa. Usia seseorang mempengaruhi dirinya dalam berperilaku untuk Pasien gagal ginjal kronik yang berusia dewasa akan akan lebih patuh dalam memperhatikan asupan cairan agar tidak terjadi komplikasi kesehatan seperti edema dan hypervolemia yang membahayakan kesehatannya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa usia seseorang yang telah memasuki usia 40 tahun ke atas perilaku kesehatannya jauh lebih baik dibandingkan usia di bawah atau di atasnya, karena pada usia tersebut sudah memberi kedewasaan dalam berpikir untuk berperilaku yang lebih baik bagi kesehatannya (Marniati, 2. Pasien gagal ginjal kronik yang lanjut usia, tidak patuh dalam pembatasan cairan dapat dikarenakan pasien mengalami penurunan daya ingat. Pasien lanjut usia mengalami gangguan kognitif lupa sehingga lupa jumlah cairan yang telah dikonsumsi. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Hasil uji Kendall Tau-c antara jenis kelamin dengan kepatuhan pembatsan cairan diperoleh A value sebesar 0,039 < 0,05, yang berarti H0 ditolak, sehingga ada hubungan jenis kelamin dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Nilai coeficien correlation (CC) diperoleh 0,328 yang berarti hubungan jenis kelamin dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa cukup kuat. Perempuan mempunyai kompleksitas pengalaman tentang kesehatan baik kesehatan reproduksi, anak maupun keluarga. Perempuan sebagai wanita mempunyai pengalaman dalam menjaga kesehatan reproduksi dari remaja hingga dewasa. Perempuan juga berperan dalam kesehatan gizi anak dan keluarga, mulai dari gizi anak, pertumbuhan dan perkembangan anak, gizi keluarga dan mengurus segala keperluan suami termasuk kesehatannya, sehingga perempuan mempunyai informasi dan pengetahuan yang baik tentang kesehatan sehingga akan mempengaruhi perilakunya dalam Dari hasil penelitian diketahui bahwa responden laki-laki yang tidak patuh . ,9%) lebih banyak dari pada yang patuh . ,1%). Laki-laki lebih mudah haus sehingga tidak patuh dalam pembatasan cairan karena laki-laki mempunyai aktivitas yang lebih tinggi di luar sehingga konsumsi cairan lebih banyak. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa komposisi tubuh antara laki-laki dan perempuan berbeda-beda, laki-laki cenderung memiliki lebih banyak jaringan otot sedangkan perempuan memiliki lebih banyak kandungan lemak di tubuhnya, sehingga cairan tubuh perempuan lebih sedikit dibandingkan laki-laki yang mengakibatkan ambang haus pada perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki (Isrofah & Angkasa, 2. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan Hasil uji Kendall Tau-c antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatsan cairan diperoleh A value sebesar 0,033 < 0,05, yang berarti H0 ditolak, sehingga ada hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan. Nilai coeficien corrleation (CC) diperoleh 0,363 yang berarti hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisa cukup kuat. Pasien yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi memudahkan dalam menerima informasi sehingga terbentuk suatu persepsi yang baik mengenai pembatasan cairan. Pasien dengan persepsi baik dapat mengelola penyakit sesuai dengan anjuran petugas kesehatan atau perawat, sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi akibat kelebihan cairan pada pasien gagal ginjal kronik. Tingkat pendidikan merupakan Self perseption, semakin tinggi tingkat pendidikan maka merangsang pengolahan informasi mengenai pembatasan cairan yang diterima sehingga terbentuk persepsi perilaku dalam pembatasan cairan yang baik. Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Volume 14 No 3. Juli 2024 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal SIMPULAN Terdapat hubungan usia dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan dengan A value: 0,017 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,344. Terdapat hubungan jenis kelamin dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan dengan A value: 0,039 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0, 328. Terdapat hubungan tingkat pendidikan dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUD Kajen Kabupaten Pekalongan dengan A value: 0,033 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,363. DAFTAR PUSTAKA