Jl. Beringin Entrop. Kota Jayapura, papua Vol. No. Maret 2025, pp. e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598. DOI : https://doi. org/10. 55049/ wq8twh26 Pelatihan Tata Kelola Keuangan Bagi Pelaku UMKM Di Arso Swakrsa Kabupaten Keerom Helmi Toatubun*. Agus Sunaryo*. Fachri Baasalem*. Rahmi**, dan Ahadi Rerung* *Dosen Program Studi Keuangan dan Perbankan. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura **Dosen Program Studi Manajemen. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Port Numbay Jayapura Alamat Email : helmitoatubun@gmail. ARTICLE INFO Riwayat Artikel: Diterima 1 Maret 2025 Disetujui 29 Maret 2025 Keywords: UMKM, Keuangan Usaha. Pelatihan. Pencatatan Keuangan ABSTRAK Abstract : Micro. Small, and Medium Enterprises (MSME. play a vital role in Indonesia's economic development, including in the Arso Swakarsa region. However, many MSME actors still face significant challenges in managing their business finances, such as the absence of systematic transaction records, lack of financial reports, and low financial literacy. This community service program aims to improve the basic financial management skills of MSME actors through a simple and practical approach. The program was implemented through several stages: initial observation, module preparation, direct training sessions, practical simulations, and follow-up mentoring. Participants were trained to record daily business transactions using a simplified cash book and to prepare basic income statements and cash flow Evaluation was conducted using pre- and post-tests, as well as assessments of participants' financial reporting practices. The results show a significant increase in participantsAo understanding and ability to manage business finances. Most participants began using daily cash books and successfully produced basic financial statements. The activity also fostered a mindset shift regarding the importance of sound financial governance as a foundation for sustainable business growth. This program holds potential for replication among other MSME groups in the Keerom District Abstrak : Pelaku Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam perekonomian nasional, termasuk di wilayah Arso Swakarsa. Namun, banyak pelaku UMKM yang masih menghadapi kendala dalam pengelolaan keuangan usaha, seperti tidak adanya pencatatan transaksi, laporan keuangan yang belum disusun, dan rendahnya literasi keuangan. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dasar pelaku UMKM dalam mengelola keuangan usaha secara sederhana dan Kegiatan dilakukan melalui beberapa tahap: observasi awal, penyusunan modul, pelatihan langsung, simulasi praktik, serta pendampingan Peserta dilatih untuk mencatat transaksi harian menggunakan buku kas sederhana serta menyusun laporan laba rugi dan arus kas untuk periode Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test, serta melalui hasil praktik peserta. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman dan kemampuan pelaku UMKM dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan. Sebagian besar peserta mulai menerapkan buku kas harian, dan mampu menyusun laporan keuangan dasar. Kegiatan ini juga mendorong perubahan pola pikir pelaku usaha terhadap pentingnya tata kelola keuangan yang baik sebagai fondasi pertumbuhan usaha yang berkelanjutan. Program ini berpotensi untuk direplikasi pada kelompok UMKM lainnya di wilayah Kabupaten Keerom. Open access article under the CC BY-SA license. URL Jurnal: https://cendisia. stie-portnumbay. id/index. php/cnd/ A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Pendahuluan Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan sektor strategis dalam pembangunan ekonomi nasional karena berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, dan pengentasan kemiskinan. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM . UMKM menyumbang lebih dari 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan menyerap lebih dari 97% tenaga kerja Peran signifikan ini menjadikan UMKM sebagai pilar utama perekonomian, baik di tingkat nasional maupun daerah. Namun, di balik kontribusi tersebut. UMKM masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya kapasitas dalam tata kelola keuangan. Bukan hanya soal keterbatasan akses pembiayaan, permasalahan yang lebih mendasar terletak pada belum terbentuknya kebiasaan pencatatan transaksi secara sistematis, penyusunan laporan keuangan, dan pengelolaan arus kas yang efektif. Akibatnya, pelaku UMKM sering kali tidak memiliki informasi keuangan yang akurat untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan usaha, dan kesulitan mendapatkan dukungan dari lembaga keuangan formal. Situasi ini juga ditemukan pada pelaku UMKM di Arso Swakarsa. Kabupaten Keerom, yang umumnya bergerak di sektor produksi rumah tangga seperti makanan, kerajinan, dan perdagangan harian. Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa banyak pelaku usaha di wilayah ini belum melakukan pencatatan transaksi usaha secara rutin. Informasi keuangan hanya didasarkan pada ingatan dan perkiraan, tanpa dokumentasi yang jelas. Laporan keuangan seperti laba rugi, arus kas, ataupun rekap modal kerja belum pernah disusun. Hal ini membuat mereka sulit mengevaluasi kinerja usaha dan menetapkan strategi pertumbuhan yang tepat. Minimnya pemahaman dan keterampilan dalam pencatatan serta pengelolaan keuangan menghambat potensi pertumbuhan UMKM di Arso Swakarsa. Tanpa sistem pengelolaan keuangan yang baik, pelaku usaha cenderung kehilangan kontrol atas arus kas, rentan terhadap kesalahan dalam pengeluaran, serta tidak memiliki dasar objektif untuk mengambil keputusan usaha. Oleh karena itu, tim pengabdian memandang perlu dilakukan kegiatan pelatihan tata kelola keuangan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas lokal. Pelatihan ini bertujuan memberikan keterampilan dasar dalam pencatatan keuangan, menyusun laporan sederhana, serta mengelola arus kas dan rencana keuangan secara efisien. Prinsip yang digunakan adalah penyederhanaan materi akuntansi agar mudah diaplikasikan oleh pelaku UMKM tanpa latar belakang pendidikan formal di bidang keuangan. Dengan meningkatnya pemahaman dan praktik tata kelola keuangan yang baik, pelaku UMKM di Arso Swakarsa diharapkan dapat menjalankan usahanya secara lebih efisien, akuntabel, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang. Keberhasilan program ini juga diharapkan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi pada UMKM di wilayah Keerom lainnya. Rumusan Masalah Berdasarkan pengamatan awal dan wawancara dengan pelaku UMKM di Arso Swakarsa, ditemukan beberapa permasalahan utama yang berkaitan dengan tata kelola keuangan usaha: Tidak adanya pencatatan keuangan yang sistematis, baik untuk pemasukan maupun pengeluaran. Tidak tersusunnya laporan keuangan sederhana seperti laporan laba rugi dan arus kas. Rendahnya pemahaman tentang pentingnya pengelolaan keuangan dalam pengembangan usaha. Kesulitan dalam merencanakan pengeluaran usaha dan mengevaluasi kondisi keuangan secara berkala. Ketidakmampuan dalam menyiapkan dokumen keuangan yang menjadi syarat untuk mengakses pembiayaan dari lembaga keuangan. Permasalahan-permasalahan tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi usaha dan kemampuan manajerial keuangan yang dimiliki oleh pelaku UMKM di wilayah tersebut. Pemecahan Masalah Untuk menjawab permasalahan di atas, pendekatan yang diambil dalam kegiatan pengabdian ini adalah pemecahan masalah berbasis pelatihan dan pendampingan langsung yang disesuaikan dengan kondisi Langkah-langkah pemecahan masalah yang diterapkan meliputi: Helmi Toatubun. Dkk. Vol. No. Maret 2025:29-35 Helmi Toatubun. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Identifikasi Permasalahan dan Kebutuhan Tim melakukan observasi dan wawancara guna memetakan kondisi aktual dan kebutuhan spesifik pelaku usaha terkait pengelolaan keuangan. Penyusunan Modul dan Alat Bantu Pencatatan Disusun modul pelatihan keuangan yang sederhana dan kontekstual, dilengkapi dengan buku kas harian, format laporan laba rugi dan arus kas sederhana, serta lembar kerja. Pelatihan Langsung secara Luring Pelatihan diberikan secara tatap muka dengan pendekatan partisipatif, yang mencakup penjelasan materi, diskusi interaktif, dan praktik langsung. Simulasi Kasus Nyata dan Praktik Pencatatan Peserta melakukan simulasi pencatatan dan penyusunan laporan keuangan berdasarkan data usaha masing-masing, dengan pendampingan dari fasilitator. Pendampingan dan Evaluasi Implementasi Setelah pelatihan, dilakukan kunjungan lanjutan ke usaha peserta untuk mengevaluasi implementasi pencatatan keuangan serta memberikan umpan balik langsung. Melalui pendekatan ini, permasalahan mendasar dalam pencatatan dan pengelolaan keuangan dapat diatasi secara bertahap, dan peserta didorong untuk menerapkan praktik yang berkelanjutan dalam usaha Tujuan Berdasarkan permasalahan utama yang dihadapi oleh pelaku UMKM di Arso Swakarsa dalam hal pengelolaan keuangan usaha, kegiatan ini memiliki tujuan sebagai berikut : Meningkatkan pemahaman pelaku UMKM tentang pentingnya pencatatan keuangan yang sistematis. Membekali pelaku UMKM dengan keterampilan praktis dalam mencatat transaksi harian. Melatih peserta dalam menyusun laporan keuangan dasar, khususnya laporan laba rugi dan laporan arus kas, agar mereka mampu mengevaluasi kondisi keuangan usaha secara berkala. Mendorong perubahan kebiasaan usaha dari sistem informal ke arah yang lebih tertib secara administrasi dan finansial, guna mendukung keberlangsungan dan pengembangan usaha. Meningkatkan kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan administratif keuangan. Metode Metode pelaksanaan kegiatan dirancang dengan pendekatan partisipatif dan aplikatif, yang memungkinkan peserta tidak hanya menerima materi secara pasif, tetapi juga aktif terlibat dalam proses belajar dan praktik. Adapun tahapan metode kegiatan meliputi: Observasi Awal Kegiatan diawali dengan observasi dan wawancara terhadap beberapa pelaku UMKM di Arso Swakarsa untuk mengidentifikasi masalah utama dan merancang materi pelatihan yang sesuai dengan kebutuhan. Penyusunan Materi dan Alat Bantu Tim pengabdian menyusun modul pelatihan dan alat bantu berupa buku kas sederhana, format laporan keuangan, dan lembar kerja latihan yang akan digunakan dalam pelatihan. Pelatihan Langsung (Lurin. Pelatihan dilakukan secara tatap muka di lokasi komunitas UMKM dengan menggunakan metode ceramah interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, dan praktik langsung. Pendekatan ini dirancang agar peserta dapat memahami secara kontekstual dan aplikatif. Simulasi Praktik Pencatatan Keuangan Peserta diberikan studi kasus keuangan berdasarkan usaha nyata mereka masing-masing, dan diminta menyusun buku kas serta laporan laba rugi dan arus kas sederhana, dengan bimbingan dari tim pelatih. Pendampingan Implementasi di Lapangan Setelah pelatihan, tim pengabdian melakukan kunjungan lanjutan ke pelaku usaha untuk mengevaluasi praktik pencatatan yang telah dilakukan serta memberikan umpan balik dan bimbingan tambahan. Pelatihan Tata KelolaA( Helmi Toatubun. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Metode ini dipilih untuk memastikan bahwa transfer pengetahuan dan keterampilan benar-benar diterapkan dan berkelanjutan, tidak berhenti hanya pada sesi pelatihan. Hasil Kegiatan Kegiatan pelatihan tata kelola keuangan bagi pelaku UMKM di Arso Swakarsa telah dilaksanakan sesuai dengan rencana dan tahapan yang telah ditetapkan. Hasil kegiatan ini mencerminkan adanya peningkatan kapasitas peserta dalam pengelolaan keuangan usaha secara sederhana dan terstruktur. Berikut adalah uraian hasil yang diperoleh selama dan setelah pelaksanaan kegiatan: Peningkatan Pengetahuan Peserta Peningkatan pemahaman peserta terhadap pentingnya pencatatan dan pengelolaan keuangan dapat terlihat dari hasil pre-test dan post-test yang dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan. Pada awal kegiatan, sebagian besar peserta belum memahami perbedaan antara keuntungan dan omzet, serta tidak mengenal struktur dasar laporan keuangan. Gambar 1. Memberikan Pemahaman Tentang Pencatatan dan Pengelolaan Keuangan Setelah mengikuti pelatihan yang mengedepankan pendekatan partisipatif dan praktik langsung, peserta menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan. Post-test yang dilakukan pada akhir pelatihan mencatat kenaikan rata-rata skor yang menggambarkan bahwa peserta mulai memahami konsep dasar tata kelola keuangan, manfaat pencatatan transaksi, serta bagaimana membaca dan menyusun laporan laba rugi dan arus kas. Penerapan Buku Kas Harian Salah satu capaian utama kegiatan ini adalah mulai digunakannya buku kas harian oleh peserta dalam usaha mereka. Dengan modul yang sederhana dan mudah dipahami, para pelaku UMKM berhasil melakukan pencatatan transaksi secara rutin, baik pemasukan maupun pengeluaran. Pendampingan langsung selama dan setelah pelatihan membantu peserta mengatasi kendala teknis yang ditemui saat pencatatan. Penggunaan buku kas harian ini menjadi langkah awal yang penting dalam menata administrasi keuangan usaha secara sistematis dan terukur. Penyusunan Laporan Keuangan Awal Sebagai kelanjutan dari pencatatan transaksi maka,dalam sesi simulasi peserta dibimbing untuk Helmi Toatubun. Dkk. Vol. No. Maret 2025:29-35 Helmi Toatubun. Dkk, e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Laporan Laba Rugi Sederhana berdasarkan data penjualan dan biaya operasional satu bulan terakhir. Laporan Arus Kas Sederhana yang mencerminkan arus masuk dan keluar uang tunai selama periode usaha tertentu. Hasil yang dicapai : Sebagian besar peserta dapat menyusun laporan laba rugi dengan format sederhana dan dapat memahami nilai keuntungan riil usahanya. Beberapa peserta menyadari bahwa pengeluarannya melebihi pemasukan, sehingga pelatihan ini membuka wawasan penting tentang efisiensi usaha. Gambar 2. Materi Penyusunan Laporan Keuangan Perubahan Sikap dan Komitmen Selain peningkatan keterampilan teknis, kegiatan ini juga memberikan dampak pada perubahan sikap peserta. Pelaku UMKM menyatakan: Mereka merasa lebih percaya diri dalam mengelola keuangan usahanya. Mereka menyadari pentingnya transparansi keuangan, terutama bagi pelaku usaha keluarga yang mengelola usaha bersama. Sebagai tambahan, beberapa peserta menyatakan ketertarikannya untuk belajar lebih lanjut tentang pengelolaan usaha, termasuk perencanaan modal dan pengembangan produk. Dampak terhadap Kemampuan Mengakses Pembiayaan Dengan adanya pencatatan keuangan yang sistematis dan laporan keuangan sederhana, pelaku UMKM menjadi lebih siap dalam memenuhi persyaratan administratif yang biasanya menjadi kendala saat mengajukan pembiayaan ke lembaga keuangan formal. Ini membuka peluang bagi mereka untuk mendapatkan modal tambahan yang dapat digunakan untuk pengembangan usaha. Pelatihan Tata KelolaA( Helmi Toatubun. Dk. A e-ISSN : 3063-6582, p-ISSN : 3064-0598 Gambar 3. Foto Bersama Pelaku UMKM Kesimpulan Kegiatan pelatihan dan pendampingan tata kelola keuangan bagi pelaku UMKM di Arso Swakarsa berhasil menjawab permasalahan utama yang selama ini dihadapi, yaitu belum adanya pencatatan keuangan yang sistematis, rendahnya pemahaman mengenai laporan keuangan, serta kurangnya kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan keuangan dalam mendukung keberlanjutan usaha. Melalui pendekatan yang partisipatif dan aplikatif, peserta kegiatan memperoleh pemahaman dasar mengenai pentingnya pencatatan transaksi, serta keterampilan praktis dalam menggunakan buku kas harian dan menyusun laporan laba rugi serta arus kas sederhana. Hal ini sesuai dengan tujuan kegiatan, yaitu meningkatkan kapasitas pelaku UMKM dalam mengelola keuangan secara sederhana namun efektif. Kegiatan ini juga mendorong terjadinya perubahan kebiasaan usaha ke arah yang lebih tertib secara administrasi, serta membuka peluang bagi pelaku usaha untuk memenuhi syarat administratif jika ingin mengakses pembiayaan usaha dari lembaga keuangan. Dengan demikian, kegiatan ini memberikan dampak yang tidak hanya bersifat edukatif, tetapi juga praktis dan berkelanjutan. Saran Berdasarkan hasil dan evaluasi kegiatan, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi perhatian untuk keberlanjutan dan pengembangan program serupa di masa mendatang. Diperlukan pelatihan lanjutan untuk mendalami aspek keuangan usaha yang lebih kompleks, seperti penyusunan laporan berkala, manajemen arus kas, dan perencanaan keuangan jangka menengah. Dengan demikian, peserta tidak hanya mampu mencatat transaksi, tetapi juga menganalisis kondisi keuangan usahanya secara menyeluruh. Perlu keterlibatan aktif dari pemerintah desa, dinas terkait, maupun lembaga keuangan lokal dalam mendampingi UMKM secara berkelanjutan. Keterlibatan ini penting guna memastikan pelaku usaha dapat terus memperoleh akses pelatihan, pendampingan, dan fasilitas pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Ketiga, modul dan alat bantu pencatatan yang telah disusun dalam kegiatan ini sebaiknya direproduksi dan dijadikan sumber belajar bersama, agar dapat digunakan oleh pelaku UMKM lainnya, baik di wilayah Arso Swakarsa maupun di daerah sekitarnya. Daftar Pustaka