Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu ISSN 2656-7202 (P) ISSN 2655-6626 (O) Volume 6 Nomor 1. Januari-Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 35961/perada. KONTEKSTUALISASI MAKNA IBNU SABIL DALAM AL-QURAoAN DI ERA MODERN-KONTEMPORER Kusroni Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah. Surabaya Email: kusroni0904@gmail. Shiela Al-Maulidia Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah. Surabaya Email: shiela. am@gmail. MasAoud Abdillah Sekolah Tinggi Agama Islam Al Fithrah. Surabaya Email: masud. abdillah@gmail. ABSTRAK Konteks pramodern menempatkan mufasir klasik pada penafsiran tunggal atas term ibnu sabil dalam Al-QurAoan. Mereka hanya memaknai ibnu sabil sebagai musafir yang kehabisan bekal. Pemaknaan yang terbatas ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi, karena konteks sosial, ekonomi, maupun politik di era modern-kontemporer sudah berubah. Penelitian ini berupaya melakukan kontekstualisasi atas ayat-ayat ibnu sabil dalam Al-QurAoan di era modernkontemporer. Penelitian ini termasuk jenis kualitatif dengan memanfaatkan data-data kepustakaan yang dikumpulkan melalui metode maudhuAoi, dengan fokus pada ayat-ayat yang menyinggung ibnu sabil. Sedangkan pendekatan kontekstual Abdullah Saeed digunakan sebagai pisau analisis. Penelitian ini menghimpun delapan ayat tentang ibnu sabil dalam AlQurAoan yang tersebar dalam tujuh surah, terdiri dari dua surah makkiyah, dan enam Temuannya adalah bahwa ayat-ayat ibnu sabil, masuk dalam hierarki nilai kedua, yakni nilai fundamental . undamental value. Kontekstualisasi ayat-ayat ibnu sabil di era modern-kontemporer menempatkan ibnu sabil pada makna yang lebih luas dari sekedar musafir, sebagaimana penafsiran pramodern. Ibnu sabil saat ini adalah, mencakup pada anak jalanan, dan mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap . Oleh karena itu, lembaga pengelola zakat, baik dari pihak swasta maupun pemerintah, seharusnya bisa memperluas cakupan penerima zakat . dari klaster ibnu sabil sebagaimana temuan penelitian ini. Kata Kunci : Al-QurAoan, ibnu sabil, kontekstualisasi, modern. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil ABSTRACT The premodern context places classical commentators on a single interpretation of the term ibn sabil in the Qur'an. They only interpret ibn sabil as a traveler . who has run out of This limited meaning can no longer be maintained, because the social, economic, and political context in the modern-contemporary era has changed. This research seeks to contextualize the verses of ibnu sabil in the Qur'an in the modern-contemporary era. This research is a qualitative type by utilizing library data collected through the maudhu'i method, with a focus on verses that offend ibn sabil. Meanwhile. Abdullah Saeed's contextual approach is used as an analytical tool. This research compiles eight verses about ibnu sabil in the Qur'an which are spread over seven surahs, consisting of two makkiyah surahs and six madaniyyah. The finding is that the verses of ibn sabil are included in the second hierarchy of values, namely fundamental values. Contextualization of ibn sabil's verses in the modern-contemporary era places ibn sabil in a broader meaning than just travelers, as in premodern interpretations. Ibnu sabil currently includes Auanak jalananAy and those who do not have a permanent residence . Therefore, zakat management institutions, both from the private sector and the government, should be able to expand the scope of zakat recipients . from the ibnu sabil cluster, as found in this study. Keywords: Al-Qur'an, ibn sabil, contextualization, modern. PENDAHULUAN Al-QurAoan diturunkan pertama kali di jazirah Arabia pada saat kondisi sosial, ekonomi, dan politik, mengalami banyak ketimpangan dan ketidakadilan. Secara sosial, masih banyak masyarakat kelas bawah yang hidup penuh dengan ketidakadilan dan jauh dari nilai-nilai perhatian kepada sesama. Kondisi politik juga amat memperihatinkan, di mana otoritas politik dipegang oleh mereka yang memiliki darah bangsawan dan kaya raya. Aspek yang paling memprihatinkan tentu adalah soal ekonomi, di mana banyak masyarakat yang hidup penuh dengan Meskipun beberapa wilayah Hijaz merupakan lahan pertanian, seperti oasis Yatsrib, misalnya, akan tetapi banyak dari penduduknya merupakan suku nomaden Badui. 1 Baik badui maupun penduduk yang hidup di wilayah perkotaan terikat dengan kode etik suku kuno yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemurahan hati, keberanian, kesabaran menghadapi 1 Abdullah Saeed. Terj. Shulkhah. Pd. and Dr. Sahiron Syamsuddin. Pengantar Studi Al-QurAan (Yogyakarta: Baitul Hikmah Press, 2. , kesulitan, serta membela kehormatan marga atau suku. Namun ada sisi negative yaitu tidak adanya konsep universal tentang perhatian terhadap orang lain. Sebaliknya, keberanian dan pengorbanan hanya dalam sesama suku saja. 2 Membantu kerabat selalu dianggap sebuah kemuliaan, tanpa melihat apakah dia berada di pihak yang benar atau salah. Sebagian besat orang-orang Mekah kala itu terdiri dari beberpa klan atau Beberapa di antara klan itu merupakan klan yang kaya, kuat, dan mendominasi urusan sosial, sementara klan yang miskin cenderung tersingkir. Meskipun Mekah merupakan kota untuk menetap, tetapi banyak perantau yang tinggal di sekitar Mekah, yang sebagian besar merupakan penggembala onta dan 5 Para perantau tersebut, dan 2 AMuhammad Prophet for Our Time by Karen Armstrong. PdfAo, 24Ae25 . ccessed 9 June 2. 3 Ibid. 4 Shulkhah. Pd. and Dr. Sahiron Syamsuddin, p. 5 Ibid. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil ternak-ternak mereka sering diserang oleh pesaing mereka dari warga nomaden dan kafilah-kafilah dagang. Sebagai akibat dari lingkungan keras dan tidak pasti ini, banyak orang Mekah akhirnya berpegang pada pandangan hidup yang fatalistic. Dalam konteks sosial, politik, dan ekonomi inilah Al-QurAoan kemudian diwahyukan kepada Nabi Muhammad , pada tahun 609/610 Masehi. Penduduk Mekah pada awalnya masih kemandirian dalam posisi yang tinggi, tetapi akhirnya mereka mulai menjadi elitis dan arogan. Pertumbuhan kekayaan terjadi melalui perdagangan dan kekuasaan, yang pada akhirnya menghilangkan beberpa nilai dan tradisi positif, seperti perhatian terhadap kaum lemah dan fakir miskin. Sejalan dengan hal di atas, maka salah satu nilai penting yang banyak disinggung dalam al-QurAoan adalah aspek kesejahteraan dan keadilan sosial maupun ekonomi bagi seluruh umat manusia. Namun, hingga kini realitas di sekitar kita selalu saja menunjukkan fakta yang cukup Hal ini terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang hidup dalam garis kemiskinan, hidup di jalan dan terlantar, serta hidup dalam ragam tekanan, baik secara ekonomi, politik, maupun sosial-kemasyarakatan. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan yang menunjukkan bahwa proporsi penduduk miskin pada Maret 2020 sebesar 9,78 persen, naik 0,56 poin persentase dari September 2019 dan 0,37 poin persentase dari Maret 2019. Dalam laporan yang lebih rinci. BPS juga menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin ada 26,42 juta orang pada Maret 2020, naik 1,63 juta dari September 2019 dan 1,28 juta dari Maret 2019. Dari data di atas, proporsi penduduk miskin di perkotaan menduduki peringkat 6 Ibid. 7 Ibid. 6,56 persen pada September 2019 dan naik menjadi 7,38 persen pada Maret 2020. Sementara itu, proporsi penduduk miskin perdesaan pada September 2019 sebesar 12,60 persen, meningkat menjadi 12. persen pada Maret 2020. Dibandingkan dengan September 2019, jumlah penduduk miskin di perkotaan meningkat 1,3 juta orang pada Maret 2020 . ari 9,86 juta pada September 2019 menjadi 11,16 juta orang pada Maret 2. Sementara itu, jumlah pedesaan tumbuh sebanyak 333,9 ribu jiwa . ari 14,93 juta jiwa pada September 2019 menjadi 15,26 juta jiwa pada Maret 2. Klasifikasi lainnya adalah informasi garis kemiskinan pada bulan Maret 2020 sebesar Rp454. 652/kapita/bulan dan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp335. ,86 perse. dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp118. Per Maret 2020, rumah tangga miskin di Indonesia rata-rata berjumlah 4,66 rumah tangga. Dengan demikian, garis kemiskinan rata-rata per rumah tangga miskin adalah Rp 678/rumah tangga miskin/bulan. Terkait realita gelandangan dan pengemis, situs Kompas. com memuat informasi bahwa pada tahun 2019 masih ada sekitar 77. 500 gelandangan dan pengemis di kota-kota besar Indonesia. Jumlah ini biasanya meningkat pada hari libur besar seperti hari libur bank. CNNIndonesia. com juga mempublikasikan informasi bahwa pada Januari 2021, 622 orang Penyandang Masalah Bantuan Sosial (PMKS) telah didaftarkan oleh Dinas Sosial Daerah Khusus Ibukota (DKI) Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Di atas adalah para tunawisma, total 1. 044 orang. 8 Ibid. 9 Ibid. AData Dinsos DKI Jakarta 2020: Ada GelandanganAo . ccessed 9 June Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil Informasi dan statistik di atas jelas menunjukkan bahwa kemiskinan masih merupakan masalah serius. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis harus diambil untuk mengurangi kemiskinan dan mengurangi jumlah penduduk yang terus Salah satu langkah yang mungkin dilakukan adalah membumikan kembali dan mengembangkan aspek-aspek kebajikan Islam. Upaya pengembangan ini ini sangat penting, karena problematika dan gagasan zakat dalam Islam yang digagas dan dipraktikkan hingga saat ini belum membuahkan hasil yang signifikan. Misalnya, konsep al-Qur'an yang berkaitan dengan ibn sabil masih belum dipahami secara universal. Secara teoretis. Ibnu Sabil terus ditafsirkan AikakuAn berdasarkan paradigma fikih klasik, yang cenderung memberikan berbagai syarat dan batasan Misalnya. Badan Amil Zakat Nasional (Bazna. , sebagai lembaga resmi negara yang bertugas mengelola zakat, mengartikan ibnu sabil Ae salah satu kategori penerima zakat . Ae hanya sebagai AimusafirAn itupun dengan berbagai persyaratan yang membatasi. Baznas memberikan definisi bahwa Ibnu Sabil adalah Aiorang yang bepergian dari atau melalui negara Zakat, bukan negara non-Muslim. Ia dibekali bekal berupa ongkos, konsumsi dan akomodasi hanya untuk mencapai tujuan atau mencapai yang dapat membawanya ke tujuan akhir perjalanannya. Kalimat Auorang yang bepergian dari atau melalui negara Zakat, bukan negara non-MuslimAy, menunjukkan bahwa Baznas hanya berpegang pada fikih klasik. Penyebutan Ainegeri zakatAn dan Ainegeri non-muslimAn pada definisi Baznas, juga 11 Adi Setiawan. Trisno Wardy Putra, and Risky Hariyadi. AANALISIS KEBIJAKAN BAZNAS TENTANG IBNU SABIL SEBAGAI MUSTAHIK ZAKATAo. Jurnal Ar-Ribh, 3. 187 . Muhammad SaAodun Daaim. APENTASYARUFAN ZAKAT KEPADA MUSTAHIQ. STUDI KOMPARATIF KETENTUAN ASHNAF MENURUT ULAMA AHLI TAFSIR. AHLI FIQIH DAN ULAMA AHLI NAHWUAo. Al Kamal, 1. , 229Ae41. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil melakukan kontekstualisasi, terutama pada klaster ibnu sabil. Penelitian lain adalah yang ditulis oleh Ahmad Atabik. 15 Dalan artikelnya, ia mencoba memberikan tawaran reinterpretasi makna ibnu sabil yang diperluas kepada makna mereka yang menjadi pengungsi, baik karena alasan politik, maupun karena lingkungan alam, seperti banjir, tanah longsor, gunung meletus, kebakaran dan lain sebagainya. Namun artikel ini tidak memberikan landasan teoretis metodologis atas tawaran reinterpretasi yang dilakukan. Berangkat dari beberapa data penelitian terdahulu di atas, penelitian ini berupaya berkontribusi untuk mengisi ruang kosong di bidang pemaknaan ulang dan kontekstualisasi atas makna ibnu sabil melalui aplikasi pendekatan kontekstual yang digagas oleh Abdullah Saeed sebagai IBNU SABIL DALAM TAFSIR PRAMODERN Ibnu sabil terdiri dari dua kata yaitu ibnu dan sabil. Secara leksikal, ibnu berarti anak, dan sabil berarti jalan. Secara istilah ada beberapa pengertian yang melekat pada kata Ibn Sabil. 17 Menurut Jamaluddin Muhammad bin Mukarram al-Anshari, ialah musafir yang putus di tengah jalan, dan ia menghendaki untuk pulang ke negaranya dan tidak menemukan sesuatu Ahmad Atabik. APERANAN ZAKAT DALAM PENGENTASAN KEMISKINANAo. ZISWAF: JURNAL ZAKAT DAN WAKAF, 2. 339Ae61 . ccessed 15 June 2. 24 Wahbah al-Zuhaili. Tafsir al-Munir (Damaskus : Dar al-Fikr, 2. Vol. 5, 89-90 25 -. ATafsir Surat Al-Baqarah. Ayat 177Ao, . ccessed 15 June 2. A aNOeOA ca AIA Uaca A a eO aI o ai aO a eA aNa ei aO es aOe a a ccn aAcEEa A iio AuMereka bertanya kepadamu (Nabi Muhamma. tentang apa yang harus mereka infakkan. Katakanlah. AuHarta apa saja yang kamu infakkan, hendaknya diperuntukkan bagi kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan . an membutuhkan pertolonga. Ay Kebaikan apa saja yang kamu kerjakan. Allah Maha Mengetahuinya. Ay Menurut Ibn Kathir, maksud dari ibn sabil dalam ayat ini adalah mereka yang sedang dalam perjalanan. Ibn sabil pada ayat ini termasuk dalam klaster yang diperintahkan Allah untuk diberikan Bagi orang yang menafkahkan hartanya pada klaster-klaster yang disebutkan dalam ayat ini, maka Allah akan memberikan balasan kebaikan dengan balasan yang berlimpah, karena sesungguhnya Alah tidak akan berbuat suatu aniaya terhadap hamba-Nya. Term ibnu sabil ketiga muncul dalam surah Al-NisaAo ayat 36. sea AOeAUi acia eI ai aIaOA a ccn aAcEEa ai aeE a e a aE ei A A ai eaaiA a ea a AaU aciaan IC e aiIOaU aiI aU aEO aes aiI aA a a ca A aiIA a ae A aI aA a AA a a I aA a Aan IC e aiI aA e Aa eO aI ai aO aON aEA AcEEa aeEA ca Aai aes IA Uaca A a eO aUaa aE eO o A no AO ac aO es aEUa aO e aeE Aa a ei UA AuSembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak ya tim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat. AQurAoan KemenagAo . ccessed 15 June 2. 27 -. ATafsir Surat Al-Baqarah. Ayat 215Ao, . ccessed 15 June 2. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil ibnusabil, serta hamba sahaya yang kamu Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi sangat membanggakan diri. Ay28 Kata Ibn Sabil dalam ayat ini menurut penjelasan Ibn Kathir adalah musafir yang terputus atau terhenti perjalanan kembali ke tempat tinggal asalnya, dikarenakan kehabisan bekal. 29 Ibn Sabil pada ayat ini juga termasuk dalam klaster yang diperintahkan Allah untuk diperlakukan dengan baik. Berbuat baik dalam konteks ini adalah dengan memberikan sedekah atau dengan selalu menyambung silaturahim antar sesama Ibnu sabil berikutnya, atau keempat muncul dalam surah Al-Anfal ayat 41. a A ai eNa aU ei ac aUA a Ua AaO Aa a acU a cEEa aA e a eU a eO a cO es A sea AA ei aE ai aIan eICa e ai eIOa U ai eI aU aEOA a ANA ca Aai aIA ANA ca Aai aes IA A a eO aI eaU aE ea a eO aO ea a eO aA a AcEEa ai aO a eaa Ia ANA ia sa AU Oa ei aO IaCa I a eUA a aAcEEA a aA e a Oa ei aO IAa eCA i AaO Ca aOeA e AaE acI A AuKetahuilah, sesungguhnya apa pun yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlimanya untuk Allah. Rasul, kerabat (Rasu. , anak-anak yatim, orangorang miskin, dan ibnusabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Nabi Muhamma. pada hari alfurqAn . , yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Ay30 Ibn sabil pada ayat ini menurut Ibn Kathir ialah musafir atau orang yang AQurAoan KemenagAo . ccessed 15 June 29 -. ATafsir Surat Al-Baqarah. Ayat 215Ao, . ccessed 15 June AQurAoan KemenagAo . ccessed 15 June hendak melakukan perjalanan sejauh perjalanan qasar, sedangkan dia tidak mempunyai biaya untuk perjalanannya Ayat kelima yang menyinggung Ibnu sabil adalah surah Al-Rum ayat 38. A a eO aIA a A Aa A ca A a eICa e aCacc ai eI aU e aEOesa aiesa IA a AcEEa o ai aiOEa ae aOA ac eAIaEa aOe aIcNac aOesa O aa eO eaiUa aiA n aUie AeI aU eA aN aA AuOleh karena itu, beri kerabat dekat haknya, juga orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang mencari keridaan Allah. Mereka itulah orangorang yang beruntung. Ay32 Menurut disampaikan Ibn Kathir, yang dimaksud dengan Ibn Sabil dalam ayat ini adalah musafir yang memerlukan biaya untuk keperluan dan akomodasi perjalanan, karena biayanya habis di tengah jalan. Dalam ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum muslim agar memberikan hak mereka berupa sedekah dan juga mempererat tali silaturahim kepada kerabat dekat, orang msikin, dan Ibn Sabil. Perintah ini hendanya dilakukan sematamata hanya untuk mencari rida Allah. menurut Ibn Kathir, mereka itulah orang yang beruntung karena di akhirat kelak dapat kesempatan untuk bertemu melihat Zat Allah. Ayat ketujuh tentang ibnu sabil tercantum dalam surah Al-Hashr ayat 7. aEa a a nAA ei aI ncc aO es a ee aI eICa A a A N aA A aO a aA a aAcEEA sea AA ei aE ai aIan eICa e ai eIOa U ai eI aU aEOA a ANA ca Aai aIA Aa eO aI aE eO aeE Oa aE eiUa eaiIaU eo aOesa ea eaaOa aA ca Aai aes IA 31 -. ATafsir Surat Al-Anfal. Ayat 41. AQurAoan KemenagAo . ccessed 15 June 2. ATafsir Ibnu KatsirAo . ccessed 15 June 2. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil acae AA a AIA ca AaO ea aE eO ai aO O aE aOA a AA ei aE Aa aa eiaa ai aO aae O aE eOA a aAcEEA Uaca AcEEa oA a ea a ae ei aiacCaiA a A a eOa eI aCaA AuApa saja . arta yang diperoleh tanpa peperanga. yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah. Rasul, kerabat (Rasu. , anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam (Demikia. agar harta itu tidak hanya beredar di antara orangorang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. An 34 Menurut Ibn Kathir, yang dimaksud Ibn Sabil pada ayat ini adalah orang yang kehabisan dana atau bekal dalam perjalanan menuju tempat tinggalnya dan karenanya ia membutuhkan akomodasi yang dapat mengantarkannya pulang sampai ke rumahnya. Dengan catatatan, perjalanan yang dilakukan itu bukan dalam rangka maksiat kepada Allah. 35 Ibn Sabil dalam ayat ini menjadi salah satu dari sekian kelompok yang mendapatkan harta faAi. Legislasi ini dimaksudkan agar harta . aiA) tidak hanya berputar di kalangan orang kaya saja. Ayat tentang Ibnu Sabil yang ketujuh terdapat dalam surah Al-IsraAo ayat kamu menghambur-hamburkan . secara boros. Ay36 Sedangkan ayat yang terakhir turun berkenaan dengan ibnu sabil adalag surah Al-Tawbah ayat 60. asea Ca aI eNAaCa a a ai eI aU aEO aes ai eI aU aNOA ca A ac aU IA aseA aiI a aOOA c a aANa eO ae ai eI aU aIacAa a CaN eia ae eO aiAA a AICaA ca AcEEa ai aes IA aAcEEA ia aAcEEA asA a cOA AA a eO aIA a A a eO aI Aa a eOA a AaiAa eOA oe A aNOeO a aEOeOA AuSesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya . , untuk . para hamba sahaya, untuk . orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan . ang memerlukan pertolonga. , sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Ay37 Ayat 60 surah Al-Tawbah ini secara sepesifik membahas tentang golongan . yang berhak mendapatkan distribusi zakat, dan di antara golongan tersebut adalah ibnu sabil. Dalam tafsir Jalalain. Ibn Sabil adalah dalam ayat ini adalah orang yang sedang dalam perjalanan dan kehabisan bekal. 38 Zakat pada ayat ini tidak boleh diberikan kepada orang-orang selain mereka yang telah disebutkan, tidak boleh pula mencegah sebagian golongan di antara mereka jika golongan tersebut memang benar-benar ada. A a eO aIA a A ai A ca A a eICa e aCacc ai eI aU e aEOesa aiesa IA io Aai aeE a ac ea a e aO UeA AuBerikanlah kepada kerabat dekat haknya, . uga kepad. orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. Janganlah AQurAoan KemenagAo . ccessed 15 June 35 ATafsir Ibnu KatsirAo, surah Al-Hashr ayat AQurAoan KemenagAo . ccessed 15 June 2. AQurAoan KemenagAo . ccessed 15 June 38 Jalal al-Din al-Mahalli dan Jalal al-Din alSuyuti. Tafsir Jalalain (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2. , 744. 39 Ibid. , 745 Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil PENDEKATAN KONTEKSTUAL ABDULLAH SAEED Kontekstualisasi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kontekstual yang digagas oleh Abdullah Saeed. Saeed mengambil inspirasi dari model interpretasi proto-kontekstualis, unsur-unsur tradisi maqasid dan pendekatan berbasis nilai yang digagas Fazlur Rahman. kemudian memadukan inspirasi-inspirasi yang berbeda tersebut untuk menyusun hirarki nilai-nilai yang menjadi pedoman penafsiran kontekstual terhadap ayat-ayat etika-hukum. Saeed menjelaskan bahwa, meskipun ada hirarki nilai dalam alQurAoan, termasuk estetika dan epistemologi, namun yang menjadi perbincangan dalam buku ini adalah nilai etis AiAamal salihAn . ight actio. Ia kemudian mengemukakan alasan mengapa amal salih digunakan sebagai prinsip yang akan membimbing dalam penafsiran teks dan dalam menghubungkannya dengan kehidupan umat Islam. Menurutnya, al-QurAoan menganggap Aamal salih sebagai dasar Agama. Sejak masa awal pewahyuan sampai berakhirnya dakwah Nabi, nilai yang berhubungan dengan Aamal salih menjadi tema yang sering disebutsebut dalam al-QurAoan. Jadi, rangkaian moral telah terbentuk selama masa pewahyuan . Pesan al-QurAoan yang sangat tegas merupakan bentuk dari tuntutan al-QurAoan kepada umat bahwa mereka harus melakukan sesuatu yang benar dan secara aktif menahan diri atau menjauhi yang sebaliknya, yang dalam bahasa al-QurAoan, mereka harus mengerjakan yang maAruf, dan berpaling dari orang-orang yang bodoh. Setelah melakukan penelusuran terhadap al-QurAoan dan sumber lain, ia berhasil mengidentifikasi begitu banyak nilai yang tergolong Aamal salih. Kemudian, ia menelaah beragam klasifikasi, dan menurutnya representatif yang mencakup sebagian besar nilai yang terkandung dalam Aamal salih, dan tidak melanggar kepercayaan dasar terhadap al-QurAoan. Hirarki nilai tersebut yakni: nilai-nilai yang bersifat kewajiban . , nilai fundamental . , nilai proteksional . , . , dan nilai instruksional . Secara ringkas, penjelasan masingmasing dari nilai-nilai tersebut adalah sebagai berikut: . obligatory values, yakni ayat-ayat yang mengandung nilai-nilai kewajiban yang harus dilaksanakan oleh setiap orang Islam manapun dan kapanpun . erlaku universa. , seperti rukun Islam dan rukun iman. fundamental values, yakni ayat-ayat yang mengandung nilainilai kemanusiaan, seperti keadilan, kemanusiaan, menjaga hak milik orang lain dan lain-lain, sehingga harus diterapkan secara universal. protectional values, yakni ayat-ayat yang berisi tentang ketentuanketentuan hukum dalam rangka menjaga nilai-nilai fundamental tersebut, seperti larangan berbuat aniaya, larangan mencuri, larangan mengurangi timbangan, dan lainlain, sehingga juga bersifat universal. implementational values, yakni ayat-ayat yang berisi penerapan hukum bagi orang-orang yang melanggar nilai-nilai fundamental dan proteksional tersebut, seperti hukum qisas dalam kasus pembunuhan, hukuman potong tangan dalam kasus pencurian dan lain-lain. dan ayat ini sangat terkait dengan aspek-aspek sosial, hukum, dan kultural pada masa pewahyuan al-QurAoan, sehingga bersifat lokal dan temporal serta menjadi objek penafsiran yang dinamis. instructional values, yakni ayat-ayat yang berisi perintah dan larangan dalam rangka mengatasi problem-problem spesifik pada masa Nabi. ayat-ayat ini tentunya terkait erat dengan kondisi saat pewahyuan al- 40 Saeed, p. 41 Saeed, p. 42 Saeed, p. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil QurAoan, sehingga belum tentu berfungsi universal secara otomatis. ANALISIS LINGUISTIK AYATAYAT IBNU SABIL Sebelum melakukan analisis linguistik atas ayat-ayat ibnu sabil, perlu sedikit disinggung konteks sosial, ekonomi, dan politik pada masa pewahyuan Al-QurAoan. Hal ini menjadi penting untuk dijadikan pertimbangan dalam upaya menemukan makna yang seobjektif mungkin terhadap ayat-ayat Al-QurAoan. Menurut Fazlur Rahman. Al-Qur'an diturunkan kepada masyarakat Arab dengan kesenjangan sosial dan ekonomi. Kondisi ini menimbulkan persaingan antaretnis dan konflik sosial. Mekah, tempat Alquran pertama kali diturunkan, awalnya adalah kota perdagangan yang makmur secara ekonomi, tetapi ada Adunia bawahAo yang mengeksploitasi yang lemah. Fokus utamanya adalah eksploitasi anak perempuan, yatim piatu, perempuan dan Makkah pada masa Islam adalah Makkah yang ditandai dengan proliferasi ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Situasinya berbeda dengan Makkah praIslam yang titik tekannya pada eksistensi Kakbah dan kehidupan publik Makkah ada Makkah pada awal Islam merupakan perjalanan dari dakwah Nabi Muhammad saw. yang bisa disebut sebagai evolusi dari perkembangan keagamaan dan keyakinan masyarakat Arab pada masa Yang jelas. Makkah menjadi tempat yang bersejarah bagi kaum Muslim, bukan hanya karena ia menjadi tempat kelahiran Muhammad. Ia menjadi istimewa, karena di situlah wahyu pertama 43 Saeed, p. 44 ATema-Tema Pokok al-QurAoan / Karya Fazlur Rahman . Penerjemah. Ervan Nurtawab Dan Ahmad Baiquni . Penyunting. Ahmad Baiquni | OPAC Perpustakaan Nasional RI. Ao, p. . ccessed 16 June 2. kali diturunkan. Tonggak awal dari ajaran Islam dikumandangkan dari kota ini. Secara sosio-ekonomi, kekuasaan dan kekayaan di masyarakat Arab beredar secara tidak merata. Kekayaan hanya berputar di kalangan pembesar dan orangorang kaya di Makkah saja. Mereka ini kemudian yang menjadi pelopor penolakan dakwah Nabi Muhammad, yang mulai menyinggung dan mengangkat isu status sosial kaum mustadAuafin dan budak, mengkampanyekan persamaan dan persaudaraan antara sesama manusia tanpa melihat status sosial maupun keagamaan Orang-orang kaya, kaum miskin, dan kaum lemah lainnya diposisikan sama oleh Nabi Muhammad. Nabi Muhammad juga mengecam perilaku semena-mena dan kikir para pembesar dan orang-orang kaya di Makkah. Mereka tidak memperhatikan orang-orang lemah, miskin, dan para budak, justru melakukan eksploitasi secara tidak wajar terhadap mereka. Oleh karenanya, ayat-ayat yang pertama-tama turun adalah anjuran untuk berbuat baik kepada mereka, serta memerdekakan budak dan perintah untuk berbuat baik kepada mereka. Al-QurAoan telah memberikan sumbangan besar dalam mengurangi penderitaan perempuan dan melindungi kepentingan mereka, sebagaimana yang al-QurAoan lakukan untuk mengurangi penderitaan dan melindungi golongan yang lemah dan kurang beruntung di Hijaz, seperti para budak dan kaum miskin. 45 Zuhairi Misrawi. Mekkah : Kota Suci. Kekuasaan, dan Teladan Ibrahim (Penerbit Buku Kompas. Jakarta . ccessed 16 June 2. 46 ASejarah Kenabian Dlam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah / Aksin Wijaya . Penyunting. Ahmad Baiquni | OPAC Perpustakaan Nasional RI. Ao, 79Ae80 . ccessed 16 June 2. 47 ASejarah Kenabian Dlam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah / Aksin Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil Makkah merupakan kota kecil di tengah pegunungan yang gersang, dengan kadar air yang rendah. Sementara Madinah Madinah merupakan oasis yang menjadi seumber perairan bagi pertanian. Kehidupan di Makkah keras. Serangan dari suku satu ke suku lain masih umum terjadi, sehingga masyarakat yang telah mapan harus membuat kesepakatan dengan para suku nomaden untuk melindungi mereka dan kafilah dagang mereka. Situasi yang kurang aman ditambah dengan kesukaran dan ketidakpastian hidup menjadikan masyarakat Makkah memiliki pandangan hidup yang fatalistik terhadap dunia. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa ibnu sabil terulang sebanyak delapan kali dalam tujuh surah. Dari sekian penyebutan itu, semuanya menggunakan bentuk kalimat yang sama, yakni rangkaian kata ibn dan sabil. Kesamaan pola ini juga terjadi pada posisi sintaksisnya, yakni sama-sama menjadi kalimat yang dihubungkan . l-maAtu. dengan diawali kata penghubung . arf ata. Untuk lebih memudahkan dalam memahami, berikut adalah tampilan data dalam bentuk tabel berisi berbagai informasi dari masing-masing ayat: Dari data yang tersaji dalam tabel di atas, bisa diperoleh berbagai informasi terkait jati diri ayat-ayat yang menyinggung ibnu sabil. Baik periode makkiyah maupun madaniyyah, pola paradigmatik yang digunakan oleh Al-QurAoan untuk menggambarkan ibnu sabil terlihat sama, yakni dalam konteks yang berkaitan dengan anjuran Al-QurAoan tentang perhatian terhadap kaum miskin dan lemah secara ekonomi, sosial, maupun politik. Ini terlihat secara jelas misalnya, dari delapan ayat, enam di antaranya ibnu sabil disebut secara langsung setelah kata miskin, baik dalam bentuk tunggal . l-miski. maupun plural . l-masaki. Wijaya . Penyunting. Ahmad Baiquni | OPAC Perpustakaan Nasional RI. Ao, p. 48 Saeed, p. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil Ayat tentang ibnu sabil yang terakhir turun, yakni dalam surah Al-Tawbah, walaupun tidak secara langsung jatuh setelah kata miskin, akan tetapi dalam rangkaian ayat ini secara lengkap, kata miskin juga muncul, karena memang ayat ini berbicara tentang mereka yang mendapatkan hak distribusi zakat atau disebut dengan mustahik. Hal yang sama juga terjadi pada ibnu sabil yang ada dalam surah Al-NisaAo, karena ayat ini membicarakan tentang mereka yang berhak mendapatkan hak distribusi harta dari rampasan perang . aiA). Sementara itu jika diamati dari beragam bentuk kalimat yang jatuh setelah ibnu sabil umumnya juga berbicara tentang tema yang sama, yakni sama-sama menegaskan bahwa segala kewajiban dan kebaikan yang diperintahkan dalam Al-QurAoan merupa-kan perintah Allah yang tentunya akan membawa kemaslahatan bagi umat manusia baik di dunia maupun di akhirat. Dari analisis linguistik ini bisa diambil kesimpulan bahwa secara paradigmatik, semua ayat yang menyinggung ibnu sabil membicarakan tentang anjuran untuk memperhatikan kaum lemah, miskin, dan mereka hidup dalam keterbatasan akses ekonomi, sosial, maupun politik. Ini merupakan salah satu dari tujuan utama . l-maqasi. dari Al-QurAoan yang bersifat fundamental dan universal, yakni memperjuangkan kesetaraan serta memerangi ketidakadilan serta ketimpangan eskonomi, sosial, maupun politik. ANALISIS JENIS TEKS AYAT-AYAT IBNU SABIL Sebagaimana dijelaskan dalam sub sebelumnya bahwa ada delapan ayat yang menyinggung ibnu sabil, dua ayat periode makkiyah dan enam periode madaniyyah. Jika dilihat secara paradigmatik, dengan membaca ayat yang mendahului maupun yang mengikuti, secara umum menekankan mengenai dorongan melakukan kebaikankebaikan yang bersifat sosial. Ayat-ayat ini tampak sekali merespon kondisi sosial-ekonomi masyarakat Hijaz kala itu, yang cenderung kikir, mengabaikan anak-anak yatim, enggan berbagi dengan orang-orang miskin, serta lekat dengan tradisi perbudakan dan tindakan semena-mena dan menindas kepada mereka yang lemah secara ekonomi, sosial, dan politik. Isu-isu sosialekonomi inilah yang ditekankan oleh ayatayat ini, seperti pemerdekaan budak, memberi makan orang lapar, memperhatikan anak-anak yatim, dan berbagi harta dengan orang-orang miskin dan ibnu sabil. Menurut peneliti, pesan-pesan yang ditekankan dalam ayat ini berlaku universal sepanjang zaman. Dengan demikian, jika memakai konsep hierarki nilai yang digagas oleh Abdullah Saeed, masuk dalam hieraki kedua, yakni fundamental values . ilai-nilai yang bersifat fundamenta. Ayat AlQurAoan yang masuk dalam kategori ini adalah ayat-ayat yang mengandung nilainilai kemanusiaan, seperti keadilan, kemanusiaan, menjaga hak milik orang lain dan semisalnya, sehingga pesan utama atau nilai yang terkandung di dalamnya harus diterapkan secara universal. MAKNA IBNU SABIL DALAM KONTEKS MODERN-KEKINIAN Jika bertolak pada penafsiran pramodern tentang ayat-ayat ibnu sabil, secara umum mereka memiliki penafsiran yang sama, yakni memaknai ibnu sabil sebagai musafir. Dunia modern telah mengalami perubahan-perubahan yang begitu cepat, baik dalam bidang ekonomi, sosial, politik, dan kebudayaan, juga teknologi informasi serta transportasi. Perubahan-perubahan ini secara signifikan mengubah cara manusia dalam berinteraksi antara satu dengan yang lain, termasuk dalam hal melakukan perjalanan . Musafir zaman modern-kontemporer tentu berbeda dengan musafir pramodern yang pada saat itu belum ditemukan alat transportasi yang cepat dan Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil Jika kegiatan bepergian di zaman itu merupakan hal yang melelahkan dan membutuhkan biaya yang besar, maka itu tidak terjadi di zaman modern saat ini, karena tersedianya moda transportasi yang cepat, murah dan nyaman. Dalam konteks ekonomi dan sosial inilah pewahyuan AlQurAoan terjadi di Hijaz pada abad ke-7, sehingga pada masa itu, ibnu sabil yang oleh mufasir klasik hanya dimaknai sebagai musafir, oleh Al-QurAoan dikategorikan sebagai orang yang berhak mendapatkan perhatian bahkan mendapat hak distribusi Di zaman modern, dengan kondisi sosial, ekonomi, dan teknologi transportasinya sudah sangat berbeda, penafsiran tunggal seperti ini, tentu menjadi problematik. Pemakaan ini justru membatasi cakupan nilai-nilai kebaikan universal yang dibawa oleh Al-QurAoan, yakni nilai-nilai menjaga hak milik orang lain, perhatian kepada kaum lemah dan miskin, dan Pada masa modern seperti sekarang ini, dengan kemudahan akses terhadap menjadikan perjalan seorang musafir tidak lagi mengalami kesulitan sebagaimana zaman dahulu. Di sisi lain, pada masa modern seperti sekarang ini, orang melakukan perjalanan bisa memiliki tujuan yang semakin beragam dan kompleks, seperti perjalanan wisata dan sejenisnya, dan nota bene mereka memiliki bekal yang cukup dan dari kalangan kaya dan borjuis. Pendeknya, pemaknaan ibnu sabil hanya untuk musafir sudah tidak begitu relevan, dan tidak mengakomodir kepada hal-hal sebagaimana terjadi di awal turunnya wahyu secara khusus, dan masa pramodern secara umum. Berdasarkan pada hasil analisis pada sub sebelumnya, yang menemukan bahwa ayat-ayat tentang ibnu sabil merupakan bagian dari ayat yang masuk dalam kategori fundamental values, yakni menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan, kesetaraan, dan kepedulian kepada fakir, miskin, kaum tertindas, maka pemaknaan ibnu sabil harus diarahkan pada nilai-nilai tersebut. Ini adalah bagian dari tujuan-tujuan utama dari ajaran AlQurAoan . aqasid Al-QurAa. Mengacu pada nilai-nilai maqasid AlQurAan di atas, maka ibnu sabil di era modern-kontemporer harus dimaknai secara lebih luas, yakni mencakup pada anak jalanan, yatim piatu yang terlantar, dan mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap . , termasuk di dalamnya adalah para gelandangan yang kini makin banyak ditemukan di wilayah Perluasan makna ini secara metodologis-ilmiah bisa dipertanggungjawabkan, karena tidak bertentangan dengan makna lingusitik, maupun konteks historissosiologis. Pemaknaan ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru, karena seorang sarjana modernis asal Mesir kenamaan, yang menjadi murid Muhammad Abduh, yaitu Rashid Ridha pernah juga menyampaikan pemaknaan serupa. Dalam karyanya yang berjudul al-Wahy alMuhammadi, ia mengusulkan agar anak jalanan dan orang-orang terlantar, masuk dalam kategori ibnu sabil yang berhak mendapat hak distribusi zakat. Kontribusi penelitian ini bagi pendapat Ridha di atas adalah pada tawaran basis analisis dan pendekatan yang digunakan dalam melakukan interpretasi ulang atas ayat-ayat ibnu sabil dalam Al-QurAoan. KESIMPULAN Ayat-ayat paradigma contextual approach Abdullah Saeed masuk dalam hierarki nilai kedua, yakni nilai fundamental . undamental value. Nirwana. Djuned, and Ikhsan, p. Lihat dalam Muhammad Rashid Rida. Al-Wahy AlMuhammadi, (Kairo: Maktabah Al-Qahirah, 1. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu. Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Kusroni, dkk. Kontekstualisasi Makna Ibnu Sabil Kontekstualisasi ayat-ayat ibnu sabil di era modern-kontemporer menempatkan ibnu sabil pada makna yang lebih luas dari sekedar musafir yang kehabisan bekal, sebagaimana penafsiran pramodern. Ibnu sabil saat ini adalah termasuk juga anak jalanan, gelandangan, dan mereka yang tidak memiliki tempat tinggal tetap . Temuan ini berimplikasi pada keharusan untuk menerapkan pesan-pesan utama . l-maqasi. ayat-ayat ibnu sabil secara lebih luas dan universal. Pesan utama ayat-ayat ibnu sabil adalah dorongan untuk memberikan perhatian dan bantuan, baik secara ekonomi maupun sosial, kepada kaum lemah, fakir-miskin, orang yang tertindas . erbudakan moder. , anak jalanan dan homeless . bnu sabi. , dan Dengan demikian, lembagalembaga yang mengelola zakat, baik dari (LAZ) pemerintah (BAZNAS) seharusnya bisa memperluas cakupan penerima manfaat dana zakat dari klaster ibnu sabil sebagaimana tawaran perluasan makna yang disimpulkan dari penelitian DAFTAR PUSTAKA