AGRISILVIKA 7 . : 2023 EFEKTIVITAS AGENSIA HAYATI Trichoderma sp. SEBAGAI PENGENDALI PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA DUA VARIETAS TANAMAN CABAI (Capsicum annum L) DI LAHAN ENDEMIK Nur Baeti Alfiani1. Gayuh Prasetyo Budi2. Aman Suyadi3. Bambang Nugroho4 Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian dan Perikanan. Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jalan KH. Ahmad Dahlan. Dukuhwaluh. Kembaran-Banyumas, 53182. Jawa Tengah. Indonesia email: pbgayuh@gmail. Abstrak Efektivitas Trichoderma sp. agens hayati sebagai pengendali penyakit antraknosa pada dua varietas cabai (Capsicum annum L. ) bertujuan untuk mengetahui pengaruh Trichoderma sp. pemberian agen hayati terhadap intensitas penyakit Antraknosa, pertumbuhan dan hasil dua varietas cabai merah serta mengetahui pengaruh interaksi antara dua varietas cabai merah dan dosis Trichoderma sp. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2016 hingga Juni 2017 di lahan percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cluster Random Sampling dengan dua faktor perlakuan, faktor pertama adalah varietas cabai yang terdiri dari Gada F1 (V. dan Astina F1 (V. , sedangkan faktor kedua adalah dosis Trichoderma sp yang terdiri dari empat dosis. yaitu (T. dosis 0g/tanaman, (T. dosis 45g/tanaman, (T. dosis 90g/tanaman dan (T. dosis 130g/tanaman, diaplikasikan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan varietas cabai berpengaruh nyata terhadap variabel pertumbuhan seperti tinggi tanaman, diameter batang, dan jumlah daun. Varietas Astina F1 memiliki tinggi . , diameter batang . ,15c. dan jumlah daun . ,75 dau. yang lebih baik dibandingkan varietas Gada F1. Variabel hasil dan intensitas serangan penyakit Antraknosa tidak berpengaruh nyata. Pemberian Trichoderma sp. dengan rentang dosis berpengaruh nyata terhadap variabel pertumbuhan, dan luas daun. Dosis Trichoderma dengan dosis 45gram/polybag menghasilkan daun terluas . ,48 cm. Namun variabel hasil dan intensitas serangan penyakit Antraknosa tidak berpengaruh nyata. Interaksi varietas cabai dan pemberian Trichoderma sp dengan dosis berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap variabel pertumbuhan, hasil dan intensitas serangan penyakit Antraknosa. Kata kunci: Antraknosa, biopestisida, cabai merah. Trichoderma sp. The effectiveness of Trichoderma sp. biological agent as an Anthracnose disease control in two varieties of chilli (Capsicum annum L) aimed at finding out the effect of Trichoderma sp. biological agent administration on the intensity of Anthracnose disease, growth, and the result of two varieties of red chili and finding out the effect of interaction between two varieties of red chili and the dosage of Trichoderma sp. This research was conducted from September 2016 until June 2017 in an experimental field of Agriculture Faculty at Universitas Muhammadiyah Purwokerto. The design used in this research was Cluster Random Sampling with two treatment factors, the first factor was the variety of chili consisted of Gada F1 (V. and Astina F1 (V. , while the second factor was the dosage of Trichoderma sp consisted of four levels, those were (T. dosage 0g/plant, (T. dosage 45g/plant, (T. dosage 90g/plant and (T. dosage 130g/plant, applied 3 times. The result showed that the treatment of chili variety significantly affected growth variables such as the height of the plants, the stem diameter, and the number of leaves. Astina F1 variety had a better height . , stem diameter . and the number of leaves . ,75 leave. than Gada F1. The result variable and the intensity of Anthracnose disease attack did not have significant effect. The administration of Trichoderma sp. with a range of dosages significantly affected the variable of growth, and the wide of leaves. The dosage of Trichoderma with 45gram/polybag resulting in the widest leaves . 48 cm. However, the variable of result and attack intensity of Anthracnose diseases had no significant effect. The interaction of chili variety and Trichoderma sp administration with different dosage did not significantly affect the variables of growth, result and attack intensity of Anthracnose disease. Key words: anthracnose, biopesticide, red chili. Trichoderma sp. PENDAHULUAN Tanaman cabai besar (Capsicum annu. termasuk tanaman semusim yang tergolong ke dalam famili Solanaceae (Yulianti dan Tundjung. Penanaman cabai besar seringkali menyebabkan produksi menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas (Syukur dkk, 2. Menurut Semangun . , serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya tingkat produksi cabai. Salah satu OPT yang menyerang tanaman cabai adalah kapang Colletroticum sp yang menyebabkan penyakit antraknosa (Yulianty dan Tundjung, 2. Serangan penyakit ini dapat menurunkan produksi sebesar 45-60% dan kualitas cabai (Hidayat, dkk. Penyakit antraknosa umumnya dikendalikan dengan menggunakan fungisida sintetik (Sibarani. Menurut Istikorini . , penggunaan fungisida sintetik dapat menimbulkan beberapa masalah diantaranya ialah meningkatkan resistensi kapang Colletotricum terhadap Permasalahan yang ditimbulkan oleh aplikasi pestisida perlu diatasi yakni dengan menggunakan pestisida yang alami. Pengendalian organisme pengganggu tanaman antara lain dengan memanfaatkan agensia biologi yang meliputi kapang dan bakteri antagonis terhadap (Suryaningsih Hadisoeganda, 2. Menurut Murkalina dkk. Trichordema merupakan Agensia Pengendali Hayati (APH) atau agensia hayati yang dapat mengurangi penggunaan pestisida. Kapang Trihcoderma mempunyai kemampuan sebagai menghasilkan enzim yang secara aktif sel-sel menyebabkan lisisnya sel-sel kapang patogen (Saragih dkk. , 2006. Liswarni dkk. , 2. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pemberian dosis Trichoderma sp terhadap pertumbuhan, hasil dan intensitas serangan penyakit antraknosa pada dua varietas tanaman cabai. BAHAN DAN METODE Lokasi penelitian Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Purwokerto pada ketinggian 80 mdpl. Penelitian dilaksanakan dari bulan September 2016 sampai bulan Juni 2017. Bahan Polybag dengan ukuranb 40 cm x 40 cm sedangkan varietas yang digunakan adalah varietas Gada F1 dan Astina F1 serta isolate Trichoderma sp yang diperbanyak pada media Rancangan percobaan Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 2 faktor. Faktor 1 varietas tanaman cabai terdiri dari V1 = Gada F1 dan V2 = Astina F1. Faktor 2 dosis Trichoderma sp terdiri dari 4 taraf yaitu 0. gram/tanaman. Setiap perlakuan diulang empat Pelaksanaan penelitian Perbanyakan Trichoderma. Beras dibilas sampai bersih dan ditiriskan sampai kering. Setelah itu dikukus selama 25 menit. Setelah dingin maka nasi setengah yang matang terbentuk didinginkan dan disterilisasi dengan alcohol 70%. Nasi kemas dalam kantong plastic sebanyak 200 g dan disterilisasi dalam autoklaf selama 20 menit. Nasi kemudian didiamkan selama 24 jam baru dilakukakn inokulasi Trichoderma. Setelah itu dilakukan inkubasi dalam ruangan steril pada suhu ruangan selama 14 hari. Sumber inokulan kemudian disimpan pada lemari pendingin sampai saat digunakan. Penanaman. Media tanam yang digunakan adalah campuran tanah dan pupuk kendang dengan komposisi 2:1 . sebanyak 24,62 kg media tanam dimasukan dalam polybag . cm x 40 c. sebagai media tanam cabai. Tanaman cabai yang digunakan adalah hasil penyemaian semai . dengan kriteria memiliki 3 daun yang sudah terbuka sempurna. Aplikasi Trichoderma. Aplikasi diberikan sesuai dengan perlakuan. Sumber isolat Trichoderma ditaburkan sebanyak tiga kali, yaitu pada penyiapan media tanam, 39 hst, dan terakhir 60 hst (Alfizar dkk, 2. Pemeliharaan. Pemeliharaan penyiraman dan penyiangan yang dilakukan setiap hari atau kondisi tanah di dalam polybag. Pemupukan dilakukan empat kali yaitu pada saat tanam . kg/ha OO 5,02 g/polybag & KCl 100 kg/ha OO 2,51 g/polyba. , pemupukan kedua dilakukan pada 14 hst . kg/ha OO 5,02 g/polybag & KCl 100 kg/ha OO 2,51 g/polyba. , pemupukan ketiga pada pada masa reproduksi atau 35 hst (SP36 = 6,28 g/polybag, urea = 5,02 g/polyba. , dan pemupukan keempat pada 63 hst (SP36 = 6,28 g/polybag, urea = 5,02 g/polyba. Untuk menopang pertumbuhan tanaman cabai maka dilakukan pemasangan anjir . pada 14 hst. Panen. Panen dimulai pada 75 hst yang ditandai dengan kematangan buah >80%. Panen selanjutnya dilakukan setiap dua hari sekali selama empat minggu. Pengamatan. Pengamatan tinggi tanaman (TT) dilakukan dari pangkal batang sampai bagian pucuk tertinggi. Diameter batang (DB) dilakukan dengan mengukur diameter tanaman pada ketinggan 5 cm di atas permukan tanah. Jumlah daun (JD) dihitung pada daun yang telah terbuka sempurna dan tidak terserang penyakit. Luas daun (LD) dikur dengan mengukur panjang dan dikalikan dengan lebar daun serta dikalikan dengan faktor koreksi. Keempat parameter di atas diukur pada 14 hst, 28 hst, 42 hst, 56 hst, dan 70 Bobot segar buah total per tanaman (BS) diperoleh total berat hasil panen selama 4 pekan. Jumlah buah total per tanaman (JB) dhitung berdasarkan jumlah total buah cabai yang dipanen selama empat minggu. Intensitas penyakit (IP) diukur pada buah cabai yang terinfeksi. IP = Oc [. i x v. / (V x N)] x 100%. IP . ntensitas penyakit, %). umlah tanaman dengan skala . , vi . ilai skala penyakit dari . V . ilai skala tertinggi, . N . umlah tanaman yang diamat. (Wagiana dkk, 2. Kategoi serangan antraknosa merujuk pada Herwidyanti, 2. yang terdiri dari: 0 . uas gejala serangan nihi. , 1 . ercak seluas 1%-20%), 2 . ercak luas serangan 21%-40%), 3 . ercak luas serangan 41%-60%), dan 4 . ercak luas serangan >60%). Pengamatan dilakukan selama empat pekan setiap dua hari sekali mulai panen pertama . Analisis data Data yang diperoleh dari hasil pengamatan ditabulasi dan dianalisis dengan uji F untuyk mengetahui perbedaan nilai rata-rata antar Apabila terdapat berbedaan rata-rata antar perlakukaan secara statistika maka dilanjutkan uji bodI nyata terkecil (BNT) untuk menentukan mana perlakukan yang menghasilkan rata-rata tertinggi. Pengujian baik uji F ataupun BNT dilakukan pada taraf nayat 5%. HASIL Ringkasan pengaruh perlakuan terhadap variabel respons yang diamati Hasil penelitian ini diringkas berdasarkan analisis statistika yang dilanjutkan. Varietas cabai merah yang digunakan menunjukan respons terhadap parameter TT. DB, dan JD. Sedangkan perlakuan dosis Trichoderma sp. berpengaruh pada parameter LD. Parameterparameter yang lain (BS. JB, dan IP) tidak menunjukan pengaruh yang nyata secara statistika pada uji F dengan taraf nyata 5% (Tabel . Varietas pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan V1. Tiga variabel yang diamati dari V1 yang menunjukan nilai yang lebih baik dibandingkan dengan V1 adalah TT. DB, dan JD dimana nilai rata-ratanya berturut-turut 90,0 cm. 1,15 cm. dan 183,8 helai (Tabel . Sedangkan pemberian dosis Trichoderma secara umum tidak memberikan pengaruh pada variabel yang diamati, kecuali luas daun. Dosis Trichoderma menunjukan pengaruh positif terhadap luas daun tanaman cabai yang diamati. Perlakuan dengan LD terluas adalah T1 seluas 83,5 cm2 diikuti T2 dan T3 yang berturut-turut nilai LD adalah 74,0 cm2 dan 75,2 cm2. Peningkatan dosis Trichoderma meningkatkan variabel LD meskipun respons tidak terlalu tinggi (Tabel . Interaksi antara varietas cabai merah dan dosis Trichoderma tidak menunjukan pengaruh yang nyata pada semua variabel yang diamati pada akhir pengamatan (Tabel . Penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapat interaksi antara varietas dengan dosis Trichoderma. Semua perlakuan menunjukan IP yang sama dengan katerogi serangan berat (IP>50%). Rata-rata nilai IP berkisar 64,6% 82,7%. Variasi rata-rata nilai IP antar perlakuan bukan disebabkan oleh varietas, dosis Trichoderma, dan interaksi keduanya. Meskipun pada V2 menunjukan respons positif terhadap peningkatan dosis Trichoderma (Gambar . PEMBAHASAN Variasi karater pertumbuhan (TT. DB, dan JD) merupakan respons dari variasi genetik disamping itu kesesuaian kondisi tempat tumbuh tanaman Tabel 1. Matrik hasil analisis data Statistik aplikasi Trichoderma sp dengan berbagai dosis pada dua varietas tanaman cabai (Capsicum annu. dalam mengendalikan intensitas serangan penyakit antraknosa pada pengamatan 70 hst. Parameter VxT Keterangan: V . T (Dosis Trichoderma sp. V x T . nteraksi V dengan T). idak berpengaruh nyata pada uji F taraf nyata 5%). erpengaruh nyata pada uji F pada taraf nyata 5%). Tabel 2. Pengaruh aplikasi Trichoderma sp dengan berbagai dosis pada dua varietas tanaman cabai merach (Capsicum annu. terhadap karakter agronomis tanaman cabai merah pada 70 hst. Perlakuan Varietas (V) 77,1b 0,99b 143,2b 90,0a 1,15a 183,8a Dosis (T) 2,27 73,6d 2,21 1,97 74,0c 2,12 75,2b Interaksi V x T V1T0 1,04 V1T1 1,03 V1T2 0,91 V1T3 0,99 V2T0 1,23 V2T1 1,18 V2T2 1,06 V2T3 1,13 Keterangan: V1 (Varietas Gada F. V2 . arietas Astina F. T0 . T1 . T2 . T3 . angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukan bahwa berbeda secara statistitika pada pengujian BNT dengan = 0,05. n = 4. juga berpengaruh. Menurut Wardani . dinyatakan bahwa V2 (Astina F. memeiliki rentang keseuaian lahan yang lebih luas dibandingkan dengan V1 (Gada F. karaketrsitik agronomois yang lebih baik dibandingkan dengan V1 karena kemampuan adaptasi yang lebih baik dan lebih tahan terhadap kondisi kering. Di samping itu, pada kondisi IP (%) Perlakuan Gambar 1. Pengaruh pemberian konsentrasi ekstrak gadung dan varietas kedelai instensitas Keterangan: V1 (Varietas Gada F. V2 . arietas Astina F. T0 . T1 . T2 . T3 . angka pada kolom yang sama dan diikuti oleh huruf yang berbeda menunjukan bahwa berbeda secara statistitika pada pengujian BNT dengan = 0,05. n = 4. Trichoderma spp merupakan mikoparasitik yang tinggal di dalam tanah di sekitar perakaran . Mekanisme mikoparasitiknya terjadi di dalam tanah bukan pada buah. Kemampuan jamur ini mengendalikan antraknosa disebabkan mekanisme infeksi Trichoderma spp pada tanaman memicu dan merangsang tanaman untuk membentuk system pertahan tubuh (Harman et al. Istikorini, 2. Cook . melaporkan bahwa mekanisme induksi ketahanan jaringan tanaman dilakukan dengan peningkatan ketebalan dinding sel, peningkatkan produksi anti jamur . eperti: fenol, flavonoid, fitoaleksin. Oleh karena itu perlu dilakukan eksplorasi lebih lanjut terkait dengan dosis Trichoderma spp yang mampu menginduksi ketahanan tanaman. SIMPULAN optimal V2 dapat mencapai tinggi tanaman sampao 120 cm lebih tinggi dibandingkan V1 yang hanya 80 cm. Trichoderma sp. merupakan salah satu agens hayati yang berperan positif dalam aktivitas Aplikasi Trichoderma dilaporkan dapat meningkatkan pengambilan unsur hara dari tanah sehingga bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman (Oyarbide etal. Gusnawaty dkk. membuktikan bahwa aplikasi Trichoderma sp. mampu memperbaiki petumbuhan tanaman tomat. Sepwati dkk. menyatakan bahwa Trichoderma sp. memecah bahan-bahan organik, seperti nitrogen pada senyawa kompleks, sehingga mudah terserap oleh tanaman. Nutrogen berfungsi merangsang pertumbuhan tanaman dan memberikan warna hijau pada daun dan penambahan luas daun. Colletroticum sp merupakan jamur penyebab penyakit antraknosa pada buah cabai. Jamur ini memiliki konidium yang sangat mudah tersebar oleh angin dan air hujan. Preferensi dan insidensi penyakit ini sangat tinggi sehingga mudah Di samping itu siklus hidup Colletroticum sp cukup cepat yaitu 7-12 hari . ataran renda. dan 20-an hari di dataran tinggi. Hal ini menyebabkan serangan antraknosa cukup tinggi karena penggunaan APH belum efektif. Efektivitas APH ditentukan oleh kemampuan antagonism atau mikoparasitik belum efektif. Trichoderma sp merupakan salah satu agen pengendali hayati. Potensi mikoparasitik kompetitornya dan kemampuan jamur tersebut menginduksi mekanisme ketahanan alami Varietas Astina F1 menunjukan karakter pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan Gada F1 tetapi aplikasi Trichoderma belum mampu menginduksi mekanisme ketahanan tanaman sehingga intensitas serangan antraknosa masih cukup tinggi. Namun demikian, efek dari pemberian Trichoderma sp dapat meningkatkan ukuran luas daun. DAFTAR PUSTAKA