Jurnal Penelitian Samudra e AeISSN : 1234-5678 | pAeISSN : 7891-1112 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2023 DOI : https://doi. org/xx. x/samudra. ANALISIS FAKTOR Ae FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA BONGKAR MUAT PETI KEMAS PADA UNIT USAHA TERMINAL PETI KEMAS BELAWAN PT (PERSERO) PELABUHAN INDONESIA I Hendri Indra Akademi Maritim Belawan ABSTRAK PT (Perser. Pelabuhan Indonesia I merupakan Bada Usaha Milik Negara yang memiliki kewenangan untuk melakukan pengelolaan pelabuhan umum yang diusahakan, diarahkan menjadi perusahan yang menghasilkan laba, mulai meninggalkan polalama dengan meningkatkan kinerjanya melalui proses reengineering maupun peningkatan kegiatan manajemen kontrol dalam perusahaan, termasuk didalamnya pelayanan jasa bongkar muat peti kemas. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan suatu metode yang dapat diterapkan dalam peningkatan kinerja operasional bongkar muat peti kemas. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan, review kepustakaan. Hasil peneltiian adalah factor yang mempengaruji penurunan kinerja bongkarmuat peti kemas pada Unit Usaha Terminal Peti Kemas Belawan PT (Persere. Pelabuhan Indonesia I adalah disebabkan banyaknya kegagalan terhadap kegiatan bongkar muat, faktor penyebab kegagalan kegiatan bongkar muat yaitu faktor prosedur bongkar muat, faktor manusia, faktor alat yang digunakan dan faktor lingkungan. Kata Kunci : Faktor Ae faktor yang mempengaruhi kinerja bongkar muat PENDAHULUAN Perkembangan permintaan akan jasa pelayanan peti kemas yang terus meningkat dan dalam rangka terus berbenah menyongsong era AFTA dan pasar bebas, mendesak dilakukannya perubahan struktur organisasi, pemutusan rantai birokrasi, dan pemberian otonomi yanglebih luas. Tuntutan untuk meningkatkan efektivitas, efesiensi dan peningkatan mutu pelayanan yang diberikan oleh terminal peti Dalam meningkatkan kemampuan daya saingnya, manajemen PT (Persere. Pelabuhan Indonesia I telah mencanangkan pelabuhan Belawan dan Dumai sebagai pelabuhan kelas dunia. Sebagai tahap awal, pada tahun 1998 pelayanan terminal peti kemas unit NTPK Belawan telah memperoleh sertifikasi ISO Sedangkan pelayanan kapal di pelabuhan Belawan dan Dumai memperoleh sertifikasi ISO 9002 pada tahun 1999. Upaya pencapaian pelabuhan kelas dunia tersebut dilakukan melalui penerapan deducated berth dan dedicated terminal, peningkatan fasilitas dan penambahan peralatan bongkar muat serta penyempurnaan system dan prosedur pelayanan. This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Jurnal Penelitian Samudra e AeISSN : 1234-5678 | pAeISSN : 7891-1112 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2023 DOI : https://doi. org/xx. x/samudra. Disisi lain arus peti kemas di dermaga Unit UTPK Belawan cenderung meningkatkan walaupun pencapaian target belum tercapai secara keseluruhan. Sehubungan dengan hal tersebut maka permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini adalah faktor Ae faktor apa saja yang paling berpengaruh terhadap turunnya kuinerja bongkar muat peti kemas pada unit UTPK Belawan PT (Perser. Pelabuhan Indonesia I. TINJAUAN PUSTAKA Kinerja Operasional Kinerja adalah isu yang riil dan seketika. Kinerja operasional yang diidamkan dan dinyatakan dalam bentuk visi, strategi dan objektif hendaklah dinilai terhadap kinerjaaktual. Kinerja operasional pada PT . Pelabuhan I dibedakan atas : kinerja pelayanan kapal, kinerja pelayanan barang, kinerja pelayanan terminal peti kemas, dan kinerja fasilitas tambatan. Kinerja Peralatan Kinerja peralatan dapat diukur dengan tiga parameter, yaitu utilisasi peralatan, kesiapan peralatan, dan waktu menganggur peralatan. Utilasi peralatan adalah suatu ukuran dari proposi waktu dimana suatu mesin/peralatan secara actual bekerja penuh. Kesiapan peralatan adalah suatu ukuran proposi dari mesin secara individuyang dapat diperoleh pada terminal operator, dan dihitung dengan membagijam mesin yang tersedia dengan jam kerja mesin yang mungkin biasanya diukur dengan persentase. Waktu menganggur pelatan adalah periode waktu dimana suatu alat tidak berada dalam kondisi mampu memberikan kinerja/untuk kerja yang diharapkan ataupun suatu ukuranwaktu dimana perlatan tidak dapat melayani dan/atau tidak dapat digunakan. Sistem Penanganan Peti Kemas Dalam operasional penanganan peti kemasterdapat enam system yang biasa digunakan yaitu : . tractor Ae trailer system, peti kemas dilayani dengan menggunakan chasis atau terminal trailer, . straddle carrier direct system, pemindahan peti kemas, penumpukan peti kemas dan kegiatan lainnya dilakukan dengan menggunakan straddle carrier, . straddle carrier relay system, system penumpukan peti kemas dari dermaga ke lapangan penumpukan peti kemas atau sebaliknya dilakukan dengan menggunakan tractor Ae trailer, . yard gantry crane, system penumpukan peti kemas dilakukan dengan rubber Ae tyred atau rail- mounted gantry crame sedangkan pemindahan peti kemas dari dermaga kelapangan penumpukan atau sebaliknya dilakukan dengan menggunakan tractor- trailer units, . front-end loader system, kegiatan penanganan peti kemas dilakukan dengan heavy Ae duty lift trucks . ront Ae end loaders dan reach stacker. yang terdiri dari gabungan direct system dan relay syatem, . combination syatems, kegiatan pelayanan peti kemas merupakan kombinasi dari straddle carries, yard gantry cranes dan peralatan lainnya dengan lebih dari satu jenis peralatan yang digunakan pada waktu yang sama yang disesuaikan dengan fungsinya. METODE PENELITIAN Metode penelitian dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan dan review kepustakaan. Lokasi penelitian ini dilaksanakan diPT (Perser. Pelabuhan Indonesia 1 Unit UTPK Belawan. Waktu penelitian dilakukan selama 8 minggu atau 2 bulan. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah : . This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Jurnal Penelitian Samudra e AeISSN : 1234-5678 | pAeISSN : 7891-1112 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2023 DOI : https://doi. org/xx. x/samudra. data primer, merupakan data yang diperoleh melalui pengamatan langsung dilapangan terhadap aktivitas/prosespelayanan bongkar muat peti kemas di Unit UTPK Belawan, . Data sekunder, merupakan data yang diperoleh buku Ae buku teks, majalah ilmiah, jurnal yang ada kaitannya dengan isi pembahasan serta data kinerja operasional bongkar muat peti kemas Unit UTPK Belawan. Pengumpulan adata digunakan dengan cara : . pengamatan langsung/observasilapangan yaitu kegiatan mengamati proses pelayanan bongkar muat peti kemas untuk menentukan pemetaan sumber daya yang digunakan dalam aktivitas pelayanan bongkar muat peti kemas, serta pengukuran terhadap kinerja bongkar muat peti kemas,. mencatat berbagai data/informasi dan dokumen perusahaan dalam bentuk laporan tahunan dan laporan bulanan, wawancara dengan pejabat strategis di Unit UTPK Belawan. Analisis data yang dipakai adalah analisis data kuantitatif yaitu dilakukan dengan proses tabulasi secara tematis untuk menunjukkan kecenderungan yang ada. sedangkan data kualitatif dilakukan dengan metode deskriptif untuk mengidentifikasi aktivitas bongkar muat peti kemas. Analisis data ini digunakan untuk menganalisisaktivitas pelayanan bongkarmuat peti kemas, menganalisis kinerjaoperasional bongkar muat peti kemas, mengevaluasi kinerja operasional bongkar muat peti kemas. HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor penyebab tidak terpenuhinya target produktivitas bongkar muat peti kemas yaitu, . faktor manusia, berupa penggnatianshift yang tidak tepat waktu,operator sakit dan slowly handling, . faktor metode/prosedur, berupa persiapan untuk muat, menunggu dokumen menunggumuatan, . faktor alat, berupa alat rusak seperti Container, transtainer, top loader, dan head truck, . faktor lingkungan, berupa gangguan dariluar sepertiputusnya aliran listrik PLN, cuaca. Jumlah kegiatan yang mencapai target standar produktivitas adalah sebanyak 31 kali kegiatan atau sama dengan 52% dari total keseluruhan kegiatan bongkar muat. Sedangkan yang tidak memenuhi standar adalah sebanyak 29 kali kegiatan atau sama dengan 48% dari total kegiatan bongkar muat. Faktor utama penyebab kegagalan dari kegiatanbongkarmuat adalah . faktor prosedur bongkar muat sebanyak 25 kalia atau sebesar 42% dari keseluruhan kegiatan. Dari total 25 kali kesalahan prosedur bongkar muat,maka penyebab kegagalan prosedur tersebut yang utama adalah persiapan untuk muat barang sebanyak 17 kali dari 25 kegagalan prosedur atau sebanyak 68% dari 42% kegagalan prosedur tersebut. Urutan selanjutnya adalah menunggu dokumen sebanyak 4 kali kegagalan atau 16% dari 42% dan pengecekan serta menunggu muatan masing Ae masing 2 kali kegagal. an atau sebesar 8% dari 42% kegagalan prosedur. faktor manusia menjadi urutan kedua dari penyebab kegagalan kegiatan bongkar muat peti kemas. Faktor kegagalan manusia sebanyak 18 kali kegiatan dari total kegiatan bongkarmuat atau sebesar 30% dari 48% total penyebab kegagalan. Faktor utama penyebab kegagalan manusia yang utama adalah penggantian shift pegawai yang tidak tepat waktu sehingga kegiatan bongkar muat haruis terhenti oleh karena menunggu pergantian shift. Kegagalan pergantian shift adalah sebanyak 16 kali dari total kegagalan manusia atau sebanyak 88% dari 30% faktor kegagalan manusia. Faktor penyebab selanjutnya adalah kegagalan bongkar muat karena operator sakit dan terjadinya slowly handlying yaitu masing Ae masing 1 kali atau 6 % dari total kegagalan manusia. faktor penyebab kegagalan bongkar muat ketiga adalah kegagalan alat dalam bekerja sebanyak 16 kali dari seluruh legiatan atau 16% dari This is an Creative Commons License This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. Jurnal Penelitian Samudra e AeISSN : 1234-5678 | pAeISSN : 7891-1112 Volume 1 Nomor 2. Agustus 2023 DOI : https://doi. org/xx. x/samudra. 48% faktor penyebab kegagalan kegiatan total. Faktor utama penyebab kegagalan alat adalah karena tidak berfungsinya mesin CC sebanyak 7 kali kegiatan dan mesin TT sebanyak 6 kali kegiatan serta mesin TL sebanyak 3 kali kegiatan. Penyebab kegagalan mesin tersebut adalah karena mesin sedang dalam perbaikan atau mesin rusak. faktor penyebab kegagalan bongkar muat terakhir adalah lingkungan yang terjadi hanya 1kali dari 60 kegiatan. Faktor penyebab lingkungan adalah karena terputusnya aliran PLN. KESIMPULAN Faktor yang mempengaruhi penurunan kinerja bongkarmuat peti kemas pada Unit Usaha Terminal Peti Kemas Belawan PT (Perser. Pelabuhan Indonesia I adalah disebabkan banyaknya kegaglan terhadapkegiatan bongkar muat. Ada 4 faktor kegagalan kegiatan bongkar muat yaitu faktorprosedur bongkar muat, faktor manusia, faktor alat yang digunakan dan faktor lingkungan. Faktor penyebab kegagalan bongkar muat peti kemas tersebut dapat menjadi acuan bagipihak manajemen untuk melakukan perbaikan dan peningkatan sehingga tingkat kegagalan bongkar muat peti kemas semakin kecil sehingga kinerja dan produktivitas Unit Terminal Peti Kemas Belawan akan semakin baik. REFERENSI