116 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) PADA ANAK BUAH KAPAL (ABK) KEDATANGAN LUAR NEGERI DI PELABUHAN PANGKALBALAM TAHUN 2024 THE RELATIONSHIP BETWEEN KNOWLEDGE AND ATTITUDE TOWARD HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS (HIV) PREVENTION IN OVERSEAS CREW WORKERS AT PANGKALBALAM PORT IN 2024 Tia Katiani1*. Arjuna1. Kgs M. Faizal1 Institut Citra Internasional Program Studi Ilmu Keperawatan *E-mail: katianitia@yahoo. ABSTRAK Immunodeficiency Virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang sistem kekebalan tubuh dengan penularan utama melalui perilaku seksual berisiko. Anak Buah Kapal (ABK) memiliki mobilitas tinggi dan terpisah dari pasangan dalam waktu lama sehingga rentan terhadap penularan HIV. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV pada ABK kedatangan luar negeri di Pelabuhan Pangkalbalam. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan purposive sampling melibatkan 69 responden. Instrumen berupa kuesioner tervalidasi mencakup pengetahuan HIV, sikap, dan perilaku pencegahan. Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan =0,05. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara pengetahuan dengan pencegahan HIV . =0,022. POR=3,. , dimana ABK dengan pengetahuan baik memiliki peluang 3,5 kali lebih besar melakukan pencegahan dengan Terdapat hubungan signifikan antara sikap dengan pencegahan HIV . =0,020. POR=3,. , dimana ABK dengan sikap positif memiliki peluang 3,6 kali lebih besar melakukan pencegahan dengan baik. Distribusi menunjukkan 50,7% responden memiliki pengetahuan kurang, 53,6% memiliki sikap negatif, dan 47,8% melakukan pencegahan Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV pada ABK kedatangan luar negeri di Pelabuhan Pangkalbalam tahun 2024. Diperlukan penguatan program edukasi kesehatan dan kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan pencegahan HIV pada populasi ABK. Kata Kunci: Anak Buah Kapal. HIV. Pencegahan. Pengetahuan. Sikap ABSTRACT Human Immunodeficiency Virus (HIV) attacks the immune system with primary transmission through risky sexual behavior. Crew members have high mobility and prolonged separation from partners, making them vulnerable to HIV transmission. This study analyzes the relationship between knowledge and attitudes toward HIV prevention among crew members arriving from abroad at Pangkalbalam Port. This cross-sectional study with purposive sampling involved 69 respondents. Instruments included validated questionnaires on HIV knowledge, attitudes, and prevention behaviors. Data analysis used Chi-Square test with =0. Results showed a significant relationship between knowledge and HIV prevention . =0. POR=3. , indicating crew members with adequate knowledge had 3. 5 times greater likelihood of proper prevention. A significant relationship Hal: 116-127 Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Pencegahan Penularan Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada Anak Buah Kapal (ABK) Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 existed between attitudes and HIV prevention . =0. POR=3. , showing crew members with positive attitudes had 3. 6 times greater likelihood of proper prevention. Distribution revealed 50. 7% had insufficient knowledge, 53. 6% held negative attitudes, 8% practiced inadequate prevention. The study concludes significant relationships exist between knowledge and attitudes toward HIV prevention among crew members at Pangkalbalam Port in 2024. Strengthening health education programs and cross-sectoral collaboration are essential to enhance HIV prevention among crew member populations. Keywords: Attitudes. HIV. Knowledge. Prevention. Ship Crew Pendahuluan Human immunodeficiency virus atau lebih dikenal dengan HIV merupakan penyakit menular yang menyebabkan melemahnya sistem kekebalan tubuh (Belitung, 2. Orang yang terinfeksi HIV biasanya tidak menunjukkan gejala dalam jangka waktu lama, namun mereka dapat menulari orang lain. Tanpa penanganan yang tepat, infeksi HIV dapat berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS), sehingga upaya pencegahan dini menjadi krusial untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini (Asphina R. Djano & Ilmi, 2. Jumlah penderita HIV meningkat pesat di seluruh dunia, terbukti dengan tingginya jumlah penderita HIV/AIDS setiap tahunnya. Diperkirakan pada tahun 2023 sekitar 39 juta orang terinfeksi HIV di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut sekitar 37,5 juta penderita adalah dewasa dan 1,5 juta adalah anak-anak (<15 tahu. Pada tahun 2021, tercatat sekitar 1,5 juta kasus baru HIV di seluruh dunia. Infeksi HIV meningkat setiap tahun di Amerika Latin. Eropa Timur dan Asia Tengah. Timur Tengah dan Afrika Utara (Purba et al. , 2. Jumlah penderita HIV di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Kementerian Kesehatan memperkirakan jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia akan 000 pada September 2023. Dari sekian banyak kasus HIV/AIDS yang tercatat, sekitar 69,9 persen dari mereka yang terinfeksi adalah usia kerja, antara 25 dan 49 tahun. Lima provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta . , disusul Jawa Timur . Jawa Barat . Jawa Tengah . dan Papua . (Dini Ma. Iballa et al. Jumlah penderita HIV pada tahun 2022 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 276 orang dengan jumlah tertinggi di Kota Pangkalpinang sebanyak 107 orang. Berdasarkan data SIHA (Sistem Informasi HIV/AIDS) tahun 2023, kasus HIV terjadi lebih banyak pada laki-laki, yaitu sekitar 68% dan perempuan sebesar 32%. Kasus HIV tertinggi ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun. Jumlah ODHIV baru sebanyak 276 orang dan yang sudah melakukan pengobatan antiretroviral (ARV) sebanyak 80% (Rosadi Arta et al. , 2. Berdasarkan laporan kegiatan deteksi dini HIV di Pelabuhan Pangkalbalam Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Pangkalpinang pada tahun 2022 dari 48 orang yang dilakukan pemeriksaan Voluntary Conseling and Testing (VCT), terdapat 1 orang yang reaktif HIV. Sedangkan hasil kegiatan tahun 2023 didapatkan data perilaku responden yang berisiko tertular HIV yaitu melakukan hubungan sex berisiko seperti bergantiganti pasangan sebanyak 7,55% dan tidak menggunakan kondom saat berhubungan sex tidak aman atau beresiko yaitu 11,32%. Dari hasil survey diketahui sebanyak 56,60% pencegahan HIV dan 100% responden yang diperiksa menunjukan hasil Non Reaktif HIV (Aziz et al. , 2. Peningkatan jumlah kasus HIV secara global cenderung disebabkan oleh meningkatnya perilaku berisiko di berbagai kelompok sosial di seluruh dunia. Data Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 menunjukkan bahwa kelompok populasi berisiko tinggi penularan HIV meliputi pekerja seks komersial, pengguna narkoba suntik, lelaki seks dengan lelaki, serta pekerja dengan mobilitas tinggi seperti supir, buruh pelabuhan, dan Anak Buah Kapal (Reynaldii & Trisiswati, 2. Pada dunia pelayaran, kelompok Anak Buah Kapal (ABK) merupakan pekerjaan yang memiliki mobilitas tinggi. Mereka melakukan perjalanan dalam jangka waktu yang lama, berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Hal ini membuat mereka yang sudah lama mempunyai istri atau pasangan tidak bisa bertemu dan kebutuhan biologisnya tidak Situasi yang dialami oleh para pelaut dan anak buah kapal dapat menyebabkan mereka melakukan hubungan seks dengan wanita pekerja seks (WPS) untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, apalagi mereka memiliki 3M (Man. Money. Mobil. Penyebaran AIDS di Indonesia Timur, khususnya daerah Merauke pertama kali dideteksi lewat nelayan yang berasal dari luar negeri, yaitu negara Thailand. Setelah dilakukan pemeriksaan darah, hasilnya ditemukan ada nelayan Thailand yang positif mengidap HIV. Mereka melakukan kontak kelamin dengan pekerja seks komersial di Merauke dan menjadi transmisi penularan ke masyarakat setempat (Taqiyah et al. , 2. Pemerintah Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya terkait pencegahan HIV termasuk di pelabuhan. Melalui Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) sebagai Unit Pelaksana Teknis dibawah Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan memiliki program screening HIV melalui kegiatan voluntary counselling and testing (VCT). Kegiatan ini sebagai langkah deteksi dini pengendalian HIV pada pekerja laut termasuk anak buah kapal (ABK) dari luar negeri (BKK Kelas I Makasar, 2. Pada penanggulangan HIV, hal penting yang perlu diketahui masyarakat Pengetahuan memegang peranan penting dalam upaya ISSN. pencegahan HIV karena pengetahuan yang komprehensif akan melahirkan sikap yang Oleh karena itu pengetahuan dan sikap menjadi dasar terbentuknya akhlak seseorang yang artinya terdapat keselarasan antara pengetahuan dan sikap (Yunida Turisna Octavia. SKM. Kep. Ns. , 2. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Mariani et al. , 2. menunjukkan bahwa adanya hubungan yang kuat antara pengetahuan dan sikap tentang HIV dengan pencegahan HIV. Meskipun telah banyak penelitian tentang pengetahuan dan sikap terhadap pencegahan HIV pada berbagai kelompok populasi berisiko, namun penelitian yang secara spesifik mengkaji hal tersebut pada ABK kedatangan luar negeri di wilayah pelabuhan Indonesia masih terbatas. Pelabuhan Pangkalbalam sebagai salah satu pintu masuk lalu lintas kapal internasional memiliki karakteristik unik dengan tingginya mobilitas ABK asing dan lokal yang berinteraksi dengan masyarakat Data BKK Kelas II Pangkalpinang tahun 2023 menunjukkan adanya perilaku berisiko pada ABK, namun belum ada pengetahuan dan sikap yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV pada kelompok Penelitian ini penting untuk mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu diperkuat dalam program intervensi kesehatan di wilayah pelabuhan, khususnya di Pangkalbalam, guna mencegah penularan HIV dari dan ke ABK yang memiliki potensi tinggi sebagai jembatan epidemi . ridge populatio. antara kelompok berisiko tinggi dengan masyarakat umum. Berdasarkan masalah yang telah dijabarkan diatas membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul "Hubungan Pengetahuan dan Sikap Terhadap pencegahan Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) Pada Anak Buah Kapal (ABK) Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun Metodologi Penelitian Penelitian rancangan penelitian kuantitatif dengan Hal: 116-127 Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Pencegahan Penularan Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada Anak Buah Kapal (ABK) Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 pendekatan cross-sectional. Pendekatan cross-sectional independen . engetahuan dan sika. dan variabel dependen . encegahan HIV) dilakukan pada satu waktu yang bersamaan, sehingga efisien dalam mengidentifikasi hubungan antar variabel pada populasi ABK yang memiliki waktu singgah terbatas di pelabuhan (Sualisman et al. , 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Anak Buah Kapal (ABK) yang datang dari luar negeri dan tercatat dalam laporan Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas II Pangkalpinang di wilayah kerja Pelabuhan Pangkalbalam tahun 2023. Berdasarkan data tersebut, populasi berjumlah 120 ABK. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan kriteria tertentu. Kriteria inklusi meliputi: . ABK laki-laki yang datang dari luar negeri, . bersedia menjadi responden dengan menandatangani informed consent, . dapat berkomunikasi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, dan . hadir di Pelabuhan Pangkalbalam pada periode penelitian. Kriteria eksklusi adalah ABK yang sedang sakit berat atau tidak dapat mengisi kuesioner dengan Jumlah menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, menghasilkan 69 responden. Penelitian dilakukan di Pelabuhan Pangkalbalam pada tanggal 26 Oktober 2024 sampai dengan 19 November 2024. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner terstruktur yang terdiri dari tiga bagian: Kuesioner pengetahuan HIV: berisi 10 pertanyaan dengan skala Guttman . enar = 1, salah = . , dengan rentang skor 0-10. Kategori pengetahuan dibagi menjadi baik . kor Ou. dan kurang . kor <. Kuesioner sikap terhadap HIV: berisi 10 pertanyaan dengan skala Likert . angat setuju = 4, setuju = 3, tidak setuju = 2, sangat tidak setuju = . , dengan rentang skor 10-40. Kategori sikap dibagi menjadi positif . kor Ou. dan negatif . kor <. Kuesioner pencegahan HIV: berisi 10 pertanyaan dengan skala Guttman . a = 1, tidak = . , dengan rentang skor 0-10. Kategori pencegahan dibagi menjadi baik . kor Ou. dan kurang . kor <. Kuesioner telah diuji validitas menggunakan teknik product moment correlation dengan nilai r hitung > r tabel . pada semua item pertanyaan, menunjukkan bahwa seluruh item valid. Uji reliabilitas menggunakan Cronbach's Alpha menghasilkan nilai 0,842 untuk kuesioner pengetahuan, 0,876 untuk kuesioner sikap, dan 0,829 untuk kuesioner pencegahan, yang semuanya >0,6 sehingga dinyatakan Data yang telah dikumpulkan dianalisis menggunakan program statistik Analisis dilakukan secara bertahap meliputi: Analisis mendeskripsikan karakteristik responden . sia, status pernikahan, tingkat pendidika. serta distribusi frekuensi variabel pengetahuan, sikap, dan pencegahan HIV. Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan Analisis bivariat: untuk menganalisis hubungan antara variabel independen . engetahuan dan sika. dengan variabel . encegahan HIV) menggunakan uji Chi-Square. Uji ChiSquare dipilih karena sesuai untuk menganalisis hubungan antara dua variabel kategorik dengan skala pengukuran nominal atau ordinal. Hasil uji dinyatakan bermakna secara statistik jika nilai p < 0,05 dengan tingkat kepercayaan 95%. Kekuatan hubungan diukur menggunakan nilai Prevalence Odds Ratio (POR) dengan 95% confidence interval (CI). Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari komite etik penelitian Setiap responden diberikan penjelasan tentang tujuan, manfaat, dan . nformed consen. Prinsip kerahasiaan, kesukarelaan, dan anonimitas dijaga selama proses penelitian. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 Hasil Penelitian Analisa Univariat Karakteristik Responden Penelitian ini melibatkan 69 responden Anak Buah Kapal (ABK) kedatangan luar negeri di Pelabuhan Pangkalbalam yang telah memenuhi kriteria Tabel 1. Distribusi Frekuensi ABK Kedatangan Luar Negeri Berdasarkan Usia di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun Kategori Usia Frekuensi . Persentase (%) Dewasa Muda . -44 tahu. Dewasa Madya . -64 tahu. Lansia (Ou65 Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 1, karakteristik usia responden menunjukkan bahwa mayoritas berada pada rentang usia dewasa muda . -44 tahu. sebanyak 50 orang . ,5%), diikuti kategori usia dewasa madya . -64 tahu. sebanyak 16 orang . ,2%), dan paling sedikit pada kategori lansia (Ou65 tahu. sebanyak 3 orang . ,3%). Distribusi usia ini mengindikasikan bahwa ABK didominasi oleh kelompok usia produktif yang memiliki mobilitas tinggi dan aktif secara seksual, sehingga berpotensi lebih besar terpapar risiko penularan HIV. Tabel 2. Distribusi Frekuensi ABK Kedatangan Luar Negeri Berdasarkan Status Pernikahan di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Status Pernikahan Menikah Belum Menikah Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan pernikahan responden menunjukkan bahwa sebagian besar telah menikah yaitu 45 orang . ,2%), sedangkan yang belum menikah sebanyak 24 orang . ,8%). Status ISSN. pernikahan ini menjadi faktor penting karena ABK yang telah menikah namun terpisah jarak dan waktu dari pasangannya memiliki risiko melakukan perilaku seksual berisiko di luar hubungan pernikahan, yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap penularan HIV. Tabel 3. Distribusi Frekuensi ABK Kedatangan Luar Negeri Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Tingkat Pendidikan Frekuensi . Persentase (%) SMP SMA/SMK Perguruan Tinggi Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan 3, tingkat pendidikan responden didominasi oleh lulusan SMA/SMK sebanyak 45 orang . ,2%), diikuti lulusan SD sebanyak 11 orang . ,9%). SMP sebanyak 9 orang . ,0%), dan perguruan tinggi sebanyak 4 . ,8%). Tingkat menengah yang dominan menunjukkan bahwa sebagian besar ABK memiliki kemampuan literasi dasar yang memadai untuk memahami informasi kesehatan terkait HIV, meskipun masih diperlukan pendekatan edukasi yang disesuaikan dengan karakteristik kelompok ini. Variabel Penelitian Tabel 4. Distribusi Frekuensi ABK Kedatangan Luar Negeri Berdasarkan Pengetahuan HIV Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Kategori Pengetahuan Kurang Baik Total Frekuensi . Persentase (%) Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan pengukuran pengetahuan menunjukkan bahwa 35 responden . ,7%) memiliki HIV, sedangkan 34 responden . ,3%) memiliki pengetahuan baik. Proporsi yang hampir Hal: 116-127 Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Pencegahan Penularan Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada Anak Buah Kapal (ABK) Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 seimbang ini mengindikasikan masih adanya kesenjangan pemahaman ABK terhadap aspek-aspek penting HIV seperti konsekuensi kesehatan. Pengetahuan yang kurang dapat bersumber dari minimnya akses informasi kesehatan selama ABK berada di kapal maupun kurangnya paparan program edukasi HIV yang spesifik untuk populasi pelaut. Tabel 5. Distribusi Frekuensi ABK Kedatangan Luar Negeri Berdasarkan Sikap Terhadap HIV di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Kategori Sikap Negatif Frekuensi . Persentase (%) Positif Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 5, evaluasi sikap terhadap HIV menunjukkan bahwa 37 responden . ,6%) memiliki sikap negatif, sementara 32 responden . ,4%) memiliki sikap positif. Sikap negatif yang lebih dominan mencerminkan adanya stigma, miskonsepsi, atau ketidakpedulian terhadap bahaya HIV yang dapat mempengaruhi motivasi untuk melakukan tindakan Sikap negatif ini kemungkinan pengalaman pribadi yang terbatas, serta lingkungan kerja pelayaran. Tabel 6. Distribusi Frekuensi ABK Kedatangan Luar Negeri Berdasarkan Pencegahan HIV di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Kategori Frekuensi Persentase Pencegahan . (%) Kurang Baik Total Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 6, penilaian perilaku pencegahan HIV menunjukkan bahwa 36 responden . ,2%) melakukan pencegahan dengan baik, sedangkan 33 responden . ,8%) masih kurang dalam melakukan pencegahan. Meskipun lebih dari separuh responden telah melakukan pencegahan dengan baik, namun proporsi yang kurang masih cukup besar dan perlu menjadi perhatian mengingat ABK merupakan kelompok dengan mobilitas tinggi yang berpotensi sebagai jembatan penularan HIV antara kelompok berisiko tinggi dengan masyarakat umum. Analisa Bivariat Tabel 7. Hubungan Pengetahuan dengan Pencegahan HIV Pada ABK Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Pengetahuan Pencegahan HIV Total Kurang Kurang Baik Baik Total Value POR % CI) 0,022 3,538 ,3119,. Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 7, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dengan pencegahan HIV dengan nilai p sebesar 0,022 yang lebih kecil dari alpha 0,05, sehingga hipotesis nol ditolak dan hipotesis alternatif diterima. Nilai Prevalence Odds Ratio sebesar 3,538 dengan interval kepercayaan 95% . ,3119,. mengindikasikan bahwa ABK dengan pengetahuan baik memiliki peluang 3,5 kali lebih besar untuk melakukan Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 pencegahan HIV dengan baik dibandingkan ABK dengan pengetahuan kurang. Distribusi silang menunjukkan bahwa dari 35 responden dengan pengetahuan kurang, sebanyak 22 orang . ,9%) melakukan pencegahan kurang dan 13 orang . ,1%) melakukan pencegahan baik. Sebaliknya, dari 34 responden dengan pengetahuan baik, sebanyak 23 orang . ,6%) melakukan pencegahan baik dan 11 orang ISSN. ,4%) melakukan pencegahan kurang. Pola ini menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan berkontribusi positif terhadap perilaku pencegahan, meskipun masih terdapat responden dengan pengetahuan baik namun tidak melakukan pencegahan optimal, yang mengindikasikan adanya faktor lain seperti aksesibilitas alat pencegahan atau hambatan praktis selama bekerja di kapal. Tabel 8. Hubungan Sikap dengan Pencegahan HIV Pada ABK Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Sikap Negatif Positif Total Pencegahan HIV Kurang Total Baik P Value POR . % CI) 0,020 3,614 . ,330-9,. Sumber: Data Primer, 2024 Berdasarkan tabel 8, hubungan antara sikap dengan pencegahan HIV juga menunjukkan signifikansi statistik dengan nilai p sebesar 0,020 yang lebih kecil dari alpha 0,05, sehingga terdapat hubungan bermakna antara kedua variabel. Nilai Prevalence Odds Ratio sebesar 3,614 dengan interval kepercayaan 95% . ,3309,. menunjukkan bahwa ABK dengan sikap positif memiliki peluang 3,6 kali lebih besar untuk melakukan pencegahan HIV dengan baik dibandingkan ABK dengan sikap negatif. Dari 37 responden dengan sikap negatif, sebanyak 23 orang . ,2%) melakukan pencegahan kurang dan 14 orang . ,8%) melakukan pencegahan baik. Sementara dari 32 responden dengan sikap positif, sebanyak 22 orang . ,8%) melakukan pencegahan baik dan 10 orang . ,3%) melakukan pencegahan kurang. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa sikap memainkan peran krusial dalam membentuk perilaku pencegahan HIV, dimana sikap positif yang mencakup kesadaran akan risiko, keyakinan terhadap efektivitas pencegahan, dan motivasi untuk melindungi diri mendorong ABK untuk mengadopsi praktik pencegahan yang lebih konsisten. Kedua hasil analisis bivariat ini secara konsisten menunjukkan bahwa faktor kognitif berupa pengetahuan dan faktor afektif berupa sikap merupakan determinan penting dalam perilaku pencegahan HIV pada populasi ABK. Pembahasan Karakteristik Anak Buah Kapal Kedatangan Luar Negeri Pelabuhan Pangkalbalam Usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden ABK kedatangan luar negeri di Pelabuhan Pangkalbalam berada pada kategori usia dewasa muda . -44 tahu. sebanyak 50 responden . ,5%). Temuan ini sejalan dengan karakteristik demografis pekerja maritim secara global yang didominasi oleh kelompok usia produktif. Usia seseorang dalam menerima, memproses. Hurlock dalam (Listriyawati & Supangat, 2. mengemukakan bahwa seiring bertambahnya usia, daya tangkap dan pola berpikir seseorang pengetahuan yang diperoleh dapat diintegrasikan dengan lebih baik dalam perilaku sehari-hari. Namun demikian, dominasi usia produktif pada populasi ABK juga menghadirkan tantangan tersendiri karena kelompok usia ini Hal: 116-127 Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Pencegahan Penularan Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada Anak Buah Kapal (ABK) Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 cenderung memiliki aktivitas seksual yang lebih tinggi dan perilaku risk-taking yang lebih besar, terutama dalam konteks memisahkan mereka dari pasangan tetap dalam jangka waktu lama. Penelitian (Amalia & Maryamah, 2. di Pelabuhan Makassar menemukan bahwa ABK kecenderungan lebih tinggi untuk terlibat dalam perilaku seksual berisiko dibandingkan kelompok usia lebih tua, yang dapat dijelaskan oleh faktor biologis, dan kurangnya kesadaran akan konsekuensi jangka panjang. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya strategi komunikasi kesehatan yang psikologis usia dewasa muda, misalnya melalui penggunaan media digital, peer education, dan pendekatan yang lebih interaktif dibandingkan metode ceramah Status Pernikahan Sebagian besar responden dalam penelitian ini berstatus menikah . ,2%), namun proporsi yang belum menikah juga cukup signifikan . ,8%). Status modifikasi dalam Health Belief Model yang dapat mempengaruhi persepsi risiko dan perilaku pencegahan penyakit. Penelitian (Purba et al. , 2. menunjukkan bahwa ABK dengan status belum menikah dan duda memiliki prevalensi perilaku seksual berisiko yang lebih tinggi dibandingkan yang menikah. Namun, temuan menarik dalam penelitian (Yunida Turisna Octavia. SKM. Kep. Ns. , 2. justru menunjukkan bahwa ABK yang telah menikah juga tidak sepenuhnya terlindungi dari perilaku berisiko karena faktor separasi geografis dan temporal yang berkepanjangan menciptakan tekanan kebutuhan biologis yang tidak Fenomena ini mencerminkan kompleksitas dinamika perilaku seksual pada populasi dengan mobilitas tinggi, dimana status pernikahan tidak otomatis menjamin kesetiaan atau perilaku aman, terutama ketika akses terhadap pasangan resmi terbatas. (Teodhora, 2. yang menunjukkan 7,55% ABK melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti 11,32% menggunakan kondom saat berhubungan seksual berisiko memperkuat argumen bahwa intervensi pencegahan HIV pada populasi ABK tidak dapat hanya mengandalkan status pernikahan sebagai faktor protektif. Diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan realitas kehidupan ABK yang terpisah dari pasangan, termasuk penyediaan akses kondom yang mudah dijangkau di pelabuhan, konseling kesehatan reproduksi yang tidak menghakimi, dan penguatan komunikasi dengan pasangan di rumah melalui teknologi komunikasi. Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan responden didominasi oleh lulusan SMA/SMK . ,2%), diikuti tingkat pendidikan dasar SD dan SMP . ,9%), serta perguruan tinggi . ,8%). Pendidikan merupakan determinan penting dalam pembentukan mempengaruhi kemampuan literasi, akses terhadap informasi, dan kapasitas untuk memahami konsep kesehatan yang Dominasi ABK menunjukkan potensi yang baik untuk menerima edukasi kesehatan, namun penyesuaian materi dan metode penyampaian informasi yang sesuai dengan tingkat literasi kesehatan kelompok ini. Penelitian (Teodhora, 2. menemukan bahwa ABK dengan pengetahuan yang kurang tentang infeksi menular seksual dan cenderung memiliki sikap yang lebih fatalistik terhadap risiko Menariknya, (Yulistisia et al. , 2. menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tinggi tidak selalu berkorelasi linear dengan perilaku pencegahan yang baik, karena faktor lain struktural juga berperan signifikan. Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 Implikasi praktis dari karakteristik pendidikan ABK adalah perlunya diversifikasi strategi edukasi, mulai dari penggunaan media visual dan audio untuk ABK dengan pendidikan rendah, hingga penyediaan informasi berbasis bukti ilmiah yang lebih mendalam untuk ABK dengan pendidikan tinggi, serta kolaborasi dengan institusi pendidikan pelaut untuk mengintegrasikan materi kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV dalam kurikulum pelatihan prapelayaran. Hubungan Pengetahuan Terhadap Pencegahan Penyakit HIV Pada ABK Kedatangan Luar Negeri Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Hasil adanya hubungan signifikan antara pengetahuan dengan pencegahan HIV . =0,022. POR=3,538. 95% CI: 1,3119,. , yang mengindikasikan bahwa ABK dengan pengetahuan baik memiliki peluang 3,5 kali lebih besar untuk melakukan pencegahan dengan baik. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Dini Ma. Iballa et al. , 2. yang menyatakan bahwa pengetahuan yang komprehensif tentang HIV menciptakan kepercayaan diri dan pandangan hidup positif terhadap tindakan pencegahan. Pengetahuan berfungsi sebagai domain kognitif dalam model perubahan perilaku kesehatan, dimana pemahaman yang akurat tentang mekanisme penularan, faktor risiko, dan metode pencegahan HIV menjadi fondasi bagi pembentukan intensi dan implementasi perilaku protektif. Namun demikian, data menunjukkan bahwa 50,7% responden masih memiliki pengetahuan HIV, mencerminkan gap signifikan dalam akses dan efektivitas program edukasi kesehatan untuk populasi ABK. Perbandingan dengan penelitian (Belitung, 2. pada komunitas remaja menunjukkan hasil yang serupa dimana pengetahuan dan pencegahan HIV, namun dengan nilai POR yang lebih tinggi . , yang mengindikasikan bahwa efek pengetahuan terhadap ISSN. perilaku mungkin lebih kuat pada populasi yang memiliki akses edukasi lebih baik. Hal ini menggarisbawahi pentingnya tidak hanya meningkatkan kuantitas informasi yang disampaikan kepada ABK, tetapi juga kualitas dan relevansi konten edukasi dengan konteks kehidupan mereka. Penelitian Sualisman et al . menegaskan bahwa pengetahuan yang fragmentaris atau parsial justru dapat menciptakan false sense of security, dimana individu merasa telah memiliki pemahaman memadai padahal masih terdapat miskonsepsi krusial, misalnya tentang transmisi HIV melalui kontak kasual atau efektivitas metode pencegahan Temuan menarik dalam penelitian ini adalah adanya 11 responden . ,4%) dengan pengetahuan baik namun melakukan pencegahan kurang, yang mengindikasikan bahwa pengetahuan saja tidak cukup untuk menjamin Fenomena knowledge-practice gap ini telah penelitian kesehatan dan dapat dijelaskan oleh Theory of Planned Behavior yang menekankan peran perceived behavioral control dan subjective norms sebagai mediator antara pengetahuan dan perilaku aktual. Dalam konteks ABK, hambatan praktis seperti keterbatasan akses kondom di kapal, stigma sosial dalam komunitas pelaut, tekanan ekonomi untuk menerima pekerjaan dari kapal yang tidak menyediakan fasilitas kesehatan memadai, dan norma maskulinitas dalam budaya maritim yang mengasosiasikan kehati-hatian dengan kelemahan dapat menjadi barrier signifikan bagi implementasi perilaku pencegahan meskipun pengetahuan telah Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya intervensi multi-level yang tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan tetapi juga addressing structural barriers dan enabling factors. Strategi . Program VCT mobile yang rutin Hal: 116-127 Hubungan Pengetahuan dan Sikap terhadap Pencegahan Penularan Penyakit Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada Anak Buah Kapal (ABK) Kedatangan Luar Negeri di Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 dilakukan di pelabuhan dengan jadwal kedatangan kapal, . Penyediaan dispenser kondom gratis di area pelabuhan yang mudah diakses dan menjaga privasi, . Kolaborasi dengan mengintegrasikan kebijakan kesehatan reproduksi dalam standar operasional kapal, . Pelatihan peer educator dari kalangan ABK senior yang kredibel dan dapat menjadi role model, . Penggunaan teknologi informasi seperti aplikasi mobile atau WhatsApp group untuk menyebarkan informasi kesehatan dan reminder, serta . Kerjasama dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan untuk melakukan screening rutin dan konseling kesehatan yang bersifat suportif dan non-judgmental. Hubungan Sikap Terhadap Pencegahan Penyakit HIV Pada ABK Kedatangan Luar Negeri Pelabuhan Pangkalbalam Tahun 2024 Penelitian hubungan signifikan antara sikap dengan pencegahan HIV . =0,020. POR=3,614. 95% CI: 1,330-9,. , dimana ABK dengan sikap positif memiliki peluang 3,6 kali lebih besar untuk melakukan pencegahan dengan baik. Nilai POR yang sedikit lebih tinggi dibandingkan variabel pengetahuan mengindikasikan bahwa faktor afektif memiliki kontribusi yang setidaknya sama pentingnya, jika tidak lebih penting, dibandingkan faktor kognitif dalam memprediksi perilaku pencegahan HIV. Temuan ini konsisten dengan penelitian (Mariani et al. , 2. yang menunjukkan hubungan sangat kuat antara sikap dan pencegahan HIV pada remaja, memperkuat argumen bahwa sikap positif yang mencakup perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, dan perceived barriers merupakan prediktor kuat bagi adoption of preventive (Dini Ma. Iballa et al. , 2. menjelaskan bahwa sikap terbentuk melalui interaksi kompleks antara pengalaman pribadi, pengaruh orang signifikan, media massa, lembaga pendidikan, faktor emosional, dan konteks budaya. Dalam penelitian ini, 53,6% responden memiliki sikap negatif terhadap HIV, yang dapat dijelaskan oleh beberapa faktor kontekstual. Pertama, stigma yang masih kuat terhadap HIV/AIDS dalam masyarakat Indonesia menganggap penyakit ini hanya menyerang kelompok tertentu dan bukan risiko personal mereka. Kedua, budaya maskulinitas dalam komunitas pelaut yang mengagungkan keberanian dan risk-taking dapat menciptakan sikap Ketiga, kurangnya exposure terhadap ODHIV atau testimoni langsung membuat ancaman HIV terasa abstrak dan jauh dari realitas keseharian Perbandingan dengan penelitian (Mariani et al. , 2. tentang menunjukkan pola serupa dimana sikap memiliki peran determinan yang kuat terhadap perilaku pencegahan, namun dengan nilai korelasi yang lebih tinggi pada populasi perempuan. Hal ini mungkin terkait dengan perbedaan gender dalam health-seeking behavior dan kecenderungan perempuan untuk lebih proaktif dalam isu kesehatan. Pada populasi ABK yang didominasi laki-laki, konstruksi maskulinitas tradisional dapat menjadi hambatan tersendiri, dimana mencari informasi kesehatan atau melakukan pemeriksaan kesehatan preventif dianggap tidak sesuai dengan image maskulin yang tough dan selfreliant. Temuan yang perlu dicermati adalah adanya 10 responden . ,3%) dengan sikap positif namun melakukan mengindikasikan bahwa meskipun mendukung pencegahan, faktor eksternal seperti hambatan akses, biaya, atau tekanan sosial dapat menghambat translasi sikap menjadi tindakan. (Reynaldii Trisiswati, menjelaskan bahwa modal sosial dan dukungan komunitas merupakan Jurnal Penelitian Keperawatan Vol 12. Januari 2026 enabling factors yang krusial dalam mengaktivasi sikap menjadi perilaku Dalam konteks ABK, lemahnya jejaring sosial kesehatan di lingkungan kapal dan pelabuhan, serta minimnya kebijakan perusahaan yang mendukung perilaku pencegahan dapat menjadi penghambat signifikan. Implikasi praktis dari temuan ini adalah perlunya intervensi yang tidak hanya fokus pada pembentukan sikap individual tetapi juga transformasi norma sosial dan budaya dalam komunitas pelaut. Strategi konkret meliputi: . Kampanye de-stigmatisasi HIV melalui testimoni ODHIV yang tetap produktif dan berkualitas hidup, . Pendekatan masculinity transformation yang mendefinisikan ulang kejantanan tidak sebagai risk-taking tetapi sebagai tanggung jawab melindungi diri dan orang yang dicintai, . Pembentukan komunitas ABK peduli kesehatan yang dapat menjadi support group dan normalize health-seeking behavior, . Kolaborasi dengan tokoh berpengaruh dalam komunitas pelaut sebagai champion dan role model, . Penyediaan layanan konseling yang confidential dan culturally sensitive di pelabuhan, . Integrasi materi kesehatan reproduksi dalam ritual atau kegiatan rutin komunitas ABK, serta . Pengembangan kebijakan perusahaan perilaku kesehatan dan menjadikan pemeriksaan kesehatan rutin sebagai bagian dari standar keselamatan kerja maritim yang setara dengan safety training lainnya. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan analisis yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara pengetahuan dengan pencegahan HIV pada ABK kedatangan luar negeri di Pelabuhan Pangkalbalam tahun 2024 . =0,022. POR=3,. , dimana ABK dengan pengetahuan baik memiliki peluang 3,5 kali lebih besar untuk melakukan pencegahan dengan baik dibandingkan ABK dengan pengetahuan kurang. Selain ISSN. itu, terdapat hubungan signifikan antara sikap dengan pencegahan HIV . =0,020. POR=3,. , dimana ABK dengan sikap positif memiliki peluang 3,6 kali lebih besar untuk melakukan pencegahan dengan baik dibandingkan ABK dengan sikap negatif. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa faktor kognitif berupa pengetahuan dan faktor afektif berupa sikap merupakan determinan penting dalam membentuk perilaku pencegahan HIV pada populasi berisiko Namun demikian, masih terdapat ABK pengetahuan kurang . ,7%) dan sikap negatif . ,6%), yang mengindikasikan perlunya intensifikasi program edukasi kesehatan dan intervensi perubahan perilaku yang komprehensif. Rekomendasi strategis meliputi penguatan kolaborasi lintas sektor antara Balai Kekarantinaan Kesehatan. Dinas Kesehatan Pelabuhan, perusahaan pelayaran, dan organisasi ABK untuk VCT mobile reguler, penyediaan akses kondom gratis di area pelabuhan, pengembangan peer educator dari kalangan ABK senior, kampanye de-stigmatisasi HIV, serta integrasi materi kesehatan reproduksi dalam pelatihan pra-pelayaran dan refreshment course bagi ABK aktif, dengan pendekatan mempertimbangkan hambatan struktural yang dihadapi populasi dengan mobilitas tinggi ini. Daftar Pustaka