DARMA CENDEKIA e-ISSN 2963-167X Vol. No. Desember 2025, hlm. http://w. com/index. php/darmacendekia/index DOI: https://doi. org/10. 60012/dc. SOSIALISASI KESANTUNAN BERBAHASA DI LINGKUNGAN RW 007 SRENGSENG SAWAH. JAGAKARSA. JAKARTA SELATAN Bambang Sumadyo1*. Syahfitri Purnama2. Elisa Anandari3. Jatut Yoga Prameswari4 Universitas Indraprasta PGRI1,2,3,4 bambang0910@gmail. com1*, syahfitripurnama@gmail. com2, elisanandari45@gmail. yp@gmail. Kata Kunci: Berbahasa. Kesantunan Berbahasa. Anak Abstrak: Perkembangan Iptek memengaruhi cara berinteraksi di masyarakat. Penyimpangan bahasa membuat pola interaksi yang tidak selaras dengan kesantunan para penutur Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia juga memiliki nilai luhur yang berperan membentuk budaya sopan santun dalam interaksi keseharian masyarakat. Penggunaan bahasa Indonesia merepresentasikan tata krama dan budi pekerti yang menjadi identitas dalam bermasyarakat. Tujuan dalam hal ini merupakan penanaman kesadaran dalam pengoptimalan dan perbaikan kesadaran anak dalam menerapkan kesantunan berbahasa di lingkungan keluarga dan masyarakat. Metode ceramah dan edukasi langsung . irect learnin. melalui pemaparan konsep, pendekatan dari penerapan kesantunan berbahasa anak, praktek dalam penerapan kesantunan berbahasa dan pemanfaatan media dalam memupuk kesantunan berbahasa Hasil kegiatan ini yaitu: . Peran orang tua dalam pendidikan bahasa, . Memahami konsep kesantunan berbahasa di lingkungan masyarakat. Keyword: Language. Language Politeness. Children Abstract: The development of science and technology influences how people interact in society. Language deviations create interaction patterns that are not in line with the politeness of Indonesian speakers. Indonesian also has noble values that play a role in shaping a culture of politeness in everyday interactions in The use of Indonesian represents manners and morals that become an identity in society. The goal in this case is to instill awareness in optimizing and improving children's awareness in applying politeness in the family and community environment. Lecture methods and direct education . irect learnin. through the presentation of concepts, approaches from the application of politeness in children's language, practice in applying politeness in language and the use of media in fostering politeness in children's language. The results of this activity are: . The role of parents in language education, . Understanding the concept of politeness in language in the community environment. Diserahkan: 2-10-2025 Direvisi: 29-12-2025 Diterima: 29-12-2025 PENDAHULUAN Bahasa berkembang bersamaan dengan budaya yang ada di masyarakat tuturnya. (Hodidjah, 2. menyatakan hal serupa, yaitu bahasa sebagai tempat/wadah dan Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan refleksi kebudayaan di masyarakat sebagai pemiliknya, melalui bahasa kita dapat mengetahui seberapa tinggi tingkat kebudayaan suatu bangsa. Memiliki kedudukan yang sama tinggi, bahasa dan kebudayaan sangat melekat pada nilai luhur yang ada di dalam kehidupan sosial masyarakat (Almatu & Shakila, 2. Perkembangan bahasa itu sendiri pun dibarengi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni di Masyarakat tutur sangat aktif dalam memanfaatkan kemajuan ipteks yang (Student Corner, 2. perkembangan teknologi berperan sekali dalam membantu masyarakat di segala kalangan maupun warga negara asing untuk dapat mengembangkan keterampilan dan kemampuan bahasa Indonesia mereka serta mendapatkan penghasilan baik dengan membaca, menerjemahkan, sampai dengan pengembangan bahasa melalui menulis dan membaca sebuah karya dalam media. Sejalan dengan pernyataan sebelumnya, (Sutisno, 2. juga menyatakan hal yang serupa, yaitu masyarakat bisa mencari tahu apa saja tentang perkembangan bahasa Indonesia dengan adanya teknologi. Namun, sayangnya hal ini tidak diselaraskan dengan pengembangan diri Mengapa demikian? Hal ini terjadi karena ketidakselarasan antara kemampuan berbahasa dan Iptek dengan kemampuan pengguna dalam pemanfaatannya, akhirnya menjadikan Iptek tidak dimanfaatkan secara tepat guna dan optimal. Masyarakat awam sejauh ini masih memanfaatkan Iptek sebatas pada nilai hiburan saja. Pernyataan ini didukung oleh (Farmayana, 2. di mana kondisi bahasa Indonesia di era teknologi saat ini mengalami perubahan yang cukup drastis. Pemanfaatan jaringan komputer dan internet karena terbentuknya masyarakat cyber dapat mempercepat peminjaman kosakata dari bahasa asing, dan secara langsung berdampak terjadinya perubahan dalam pola penggunaan bahasa Indonesia dalam keseharian. Maka, dengan adanya pola perubahan ini lah memberikan sumbangsih dalam penyimpangan penggunaan bahasa Indonesia. Selain munculnya campur kode atau bahkan interferensi bahasa, nyatanya juga memengaruhi kesantunan berbahasa para penuturnya. Berdasarkan hal tersebut, pemanfaatan Iptek yang hanya sebatas hiburan saja dapat memengaruhi bahasa seseorang. Bahasa Indonesia juga memiliki nilai luhur yang berperan membentuk budaya sopan santun dalam interaksi keseharian masyarakat. Penggunaan Bahasa Indonesia merepresentasikan tata krama dan budi pekerti yang menjadi identitas dalam bermasyarakat. Dalam struktur sosial budaya memainkan peran pada penting diri seseorang dalam menentukan struktur perilaku linguistik karena pada dasarnya bahasa dipengaruhi oleh norma, nilai, dan aturan yang ada dalam suatu masyarakat yang merupakan produk dari interaksi sosial. Hal ini mengacu pada bagaimana kelompok dan individu dalam masyarakat diorganisasikan berdasarkan berbagai faktor, seperti usia, jenis kelamin, kelas sosial, etnis, agama, dan status ekonomi dalam struktur sosial. Faktor tersebut lah yang akan membentuk perilaku linguistik individu dan kelompok dalam berkomunikasi (Nasrullah, 2. Di kesempatan yang sama (Geertz, 1960 dalam (Nasrullah, 2. ) juga memberikan contoh dalam Bahasa Jawa dikenal dengan konsep unggah-ungguh atau tata krama, contohnya, yaitu berupa penyesuaian bahasa untuk menunjukkan rasa hormat, kesopanan, dan status sosial. Misal, bahasa krama inggil . ahasa tingkat tingg. , digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua atau status sosial lebih tinggi sebagai bentuk rasa menunjukkan penghormatan dan pengakuan terhadap posisi sosial mereka, sedangkan bahasa ngoko . ahasa tingkat renda. digunakan dalam konteks yang lebih akrab dan informal. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan Hal yang terjadi saat ini adalah khususnya anak-anak sudah tidak lagi memperhatikan penggunaan bahasa mereka. Khususnya saat berbicara dengan orang tua. Kebanyakan sekarang anak-anak berani menggunakan bahasa yang tidak santun atau kasar saat berkomunikasi dalam keseharian mereka termasuk saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Banyak faktor yang melatarbelakanginya, diantaranya adalah pengaruh dari media sosial ataupun lingkungan bermainnya, bahkan munculnya rasa bangga atau percaya diri dalam diri mereka ketika menggunakan bahasa yang cenderung tidak santun. Ketidaksantunan dalam menggunakan bahasa dapat berdampak pada pembentukan karakter anak yang pada akhirnya memunculkan perilaku tidak sopan. Contoh, anak di masa sekarang ini bila ditegur, mereka akan berani untuk menjawab bahkan sampai berteriak dengan menggunakan umpatan yang kasar, seperti bodo amat, ahA!, apaan sih, anjir, tau ah!, dan lain sebagainya. Situasi yang sama juga dirasakan oleh para orang tua di lingkungan RW. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Para orang tua merasa perlu untuk diadakan kegiatan sosialisasi dan edukasi yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Tujuan kegiatan ini dapat memberikan solusi dan alternatif lain dalam memunculkan sikap dan kesadaran anak pada kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi. Berdasarkan hal tersebut, pihak orang tua di lingkungan RW. 007 merasa kewalahan dan tidak menemukan solusi untuk mengoptimalkan dan memperbaiki masalah yang mereka alami. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Diharapkan dengan terlaksananya kegiatan ini akan memberikan solusi dan alternatif agar dapat membantu menyelesaikan masalah yang METODE Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini adalah metode ceramah yang dilakukan secara langsung dengan datang ke lingkungan RW 007 untuk memberikan sosialisasi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Metode ini dipilih karena efektif dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat dalam hal penjelasan dan pemberian contoh pentingnya sosialisasi mengenai kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Selain penggunaan metode ceramah, kami akan memberikan edukasi langsung . irect learnin. melalui pemaparan konsep, pendekatan dari penerapan kesantunan berbahasa anak, praktek dalam penerapan kesantunan berbahasa dan pemanfaatan media dalam memupuk kesantunan berbahasa anak. Mitra juga akan dilibatkan secara langsung dalam pengaplikasiannya. Observasi langsung. Observasi langsung, yakni tim abdimas observasi berkenaan tentang Sosialisasi materi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Tim penyuluh memberikan sosialisasi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan Evaluasi, yaitu melakukan proses evaluasi terhadap penerapan materi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Tahap 1 Observasi langsung ke wilayah Rw 007 Tahap 2 Menyusun informasi dan data yang Tahap 3 Menyiapkan Tahap 4 Berkoordinasi Tahap 5 Pelaksanaan Sosialisasi Kesantunan Berbahasa Di Lingkungan Rw. 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan Tahap 6 Evaluasi Diagram 1 Alur Pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat Dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, yaitu sosialisasi mengenai sosialisasi kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan menjadi 3 tahapan utama, yaitu. Tahap pertama, yaitu penjelasan secara umum tentang materi berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam berbahasa. Tahap kedua, yaitu pemberian materi secara teoretis tentang materi berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam berbahasa dengan metode ceramah yang dikombinasikan dengan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi. Tahap ketiga mengevaluasi implementasi materi berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam berbahasa yang belum optimal dilakukan peserta dan diberikan arahan, sehingga ke depannya kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007 ini berlangsung secara optimal. HASIL Tujuan dilaksanakannya sosialisasi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan ini adalah bentuk dari konsistensi ketua dan warga RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan dalam mengoptimalkan dan meningkatkan kesadaran pentingnya menumbuhkan dan menerapkan kesantunan berbahasa dalam berkomunikasi sehari-hari. Di awal kunjungan tim pengabdian kepada masyarakat (PkM) dan perangkat RW membicarakan terkait dengan tujuan, bahan yang akan disampaikan, menentukan hari pembinaan yang ditentukan oleh kedua belah pihak. Di mana pihak pertama adalah warga lingkungan Rw 007 dan pihak kedua adalah dosen Universitas Indraprasta PGRI. Selanjutnya penyampaian masalah yang disampaikan oleh ketua RW 007 terkait dengan kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007 saat berinteraksi sosial. Di pertemuan berikutnya, tim PkM menyampaikan tanggapan terkait dengan masalah yang dihadapi dengan menginformasikan tentang materi yang akan disampaikan, metode yang akan digunakan dalam kegiatan, dan adanya kegiatan diskusi dengan warga RW 007. Peserta dalam pengabdian kepada masyarakat dengan mitra RW 007 Srengseng Sawah Jagakarsa, yakni 30 masyarakat. Hasil pertemuan dengan pihak pemangku Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan wilayah, yaitu Ketua RW 007 dan peserta kegiatan ini didapatkan sebuah permasalahan. Permasalahan yang didapat, yakni kurangnya kesantunan berbahasa ketika terjadinya interaksi di keluarga dan ruang bermain anak remaja dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan IPTEK dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah dengan memberikan sosialisasi tentang edukasi yang berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Materi yang digunakan dalam pelatihan ini adalah materi yang berkaitan dengan berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam Melakukan presentasi mengenai berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam berbahasa. Mendeskripsikan materi yang hendak disampaikan melalui metode ceramah yang dikombinasikan dengan diskusi. Memberikan contoh atau mengilustrasikan bentuk materi berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam berbahasa. Membimbing dan mendampingi peserta sosialisasi dalam penerapan berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam Memberikan contoh berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam berbahasa Memberikan evaluasi terkait berbahasa, kesantunan berbahasa, contoh dari bentuk negatif dan positif kesantunan dalam berbahasa di lingkungan RW 007. Mitra dalam sosialisasi ini memberikan partisipasi, yaitu: Memberikan informasi kesulitan yang dialami mengenai kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Menyiapkan tempat untuk berkumpul orang tua dan anak . serta tim Hasil yang dicapai dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan materi sosialisasi kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan adalah kami memeroleh solusi atas masalah yang terjadi pada mitra dan mitra menerima dengan baik solusi yang telah kami berikan. Solusi tersebut, yaitu: Sosialisasi materi kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Pembahasan materi terkait dengan masalah mitra serta memberikan contoh kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Langkah-Langkah Kegiatan Observasi langsung. Observasi langsung, yakni tim abdimas observasi berkenaan tentang Sosialisasi materi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Tim penyuluh memberikan sosialisasi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Evaluasi, yaitu melakukan proses evaluasi terhadap penerapan materi dan edukasi berkaitan dengan kesantunan berbahasa anak di wilayah RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan Pada kegiatan ini dilakukan sesi diskusi oleh tim abdimas dan para peserta dalam kegiatan sosialisasi kesantunan berbahasa di lingkup RW 007 dalam suatu keluarga, dimana hal ini mengingatkan kembali dan menempatkan peran orang tua yang harus selalu menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari dalam berbahasa bagi anak, tidak jarang kecerdasan anak dalam berbahasa dan lunturnya budaya sopan santun dikarenakan gaya interaksi yang sudah mulai berubah tiap generasinya dan adanya faktor kemajuan alat komunikasi dan media sosial yang dimana anak juga lebih banyak berinteraksi dan belajar berbahasa dari apa yang mereka lihat di media sosial dan merebut peran orang tua secara tidak langsung dalam hal mendidik kesantunan berbahasa, khususnya di lingkungan RW 007. Sosialiasi inilah, memberikan strategi dalam interaksi dan berbahasa yang santun sesuai dengan budaya Indonesia dalam kesantunan berbahasa. PEMBAHASAN Keluarga merupakan tempat pertama pendidikan bahasa bagi anak dalam menempatkan keluarga sebagai tolok utama mengajarkan kesantunan dalam berinteraksi di lingkungan. Keluarga merupakan unit sosial terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari orang terikat oleh perkawinan, hubungan darah, atau adopsi dan tinggal bersama dalam satu rumah tangga. Kaakinen. Coehlo. Steele, & Gambar 1 Teori Grice Kesantunan Berbahasa Robinson, 2018. Smith & Hamon, 2017 (Pranowo, 2. alam (Fatmasari et al. , 2. Hal itu lebih lanjut dijelaskan bahwa keluarga adalah mereka yang saling berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dalam peran sosial keluarga, seperti suami dan istri, ayah dan ibu, anak laki-laki dan anak perempuan, saudara kandung, serta menciptakan dan mempertahankan budaya bersama. Galvin. Braithwaite, & Bylund, 2018 . alam (Nuroniyah, 2. Keluarga merupakan tempat pertama bagi individu untuk belajar dan mengembangkan nilai, keyakinan, sikap, dan perilaku. (Dai & Wang, 2015. Walsh, 2016 dalam (Kuanca & Helsa, 2. Sulitnya dalam pengajaran kesantunan di dalam lingkup masyarakat khususnya RW 007, terletak padanya pergaulan yang luas dan luwes, namun meninggalkan etika budaya sopan santun. Anak sulit dalam membedakan penggunaan kosa kata yang formal dan informal ketika berkomunikasi antar penutur. Tidak jarang juga, hal ini dipengaruhi oleh semakin maraknya tayangan dari media sosial yang menampilkan bahasa-bahasa pergaulan yang tampak dianggap AutrenAy namun menghilangkan budaya dalam kesantunan bahasa. Bahasa sendiri dalam hal ini seperti yang disampaikan oleh berfungsi sebagai penghubung yang memungkinkan anggota masyarakat berbagi pengalaman, menyampaikan ide, dan menciptakan rasa (Purba et al. , 2. Bahasa mengungkapkan bahwa kemampuan komunikatif meliputi kemampuan bahasa yang dimiliki oleh penutur beserta keterampilan mengungkapkan bahasa tersebut sesuai dengan fungsi dan situasi serta norma pemakaian dalam konteks sosialnya (Dell Hymes, dalam (Puspasari, 2. Namun, dalam interaksi khususnya di RW 007 anak cenderung Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan menggunakan bahasa prokem seperti AogueAo. AoluAo. AoanjirAo, dan AosialanAo. Hal lainnya di lingkungan keluarga berbicara dengan nada tinggi, memerintah tanpa mengucap tolong, dan kalimat yang mereka tiru dari apa yang dia lihat di medis sosial ketika berinteraksi dan hal ini yang tanpa sadar jauh dari kata santun dalam berbahasa. Kesantunan berbahasa yang kita dapat pahami sebagaimana yang disampaikan oleh Zamzani, dkk. alam (Pamungkas, 2. ) merupakan perilaku yang diekspresikan dengan cara yang baik atau beretika. Kesantunan berbahasa merupakan fenomena kultural, sehingga apa yang dianggap santun oleh suatu kultur mungkin tidak demikian halnya dengan kultur yang lain. Tujuan kesantunan berbahasa pada dasarnya adalah membuat suasana berinteraksi menjadi menyenangkan, tidak mengancam muka orang lain, efektif, sehingga pesan dapat tersampaikan dengan baik tanpa ada pihak yang merasa tersakiti. Pada kesempatan sosialisasi kesantunan bahasa ini, tim abdimas mengingatkan kembali tentang bagaimana teori Grice mengenai kesantunan dalam pemakaian bahasa dan teori Brown dan Levinson, 1987 . alam (Kuntarto, 2. ) tentang konsep AumukaAy . , yang didefinisikan sebagai gambaran diri seorang penutur yang dimiliki dan harus dipedomani oleh setiap individu dewasa yang rasional ketika dia berinteraksi dalam pertuturan. Konsep AumukaAy mencakup dua aspek yang saling berhubungan, yaitu muka positif dan muka negatif. Muka positif merupakan keinginan semua penutur agar wajah mereka disenangi lawan bicara. Sedangkan muka negatif merupakan keinginan semua penutur agar tindakan mereka tidak dihambat oleh lawan Kegiatan ini lebih lanjut menjelaskan teori Brown dan Levinson, 1987 (Brown & Levinson, 1. serta implementasinya di lingkup masyarakat dalam bertindak tutur yang berpotensi mengancam muka atau facethreatening acts (FTA. Jika seorang penutur harus melakukan sebuah FTA, dia harus menentukan bagaimana hal itu harus Pilihan pertama yang harus Gambar 2 Teori Brown dan Levinson diambil adalah apakah FTA itu harus Kesantunan Berbahasa dan Implementasinya dilakukan secara langsung . n recor. atau (Brown & Levinson, 1. tak langsung . ff recor. yang di mana hal ini di faktori oleh variabel sosial yang memengaruhi tingkat kesantunan antara penutur dan mitra tutur: tingkat kekuasaan relatif penutur terhadap mitra tutur atau AopowerAo (P), jarak sosial penutur dengan mitra tutur atau Aosocial distanceAo (D), and tingkat keabsolutan imposisi sebuah pertuturan (R). Adapun materi yang dibagikan sebagai berikut: Implementasi dalam kesantunan berbahasa yang disampaikan dalam kegiatan ini. Adab Berbicara Berbicara dengan lembut Berbicara dengan menatap lawan bicara Berbicara dengan memilih diksi/ kata yang santun Tidak memotong pembicaraan orang lain Ucapkan tolong, jika butuh bantuan Ucapkan terima kasih, jika sudah dibantu Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan Ucapkan maaf, ketika berbuat salah Ucapkan permisi, jika melewati orang lain Selain itu, dengan konsistensi dalam penerapan empat kata ajaib yang selalu digunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu kata tolong, maaf, terima kasih, dan Empat kata ini harus menjadi pembiasaan dalam percakapan keseharian warga di lingkungan RW 007 agar semakin terciptanya lingkungan warga yang santun dalam berbahasa. Pada kegiatan ini dilakukan sesi oleh tim abdimas dan para peserta Gambar 3 Contoh Penerapan Empat Kata Ajaib dalam kegiatan sosialisasi kesantunan sebagai Wujud Kesantunan Berbahasa berbahasa di lingkup RW 007 dalam suatu keluarga, dimana hal ini mengingatkan kembali dan menempatkan peran orang tua yang harus selalu menjadi contoh dalam kehidupan sehari-hari dalam berbahasa bagi anak, tidak jarang kecerdasan anak dalam berbahasa dan lunturnya budaya sopan santun dikarenakan gaya interaksi yang sudah mulai berubah tiap generasinya dan adanya faktor kemajuan alat komunikasi dan media sosial yang dimana anak juga lebih banyak berinteraksi dan belajar berbahasa dari apa yang mereka lihat di media sosial dan merebut peran orang tua secara tidak langsung dalam hal mendidik kesantunan berbahasa, khususnya di lingkungan RW 007. Sosialisasi ini lah, memberikan strategi dalam interaksi dan berbahasa yang santun sesuai dengan budaya Indonesia dalam kesantunan berbahasa. Hasil yang dicapai dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dengan materi sosialisasi kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan adalah kami memeroleh solusi atas masalah yang terjadi pada mitra dan mitra menerima dengan baik solusi yang telah kami berikan. Solusi tersebut, yaitu: Sosialisasi materi kesantunan berbahasa di lingkungan RW 007. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan dan peran orang tua dalam kesantunan berbahasa. Pembahasan materi terkait dengan masalah mitra serta memberikan contoh kesantunan berbahasa di lingkungan RW Gambar 4 Dokumentasi Kegiatan PkM Bersama Peserta PkM. Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 4 No. 2 Desember 2025 hlm. Bambang Sumadyo. Syahfitri Purnama. Elisa Anandari. Jatut Yoga Prameswari Sosialisasi Kesantunan Berbahasa di Lingkungan RW 007 Srengseng Sawah. Jagakarsa. Jakarta Selatan SIMPULAN Kesantunan berbahasa merupakan bagian penting dalam berkomunikasi terutama dalam Kekhawatiran orang tua selaku warga di lingkungan RW 007 mendorong perangkat RW 007 untuk mencari solusi atas permasalahan yang ada. Di mana kesantunan berbahasa ini berkaitan erat dengan interaksi sosial. Hal ini pun dikhawatirkan dapat menimbulkan kesalahpahaman dalam berinteraksi sosial dan mengakibatkan adanya keributan. Untuk itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat perlu dilakukan dalam peningkatan kesantunan berbahasa khususnya di lingkup masyarakat. Kesantunan berbahasa sebagai langkah awal dalam penanaman nilai santun dalam menjalani interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya pada kegiatan berbicara, bertukar pikiran, menyampaikan ide gagasan, dan interaksi berbahasa pada siapapun dan Memahami pentingnya menerapkan kesantunan, bahwa budaya dalam berinteraksi dan bagaimana seseorang dapat dilihat sebagai insan yang memiliki pekerti ketika berkomunikasi merupakan kewajiban semua orang dalam menjaganya. Hal ini penting diterapkan selain menjaga kesantunan, hal ini merupakan warisan budaya masyarakat Indonesia yang mementingkan nilai dalam meningkatkan derajat orang lain sehingga merasa saling menghargai satu sama lain ketika berinteraksi pada siapa pun dan dimana pun. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada mitra kegiatan pengabdian kepada masyarakat yakni: RW 07 Srengseng Sawah. Jagakarsa, tim dosen yang terlibat dan Universitas Indraprasta PGRI yang mendukung kegiatan ini sehingga berjalan dengan lancar. REFERENSI