PENERAPAN MENGUNYAH PERMEN KARET XYLITOL TERHADAP RASA HAUS PADA PASIEN CKD YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT PELNI Abstrak STUDI KASUS Dewi Pertiwi M Luthfi Adillah2* Marina Ruran3 1Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 2Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia 3Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Program Studi Diploma Tiga Keperawatan. Akademi Keperawatan Pelni. Jakarta. Indonesia *Korespondensi: M Luthfi Adillah email: luthfi. adillah@akper-pelni. Latar Belakang: Chronic Kidney Disease (CKD) dikenal sebagai suatu kondisi di mana fungsi ginjal tidak dapat mengeluarkan racun dan limbah tubuh sebagaimana mestinya. Salah satu metode yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien CKD adalah dengan terapi hemodialisis. Pasien CKD yang menjalani hemodialisis sering mengalami beberapa komplikasi salah satunya seperti rasa haus yang berlebihan yang mengakibatkan pasien sulit untuk membatasi asupan cairan, yang dapat mengakibatkan edema pada kaki, tangan, paru-paru, dan asites. Salah satu terapi keperawatan untuk mengurangi rasa haus adalah dengan mengunyah permen karet yang mengandung xylitol. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak mengunyah permen karet terhadap rasa haus pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis. Metode: Desain penelitian ini adalah studi kasus dengan populasi pasien hemodialisis di Rumah Sakit Pelni Jakarta, di mana sampel yang diteliti terdiri dari 3 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner TDS sebelum intervensi mengunyah permen karet. Penelitian ini dilaksanakan 3 kali sehari dengan waktu 10 menit selama 6 hari dan di observasi tiga kali. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, rata-rata skor rasa haus pada ketiga responden adalah 26, sedangkan setelah intervensi, rata-rata skor menurun menjadi 8. Kesimpulan: bahwa mengunyah permen karet efektif dalam mengurangi tingkat haus pada pasien CKD yang menjalani Intervensi ini sangat bermanfaat dan dapat menjadi salah satu pilihan terapeutik bagi perawat dalam mengatasi rasa haus pada pasien Kata Kunci: Gagal Ginjal Kronik Mengunyah Permen Karet Rasa Haus Diterima: 03 Juli 2025 Diperbaiki: 17 Juli 2025 Dipublikasikan: 31 Juli 2025 E-ISSN Sitasi artikel ini: Pertiwi. Adillah. , & Ruran. Penerapan Mengunyah Permen Karet Xylitol Terhadap Rasa Haus Pada Pasien CKD Yang Menjalani Hemodialisis Di Rumah Sakit Pelni. Volume 2 . , 34-43. https://journal. id/index. php/jkpp PENDAHULUAN Penyakit ginjal kronis atau biasa disebut Chronic Kidney Disease (CKD) merupakan penyakit ginjal yang tidak mampu mengeluarkan racun dan produk limbah di dalam tubuh (Maedasari et. al, 2. Manifestasi klinis yang paling umum muncul pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis ini ditandai dengan perubahan volume dan intensitas BAK, udem pada kaki dan tangan, tekanan darah tinggi, peningkatan ureum kreatinin dalam darah dan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) dibawah 15 mL/menit/1,73 m2 selama melebihi tiga bulan (Hasanah et. al, 2. Jurnal Keperawatan Degeneratif. Volume 1. Issue 2. Juli 2025 Pertiwi. Adillah. , & Ruran. e-ISSN: 3089-34337 Hemodialisis (HD) merupakan suatu tindakan yang melibatkan pengeluaran darah dari tubuh pasien dan dilanjutkan dengan proses filtrasi zat-zat sisa melalui sebuah mesin eksternal yang di sebut dializer (Karimah & Hartanti, 2. Berdasarkan laporan WHO tahun 2018, jumlah pasien CKD yang melakukan hemodialisis diperhitungkan mencapai 1,5 juta penduduk dunia. Tingkat kejadian juga diperhitungkan bertambah sebesar 8% per tahun. Sementara itu, berdasarkan penelitian RISKESDAS tahun 2018 terdapat lonjakan jumlah pasien CKD yang menjalani hemodialisis dari tahun 2013 sampai tahun 2018 sebesar 2% berubah menjadi 3,8%, atau sekitar 713. 783 pasien pada tahun 2018. Pada pasien CKD yang menjalani hemodialisis ini akan mengalami haus. Sekitar 68 hingga 86% pasien hemodialisis mengalami mulut kering atau rasa haus, yang dapat memengaruhi kualitas hidup pasien dan menyebabkan ketidaknyamanan (Chen et. al, 2. Haus merupakan keluhan yang biasa dialami oleh pasien yang sedang menjalani hemodialisis (Sodik & Thalib, 2. Respon kehausan yang kurang dirasakan sering kali terjadi karena penurunan kemampuan nefron dalam menyimpan air sebagai respon terhadap Antideuretik Hormon (ADH) meskipun kadar hormon antideuretik normal atau meningkat, serta peningkatan kadar ANP. Terdapat kecenderungan terhadap penyakit jantung, ginjal, dan penggunaan regimen obat ganda yang dapat meningkatkan risiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit secara signifikan (Hasibuan, 2. Pasien CKD apabila tidak membatasi asupan cairan, maka akan terakumulasi dan mengakibatkan terjadinya edema pada kaki, tangan, paru, dan acites. Naik turunnya asupan cairan juga dipengaruhi oleh peningkatan kadar natrium. Kondisi ini dapat dipicu oleh peningkatan produksi renin. Renin akan merangsang produksi angiotensin, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kadar aldosteron dalam darah. Aldosteron adalah hormon yang dihasilkan oleh ginjal dan dapat meningkatkan kapasitas darah dengan menekan natrium dan air, kedua hal tersebut yang akan meningkatkan tekanan darah, menghambat kerja jantung, dan menyebabkan pasien mengalami sesak napas (Harsismanto et. al, 2. Ada beberapa strategi cara memanajemen rasa haus pada pasien yang menjalani hemodialisis, salah satunya yaitu mengunyah permen karet xylitol. (Novitasari, 2. Mengunyah permen karet akan menstimulasi kelenjar saliva sehingga membuat air liur menjadi lebih Peneliti menelusuri permen karet yang memuat bahan xylitol adalah hal yang aman untuk diberikan pada pasien yang menjalani hemodialisis. Xylitol mempunyai rasa yang manis dibanding gula lain, seperti Kadar kalori xylitol dalam jumlah gram 40% setara dengan 2,4 kkal, bila diukur dengan gula lain seperti gula pasir yang mempunyai 4 kkal/gr dan xylitol akan membuat mulut dingin karena pelarutannya sepuluh kali lebih negatif daripada sukrosa saat dilarutkan. (Zuliani, 2. Penelitian Rantepadang . mengenai mengunyah permen karet terhadap rasa haus pada pasien yang melakukan hemodialisis menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan pada rasa haus. peneliti melakukan JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Pertiwi. Adillah. , & Ruran. e-ISSN: 3089-34337 pada pasien CKD yang menjalani hemodialis selama kurang lebih 10 menit dengan perhitungan 3 kali sehari selama dua minggu. Riset tambahan dari ratih maedasari juga menunjukkan adanya efek mengunyah permen karet xylitol terhadap menurunnya rasa haus pada pasien CKD yang melakukan terapi cuci darah dirumah sakit Sentra Medika Cibinong (Maedasari et. al, 2. Berdasarkan pengalaman penulis selama praktik di Rumah Sakit Pelni di Ruang Hemodialisa yang mengalami haus dan mengatakan belum mengetahui bagaimana cara menurunkan rasa haus dengan mengunyah peremn karet. Sehingga hal tersebut membuat penulis tertarik untuk menerapkan mengunyah permen karet xylitol terhadap rasa haus pada pasien ckd yang menjalani hemodialisis. METODE Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data berdasarkan wawancara dan observasi. Populasi penelitian ini adalah pasien hemodialisa di Rumah Sakit Pelni Jakarta. Sampel yang diambil sebanyak 3 responden penelitian. Teknik pengambilan sampel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria Inklusi : pasien CKD yang menjalani hemodialisis lebih dari 6 bulan, pasien CKD dengan skor tingkat haus lebih dari 6. Pasien CKD Stage 5. Usia pasien lebih dari 18 tahun baik pria maupun wanita, pasien dengan kesadaran composmentis, pasien dengan hemodinamik yang stabil, pasien yang tidak memiliki alergi terhadap permen karet yang mengandung xylitol, pasien yang bersedia mengunyah permen karet selama 10 menit. Kriteria Eksklusi : pasien yang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, jantung iskemik, dan autoimun, pasien yang memiliki gangguan mengunyah di rongga mulut, pasien yang tidak memiliki gigi. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Pelni Jakarta. Penelitian dilaksanakan selama 6 hari dengan 3 kali pertemuan. Mulai dilakukan pada tanggal 17 juli sampai 25 juli 2024. Waktu intervensi mengunyah permen karet sebanyak 3 kali sehari selama 10 menit. Variabel ini terdiri yaitu variable independent yaitu mengunyah permen karet xylitol dan variable dependen yaitu rasa haus. Instrument yang digunakan adalah Thrist Distress Scale (TDS). Prosedur pelaksanaan penelitian dimulai dari menjelaskan Tujuan penelitian, mengisi lembar pengkajian/observasi tingkat atau rasa haus dengan TDS, melakukan pengukuran berat badan, dan melakukan pengukuran TTV, melakukan intervensi sebanyak 3 kali selama 10 menit, setelah dilakukan intervensi dilakukan observasi minum. Teknik mengunyah ini dilakukan sesuai SOP pada ketiga responden dengan 3 kali Data dalam penelitian ini disajikan secara deskriptif, kemudian dibuat dalam bentuk grafik dan Penelitian ini mempertimbangkan dan menghormati prinsip-prinsip etik keperawatan dan telah dilakukan uji etik, dibuktikan dengan surat lolos uji etik dengan nomor surat: 020/UPPM-ETIK/VI/2024. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Pertiwi. Adillah. , & Ruran. e-ISSN: 3089-34337 HASIL Penelitian studi kasus ini dilakukan pada 3 responden dengan karakteristik sebagai berikut Tabel 1. Karakteristik responden Usia Pendidikan SMK Pekerjaan IRT 3 Thn Karyawan 1 Thn Swasta IRT 6 Thn Sumber: Data Primer . Stage 5(GFR:. 5(GFR:. 5(GFR:. Berdasarkan tabel menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini berusia diantara 36 hingga 42 Berdasarkan jenis kelamin, ditemukan bahwa mayoritas responden dalam penelitian adalah perempuan dengan jumlah 2 orang dan 1 orang laki-laki. Adapun dalam hal pendidikan 2 responden merupakan lulusan Sarjana dan 1 responden lainnya lulusan SMK. Mengenai pekerjaan, kedua responden perempuan bekerja sebagai Ibu Rumah Tangga sedangkan 1 responden laki-laki bekerja sebagai Karyawan Swasta. Berdasarkan stadium ketiga responden berada pada akhir yaitu stadium 5 yang mengharuskan ketiga responden menjalani terapi hemodialisis dan dari ketiga responden sama-sama mengalami keluhan haus. Kondisi Sebelum Diberikan Permen Karet Xylitol 1 Responden I Responden mengatakan dilakukan hemodialisis karena pola hidup yang tidak sehat sehingga mengalami hipertensi yang tidak terkontrol dan menyebabkan responden mengalami CKD. CKD yang sudah dialaminya sejak tanggal 9 februari 2021. Responden terlihat cukup tenang, responden mengatakan tidak mampu membatasi minum sesuai anjuran dokter yaitu 600-800cc, responden juga mengatakan kebiasaan minum setiap harinya sekitar 1400cc sehari. Responden mengatakan akan banyak minum jika mulut terasa kering terkadang kaki responden mengalami pembengkakan. Responden rutin mengonsumsi obat : Amplodipine. Vitamin B12. Candesartan, dan Klonidine. Hasil Pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah 157/54 mmHg. Nadi 90x/menit. Pernapasan 20x/menit. Suhu 360C. Capillary Refill Test > 3 detik dan terdapat udem dikaki grade 2 sepanjang 4mm. Skor TDS : 28 dengan kategori haus : berat. 2 Responden II Responden mengatakan dilakukan hemodialisis karena hipertensi yang tidak terkontrol sehingga menyebabkan responden mengalami CKD. CKD yang sudah dialaminya sejak tanggal 26 april 2023. Responden terlihat tenang, responden mengatakan tidak mampu membatasi minum sesuai anjuran dokter yaitu 600-800cc, responden juga mengatakan kebiasaan minum setiap harinya sekitar 1500cc. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Pertiwi. Adillah. , & Ruran. e-ISSN: 3089-34337 Responden mengatakan banyak minum terbiasa dilakukan sejak terapi hemodialisis. Responden rutin mengonsumsi obat : Bicnat. Vitamin B12. Candesartan. CaCO dan Klonidine. Hasil Pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah 122/55 mmHg. Nadi 96x/menit. Pernapasan 19x/menit. Suhu 36,60C. Capillary Refill Test > 2 detik dan terdapat udem dikaki grade 3 sepanjang 6 mm. Skor TDS : 24 dengan kategori haus : berat. 3 Responden i Responden mengatakan dilakukan hemodialisis karena hipertensi yang tidak terkontrol sehingga menyebabkan responden mengalami CKD. CKD yang sudah dialaminya sejak tahun 2018 lalu . Responden terlihat cukup tenang, responden mengatakan tidak mampu membatasi minum sesuai anjuran dokter yaitu 600-800cc, responden juga mengatakan kebiasaan minum setiap harinya sekitar Responden mengatakan banyak minum ketika melakukan aktivitas biasa sehingga terkadang terasa sesak. Responden rutin mengonsumsi obat : Domperidon. ISDN. Amplodipine. CaCO dan Klonidine. Hasil Pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah 143/88 mmHg. Nadi 70x/menit. Pernapasan 20x/menit. Suhu 360C. Capillary Refill Test < 2 detik dan tidak terdapat udem. Skor TDS : 26 dengan kategori haus : berat. Kondisi Sesudah Diberikan Permen Karet Xylitol 1 Responden I Sebelum dilakukan intervensi, responden I mengeluh kaki selalu bengkak dan selalu merasa haus dan mulut terasa kering, didapatkan hasil skor TDS 28. Kenaikan berat badan 2,8 Kg dan kebiasaan minum sebanyak 1400cc. Setelah dilakukan intervensi selama 6 hari keluhannya dapat teratasi serta didapatkan hasil skor TDS 7, kenaikan berat badan 1,8 Kg dan kebiasaan minum menjadi 600-800cc. 2 Responden II Sebelum dilakukan intervensi, responden II mengeluh sesak dan selalu merasa haus dan mulut terasa kering, didapatkan hasil skor TDS 24. Kenaikan berat badan 3,5 Kg dan kebiasaan minum sebanyak 1500cc. Setelah dilakukan intervensi selama 6 hari keluhannya dapat teratasi serta didapatkan hasil skor TDS 10, kenaikan berat badan 3,3 Kg dan kebiasaan minum menjadi 600-800cc. 3 Responden i Sebelum dilakukan intervensi, responden II mengeluh kaki selalu bengkak, sesak dan mulut terasa kering, didapatkan hasil skor TDS 26. Kenaikan berat badan 4 Kg dan kebiasaan minum sebanyak Setelah dilakukan intervensi selama 6 hari keluhannya dapat teratasi serta didapatkan hasil skor TDS 7, kenaikan berat badan 3,2 Kg dan kebiasaan minum menjadi 600-800cc. Perbandingan Sebelum dan Sesudah diberikan permen karet xylitol JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Pertiwi. Adillah. , & Ruran. e-ISSN: 3089-34337 Skor TDS Responden Pre Observasi Responden 1 Post Responden 2 Responden 3 Gambar 1. Skor TDS Responden Sumber: Data Primer . Berdasarkan grafik, terlihat adanya perubahan skor TDS pada ketiga responden dari sebelum intervensi sampai setelah intervensi. Pada hari pertama sebelum hemodialisis menunjukkan hasil yang sama yaitu berada di rentang skor 22-30 yang artinya ketiga responden berada di tingkat haus berat. Kemudian dilakukan pengukuran tingkat haus pada hari ketiga hemodialisis setelah menyelesaikan intervensi selama 6 hari pada ketiga responden didapatkan hasil yang sama yaitu berada di rentang skor 7-10 yang artinya ketiga responden berada di tingkat haus ringan. Selama 6 hari didapatkan adanya penurunan tingkat haus setelah dilakukan intervensi mengunyah permen karet xylitol. Gambar 2. Kenaikan berat badan responden Sumber: Data Primer . Berdasarkan grafik, terlihat adanya penurunan pada kenaikan berat badan pada setiap responden. Pada hari pertama pada responden I terlihat bahwa kenaikan berat badan sebelum intervensi sebesar 2,8 Kg. Kemudian setelah dilakukan intervensi selama 6 hari dilakukan pengecekan kembali kenaikan berat badan didapatkan hasil bahwa kenaikan berat badan sebesar 1,8 Kg. JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Pertiwi. Adillah. , & Ruran. e-ISSN: 3089-34337 Pada hari pertama responden II terlihat bahwa kenaikan berat badan sebelum dilakukan intervensi sebesar 3,5 Kg. Kemudian setelah dilakukan intervensi selama 6 hari dilakukan pengecekan kembali kenaikan berat badan didapatkan hasil bahwa kenaikan berat badan sebesar 3,3 Kg. Pada hari pertama responden i terlihat bahwa kenaikan berat badan sebelum dilakukan intervensi sebesar 4 Kg. Kemudian setelah dilakukan intervensi selama 6 hari dilakukan pengecekan kembali kenaikan berat badan didapatkan hasil bahwa kenaikan berat badan sebesar 3,2 Kg PEMBAHASAN Usia Chronic Kidney Disease atau Penyakit Ginjal Kronis dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah usia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, rata-rata usia responden berada pada rentang 36-42 tahun, yang merupakan fase dewasa akhir. Usia ini berperan sebagai faktor risiko dalam perkembangan CKD Penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati & Marfianti . menunjukkan bahwa penurunan fungsi ginjal mulai terjadi pada individu berusia di atas 26 tahun, yang berkaitan dengan sindrom metabolik seperti hipertensi dan diabetes melitus. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama terjadinya CKD. Jenis kelamin Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah perempuan yaitu perempuan 2 responden dan 1 responden laki-laki hal ini tidak sejalan dengan penelitian Abyuta Wiksa Pranandhira et. jenis kelamin pria menjadi salah satu faktor resiko terjadinya suatu penyakit begitu pula pada CKD bahwa pria lebih beresiko mengalami penyakit ini karena secara klinis, pria menunjukkan risiko yang lebih tinggi untuk mengalami CKD dibandingkan dengan wanita. Fenomena ini mungkin disebabkan oleh faktorfaktor gaya hidup, seperti kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol, yang umumnya lebih sering dilakukan oleh pria. Pendidikan Data yang diperoleh dari responden menunjukkan bahwa dalam penelitian ini terdapat 2 responden yang memiliki pendidikan Sarjana dan 1 responden yang berpendidikan SMK. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Akokuwebe dan Odigmewu . , yang mengindikasikan bahwa tingkat pendidikan memiliki korelasi yang signifikan dengan pengetahuan mengenai penyakit ginjal. Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar pula pengetahuan yang dimiliki mengenai penyakit tersebut serta manajemen pengobatannya. Hemodialisis Hasil penelitian semua responden menderita CKD stadium akhir yang mengharuskan ketiga responden menjalani terapi pengganti ginjal yaitu hemodialisis hal ini sejalan dengan penelitian Tampake & Dwi . bahwa hemodialisis menjadi salah satu penatalaksanaan terapi pasien gagal ginjal stadium akhir JURNAL KEPERAWATAN DEGENERATIF. VOLUME 1. ISSUE 2. JULI 2025 Pertiwi. Adillah. , & Ruran. e-ISSN: 3089-34337 untuk mencegah kematian dan mampu meningkatkan kualitas hidup pasien, meskipun terdapat dampak pada gagal ginjal stadium akhir. Dampak dari hemodialisis salah satunya adalah hiposalivasi dan bibir menjadi kering. Temuan dari penelitian ini sejalam dengan pernyataan Intan pada tahun 2019 yang menyatakan bahwa pasien CKD yang menjalani hemodialisis mengalami gangguan dalam keseimbangan cairan tubuh. (Intan Saraswati et. al, 2. KESIMPULAN Penelitian mengenai pengaruh intervensi mengunyah permen karet xylitol terhadap rasa haus pada pasien penyakit ginjal kronik (CKD) yang menjalani hemodialisis menunjukkan hasil yang positif dan signifikan. Setelah dilakukan intervensi selama 6 hari, ketiga responden yang semula mengalami rasa haus berat . ata-rata skor . , mengalami penurunan menjadi tingkat haus ringan . ata-rata skor akhir . Selain itu, terdapat perubahan perilaku konsumsi cairan, di mana ketiga responden mampu membatasi asupan cairan sesuai anjuran medis . Ae800cc/har. , serta penurunan kenaikan berat badan interdialisis pada seluruh responden. Intervensi ini terbukti sederhana namun efektif sebagai upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien untuk mengatasi rasa haus dan mengontrol asupan cairan. Temuan ini juga memberikan kontribusi bagi praktik keperawatan dalam pengelolaan pasien CKD, serta dapat menjadi bahan ajar dan pengembangan ilmu di institusi pendidikan keperawatan. Penelitian ini direkomendasikan untuk dikembangkan lebih lanjut dengan jumlah responden yang lebih besar agar efektivitas intervensi dapat dikaji secara lebih luas dan mendalam. UCAPAN TERIMA KASIH