Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 EFEKTIVITAS PELAYANAN KARTU IDENTITAS ANAK DI DINAS KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL EFFECTIVENESS OF CHILD IDENTITY CARD SERVICES AT THE POPULATION AND CIVIL REGISTRATION OFFICE Rita Rahmawati1. Siti Murni Yati2*. Irma Purnamasari3. Muhammad Husein Maruapey4. Berry Sastrawan5. Dede Syahrudin6. Aep Saepudin Muchtar7. Oetje Subagdja8. Saprudin9 2,3,4,5,6,7Program Studi Administrasi Publik. Universitas Djuanda. Bogor-Indonesia 1,8Program Studi Magister Administrasi Publik. Universitas Djuanda. Bogor-Indonesia *Korespondensi: Siti Murni Yati. Email: yatimurni188@gmail. (Diterima: 19-07-2024. Ditelaah: 10-09-2024. Disetujui: 01-10-2. ABSTRACT A Child Identity Card (KIA) is a card that is officially owned by children under 17 years of age and unmarried. So far, the service has been at the Service agency. cumulatively it is still low. One of the obstacles is a lack of awareness of the benefits of children's identity cards and socialization has not been optimal. The aim of the research is to find out how effective children's identity card services are, the obstacles to the effectiveness of services, and efforts to resolve obstacles to the effectiveness of children's identity card services. The method used is descriptive quantitative. With a sample of 100 people from the community and 32 employees. Data was collected through primary and secondary data techniques. Data analysis uses a Likert scale. The results show that the overall response is that the community received a score of 3. 49 in the "Good" criteria and the results of employee respondents' responses were a score of 4. 09 in the "Good" criteria. The assessment of these two elements is considered good, meaning that it is an indicator of increasing ability in communication skills and document detection skills so that the services provided can minimize the number of children's identity cards. This means that the implementation of children's identity card services is said to be effective, but there are still several factors that hinder the service, including that socialization has not been carried out evenly, so improvements need to be made in terms of the socialization method to make it more effective. Key words: Child Identity Card. Effectiveness. Service ABSTRAK Kartu Identitas Anak (KIA) merupakan kartu yang kepemilikan resmi pada anak diumur yang belum dari 17 tahun dan belum menikah. Selama ini pelayanan di lembaga Dinas. secara akumulatif masih rendah. salah satu kendalanya dikarenakan kurangnya kesadaran atas manfaat kartu identitas anak dan sosialisasi belum optimal. Tujuan dalam penelitian yang dimaksud untuk mengetahui bagaimana efektivitas pelayanan kartu identitas anak, hambatan-hambatan dalam efektivitas pelayanan, dan upaya dalam menyelesaikan hambatan dalam efektivitas pelayanan kartu identitas anak. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Dengan sampel 100 orang dari unsur masyarakat dan 32 pegawai. Data dikumpulkan melalui teknik data primer dan Analisis data menggunakan skala likert. Hasil menunjukkan bahwa tanggapan secara keseluruhan bahwa masyarakat yakni memperoleh nilai 3,49 dalam kriteria AuBaikAy dan hasil tanggapan responden pegawai yakni memperoleh nilai 4,09 dalam kriteria AuBaikAy. Penilaian kedua unsur tersebut dinilai baik artinya didalam indikator peningkatan kemampuan dalam keterampilan komunikasi dan keahlian mendeteksi dokumen sehingga pelayanan diberikan dapat meminimalisasikan capaian jumlah kartu identitas anak. Artinya pelaksanaan pelayanan kartu identitas anak dikatakan efektif namun masih terdapat sebagian faktor kendala dalam pelayanan diantaranya sosialisasi belum dilakukan secara merata sehingga perlu untuk dilakukan perbaikan dari segi metode sosialisasinya agar lebih efektif. Kata kunci: efektivitas, pelayanan, kartu identitas anak Rahmawati. Yati. Purnamasari. Sastrawan. Syahrudi. Muchtar. Subagdja. , & Saprudin . Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Jurnal Governansi, 10 . : 191-200. Rahmawati, et al. PENDAHULUAN Setiap manusia yang hidup akan merasakan peristiwa penting dalam hidupnya salah satunya kependudukan. Pemenuhan terhadap peristiwa penting itu perlu dilakukan oleh aparatur pemerintah (Pratidina, et al. ,2. Sebagai landasan hukum atas UndangUndang Nomor 23 Tahun 2006 menyatakan Administrasi Kependudukan merupakan proses kegiatan penataan, penertiban dan data kependudukan dalam pelayanan publik dan pembangunan sektor lainnya. Beberapa produk jenis dokumen kependudukan kini dimiliki oleh setiap penduduk yakni adalah (E-KTP) yang berfungsi sebagai identitas oleh setiap penduduk yang sudah memasuki usia 17 Namun seiring berjalannya waktu pemberian identitas kependudukan tidak lagi kepada yang sudah memasuki usia 17 tahun tetapi juga pemberian identitas kependudukan kini dimiliki pada seorang anak yang tertuang di kebijakan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 2016. Kartu Identitas Anak (KIA) merupakan kepemilikan kartu identitas resmi pada anak yang belum memasuki dari umur 17 tahun dan belum menikah. Program kartu identitas anak ini diterapkan sejak dikeluarkan kebijakan tersebut yakni di tahun 2016. Penerapan di tahun 2016 dilakukan di beberapa titik yakni 50 kabupaten/kota. Selanjutnya di tahun 2017 penerapan program kartu keseluruhan kabupaten/kota. Tujuan dari terbitnya kartu tersebut sebagai pendataan dan perlindungan. Adapun manfaat atas penertiban tersebut diantaranya melindungi dan memudahkan anak dalam memanfaatkan kebutuhannya di berbagai bidang tertentu. Hak anak mempunyai posisi khusus dalam UndangUndang Republik Indonesia 1945 Pasal 28 B ayat . bahwa anak dapat mendapatkan Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak Kebutuhan masyarakat terhadap kartu identitas anak sangatlah diperlukan hal ini masih banyak yang terjadi peristiwa Menilik periode 2024 pada tanggal 1 januari ditemukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak, sementara kekerasan pada anak sekitar 10. 000 per Provinsi Jawa Barat merupakan kategori tertinggi dalam korban kekerasan anak yakni sebesar 631 orang anak. Dengan terpenuhinya kebutuhan layanan bagi birokrasi/instansi dapat membantu dan memudahkan kepada khalayak umum dalam mencapai efektivitas kegiatan (Irtanto, 2. Efektivitas diterapkan di setiap instansi hal ini merupakan kunci dari kesuksesan dengan hasil yang yang optimal dalam mencapai tujuan (Zohriah, 2017. Nuryani, et al. , 2. Menunjukkan suatu pencapaian efektivitas bagi instansi dikatakan efektif atau tidaknya tergantung pada beberapa ukuran yang hendak dicapainya (Aris, et al. Muafa, et al. , 2. Untuk membangun tata kelola administrasi kependudukan berupa jenis dokumen kartu identitas anak maka tugas dan tanggung jawab atas peristiwa tersebut yakni salahsatunya melalui Disdukcapil Kabupaten Bogor yang merupakan bagian dari tugas dan tanggung jawab yang Jenis pelayanan yang diberikan kepada pemohon berkisar 20 kependudukan salah satunya kartu identitas anak. Adapun jam kerja yang dilakukan dimulai dari 08. 00 s. 00 WIB. Kuota Antrian kartu identitas anak dengan maksimum 200 pemohon yang bersamaan dengan pelayanan Akta Kelahiran. Akta Kematian. Kartu Keluarga. Dan Kartu Identitas Anak (KIA) Adapun pelayanan Kartu Identitas Anak (KIA) melakukan terobosan salah satunya seperti dibentuknya Unit Pelaksana Teknis (UPT) Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 yang terbagi menjadi 7 UPT yang tersebar di beberapa wilayah kecamatan. Tujuan dari adanya untuk memudahkan mengurusi kebutuhan akan dokumen. Bentuk upaya yang dilakukan selama ini pelayanan kartu identitas anak di Disdukcapil Kabupaten Bogor secara keseluruhan di tahun 2024 bulan Mei capaian target kartu identitas anak belum optimal dari 40 kecamatan. Target jumlah wajib kartu identitas anak yakni sekitar 547 dari jumlah yang memiliki kartu identitas anak sekitar 521. 401 jika dipersenkan 32,95%. Adapun beberapa fenomena yang peneliti lakukan melalui wawancara yang menjadi latar belakang masalah yaitu: Kabupaten Bogor masih belum dikarenakan sebagian masyarakat kesadaran akan pentingnya manfaat pada kartu identitas anak. Tingkat Sosialisasi yang dilakukan oleh Disdukcapil Kabupaten Bogor hanya di tiap kecamatan artinya sosialisasi pada desa-desa terpencil sulit dilakukan oleh instansi hal ini adanya keterbatasan sumber daya mengakibatkan masyarakat masih kurang pemahaman seputar kartu identitas anak. Mengenai permasalahan di dalam pelayanan tersebut dengan begitu, maka perlu dilakukan analisis untuk melihat sejauh mana efektivitas pelayanan kartu identitas anak, hambatan-hambatan dalam efektivitas pelayanan, dan upaya dalam menyelesaikan hambatan dalam efektivitas pelayanan kartu identitas anak. MATERI DAN METODE PENGERTIAN PELAYANAN PUBLIK Menurut (Sawir, 2. Pelayanan publik adalah adalah aparatur pemerintah negara maupun daerah sebagai pemberi layanan dalam kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat demi tercapainya tujuan negara yakni kesejahteraan. Adapun (Ardianor, 2. pelayanan publik adalah suatu kegiatan di kantor organisasi yang didalamnya dilaksanakan oleh pegawai untuk memenuhi kebutuhan PENGERTIAN EFEKTIVITAS Efektivitas merupakan bagian utama untuk memperoleh target yang sudah ditetapkan sebelumnya oleh setiap Dari sisi efektivitas pelayanan publik, menurut (Rahmawati, et al. , 2. efektivitas merupakan suatu hasil proses yang direncanakan dalam memenuhi tujuan. Dalam instansi jika penerapan program yang dilakukan semakin ditingkatkan maka efektivitas pun akan meningkat (Zakiah,et , 2. Efektivitas pengukuran berhasil atau tidaknya dalam memperkirakan suatu tujuan yang dicapai (Tengku, et al. , 2. MENGUKUR EFEKTIVITAS Mengukur Efektivitas dilihat dari beberapa pengukuran diantaranya teori dari Campbell J. P dalam (Akbari, et al. dengan dimensi . Keberhasilan Program . Keberhasilan Sasaran . Kepuasan Terhadap Program . Hasil Input & Output . Pencapaian Tujuan Menyeluruh. Adapun menurut Sutrisno dalam (Ticoalu, et al. , 2. bahwa untuk mengukur efektivitas diantaranya . pemahaman program . Tepat Sasaran . Tepat Waktu . Tercapainya Tujuan . Perubahan Nyata. Selanjutnya teori Duncan dalam Buku (Steers, 2. tentang Efektivitas Organisasi. Teori yang dimiliki yakni diantaranya . Pencapaian Tujuan . Integrasi . Adaptasi. Rahmawati, et al. Penjabaran teori yang dimaksud Pencapaian Tujuan dilihat dari sudut proses dimana ini perlu dilakukan secara Cakupan indikator didalamnya seperti kurun waktu, pencapaian, dan dasar hukum. Adapun integrasi dilihat dari kemampuan atau usaha dalam melakukan kegiatan yang disepakati di dalam Indikator didalamnya meliputi prosedur dan sosialisasi. Kemudian mengenai Adaptasi yang dimaksud yakni adanya penyesuaian di dalam lingkungan organisasi. kemampuan dan sarana prasarana. METODE PENELITIAN Metode ini menggunakan kuantitatif dengan analisis deskriptif. Menurut (Sugiyono, 2. dalam Metode kuantitatif merupakan dasar dari filsafat positivism yang berupa proses perhitungan angka yang menggunakan statistik dari populasi dan sampel setelahnya diberikan penarikan Jumlah populasi yang diambil yakni dari unsur jumlah pemohon yang memiliki KIA 0-17 di tahun 2024 dan unsur Sampel menggunakan 2 teknik sampling yakni Simple Random Sampling dan Sampling Jenuh. Sampel diketahui 100 responden dari unsur masyarakat dengan yang diambil menggunakan formula Yamane. Selanjutnya jumlah dari unsur pegawai pemberi pelayanan KIA yakni 32 pegawai dibidang daftar penduduk. Teknik pengumpulan data dari data primer dan sekunder. Data primer melalui wawancara, observasi, dan penyebaran Data sekunder diperoleh dari studi kepustakaan dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan skala likert, setiap item instrumen yang menggunakan skala likert. Adapun range nilai yang ditentukan Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak Tabel 1. 1Range Nilai Alternatif pilihan jawaban Penilaian Sangat Baik/Sangat Mudah/Sangat Sesuai Baik/Mudah/Sesuai Cukup Baik/Cukup Mudah/Cukup Sesuai Tidak Baik/Tidak Mudah/Tidak Sesuai Sangat Tidak Baik/Sangat Mudah/Sangat Tidak Sesuai Tidak Setelahnya dianalisis menggunakan formula WMS. HASIL DAN PEMBAHASAN Perhitungan yang diperoleh untuk mendapatkan hasil yakni melalui Teori Duncan dalam (Steers, 2. yang memiliki penilaian 3 dimensi dalam mengukur efektivitas yaitu . Pencapaian Tujuan . Integrasi dan . Adaptasi. Dimensi Pencapaian Tujuan Tabel 1. 2 Rekapitulasi Pencapaian Tujuan Masyarakat Dimensi Pencapaian Tujuan Indikator Kurun Pencapaia Sasaran Dasar Hukum Rata-Rata Pegawai Rata Rata Kriteria Rata Rata Kriteria 3,88 Baik Baik 3,17 Cukup Baik 3,62 Baik Baik 4,06 Baik 3,05 3,36 Cukup Baik Cukup Baik Berdasarkan pencapaian tujuan mendapatkan nilai 3,36 dengan kriteria Aucukup baikAy dari tanggapan masyarakat dan pegawai memperoleh nilai 4,06 dengan kriteria AuBaikAy. Perbedaan adanya keberagaman faktor dari indikator kurun waktu, pencapaian sasaran, dan dasar Mengenai indikator kurun waktu memiliki nilai yang tinggi dari indikator lainnya dimana waktu dapat dinilai proses lama atau tidaknya dan sesuai atau tidaknya Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 dalam pelayanan yang diberikan. Sehingga masyarakat memperoleh nilai 3,88 dengan kriteria AuBaikAy & pegawai memperoleh nilai 4,1 dengan kriteria AuBaik. Ay Hal ini dikarenakan adanya kesesuaian waktu terhadap layanan yang diberi sehingga dalam prosesnya tidak memakan waktu Selain jika disandingkan dengan (Citrawati, et al. ,2. bahwa ketepatan waktu sesuai dengan yang ditetapkan maka akan memberi kepuasan salah satunya Lain lagi pada indikator pencapaian sasaran mendapatkan nilai dari masyarakat yakni 3,17 dengan kriteria AuCukup BaikAy dan pegawai memperoleh nilai 3,62 dengan kriteria AuBaikAy. Dalam pelaksanaanya masih terdapat anak yang belum memiliki kartu identitas anak dari setiap wilayah yang berdasarkan sasaran yang sudah ditentukan Jika disandingkan dengan (Mustofa, et al. ,2. bahwa diukur dengan rencana dengan hasil nyata tidak tepat akan menyebabkan kurang tercapainya tujuan yang diharapkan. Dan ada juga didasari oleh (Amrina, et al. ,2. bahwa ketepatan sasaran diperlukan sosialisasi secara menyeluruh baik langsung/tidak langsung sesuai sasaran yang ditetapkan untuk keberlangsungan penerimaan layanan Selanjutnya pada indikator dasar hukum mendapatkan nilai 3,05 AuCukup BaikAy dari masyarakat sedangkan dari pegawai mendapatkan nilai 4,4 dengan kriteria AuBaikAy. Dalam pelaksanaanya masih terdapat masyarakat terkait belum Selanjutnya kesesuaian dasar hukum yang dibuat sudah sesuai namun realitanya dari segi manfaat hanya di implementasikan di bidang pendidikan saja. Berbeda dengan pegawai yang dimana mereka sudah sepenuhnya memahami & sesuaian dasar hukum Disandingkan dari (Nabila, et ,2. bahwa pemahaman seperti landasan hukum harus diketahui oleh pembuat dan pelaksana. Beiringan juga dari (Harahap, et al. ,2. bahwa dasar hukum dimulai setelah penetapan kebijakan sebagai pedoman pelaksanaan suatu program agar tercapai tujuan yang Dimensi Integrasi Tabel 1. 3 Rekapitulasi Integrasi Masyarakat Dimensi Adaptasi Indikator Peningkatan Sarana & Prasarana Rata-Rata Pegawai RataRata Kriteria RataRata Kriteria 3,92 Baik 4,07 Baik 3,61 Baik 4,25 Sangat Baik 3,76 Baik 4,16 Baik Berdasarkan hasil bahwa dimensi integrasi mendapatkan nilai rataan 3,35 dengan kriteria Aucukup baikAy dari tanggapan masyarakat dan pegawai memperoleh nilai 4,05 dengan kriteria AuBaikAy. Jika disandingkan terdapat indikator yang berbeda nilai jauh yakni nilai prosedur dan nilai sosialisasi. Nilai prosedur memperoleh hasil nilai 3,76 dengan kriteria AuBaikAy sedangkan pegawai memperoleh nilai 4,21 dengan kriteria AuSangat BaikAy. Prosedur dalam program tersebut tidak memiliki tingkatan kesulitan. Namun pada pelaksanaannya masih ada pemohon yang akan mengurusi KIA karena pindah datang. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman sebelumnya dari pemohon sehingga dibutuhkan waktu lain hari untuk datang kembali setelah persyaratan terpenuhi salah satunya melampirkan surat pindah Selain itu juga masih ada beberapa pemohon yang mengajukan KIA umur 5-17 kurang 1 hari yang tidak membawa berkas pas foto anak. Hal ini kurangnya informasi pemohon terhadap persyaratan program tersebut namun lampiran pas foto tidak Rahmawati, et al. menjadi kendala dikarenakan masih bisa teratasi dikarenakan pemohon rata-rata memiliki foto anak didalam hpnya dan ditindaklanjuti untuk mengirim file melalui seluler whatsapp. Memaknai kejelasan pegawai dalam melayani sudah dilakukan dengan baik hal ini sejalan dengan mengikuti ketentuan prosedur yang ada dan Menurut (Resdiana, et al. ,2. prosedur sebagai hubungan satu sama lain untuk menjalankan rangkaian tugas. Prosedur harus bisa diikuti bagi pembuat dan penerima hal ini agar dapat memudahkan memahami informasi. Lain juga menurut (Fazil, et al. ,2. prosedur harus jelas dalam penyampaian informasi melalui papan informasi dan media online. Selanjutnya masyarakat nilai memperoleh 2,95 kriteria AuCukup BaikAy dan hasil tanggapan pegawai memperoleh 3,9 dengan kriteria AuCukup BaikAy. Dari tanggapan masyarakat bahwa sosialisasi yang dibentuk masih kurangnya pemahaman secara merata disebabkan penyampaian informasi belum tersentuh di setiap wilayahnya. Sosialisasi yang dibentuk melalui tatapan langsung hanya dilakukan dibeberapa wilayah saja dan penyampaian informasi tersebut dengan menyiapkan power point dan pelaksanaan sosialisasi tidak dilakukan secara rutin. Hal ini menyebabkan sosialisasi yang dibentuk belum optimal baik dari penempatan pelaksanaan jadwal dan juga penyampaian informasi yang kaku. Selain itu sosialisasi langsung menyediakan sosialisasi secara media cetak dan media digital. Sosialisasi melalui media cetak seperti banner disetiap Kecamatan. Desa. UPT, bahwa banner yang dipasang yakni kurangnya informasi didalam isiannya seperti manfaat dan Sehingga masyarakat hanya fokus ke beberapa jenis pelayanan yang diberikan dan persyaratan. Artinya pemasangan cetak tersebut kurangngnya informasi yang lebih spesifik/rinci tentang kartu identitas anak. Sedangkan sosialisasi Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak dimedia digital berdasarkan tanggapan mengenai persyaratan dan manfaat kegunaannya sudah cukup baik namun sebagian orang tua terutama ibu-ibu masih minim menggunakan aplikasi dan website yang sudah disediakan. Metode sosialisasi yang dibangun selama ini dalam segi pemahaman terhadap program masih belum optimal. Selanjutnya keterlibatan stakeholder dalam pelaksanaanya belum optimal dalam mensosialisasikan. Sehingga menyebabkan kurangnya pemahaman dan kesadaran terhadap pentingnya program Kegiatan sosialisasi perlu dilakukan secara komitmen dan berkala agar dapat terealisasi capaian tujuan terhadap suatu (Kurnia, et al. ,2. lain juga faktor hambatan disaat pelaksanaan sosialisasi beberapa kelompok memiliki keterbatasan seperti masih rendahnya pendidikan formal, akses media, dan jarak. (Adiwijaya, et al. ,2. berbeda dengan sosialisasi yang mengandalkan sistem informasi tanpa dilakukannya sosialisasi ofline hal ini tidak semua merasakan adanya keterbukaan informasi secara online yang berakibatkan sosialisasi kurang optimal sehingga kurangnya pemahaman program. (Maulidia,et al. , 2. Dimensi Adaptasi Tabel 1. 4 Rekapitulasi Adaptasi Masyarakat Dimensi Indikator Prosedur Integrasi Sosialisasi Rata-Rata Pegawai RataRata Kriteria RataRata 3,76 Baik 4,21 2,95 3,35 Cukup Baik Cukup Baik 4,05 Berdasarkan hasil bahwa dimensi adaptasi mendapatkan nilai 3,76 dengan kriteria AuBaikAy dari tanggapan masyarakat dan pegawai memperoleh nilai 4,16 dengan kriteria AuBaikAy. Kriteria Sangat Baik Cukup Baik Baik Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 Hal ini dimensi adaptasi memiliki faktor di peningkatan kemampuan dan sarana & prasarana. Peningkatan kemampuan memiliki nilai 3,92 dengan kriteria AuBaikAy dari tanggapan masyarakat. Adapun dari pegawai memperoleh nilai 4,07 dengan kriteria AuBaikAy. Peningkatan kemampuan dinilai melalui keterampilan petugas. Keterampilan yang dimaksud yakni setiap pegawai memiliki potensi daya kepekaan dan komunikasi kepada pemohon sebagai bentuk mengoptimalisasikan target capaian jumlah wajib kartu identitas Dimana setiap pemohon hanya mengurusi akta kelahiran baru dengan tidak sekaligus pembuatan kartu identitas anak. Dengan itu pegawai memiliki keterampilan dengan membuat dokumen 3 in 1 . kta kelahiran. KK, dan KIA) disaat pengajuan Artinya pegawai telah melakukan penyesuaian dalam pelaksanaan meningkatkan membuatkan 3 in 1. Selain keterampilan, mendeteksi dokumen pelayanan, yang dimana pegawai menjalankan keahliannya dengan dasar teknisi. Dalam terdapat dukungan didalamnya yakni adanya bimbingan teknis sehingga para implementator (Yustina, et al. , 2. Selanjutnya indikator sarana & prasarana memperoleh nilai 3,61 dengan kriteria AuBaikAy dari tanggapan masyarakat. Sedangkan pegawai memperoleh nilai 4,25 kriteria AuSangat BaikAy. Hal ini didukung sarana & prasarana sangat memadai dalam proses pelayanan mulai dari ruang tunggu layanan, media informasi, dan alat kerja. Didukung oleh (Thalita, et al. ,2. bahwa sarana & prasarana memiliki fungsi untuk membantu kelancaran kegiatan program. Jika sarana & prasarana terpenuhi maka dapat meningkatkan kepuasan untuk masyarakat dan juga peningkatan kemampuan bagi pegawai. Selain itu juga sarana & prasarana dapat memberikan kenyamanan dan keamanan (Azizah, et al. Rekapitulasi Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak (KIA) Di Disdukcapil Kabupaten Bogor Tabel 1. 4 Rekapitulasi Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak (KIA) Di Disdukcapil Kab. Bogor Masyarakat Dimensi Indikator Kurun waktu Pencapai Tujuan Pencapaian Sasaran Dasar Hukum Rata-Rata Integrasi Adaptasi Rata Rata Kriteria RataRata Kriteria 3,88 Baik Baik 3,62 Baik Baik 4,06 Baik 3,17 3,05 3,36 Prosedur 3,76 Sosialisasi 2,95 Rata-Rata Peningkatan Sarana & Prasarana Pegawai 3,35 Cukup Baik Cukup Baik Cukup Baik Baik Cukup Baik Cukup Baik 4,21 Sangat Baik Cukup Baik 4,05 Baik 3,92 Baik 4,07 Baik 3,61 Baik 4,25 Sangat Baik Rata-Rata 3,76 Baik 4,16 Baik Total 3,49 Baik 4,09 Baik Dengan hasil rataan diatas terkait Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak Disdukcapil Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa tanggapan secara keseluruhan memperoleh kriteria AuBaikAy. Ditinjau keberadaan nilai tersebut dari respon masyarakat 3,49 dan pegawai memperoleh nilai 4,09 dengan kriteria AuBaikAy. Ketiga dimensi terdapat dimensi yang mempunyai nilai tertinggi dan skor terendah dari dimensi-dimensi yang Jumlah nilai yang paling tinggi dari seluruh dimensi yakni terdapat di adaptasi hal ini karena adanya peningkatan kemampuan pegawai yang memiliki potensi meningkatkan kepemilikan. Sementara masyarakat dengan nilai rataan menengah terdapat di dimensi pencapaian tujuan hal ini karena adanya kurun waktu yang Rahmawati, et al. memberikan pelayanan dengan sesuai dan tidak menunggu waktu lama. Sedangkan hasil tanggapan dengan nilai terendah yaitu terdapat di dimensi integrasi hal ini karena adanya sosialisasi yang belum optimal dari segi metode langsung maupun tidak langsung yang disebabkan informasi terlalu kaku, kurang rinci, keterlibatan stakeholder kurang dan tingkat konsistensi tidak terintegrasikan sehingga akibatnya masih kurangnya kesadaran dan pemahaman atas manfaat. Kendala yang dihadapi dalam Pelayanan Kartu Identitas Anak di Disdukcapil Kabupaten Bogor Dalam pelaksanaan pada nyatanya pelayanan dikatakan baik namun capaian target yang ditentukan sebelumnya belum optimal hal ini ada beberapa kendala yang dihadapi di antaranya: Sebagian masyarakat dan lembaga masih belum sadar akan pentingnya manfaat kartu identitas anak Sosialisasi yang dilakukan belum optimal baik langsung, media digital, dan media cetak. hal ini menjadi kurangnya informasi yang luas terhadap program kartu identitas anak dan kurang rinci. Sosialisasi mempengaruhi hubungan dengan pencapaian sasaran dan pemahaman dasar hukum berlaku. Upaya dalam menyelesaikan kendala yang di hadapi Disdukcapil Kabupaten Bogor Khususnya pada program Kartu Identitas Anak terdapat beberapa upaya dalam mengefektifkan pelayanan Kartu Identitas Anak diantaranya: Berupaya merencanakan jadwal dan pemetaan wilayah secara berkala untuk melakukan sosialisasi dengan sistem edukasi dan pembinaan bertingkat dengan metode langsung maupun melalui media sosial. Peran memberikan informasi kepada pihak Efektivitas Pelayanan Kartu Identitas Anak lembaga seperti sekolah dan rumah sakit untuk membantu mengedukasi dengan media interaktif kepada Media interaktif bisa melalui video, gambar, dan alat Hal ini agar sosialisasi tidak terlalu kaku. Setelah di edukasi pembinaan untuk meningkatkan daya informasi melalui melalui digital tentang seputar program tersebut untuk memaksimal daya tarik pelaksanaan informasi dari edukasi. Hal ini merupakan salah satu untuk kesadaran dan pemahaman kepada manfaatnya program tersebut. Berupaya mengadakan penambahan media sosial untuk mensosialisasikan lebih luas seperti di Tiktok. Seperti pemanfaatan dari aspek pendidikan, kesehatan, imigrasi, bank, dan dunia Selain di media sosial dilakukannya informasi yang lebih rinci dan menarik melalui media cetakan di beberapa wilayah baik tingkat desa, kecamatan, dan UPT. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa tanggapan secara keseluruhan bahwa masyarakat yakni memperoleh nilai 3,49 dalam kriteria AuBaikAy dan pegawai memperoleh nilai 4,09 dalam kriteria AuBaikAy. Namun di berbagai dimensi terdapat kendala dalam kurang optimalnya capaian target kepemilikan yakni: . sebagian masyarakat atau orang tua dan lembaga masih belum sadar akan pentingnya manfaat KIA dan. Sosialisasi yang dilakukan belum optimal baik langsung, media digital, dan media cetak. Jurnal Governansi, p-ISSN 2442-3971 e-ISSN 2549-7138 Volume 10 Nomor 2. Oktober 2024 Upaya dalam menyelesaikan kendala yang di hadapi yakni . melakukan sosialisasi dengan metode edukasi dan dilakukan setiap berkala. menyediakan penambahan informasi digital salah satunya tiktok untuk mensosialisasikan pelayanan kesadaran dan pemahaman. Implikasi Teori pada dimensi tentunya organisasi melakukan prosesnya ini melalui pencapaian tujuan yang direncanakan melalui kurun waktu, sasaran, dan dasar hukum dengan sesuai dan tepat. Lalu didalam prosesnya harus mampu di integrasi melalui prosedur dan sosialisasi hal ini akan memenuhi ruang kesadaran dan pemahaman untuk mencapai tujuan yang telah direncanakan. Selanjutnya dalam pelaksanaan pelayanan langsung perlu adaptasi melalui peningkatan kemampuan dan sarana dan prasarana yang pemberian pelayanan langsung. Adapun pelaksanaanya harus adanya perbaikan dan peningkatan dalam mensosialisasikan program guna untuk mengoptimalisasikan pemahaman, kesadaran, dan juga capaian target untuk mencapai tujuan. Dengan melalui tatapan langsung, media digital, dan media cetak. DAFTAR PUSTAKA