Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri. Mahdi Mubarok. LuluAoul Khadiroh. Hanaya Sabila Anjani. Himmatul Aliyah. Wahib Irsadul Bahtiar Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri Perspektif Filsafat Cinta Erich Fromm Exploring Marital Advice in Serat Wulang Reh Putri from the Perspective of Erich FrommAos Philosophy of Love Mahdi Mubarok1 . LuluAoul Khadiroh2. Hanaya Sabila Anjani3 . Himmatul Aliyah4 . Wahib Irsadul Bahtiar5 1,2,3,4,5 UIN Walisongo Semarang Article history: Submitted: 02 November 2025 Accepted: 23 Februari 2026 Published: 12 Mei 2026 mahdimubarok77@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 4 elemen utama dalam konsep cinta yang digagas oleh Erich Fromm dapat dilihat dalam karya sastra klasik Nusantara dalam hal ini Serat Wulang Reh Putri. Latar belakang kajian ini didasari oleh meningkatnya angka perceraian di Indonesia yang mencerminkan krisis pemahaman terhadap hakikat cinta dan komitmen dalam kehidupan berumah tangga. Dalam situasi tersebut. Serat Wulang Reh Putri menjadi penting karena memuat ajaran moral, spiritual, serta etika keluarga yang menggambarkan kearifan budaya Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik untuk menafsirkan makna ajaran-ajaran pernikahan dalam teks dan menghubungkannya dengan empat unsur cinta menurut Fromm, yakni care . , responsibility . anggung jawa. , respect . asa horma. , dan knowledge . Hasil kajian memperlihatkan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Serat Wulang Reh Putri sejalan dengan gagasan cinta Fromm yang menekankan kesadaran, empati, tanggung jawab etis, dan kedewasaan spiritual dalam hubungan suami istri. Oleh karena itu, ajaran dalam karya ini tidak hanya berfungsi sebagai tuntunan moral tradisional, melainkan juga memiliki makna filosofis dan humanistik yang relevan bagi masyarakat modern dalam membangun keluarga yang harmonis, penuh kasih, dan berlandaskan cinta yang sadar serta bertanggung jawab. Kata Kunci: Erich Fromm. Filsafat Cinta. Hermeneutika. Serat Wulang Reh Putri Abstract: This study aims to analyze the four main elements in the concept of love proposed by Erich Fromm, which can be seen in the classical Nusantara literary work, namely Serat Wulang Reh Putri. This study is motivated by the rising divorce rate in Indonesia, reflecting a crisis in understanding the nature of love and commitment in married life. In this context. Serat Wulang Reh Putri becomes crucial because it contains moral, spiritual, and family ethical teachings that reflect Javanese cultural wisdom. This study uses a qualitative method with a hermeneutic approach to interpret the meaning of the marriage teachings in the text and relate them to Fromm's four elements of love: care, responsibility, respect, and knowledge. The results show that the values contained in Serat Wulang Reh Putri align with Fromm's concept of love, which emphasizes awareness, empathy, ethical responsibility, and spiritual maturity in marital relationships. Therefore, the teachings in this work serve not only as traditional moral guidance but also have philosophical and humanistic meanings relevant to modern society in building harmonious, loving families based on conscious and responsible love. Keywords: Erich Fromm. Philosophy of Love. Hermeneutics. Serat Wulang Reh Putri P-ISSN 2798-186X E-ISSN 2798-3110 A 2026 author. Published by FAB UIN Surakarta, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. DOI: 10. 22515/isnad. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 103-115 PENDAHULUAN Pernikahan adalah ikatan batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri yang menjadi komponen pokok dalam kehidupan masyarakat yang sempurna. 1 Pernikahan sebagai institusi sosial terpenting dalam kehidupan manusia menghadapi tantangan serius di era kontemporer, yang ditandai dengan meningkatnya angka perceraian di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, fenomena ini semakin mengkhawatirkan dengan mencatatkan sebanyak 399. 921 kasus perceraian sepanjang tahun 2024 berdasarkan data Badan Pusat Statistik yang mengutip Kementerian Agama RI dan Mahkamah Agung. Perselisihan dan pertengkaran menjadi penyebab utama perceraian 125 kasus, menunjukkan lemahnya fondasi komunikasi dan pemahaman dalam relasi 2 Data ini menggambarkan urgensi untuk mengkaji kembali nilai-nilai dan prinsipprinsip pernikahan yang dapat memperkuat ketahanan keluarga. Fenomena tingginya perceraian menunjukkan adanya krisis dalam pemahaman hakikat cinta dan komitmen dalam pernikahan. Pernikahan bukan hanya sekadar hubungan fisik, tetapi merupakan suatu janji suci dari Tuhan . manah ilahia. untuk menciptakan keluarga yang harmonis, dipenuhi cinta, dan kasih sayang . akinah, mawaddah, wa rahma. Ketiga nilai ini mengandung makna spiritual yang dalam, menekankan keseimbangan antara dimensi emosional, etis, dan spiritual dalam hubungan suami istri. Sayangnya, dalam kehidupan modern yang sarat dengan tekanan material, hedonisme, dan individualisme, pernikahan sering kali dipahami hanya sebagai pemenuhan kebutuhan pribadi Oleh karena itu, dibutuhkan upaya serius untuk mengkaji kembali nilai-nilai tradisional dan filosofis yang dapat menjadi pedoman bagi manusia modern dalam memahami dan menjalankan makna sejati pernikahan. Dalam khasanah kesusastraan Jawa terdapat salah satu warisan budaya dalam bentuk karya sastra yang sangat berharga dalam konteks ini yang mengandung ajaran mendalam mengenai pernikahan yakni Serat Wulang Reh Putri. 3 Serat kerap disebut dengan istilah Sastra niti atau sastra wulang atau dalam kata lain karya sastra yang digunakan untuk media piwulang karena serat mengandung banyak piwulang atau ajaran adiluhung. 4 Naskah tradisional Jawa yang ditulis oleh Paku Buwana X ini memberikan panduan moral bagi wanita tentang cara menjalani peran sebagai Rohmatul Hannani. AuKajian Psikologi Keluarga: Benarkah Cinta adalah Unsur Terpenting dalam Pernikahan?Ay Mutiara: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. No. : hlm. 201Ae211, https://doi. org/10. 61404/jimi. Badan Pusat Statika. Jumlah Perceraian Menurut Provinsi dan Faktor Penyebab Perceraian, 2024. (Jakarta, 2. Mirya Anggraeni dan Suyanto Suyanto. AuAjaran tentang Bakti Istri kepada Suami dalam Serat Wulang Reh Putri,Ay Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol. No. : hlm. 134Ae145, https://doi. org/10. 14710/nusa. Bagus Wahyu Setyawan. AuSimbolisasi Wanita Jawa Utama dari Perspektif Pakubuwono X: Tinjauan Kritis pada Serat Wulang Reh Putri,Ay Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. No. 17Ae31, https://doi. org/10. 22515/isnad. Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri. Mahdi Mubarok. LuluAoul Khadiroh. Hanaya Sabila Anjani. Himmatul Aliyah. Wahib Irsadul Bahtiar istri dengan menekankan betapa pentingnya akhlak yang baik, pengabdian, dan kebijaksanaan untuk mencapai kebahagiaan keluarga. 5 Ajaran etika ini tidak hanya mencakup nilai-nilai luhur Jawa, tetapi juga sangat serupa dengan prinsip-prinsip moral dalam ajaran Islam. Akan tetapi, banyak penelitian mengenai serat ini biasanya hanya terfokus pada analisis filologis atau interpretasi kultural, sehingga relevansinya untuk menyelesaikan masalah rumah tangga di zaman sekarang sering kali terabaikan. Dalam konteks modern, nilai-nilai yang terkandung dalam Serat Wulang Reh Putri tampak semakin relevan ketika dihadapkan pada krisis makna dalam institusi pernikahan. Tingginya angka perceraian, lemahnya komitmen emosional, serta dominasi hasrat individual dalam hubungan suami-istri menunjukkan bahwa cinta sering kali direduksi menjadi sekadar emosi atau kebutuhan Padahal sebagaimana yang ditegaskan oleh Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving bahwa cinta merpakan seni yang menuntut kedewasaan spiritual dan tanggung jawab etis. Fromm meyakini bahwa cinta sejati bukan hanya sekadar perasaan pasif, melainkan sebuah "seni" yang perlu dipelajari dan diamalkan secara aktif. 6 Ia menyatakan bahwa cinta sejati melibatkan empat aspek utama: tanggung jawab, kepedulian, rasa hormat, dan pengetahuan. 7 Keempat aspek ini menjadi landasan bagi hubungan yang sehat, di mana cinta bukan sekadar emosi sesaat, melainkan hasil dari proses panjang yang mencakup pemahaman diri, kedewasaan psikologis, dan kemampuan untuk memberi tanpa pamrih. Penelitian terhadap Serat Wulang Reh Putri telah menarik perhatian para peneliti karena teks ini memuat nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang mencerminkan pandangan dunia masyarakat Jawa tentang perempuan, cinta, dan pernikahan. Berbagai penelitian sebelumnya memperlihatkan bahwa teks ini memiliki fungsi didaktis sebagai pedoman etika bagi perempuan Jawa dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Namun, meskipun telah banyak dikaji dari sisi moralitas dan simbolisasi gender, dimensi filosofis mengenai cinta sebagai landasan etis dalam relasi pernikahan belum memperoleh perhatian yang cukup. Penelitian yang dilakukan oleh Setyawan . membahas tentang simbolisasi Wanita jawa utama dalam serat wulangreh putri, pakubuwono X memberikan pemahaman tentang 3 bekal yang harus dimiliki oleh seorang istri, yaitu berbakti, melayani, dan menghormati suami dengan sepenuh hati. Serat Wulan Reh Putri juga bisa dijadikan pembelajaran untuk membentuk karakter Wanita jawa utama di era globalisasi ini. Penelitian ini juga memberikan kontribusi dalam Priyambodo. AuEtika dan Peran Istri dalam Serat Wulang Reh Putri,Ay Jurnal Studi Sastra Jawa Vol. No. : hlm. 45Ae60. Erich Fromm. Seni Mencintai (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2. , hlm 75. Ferdy Herdanto Susilo. AuAnalisis Empat Elemen Cinta Aktif Erich Fromm Dalam Konteks Keluarga Indonesia,Ay Jurnal Psikologi dan Konseling Vol. No. : hlm. 101Ae115. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 103-115 membuka dimensi semiotik dan ideologis dari teks. Ia mengungkap bahwa Serat Wulang Reh Putri merepresentasikan figure perempuan ideal yang melambangkan kesempurnaan moral dan keteraturan sosial versi istana Surakarta. Melalui pendekatan hermeneutik kritis. Setyawan menjelaskan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam teks tersebut berfungsi sebagai sarana internalisasi tata susila Jawa. Misalnya, simbol seperti ganda arum . eharuman bati. dan sumirat . ahaya kesabara. menjadi metafora bagi sifat-sifat luhur perempuan yang diharapkan oleh tatanan patriarkal. Selanjutnya, penelitian Anggraeni dan Suyanto . membahas tentang Serat Wulang Reh Putri berisi tentang ajaran, baik tentang perilaku Masyarakat atau ajaran mengenai cara menggapai kesempurnaan hidup dan juga ajaran untuk kaum Perempuan terutama bagi para istri. Ajaran dalam teks tersebut mengutamakan kepatuhan kepada suami,seoarng suami merupakan panutan bagi seorang Perempuan. Juga mengajarkan para Perempuan agar menghormati lembaga perkawinan, seoarang Perempuan dilarang keras mendekati pergaulan bebas. 9 Sementara itu. Mahmudin . dalam artikelnya WomenAos Self-Actualization in the Family memberikan arah baru dengan membaca Serat Wulang Reh Putri sebagai wahana aktualisasi diri perempuan. Menurutnya, ajaran moral dalam teks bukan sekadar alat kontrol sosial, tetapi sarana pembentukan kepribadian dan kesempurnaan batin. Perempuan yang sabar, setia, dan mengendalikan diri bukan berarti terkungkung, melainkan sedang menjalani proses self-cultivation yakni latihan spiritual menuju kesempurnaan moral. Berdasarkan kajian terhadap penelitian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa Serat Wulang Reh Putri telah banyak ditelaah dari perspektif moralitas, simbolisasi perempuan Jawa, dan aktualisasi diri. Ketiganya memperkaya pemahaman tentang dimensi sosial dan pedagogis Serat Wulang Reh Putri, tetapi belum ada yang mengkaji teks ini dari perspektif filsafat cinta Erich Fromm. Kebaruan penelitian ini terletak pada upayanya mengaitkan ajaran-ajaran pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri dengan Filsafat Cinta Fromm. Pendekatan ini menghadirkan pembacaan baru yang tidak hanya menempatkan teks sebagai pedoman moral tradisional, melainkan sebagai refleksi eksistensial tentang seni mencintai dalam perspektif humanistik. Dengan demikian, penelitian ini menawarkan sintesis antara spiritualitas Jawa dan pemikiran cinta Setyawan. AuSimbolisasi Wanita Jawa Utama dari Perspektif Pakubuwono X. Ay Anggraeni dan Suyanto. AuAjaran tentang Bakti Istri kepada Suami dalam Serat Wulang Reh Putri. Ay Afif Syaiful Mahmudin. AuWomenAos Self Actualization in The Family (Moral Teaching in Serat Wulang Reh Putr. ,Ay Nazhruna: Jurnal Pendidikan Islam Vol. No. : hlm. 180Ae194, https://doi. org/10. 31538/nzh. Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri. Mahdi Mubarok. LuluAoul Khadiroh. Hanaya Sabila Anjani. Himmatul Aliyah. Wahib Irsadul Bahtiar modern Fromm, menghadirkan dialog lintas budaya yang memperluas horizon pemahaman terhadap cinta, etika, dan relasi pernikahan dalam khazanah sastra Nusantara. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Pendekatan ini dipilih karena objek penelitian berupa teks sastra klasik Jawa, yaitu Serat Wulang Reh Putri, yang berisi nasihat-nasihat tentang pernikahan. Hermeneutika memungkinkan peneliti untuk menafsirkan makna yang terkandung dalam teks, sekaligus mengaitkannya dengan teori cinta Erich Fromm. Basis operasional dari penelitian ini adalah analisis teks . extual analysi. yang berfokus pada pemahaman mendalam atas isi, simbol, serta nilai-nilai yang terkandung dalam Serat Wulang Reh Putri. Peneliti menggunakan teknik pembacaan berulang . lose readin. untuk menemukan pesan moral dan nasihat pernikahan yang tersirat maupun tersurat. Selain itu, penelitian serat tersebut dianalisis secara konseptual dengan menggunakan 4 elemen cinta menurut Erich Fromm . are, responsibility, respect, knowledg. Penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan utama. Pertama, tahap pengumpulan data dengan menelaah teks Serat Wulang Reh Putri sebagai sumber primer, serta literatur pendukung yang berkaitan dengan Erich Fromm dan filsafat cinta. Kedua, tahap analisis, yaitu menguraikan pesan-pesan pernikahan dalam teks, lalu menghubungkannya dengan teori cinta Fromm. Ketiga, tahap interpretasi, yaitu memberikan pemaknaan filosofis dengan menunjukkan relevansi ajaran Serat Wulang Reh Putri dengan gagasan cinta menurut Fromm. Dengan demikian, metode penelitian ini tidak hanya menjelaskan isi teks, tetapi juga menggali makna filosofis yang lebih dalam. Metode kualitatif hermeneutik memungkinkan penelitian ini menemukan relevansi antara tradisi lokal Jawa dengan pemikiran modern tentang cinta, sehingga menghasilkan pemahaman yang kaya dan kontekstual. HASIL DAN PEMBAHASAN Serat Wulang Reh Putri adalah karya sastra Jawa yang ditulis oleh Raja Pakubuwono X dari Keraton Surakarta menggunakan aksara Jawa. Karya ini disebut serat karena memuat beberapa bagian yang berisi puisi tradisional Jawa . embang macapa. Hal ini tentu berbeda dengan karya sastra Jawa lain seperti kidung atau suluk yang hanya memuat satu jenis tembang macapat saja. Adapun di dalam Serat Wulang Reh Putri terdapat 4 jenis/metrum tembang macapat, yaitu tembang macapat mijil, asmarandana, dhandhanggula, dan kinanthi. Apabila dirinci lebih detail, dari Sasiana Gilar Apriantika. AuKonsep Cinta Menurut Erich Fromm. Upaya Menghindari Tindak Kekerasan dalam Pacaran,Ay DIMENSIA: Jurnal Kajian Sosiologi Vol. No. : hlm. 44Ae60, https://doi. org/10. 21831/dimensia. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 103-115 masing-masing pada adalah sebagai berikut, pupuh mijil terdapat 10 pada atau bait, asmarandana 17 pada atau bait, dhandhanggula 19 pada atau bait, dan kinanthi 31 pada atau bait. Untuk memahami pesan yang terkandung di dalam teks klasik ini secara lebih dalam, digunakan pendekatan hermeneutika, yakni metode penafsiran yang berupaya menggali makna di balik teks dengan mempertimbangkan konteks historis, budaya, dan maksud pengarang. Hermeneutika memungkinkan kita melihat bahwa ajaran dalam Serat Wulang Reh Putri tidak sekadar dogma moral yang kaku, melainkan ekspresi budaya dan pemikiran etis yang bisa ditafsir ulang sesuai perkembangan zaman. Dalam konteks ini, tafsir hermeneutika membuka ruang dialog antara nilai-nilai tradisional Jawa dan konsep cinta modern yang ditawarkan oleh Erich Fromm. Teori Cinta Erich Fromm Erich Fromm dalam karyanya The Art of Loving menjelaskan bahwa cinta bukanlah emosi yang muncul secara spontan, melainkan sebuah seni yang membutuhkan pengetahuan, disiplin, dan tanggung jawab. Cinta yang matang didefinisikan sebagai kesatuan antara dua individu yang terjadi tanpa mengorbankan integritas dan individualitas masing-masing pihak. Secara substantif, cinta merupakan kekuatan aktif yang memiliki fungsi sebagai penghubung dan pemersatu, yang mengatasi batasan serta meruntuhkan pemisah antarmanusia. Konsep cinta memuat paradoks esensial: ia memungkinkan adanya penyatuan dua insan menjadi satu . sekaligus mempertahankan dualitas . etap sebagai dua individ. Makna cinta sejati tidak semata-mata terbatas pada hubungan romantis. Sebaliknya, cinta adalah sikap batin dan orientasi karakter yang mencerminkan cara seseorang menjalin hubungan dengan dunia di sekitarnya. Cinta termanifestasi sebagai sebuah bentuk ketulusan dan kerelaan hati untuk menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. 14 Fromm berpendapat bahwa cinta bukanlah sekadar pemenuhan kewajiban moral atau perilaku etis, melainkan perwujudan dari kemampuan diri yang autentik. Ia menggunakan metafora seniman . : tindakan mencintai menjadi sarana bagi individu untuk menampilkan kekuatan dan kedalaman dirinya, layaknya seorang pelukis yang menyalurkan jiwanya ke dalam karya seni. Setyawan. AuSimbolisasi Wanita Jawa Utama dari Perspektif Pakubuwono X. Ay Melati Puspita Loka dan Erba Rozalina Yulianti. AuKonsep Cinta: Studi Banding Pemikiran Ibnu Qayyim Al- Jauziyyah dan Erich Fromm,Ay Syifa Al-Qulub Vol. No. : hlm. 72Ae84, https://doi. org/10. 15575/saq. Vivi Ariani Bouti dan Anas Ahmadi. AuRepresentasi Cinta dalam Novel Then & Now Karya Arleen Amidjaja: Kajian Psikologi Erich Fromm,Ay Sapala Vol. No. : 68Ae84. Arum Puspita Arini. AuKonsep cinta dalam perspektif Erich Fromm sebagai refleksi menjalani kehidupan asmara,Ay Vol. No. 01 (Mei 2. : hlm. 301Ae312. Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri. Mahdi Mubarok. LuluAoul Khadiroh. Hanaya Sabila Anjani. Himmatul Aliyah. Wahib Irsadul Bahtiar Cinta dimaknai sebagai tindakan aktif, bukan sekadar kondisi pasif. Frasa yang lebih tepat bukanlah "jatuh cinta," melainkan "berdiri teguh dalam cinta. " Inti dari hakikat cinta terletak pada gerak memberi dan berbagi, bukan pada penantian untuk menerima. Oleh karena itu, dalam konteks hubungan, cinta harus dipahami sebagai sebuah aktivitas memberi. Namun, menurut Fromm, pemberian ini tidak berbentuk materi, melainkan berasal dari ranah kemanusiaan yang lebih Ini termasuk memberikan bagian dari diri sendiri seperti kegembiraan, perhatian, pengertian, pengetahuan, tawa, kesedihan, dan segala aspek kehidupan batiniah kepada orang Cinta sebagai sebuah karakter aktif dalam individu, memiliki beberapa unsur-unsur dasar diantaranya adalah perhatian, tanggung jawab, rasa hormat dan pengetahuan. 17 Keempat elemen ini saling berkaitan dan membentuk dasar bagi hubungan cinta yang dewasa dan sehat. Dengan menggunakan kerangka ini, kita dapat menafsirkan kembali pesan-pesan dalam Serat Wulang Reh Putri agar lebih relevan dengan nilai-nilai hubungan modern yang menekankan kesetaraan dan kebebasan individu dalam cinta. Care (Perhatia. (Pupuh Mijil, bait . AuNora gampang babo wong alaki / luwih saking abot / kudu weruh ing tata titine / miwah cara-carane wong laki / lan wateke ugi / den awas den emut //Ay Terjemahan: AuTidak mudah bersuamikan laki-laki, sangat berat. harus tahu tatacara, juga caracara laki laki, dan wataknya juga. hati-hati dan selalu ingat. Ay18 Pada pupuh Mijil bait ke-2 tampak jelas bahwa nilai perhatian . menempati posisi penting dalam hubungan pernikahan. Petuah Paku Buana X kepada seorang istri agar Aukudu weruh ing tata titine, miwah cara-carane wong laki lan wateke ugiAy mengandung makna bahwa cinta dan keharmonisan rumah tangga tidak lahir hanya dari kepatuhan lahiriah, melainkan dari kesadaran batin, empati, dan kepekaan terhadap pribadi pasangan. Terjemahan kalimat Autidak mudah bersuamikan laki-laki, sangat beratAy menunjukkan bahwa menjadi seorang istri bukan sekadar menjalankan peran domestik, tetapi mengandung tanggung jawab moral dan emosional yang menuntut kematangan jiwa. Kesadaran akan beratnya peran ini menjadi wujud awal dari perhatian Fromm. Seni Mencintai. Apriantika. AuKonsep Cinta Menurut Erich Fromm. Upaya Menghindari Tindak Kekerasan dalam Pacaran. Ay Alang Alang Kumitir. AuSerat Wulang Reh Putri,Ay Alang Alang Kumitir, 2010, website: https://alangalangkumitir. com/2010/09/02/serat-wulang-reh-putri/. Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 103-115 seorang istri-sebuah pengakuan akan kompleksitas kehidupan bersama dan kesiapan untuk menghadapinya dengan kesungguhan, bukan karena keterpaksaan. Dalam pandangan Erich Fromm, care adalah ekspresi cinta yang aktif melalui kepedulian tulus terhadap kesejahteraan orang lain. Cinta yang sejati tidak berhenti pada perasaan, melainkan tampak melalui tindakan konkret untuk memahami, melindungi, serta membantu orang yang dicintai tumbuh menjadi dirinya sendiri. Bila dikaitkan dengan pesan dalam Serat Wulang Reh Putri, perhatian seorang istri terhadap suaminya bukan berarti tunduk tanpa nalar, melainkan upaya memahami suami secara mendalam meliputi karakter, cara berpikir, kebiasaan berkomunikasi, hingga bagaimana ia menghadapi persoalan hidup. Dengan demikian, care dalam konteks pernikahan bukan hanya kewajiban sosial atau bentuk kepatuhan pada norma, tetapi sebuah proses memahami manusia secara utuh dan membangun hubungan yang dilandasi kesadaran, empati, serta kasih yang nyata. Responsibility (Tanggung Jawa. (Pupuh Mijil. Bait . AuSapolahe yen wong amrih becik / den amrih karaos / pon-ponane kepoke ing tembe / nora kena anak lawan rabi / luput ngapureki / tan wande anempuh //Ay Terjemahan: AuSegala tingkah lakunya, jika orang itu menuju kebaikan, supaya dirasakan tujuannya, kalau suami tidak memberi maaf, kelak istri dan anak akan melakukan perbuatan yang tidak baik. Ay19 Dalam kutipan tersebut, nasihat dari Paku Buana X mengandung ajakan agar seorang suami memperlihatkan memiliki rasa tanggung jawab moral atas perilaku dan suasana batin yang dia ciptakan dalam keluarganya. Terjemahan tersebut Ausegala tingkah lakunyaAy, yang menunjukkan bahwa peran seorang suami bukanlah Sesutu yang sangat mudah, ini juga menunjukkan bahwa setiap perbuatan seorang suami memiliki dampak terhadap orang lain, terutama dalam lingkup keluarga. Responsibility di sini melibatkan terhadap tantangan yang dihadapi pasangan, bukan hanya menuntut suami terhadap beban tanggung jawab saja, tetapi juga seorang istri yang juga mendukung Keputusan dan tujuan Menurut fromm. Responsibility adalah elemen untuk menjadikan hubungan yang terjalin saling merasa tanggung jawab untuk memberikan dan membagi kesedihan dan kebahagiaan, serta Kumitir. AuSerat Wulang Reh Putri. Ay Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri. Mahdi Mubarok. LuluAoul Khadiroh. Hanaya Sabila Anjani. Himmatul Aliyah. Wahib Irsadul Bahtiar saling mendukung dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Dari kutipan di atas, bisa dilihat adanya ajakan rasa tanggung jawab suami terhadap keluarganya Auluput ngapureki tan wande anempuhAy suami yang bertingkah laku baik dan memaafkan, maka tujuan kebaikan itu juga akan dirasakan oleh seluruh anggota keluarganya. Namun, jika suami tidak tanggung jawab secara moral dengan tidak memberi maaf dan menyimpan kebencian maka bisa menimbulkan dampak negatif bagi istri dan anak-anak, sehingga mereka nantinya akan bisa meniru atau terpengaruh untuk melakukan perbuatan yang tidak baik. Respect (Rasa horma. (Pupuh Asmarandana, bait: . AuIku wajib kang rinukti / apan jenenging wanita / kudu eling paitane / eling kareh ing wong lanang / dadi eling parentah / nastiti wus duwekipun / yen ilang titine liwar //Ay Terjemahan: AuItu kewajiban yang harus dipelihara, karena hanya wanita, harus bermodalkan eling, ingat akan wewenang laki-laki, jadi ingat perintah, berhati hari sudah menjadi miliknya, apabila tidak berhati hati maka rusaklah. Ay20 Intisari makna di Serat Wulang Reh Putri. Pupuh Asmarandana, bait: 4 adalah: Seorang Wanita harus menjaga kehormatannya serta harus ingat kodratnya selaku seorang wanita yang butuh bimbingan dari laki-laki, seorang wanita penting mempertimbangkan nasihat dari laki-laki jika mengambil keputusan, ingat arahan atau bimbingan dari laki-laki serta berhati-hati, jika tidak hatihati maka akan AuliwarAy melewati batas-batas. Bait ke-4 Pupuh Asmarandana dari Serat Wulang Reh Putri Mengajarkan wanita harus ingat kodratnya selaku seorang wanita bahwa menjiwai nilai AuelingAy . AunastitiAy . serta menjaga kewajiban moral untuk struktur rumah tangga, menurut Erich Fromm Cinta sebagai sebuah karakter aktif dalam individu, dalam salah satu unsur dasarnya yaitu Respect (Rasa horma. pada dasarnya kapasitas partner tanpa upaya mendominasi. Kutipan Aueling paitaneAy . ntuk patu. yaitu mengajarkan wanita untuk tanggung jawab serta sadar identitas dirinya, akan tetapi supaya mengetahui batasannya sendiri dalam hubungan suami istri. Erich From menegaskan bahwa pada dasarnya, respect tidak boleh diartikan sebagai takut atau tunduk buta, melainkan sebagai kemampuan untuk melihat dan membiarkan pasangan berkembang sebagai dirinya sendiri. Rasa hormat sejati dalam cinta adalah aktif mendukung Kumitir. AuSerat Wulang Reh Putri. Ay Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 103-115 kebebasan eksistensial pasangan serta mengakui haknya untuk menjadi otentik yang ditujukan tidak sekadar menuntut perempuan untuk patuh atau tunduk, melainkan sadar serta ingat, ingat kodratnya selaku seorang wanita penuh akan hak, posisi dan peranannya sebagai partner seutuhnya bagi laki-laki, sama halnya respect kepada suami diartikan sebagai respect pada kepemimpinan, namun tidak menghilangkan tuturan istri. Knowledge (Pengetahua. (Pupuh Dhandhanggula. Bait . AuMarma babo dibegjanireki / sinaruwe mring prabu Jenggala / pira-pira ing maripe / ing Jawa nggoning semu / wit sasmita wingiting janmi / babo dipangupaya/wiweka weh sadu / mungguhing paniti krama / wong alaki tadhah sakarsaning laki / padhanen lan jawata //Ay Terjemahan: AuBahwa keberuntungan itu, diperhatikan oleh Raja Jenggala, berapa banyak saudara ipar, di Jawa tempat tersamar, dan isyarat juga sampai di luar, berusaha memimpin, berhati-hati pada orang suci, bahwa di dalam ajaran tata krama, orang berumah tangga hendaknya menurut laki-laki, samakanlah dengan dewa. Ay21 Bait ketiga dari Serat Wulangreh Putri mengandung ajaran moral tentang bagaimana seorang perempuan harus bersikap dalam kehidupan rumah tangga. Dalam bagian Auwong alaki tadhah sakarsaning laki, padhanen lan jawataAy, disebutkan bahwa seorang istri hendaknya menghormati dan mengikuti suaminya dengan kebijaksanaan, serta memperlakukan suaminya dengan penuh hormat sebagaimana menghormati dewa. Makna dari ajaran ini bukan sekadar menuntut kepatuhan buta, melainkan menekankan pentingnya pengetahuan dan pemahaman dalam menjalankan peran suami istri agar tercipta keharmonisan. Nilai pengetahuan . di sini berarti bahwa kehidupan pernikahan tidak bisa dijalani hanya dengan cinta emosional, tetapi juga dengan pemahaman mendalam terhadap pasangan dan diri sendiri. Dalam konteks budaya Jawa, pemahaman ini mencakup kemampuan membaca tanda-tanda, memahami perasaan, dan menyesuaikan diri secara halus dengan watak pasangan Auwit sasmita wingiting janmiAy memahami isyarat halus dari sesama manusia. Seseorang yang berumah tangga perlu memiliki kebijaksanaan Auwiweka weh saduAy, yaitu kemampuan membedakan mana yang benar dan mana yang salah berdasarkan pengetahuan batin, bukan sekadar Kumitir. AuSerat Wulang Reh Putri. Ay Menggali Nasihat Pernikahan dalam Serat Wulang Reh Putri. Mahdi Mubarok. LuluAoul Khadiroh. Hanaya Sabila Anjani. Himmatul Aliyah. Wahib Irsadul Bahtiar Pandangan ini sangat sejalan dengan pemikiran Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving . Fromm menegaskan bahwa cinta sejati tidak akan tumbuh tanpa pengetahuan. Menurutnya, mencintai seseorang bukan hanya perasaan, melainkan keputusan dan kesadaran Artinya, pengetahuan adalah dasar bagi cinta yang dewasa. seseorang harus benar-benar mengenal pasangannya kelebihan, kekurangan, dan jati dirinya agar hubungan itu bisa bertahan. Fromm juga menjelaskan bahwa pengetahuan dalam cinta berarti kemampuan memahami secara empatik, bukan hanya secara rasional. Dalam pernikahan, hal ini tampak ketika suami istri berusaha saling memahami tanpa menghakimi, mendengarkan dengan hati, dan belajar dari pengalaman satu sama Ajaran Serat Wulangreh Putri juga menggambarkan hal yang sama: rumah tangga yang bahagia lahir dari pengetahuan diri, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk menempatkan cinta dalam kerangka moral dan spiritual. Pengetahuan menjadi dasar agar cinta tidak buta, agar hubungan suami istri tidak didominasi oleh emosi semata, tetapi oleh pengertian dan kesadaran yang matang. KESIMPULAN Penelitian terhadap Serat Wulang Reh Putri melalui sudut pandang filsafat cinta Erich Fromm memperlihatkan bahwa ajaran tentang pernikahan dalam karya tersebut tidak hanya mengandung nilai moral dan budaya, tetapi juga memiliki makna filosofis serta humanistik. Hal ini sejalan dengan gagasan Fromm yang memandang cinta sebagai suatu seni yang membutuhkan kesadaran, tanggung jawab, serta kedewasaan spiritual. Empat unsur cinta yang dikemukakan Fromm, yaitu care . , responsibility . anggung jawa. , respect . asa horma. , dan knowledge . , tampak dalam ajaran Paku Buwana X kepada perempuan Jawa agar memahami pasangan dengan empati, menjaga keharmonisan rumah tangga melalui kesadaran moral, saling menghormati tanpa meniadakan peran masing-masing, dan membangun relasi berdasarkan kebijaksanaan serta pemahaman diri. Oleh karena itu. Serat Wulang Reh Putri dapat dipahami sebagai ajaran tentang pernikahan yang bukan hanya sekadar ikatan sosial, melainkan perjalanan spiritual menuju cinta yang matang, aktif, dan bertanggung jawab, sekaligus relevan sebagai pedoman etis bagi manusia modern dalam membentuk keluarga yang penuh kasih, sadar, dan Al-Isnad: Journal of Islamic Civilization History and Humanities Vol. 07 No. 01 Juni 2026 | 103-115 REFERENSI