Journal of Applied Multimedia and Networking (JAMN) Vol. No. Juli 2025, pp. e-ISSN: 2548-6853AU Pembuatan Animasi 2D "Nampak Gonggong" sebagai Media Pengenalan Batik Gonggong Nurul Janah*. Laura Lumombo**. Yusuf Rizky Nur Cahyono*** *Animasi. Politeknik Negeri Batam **Animasi. Politeknik Negeri Batam *** Multimedia Engineering Technology Program. Politeknik Negeri Batam Article Info Article history: Received Jul 15th, 2025 Revised Jul 21st, 2025 Accepted Jul 26th, 2025 Kata kunci: Animasi 2D Batik gonggong Cut-out animation Metode penciptaan ABSTRACT This study aims to introduce and preserve gonggong batik as part of the local cultural heritage of the Riau Islands through 2D animation. The problem addressed is the declining interest of the younger generation in gonggong batik, which is caused by a lack of promotion and understanding of its cultural value. This research employs a creation-based method, beginning with visual observation of gonggong batik motifs and the collection of relevant literature data. The production process includes pre-production . oncept development, scriptwriting, storyboarding, character design, and batik desig. , production . reation of visual assets, rigging, animation using cut-out animation techniques, and addition of visual effect. , and post-production . ompositing, editing, color correction, and addition of audi. The final result is a 1-minute-14-second animated trailer in Full HD resolution, published on YouTube. Through 2D animation that combines visual strength and storytelling, this work is expected to serve as an engaging educational tool supporting efforts to preserve Gonggong batik, while also contributing to the development of local cultural promotion media. Corresponding Author: Yusuf Rizky Nur Cahyono. Multimedia Engineering Technology Program. Batam State Polytechnic. Jl. Ahmad Yani. Tlk. Tering. Kec. Batam Kota. Kota Batam. Kepulauan Riau 29461. Indonesia. Email: yusufrizky153@polibatam. PENDAHULUAN Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang dikenal hingga mancanegara. Di antara keberagaman batik di Indonesia, masing-masing motif atau corak batik memiliki filosofinya tersendiri . Salah satu daerah yang memiliki motif batik dengan keunikan tersendiri adalah Kepulauan Riau. Kepulauan Riau memiliki beberapa motif batik, namun yang paling dikenal yaitu batik gonggong, dengan ciri khas corak siput gonggong pada Namun, di wilayah Batam, tingkat konsumsi batik gonggong mengalami penurunan berdasarkan data dari Dekranasda Kota Batam dari tahun 2019 sampai 2021 . Selain diakibatkan oleh masalah kualitas dari batik yang diproduksi, kurangnya pemasaran produk menyebabkan rendahnya tingkat kesadaran dan perhatian masyarakat terhadap batik gonggong. Karena banyaknya motif batik dari berbagai daerah, masyarakat seringkali membeli batik tanpa mengetahui asal-usulnya, khususnya di kalangan remaja . Untuk meningkatkan kembali publisitas batik gonggong, dilakukan upaya untuk menarik perhatian publik dengan mengikuti perkembangan tren masa kini. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui pemanfaatan media audio-visual berupa animasi. Selain sebagai media hiburan, animasi juga digunakan untuk penyampaian pesan maupun sebagai media untuk mempromosikan sesuatu. Animasi memiliki tampilan yang mudah untuk dipahami oleh setiap kalangan. Saat ini, video animasi merupakan salah satu media promosi yang efektif untuk berbagai produk di kalangan masyarakat umum . Melalui storytelling yang kuat, peningkatan minat dan pemahaman masyarakat dapat dicapai. Visualisasi http://jurnal. id/index. php/JAMN JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU dari storytelling yang kuat dapat mendukung penyampaian pesan dan mampu mempengaruhi suasana hati audiens . Animasi 2D dipilih karena dapat menawarkan visual yang kaya, dinamis, serta mampu memikat penonton dengan gerakan, warna, dan efek yang sulit dicapai oleh gambar diam atau teks. Animasi juga memudahkan visualisasi konsep dan ide yang rumit . Secara teknis, produksi animasi 2D relative lebih sederhana dan tidak memerlukan perangkat keras dengan spesifikasi tinggi . Salah satu teknik yang dapat digunakan dalam animasi 2D adalah cut-out animation. Dengan memanfaatkan berbagai lapisan terpisah sesuai bagian-bagiannya, cut-out animation dapat mempermudah pekerjaan animator, mengurangi penggunaan media fisik, serta meningkatkan efisiensi waktu produksi animasi . Perbedaan utama animasi cut-out dengan animasi frame by frame terdapat pada penggunaan rigging yang membuat proses pembuatan animasi yang memungkinkan untuk menganimasikan hanya pada bagian-bagian tertentu dalam suatu objek . Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan animasi 2D bertema batik gonggong dengan visual yang menarik guna meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap kekayaan budaya lokal tersebut. Berdasarkan hal tersebut, pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana merancang konsep dan cerita animasi yang dapat menonjolkan keunikan Batik Gonggong, serta bagaimana penerapan teknik cut-out animation menggunakan software Moho Animation dalam proses produksi animasi 2D ini. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan metode penciptaan produk dengan tahapan meliputi pengumpulan data, penciptaan seni, dan analisis data. Penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi dalam meningkatkan apresiasi terhadap budaya Batik Gonggong dan mendorong kreativitas dalam pemanfaatan media informasi berbasis animasi 2D. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penciptaan berdasarkan pada penelitian . Proses penciptaan diawali dengan pengumpulan data untuk mendapatkan ide utama agar karya bisa tercipta. Ide utama muncul dari upaya pengenalan kembali batik gonggong kepada generasi muda dengan cara yang menarik dan mudah diterima, yaitu melalui media animasi. Untuk itu, dilakukan observasi terhadap bentuk dan filosofi motif batik gonggong serta nilai-nilai budaya Melayu yang melekat di dalamnya. Data acuan diperoleh melalui dokumentasi visual batik dan studi literatur terkait animasi dan pelestarian budaya. Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap data tersebut untuk menentukan elemen-elemen visual dan naratif yang akan digunakan dalam animasi. Observasi juga dilakukan untuk menentukan gaya animasi dan desain karakter yang akan digunakan. Serangkaian proses ini dapat dilihat seperti pada Gambar 1. Gambar 1. Metode penelitian penciptaan animasi AuNampak GonggongAy Sumber: dokumentasi pribadi Setelah itu, dilakukan proses penciptaan berupa proses pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi. Tahap pra-produksi merupakan langkah awal yang sangat penting dalam sebuah proyek animasi, di mana proses dimulai dengan pengembangan ide dan riset yang mendalam terkait dengan tema batik gonggong. Dalam tahap ini, ide yang telah disepakati bersama tim kemudian dikembangkan lebih lanjut untuk menciptakan naskah produksi yang jelas dan terstruktur. Setelah naskah produksi selesai, langkah berikutnya adalah visualisasi naskah dalam bentuk storyboard, yang menggambarkan secara rinci alur cerita, komposisi visual, dan urutan adegan. Storyboard yang telah disusun kemudian dirangkai menjadi sebuah animatic, yang berfungsi sebagai gambaran kasar dari animasi yang akan diproduksi. Animatic ini menjadi dasar dalam penyesuaian suara . oice ove. yang dilakukan pada tahap ini, dengan tujuan agar suara karakter dapat disesuaikan dengan tepat pada adegan animasi. Proses rekaman suara ini Pembuatan Animasi 2D "Nampak Gonggong" sebagai Media Pengenalan Batik Gonggong (Jana. e-ISSN: 2548-6853 juga digunakan untuk merancang lipsync yang akurat, yang nantinya akan menjadi panduan utama pada tahap produksi animasi. Kemudian tahap produksi, tahap ini merupakan fase yang sangat krusial, yang mencakup berbagai kegiatan teknis dan artistik. Tahap pertama dalam produksi adalah pembuatan aset, di mana aset karakter dibuat dengan memisahkan setiap bagian tubuh, seperti kepala, badan, tangan, kaki, dan wajah. Pemisahan ini memungkinkan pergerakan tiap elemen karakter secara fleksibel dan presisi. Selain aset karakter, pembuatan aset background juga dilakukan dengan memisahkan setiap elemen ke dalam layer-layer terpisah. Hal ini memungkinkan penerapan efek parallax yang akan memberikan kedalaman dan pergerakan latar belakang saat kamera bergerak. Setelah pembuatan aset selesai, langkah selanjutnya adalah rigging, yaitu proses pemberian tulang atau sistem rig pada karakter, yang memungkinkan kontrol terhadap gerakan setiap bagian tubuh karakter. Proses rigging ini penting untuk memastikan gerakan karakter tetap natural dan konsisten dengan alur cerita. Tahapan terakhir dalam produksi adalah animasi, yang merupakan inti dari seluruh proses. Pada animasi 2D cut out, animasi dilakukan dengan menggerakkan rig pada frame tertentu, yang serupa dengan teknik animasi 3D. Teknik ini memungkinkan penciptaan gerakan karakter yang halus dan ekspresif sesuai dengan kebutuhan narasi. Setelah tahapan produksi selesai, proyek animasi memasuki pasca-produksi, yang mencakup proses compositing dan editing. Pada tahap compositing, seluruh elemen animasi yang terdiri dari karakter, background, dan audio digabungkan untuk membentuk satu kesatuan visual yang utuh. Proses ini mencakup penyesuaian posisi dan timing agar seluruh elemen animasi terlihat selaras dan mendukung cerita yang disampaikan. Setelah compositing, tahap editing dilakukan untuk mengoptimalkan hasil akhir melalui penyesuaian alur cerita, tempo animasi, serta penambahan efek visual yang diperlukan. Pada tahap ini pula, dilakukan koreksi warna untuk memberikan nuansa visual yang konsisten dan mendukung atmosfer cerita. Efek tambahan, seperti pencahayaan dan efek khusus lainnya, diterapkan untuk meningkatkan kualitas visual serta memperkuat kesan emosional yang ingin disampaikan kepada penonton. Pada penelitian yang menjadi referensi . , penelitian tersebut menerapkan tahap pengujian produk sebelum publikasi, namun pada penelitian ini tidak melalui tahap tersebut karena karya yang dihasilkan berupa Keberhasilan karya animasi dinilai berdasarkan respon dan tanggapan dari audiens setelah karya Oleh karena itu, setelah proses produksi selesai, karya langsung dipublikasikan melalui platform YouTube sebagai media distribusi sekaligus sebagai sarana untuk memperoleh umpan balik dari penonton. Data respon audiens tersebut menjadi bagian penting dalam mengevaluasi hasil karya yang telah dibuat. Selain itu, akan dilakukan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dari karya animasi yang dihasilkan. HASIL PENELITIAN Hasil yang diperoleh merupakan luaran dari rangkaian tahapan yang telah dijelaskan dalam metode Produk akhir yang dihasilkan berupa trailer yang menampilkan cuplikan visual, karakter, dan alur cerita secara singkat. Trailer ini digunakan sebagai representasi awal untuk melihat respon audiens terhadap konsep dan kualitas visual yang telah dikembangkan. Observasi Budaya dan Motif Batik Gonggong Observasi dilakukan melalui pengumpulan referensi visual dari motif batik gonggong yang ditemukan pada produk-produk kerajinan lokal. Motif gonggong umumnya menampilkan bentuk siput laut khas Kepulauan Riau yang dipadukan dengan elemen laut lainnya seperti ombak, terumbu karang, dan flora laut. Pola yang digunakan bervariasi, mulai dari gaya geometris hingga organik, dengan warna dominan seperti biru laut, coklat tanah, serta warna-warna alami lainnya. Referensi tersebut menjadi dasar perancangan aset visual yang tetap menjaga keaslian nilai budaya lokal, sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan estetika animasi. Berdasarkan referensi yang dikumpulkan . ihat Gambar . , motif Batik Siput Gonggong Bunga Semayang dipilih sebagai acuan desain batik dalam animasi ini. JAMN Vol. No. Juli 2025: 68 Ae 78 JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU Gambar 2. Observasi motif batik gonggong dan penjelasannya Sumber: https://etnis. id/inspirasi-motif-batik-batam-dari-siput-gonggong-hingga-bunga-hutan/ Pra-Produksi Tahap pra-produksi mencakup seluruh proses perencanaan awal sebelum dimulainya produksi animasi. Kegiatan dalam tahap ini meliputi penyusunan ide cerita, penulisan naskah, pembuatan storyboard, serta perancangan karakter dan motif batik. Premis Premis cerita ini mengisahkan Anaya, seorang anak perajin batik yang menyukai batik gonggong sejak kecil ingin batik gonggong lebih dikenal seperti batik-batik lainnya. Sinopsis Sinopsis dari cerita ini yaitu. Anaya sudah menyukai batik gonggong sejak kecil. Karena itu. Anaya ingin batik gonggong lebih dikenal luas dengan selalu menyertakan batik gonggong di setiap perlombaan desain yang Namun ibu Anaya mengabarinya kalau omset batik gonggong buatan ibunya mengalami penurunan. Untuk mengatasi hal tersebut. Anaya ingin menarik minat anak muda untuk memakai batik gonggong. Anaya pun mendesain baju batik gonggong yang cocok dengan selera anak muda kemudian dipromosikan di media sosialnya, tidak lupa juga untuk menyertakan link yang langsung terhubung dengan online shop ibunya. Namun Anaya melihat banyak komentar yang ragu membeli karena mereka tidak yakin kalau batiknya akan cocok atau Maka dari itu. Anaya ingin meyakinkan orang-orang yang ragu untuk membeli batik gonggong dengan membuat filter baju batik gonggong yang dapat menampilkan visual baju batik pada orangnya langsung secara AU Naskah Naskah disusun sebagai dasar pengembangan cerita sekaligus menjadi acuan utama dalam pembuatan storyboard dan pengisian suara . oice ove. Naskah memuat dialog antar karakter, deskripsi suasana, aksi, dan informasi penting lainnya yang mendukung alur cerita. Naskah animasi "Nampak Gonggong" terdiri atas sembilan scene, dengan scene awal ditampilkan pada Gambar 3. Pembuatan Animasi 2D "Nampak Gonggong" sebagai Media Pengenalan Batik Gonggong (Jana. e-ISSN: 2548-6853 Gambar 3. Naskah cerita AuNampak GonggongAy Sumber: dokumentasi Pribadi AU Storyboard Storyboard disusun sebagai panduan visual awal sebelum dimulainya proses animasi. Setiap panel menggambarkan adegan secara berurutan untuk memudahkan proses produksi dalam memahami alur cerita, posisi karakter, serta arah gerakan kamera. Dalam proses ini, storyboard berperan dalam mengidentifikasi kebutuhan teknis dan visual tiap adegan serta menjadi acuan utama dalam tahap produksi animasi 2D. Storyboard untuk trailer dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4. Storyboard AuNampak GonggongAy Sumber: dokumentasi Pribadi AU Desain Karakter JAMN Vol. No. Juli 2025: 68 Ae 78 JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU Desain karakter bertujuan untuk menetapkan tampilan visual dari tokoh-tokoh yang akan muncul dalam Proses ini mencakup perancangan bentuk tubuh, proporsi, gaya busana, ekspresi wajah, dan gaya rambut yang disesuaikan dengan kepribadian serta peran masing-masing karakter dalam cerita. Hasil akhir dari tahap ini, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 5. Gambar 6, dan Gambar 7, digunakan sebagai acuan dalam pembuatan aset karakter untuk animasi cut-out 2D. Gambar 5. Desain karakter Anaya kecil. Anaya remaja, dan Ibu Anaya Sumber: dokumentasi Pribadi Gambar 6. Desain ekspresi karakter Anaya Sumber: dokumentasi Pribadi Pembuatan Animasi 2D "Nampak Gonggong" sebagai Media Pengenalan Batik Gonggong (Jana. e-ISSN: 2548-6853 Gambar 7. Desain karakter Anaya versi almamater dan kasual Sumber: dokumentasi Pribadi AU Desain batik Untuk mendukung visualisasi cerita "Nampak Gonggong" dalam memperkenalkan batik gonggong kepada masyarakat, dilakukan perancangan desain batik yang dimodifikasi berdasarkan referensi yang diperoleh dari tahap observasi. Desain batik yang mengacu pada motif Batik Siput Gonggong Bunga Semayang ditampilkan pada Gambar 8. Gambar 8. Desain batik gonggong Sumber: dokumentasi pribadi Produksi Tahap produksi merupakan proses utama dalam pembuatan animasi, di mana seluruh elemen yang telah disiapkan pada tahap pra-produksi diolah menjadi animasi bergerak. Kegiatan dalam tahap ini meliputi pembuatan aset latar . dan properti, penyusunan environment sesuai kebutuhan adegan, aset karakter dan rigging, animate, dan penambahan efek visual (VFX). JAMN Vol. No. Juli 2025: 68 Ae 78 JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU Aset environment dan properti Aset environment mencakup elemen visual yang berfungsi sebagai latar belakang atau pengisi ruang dalam Aset ini dapat berupa gambar latar statis maupun tersusun atas beberapa lapisan yang memungkinkan penerapan efek pergerakan kamera seperti parallax. Pembuatan aset environment bertujuan memperkuat atmosfer cerita melalui penguatan aspek visual. Hasilnya dapat dilihat pada Gambar 9 dan gambar 10. Gambar 9. Aset properti Sumber: dokumentasi pribadi Gambar 10. Aset kamar Anaya Sumber: dokumentasi pribadi AU Aset karakter Aset karakter dikembangkan berdasarkan desain yang telah ditentukan sebelumnya, sebagaimana ditampilkan pada Gambar 6, mencakup tampilan visual karakter dari berbagai sudut pandang, ekspresi wajah, serta pose-pose utama yang diperlukan dalam animasi. Aset ini dibuat dalam format potongan . ut-ou. dan digabungkan melalui proses rigging (Gambar . agar dapat dianimasikan secara efisien menggunakan perangkat lunak animasi 2D Moho Animation. Pembuatan Animasi 2D "Nampak Gonggong" sebagai Media Pengenalan Batik Gonggong (Jana. e-ISSN: 2548-6853 Gambar 11. Proses rigging Sumber: dokumentasi pribadi AU Penganimasian Pada tahap penganimasian, karakter dan elemen visual dihidupkan dengan pemberian gerakan berdasarkan arahan dari storyboard dan animatic. Setelah aset karakter melalui proses rigging, gerakan diatur menggunakan keyframe, disertai penambahan ekspresi wajah, sinkronisasi dialog . ip syn. , serta gerakan pendukung yang menyesuaikan emosi dan alur cerita. Salah satu contoh proses penganimasian dengan menggunakan rigging ditampilkan pada Gambar 12. Gambar 12. Proses penganimasian Sumber: dokumentasi pribadi AU Efek Visual (VFX) Pada tahap ini, dilakukan pembuatan efek visual (VFX) untuk mendukung suasana cerita. Gambar 13 menampilkan salah satu contoh efek berupa ombak pantai yang digunakan untuk memperkuat suasana lingkungan pesisir dalam animasi. JAMN Vol. No. Juli 2025: 68 Ae 78 JAMNAU e-ISSN: 2548-6853AU Gambar 13. Efek ombak pantai Sumber: dokumentasi pribadi Pasca-ProduksiAU Pada tahap pasca-produksi, seluruh hasil animasi yang telah selesai digabungkan dan dirapikan untuk membentuk karya akhir yang utuh, baik dari segi visual maupun audio. Tahap ini meliputi proses compositing dan Setiap adegan yang telah dianimasikan disusun kembali secara berurutan sesuai alur cerita, kemudian dilengkapi dengan elemen tambahan seperti efek suara, musik latar, dan penyesuaian transisi antar adegan. Gambar 14 menampilkan proses compositing yang dilakukan menggunakan perangkat lunak Adobe After Effects. Video yang dihasilkan berupa trailer animasi berdurasi 1 menit 14 detik, berformat MP4, dengan resolusi 1920x1080 Gambar 14. Proses compositing Sumber: dokumentasi pribadi Analisis Data Tahap analisis data dalam penelitian ini mencakup evaluasi terhadap karya yang dihasilkan serta publikasi Namun, karya yang dihasilkan dalam penelitian ini masih berupa trailer animasi sebagai bentuk representasi awal dari produk akhir yang direncanakan. Oleh karena itu, pengujian formal terhadap keseluruhan karya belum dapat dilakukan. Sebagai langkah awal, trailer animasi dipublikasikan melalui platform YouTube seperti pada Gambar 15, untuk memperkenalkan konsep dan visualisasi karya kepada khalayak. Publikasi ini juga dimaksudkan untuk memperoleh tanggapan awal dari audiens, yang dapat menjadi bahan evaluasi terhadap kualitas visual, karakter, serta daya tarik cerita yang disajikan dalam trailer. Data respon yang diperoleh dari publikasi tersebut menjadi Pembuatan Animasi 2D "Nampak Gonggong" sebagai Media Pengenalan Batik Gonggong (Jana. e-ISSN: 2548-6853 masukan penting untuk pengembangan karya ke tahap berikutnya, yakni penyelesaian animasi secara utuh. Selanjutnya, dilakukan pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) untuk melindungi hasil karya tersebut. Gambar 15. Publikasi karya melalui platform YouTube Sumber: https://youtu. be/jjSidPOD54Q AU KESIMPULAN Penelitian ini menghasilkan sebuah video trailer animasi 2D berjudul "Nampak Gonggong" yang bertujuan untuk memperkenalkan dan melestarikan batik gonggong kepada masyarakat luas. Animasi ini menggunakan teknik cut-out animation dan dirancang melalui metode penciptaan. Proses penciptaan meliputi observasi budaya serta pengkajian motif batik gonggong sebagai tahap pengumpulan data, yang kemudian dilanjutkan dengan proses penciptaan seni berupa pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi, serta tahap analisis data yang mencakup evaluasi terhadap karya yang dihasilkan serta publikasi karya melalui platform YouTube. Video trailer yang dihasilkan berdurasi 1 menit 14 detik, berformat MP4 dengan resolusi Full High Definition . 0x1080 pikse. Pada tahap pengembangan selanjutnya, karya ini diharapkan dapat direalisasikan menjadi sebuah video animasi utuh yang menyajikan cerita lengkap "Nampak Gonggong". Melalui media animasi 2D yang memiliki daya tarik visual dan kemampuan storytelling yang kuat, karya ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana promosi budaya, tetapi juga turut berkontribusi dalam memajukan industri animasi di Indonesia serta memperluas apresiasi terhadap warisan budaya lokal, khususnya batik gonggong. DAFTAR PUSTAKA