Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin KONTRIBUSI LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBINA KARAKTER SISWA DI MIS NURUL IKHWAN Arlina1. Khairunnisa2. Rizki Nazlia3. Dinda Valiza4. Fatih Alwi Haya Lubis5 e-mail: arlina@uinsu. id1, khairunnisaicha73@gmail. com2, rizkinazlia. 05@gmail. dindavaliza3008@gmail. com4, fatihalwihayalubis@gmail. (Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Meda. Abstract The purpose of this study is to determine how Islamic educational institutions influence MIS Nurul Ikhwan students' character development. A phenomenological approach is taken in the qualitative method's application. Techniques for gathering data include documentation, interviews, and observation. Data analysis was done using the reduction, presentation, and conclusion The study's findings demonstrate how MIS Nurul Ikhwan helps students develop their moral character through regular infaq exercises, teachers' kind interactions, the provision of sound guidance and role models, and the application of sanctions that are commensurate with the severity of infractions. Keywords: Integrity. Islamic Education, and Character. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana pengaruh lembaga pendidikan Islam terhadap perkembangan karakter siswa di MIS Nurul Ikhwan. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, wawancara, dan observasi. Analisis data dilakukan dengan proses reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MIS Nurul Ikhwan berperan dalam membentuk karakter moral siswa melalui kegiatan infaq harian, interaksi positif antara guru dan siswa, bimbingan serta teladan yang baik, dan penerapan sanksi yang sesuai dengan pelanggaran yang Kata Kunci: Kontribusi. Pendidikan Islam. Karakter. Pendahuluan Pendidikan karakter di sekolah sangatlah penting agar generasi penerus memiliki dasar yang kuat untuk menghadapi tantangan dalam era global saat ini. Pendidikan karakter bukan hanya tentang pembelajaran sepanjang hayat, tetapi juga tentang membentuk individu yang dapat berperan positif dalam berbagai konteks kehidupan, baik sebagai individu, anggota keluarga, warga negara, maupun warga dunia. Pembangunan karakter individu merupakan hasil dari interaksi dengan lingkungan sejak lahir, termasuk interaksi dengan keluarga, teman sebaya, guru, dan lingkungan sekitarnya. Kemampuan seseorang untuk mengembangkan sikap, nilai, dan kedewasaan didasarkan pada karakternya, yang dibentuk oleh orang-orang di lingkungan terdekatnya sejak lahir, orangorang yang berinteraksi dengannya, para pendidik, dan pemerintah setempat. Kemampuan anak. Tutu Ningsih. AuPERAN PENDIDIKAN ISLAM DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA DI ERA REVOLOSI INDUSTRI 4. 0 DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI 1 BANYUMAS,Ay INSANIA Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan 24, no. , https://doi. org/10. 24090/insania. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin baik yang berasal dari kemampuan kognitif, afektif, maupun motorik, dapat menjadi fondasi bagi perkembangan karakternya. 2 Menurut penelitian Yuliani. Harun, dan Yusrizal 3, perkembangan karakter anak dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, sekolah, dan dunia luar yang meliputi bermain, les, dan pengembangan bakat. Dalam hal pendidikan, sekolah memainkan peran penting dalam membentuk moral dan kepribadian warga negara. 4 Sumber daya yang cukup di lembaga pendidikan dapat membantu orang mengatasi berbagai rintangan dalam hidup, termasuk kemerosotan moral. Evolusi pendidikan Islam sebagai sebuah sistem tetap menjadi subjek studi yang menarik bagi para pendidik. Ini adalah cara masyarakat mengekspresikan kesadaran dan kekhawatiran mereka tentang kondisi obyektif lembaga pendidikan Islam saat ini. Dapat disimpulkan bahwa secara kelembagaan yang dimaksud di sini adalah lembaga-lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan kementerian agama, seperti madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi agama Islam, meskipun masih terdapat ketidaksepakatan mengenai batasan pendidikan Islam. Pendidikan karakter telah menjadi topik hangat di dunia pendidikan akhir-akhir ini. Tidak mengherankan jika pendidikan karakter telah menjadi narasi baru dalam pendidikan nasional, karena karakter bangsa biasanya dihasilkan oleh proses sosial politik dan nasional. 7 Hal ini dapat meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya mencari terobosan-terobosan baru untuk membina dan mengembangkan karakter siswa sebagai generasi penerus bangsa. 8 Pendidikan di Indonesia telah mengalami kemerosotan, terutama dalam hal moralitas. Anak-anak bangsa menjadi kurang berkembang secara moral karena sejumlah faktor, termasuk meningkatnya perilaku anarkis, perkelahian antarwarga, pergaulan bebas, korupsi, kriminalitas, kerusakan lingkungan, dan 2 Ida Windi Wahyuni and Ary Antony Putra. AuKontribusi Peran Orangtua Dan Guru Dalam Pembentukan Karakter Islami Anak Usia Dini,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah 5, no. : 30Ae37, https://doi. org/10. 25299/al-thariqah. 3 Ratna Yuliani. Cut Zahri Harun, and Yusrizal. AuThe Positive Influence of Satisfaction and Workload on Teachers Performance,Ay Journal of Education Research and Evaluation 6, no. , https://doi. org/10. 23887/jere. 4 Wolfgang Althof and Marvin W. Berkowitz*. AuMoral Education and Character Education: Their Relationship and Roles in Citizenship Education,Ay Journal of Moral Education 35, no. 4 (December 2. : 495Ae518, https://doi. org/10. 1080/03057240601012204. 5 Siti Ekowati Rusdini. Maman Rachman, and Eko Handoyo. AuPELAKSANAAN INTERNALISASI KEJUJURAN DALAM PENDIDIKAN ANTIKORUPSI DI SMP KELUARGA KUDUS,Ay Journal of Educational Social Studies 5, 1 . , https://doi. org/10. 15294/JESS. V5I1. 6 Afida. 7 I Nyoman Kiriana. AuIMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI DHARMA AGAMA DAN DHARMA NEGARA,Ay Jurnal Ilmu Agama: Mengkaji Doktrin. Pemikiran Dan Fenomena Agama 18, no. https://doi. org/https://doi. org/10. 19109/jia. 8 Yasmin and Nur Asyiah. AuStrategi Guru Dalam Pembentukan Karakter Jujur Peserta Didik Di SD,Ay Qalam: Jurnal Ilmu Kependidikan 11, no. : 28Ae34. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin perilaku lain yang merupakan tanda-tanda masalah dalam pembangunan karakter bangsa. Berdasarkan hasil pengamatan awal, peneliti menemukan beberapa permasalahan terkait dengan karakter siswa di MIS Nurul Ikhwan, diantaranya masih banyak siswa yang kurang disiplin, siswa yang bertutur kata tidak sopan meskipun kepada sesama teman, emudian masih ada siswa yang mencontek pada saat ujian, dan sebagainya. Terkait dari permasalah yang ada, peneliti mengangkat sebuah judul AuKontribusi Lembaga Pendidikan Islam Dalam Membina Karakter Siswa di MIS Nurul IkhwanAy guna meneliti lebih dalam dengan terkait permasalahan yang ada serta untuk mengetahui bagaimana kontribusi madarasah menangi hal tersebut. Kajian Teori Kontribusi Lembaga Pendidikan Islam Dalam istilah bahasa Inggris, kontribusi berasal dari kata contribute, contribution yang berarti keikutsertaan, keterlibatan, melibatkan diri maupun sumbangan. Soekanto . mendefinisikan kontribusi ialah peranan, ikut serta, atau memberikan sesuatu baik itu berupa ide, tenaga dan lain sebagainya. 10 Sedangkan Anne Ahira mendefinisikan kontribusi sebagai keterlibatan atau keikutsertaan seseorang baik kontrisbusi yang bersifat sebuah tindakan yang memberikan dampak positif atau negatif, kontribusi yang bersifat materi seperti memberikan bantuan berupa uang, makanan dan lainnya, kontribusi yang bersifat pemikiran yang membantu dalam bentuk penyaluran ilmu pengetahuan atau ide, dan kontribusi yang bersifat profesionalisme yang disalurkan melalui keterampilan. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kontribusi ialah peranan, ikut andil, baik berupa sebuah tindakan, ide, masukan, materi dan sebagainya yang dilakukan seseorang guna mencapai suatu yang diharapkan. Sedangkan lembaga pendidikan islam adalah sebuah konsepsi sistem peraturan yang murni terdiri dari berbagai elemen seperti kode, norma, dan ideologi, baik dalam bentuk tertulis maupun tidak, yang disertai dengan struktur material dan simbolik, serta melibatkan sekelompok individu yang terorganisir untuk mencapai tujuan tertentu. Tempat-tempat di mana kelompok ini menjalankan aturan-aturan tersebut meliputi masjid, sekolah, kuttab, dan lain sebagainya. 12 Singkatnya. Lembaga pendidikan Islam adalah tempat di mana pendidikan 9 Kiriana. AuIMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER SEBAGAI DHARMA AGAMA DAN DHARMA NEGARA. Ay 10 Soerjono Soekanto. Metodologi Research , 1st ed. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1. 11 Anne Ahira. Terminologi Kosa Kata (Jakarta: Aksara, 2. 12 Hasan Langgulung. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam (Bandung: Al-MaAoarif, 1. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin dilakukan dengan maksud untuk membentuk, mengembangkan, dan memperbaiki potensi serta perilaku individu agar menjadi lebih baik, dengan mengambil pedoman dari Al-Qur'an dan Hadis. Pada prinsipnya, manusia memiliki naluri baik dan budi pekerti yang baik, namun pengaruh dari beberapa faktor tertentu dapat mengubah sifat baik tersebut. Untuk itu kehadiran lembaga pendidikan Islam menjadi wadah untuk seseorang bisa memiliki kepribadian yang baik, terutama dalam hal kejujuran. Lembaga pendidikan Islam bertujuan untuk mengembangkan potensi individu, dimulai dari aspek kognitif, yaitu pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran Islam. Selanjutnya, melalui aspek afektif, tujuannya adalah menginternalisasi ajaran dan nilainilai agama ke dalam diri siswa sehingga mereka dapat memahami dan meyakininya. Proses ini diharapkan mendorong motivasi siswa untuk mengamplikasikan ajaran Islam, yang telah menjadi bagian dari diri mereka melalui proses psikomotorik. Dengan demikian, tujuan lembaga pendidikan Islam adalah membentuk individu Muslim yang bertaqwa dan memiliki akhlak mulia. Fungsi Lembaga Pendidikan Islam Lembaga pendidikan Islam berperan penting bagi masyarakat Muslim. Adapun beberapa fungsi utama dari lembaga pendidikan Islam: Pendidikan Agama: Salah satu fungsi utama lembaga pendidikan Islam adalah Pemberian pendidikan agama kepada siswa merupakan salah satu peran utama lembaga pendidikan Islam. Ini termasuk pengetahuan tentang sejarah Islam. Al-Qur'an. Hadits, tafsir, dan fiqh . ukum Isla. Melalui pembelajaran agama ini, siswa lebih mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan Akhlak dan Etika: Lembaga pendidikan Islam berupaya menanamkan dalam diri siswanya rasa moralitas dan etika yang kuat sejalan dengan ajaran Islam. Mereka ditanamkan nilai-nilai seperti kejujuran, akuntabilitas, pengendalian diri, kesabaran, dan Ali Miftakhu Rosad. AuIMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER MELALUI MANAGEMEN SEKOLAH,Ay Tarbawi: Jurnal Keilmuan Manajemen Pendidikan 5, no. 02 (December 24, 2. : 173, https://doi. 32678/tarbawi. 14 Abdul Basyit. AuFORMAT LEMBAGA PENDIDIKAN PERSPEKTIF PENDIDKAN ISLAM,Ay Islamika: Jurnal Agama. Pendidikan. Dan Sosial Budaya 14, no. : 22, https://doi. org/https://doi. org/10. 33592/islamika. 15 Kholilur Rahman. AuPerkembanganLembagaPendidikanIslamdiIndonesia,Ay Jurnal Tarbiyatuna 2, no. : 1. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin empati terhadap orang lain. Pendidikan Akademik: Lembaga pendidikan Islam menawarkan pengajaran akademis dalam mata pelajaran seperti matematika, sains, bahasa, dan sejarah selain pengajaran Tujuan pendidikan ini adalah untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta didik sehingga dapat tumbuh menjadi manusia yang berpengetahuan dan Pengembangan Keterampilan: Lembaga pendidikan Islam membantu pengembangan kemampuan praktis dan intelektual siswa. Mereka menerima pengajaran dalam berbagai mata pelajaran, termasuk kepemimpinan, seni, olahraga, dan keterampilan kerja, untuk membantu mereka berkembang menjadi orang-orang berguna yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Pembinaan Kepemimpinan: Salah satu fungsi penting dari lembaga pendidikan Islam adalah membina kepemimpinan. Mereka membimbing siswa/santri untuk menjadi pemimpin yang berkarakter moral, memiliki visi yang jelas, dan mampu memimpin secara efektif dalam berbagai konteks. Pemberdayaan Sosial: Lembaga pendidikan Islam juga berupaya untuk memungkinkan siswa atau siswanya mengambil peran aktif dalam masyarakat dan memberikan kontribusi Mereka mendapat pendidikan tentang kesadaran lingkungan, tanggung jawab sosial, dan nilai berbagi dengan orang lain. Pembentukan Identitas Keislaman: Siswa dibantu untuk memahami dan memperkuat jati diri keislamannya melalui pendidikan agama, nilai-nilai Islam, dan budaya yang diajarkan di lembaga pendidikan Islam. Hal ini membantu mereka dalam melestarikan praktik dan keyakinan Islam mereka dalam menghadapi berbagai pengaruh dan hambatan Asmaun Sahlan. AuPendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam (Kajian Penerapan Pendidikan Karakter Di Lembaga Pendidikan Isla. ,Ay Jurnal El-Hikmah Fakultas Tarbiyah UIN Malang IX, no. : 139. 17 Ibrahim Bafadhol. AuLembaga Pendidikan Islam Di Indonesia,Ay Edujasi Islami: Jurnal Pendidikan Islam 6, no. , https://doi. org/https://doi. org/10. 30868/ei. 18 Akmal Hawi. AuTANTANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM,Ay Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam 3, no. 1 (August 2. : 143, https://doi. org/10. 19109/Tadrib. 19 Ramdanil Mubarok. AuKepemimpinan Dan Optimalisasi Fungsi Lembaga Pendidikan Islam,Ay El-Buhuth 5, no. https://doi. org/https://w. net/profile/Ramdanil-Mubarok/publication/366927187_ KEPEMIMPINAN_DAN_OPTIMALISASI_FUNGSI_LEMBAGA_PENDIDIKAN_ISLAM_NON_FORMAL /links/63b8e3e1097c7832ca986f16/KEPEMIMPINAN-DAN-OPTIMALISASI-FUNGSI-LEMBAGAPENDIDIKAN-ISLAM-NON-FORMAL. 20 Pasha Syahritsa Maulana and Subhan Afifi. AuAnalisis Peran Dan Fungsi Public Relations Di Lembaga Pendidikan Islam,Ay Jurnal Mahasiswa Komunikasi Cantrik 1, no. 2 (November 2. , https://doi. org/10. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Keseluruhan, lembaga pendidikan Islam memainkan peran kunci dalam membentuk individu Muslim yang berpengetahuan, berakhlak, berdaya saing, dan berkontribusi bagi kemajuan masyarakat. Pengertian Karakter Dalam istilah bahasa Yunani, karakter berasal dari kata Karasso yang artinya cetak biru, format dasar, sidik jari. Karakter disebut juga dengan watak, sifat, akhlak maupun kepribadian yang dimiliki oleh seseorang. Menurut ki hajar dewantara, karakter adalah hasil dari kombinasi alam bawaan manusia yang stabil yang kemudian menjadi ciri khas yang membedakan setiap 22 Kepribadian adalah sebuah identitas tersendiri yang menjadi ciri khas seseorang yang berasal dari interaksi dengan lingkungan, seperti pengalaman keluarga masa kecil, dan juga faktor bawaan sejak lahir, yang mencerminkan ciri khas atau karakteristik seseorang. Menurut Helen G. Dougles dalam Supriani24, mengungkapkan bahwa karakter bukanlah sesuatu yang diturunkan secara langsung, tetapi merupakan hasil dari upaya yang berkelanjutan, terbentuk dari pikiran dan perbuatan yang dilakukan setiap hari, dari satu pemikiran dan tindakan ke pemikiran dan tindakan berikutnya. Menurut Samami25, karakter adalah prinsip-prinsip dasar yang membina individu, terbentuk oleh faktor-faktor warisan genetik dan interaksi dengan lingkungan, yang memperlihatkan keunikan seseorang dibandingkan dengan yang lain, dan tercermin dalam sikap serta perbuatan mereka dalam kehidupan hari-harinya. Adapun dalam konteks penumbuhannya, karakter tidak bisa dipisahkan dari peran pendidikan, di mana lembaga pendidikan memiliki peran utama dalam menyediakan layanan pendidikan yang mendukung pembangunan karakter. Karena itu salah satu urgensi dari keberadaan sekolah ialah membentuk karakter siswa. Toto Suharto. AuIndonesianisasi Islam: Penguatan Islam Moderat Dalam Lembaga Pendidikan Islam Di Indonesia,Ay Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam 17, no. 1 (May 2. : 155, https://doi. org/https://doi. 21154/altahrir. 22 Paul Suparno. Pendidikan Karakter Di Sekolah (Sleman: Pt. Kanisius, 2. 23 Doni A Koesoema. Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak Di Zaman Modern (Jakarta: Pt. Grasindo, 2. 24 Supriani Y. AoPeran Manajemen Kepemimpinan Dalam Pengelolaan Lembaga Pendidikan IslamAo. JIIP-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 5. , 332Ae38. 25 Muchlas Samami. Konsep Dan Model Pendidikan Karakter (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. 26 Hakin Najili And Others. AoLandasan Teori Pendidikan KarakterAo. JIIP (Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidika. , 5. 2099Ae2107. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Berdasarkan pendapat diatas, maka bisa disimpulkan karakter merupakan akhlak atau kepribadian yang dimiliki oleh seseorang yang mana karakter tersebut akan menjadi ciri khas dari seseorang yang akan tercermin dari tindakannya sehari-hari. Karakter seseorang berasal dari interaksi lingkungan baik di dalam rumah maupun dilingkungan luar. Penanaman karakter bisa dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan karakter. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Karakter Secara umum, terdapat dua faktor yang memiliki dampak pada karakter seseorang, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal mencakup berbagai aspek kepribadian yang secara terus-menerus memengaruhi perilaku individu, termasuk insting biologis, kebutuhan psikologis, dan aspek pemikiran. Di sisi lain, faktor eksternal merujuk pada faktorfaktor yang berasal dari lingkungan luar individu, namun mampu mempengaruhi perilaku seseorang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berikut ini merupakan faktor yang dapat mempengaruhi karakter siswa. Diantaranya Faktor dari dalam dirinya:28 Insting, yaitu naluri atau dorongan alami yang mempengaruhi perilaku dan respon siswa terhadap situasi tertentu tanpa melalui proses berpikir yang panjang. Kepercayaan, yaitu keyakinan atau prinsip yang dipegang teguh oleh siswa yang mempengaruhi cara mereka berpikir, bersikap, dan bertindak. Keinginan, yaitu dorongan atau harapan yang diinginkan oleh siswa yang bisa memotivasi tindakan mereka untuk mencapai tujuan tertentu. Hati Nurani, yaitu suara batin yang membantu siswa memilah mana yang baik dan yang buruk, serta memandu mereka untuk bertindak secara etis dan bermoral. Hawa Nafsu, yaitu dorongan emosi dan hasrat yang kuat yang sering kali perlu dikendalikan agar tidak menyebabkan tindakan yang negative. Faktor dari luar dirinya: Lingkungan Kondisi dan situasi di sekitar siswa termasuk fisik, sosial, dan budaya yang bisa mempengaruhi perkembangan karakter mereka. Karakter yang baik juga didikung oleh kondisi lingkungan yang positif. 27 M. Anis Matta. Membentuk Karakter Cara Islam (Jakarta: Al-IAotishom Cahaya Umat, 2. , 16. 28 Djamika Rahmat. Sistem Etika Islam (Surabaya: Pustaka Islami, 1. , 73. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Rumah Tangga dan Sekolah Keluarga dan institusi pendidikan adalah dua lembaga penting yang sangat berpengaruh dalam membina karakter siswa. Nilai-nilai yang didik di rumah dan sekolah akan membentuk dasar moral dan etika siswa. Pergaulan Teman dan Sahabat Interaksi dengan teman sebaya dan sahabat juga berpengaruh besar karena siswa cenderung meniru perilaku dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok mereka. Penguasa atau Pemimpin. Figur otoritas baik di rumah, sekolah, maupun masyarakat luas . eperti guru, kepala sekolah, pemimpin masyaraka. dapat mempengaruhi pandangan, sikap, dan tindakan siswa melalui contoh yang mereka tunjukkan dan aturan yang mereka tetapkan. Metodologi Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang menekankan pemahaman mendalam terhadap masalah yang diteliti, khususnya dalam jenis penelitian lapangan. 29 Metode yang digunakan adalah fenomenologi, yang memfokuskan pada pengalaman subjektif manusia dan interpretasi sosial. 30 Lokasi penelitian dipilih secara sengaja di MIS Nurul Ikhwan di Jl. Mawar No. Kecamatan Delitua. Kabupaten Deli Serdang. Provinsi Sumatera Utara, dengan pertimbangan kemudahan dalam pengumpulan data serta keterbatasan waktu dan dana. Sumber yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini berasal dari dua sumber: data sekunder dari buku-buku dan publikasi yang berkaitan dengan masalah penelitian, dan data primer dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan guru Pendidikan Agama Islam di MIS Nurul Ikhwan. Triangulasi adalah teknik yang dipakai pada penelitian ini untuk pengumpulan data yang meliputi dokumentasi, wawancara, dan observasi. Setelah pengumpulan data, data tersebut diperiksa dengan menggunakan metodologi analisis data yang dimodifikasi dari Miles & Huberman. Hal ini mencakup langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. 31 Lalu. Pendekatan kredibilitas, keteralihan, ketergantungan, dan kepastian digunakan dalam pengujian data untuk menjamin keakuratan data. Temuan Dan Pembahasan Kontribusi MIS Nurul Ikhwan dalam Membina Karakter Siswa 29 Anwar Sanusi. Metodologi Penelitian Bisnis (Jakarta: Salemba Empat, 2. 30 Lexi J Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2. 31 Mattew B Miles and A Michael Huberman. Analisis Data Kualitatif (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 2. 32 Salim and Syahrum. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Citapustaka Media, 2. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Mengingat karakter merupakan nilai fundamental dalam Islam dan menjadi karakter yang perlu ada disetiap orang, terutama dalam diri seorang siswa. Untuk itu perlu dilakukan penanaman atau pembinaan karakter sedini mungkin. Tak terlepas dari peran sekolah sebagai wadah pembinaan karakter siswa, maka MIS Nurul Ikhwan juga memberikan kontribusinya dalam membina karakter siswanya melalui beberapa hal sehingga terbinanya karakter yang baik didalam diri siswa, seperti karakter jujur, disiplin, tanggung jawab, religius, dan sosial. Adapun penjabaran kontribusi yang dilakukan MIS Nurul Ikhwan dalam membina karakter siswa yang telah dijelaskan di atas, yaitu sebagai berikut: MIS Nurul Ikhwan mengadakan kegiatan infaq pada setiap harinya. Kegiatan infaq ini tidak mematokkan nominal dan juga tidak memaksa siswa untuk berinfaq setiap harinya. Infaq ini dilakukan untuk mendidik siswa memiliki sikap jujur karena pada pelaksanaannya terkadang ada siswa yang tidak berinfaq dengan alasan tidak membawa uang saku dan Jika hal ini sering terjadi pada siswa yang sama, maka sebagai guru akan memberikan nasihat pada siswa tersebut dan menjelaskan kepada siswa-siswanya mengenai keutamaan berinfaq. Disisi lain, kegiatan infaq ini juga bisa membina siswa untuk memiliki rasa kepedulian sosial, mengajarkan keikhlasan, gemar memberi tanpa pamrih. Dengan adanya kegiatan infaq ini nantinya siswa tidak hanya berinfaq di sekolah saja namun juga diterapkan dalam kehidupan sehari-harinnya. Guru membangun interaksi dengan siswa sebagai bentuk kepedulian guru kepada siswa. Dalam kegiatan ini guru membina sikap jujur siswa sekaligus membangun semangat belajar siswa melalui kegiatan-kegiatan sederhana yang nyatanya hal ini memberikan makna tersendiri pada siswa. Kegiatan sederhana ini berupa kegiatan bertanya sebelum memulai pembelajaran seperti guru menanyakan AuSiapa yang tadi pagi melaksanakan solat subuhAy dan AuSiapa yang mengulang pembelajaran di rumah tadi malamAy dengan pertanyaan yang sederhana ini maka siswa akan berlomba-lomba menjawab dan menunjukkan sisi terbaik Kegiatan ini juga bisa menjadi pengamatan bagi guru dalam menilai karakter masing-masing siswanya. Semisal, siswa yang benar-benar mengulang pembelajarannya pada malam hari tentunya akan memiliki pengetahuan lebih daripada siswa yang lainnya. Selain melatih siswa untuk jujur terkait kegiatan mereka di rumah, juga bisa mengembangkan jiwa kompetisi dalam diri siswa sehingga ingin menjadi yang terbaik di kelas tersebut, membina karakter disiplin waktu dan tanggung jawab mereka sebagai seorang hamba dan sebagai seorang 120 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin siswa, serta membina karakter religius dalam diri siswa. Memberikan keteladanan dan nasehat yang baik. Sekarang ini tampaknya sedikit sulit untuk menemukan orang-orang yang berperilaku jujur, bertutur kata yang baik, serta berperilaku yang baik. Untuk itu kehadiran guru menjadi hal yang penting dalam membina karakter Dalam proses pembinaan karakter tersebut, guru tidak sekedar berperan sebagai orang yang memberikan pengetahuan kepada siswanya mengenai apa itu karakter, melainkan peran guru lebih dari sekedar memberikan pemahaman tetapi juga guru menjadi orang yang diteladani siswanya sebagai orang yang menerapkan perilaku-perilaku yang baik Keteladanan tersebut bisa ditunjukkan oleh guru melalui setiap sikap dan tindakannya sehingga pada akhirnya siswa akan meneladani guru tersebut. Hal demikian juga tidak luput dari para guru-guru di MIS Nurul Ikhwan yang senantiasan memberikan keteladanan yang baik kepada siswa-siswanya. Disamping pemberian keteladanan yang baik, nyatanya guru juga harus senantiasa memberikan siswa nasehat-nasehat yang baik terutama tentang pentingnya akhlak atau karakter yang baik dalam diri seseorang dan apa dampak dari seseorang yang tidak berperilaku tidak baik atau dalam hal ini tidak memiliki karakter/akhlak yang baik. Contoh yang nyata merupakan elemen kunci dalam mengubah perilaku anak, membentuk aspek moral, spiritual, dan sosial mereka. Karena itu, teladan yang terbaik, yang dilihat oleh anak sebagai model yang akan diikuti dalam perilaku dan tata krama mereka, menanamkan diri secara kuat dalam benak mereka. Keteladanan ini menjadi alat yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter dan sosial kepada anak-anak. Dengan kata lain, nasihat tanpa ditunjang oleh contoh nyata seringkali tidak efektif, seperti pepatah yang mengatakan Aumembawa garam ke laut untuk mengasinkan lautAy, yang menyiratkan bahwa usaha tersebut lebih banyak sia-sia daripada bermanfaat. Memberikan hukuman. Pemberian hukuman ini diberikan kepada siswa yang melanggar peraturan sekolah. Sebagaimana yang dikemukaakan Sue Cowley dalam bukunya bahwa pemberian hukuman akan mengajarkan tata krama sosial pada siswa, dengan begitu pemberian hukuman oleh guru dapat mengenalkan dan mengajarkan peraturan tertulis dan tidak terturlis serta kode etik yang berlaku di di sekolah sehingga nantinya akan diterapkan Evi Nur Khofifah and Siti Mufarochah. AuPenanaman Nilai-Nilai Karakter Anak Usia Dini Melalui Pembiasaan Dan Keteladanan,Ay AT-THUFULY : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini 2, no. : 60Ae65, https://doi. org/10. 37812/atthufuly. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 07 No. 01 Juni 2025 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin siswa dalam kehidupan sehari-hari. 34 Adanya pemberian hukuman kepada siswa ini nantinya dapat membentuk karakter tanggung jawab siswa dan disiplin. Namun demikian, pemberian hukuman tidak boleh dilakukan secara berlebihan yang pada akhirnya akan berdampak tidak baik kepada siswa dan sekolah. Bagi setiap siswa yang berperilaku tidak jujur, maka akan diberikan sanksi sesuai dengan tingkat perbuatan kesalahannya Di MIS Nurul Ikhwan sendiri, hukuman bagi siswa yang melanggar peraturan terutama ketika mencontek pada saat ulangan atau ujian berlangsung guru akan menegur siswa tersebut dan jika hal tersebut tidak memberikan efek jera maka guru akan mengeluarkan siswa Kesimpulan Karakter merupakan nilai fundamental yang harus dimiliki setiap orang. Menjadi hal yang utama dalam hidup seseorang, maka karakter pada seseorang sudah harus dibina sedini mungkin. Pembinaan karakter tersebut tentunya dititik beratkan kepada orang tua ketika anak-anak belum mendapatkan pendidikan secara formal. Selain itu, sekolah juga berperan penting dalam membina karakter siswa, karena tujuan lain dari adanya lembaga pendidikan adalah membentuk karakter, karena karakter adalah modal dasar bagi seseorang dalam menjalani kehidupannya dan kunci Dari hasil pembahasan dapat ditarik kesimpulan bahwa kontribusi MIS Nurul Ikhwan dalam membina karakter siswa sudah dilakukan dengan cukup baik, diantaranya mereka mengadakan kegiatan infaq setiap harinya, guru yang membangun interaksi dengan siswa sebagai bentuk kepedulian siswa, memberikan keteladanan dan nasehat, serta memberikan sanksi ataupun hukuman kepada siswa yang melanggar peraturan sekolah atau melakukan kesalahan dengan memberikan hukuman sesuai dengan kesalahan yang diperbuat. Daftar Pustaka