SYIAR: Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Volume 3 . 71-86 e-ISSN 2808-7941 https://jurnal. id/index. php/syiar/article/view/241 DOI: https://doi. org/10. 54150/syiar. POLA KOMUNIKASI KIYAI DALAM MEMBANGUN BUDAYA DISIPLIN SANTRI Nur Imamah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam Al-Mardliyyah Pamekasan imamanur205@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian untuk menjelaskan dan mendeskripsikan pola komunikasi yang digunakan oleh kiyai dalam membangun budaya disiplin santri di pondok pesantren. Metode penelitian dengan kualitatif melalui studi kasus. Teknik pengumpulan data dengan wawancara, dokumentasi dan observasi. Teknik pengolahan data: open coding, axial coding, selective coding dan theoretical note. Hasil penelitian: . pola komunikasi primer: dengan menggunakan Bahasa verbal ataupun non verbal dengan . pola komunikasi sekunder: dengan menggunakan peralatan visual ataupun non visual dengan santri. pola komunikasi linear: tatap muka langsung dan tidak tatap muka langsung dengan santri. pola komunikasi sirkular: komunikasi dua arah yang terjadi terus menerus antara kiyai dan santri. Kata Kunci: Pola Komunikasi. Kiyai. Disiplin. Pondok Pesantren 71 Syia. Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Pola komunikasi kyiai dalm membangun budaya . ABSTRACT The aim of the research is to explain and describe the communication patterns used by cottage caretaker in building a culture of santri discipline in Islamic boarding schools. Qualitative research method through case studies. Data collection techniques using interviews, documentation and observation. Data processing techniques: open coding, axial coding, selective coding and theoretical notes. Research results: . primary communication pattern: using verbal or non-verbal language with students. secondary communication patterns: using visual or non-visual equipment with students. linear communication pattern: direct face-to-face and non-face-to-face with . circular communication pattern: two-way communication that occurs continuously between kiai and santri. Keywords: Communication Patterns. Kiyai. Discipline. Islamic Boarding School 72 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Nur Imamah PENDAHULUAN Disiplin santri di pondok pesantren merupakan aspek penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang. Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia yang tidak hanya fokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan moral, etika, dan kepribadian yang baik. Disiplin yang ketat di pondok pesantren bertujuan untuk membantu santri mengembangkan kedisiplinan diri, tanggung jawab, dan sikap hormat terhadap aturan serta pembimbing. Tujuan dari disiplin di pondok pesantren adalah untuk membentuk individu yang memiliki nilai-nilai agama, moral, dan etika yang baik. Meskipun tata tertib dan disiplin yang ketat mungkin terasa sulit pada awalnya, hal ini sejalan dengan upaya mendidik generasi muda dengan kualitas dan kepribadian yang kuat. Disiplin santri di Pondok Pesantren dapat dilakukan dilakukan melalui beberapa cara yakni melalui pembiasaan kegiatan muhasabah dan khuruj, mengajarkan hal-hal yang baik, melakukan Bayan dan Taklim, melakukan amalanamalan yang baik, melalui keteladanan dan meningkatkan keamanan melalui aturan dan tata tertib (Alfath, 2. Disiplin merupakan elemen terpenting dalam pendidikan pesantren dan menjadi karena sarana paling efektif dalam proses pendidikan dalam pondok pesantren, baik santri, ustad, maupun pengasuh pondok itu sendiri (Nurwahyudin & Supriyanto, 2. Disiplin memiliki urgensi yang sangat penting dalam pembentukan santri di pondok pesantren. Hal ini dikarenakan disiplin berperan sebagai landasan dalam mengembangkan karakter, kepribadian, dan nilai-nilai positif dalam diri santri. Disiplin membantu santri untuk membentuk kebiasaan baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kebiasaan baik ini mencakup berbagai aspek seperti beribadah secara teratur, belajar dengan tekun, menjaga kebersihan, serta bersikap sopan dan hormat terhadap sesama. Disiplin juga membantu mengembangkan kedewasaan emosional dan mental santri. Santri belajar untuk mengendalikan emosi, mengatasi rasa malas atau kebosanan, serta menghadapi tantangan dengan lebih baik. Hal ini menjadi pondasi penting dalam menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan. Kiyai, atau pemimpin spiritual dan intelektual di pondok pesantren, memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk disiplin santri. Peran kiyai tidak hanya terbatas pada memberikan pelajaran agama, tetapi juga melibatkan pembentukan karakter, etika, dan nilai-nilai yang baik pada santri. Kiyai merupakan figur yang dihormati dan dijadikan teladan oleh santri. Sikap, perilaku, dan kedisiplinan kiyai menjadi contoh yang diikuti oleh santri. Kiyai yang menjalani kehidupan dengan tata tertib, akhlak yang baik, dan kedisiplinan yang konsisten akan menginspirasi santri untuk mengikuti jejaknya. Kiyai memiliki peran sentral dalam mengajarkan nilainilai agama, moral, dan etika kepada santri. Peran seorang kyai sangat besar sekali dalam pembentukan watak dan kepribadian santri terutama pada akhlak ketika berbicara menggunakan Bahasa yang halus dan ketika bersikap, namun kyai sebagai pengganti dari orang tua, kyai mendidik dan membimbing santri dibidang akhlak 73 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Pola komunikasi kyiai dalm membangun budaya . hanya ketika santri berada di Pesantren (Ulum, 2. Komunikasi kiyai dalam memimpin menjadi salah satu penentu bagaimana budaya disiplin akan terbentuk pada level pondok pesantren. Komunikasi kyai adalah komunikasi yang berhubungan dengan tugas atau perintah, sehingga pesan-pesan yang disampaikan pun lebih kepada pesan yang bersifat intruktif yaitu perintah, inovatif yaitu gagasan atau ide, pemeliharaan yaitu evaluasi termasuk kritik (Wulandari, 2. Komunikasi yang baik dan efektif oleh kiyai memiliki dampak signifikan terhadap bagaimana budaya disiplin akan terbentuk di pesantren. Kiyai memiliki peran penting dalam memberikan instruksi dan arahan kepada santri mengenai tata tertib, norma-norma, dan aturan-aturan di pesantren. Komunikasi yang jelas dan tegas tentang ekspektasi disiplin akan membantu membentuk pemahaman yang konsisten di kalangan santri. Melalui komunikasi yang konsisten dan adil, kiyai dapat memastikan bahwa aturan-aturan disiplin diterapkan dengan merata dan sesuai dengan situasi yang ada. Ini membantu membangun rasa keadilan di kalangan santri dan mendorong mereka untuk menjaga disiplin. Hasil penelitian menunjukkan komunikasi kiyai dilakukan secara langsung untuk memantau kinerja pondok dengan para pengurus pondok (Wulandari, 2. Sedangkan pola komunikasi interpersonal kyai dengan satri dilakukan dengan menggunakan symbol mind, self, dan society atau non verbal untuk meningkatkan proses pembelajaran dakwah di pondok (Hartawan & Azka, 2. Kemudian hasil penelitian lain menjelaskan untuk menjalin komunikasi dengan santri dalam membentuk karakter beraqidah, ibadah dan berakhlak kiyai menggunakan komunikasi langsung dalam membimbing dan mendidik santri (Ulum, 2. Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka hasil penelitian tersebut berbeda dengan hasil penelitian peneli. Hasil penelitian peneliti hanya menggunakan satu pola komunikasi dalam mencapai tujuan komunikasinya, sedangkan penelitian peneliti menggunakan empat pola komunikasi dalam mencapai tujuan komuniasi yakni membangun budaya disiplin santri. Sedangkan tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menjelaskan secara mendalam pola komunikasi Kiyai dalam membangun budaya disiplin santri Pondok Pesantren Al Mardliyyah yang terdiri atas pola komunikasi primer, sekunder, liner dan sirkular. METODE PENELITIAN Penelitian dalam penulisan artikel ilmiah ini dilakukan dengan kualitatif yang mana peneliti berusaha menedeskripsikan hasil penelitian secara komprehensif mengenai pola komunikasi Kiyaidalam membangun budaya disiplin santri Pondok Pesantren Al Mardliyyah dalam bentuk tulisan atau kalimat yang mudah dipahami oleh pembaca. Pendekatan kualitatif yang dilakukan dalam penelitian ini adalah studi kasus yakni un tuk menggali data secara mendalam tentang pola komunikasi kiyai dalam membangun budaya disiplin. Teknik pengulan data dilakukan dengan cara wawancara kepada 1 kiyai, 3 pengurus pondok dan 5 santri. kemudian teknik dokumentasi dan teknik observasi. 74 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Nur Imamah Teknik Analisa data dilakukan dengan reduksi data dengan mengumpulkan data berdasarkan permasalahan penelitian yakni pola komunikasi primer, sekunder, liner dan sirkular. Kemudian dilakukan penyajian data dalam bentuk kalimat singkat pada dan jelas yang menggambarkan hasil penelitian sesuai rumusan masalahs ecara Dan terakhir dilakukan penyimpulan data untuk emndapatkan data yang sebenanya tentang pola komunikasi primer, sekunder, liner dan sirkular yang dilakukan oleh Kiyai dalam membangun budaya disiplin santri Pondok Pesantren Al Mardliyyah Teknik keabsahan data dalam penelitian ini dilakukan dengan kredibelitas dan Kredibelitas dilakukan dengan triangulasi teknik dengan mengkomparasikan hasil penelitian dari hasil wawancara, observasi dan Sedangkan konfirmabilitas dilakukan dengan mengecekkan kembali hasil penelitian kepada informan penelitian yakni Kiyai. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola komunikasi adalah proses yang dirancang untuk mewakili kenyataan keterpautan unsur unsure yang dicakup beserta keberlangsungannya, guna memudahkan pemikiran secara sistematik dan logis (Effendy, 1993, p. Pola komunikasi diartikan sebagai bentuk atau pola hubungan dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan cara yang tepat sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami (Djamarah. Sentosa, 2. Pola komunikasi adalah proses yang dirancang untuk mewakili kenyataan keterpautan unsur-unsur yang dicakup beserta keberlangsungan, guna memudahkan pemikiran secara sistematik dan logis (Rundengan, 2. Pola komunikasi adalah bentuk atau pola hubungan antara dua orang atau lebih dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan yang dikaitkan dua komponen, yaitu gambaran atau rencana yang meliputi langkah-langkah pada suatu aktifitas, dan komponen yang merupakan bagian penting atas terjadinya hubungan komunikasi antar manusia atau kelompok dan organisasi (Awza& Yazid, 2. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pola komunikasi mengacu pada susunan atau cara tertentu di mana pesan, informasi, atau gagasan disampaikan dan diterima antara individu atau kelompok dengan melibatkan elemenelemen seperti pengirim . , pesan, saluran atau media komunikasi, penerima . enerima pesa. , serta konteks dan tujuan komunikasi. Pola komunikasi tidak hanya melibatkan kata-kata atau bahasa verbal, tetapi juga mencakup elemenelemen nonverbal seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, isyarat tangan, dan bahasa tubuh lainnya. Selain itu, umpan balik atau respons dari penerima juga merupakan bagian penting dari pola komunikasi, karena ini memungkinkan pengirim untuk memahami sejauh mana pesan mereka telah diterima dan dipahami. Pola komunikasi dalam membangun budaya disiplin santri merupakan suatu rangkaian interaksi komunikasi yang terjadi antara kiyai . emimpin spiritual atau guru besa. dengan santri . dalam usaha untuk membentuk dan menanamkan kedisiplinan pada diri santri selama mereka belajar di pondok pesantren. Pola 75 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Pola komunikasi kyiai dalm membangun budaya . komunikasi ini memiliki peran sentral dalam membentuk budaya disiplin yang kuat dan berkelanjutan di lingkungan pesantren. Maka, jika poengertian tersebut dikomparasikan dengan jenis pola komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy terbagi atas 4 pola yaknik pola primer, sekunder, linear dan silkular dapat dijelaskan sebagai berikut: Pola Komunikasi Primer KiyaiSyaiful Bahri Dalam Membangun Budaya Disiplin Santri Pola Komunikasi primer merupakan suatu proses penyampian oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu simbol sebagai media atau saluran (Effendy. Gumilang, 2. Pola komunikasi primer kiyai berikaitan dengan cara kiyai menyampaikan pesan disiplin bagi santri di dalam pondok pesantren dengan menggunakan symbol . alam hal ini Bahas. sebagai media komunikasi utamanya. Penggunaan bahasa sebagai simbol komunikasi utama oleh Kiyai dalam pondok pesantren membantu menciptakan atmosfer pembelajaran yang mendalam dan bermakna. Pesan-pesan disiplin dan moral yang disampaikan melalui bahasa memiliki daya tarik dan nilai-nilai yang mendalam, yang membantu membentuk karakter dan perilaku santri sesuai dengan ajaran agama dan nilai-nilai Islam. Penggunaan Bahasa sebagai media komunikasi utama oleh Kiyaidalam menyampaikan pesan disiplin kepada santri membantu menciptakan keterikatan emosional dan spiritual yang mendalam antara Kiyai dan santri. Pesan-pesan disiplin yang disampaikan melalui Bahasa memiliki daya tarik dan otoritas agama yang memberikan dasar kuat bagi pembentukan karakter dan moral santri di lingkungan pondok pesantren. Bahasa yang digunakan kiyai dalam penyampaian pesan disipilin kepada santri dapat dilakukan dengan beberapa Pertama penggunaan bahasa formal dan hormat: kiyai cenderung menggunakan bahasa formal dan hormat ketika berkomunikasi dengan santri. Bahasa yang digunakan bersifat santun dan menghormati kedudukan Kiyai sebagai pemimpin spiritual. Penggunaan kalimat-kalimat hormat dan penghormatan dalam Bahasa memberikan kesan resmi dan menghormati hubungan antara Kiyai dan santri. Kiyai menggunakan Bahasa dengan gaya formal dan penuh hormat ketika berkomunikasi dengan santri. Bahasa yang digunakan mencerminkan kedudukan dan status Kiyai sebagai pemimpin spiritual yang dihormati. Penggunaan kata-kata seperti "anda," "bapak," atau gelar-gelar kehormatan seperti "ustadz" atau "ustazah" menunjukkan penghormatan kepada Kiyai. Ini juga membantu menciptakan hubungan yang penuh hormat antara Kiyai dan santri, serta memperkuat pesan-pesan disiplin dengan kewibawaan. Kedua khutbah dan pengajian: kiyai seringkali memberikan khutbah Jumat dan mengadakan pengajian-pengajian. Dalam konteks ini. Bahasa digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan disiplin melalui ceramah agama. Khutbah dan 76 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Nur Imamah pengajian menjadi wadah di mana Kiyai dapat menggambarkan prinsip-prinsip disiplin, etika, dan moral melalui Bahasa yang bermakna dan mendalam. Khutbah Jumat dan pengajian-pengajian adalah platform di mana Kiyai menyampaikan pesan disiplin kepada kelompok yang lebih besar. Dalam khutbah dan pengajian. Bahasa digunakan untuk menguraikan prinsip-prinsip disiplin dan nilai-nilai moral dari sudut pandang agama. Kiyai seringkali mengambil contoh-contoh dari kisah-kisah Nabi, para sahabat, atau tokoh-tokoh agama untuk mengilustrasikan konsep disiplin. Penggunaan Bahasa yang bermakna dan pengisahan yang kuat membantu para santri untuk memahami dan menginternalisasi pesan-pesan disiplin tersebut. Ketiga nasihat dan ceramah personal: selain dalam khutbah dan pengajian. Kiyai juga memberikan nasihat dan ceramah secara personal kepada santri. Dalam percakapan semacam ini. Kiyai menggunakan Bahasa untuk merujuk pada ajaran agama dan nilai-nilai moral, serta memberikan panduan disiplin yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan individu santri. Dalam interaksi personal dengan santri. Kiyai memberikan nasihat dan ceramah yang sesuai dengan situasi individu. Bahasa yang digunakan tetap bersifat formal dan hormat, tetapi juga lebih personal dan relevan dengan pengalaman dan kebutuhan santri. Kiyai bisa merujuk pada contoh-contoh sejarah Islam atau mengutip ayat-ayat Al-Quran untuk mendukung nasihatnya, menciptakan pengalaman belajar yang mendalam dan berarti bagi santri. Keempat penggunaan ayat-ayat al-quran dan hadis: kiyai seringkali mengutip ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Muhammad sebagai landasan dalam menyampaikan pesan-pesan disiplin. Bahasa yang diambil dari sumber-sumber suci ini memiliki bobot spiritual yang kuat, dan penggunaannya membantu menyampaikan pesan disiplin dengan otoritas agama. Kiyai sering mengutip ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi sebagai dasar dalam menyampaikan pesan-pesan disiplin. Bahasa dalam ayat-ayat suci memiliki kekuatan spiritual dan otoritas agama yang kuat. Kiyai menggunakan ayat-ayat ini untuk memberikan landasan agama bagi pesan disiplin yang disampaikannya. Pengutipan ayat-ayat Al-Quran dan hadis juga mencerminkan pengetahuan mendalam Kiyai mengenai ajaran agama dan memberikan pesan disiplin dengan kepercayaan yang lebih tinggi. Kelima simbolisme bahasa: kiyai juga dapat menggunakan simbolisme dalam Bahasa untuk menyampaikan pesan-pesan disiplin. Misalnya, menggunakan istilah-istilah agama atau analogi untuk mengilustrasikan konsep Bahasa memiliki kemampuan untuk merangkum makna yang mendalam, dan Kiyai memanfaatkannya untuk mengkomunikasikan prinsipprinsip disiplin dengan cara yang berkesan. Kiyai sering menggunakan simbolisme dalam Bahasa untuk menggambarkan konsep-konsep disiplin. Misalnya. Kiyai dapat merujuk pada istilah-istilah agama atau menggunakan analogi yang relevan dalam agama untuk menjelaskan arti disiplin. Bahasa yang 77 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Pola komunikasi kyiai dalm membangun budaya . menggunakan simbol-simbol ini membantu menggambarkan prinsip-prinsip disiplin secara konkret dan mudah dipahami, serta memberikan dimensi spiritual dalam penyampaian pesan. Keenam surat dan pemberitahuan tertulis: terkadang. Kiyai juga menggunakan Bahasa dalam bentuk tertulis, seperti surat atau pemberitahuan, untuk menyampaikan pesan disiplin kepada santri. Bahasa yang digunakan dalam tulisan tersebut cenderung tetap formal dan berwibawa, mencerminkan sifat resmi pesan yang ingin disampaikan. Dalam beberapa situasi. Kiyai mungkin menggunakan Bahasa tertulis, seperti surat atau pemberitahuan, untuk menyampaikan pesan disiplin kepada santri. Surat-surat ini seringkali diawali dengan kalimat-kalimat hormat dan mengikuti format resmi. Dalam konteks ini. Bahasa yang digunakan mempertahankan penghormatan dan seriusnya pesan, tetapi juga mencerminkan kemurahan hati Kiyai dalam memberikan arahan dan Pola Komunikasi Sekunder KiyaiDalam Membangun Budaya Disiplin Santri Pola komunikasi sekunder adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang pada media pertama (Effendy. Gumilang, 2. Maka dalam konteks komunikasi sekunder kiyai dalam membangun budaya displin ialah pola komunikasi yang di dalam pondok pesantren melibatkan proses penyampaian pesan oleh Kiyai dengan menggunakan alat atau sarana tertentu untuk membangun budaya disiplin di kalangan santri. Pola komunikasi ini melibatkan penggunaan alat-alat atau sarana yang lebih konkret dan visual untuk memberikan pesan-pesan yang mendukung pembentukan budaya disiplin di pondok pesantren. Dengan menggunakan pola komunikasi sekunder ini. Kiyai dapat memperkuat dan memperluas penyampaian pesan-pesan disiplin di pondok pesantren. Alat-alat atau sarana visual yang digunakan membantu menciptakan lingkungan yang merangsang kepatuhan dan penghayatan terhadap nilai-nilai disiplin yang diinginkan, serta memperkuat pembentukan budaya disiplin di kalangan santri. Cara yang dapat dilakukan Kiyaidalam komunikasi sekunder ini antara lain: pertama simbol dan tanda visual: kiyai dapat menggunakan simbol-simbol atau tanda-tanda visual yang secara khusus merujuk pada prinsip-prinsip Misalnya, gambar tangan yang sedang berdoa untuk mengingatkan santri untuk selalu beribadah dengan sungguh-sungguh. Simbol ini dapat ditempatkan di berbagai tempat di pondok pesantren, seperti dinding kamar, ruang makan, atau tempat ibadah. Simbol dan tanda visual adalah gambar atau representasi grafis yang secara simbolis merujuk pada konsep atau nilai tertentu. Dalam konteks pondok pesantren. Kiyai dapat menciptakan atau menggunakan simbol-simbol yang secara jelas menggambarkan prinsip-prinsip disiplin. Contohnya, simbol tangan yang sedang berdoa bisa mewakili ketaatan 78 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Nur Imamah Simbol ini ditempatkan di berbagai tempat strategis di pondok pesantren, seperti dinding kamar tidur, koridor, ruang makan, dan area ibadah, sebagai pengingat visual untuk para santri tentang pentingnya ketaatan dan sikap disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Kedua poster dan spanduk edukatif: kiyai bisa membuat poster atau spanduk dengan pesan-pesan disiplin yang mudah dipahami. Ini dapat mencakup kutipan-kutipan dari Al-Quran, hadis, atau peribahasa yang berfokus pada etika dan perilaku baik. Poster-poster ini ditempatkan di area-area strategis di pondok pesantren sehingga santri terus diingatkan tentang pentingnya budaya disiplin. Poster dan spanduk adalah media yang lebih besar dan lebih terlihat, dan dapat menyampaikan pesan-pesan disiplin secara lebih jelas. Kiyai bisa merancang poster dengan kutipan-kutipan dari Al-Quran, hadis, atau ajaran-ajaran agama yang berfokus pada aspek-aspek etika dan perilaku. Selain itu, spanduk-spanduk besar di area-area umum dapat menampilkan pesan-pesan disiplin yang Misalnya, spanduk dengan pesan "Disiplin adalah Kunci Keberhasilan" dapat membantu mengingatkan para santri tentang pentingnya sikap disiplin dalam mencapai tujuan mereka. Ketiga brosur dan materi tulisan: kiyai dapat menyebarkan brosur atau materi tulisan yang berisi nasihat-nasihat disiplin dan nilai-nilai moral. Materimateri ini bisa berisi cerita-cerita pendek yang mengilustrasikan prinsip-prinsip disiplin atau tips-tips untuk menjaga sikap disiplin sehari-hari. Brosur adalah bentuk ringkas dari materi tulisan yang dapat disebarkan kepada para santri. Materi ini bisa berisi nasihat-nasihat disiplin, contoh-contoh kasus, atau kisahkisah inspiratif yang relevan dengan pembentukan budaya disiplin. Brosur juga bisa mencakup tips praktis tentang bagaimana menghadapi tantangan-tantangan sehari-hari dengan sikap disiplin. Brosur-brosur ini bisa ditempatkan di pusat informasi, ruang kelas, atau area umum lainnya di pondok pesantren. Keempat acara-acara khusus: dalam acara-acara tertentu, seperti peringatan hari besar agama atau perayaan khusus. Kiyai dapat menyelipkan pesan-pesan disiplin dalam pidato atau ceramahnya. Ini membantu menyebarkan pesan dengan cara yang kreatif dan menarik, serta memanfaatkan momentum acara untuk membangun budaya disiplin. Acara-acara tertentu, seperti perayaan hari besar agama, peringatan ulang tahun pondok pesantren, atau acara amal, dapat dijadikan kesempatan untuk menyampaikan pesan disiplin. Kiyai bisa menyisipkan pesan disiplin dalam pidato atau ceramahnya di acara-acara ini. Ini adalah cara yang efektif untuk menghadirkan pesan disiplin dalam suasana yang penuh semangat dan perayaan, yang dapat membuat pesan lebih menarik dan mudah diterima. Kelima media digital: dalam era teknologi. Kiyai dapat menggunakan media digital seperti media sosial, grup pesan, atau platform daring untuk menyampaikan pesan disiplin. Konten-konten yang menarik, seperti kutipan, video pendek, atau meme yang relevan, dapat membantu menyebarkan pesan- 79 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Pola komunikasi kyiai dalm membangun budaya . pesan disiplin secara lebih luas di antara santri. Dalam era teknologi, media digital dapat menjadi alat yang kuat untuk menyampaikan pesan disiplin kepada Kiyai dapat memanfaatkan platform media sosial, grup pesan, atau forum daring untuk berbagi konten-konten tentang disiplin. Misalnya. Kiyai bisa memposting kutipan-kutipan pendek, video pendek, atau gambar dengan pesanpesan disiplin di akun media sosial pondok pesantren. Ini akan membantu pesan mencapai lebih banyak santri dan menjangkau generasi yang lebih muda yang terbiasa dengan teknologi. Pola Komunikasi Liner Kiyai Dalam Membangun Budaya Disiplin Santri Linear di sini mengandung makna lurus, pola komunikasi yang berjalan Proses penyampaian pesan baik menggunakan media maupun tanpa media dan tanpa adanya umpan balik (Effendy. Gumilang, 2. Dalam hal ini komunikasi linear kiyai dalam membangun budaya disiplin di pondok pesantren dapat dilakukan dengan tatap muka dan tanpa tatap muka. Komunikasi linear mengacu pada model komunikasi yang melibatkan satu arah, di mana pesan disampaikan oleh pengirim (Kiya. kepada penerima . tanpa keterlibatan penerima dalam tanggapan atau interaksi secara langsung. Kedua bentuk komunikasi linear ini memiliki manfaat dan keunikan masing-masing. Komunikasi tatap muka memberikan keunggulan dalam interaksi langsung dan pemahaman yang lebih dalam, sementara komunikasi tanpa tatap muka dapat mencapai jumlah santri yang lebih besar dan memiliki fleksibilitas dalam distribusi pesan. Kiyai dapat memilih pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan dan situasi untuk membangun budaya disiplin yang kuat di pondok pesantren. Pertama komunikasi tatap muka adalah bentuk interaksi langsung antara Kiyai dan santri di mana Kiyai berbicara atau berkomunikasi secara langsung dengan kelompok atau individu santri. Ini memungkinkan Kiyai untuk memberikan pesan-pesan disiplin secara personal, merespons pertanyaan atau tanggapan, dan membangun hubungan emosional dengan santri. Ini adalah bentuk komunikasi di mana Kiyai berinteraksi langsung dengan santri. Kiyai memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan disiplin secara langsung, mendengarkan pertanyaan atau tanggapan, dan memberikan penjelasan lebih lanjut jika diperlukan. Beberapa cara Kiyai dapat menggunakan komunikasi linear dengan tatap muka dalam membangun budaya disiplin adalah: Pertama khutbah jumat dan pengajian: kiyai dapat memberikan khutbah Jumat dan pengajian reguler sebagai sarana untuk menyampaikan pesan-pesan Ini memberikan kesempatan langsung kepada Kiyai untuk berbicara kepada sejumlah besar santri dan memberikan nasihat serta panduan disiplin yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Khutbah Jumat dan pengajian adalah momen penting di mana Kiyai memiliki kesempatan untuk berbicara kepada seluruh komunitas santri. Dalam khutbah Jumat. Kiyai bisa menyampaikan pesan-pesan moral, etika, dan disiplin yang diambil dari ajaran Pengajian rutin juga menjadi waktu yang baik untuk membahas nilai80 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Nur Imamah nilai disiplin secara lebih mendalam, memberikan contoh konkret, dan memberikan nasihat yang relevan dengan tantangan sehari-hari yang dihadapi oleh santri. Kedua ceramah dan sesi nasihat: kiyai bisa mengadakan ceramah atau sesi nasihat khusus tentang etika dan perilaku baik. Dalam acara ini. Kiyai dapat berbicara secara mendalam tentang prinsip-prinsip disiplin, serta merespons pertanyaan dan kekhawatiran santri mengenai isu-isu tersebut. Kiyai bisa mengatur sesi nasihat personal dengan santri. Dalam sesi-sesi ini, santri dapat mengajukan pertanyaan atau membahas permasalahan spesifik yang berkaitan dengan disiplin. Kiyai dapat memberikan arahan dan nasihat yang lebih personal, serta memberikan contoh-contoh praktis yang dapat membantu santri dalam menjaga sikap disiplin dalam berbagai situasi. Ketiga kegiatan pengembangan diri: kiyai bisa menjadi narasumber dalam kegiatan pengembangan diri yang berfokus pada pembentukan budaya disiplin. Misalnya, dalam lokakarya atau pelatihan. Kiyai bisa memberikan wawasan dan panduan disiplin yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kiyai memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk budaya disiplin di pondok pesantren. Salah satu cara efektif yang dapat dilakukan oleh Kiyai adalah menjadi narasumber dalam kegiatan pengembangan diri, seperti lokakarya atau pelatihan, yang berfokus pada pembentukan budaya disiplin. Dalam konteks ini. Kiyai dapat memberikan wawasan, panduan, dan nasihat praktis kepada santri agar mereka dapat mengembangkan dan menerapkan disiplin dalam kehidupan sehari-hari. Kedua komunikasi tanpa tatap muka oleh Kiyai adalah proses penyampaian pesan kepada santri di pondok pesantren tanpa melibatkan interaksi langsung. Ini melibatkan penggunaan berbagai media dan alat untuk menyampaikan pesan-pesan disiplin, nilai-nilai moral, dan panduan kehidupan kepada santri. Metode ini memanfaatkan komunikasi satu arah, di mana pesan disampaikan oleh Kiyai tanpa ada respons langsung dari santri. Ini adalah bentuk komunikasi di mana pesan disampaikan oleh Kiyai kepada santri tanpa ada interaksi langsung. Pesan ini bisa berupa pesan tertulis, rekaman audio atau video, dan media digital lainnya. Beberapa cara Kiyai dapat menggunakan komunikasi linear tanpa tatap muka dalam membangun budaya disiplin adalah: Pertama buku, artikel, atau materi tulisan: kiyai bisa menulis buku, artikel, atau materi tulisan lain yang berfokus pada pembentukan budaya disiplin. Materi-materi ini bisa diterbitkan dan disebarkan kepada santri sebagai panduan dan referensi dalam memahami nilai-nilai disiplin. Kiyai bisa menulis buku, artikel, atau materi tulisan lain yang membahas budaya disiplin. Buku atau materi ini dapat menjadi panduan yang lebih komprehensif bagi santri dalam memahami dan menghayati nilai-nilai disiplin. Materi ini dapat diterbitkan dan didistribusikan di kalangan santri, serta digunakan sebagai bahan diskusi atau 81 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Pola komunikasi kyiai dalm membangun budaya . Kedua rekaman audio atau video: Kiyai dapat merekam pesan-pesan disiplin dalam bentuk rekaman audio atau video. Ini bisa berupa ceramah singkat, nasihat, atau kisah-kisah inspiratif yang relevan dengan disiplin. Rekaman ini dapat diberikan kepada santri melalui platform digital atau disiarkan dalam acara-acara tertentu. Rekaman audio atau video adalah cara efektif untuk menyampaikan pesan disiplin dalam bentuk multimedia. Kiyai dapat merekam ceramah, nasihat, atau pidato tentang disiplin dan membagikannya kepada santri melalui platform digital atau perangkat Rekaman ini memungkinkan santri untuk mendengarkan dan meresapi pesan-pesan disiplin kapan saja dan di mana saja. Ketiga pesan digital: dalam era teknologi. Kiyai dapat menggunakan media sosial, grup pesan, atau aplikasi pesan untuk mengirim pesan-pesan Misalnya. Kiyai dapat mengirim pesan-pesan pendek atau kutipankutipan yang menginspirasi melalui grup pesan atau akun media sosial pondok Kiyai dapat memanfaatkan teknologi digital dan media sosial untuk menyampaikan pesan-pesan disiplin secara cepat dan efisien. Kiyai dapat mengirim pesan pendek atau kutipan inspiratif melalui grup pesan, aplikasi perpesanan, atau akun media sosial pondok pesantren. Ini membantu Kiyai menjaga keterhubungan dengan santri dan menyebarkan pesan disiplin dalam bentuk yang mudah diakses. Jika memungkinkan. Kiyai dapat menciptakan podcast atau kanal YouTube yang fokus pada nilai-nilai disiplin. Ini memungkinkan Kiyai untuk berbagi konten audio atau video yang lebih panjang, membahas topik-topik khusus, dan memberikan contoh kasus yang relevan. Platform ini juga memberikan fleksibilitas kepada santri untuk mendengarkan atau menonton konten ini sesuai dengan keinginan mereka. Pola Komunikasi Sirkular Kiyai Dalam Membangun Budaya Disiplin Santri Pola komunikasi sirkular, proses komunikasi berjalan secara terus menerus, sehingga ada umpan balik antara komunikator dan komunikan (Effendy. Gumilang, 2. Jadi pola komunikasi silkular kiyai ini berkaitan dengan proses komunikasi timbal balik atau dua arah yang terjadi antara kiyai dan santri atau santri dan kiyai yang dilakukan secera terus menerus demi tercapainya pondok pesantren yang berbudaya disiplin. Pola komunikasi sirkular ini menjadi fondasi yang kuat dalam menciptakan lingkungan pondok pesantren yang berbudaya disiplin. Melalui dialog terus menerus antara Kiyai dan santri, budaya disiplin dapat tumbuh dan terjaga dengan lebih efektif karena adanya pemahaman, keterlibatan, dan partisipasi aktif dari semua pihak yang terlibat. Pola komunikasi sirkular melibatkan pertukaran informasi, pandangan, dan pendapat antara Kiyaidan santri, serta santri dan Kiyai. Ini bukanlah komunikasi satu arah seperti pada pola komunikasi linear, tetapi lebih merupakan dialog atau diskusi yang melibatkan respons aktif dari kedua belah pihak. Kiyai memberikan panduan, nasihat, dan arahan, sementara santri memiliki kesempatan untuk 82 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Nur Imamah bertanya, berbagi pemikiran, dan memberikan tanggapan. Melalui pola komunikasi sirkular ini. Kiyai dapat memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang konsep disiplin, nilai-nilai moral, dan tujuan pondok pesantren kepada santri. Santri memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan dan mengklarifikasi pemahaman mereka, sehingga memungkinkan mereka untuk memahami lebih dalam tentang apa yang diharapkan dari mereka dalam hal disiplin. Pola komunikasi sirkular memungkinkan Kiyai Syaiful untuk membahas kasus-kasus konkret yang mungkin dihadapi oleh santri dalam kehidupan seharihari. Santri dapat membagikan pengalaman mereka dan mendapatkan pandangan atau solusi dari Kiyai tentang bagaimana mengatasi situasi tersebut dengan sikap disiplin yang baik. Pola komunikasi sirkular mendorong santri untuk berpikir kritis dan analitis tentang nilai-nilai disiplin dan moral yang diajarkan. Melalui dialog dan diskusi, santri dapat mengembangkan kemampuan mereka untuk merenung, mempertanyakan, dan mencari pemahaman yang lebih dalam. Penggunaan pola komunikasi sirkular membuat santri merasa lebih diberdayakan dan diperhatikan. Mereka merasa dihargai karena pandangan dan pendapat mereka diakui. Ini membantu membangun hubungan yang lebih kuat antara Kiyai dan santri, serta menciptakan lingkungan yang terbuka untuk belajar dan tumbuh bersama. Melalui pola komunikasi sirkular. Kiyai dapat menyesuaikan pesan-pesan disiplin dengan lebih baik sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang berkembang. Mereka dapat merespons secara lebih tepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren atau tantangan-tantangan yang muncul. Komitmen terhadap komunikasi dua arah dalam pola komunikasi sirkular membantu memastikan bahwa pesan-pesan disiplin disampaikan dengan cara yang lebih efektif. Dengan mendengar langsung dari santri. Kiyai dapat mengidentifikasi area yang memerlukan perhatian lebih, serta menyesuaikan strategi komunikasi mereka agar lebih relevan dan mudah dimengerti oleh santri. Pola komunikasi sirkular memungkinkan Kiyai untuk terus memantau dan mengevaluasi dampak dari upaya mereka dalam membentuk budaya disiplin. Melalui tanggapan santri. Kiyai dapat mengukur sejauh mana pesan-pesan disiplin telah diterima dan diinternalisasi. Membangun komunikasi sirkular yang efektif antara Kiyai dan santri dalam rangka pembentukan budaya disiplin memerlukan pendekatan yang terencana dan berkelanjutan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diambil untuk membangun komunikasi sirkular yang efektif: pertama menciptakan lingkungan terbuka: pastikan ada lingkungan yang terbuka dan ramah untuk berbicara di mana santri merasa nyaman untuk mengajukan pertanyaan, berbagi pendapat, dan berdiskusi. Lingkungan seperti ini memungkinkan komunikasi sirkular berkembang secara alami. Kedua penjadwalan regular: tentukan jadwal reguler untuk pertemuan atau 83 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Pola komunikasi kyiai dalm membangun budaya . sesi komunikasi antara Kiyai dan santri. Ini bisa dalam bentuk diskusi kelompok, kajian bersama, atau pertemuan khusus. Penjadwalan yang konsisten membantu membangun harapan dan memastikan bahwa komunikasi berjalan secara teratur. Ketiga gunakan berbagai media: manfaatkan berbagai media komunikasi, seperti diskusi tatap muka, pertemuan daring, pesan teks, atau media sosial, untuk menjalankan komunikasi sirkular. Pemanfaatan media yang beragam memungkinkan santri yang memiliki preferensi komunikasi yang berbeda tetap Keempat mendorong partisipasi aktif: ajak santri untuk berpartisipasi secara aktif dalam diskusi dan interaksi. Ini dapat dicapai dengan memberi kesempatan kepada mereka untuk mengajukan pertanyaan, berbagi pengalaman, atau memberikan pandangan mereka tentang topik disiplin dan nilai-nilai moral. Kelima berikan umpan balik konstruktif: kiyai harus memberikan umpan balik yang konstruktif terhadap tanggapan dan partisipasi santri. Ini membantu dalam memperkuat hubungan dan memberikan panduan yang lebih baik dalam proses komunikasi sirkular. Keenam adaptasi dengan kebutuhan: sesuaikan gaya komunikasi dengan kebutuhan dan karakteristik santri. Beberapa santri mungkin lebih tertarik pada diskusi kelompok besar, sementara yang lain lebih nyaman berbicara dalam kelompok kecil atau secara pribadi. Ketujuh membangun kepercayaan dan keterbukaan: kiyai harus berusaha untuk membangun kepercayaan dan keterbukaan dengan santri. Ini penting agar santri merasa nyaman untuk berbicara tentang pengalaman, tantangan, dan pertanyaan mereka tanpa rasa Kedelapan evaluasi dan perbaikan terus-menerus: lakukan evaluasi terusmenerus terhadap efektivitas komunikasi sirkular. Dari sini, identifikasi apa yang telah berjalan baik dan apa yang perlu diperbaiki. Terus beradaptasi dengan respons dan kebutuhan santri. SIMPULAN Pondok pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang kental dengan nilainilai keagamaan dan spiritual. Salah satu aspek penting dalam membentuk karakter santri di pondok pesantren adalah budaya disiplin. Kiyai, sebagai pemimpin spiritual dan pendidik utama di pondok pesantren, memiliki peran sentral dalam membentuk budaya disiplin tersebut melalui pola komunikasi yang mereka terapkan. Melalui pola komunikasi yang baik dan efektif, kiyai dapat membantu membangun budaya disiplin yang kuat di pondok pesantren. Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen menjelaskan bahwa ketertiban menunjuk kepada kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan dan tata tertib karena di dorong atau disebabkan oleh sesutu yang datang dari luar (Yusdian et al. , 2. Disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturanperaturan yang telah ada dengan rasa senang (Gie. Aini, 2. Sedangkan budaya disiplin merupakan kegiatan yang tetap dilakukan oleh seseorang dengan cara 84 | Syiar | Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Nur Imamah mereka harus mentaati segala peraturan yang telah diberlakukan oleh organisasi (Jannah & Supriyanto, 2. Selain itu, budaya disiplin juga diartikan sebagai kegiatan menyesuaikan kebijakan yang telah ditetapkan melalui pemberian hukuman pada seseorang yang melanggar peraturan (Zuhriyah, 2. Dalam membangun budaya disiplin santri di pondok pesantren, kiyai dapat menggunakan pola komunikasi primer untuk memberikan arahan individu kepada santri yang memerlukan, serta pola komunikasi sekunder untuk mengkomunikasikan nilai-nilai disiplin kepada seluruh komunitas pesantren. Pola komunikasi linear dapat digunakan untuk memberikan pengajaran dan bimbingan, sementara pola komunikasi sirkular memungkinkan kiyai untuk terlibat dalam diskusi mendalam tentang disiplin dan mendengarkan masukan dari santri. Kombinasi berbagai pola komunikasi ini akan membantu kiyai dalam membentuk budaya disiplin yang kuat di kalangan santri, memastikan bahwa pesan-pesan disiplin diterima dengan baik, dipahami, dan diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari para santri. DAFTAR PUSTAKA