Jurnal Cahaya Mandalika. Vol. No. 1, 2024, e-ISSN: 2721-4796, p-ISSN: 2828-495X Available online at: http://ojs. com/index. php/JCM Akreditasi Sinta 5 SK. Nomor: 1429/E5. 3/HM. 01/2022 ISTILAH KEKERABATAN DALAM BAHASA SASAK Nurlaela Zuhma Yani1 Universitas Mataram E-mail: zuhma311@gmail. Abstrak: Istilah kekerabatan dalam masyarakat Sasak menarik untuk diteliti khususnya pembagian berdasarkan istilah konsanguinal dan afinal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan istilah konsanguinal dan afinal masyarakat Sasak di Desa Gontoran. Dalam penelitian ini, pengumpulan data menggunakan metode interviu bebas, analisis data menggunakan metode padan ekstralingual, dan penyajian hasil analisis data menggunakan metode Kata kunci: Istilah Kekerabatan. Bahasa. Suku Sasak Abstract: The term kinship in Sasak society is interesting to research, especially the division based on consanguinal and afinal terms. Therefore, this study aims to elaborate the consanguinal and final terms of the Sasak community in Gontoran Village. In this study, data collection used free interview methods, data analysis using extralingual methods, and presentation of data analysis results using informal methods. Keywords: Kinship Terms. Language. Sasak Tribe PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku bangsa. Salah satu penanda suku bangsasuku bangsa tersebut adalah bahasa. Sebagai alat komunikasi, bahasa menjadi penanda keasalan dalam suatu masyarakat. Bahasa juga menjadi cermin budaya dalam masyarakat penuturnya. Salah satu bahasa penanda keasalan adalah bahasa Sasak. Bahasa Sasak merupakan bahasa dari suku Sasak yang berada di pulau Lombok. Dalam perkembangan zaman, tidak sedikit masyarakat Sasak menikah dengan masyarakat di luar Sasak. Pernikahan antarsuku bangsa tersebut membuat posisi bahasa daerah dinomorduakan akibat hanya menguasai bahasa daerah masing-masing. Hal ini membuat penutur bahasa tersebut memilih menggunakan bahasa Indonesia sehingga banyak turunan dari pernikahan antarsuku bangsa tidak menguasai bahasa daerah. Penelitian ini dilakukan sebagai dokumentasi selayaknya bahasa Ibrani yang telah punah dapat dihidupkan kembali karena pendokumentasian yang baik. Dokumentasi bahasa dalam penelitian ini berupa istilah-istilah kekerabatan dalam bahasa Sasak, khususnya istilah konsanguinal dan istilah afinal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan istilah kekerabatan masyarakat Sasak di Desa Gontoran. Penelitian yang mengkaji tentang kekerabatan dalam bahasa Sasak telah dilakukan oleh Suktiningsih dengan judul Indeksikalitas leksikon kekerabatan etnis Sasak masyarakat Rembiga Mataram. Hakim AuSapaan Kekerabatan Bahasa Sasak di Desa Beraim. Kecamatan Praya Tengah. Lombok TengahAy. Dewi AuSistem Sapaan Istilah Kekerabatan (Kinshi. dalam Bahasa Sasak Komunitas PujutAy, dan Haeruddin AuSistem Sapaan Kekerabatan Suku Sasak: Kajian Linguistik KebudayaanAy. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Suktiningsih. Hakim, dan Dewi terletak pada lokasi penelitian. Sedangkan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Haerudin terletak pada teori yang digunakan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu suatu pendekatan studi yang menghasilkan data deskriptif dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan dari individu dan tindakan yang dapat diamati, atau beberapa tradisi dalam ilmu sosial yang pada dasarnya didasarkan pada pengamatan orang di lingkungan mereka sendiri dan berkomunikasi dengan orang-orang ini dalam bahasa mereka (Sofiyana dkk, 2022: 36-. Data dalam penelitian ini berupa kata, frasa, dan istilah dalam sistem kekerabatan Masyarakat Sasak. Sumber data dalam penelitian ini adalah penutur bahasa Sasak di Desa Gontoran. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode interviu bebas, yaitu pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan (Arikunto, 2013: . Instrumen pengumpulan data berupa pedoman wawancara dengan prosedur menanyakan serentetan pertanyaan yang telah disiapkan untuk diperdalam agar memperoleh keterangan yang lengkap (Arikunto, 2013: . Dalam penelitian ini, analisis data dilakukan melalui reduksi data. Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu perlu dicatat secara teliti dan rinci. Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan (Abdussamad, 2021: . HASIL DAN PEMBAHASAN Istilah konsanguinal adalah istilah kekerabatan yang mengacu kepada istilah yang menunjukkan adanya pertalian darah. Berikut ini tabel istilah konsanguinal dalam bahasa Sasak. Jenis Laki kelamin Laki Per Generasi Istilah Konsanguinal Garis Keturu Tingkat - - - - 0 4 3 2 1 1 2 3 4 Istilah Amaq Istilah Kakaq Inaq Mamiq Adiq Amaq Inaq Mamiq Lineal Kolateral Tingkat Tingkat - - - - 0 - - - - 0 4 3 2 1 1 2 3 4 4 3 2 1 1 2 3 4 Istilah Amaq Mamiq Inaq Inaq Anak Inaq Inaq Papuq Baloq Embiq Anak Bai Baloq Embiq Bai Baloq Embiq Pisaq Sampu Semeto Pada tabel istilah konsanguinal, hanya kata amaq, inaq, mamiq, dan inaq tuan yang menunjukkan perbedaan istilah jenis kelamin. Untuk saudara laki-laki yang lebih tua dan lebih muda, tidak terdapat perbedaan istilah, sama-sama menggunakan kakak dan adiq, baik untuk lakilaki maupun untuk perempuan. Kata mamiq dan inaq tuan dalam masyarakat Sasak digunakan untuk menyebut seseorang yang sudah berhaji. Selain itu, kata mamiq juga digunakan sebagai panggilan untuk seseorang yang memiliki gelar bangsawan dalam masyarakat Sasak, seperti lalu. Namun, di Desa Gontoran Barat, istilah mamiq yang mengacu pada panggilan seorang bangsawan, jarang ditemukan. Lain halnya dengan istilah inaq yang tidak memiliki pembeda antara bangsawan dan masyarakat biasa. Keempat istilah tersebut bermakna AuamaqAy AoayahAo. AuinaqAy AoibuAo. AumamiqAy AobapakAo. Auinaq tuanAy Aopanggilan ibu untuk yang sudah berhajiAo AukakaqAy AokakakAo, dan AuadiqAy AoadikAo. Istilah kekerabatan berdasarkan jenis kelamin tersebut juga hanya berbentuk kata dan terdiri atas dua suku kata, yaitu maq, i. naq, a. diq, dan ka. Pengucapan kata kakaq dan adiq pada istilah kekerabatan tersebut sama dengan istilah dalam bahasa Indonesia, sementara dalam penulisannya, kata kakaq dan adiq hanya dibedakan oleh huruf q dari kata AukakakAy dan AuadikAy dalam bahasa Indonesia. Berdasarkan generasi terdapat istilah kakaq, adiq, amaq, inaq, papuq, baloq, embiq, anak, bai, baloq, dan embiq. Merujuk kepada istilah-istilah tersebut, sama halnya dengan istilah berdasarkan jenis kelamin, yaitu semua istilah berbentuk kata. Istilah-istilah tersebut bermakna AukakaqAy AokakakAo. AuadiqAy AoadikAo. AuamaqAy AoayahAo. AuinaqAy AoibuAo. AupapuqAy Aonenek/kakekAo. AubaloqAyAomoyangAo,Ay embiqAy AobuyutAo. AuanakAy AoanakAo. AubaiAy AocucuAo. AubaloqAy AocicitAo, dan AuembiqAy AopiutAo. Kata-kata tersebut terdiri atas dua suku kata, yaitu ka. kaq, a. diq, a. maq, i. naq, pa. loq, em. biq, a. nak, ba. i, ba. loq, dan em. Kata AuanakAy dalam bahasa Sasak dan AuanakAy dalam bahasa Indonesia memiliki pengucapan yang berbeda. Huruf AukAy pada kata AuanakAy dalam bahasa Indonesia terkadang diucapkan seolah-olah menggunakan huruf AuqAy menjadi AuanaqAy. Namun, tidak dengan bahasa Sasak, huruf AukAy pada kata AuanakAy selalu terdengar jelas. Selanjutnya, dalam bahasa sasak, tidak terdapat perbedaan istilah untuk menyebut orang tua ayah atau ibu berdasarkan jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama menggunakan kata AupapuqAy. Untuk menjelaskan apakah yang dimaksud adalah kakek atau nenek, penutur bahasa Sasak menambahkan kata AunineAy untuk perempuan dan AumameAy untuk laki-laki, contohnya Aupapuq nineAy Aupapuq mameAy. Begitupun dengan kata AubaloqAy ataupun AuembiqAy. Istilah AuembiqAy jarang digunakan oleh masyarakat Sasak karena masyarakat Sasak kebanyakan meninggal sebelum memiliki AuembiqAy. Kata AubaloqAy dan AuembiqAy tidak memiliki perbedaan penyebutan untuk tingkatan ke atas maupun ke bawah. Berdasarkan garis keturunan lineal dan garis keturunan kolateral. Garis keturunan lineal adalah hubungan kekerabatan berdasarkan garis keturunan langsung. Istilah-istilah garis keturunan secara langsung adalah AuamaqAy AoayahAo. AuinaqAy AoibuAo. AuanakAy AoanakAo. AubaiAy AocucuAo. AubaloqAy AomoyangAo, dan AuembiqAy AobuyutAo. Garis keturunan kolateral adalah garis keturunan yang berasal dari nenek moyang yang sama. Istilah-istilah garis keturunan kolateral sama dengan lineal, hanya terdapat penambahan kata AupisaqAy Aosebutan untuk anak saudara kandung dengan anak saudara kandungAo. AusampuAy Aosebutan untuk anak saudara misan dengan anak saudara misanAo, dan AusemetonAy AosaudaraAo. Istilah AusemetonAy bermakna umum, bisa digunakan untuk orang yang memiliki hubungan keluarga atau bukan keluarga. Semua istilah tersebut berbentuk kata dan terdiri atas dua suku kata, kecuali kata semeton, tiga suku kata, yaitu a. maq, i. naq, a. nak, ba. i, ba. loq, em. saq, sam. pu, dan se. Selain istilah konsanguinal di atas, berikut juga paparan istilah afinal. Istilah afinal adalah istilah yang yang mengacu pada kerabat yang bukan keturunan langsung, namun dari garis nenek Berikut tabel istilah afinal dalam bahasa Sasak. Istilah Afinal Jenis Laki kelamin Laki Per Generasi Tingkat Garis Keturu - - - - 0 4 3 2 1 1 2 3 4 Istilah Semame Istilah Semame Istilah Semam Senine Duan Bai Senine Mamiq Inaq Amaq Kake Inaq Kake Amaq Inaq rari Mentoaq Bai Bai Baloq Embiq Amaq Tereq Mentoaq Mamiq Tingkat - - - - 0 4 3 2 1 1 2 3 4 Senine Ipar Semeton Semeton Semeton Kolateral Inaq Amaq Saiq Inaq Inaq Amaq Inaq Amaq Inaq rari Amaq Inaq saiq Amaq Inaq Papuq Papuq Baloq Embiq Menantu Anak Duan Bai Baloq Embiq Pada tabel istilah afinal, istilah-istilah yang merujuk pada jenis kelamin adalah Ausemame, senine, mamiq, inaq tuan, amaq kake, inaq kake, amaq rari, inaq rari, amaq tereq, dan inaq tereqAy. Istilah-istilah tersebut secara berurutan bermakna Aosuami, istri, panggilan untuk orang tua yang sudah berhaji/bergelar bangsawan, sebutan untuk ibu yang sudah berhaji, sebutan paman untuk kakak laki-laki dari bapak/ibu, sebutan bibi untuk kakak perempuan dari bapak/ibu, sebutan paman untuk adik laki-laki dari bapak/ibu, sebutan bibi untuk adik perempuan dari bapak/ibu, ayah tiri, dan ibu tiri. Istilah-istilah tersebut berbentuk kata dan kelompok kata. Kata semame dan senine tidak terdiri atas morfem se- mame dan se- nine karena kata semeton merupakan kata dasar seperti pada kata semeton, selapuq, dan semaiq. Istilah afinal berdasarkan generasi adalah Ausemame, senine, ipar, semeton pendait, semeton kuni, semeton tereq, mentoaq, mentoaq bewe, amaq saiq, inaq saiq, amaq tereq, inaq tereq, amaq kake, inaq kake, amaq rari, inaq rari, papuq, papuq tereq, baloq, embiq, menantu, anak tereq, duan, bai, baloq, dan embiqAy. Istilah afinal berdasarkan generasi terdiri dari kata dan frasa seperti pada istilah afinal berdasarkan jenis kelamin. Makna dari istilah-istilaah tersebut secara berurutan adalah Aosuami, istri, istilah untuk menyebut saudara dari hasil pernikahan ibu atau ayah pada pernikahan sebelumnya, saudara, saudara satu ayah, saudara satu ibu, mertua, saudara mertua, sebutan untuk paman yang lebih tua atau lebih muda, sebutan bibi untuk yang lebih tua atau lebih muda, ayah tiri, ibu tiri, sebutan paman untuk kakak laki-laki dari bapak/ibu, sebutan bibi untuk kakak perempuan dari bapak/ibu, sebutan paman untuk adik laki-laki dari bapak/ibu, sebutan bibi untuk adik perempuan dari bapak/ibu, nenek/kakek, nenek/kakek tiri, moyang, buyut, menantu, anak tiri, keponakan, cucu, sebutan untuk anak cucu, sebutan untuk anak moyang. Dalam bahasa Sasak, tidak ada istilah untuk nenek/kakek dari satu bapak serta istilah menantu dalam Sasak sama dengan bahasa Indonesia. Istilah-istilah tersebut berbentuk kata, frasa, dan kelompok kata. Dalam hubungan pernikahan, tidak terdapat istilah lineal hanya ada istilah kolateral. Istilahistilah afinal berdasarkan kolateral adalah semame, senine, duan, bai, bai dade, bai bungkak, baloq, dan embiq. Makna istilah-istilah tersebut sama dengan penjelasan sebelumnya, hanya terdapat tambahan Aubai dadeAy yang merujuk pada Aocucu dari anak laki-lakiAo dan Aubai bungkakAy Aocucu dari anak perempuanAo. Merujuk pada semua penjelasan di atas, tidak banyak perbedaan antara istilah konsanguinal dengan istilah afinal. Hal tersebut menggambarkan bahwa budaya masyarakat Sasak tidak membedakan antara kerabat dari hubungan darah dengan kerabat dari hubungan pernikahan. Bunyi Vokal Dalam bahasa Indonesia, bunyi vokal terbagi menjadi tiga jenis telaahan, yaitu berdasarkan pada naik turunnya lidah, berdasarkan maju mundurnya lidah, dan berdasarkan bentuk bibir (Sukri, 2022: . Pengkajian bunyi vokal bahasa Sasak dalam istilah kekeraban ini dilakukan berdasarkan pembagian tersebut. Bunyi vokal depan, atas, dan tak bundar dilambangkan dengan . Ketika mengucapkan vokal tersebut, lidah berada pada posisi atas dan disertai bentuk bibir sedikit melebar ke samping atau bibir sedikit berbentuk pipih (Sukri, 2022: . Contoh vokal . dalam istilah kekerabatan bahasa Sasak terdapat pada kata . Bunyi vokal belakang, atas, dan bundar dilambangkan dengan . Bunyi tersebut dihasilkan ketika lidah dalam posisi atas dan belakang, sedangkan bibir dalam keadaan membundar (Sukri, 2022: . Contoh vokal . dalam istilah kekerabatan bahasa Sasak terdapat pada kata . Bunyi vokal belakang, tengah atas, dan bundar dilambangkan dengan . Bunyi jenis ini terdapat dalam suku terbuka (Sukri, 2022: . Contoh dalam istilah kekerabatan bahasa Sasak terdapat pada kata . Bunyi vokal depan, bawah, dan tak bundar dilambangkan dengan . Bunyi ini dihasilkan dengan posisi lidah paling bawah dan depan, sedangkan bibir dalam keadaan terbuka lebar (Sukri, 2022: . Contoh dalam istilah kekerabatan bahasa Sasak terdapat pada kata . , . , . , dan . Bunyi Konsonan Bunyi konsonan glottal stop, tak bersuara, dilambangkan dengan [A]. Bunyi ini berada di sekitar celah selaput suara . Ketika diproduksi, udara terhambat sehingga udara keluar dengan paksa. Udara tidak menyebabkan dinding selaput suara bergetar, sehingga bunyi glottal ini dikenal dengan bunyi konsonan tak bersuara (Sukri, 2022: . Dalam istilah kekerabatan bahasa Sasak contohnya pada kata [ amaA], . naA], . apuA], dan . aloA]. Morfem Istilah-istilah kekerabatan dalam bahasa Sasak semuanya adalah morfem bebas. Frasa dan Kelompok Kata Dalam istilah-istilah kekerabatan bahasa Sasak, terdapat frasa nomina pada kata inaq tereq dan amaq tereq. Keduanya termasuk frasa nomina karena unsur pembentuknya adalah nomina. Kelompok kata merupakan gabungan kata yang membentuk makna baru. Contohnya pada kata amaq keke. AuAmaqAy bermakna AoayahAo dan AukakeAy berarti AokakakAo. Sehingga kedua kata tersebut membentuk makna saudara dari ayah/ibu yang lebih tua. Begitu pun dengan kata Auinaq kakeAy. Berbeda dengan istilah Aubai dadeAy dan Aubai bungkakAy, unsur pembentuk kelompok kata tersebut salah satunya tidak memiliki hubungan dengan makna yang dihasilkan. Maksudnya adalah kata AubaiAy masih memiliki refen yang sama dengan makna dasarnya sedangkan kata AudadeAy dan AubungkakAy sudah berubah. Kata AudadeAy merujuk pada Auanak laki-lakiAy dan kata AubungkakAy bermakna Auanak perempuanAy. DAFTAR PUSTAKA