Al-Asalmiya Nursing Jurnal Ilmu Keperawatan (Journal of Nursing Science. Volume 13. Nomor 1. Juni 2024. Halaman 1-6 p-ISSN: 2338-2112, e-ISSN: 2580-0485 https://jurnal. id/index. php/keperawatan PENGARUH PEMBERIAN DISCHARGE PLANNING TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN STROKE NON HEMORAGI Nina OliviaA. Ika Ariyanti. Virginia Syafrinanda. Endang Roswati Siymamora. Sri Ulina Br Ginting Suka. Akademi Keperawatan Kesdam I/BB Medan. Indonesia ARTICLE INFO Artikel History Submitted: 2024-05-20 Accepted: 2024-06-13 Publish: 2024-06-30 Kata Kunci: Discharge Planning. Kualitas Hidup. Stroke Non Hemoragik ABSTRAK Stroke adalah kelainan neurologis yang dap at menimbulkan kelemahan bahkan kecacatan fisik dan psikososial. Discharge planning atau perencanaan pulang merupakan proses aktif yang dimulai dari perawatan rawat inap yang bertujuan untuk meminimalkan dampak resiko kambuh serta meningkatkan kualitas hidup pasien sehingga mendapatkan kemandirian dan fungsional kembali ke gaya hidup aktif dan produktif. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi program discharge planning pasien stroke non hemoragi terhadap kualitas hidup dan aktivitas seharihari. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif Quasy Eksperiment, sampel dalam penelitian ini pasien stroke non hemoragik di Rumkit Tk II Putri Hijau Medan tahun 2022 dari bulan Februari sampai dengan April, yang berjumlah 50 orang, teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Hasil Penelitian menunjukkan: . Rata-rata pengetahuan total meningkat segera setelah penerapan discharge planning dari 26% menjadi 70%. Kualitas Hidup responden sebelum pemberian discharge planning menunjukkan buruk 76%, sedang 14% dan baik Setelah diberikan program perencanaan pulang meningkat menjadi kualitas hidup buruk 54%, sedang 22% dan baik 24%. Dapat disimpulkan secara signifikan adanya pengaruh pemberian discharge planning terhadap kualitas hidup pasien stroke non hemoragik dengan nilai P value =0,001< 0,05. ABSTRACT Keywords: Discharge Planning. Quality Of Life. Stroke Non Hemorrhagic Page | 1 Stroke is a neurological disorder that can lead to physical and psychosocial weakness and even disability. Discharge planning is an active process that starts from inpatient care, aimed at minimizing the risk of recurrence and improving the patient's quality of life so they can regain independence and functionality, returning to an active and productive lifestyle. The purpose of this study is to evaluate the discharge planning program for non-hemorrhagic stroke patients on their quality of life and daily activities. This research is a quantitative QuasiExperimental study. The sample consists of 50 non-hemorrhagic stroke patients at Rumkit Tk II Putri Hijau Medan in 2022, from February to April, selected through purposive sampling. The research results show: the average total knowledge increased immediately after the implementation of discharge planning from 26% to 70%. The respondents' quality of life before discharge planning showed 76% poor, 14% moderate, and 10% good. After the discharge planning program was provided, the quality of life improved to 54% poor, 22% moderate. Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 and 24% good. It can be concluded that there is a significant impact of discharge planning on the quality of life of non-hemorrhagic stroke patients with a P-value = 0. 001 < 0. A A ACorresponding Author: Nina Olivia Akademi Keperawatan Kesdam I/BB Medan. Indonesia Email: ninabiomed123@gmail. PENDAHULUAN Stroke merupakan penyebab utama kedua kematian dan kecacatan secara global dengan lebih dari 13 juta kasus baru setiap tahun (Lindsay et al. , 2. Di Indonesia, stroke menjadi penyebab kematian kedua. Data dari (Kemenkes, 2. menunjukkan angka kejadian stroke meningkat dari 7% menjadi 10,9 per 1. 000 penduduk. Provinsi dengan penderita stroke terbanyak adalah Kalimantan Timur dengan 14,7 per 1. 000 penduduk, diikuti oleh Daerah Istimewa Yogyakarta dan Sulawesi Utara, sementara Jawa Barat berada di urutan kedua belas. Usia di atas 75 tahun memiliki prevalensi stroke tertinggi dengan 50,2 per 1. 000 penderita. Angka-angka ini menunjukkan peningkatan dari laporan tahun 2013 ke 2018 (Kemenkes. Stroke dibagi menjadi dua jenis berdasarkan penyebabnya, yaitu stroke infark . dan stroke hemoragik. stroke infark terjadi karena adanya emboli di pembuluh darah otak, sementara stroke hemoragik disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah di otak. Pada penderita stroke 60,7% disebabkan oleh stroke non-hemoragik, sedangkan 36,6% disebabkan oleh stroke hemoragik (Smelzer, 2. Jumlah penderita stroke non-hemoragik lebih banyak 2 kali lipat dibandingkan stroke Setiap tahunnya diperkirakan 500 ribu penduduk di Indonesia terkena serangan stroke (Permatasari et al. , 2. Stroke non-hemoragik sering terjadi pada orang lanjut usia, namun juga dapat terjadi pada individu di bawah 45 tahun, dengan kurang dari 5% kasus stroke terjadi pada usia muda (Mahendrakrisna et al. , 2. Menurut laporan Riset Kesehatan Dasar, terdapat 0,6 per 1. 000 kasus stroke pada rentang usia 15-24 tahun (Kemenkes, 2. Perawat di rumah sakit berperan sebagai penyedia layanan kesehatan profesional, bertindak sebagai pengelola kasus dan melaksanakan perawatan pasien. Sebelum pasien dipulangkan, perawat menyusun rencana pemulangan untuk pasien stroke yang mencakup pemberian informasi dan pelatihan pada keluarga tentang cara membantu pasien berpindah dari tempat tidur ke kursi, membantu dalam berpakaian, mandi, mencuci, memberikan obat dengan benar, menentukan waktu pemberian obat, dan memastikan pasien datang ke rumah sakit untuk kontrol tepat waktu, serta hal-hal lain (Potter, 2. Discharge planning adalah proses pengembangan rencana yang dilakukan untuk pasien dan keluarganya sebelum pasien meninggalkan rumah sakit, dengan tujuan mencapai kesehatan optimal (Neila Sulung dan Beauty Hartini, 2. Discharge planning juga merupakan proses yang kompleks yang bertujuan mempersiapkan pasien untuk transisi dari rumah sakit ke rumah. Discharge Planning yang baik harus mencakup penilaian pasien, pengembangan rencana yang sesuai dengan kebutuhan pasien, penyediaan layanan termasuk pendidikan keluarga dan layanan rujukan, serta tindak lanjut berupa evaluasi atau follow-up (Said Taha & Ali Ibrahim, 2. Menurut penelitian (Clarke & Forster, 2. , sebelum dilakukan discharge planning, mayoritas pasien pasca stroke di rumah sakit memiliki pengetahuan yang kurang, yaitu sebanyak 67,6%, dan hanya sebagian kecil yang memiliki pengetahuan baik, yakni 1,9%. Setelah discharge planning dilakukan, hampir seluruh pasien Page | 2 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 stroke menunjukkan peningkatan pengetahuan dengan 62,0% memiliki pengetahuan baik dan hanya 2,8% yang masih kurang (Clarke & Forster, 2. Penelitian oleh (Ulfah & Ahyana, 2. menunjukkan bahwa pelaksanaan discharge planning pada pasien stroke berada dalam kategori baik untuk 23 orang . ,7%). Diharapkan, tenaga medis dan perawat dapat mempertahankan dan meningkatkan pelayanan discharge planning, khususnya pada pasien stroke, untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan kualitas hidup pasien. Penelitian (Said Taha & Ali Ibrahim, 2. tentang pengaruh discharge planning pada pasien stroke terhadap kualitas hidup dan aktivitas hidup menunjukkan adanya hubungan Dimana pengetahuan pasien stroke dari pengetahuan buruk 86% menurun menjadi 44% dan 33% dari bulan pertama sampai bulan ketiga penelitian, setelah pemberian discharge Tingkat ketergantungan aktifitas pasien stroke meningkat dari tingkat ketergantungan penuh 60% terhadap aktivitas menurun menjadi 22% tingkat ketergantungan. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian discharge planning dapat menurunkan tingkat ketergantunga pasien stroke dalam Sehingga berpengaruh pada Kualitas Hidup pasien stroke yakitu meningkat dari 10% sebelum pemberian discharge planning dan meningkat menjadi 38% setelah pemberian discharge METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari sampai dengan April 2022 dengan menggunakan alat pengumpulan data terdiri dari Kuesioner tentang pengetahuan pasien stroke yang diadopsi pada penelitian (Rabi ikiN et al. , 2. dan (Oswald et al. , 2. yang berisi 15 pertanyaan tentang stroke yang meliputi pengertian, penyebab, jenis, tanda dan gejala, diagnosis, komplikasi, pencegahan dan pengobatan serta 8 pertanyaan tentang aktivitas pasien sehari-hari terdiri dari pengetahuan terkait perawatan kulit, mandi, perawatan mulut, kemampuan memakai pakaian, makanan, alat bantu gerak dan olah raga. Untuk menilai kualitas hidup pasien stroke menggunakan AuStroke Specific Quality of Life Scale (SS-QOL)Ay yang diadopsi dari Wiliams et. dan Skala Indeks Barthel untuk mengukur aktivitas sehari-hari (ADL) Jenis pada penelitaian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian Quasi experiment yaitu peneliti melakukan pretest control one group pada responden (Williams et al. , 1. Penentuan besar sampel dilakukan dengan menggunakan uji hipotesis estimasi proporsi sehingga di peroleh sampel adalah 50 orang. Hasil yang akan di dapatkan dari penelitian ini adalah pengetahuan sebelum diberikan discharge planing dan sesudah diberikan discharge Planing dan di bandingkan terhadap qualitas hidup pasien. HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut adalah hasil yang di peroleh dari penelitian ini: Kategori Usia 51- 65 Jumlah Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia Berdasarkan Tabel 1 diperoleh hasil usia responden adalah responden usia 30-40 berjumlah 1 orang . %), usia 41-50 berjumlah 9 . %), dan usia 51-65 berjumlah 40 . %). Hal ini sesuai dengan penelitian . idiyono et al. , 2. karakteristik pasien stroke berusia 56- Page | 3 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 65% berkisar 60%. Hal ini di dukung pula oleh penelitian (Laily et al. , 2. bahwa penderita stroke non-hemoragik berusia > 55 tahun. Kategori Baik Kurang Jumlah Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Pasien Stroke Non Hemoragik Pre test Post test Pada Tabel 2 diperoleh hasil pengukuran nilai pengetahuan pasien stroke sebelum diberikan discharge planning yaitu Tingkat pengetahuan baik 13 . %), tingkat pengetahuan kurang sebanyak 37 responden . %), dan setelah di berikan discharge planning pengetahuan meningkat baik 35 . %), tingkat pengetahuan kurang 15 . %). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian discharge planning berpengaruh pada peningkatan pengetahuan pasien stroke. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Faiz et al. , 2. yang menunjukkan bahwa pengetahuan rendah responden tentang resiko stroke, gejala dan pengobatan sebelum di berikan pendidikan. Hal ini sejalan juga dengan penelitian (Pandian et al. , 2. yang menunjukkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang stroke sangat rendah sebelum pemberian discharge Planning. Dari hasil analisis bivariat didapatkan bahwa pengetahuan sesudah diberikan discharge Planning meningkat, pada Penelitian (Salam Ibrahim & El-SayedSoliman, 2. mempelajari pengaruh pemberian discharge planning pada pasien stroke akut beresiko terhadap peningkatan tentang pencegahan stroke sebelum dan sesudah pelaksanaan program. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Aktivitas Sehari-Hari menurut Skala Indeks Barthel Klasifikasi Sebelum Sesudah Bergantung Cukup Bantuan Sedikit Bantuan Mandiri Total Untuk menilai kemampuan pasien stoke dalam melakukan aktivitas dapat dilihat berdasarkan Tabel 3 dimana di peroleh hasil kemampuan aktivitas sebelum di berikan discharge Planning didapatkan hasil pasien stroke memiliki aktivitas bergantung 30 . %). Cukup 12 . %). Sedikit bantuan 8 . %) dan namun setelah di berikan discharge planning mengalami penurunan tingkat ketergantungan pada orang lain dan alat bantu yaitu bergantung penuh 11. %). Cukup 13. %). Sedikit bantuan 26 . %) Hasil ini sejalan dengan penelitian (Said Taha & Ali Ibrahim, 2. yang menemukan bahwa terjadi peningkatan skor rata-rata Indeks barthel pada kelompok eksperimen setelah penerapan program discharge Planning dibandingkan sebelum penerapan. Hasil ini di dukung pula oleh penelitian (Smith et al. , 2. yang melaporkan bahwa terjadi peningkatan skor indeks barthel setelah melaksanakan program pendidikan di bandingkan sebelumnya. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kualitas Hidup Pasien (SS-QOL) Pasien stroke Non Hemoragik Klasifikasi Sebelum Sesudah Sangat Buruk Buruk Page | 4 Al-Asalmiya Nursing / Vol. No. Juni 2024 Sedang Baik Sangat Baik Total Berdasarkan Tabel 4 diperoleh hasil pengukuran nilai kualitas Hidup responden sebelum pemberian discharge planning yaitu mayoritas responden memiliki kualitas hidup buruk 38 . %), sedang 7. %) dan baik 5. %). Setelah diberikan discharge planning meningkat menjadi kualitas hidup buruk 27. %), sedang 11. %) dan baik 12. %). Hasil ini sejalan dengan penelitian (Said Taha & Ali Ibrahim, 2. bahwa kualitas hidup pada pasien stroke mengalami peningkatan setelah pemberian program discharge Hal ini juga di dukung oleh penelitian (Elham et al. , 2. diperoleh korelasi positif dan signifikan secara statistik antara indeks barthel dengan pengetahuan dan kualitas hidup pasien stroke (Elham et al. , 2. , (Said Taha & Ali Ibrahim, 2. SIMPULAN Kesimpulan yang dari penelitian ini menunjukkan pemberian discharge planning meminimalkan dampak dari suatu keadaan, mengurangi resiko kambuh, serta meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga terhadap pelayanan kesehatan dan keperawatan. DAFTAR PUSTAKA