L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio1. Maria Widyastuti2. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan3. Maria Riski Pratiwi Renwarin4. Regina Gala Djala5 Universitas Katolik Darma Cendika Email: 1stefanprabani@ukdc. widyastuti@ukdc. panjaitan@ukdc. id, 4maria. renwarin@student. djala@student. ABSTRACT: The opportunity to practice, try and be independent is the right of all human beings. In reality, there are still human beings who find it difficult to get the opportunity to practice and develop themselves with the new skills that exist. Opportunities to get training are sometimes not considered for people with disabilities. Physical, mental and intellectual limitations become a barrier to be equal with nondisabled people. Activity limitations are not an excuse not to study and practice. Human ability has a tendency to understand a skill that is given the right method and the right practical understanding. Easy understanding, innovation in implementation methods is a solution for people with disabilities. Ability does not appear suddenly but requires assistance. The implementation of training activities for people with disabilities carried out by the community service team at SLB Paedagogia Maospati Ae Kabupaten Magetan provided a positive stimulus. The formation of an understanding of how easy it is to make a bench that has aesthetic, functional and economic value. Through the technique of lamination of plywood on curved moldings, the students understand one of the carpentry techniques. With a pedagogic approach, the application of the lamination technique by simplifying the production stage makes it easy for students with disabilities. Inherent assistance that is carried out for students with disabilities is a means of transferring knowledge. Keywords: Skills. Plywood Lamination, disability Pendahuluan Kesempatan untuk berlatih, berusaha dan mandiri adalah hak setiap manusia. Namun pada kenyataannya masih ada manusia yang sulit mendapatkan kesempatan untuk berlatih dan mengembangkan diri dengan keterampilan-keterampilan baru Kesempatan dipertimbangkan bagi penyandang disabilitas. Keterbatasan fisik, mental, dan Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November intelektual menjadi penghalang untuk bisa setara dengan non disabilitas. Pengembangan diri penyandang disabilitas terkadang membutuhkan perjuangan yang sia-sia ketika bersaing dengan non-disabilitas. Kemandirian dengan keterbatasan menjadi kendala bagi penyandang disabilitas untuk maju. Kemandirian seolah hanya angan-angan karena mereka membutuhkan bantuan orang lain. Keterbatasan mereka menjadi batasan bagi diri mereka sendiri dan bagi orang lain. Dengan yang pada akhirnya diharapkan dapat bermanfaat bagi orang lain. Keterampilan menjadi jembatan bagi penyandang disabilitas untuk menjadi mitra bagi non-disabilitas. Kondisi demikian menjadi perhatian pemerintah, swasta dan pemerhati penyandang disabilitas untuk memberdayakan mereka agar bermanfaat bagi sesama. Yayasan Lembaga Pendidikan Pardagogia Ae Kabupaten Magetan yang secara khusus memperhatikan penyandang disabilitas agar memiliki keterampilan terkadang merasa tertinggal dengan perkembangan inovasi yang terus berkembang. Berbagai keterampilan baru yang ada juga harus dirasakan oleh para penyandang disabilitas sebagai bekal alternatif yang mungkin menjadi passion para penyandang Kendala yang dihadapi saat melatih dan membimbing penyandang disabilitas mengakibatkan tidak banyak penyandang disabilitas yang mau mengikuti Hal ini juga terjadi karena kurangnya empati dan kesadaran untuk melakukan transfer ilmu dan metode pembelajaran yang dimiliki oleh pelatih. Ketidakmampuan mengubah metode dan sistem pembelajaran yang dibangun bagi penyandang disabilitas ternyata bersifat egois dan merasa bahwa kemampuan Mengesampingkan kemampuan penyandang disabilitas untuk dapat melakukan sesuatu, menjadi alasan untuk tidak dikaitkan dengan kesulitan saat mentransfer ilmu/keterampilan. Permasalahan seperti inilah yang menjadi penyebab terlambatnya pengetahuan baru yang sampai kepada penyandang disabilitas. Keterbatasan penyandang disabilitas fisik tidak serta merta terbatas pada intelektual. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Keterbatasan mental dan intelektual, juga tidak terbatas secara langsung pada Hal ini dibuktikan oleh tim pengabdian pada beberapa kegiatan pelatihan yang dikatakan sulit jika dilakukan oleh penyandang disabilitas. Namun, dengan metode pendampingan dan pembagian tugas kerja yang proporsional, dimungkinkan adanya kolaborasi antara penyandang disabilitas dan penyandang disabilitas dalam proses produksi kursi dan meja dengan proses laminasi. Sebuah proses produksi kursi dan meja yang tim kembangkan agar penyandang disabilitas dapat melakukannya. Pembagian proporsi kerja menerapkan kemampuan yang dimiliki oleh masingmasing orang. Porsi pekerjaan untuk non-disabilitas berbeda dengan porsi pekerjaan untuk penyandang disabilitas. Sinergi yang terbentuk menghasilkan karya yang baik dan bernilai ekonomis. Komunikasi penting dalam kerja kolaboratif dengan penyandang disabilitas. Menurut Effendy . , komunikasi dapat dilakukan secara primer yaitu komunikasi langsung antara seseorang dengan orang atau kelompok Dalam menghadapi penyandang disabilitas, komunikasi lebih searah. Bahasa verbal kadang sulit dipahami, sehingga perlu adanya isyarat, demonstrasi atau contoh kegiatan yang akan dilakukan. Kesulitan komunikasi ini perlu dipahami terlebih dahulu oleh tim pelatih yang pada kenyataannya tidak mudah. Intinya, informasi tersampaikan dan dipahami. Hambatan komunikasi ini juga menjadi hambatan ketika kita memiliki niat tertentu tetapi tidak dipahami oleh penyandang disabilitas. Bagi penyandang disabilitas fisik, tetapi kemampuan intelektual mereka baik serta pendengaran dan komunikasi lancar bukanlah halangan untuk menerima transfer Non-disabilitas menganggap keterbatasan yang ada pada penyandang disabilitas menjadi kendala jika transfer ilmu diberikan kepada mereka. Anggapan keterbatasan tersebut, diperlukan berbagai macam keterampilan tersebut secara empiris tidak salah, namun secara praktis ditemukan bahwa kemampuan yang 1 Effendy. Onong Uchjana. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November terbatas memiliki kemampuan yang lebih pada penyandang disabilitas. Keunggulan tersebut menjadi perhatian tim untuk dapat menerapkan metode pendampingan dan pembagian kerja dalam suatu proses produksi. Penyandang disabilitas yang satu dengan penyandang disabilitas lainnya memiliki kelebihan yang berbeda. Keunggulan tersebut akan disinergikan dengan kebutuhan proses produksi yang akan dilakukan dengan non difabel. Jadi, pada waktu tertentu dan proses tertentu, orang yang berbeda dengan disabilitas diperlukan untuk melakukan kegiatan Dengan pendampingan yang berkelanjutan, akan menjadi kebiasaan terstruktur bagi mereka. AoPenyandang disabilitas,Ao suatu istilah yang digunakan untuk menyebut orang yang memiliki kekurangan atau kebutuhan khusus. Istilah itu setelah Undang-undang No. 19 tahun 2011 tentang Ratifikasi CRPD. Meskipun UU No 8/2016 lebih kuat daripada UU No. 19/2011, tetapi istilah Aopenyandang disabilitasAo sudah mulai resmi digunakan dalam undang-undang ini dan dapat dilihat dampak sesudahnya (Sri Moertiningsih, 2. Istilah tersebut memiliki Delapan arti yang menunjukan: . bercacat, . orang yang dalam keadaan kekurangan jasmani dan rohani, . tuna, . orang yang terganggu atau kehilangan kemampuan untuk mempertahankan hidupnya, . penderita cacat, . penyandang kelainan kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosia, . anak berkebutuhan khusus . nak luar bias. , dan . penyandang cacat. Dengan demikian dalam tulisan ini yang dimaksud adalah delapan arti yang menjelaskan penyandang disabilitas. Penyandang Disabilitas Menurut definisi undang-undang. Aopenyandang disabilitasAo adalah setiap orang yangmengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak . Pelatihan untuk penyandang disabilitas pada umumnya adalah pelatihan dasar 2 Undang-undang No. 19 tahun 2011 tentang Ratifikasi CRPD 3 Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Pasal 1 Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November yang bertujuan merangsang sensorik, motorik, logika dan proses berpikir dan daya Pelatihan menekankan keterampilan dasar, menengah dan keterampilan lanjut yang memiliki tingkat kemampuan yang tinggi dengan motorik kasar. Kemampuan yang dibangkitkan untuk penyadang disabilitas mampu memberikan rangsangan untuk berusaha. Bagi penyandang disabilitas, keterampilan yang diajarkan membutuhkan pendampingan agar penyandang disabilitas menjadi terbiasa dengan aktivitas tersebut. Dengan demikian sifat dari pelatihan dan pendampingan adalah berusaha untuk memperhatikan berbagai aspek yang mampu memberikan kemampuan lebih pada Dengan berbagai aspek hingga promosi dan pemasaran, memungkinkan mereka untuk dapat terus mengembangkan kemampuannya hingga bermanfaat bagi orang lain. Pelatihan dan pendampingan akan dilanjutkan pada tahap pengembangan Tahap tersebut merupakan kelanjutan dari pelatihan dasar yang telah diberikan, kemudian dilakukan modifikasi untuk menghasilkan produk berbeda. Kayu merupakan material yang akan bermanfaat jika diproses menjadi produk yang bernilai ekonomis. Proses produksi tersebut membutuhkan keterampilan dan kemampuan seseorang. Melalui kemampuan yang terus dilatih dan terus berkarya, maka akan muncul pengetahuan baru yang bermanfaat bagi keberlanjutan produksi. Tidak mudah untuk menjadi mahir dan terampil mengolah kayu, apalagi seorang yang memiliki keterbatasan sebagai penyandang disabilitas. Jika dilihat dari sifatnya, maka pelatihan keterampilan kayu merangsang penyandang difabel untuk dapat melakukan kegiatan motorik kasar. 4 Penyandang disabilitas yang mampu melakukan gerak motorik kasar, bisa jadi tidak mampu melakukan gerak motorik ringan. Demikian sebaliknya. Shingga penyandang difabel akan terus dilatihkan untuk berbadai macam keterampilan agar semua respon dari fisik, mental dan pikiran terus berkembang. Kerja kayu yang dilakukan oleh 4 Endang Rini Sukamti. Perkembangan Motorik. UNY Press. Yogyakarta. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November penyandang difabel tentunya memiliki tingkat kesulitan dan resiko dari alat-alat yang Kesulitan yang dihadapi menyangkut pekerjaan yang membutuhkan kemampuan tanyan, kaki, intelektual dan penglihatan yang jelas. Hal ini akan terasa sulit jika mereka membutuhkan hal tersebut. Sedangkan pekerjaan beresiko tinggi dengan alat yang digunakan membutuhkan kesiapan mental, emosi, intelektual dan penglihatan yang baik. Dalam hal kekurangan yang dimiliki, bukanlah sustu halangan, namun membutuhkan pengawasan dan pendampingan dari nondifabel untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Masing-masing penyandang disabilitas akan memiliki kemampuan dan kekurangan yang berbeda sehingga dibutuhkan proses mencoba untuk melihat kemampuan mereka. Keterampilan pertukangan kayu memberikan peluang bagi penyandang disabilitas untuk dapat menjadi bagian dari industri atau perseorangan yang Pemerintah membuka akses pada industri bagi penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan untuk dapat ikut dalam produksi pada semua sector yang dapat menerima mereka. Sebagai penyandang disabilitas, memahami dan menekuni suatu pekerjaan kayu merupakan hal yang luar biasa. Hal ini jika kita bandingkan dengan nondifabel yang tidak semua dapat melakukannya. Sebagai keterampilan yang sulit, keterampilan pertukangan kayu banyak juga diminati oleh insan difabel karena mereka dapat berkreasi dan menghasilkan produk yang spesifik dibutuhkan oleh semua orang dan memiliki nilai estetika jika berada pada sebuah ruang. Kemampuan mengembangkan produk pertukangan kayu membutuhkan pelatihan yang terus menerus dan dikerjakan secara kontinyu untuk mencapai tingkat kemahiran yang baik. Penyandang disabilitas dengan melakukan pekerjaan berulang-ulang, maka akan menjadi kebiasaan. Dengan demikian memberikan penambahan untuk kualitas dan varian produk tidak terlalu sulit untuk mereka. 5 Didan Akbar. Tantangan dan Peluang Disabilitas Fisik di Kota Bandung Dalam Memperoleh Pekerjaan di Masa Covid 19. Jurnal Sosial Humaniora. Vol, 15 Ae 1 2022. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Bekerja dilingkungan yang bersih, aman, naman dan sehat merupakan syarat bagi semua orang termasuk pekerja berkebutuhan khusus. 6 Penyandang disabilitas, pada intinya memiliki kekurangan yang dimiliki sehingga tidak dapat melakukan aktivitas seperti nondifabel. Kenyataan ini merupakan kewajiban kita yang non difabel untuk dapat memberikan bantuan kepada mereka. Kebutuhan khusus yang mereka butuhkan untuk aktivitas sehari-hari akan membantu mereka dalam menyelesaikan suatu aktivitas. Dengan demikian, terjadilah interaksi social antar nondifabel dengan penyandang disabilitas sehingga terjadilah kolaborasi. Kolaborasi akan menghasilkan sinergitas apabila keduanya melakukan aktivitas yang mengarah pada produksi. Produksi disini diartikan sebagai kegiatan positif yang dapat menghasilkan keuntungan untuk keduanya. Melalui kolaborasi masing-masing porsi/kemampuan. Secara nyata, kolaborasi tersebut sering kita lihat dalam berbagai aktivitas yang positif dan menghasilkan karya yang baik dan banyak diminati oleh orang lain. Kolaborasi yang dilakukan dalam pekerjaan keterampilan kayu, akan menghasilkan karya yang diminati. Kolaborasi kerja kayu memiliki porsi kerja yang berbeda antara nondifabel dan penyandang disabilitas. Porsi non difabel menekankan kerja yang membutuhkan kemampuan lebih dan resiko yang lebih besar dibandingkan penyandang disabilitas. Aktivitas memotong dengan mesin, mengangkat benda yang berat, melakukan rekayasa dan merakit komponen yang sulit menjadi tanggung jawab nondifabel. Sebaliknya, pekerjaan yang memiliki resiko yang kecil akan dikerjakan oleh penyandang disabilitas. Dengan demikian, produk yang dihasilkan merupakan sinargitas keduanya. Komunikasi dari kedua insan tersebut menjadi penting agar masing-masing porsi kerja menjadi tanggungjawab individu. Komunikasi verbal dan komunikasi 6 International Labour Organisation. Pedoman ILO tentang: Pengelolaan Penyandang Disabilitas di Tempat Kerja. Copyright A International Labour Organization 2006, 2013. Jakarta, 2016. Produksi Furnitur Dengan Teknik Bending Triplek. HKI EC00202293208, 23 November 2022. 7 Stefanus Prabani. Kolaborasi Insan Non Difabel Dengan Insan Difabel Dalam Proses Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November nonverbal menjadi lebih intens dilakukan dalam aktivitas ini, karena adanya Komunikasi nonverbal lebih dominan untuk menjelaskan proses kerja dan mengarahkan pekerjaan yang tidak sesuai. Suatu hal yang menjadi tanggungjawab nondifabel untuk menjelaskan dan mengarahkan pekerjaan. Dengan komunikasi tersebut, maksud dari pemberi pekerjaan tersampaikan. Metode Pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dirancang khusus untuk menerima manfaat, dalam hal ini penyandang disabilitas. Metode yang digunakan adalah pelatihan, pendampingan dan pemberdayaan. Ketiga metode yang diterapkan menunjukkan bahwa kegiatan tersebut bersifat kontinyu. Siswa SLB Paedagogia Maospati mendapatkan pelatihan pertukangan dengan teknik laminasi triplek pada bidang lengkung. Pelatihan pemberdayaan lanjutan dilakukan pada bengkel pertukangan yang diberikan kepada sekolah melalui hibah pengabdian kepada masyarakat yang diberikan oleh Kemendikbud pada tahun 2022. Dengan metode pemberdayaan ini diharapkan bengkel pertukangan dapat berjalan dan tidak menutup kemungkinan memberikan pelatihan kepada masyarakat sekitar sebagai pengetahuan keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Pada tahap implementasi awal dilakukan pelatihan pengenalan teknik laminasi untuk menghasilkan produk bangku sesuai dengan gambar desain yang telah disusun. Hasil dan Pembahasan Pemahaman tentang pelatihan keterampilan dan transfer pengetahuan bagi penyandang disabilitas dilakukan berdasarkan metode yang dikembangkan oleh Tim untuk dapat dilakukan oleh mereka. Pengetahuan tim bukan dari bidang pendidikan untuk pengandang disabilitas, namun berdasarkan pengalaman yang dilakukan terhadap penyandang disabilitas yang tergabung dalam Komunitas Sahabat Difabel 8 Desak Putu Yuli. Modul Komunikasi Verbal dan Non Verbal. Bali: Universitas Udayana Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Kota Semarang dan Rumah Anak Prestasi di Surabaya. 9 Tim pengabdian masyarakat memberanikan diri memberikan pelatihan pertukangan di salah satu SLB di kota Surabaya yaitu SLB Paedagogia. Perasaan ingin berbagi pengetahuan sederhana tentang teknik pertukangan kepada penyandang disabilitas yang tergabung dalam Sekolah Luar Biasa (SLB) memberikan tantangan tersendiri. Sekolah tentunya memiliki kurikulum dan metode yang sudah mereka pahami untuk siswa difabel. Pelaksanaan pelatihan ini karena tim telah menyederhanakan metode pelaksanaan proses pembuatan bangku. Penyederhanaan dilakukan pada tahapan proses produksi. Harapan ini diwujudkan selama pelatihan hingga produk jadi. Pelaksanaan pelatihan melibatkan beberapa siswa yang memiliki keterbatasan yaitu . Tunarungu dan Tunawicara, terdapat dua siswa yang memiliki kebutuhan khusus tersebut. Intelektual yang lemah, keterbatasan kemampuan bernalar dan berpikir yang dialami oleh dua orang . Lemah Emosional, salah satu siswa mengalami keterbatasan emosi. Dari ketiga kategori keterbatasan tersebut, diperlukan pendekatan personal bagi setiap Namun secara umum penerapan metode yang digunakan adalah sama. Menurut Haug 2016, khususnya, pendidikan inklusi memiliki keberanian untuk mengajar siswa yang inklusif secara bersama-sama secara normal. Namun, setiap siswa menerima pengajaran sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Besar harapan dari tim untuk dapat mentransfer pengetahuan kepada siswa SLB meskipun kompetensinya kurang. Keterbatasan tim dalam melaksanakan bukanlah halangan untuk transfer Melalui pendekatan pedagogik yang dipelajari tim, kemudian menerapkannya dalam pelatihan, terbukti mampu merangsang pemikiran siswa SLB untuk memahami alternatif pembuatan bangku dengan teknik laminasi bidang triplek pada media lengkung. Tahapan pelatihan, seperti halnya pengetahuan lainnya, dimulai dengan 9 Stefanus Prabani. Kolaborasi Insan Non Difabel Dengan Insan Difabel Dalam Proses Produksi Furnitur Dengan Teknik Bending Triplek. HKI EC00202293208, 23 November 2022. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November merencanakan desain dengan gambar. Penjelasan tentang apa yang akan dicapai siswa dalam pelatihan dijelaskan secara visual. Tahap awal ini memberikan gambaran yang jelas tentang tujuan yang ingin dicapai. Perencanaan adalah proses berpikir untuk masa depan. Perencanaan dilakukan untuk mempersiapkan apa yang akan dilakukan. Melalui perencanaan akan diperoleh garis besar atau tahapan yang secara sistematis mengatur langkah-langkah untuk mencapai tujuan. 10 Kolaborasi antar penyandang difabel dengan non difabel akan ditanamkan pada pelatihan Komunikasi menggunakan gambar dan maket dinilai efektif dalam membentuk pola pikir dan memahami maksud dari pelatihan ini. pada akhirnya akan terbentuk partisipasi penyandang disabilitas untuk dapat berinteraksi dengan tim. Keinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan merupakan tekanan psikologis dari setiap 11 Meskipun bentuk partisipasi mereka berbeda dengan non-disabilitas, namun perlu untuk memahami mereka dan mengarahkan mereka untuk memahami Partisipasi merupakan desakan terhadap kebutuhan psikologis manusia sebagai individu. Solusi komunikasi dan partisipasi merupakan respon positif yang akan ditanggapi untuk memberikan rasa keakraban sehingga transfer pengetahuan berjalan dengan baik. Hal yang diterapkan pada awal kepada siswa SLB diarahkan untuk memahami sebuah gambar. Hal ini menjadi penting agar tumbuh pemahaman. Selain itu, komunikasi verbal dan gerak tubuh digunakan untuk mentransfer maksud dan tujuan pada suatu tujuan. Pada tahap selanjutnya, alat-alat yang akan digunakan dalam pekerjaan diperkenalkan. Beberapa alat diperbolehkan dan ada alat yang tidak boleh digunakan oleh siswa SLB. Alat berbahaya seperti alat pemotong dihindari dari siswa SLB. Penggunaan alat ini hanya ditujukan untuk pendamping. Pemahaman alat tidak mengalami kendala karena secara fisik dan praktis dapat langsung didemonstrasikan 10 Taufiqurokhman. Konsep Dan Kajian Ilmu Perencanaan. Jakarta. Fakultas Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama. 11 Salusu J. Pengambilan Keputusan Stratejik. Jakarta: Grasindo. Sosial dan Ilmu Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November oleh siswa. Tahap praktek laminasi menjadi kegiatan yang dirasakan siswa sebagai pengalaman baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Lem dioleskan pada triplek, menyatukan beberapa triplek dalam satu tumpukan, meletakkan tumpukan triplek pada media cetak dan proses laminasi dengan klem sangat banyak diminati dan terlihat antusias melakukannya. Tahap ini merupakan penekanan dalam Pendampin dalam pelatihan ini adalah mahasiswa yang secara langsung diajak untuk memahami proses sederhana untuk menghasilkan produk laminasi triplek dan menghasilkan bentuk sesuai cetakan. Meskipun kompetensi tim bukan ilmu pedagogik bagi penyandang disabilitas, namun sampai tahap ini nampaknya ilmu yang diberikan sudah dipahami oleh siswa. Guru di pendidikan luar biasa masih memiliki kekurangan pengetahuan siswanya. Pengetahuan ini terutama tentang metode pengajaran dan keterampilan yang sebenarnya dapat dipelajari melalui pelatihan keterampilan guru. Hal ini juga dirasakan oleh tim saat berhadapan dengan siswa SLB. Namun, pengalaman yang ditemui selama interaksi, komunikasi dan praktik, membutuhkan keterampilan dan penguasaan pedagogik saat pelatihan. Sampai tahap ini siswa sudah melihat arah pelatihan. Tim pelatihan kembali menunjukkan gambar desain, siswa diminta menunjukkan area atau komponen mana yang telah mereka buat. Tahap selanjutnya adalah menghaluskan area yang dilaminasi menjadi halus dan rata. Pada tahap ini siswa diminta menghaluskan dengan mesin rotary sanding yang aman bagi mereka. Satu persatu mereka melakukan proses tersebut dan merasakan sendiri bagian yang tadinya kasar menjadi halus. Semua komponen kursi yang sudah dihaluskan kemudian diwarnai dengan pewarna yang menggunakan air sebagai pengencernya agar aman bagi siswa. Sampai tahap ini, semuanya sudah berjalan dengan lancar dan dipahami oleh siswa. 12 Ratna Sari Wulandari. Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Inklusi di Indonesia (Suatu Pendekatan Systematic Revie. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan. Pengajaran dan Pembelajaran. Vol. No. 1 : Maret 2021 Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Setelah semua komponen kering, selanjutnya dilakukan perakitan. Peran tim sebagai pendamping lebih dominan pada tahap kegiatan ini. Siswa bertindak sebagai asisten dalam proses perakitan. Kebutuhan alat dan bahan yang digunakan dapat dibantu oleh siswa. Mereka menjadi sadar akan kebutuhan alat dan bahan yang dibutuhkan saat perakitan. Dengan kemampuan yang terbatas, siswa menjadi berguna bagi orang-orang yang tidak cacat. Perencanaan pendidikan dan keterampilan bagi penyandang disabilitas memerlukan analisis dan ketepatan jenis pelatihan, kebutuhan keterampilan siswa penyandang disabilitas memerlukan identifikasi ketepatan mata pelajaran dan identifikasi jenis pelatihan sesuai dengan kebutuhan siswa penyandang disabilitas. Dalam pelatihan ini proses identifikasi kemampuan siswa dilakukan oleh guru di sekolah SLB Paedagogia - Surabaya. Pemilihan siswa oleh guru sekolah telah memilih siswa sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Hal ini terlihat saat pelatihan berlangsung, tim tidak mengalami kesulitan yang berarti saat memberikan penjelasan dan transfer ilmu. Pelatihan dilaksanakan sesuai dengan yang Suatu hal yang menyenangkan dalam latihan tersebut, saat bangku yang dirakit sudah lengkap. Saat itu siswa diminta untuk kembali membandingkan gambar desain dan mencocokannya dengan bangku yang sebenarnya telah mereka buat. Wajah ceria dan gembira terlihat pada mereka saat duduk dibangku yang telah selesai dan sesuai dengan gambar desain. Sungguh mengharukan bagi tim melihat kegembiraan dan keberhasilan mereka dalam pengetahuan sederhana tentang pertukangan. Proses pelatihan ini sejalan dengan statement yang menyatakan pendidikan keterampilan vokasional adalah pendidikan yang menekankan pada aspek keterampilan peserta didik sesuai dengan bakatnya. Pendidikan keterampilan berkaitan dengan model, prinsip, dan prosedur dalam melaksanakan tugas. Dengan demikian langkah-langkah yang diterapkan pada siswa SLB Paedagogia Maospati13 Aprilia. Permana. , & Prihatin. Life Skill Educational Management Based on Vocational for Students with Disabilities to be Ready for Work, 258(Icream 2. , 134Ae138. https://doi. org/10. 2991/icream18. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Kabupaten Magetan dapat dikatakan telah mengikuti kaidah pendidikan kejuruan yang sesuai. Kelanjutan dari pelatihan ini adalah memberikan pendampingan dan pemberdayaan secara terus menerus kepada penyandang disabilitas agar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Salah satu proses penting dalam pengabdian kepada masyarakat adalah pemberdayaan. Ada tiga hal yang penting dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu: . Enabling. menciptakan suasana yang memungkinkan masyarakat berkembang. Memberdayakan. Memperkuat potensi masyarakat. Perlindungan. Melindungi, membela kepentingan masyarakat. 15 Dari ketiga hal membangun rasa percaya diri. Hal ini membutuhkan pendampingan terus menerus agar mereka merasa ada yang melindungi mereka dan pada akhirnya memiliki keyakinan dalam menjalani hidup. Obtimisme menjadi dasar kehidupan mereka yang memiliki kekurangan. Pada tahap ini pelatihan akan dimulai dari pengenalan hingga produksi produk sesuai desain. Tahapan ini akan dilakukan dalam beberapa bagian yaitu: Desain Kursi dan Meja Desain kursi akan dilakukan bersama tim dan penyandang disabilitas, dalam proses ini pemahaman tentang kursi dan meja serta objek lengkung dan proses laminasi menjadi perhatian khusus agar penyandang disabilitas memahami arah kegiatan selanjutnya. Pemahaman ini menjadi penting agar apa yang akan dikerjakan memiliki arah dan membantu pemahaman Dengan melihat gambar kerja, mereka diarakan untuk berpikir logis dan merencanakan aktivitas dengan terencana. Pola pikir demikian perlu ditanamkan agar mereka mampu membekali diri dengan rencana yang jelas. Pengertian yang lebih luas menekankan pada wujud nyata benda-benda disekitarnya sehingga mudah untuk dipahami. Pada tahap ini solusi kursi dan meja 14 Wikasanti. Esty. Pengembangan Life Skills Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Depok : Maxima 15 Munawar Noor. Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ilmiah CIVIS. Volume I. No 2. Juli. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November yang telah dirancang oleh tim sudah lengkap dengan maket kursi dan meja yang akan mereka buat. Mereka akan membuat gambar desain dan maket yang sesuai. Proses ini membuka pikiran mereka tentang pentingnya berpikir dan mewujudkannya sesuai dengan Gambar 1 sebagai berikut: Gambar 1. Tahap Desain untuk Kegiatan Pelatihan (Sumber: Tim PkM UKDC, 2. Pembuatan mal/cetakan. Dalam pelatihan ini penyandang disabilitas akan dilatih membuat cetakan sederhana yang akan digunakan untuk membengkokkan triplek. Cetakan akan menggunakan kayu, logam, karet atau plastik yang ada disekitar Proses pembuatannya berdasarkan rencana desain yang akan kita buat Melalui alat kerja yang sederhana, mereka dapat bekerja sama dengan non disabilitas. Inti dari pembuatan cetakan adalah lengkungan sehingga akan terlihat dinamis dan estetis. Mengapa melengkung? Proses laminasi yang akan kami latih merupakan produk lengkung dengan material dari triplek. Kelenturan triplak menjadi dasar membentuk lengkungan. Kemampuan lengkung dalam lapisan triplek akan menjadikan material ini semakin kuat dan kokoh sehingga Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November mampu menerima beban yang berat. Proses Lem dan Laminasi, pada proses ini anda akan diajarkan cara mencampur lem epoxy dua komponen yang digunakan sebagai perekat antar triplek. Kemudian mereka akan diajarkan untuk mengoleskan lem tersebut pada area triplek yang akan direkatkan. Setelah semua triplek yang akan disatukan telah direkatkan, dilakukan proses laminasi pada cetakan yang telah dibuat. Proses laminasi ini akan menggunakan klem kayu yang mudah digunakan. Proses laminasi ini akan menyatukan lapisan triplek. Kekakuan yang dihasilkan lem Epoxy memberikan kekuatan pada lapisan triplek agar tetap pada bentuk yang menjadi cetakan. Meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses pengeringan hingga kaku, namun hasil nya sesuai harapan (Gambar 2 dan . Gambar 2. Tahap Laminasi/Mengolesi Lem Epoxy (Sumber: Tim PkM UKDC, 2. Gambar 3. Tahap Klem Lapisan Triplek (Sumber: Tim PkM UKDC, 2. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November . Proses Penghalusan. Setelah selesai laminasi, lapisan triplek yang telah menyatu perlu diratakan dan dihaluskan pada bagian tepi yang tidak rata. Proses ini bisa menggunakan mesin amplas putar, mesin amplas tangan atau mesin amplas Proses yang dilakukan dengan mesin ini aman bagi penyandang Mesin tidak menimbulkan keselakaan kerja yang fatal. Dengan pengawasan dan SOP kerja yang dierapkan, proses ini aman (Gambar . Gambar 4. Tahap Menghaluskan Bidang Kasar (Sumber: Tim PkM UKDC, 2. Proses Pewarnaan, komponen meja diratakan dan dihaluskan, kemudian dilakukan pewarnaan dasar sesuai warna yang diinginkan. Komponen meja yang diwarnai merupakan warna dasar atau lapisan warna pertama dan lapisan kedua. Tujuan dari lapisan ini agar semua bagian yang sulit pada meja yang telah jadi dapat memiliki warna yang sama. Kesulitan warna pada kursi yang telah jadi membutuhkan ketelitian dan kesulitan untuk membalik kursi (Gambar . Gambar 5. Tahap Mewarnai Komponen Meja (Sumber: Tim PkM UKDC, 2. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November . Menyatukan Komponen, pewarnaan yang telah dilakukan akan dilanjutkan pada proses perakitan komponen meja menggunakan sistem sambungan dowel/pasak yang mudah dilakukan. Proses penyatuan komponen dengan menggunakan lem. Kekuatan lem pada triplek yang menjadi komponen sangat kuat dan tahan terhadap guncangan dan beban yang normal. Penggunaan dowel/pasak dan lem ini memudahkan insan difabel untuk merakit komponen. Mesin yang digunakan juga aman karena hanya menggunakan mesin bor dan beberapa alat petukangan sederhana lain sepeti pengharis, siku, pensil dan gergaji tangan. Merakit komponen adalah tahap proses produksi yang memiliki tingkat kesulitan yang tinggi sehingga menerapkan kerjasama dan pendampingan agar transfer ilmu mudah diterima penyandang disabilitas (Gambar . Gambar 6. Tahap Menyatukan Komponen (Sumber: Tim PkM UKDC, 2. Tahap akhir adalah tahap penyempurnaan pekerjaan yang telah dilakukan. Koreksi kecil pada meja yang diproduksi menuju pada sempurnanya pekerjaan. Tahap proses akhir ini dilakukan oleh penyandang difabel untuk melatih mereka pada kualitas kerja. Mereka akan diajak untuk menilai pekerjaan yang telah selesai dan melaporkan/menceritakan hal-hal yang kurang dalam proses yang telah selesai. Kesalahan dan kekurangan tersebut akan dilakukan bersama-sama untuk memperbaiki yang dianggap bealum baik, seperti, warna akhir, sambungan yang masih terlihat pasak/dowel, kaki meja yang tidak sama tinggi, sudut-sudut Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November yang masih tajam, permukaan yang masih kasar. Kortekasi dan perbaikan dilakukan agar meja yang telah dibuat menjadi berkualitas. Akhir dari semua proses tersebut dapat dilihat, dirasakan, digunakan dan dijual jika ada yang menginginkan (Gambar . Gambar 7. Tahap Akhir Penyelesaian dan Meja Siap Digunakan (Sumber: Tim PkM UKDC, 2. Aktivitas keterampilan produksi meja yang dilatihkan kepada penyandang disabilitas menjadi sarana komunikasi antar individu yang terlibat. Komunikasi dua arah yang terjadi bukan sekedar teknis melainkan komunikasi yang membangun dan saling mengisi, memahami masing-masing individu. Pada tahap pelatihan keterampilan ini, dilakukan Test Pemahaman Awal dan Test Pemahaman Akhir. Teset tersebut bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal pertukangan kayu yang dipahami oleh siswa. Test Pemahaman Awal Dari 10 siswa yang dilatih, ternyata dua siswa memiliki pengetahuan awal tentang pertukangan kayu. Pengetahuan tersebut diperoleh dari orang tua mereka yang bekerja sebagai tukang kayu membuat meja dan meja serta reparasi kerusakan perabot/furniture rumah tangga. Pengetahuan yang dimiliki kedua siswa tersebut sudah dapat menjelaskan alat sederhana yang digunakan dan memahami fungsinya. Demikian pula sudah mampu berpikir logis tentang sambungan kayu dan konstruksi Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Dengan bekal yang telah dimiliki kedua siswa tersebut, maka dalam proses pelatihan tidak terlalu mengalami kesulitan dalam proses pelatihan. Selain itu kemampuan kedua siswa menjadi dorongan bagi siswa untuk dapat memahami dan dijelaskan dalam Bahasa mereka dari kedua siswa. Kemandirian keduanya telah terlihat selama pelatihan hingga akhir. Semua dapat dilakukan dengan baik. Sedangkan delapan siswa lain yang belum memahami kerja pertukangan kayu membutuhkan penjelasan awal pengenalan alat, bahan serta fungsinya. Secara umum, keterampilan sepuluh siswa tersebut sudah dapat dikatakan baik, karena semua keterampilan dasar dengan motorik halus dan kasar sudah pernah latihkan kepada siswa. Test Pemahaman Akhir Pada akhir dari pelatihan keterampilan pertukangan kayu ini, dilakukan evaluasi terhadap semua materi yang diberikan. Penilaian dilakukan oleh Tim Abdimas UKDC dengan guru pendamping siswa. Pemahaman yang dinilai adalah: Pemahaman terhadap alat. Pemahaman menggunakan alat. Pemahaman mengolesi lem epoxy pada bidang triplek Pemahaman klem/jepit lapisan triplek pada bidang lengkung. Pemahaman menghaluskan komponen dengan mesin dan tangan. Pemahaman menggunakan bor, memasang dowel/pasak dan menggunakan center point. Pemahaman tentang pewarnaan awal komponen dan proses akhir. Dasar penilaian tersebut merupakan tahapan penting dalam proses produksi meja dengan teknik laminasi triplek pada bidang lengkung. Dengan memahami semua tahapan tersebut, maka siswa telah mampu menguasai secara kognitif dan praktis proses produksi. Siswa SLB memiliki kemampuan memahami pelatihan keterampilan pertukangan kayu diambang yang baik. meskipun kemampuan mereka kurang, namun secara pemahaman pedagogic memiliki kemampuan. Kemampuan Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November pemahaman ini tidak lepas dari pengarahan dan pelatihan yang dilakukan bersama guru pendamping siswa, secara sabar membimbing untuk dapat memahami. Meskipun demikian, pelatihan ini seharusnya terus dilakukan, dan secara kontinyu memproduksi meja atau perabot/furniture lain yang menggunakan teknik Penggunaan alat yang baru menjadi pengalaman baru yang dapat menambah wawasan siswa terhadap alat bantu. Dengan memahami dan mampu menggunakan alat menjadikan siswa tidak lagi paham, namun sudah mahir menggunakan alat tersebut. Simpulan Setelah melakukan pengabdian masyarakat di SLB Paedagogia Maospati, dapat disimpulkan sebagai berikut: . Pendekatan proses produksi yang sederhana dapat membantu penyandang disabilitas memahami maksud dan tujuan pelatihan. Desain awal berupa gambar atau media lain yang jelas akan memudahkan siswa SLB untuk melihat tahapan produksi yang sedang mereka kerjakan. Identifikasi siswa SLB yang memiliki bakat dan kemampuan untuk membantu mereka dalam proses pemahaman pada suatu pelatihan keterampilan. Kemampuan pedagogik sangat dibutuhkan pelatih untuk memahami karakter siswa SLB agar pembelajaran dapat berjalan lancar dan transfer pengetahuan menjadi mudah dipahami. Kesabaran dalam melatih siswa SLB diperlukan agar siswa menjadi nyaman, pada akhirnya tujuan pelatihan dapat tercapai. Daftar Referensi Aprilia. Permana. , & Prihatin. Life Skill Educational Management Based on Vocational for Students with Disabilities to be Ready for Work, 258(Icream 2. , 134Ae138. https://doi. org/10. 2991/icream18. Desak Putu. Modul Komunikasi Verbal dan Non Verbal. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Bali. Didan Akbar. Tantangan dan Peluang Disabilitas Fisik di Kota Bandung Dalam Memperoleh Pekerjaan di Masa Covid 19. Jurnal Sosial Humaniora. Vol, 15 Ae 1 Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala L O Y ALLOI YT A A LS I T A S Pengabdian Masyarakat Jurnal Jurnal Pengabdian KepadaKepada Masyarakat : 2621-4679 ISSNISSN : 2621-4679 : 2621-4687 ISSNISSN : 2621-4687 Volume 1. Mei Volume VI NomorI,2Nomor November Effendy. Onong Uchjana. Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya. Endang Rini Sukamti. Perkembangan Motorik. UNY Press. Yogyakarta. Haug. Understanding inclusive education: ideals and reality. Scadinavian Journal of Disability 19. , 2016. International Labour Organisation. Pedoman ILO tentang: Pengelolaan Penyandang Disabilitas di Tempat Kerja. Copyright A International Labour Organization 2006, 2013. Jakarta, 2016. Munawar Noor. Pemberdayaan Masyarakat. Jurnal Ilmiah CIVIS. Volume I. No 2. Juli. Ratna Sari Wulandari. Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Inklusi di Indonesia (Suatu Pendekatan Systematic Revie. Jurnal Kependidikan: Jurnal Hasil Penelitian dan Kajian Kepustakaan di Bidang Pendidikan. Pengajaran dan Pembelajaran. Vol. No. 1 : Maret 2021 Salusu J. Pengambilan Keputusan Stratejik. Jakarta: Grasindo. Sri Moertiningsih Adioetomo. Daniel Mont, & Irwanto. Persons with Disabilities in Indonesia: Empirical Facts and Implications for Social Protection Policies. Jakarta: Lembaga Demografi Fakulutas Ekonomi Universitas Indonesia. Stefanus Prabani. Desain Kursi Ruang Tunggu Dengan Teknik Bending Triplek. EC00202293209, 23 November 2022 Stefanus Prabani. Kolaborasi Insan Non Difabel Dengan Insan Difabel Dalam Proses Produksi Furnitur Dengan Teknik Bending Triplek. HKI EC00202293208, 23 November 2022. Tatik Mulyati. Pelatihan Dan Pendampingan Penyandang Disabilitas Desa Simbatan. Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten Magetan. Jurnal Terapan Abdimas. Volume 4. Nomor 2. Juli 2019, hlm. Taufiqurokhman. Konsep Dan Kajian Ilmu Perencanaan. Jakarta. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama. Wikasanti. Esty. Pengembangan Life Skills Untuk Anak Berkebutuhan Khusus. Depok : Maxima. Pelatihan Keterampilan Dengan Teknik Laminasi Triplek Di SLB Paedagogia Maospati Kabupaten Magetan Stefanus Prabani Setio. Maria Widyastuti. Thyophoida Wanty Suriany Pandjaitan. Maria Riski Pratiwi Renwarin. Regina Gala Djala