JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Lembar Kerja Peserta Didik pada Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio-Scientific Issue untuk Meningkatkan Argumentasi Ilmiah Siswa SMP: Analisis Kebutuhan Selviana Ekawati1. Supeno2*. Iis Nur Asyiah3 Program Studi Magister Pendidikan IPA. Universitas Jember. Indonesia Program Studi Pendidikan IPA. Universitas Jember. Indonesia Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Jember. Indonesia *Corresponding author email: supeno. fkip@unej. Article Info Article history: Received August 05, 2025 Approved September 01, 2025 Keywords: Worksheet Science Learning Argumentation Skills Local Socio-Scientific Issue ABSTRACT Scientific argumentation skills are an essential foundation in science learning, as they help students think critically, express opinions scientifically, and make decisions based on evidence. Unfortunately, this skill has not yet been optimally developed among junior high school students, mainly due to limited opportunities to practise in a supportive classroom environment. This study aims to identify the need for developing Student Worksheets (SW) based on Problem-Based Learning (PBL) integrated with Local Socio-Scientific Issues (LSSI), as an effort to enhance students' scientific argumentation Using a qualitative descriptive approach, this study involved an initial argumentation skills test and a needs survey distributed to science teachers. The results showed that most students still fall into the low category regarding scientific argumentation skills, and many teachers do not yet have teaching tools to support these skills. However, there is significant potential for integrating the SSI-based approach into science education, mainly since teachers are already accustomed to using active methods in topics such as environmental pollution. These findings are an essential foundation for designing contextual and relevant worksheets, enabling students to learn science and become critical thinkers and caring citizens engaged with the issues around them. ABSTRAK Argumentasi ilmiah merupakan keterampilan berpikir penting dalam pembelajaran sains, karena membantu peserta didik berpikir kritis, menyampaikan pendapat secara ilmiah, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti. Walaupun demikian, keterampilan ini masih belum berkembang secara optimal di kalangan peserta didik SMP, terutama karena terbatasnya kesempatan untuk berlatih dalam suasana kelas yang mendukung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Problem-Based Learning (PBL) yang terintegrasi dengan isu-isu Sosio-Ilmiah Lokal (Local Socio-Scientific Issue/LSSI), sebagai upaya meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah peserta Melalui pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini melibatkan tes awal keterampilan argumentasi dan survei kebutuhan yang disebarkan kepada guru IPA. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik masih berada pada kategori rendah dalam keterampilan berargumentasi ilmiah, dan banyak guru belum memiliki Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2521 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . perangkat ajar yang mendukung pengembangan keterampilan tersebut. Namun, terdapat potensi besar untuk mengintegrasikan pendekatan berbasis LSSI ke dalam pembelajaran IPA, terutama karena guru telah terbiasa menggunakan metode aktif dalam topik seperti pencemaran lingkungan. Temuan ini menjadi pijakan penting untuk merancang LKPD yang kontekstual dan relevan, sehingga peserta didik tidak hanya belajar sains, tetapi juga belajar menjadi warga yang berpikir kritis dan peduli terhadap isu-isu di sekitarnya. Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Ekawati. Supeno. , & Asyiah. Lembar Kerja Peserta Didik pada Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio-Scientific Issue untuk Meningkatkan Argumentasi Ilmiah Siswa SMP: Analisis Kebutuhan. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2521Ae https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Perkembangan dunia di era global saat ini sangat cepat, sehingga peran dunia pendidikan begitu penting dalam mengembangkan peserta didik sebagai generasi penerus bangsa untuk menjadi individu yang kompeten dan siap bersaing. Kompetensi penting yang harus dimiliki oleh peserta didik diantaranya adalah keterampilan abad 21, yaitu berpikir kritis, kreatif, kolaborasi dan Komunikasi menjadi hal yang penting mengingat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat lepas dari komunikasi, baik secara verbal maupun nonverbal. Keberhasilan penyampaian informasi kepada kepada orang lain sangat bergantung pada keterampilan berargumentasi ilmiah. Keterampilan argumentasi ilmiah adalah keterampilan yang dapat mendorong peserta didik untuk terlibat dalam memberikan fakta, data dan teori yang sesuai untuk mendukung klaim terhadap suatu permasalahan (Rahayu et al. , 2. Kemampuan argumentasi ilmiah dapat dikuasai oleh peserta didik jika sering dilatih dan diberi wadah dalam melakukan penyelidikan (Astutik et al. , 2. , menganalisis data hasil penyelidikan (Wahyuni et al. , 2. , dan menyampaikan pendapat (Hardini & Alberida, 2. Keterampilan tersebut dapat tercapai melalui proses pembelajaran yang dipersiapkan dengan baik. Keterampilan argumentasi ilmiah memegang peranan penting bagi peserta didik sehingga memungkinkan mereka mempertimbangkan informasi dengan hati-hati dan memberikan alasan tentang situasi yang penting dalam membuat keputusan. Dalam konteks pembelajaran, komunikasi digunakan untuk menyampaikan pesan (Nur, 2023. Safitri et al. , 2. Selain itu peserta didik juga harus mampu memberikan argumen secara ilmiah tentang fenomena alam dan menggunakannya untuk memecahkan suatu permasalahan (Hardini & Alberida, 2022. Supeno et al. Dengan kata lain, keterampilan argumentasi ilmiah merupakan hal yang sangat krusial dalam kegiatan pembelajaran (Nurhidayati, 2023. Avianti et al. , 2. Keterampilan argumentasi ilmiah perlu dimiliki oleh peserta didik untuk membangun pemahaman, pengetahuan, dan mengungkapkan ide serta fakta-fakta dalam mencapai suatu kebenaran agar orang lain juga Penelitian Rahmawati . mengungkapkan bahwa rendahnya keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik salah satu penyebabnya adalah proses pembelajaran yang kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat mengemukakan pendapatnya. Selain itu rendahnya keterampilan argumentasi ilmiah juga disebabkan karena peserta didik tidak terbiasa menggungkapkan argumen atau pendapatnya dalam proses pembelajaran. Beberapa penelitian terduhulu telah menawarkan solusi untuk meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah, yaitu Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2522 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . melalui pembelajaran berbasis masalah (Jumadi et al. , 2021. Nurtamara et al. , 2023. MuAominin et al. Model ini biasa disebut sebagai model problem-based learning, dimana dalam proses pembelajaran, siswa menyelesaikan suatu permasalahan kontekstual melalui suatu proses Hasil investigasi diwujudkan dalam bentuk artefaks sebagai bentuk solusi dari permasalahan kontekstual. Model problem-based learning merupakan salah satu model yang memiliki potensi untuk meningkatkan keterampilan proses peserta didik (Yusmanidar, 2. Karakteristik dari model pembelajaran ini yaitu: . masalah yang disajikan merupakan masalah yang faktual, . pembelajaran saling terkait antar disiplin ilmu, . pembelajaran bersifat penyelidikan yang mengikuti kaidah metode ilmiah, . produk berupa pemecahan masalah, . antar peserta didik bekerjasma dalam memecahkan masalah dan mengembangkan keterampilan sosialnya (Arends. Selain karakteristik model problem-based learning juga mempunyai fase pembelajaran, . stimulus, yang berorientasi pada masalah, . pengorganisasian peserta didik, . penyelidikan, . pengembangan dan menyajikan hasil penyelidikan, . menganalisis dan evaluasi. Keunggulan lain dari model ini yaitu dapat memunculkan ide-ide dari peserta didik untuk berargumen secara ilmiah mengenai permasalahan yang sedang dibahas (Ismail et al. , 2. serta menuntut peserta didik untuk memahami konsep pembelajaran melalui situasi permasalahan sehari-hari (Suryadi, 2. Permasalahan yang disajikan dalam pembelajaran diharapkan mampu memberikan motivasi terhadap peserta didik untuk menemukan solusi dari berbagai informasi berdasarkan konsep ilmiah secara sciencetific, dalam hal ini sangat tepat apabila model problem-based learning disajikan berdasarkan isu-isu ilmiah kontekstual yang terjadi di masyarakat (Socio-Scientific Issue/SSI). Pendekatan SSI dapat memberikan peningkatan yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik (Dianti et al. , 2023. Jumadi et al. , 2021. Nurtamara et , 2023. MuAominin et al. , 2. Dari data hasil penelitian memberikan bukti bahwa model problem-based learning dan SSI dapat meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik, namun dari penelitian tersebut belum ada penelitian tentang model problem-based learning berbasis SSI yang menggunakan permasalah lokal sebagai topik pembelajaran. Padahal banyak permasalahan sosial dan ilmiah yang ada di sekitar siswa yang dapat digunakan sebagai sumber belajar yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran. Keterampilan argumentasi ilmiah sangat penting dalam pembelajaran IPA karena membantu peserta didik menjelaskan fenomena alam dan menyelesaikan masalah secara ilmiah. Argumentasi ilmiah membutuhkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang baik, kolaborasi, dan kreativitas (Anita, 2019. Wahidah et al. , 2. Strategi pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan kemampuan argumentasi ilmiah mencakup pendekatan Socio-Scientific Issue (SSI) yang terintegrasi dengan masalah sosial (Wahidah et al. , 2024. Wahyuni et al. , 2024. Supeno et al. Penelitian menunjukkan bahwa SSI meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah dalam pembelajaran biologi (Siska, 2. , dalam pembelajaran IPA (Zairina & Hidayati. , 2. , dan pelajaran sosial di SMP (Akbar et al. , 2. Pada konteks lokal, penggunaan SSI seperti isu lingkungan hidup, pengelolaan sampah, atau konservasi keanekaragaman hayati di daerah sekitar peserta didik dapat memberikan pengalaman belajar yang relevan dan nyata. Misalnya, diskusi terkait penanganan limbah produksi di komunitas lokal yang ada di Sumenep atau dampak penggunaan bahan kimia pada pertanian lokal dapat memotivasi peserta didik untuk berargumen secara ilmiah. Pengintegrasian SSI lokal ini ke dalam model problem-based learning dapat lebih Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2523 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . efektif dalam meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik sambil memberikan kontribusi positif pada kesadaran sosial mereka. Solusi ini ditawarkan selaras dengan penelitian Miterianifa . yang menyatakan bahwa sains harus mampu melahirkan individu yang berkualitas dengan memiliki kemampuan berpikir logis, kritis dan kreatif serta mampu menyelesaikan masalah sehari-sehari yang begitu kompleks. Permasalahan yang ditemukan dalam SSI dapat diselesaikan melalui pemikiran sendiri, pendapat orang lain maupun perpaduan keduanya melalui diskusi. Berdiskusi secara kelompok dapat membangun motivasi peserta didik untuk lebih berani mengungkapkan pendapatnya karena sudah mendapatkan penguatan dari teman Beberapa fakta penelitian menunjukkan bahwa model PBL berbasis bukti pada isu isu sosial sains secara ilmiah dapat meningkatkan motivasi peserta didik dalam membangun argumen (Nurtamara et al, 2. Berlatar belakang permasalahan tersebut, pengembangkan perangkat pembelajaran IPA terutama dalam hal Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk implementasi pembelajaran dengan model problem-based learning berbasis Local Socio-Scientific Issue (LSSI) menjadi hal penting untuk meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik SMP. Akan tetapi sebelum perangkat ini dibuat, diperlukan analisis kebutuhan terhadap perangkat tersebut. Analisis kebutuhan ini dilakukan dengan memfokuskan pada kemampuan awal keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik dan analisis kebutuhan terhadap LKPD dengan model problem-based learning berbasis LSSI melalui hasil angket. METODE Subjek penelitian adalah peserta didik kelas VII di SMP Negeri 2 Sumenep pada Tahun Ajaran 2024/2025 semester Genap. Banyaknya rombel Kelas VII di SMP Negeri 2 Sumenep adalah 10 rombel, 4 rombel dilibatkan dalam penelitian ini yaitu kelas VII-1. VII-2. VII-3 dan VII4. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan mengembangkan perangkat ajar LKPD model PBL berbasis Local Socio-Scientific Issue (LSSI), dengan teknis pengumpulan data melalui tes, lembar validasi, lembar observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data untuk analisis kebutuhan dilakukan dengan dua cara, yaitu. Tes Tes pada penelitian ini dilakukan untuk menilai kemampuan keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik sebagai data awal. Bentuk tes berupa tes tulis uraian, sebanyak 3 soal yang masingmasing dengan tiga komponen keterampilan argumentasi ilmiah, yaitu klaim, bukti dan alasan yang diadopsi dari model McNeill & Krajcik . Instrumen tes ini sudah melalui proses validasi oleh ahli dengan kriteria dan rubrik tingkatan keterampilan argumentasi ilmiah terdapat pada Tabel 1. Instrumen analisis kebutuhan Instrumen analisis kebutuhan ini sudah melalui proses validasi oleh dosen ahli. Hasil dari angket analisis kebutuhan ini dijadikan sebagai informasi kebutuhan belajar peserta didik dan guru, bentuk berupa angket. Pengukuran argumentasi ilmiah menurut Toulmin . terdiri dari lima indikator, yaitu claim, data, warrant, backing dan rebuttal. Claim merupakan argumen atau pandangan seseorang tanpa disertai bukti apapun. Data adalah fakta yang mendukung claim. Warrant merupakan Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2524 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . penjamin atau alasan yang mengaitkan data dengan claim. Backing merupakan asumsi pendukung warrant dan rebuttal adalah sanggahan. Keterampilan argumentasi ilmiah yang baik adalah berargumen dengan mencakup kelima aspek tersebut. Rubrik penilaian keterampilan argumentasi ilmiah memiliki skor 1-5 (Hardini & Alberida, 2. Model Toulmin berdasarkan kerangka kerja Inci . Dawson & Venville . juga memberikan kerangka penilaian dengan skor dimulai dari angka 1 sampai 5. Sedangkan McNeill & Krajcik . membagi komponen keterampilan argumentasi ilmiah menjadi tiga bagian dengan tujuan agar lebih mudah dipahami oleh peserta didik, yaitu klaim . , bukti . dan alasan . yang dikenal dengan CER, penyederhanaan ini dibuat berdasarkan pola argumentasi Toulmin yang terdiri dari lima aspek keterampilan argumentasi ilmiah. Ketiga aspek keterampilan argumentasi ilmiah memiliki penjelasan (Nabila, 2. Klaim . , merupakan pernyataan untuk menjawab pertanyaan awal yang merupakan pendapat awal dari pemberi argumen tanpa pembenaran/pembuktian, fase ini berada pada level satu. Bukti . , merupakan data dan informasi ilmiah yang memberikan dukungan terhadap Data ini bisa didapatkan dari penyelidikan, investigasi, pengamatan, informasi umum, investigasi atau sumber lainnya. Alasan . , merupakan pembenaran yang dari data yang dianggap sebagai bukti untuk mendukung klaim. Dalam komponen ini, peserta didik diajak untuk berlogika mengapa mereka harus percaya bahwa bukti tersebut dapat mendukung klaim. Pada bagian ini McNeill dan Krajcik . menggabungkan warrant . dengan evidence dan backing . Bagian ini mengajak peserta didik untuk bernalar dengan menggunakan metode ilmiah untuk menghasilkan argumentasi yang ilmiah. Penelitian ini mengadopsi tingkatan argumentasi milik McNeill & Krajcik . dimana rincian rubrik tingkatan keterampilan argumentasi ilmiah dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 1. Tabel 1. Rubrik Tingkatan Keterampilan Argumentasi ilmiah Level/Tingkatan Argumentasi Ilmiah Peserta didik Komponen Tidak memuat Memuat klaim yang Memuat klaim yang Klaim Kesimpulan yang klaim, atau klaim benar tetapi kurang benar dan lengkap. menjawab pertanyaan tidak benar. Bukti Data ilmiah yang Data harus sesuai dan mendukung klaim. Tidak memuat data bukti, atau hanya memuat bukti yang tidak benar . ukti tidak mendukung Memuat bukti yang sesuai, namun kurang mendukung klaim . apat berupa kurangnya bukti Termasuk sebagian klaim yang tidak benar. Memuat bukti yang sesuai dan memadai . engkap bukti empiri. untuk mendukung klaim. Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2525 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Alasan Pembenaran menghubungkan klaim Alasan mengapa data sebagai bukti dengan menggunakan prinsipprinsip ilmiah yang tepat dan memadai. Tidak alasan, atau hanya klaim dengan bukti. Memuat alasan yang menghubungkan klaim Mengulang bukti dan/atau memuat prinsip-prinsip ilmiah. Memuat klaim dengan bukti. Memuat prinsipprinsip ilmiah yang sesuai dan Sumber: (McNeill & Krajcik, 2. Penentuan nilai keterampilan argumentasi ilmiah dihitung menggunakan formula: ycAycnycoycaycn = ycIycoycuyc ycycaycuyci yaycnycyyceycycuycoyceEa ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco Penilaian keterampilan argumentasi ilmiah ditentukan berdasarkan kriteria yang dinyatakan pada Tabel HASIL DAN PEMBAHASAN Keterampilan argumentasi ilmiah Penelitian ini mengkaji keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik dari empat kelas di SMP Negeri 2 Sumenep berfokus pada tiga komponen utama: klaim, bukti, dan alasan. Setiap komponen dinilai berdasarkan rubrik tiga tingkat, dan hasilnya diklasifikasikan ke dalam kategori "Kurang", "Cukup", atau "Baik". Berdasarkan hasil tes kemampuan keterampilan argumentasi ilmiah, diperoleh data sebagai berikut: Berikut adalah diagram batang yang menggambarkan skor rata-rata komponen klaim, bukti, dan alasan dari masing-masing kelas sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1. Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2526 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Gambar 1 Hasil tes argumentasi ilmiah Hasil analisis keterampilan argumentasi peserta didik menunjukkan bahwa secara umum, kemampuan mereka masih berada dalam kategori kurang. Hal ini tercermin dari skor rata-rata yang belum mencapai ambang batas kategori cukup . cuI > 0,. Kelas VIIAe1 dan VIIAe2, menunjukkan skor yang relatif lebih tinggi dibandingkan dua kelas lainnya, dengan rata-rata mendekati batas atas kategori "Kurang". Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta didik di kedua kelas tersebut telah mulai memahami struktur argumentasi, meskipun belum mencapai tingkat "Cukup". Kelas VIIAe3, memperoleh skor terendah di semua komponen, terutama pada aspek alasan . Rendahnya skor ini menunjukkan bahwa peserta didik di kelas tersebut belum mampu menghubungkan klaim dan bukti secara logis dan ilmiah, serta belum menunjukkan pemahaman yang memadai terhadap prinsip-prinsip dasar argumentasi. Kelas VIIAe4, sedikit lebih baik dari VIIAe3, namun masih berada dalam kategori "Kurang". Skor komponen alasan . menunjukkan adanya upaya untuk mengaitkan bukti dengan klaim, meskipun belum konsisten dan belum didukung oleh prinsip ilmiah yang kuat. Secara keseluruhan, pada komponen argumentasi klaim, semua kelas menunjukkan kemampuan awal dalam menyusun klaim yang relevan, namun belum lengkap. Klaim yang dibuat cenderung menjawab pertanyaan awal tetapi belum didukung secara menyeluruh oleh bukti dan alasan yang memadai. Pada komponen argumentasi bukti, mayoritas peserta didik mampu menyertakan data yang sesuai, namun belum cukup kuat untuk mendukung klaim secara utuh. Hal ini terlihat dari skor yang konsisten di kisaran 0,28Ae0,55. Pada komponen argumentasi alasan, komponen ini menjadi tantangan terbesar. Skor rendah pada aspek alasan menunjukkan bahwa peserta didik belum terbiasa menggunakan prinsip ilmiah untuk menjelaskan hubungan antara klaim dan bukti. Ini menjadi fokus penting dalam pengembangan keterampilan argumentasi ke Analisis Kebutuhan Untuk analisis kebutuhan perangkat LKPD, peneliti memberikan angket yang berisi 10 pertanyaan untuk dijawab oleh guru sekolah tersebut dan juga beberapa guru dari sekolah lainnya. Hasil observasi ditunjukkan pada Tabel 4. Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2527 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Prosentase Analisis Kebutuhan Perangkat TIDAK Gambar 2. Prosentase Analisis Kebutuhan Perangkat. Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2528 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Data di atas dapat dianalisis sebagai berikut: . Sebanyak 50 % responden sudah pernah mendengar mengenai pembelajaran berbasis SSI, akan tetapi hanya 48 % yang paham konsepnya. Dari seluruh responden, 95. 8 % sudah menggunakan model pembelajaran yang cukup bervariasi, ini cukup mengidikasikan bahwa guru-guru telah terbiasa melakukan pendekatan aktif dalam pembelajaran pencemaran lingkungan. Ini merupakan hal positif yang berpotensi untuk memberikan akses dalam mengintegrasikan SSI untuk meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah di pembelajaran berikutnya. Karena mayoritas responden . 5 %) telah menyadari pentingnya keterampilan argumentasi ilmiah untuk dimiliki peserta didik. 37 % responden sudah menerapkan pembelajaran yang melatih keterampilan argumentasi ilmiah, namun sebagian besar masih belum tahu/memiliki perangkat pembelajaran yang baik. 67 % responden menyatakan mengalami hambatan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran dan 97 % menyatakan membutuhkan perangkat pembelajaran yang dapat membangun keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik. Secara keseluruhan, hasil analisis kebutuhan ini memperkuat urgensi pengembangan LKPD berbasis Socio-Scientific Issue sebagai solusi untuk meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik. LKPD yang dirancang dengan pendekatan kontekstual dan berbasis isu-isu sosial-ilmiah diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kesadaran pedagogis dan praktik pembelajaran yang efektif. Analisis kebutuhan tersebut dapat disimpulkan dalam bentuk Tabel 5 seperti berikut. Tabel 5. Hasil Ringkasan Analisis Kebutuhan Aspek yang Dianalisis Temuan Utama Implikasi Pemahaman tentang SSI Masih terbatas Perlu pelatihan dan sosialisasi Model pembelajaran Sudah bervariasi Potensi untuk integrasi SSI Dianggap penting tapi belum Perlu perangkat pembelajaran Keterampilan argumentasi yang mendukung Perlu pengembangan LKPD Pengetahuan tentang LKPD Minim berbasis SSI Butuh dukungan dan sumber Hambatan pengembangan Tinggi LKPD berbasis SSI sangat Kebutuhan perangkat Sangat tinggi relevan dan dibutuhkan KESIMPULAN Penelitian ini dapat memberikan informasi bahwa keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik masih berada dalan kriteria kurang, meskipun sudah dilakukan pembelajaran dengan model yang Analisis data menunjukkan sebagian besar guru masih belum tahu/belum memiliki perangkat pembelajaran berupa LKPD yang dapat meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah dari peserta didik, akan tetapi ada potensi yang besar untuk mengintegrasikan pembelajaran berbasis Socio-Scientific Issue (SSI) dalam pembelajaran IPA di SMP. Ini terlihat dari tingginya persentase guru yang menyatakan pentingnya keterampilan argumentasi ilmiah . ,5%). Tetapi 67% guru mengalami hambatan dalam mengembangkan perangkat pembelajaran. Hal ini memperkuat urgensi penyediaan LKPD yang kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Lembar Kerja Peserta Didik Smp (LKPD) Model Problem-Based Learning Berbasis Local Socio Scientific Issue A-2529 Ekawati et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Berdasarkan data ini, pengembangan LKPD berbasis SSI menjadi sangat relevan dan Pendekatan SSI memungkinkan peserta didik untuk terlibat dalam isu-isu nyata yang bersifat ilmiah dan sosial, sehingga mendorong mereka untuk berpikir kritis, menyusun argumen, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti. LKPD yang dirancang dengan mengintegrasikan SSI dapat menjadi media yang efektif untuk melatih keterampilan argumentasi ilmiah secara sistematis dan bermakna. Dengan demikian, pengembangan LKPD berbasis SSI tidak hanya menjawab kebutuhan guru, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran IPA yang berorientasi pada keterampilan abad ke-21, khususnya kemampuan berpikir kritis dan argumentatif. Penelitian lanjutan juga disarankan untuk menguji efektivitas LKPD berbasis SSI dalam meningkatkan keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik, baik melalui studi eksperimen maupun evaluasi implementasi di kelas. DAFTAR PUSTAKA