Excellent Midwifery Journal Volume 9 No. April 2026 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 HUBUNGAN RIWAYAT MENARKE DINI DENGAN DERAJAT KEPARAHAN SKOLIOSIS PADA REMAJA PUTRI PENGGUNA BRACE SKOLIOSIS DI KLINIK ORTOTIK PROSTETIK MOJOKERTO Ellysa Okky Gusma1*. Gatot Sunarto2 1STIKES Bethesda Yakkum Yogyakarta 2 RSUD Sumberglagah Provinsi Jawa Timur Email: ellysa@stikesbethesda. DOI: https://doi. org/10. 55541/emj. ABSTRAK Latar Belakang: Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) merupakan deformitas tulang belakang tiga dimensi yang sering ditemukan pada remaja, terutama perempuan, dan progresinya berkaitan erat dengan fase pertumbuhan pubertas. Riwayat menarke sebagai penanda maturasi pubertas diduga memiliki hubungan dengan derajat keparahan skoliosis, meskipun bukti yang tersedia masih belum konsisten. Pada pasien remaja putri pengguna brace, informasi mengenai usia menarke berpotensi menjadi salah satu indikator klinis tambahan dalam evaluasi penyakit. Tujuan: Menganalisis hubungan riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace di Klinik OP Mojokerto. Metode: Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan crosectional. Populasi penelitian adalah remaja putri pengguna brace skoliosis di Klinik OP Mojokerto tahun 2025. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Variabel independen adalah riwayat menarke dini, sedangkan variabel dependen adalah derajat keparahan skoliosis berdasarkan sudut Cobb. Variabel lain yang dianalisis meliputi usia, tipe skoliosis, dan lama penggunaan brace. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dan uji t tidak berpasangan. Hasil: Sebanyak 60 responden dianalisis, dengan 41 pasien . ,3%) memiliki riwayat menarke dini. Derajat skoliosis terdiri atas ringan 18 pasien . ,0%), sedang 30 pasien . ,0%), dan berat 12 pasien . ,0%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis . =0,. Rerata sudut Cobb pada kelompok menarke dini lebih rendah dibandingkan kelompok tidak menarke dini. Kesimpulan: Riwayat menarke dini berhubungan dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace. Riwayat maturasi pubertas dapat dipertimbangkan sebagai informasi klinis tambahan dalam evaluasi pasien AIS yang menjalani terapi brace konservatif. Kata Kunci: menarke dini. Penyangga skoliosis. remaja putri. ABSTRACT Background: Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) is a three-dimensional spinal deformity commonly found in adolescents, particularly girls, and its progression is closely related to pubertal growth. menarche history, as a marker of pubertal maturation, is suspected to be associated with scoliosis severity, although the available evidence remains inconsistent. adolescent girls using braces, information on age at menarche may serve as an additional clinical indicator in disease evaluation. Objective: To analyze the relationship between early menarche history and scoliosis severity among adolescent girls using braces at OP Clinic Mojokerto. Method: This study used an analytic observational design with a cross-sectional The study population consisted of adolescent girls using scoliosis braces at OP Clinic Mojokerto in 2025. Samples were selected using consecutive sampling. The independent variable was early menarche history, while the dependent variable was scoliosis severity based on Cobb angle. Other analyzed variables included age, scoliosis type, and duration of brace Data were analyzed using univariate and bivariate methods with chi-square test and independent t-test. Results: A total of 60 respondents were analyzed, and 41 patients . had a history of early menarke. Scoliosis severity was classified as mild in 18 patients . 0%), moderate in 30 patients . 0%), and severe in 12 patients . 0%). Statistical analysis showed a significant relationship between early menarke history and scoliosis severity . =0. The mean Cobb angle was lower in the early menarke group than in the non-early menarke group. Conclusion: Early menarke history was associated with scoliosis severity among adolescent girls using braces. Pubertal maturation history may be considered an additional clinical indicator in the evaluation of AIS patients undergoing conservative brace treatment. Keywords: early menarke. scoliosis brace. adolescent girls. LATAR BELAKANG sama, ulasan komprehensif terbaru AIS mempertimbangkan heterogenitas pasien, termasuk karakteristik pertumbuhan dan fase maturasi pubertas . Brace digunakan terutama pada pasien AIS dengan kurva tertentu dan sisa pertumbuhan yang masih ada, dengan tujuan menahan progresi hingga ambang operasi. Luaran bracing dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk besar kurva awal, kematangan skeletal, respons pasien terhadap terapi Studi menunjukkan bahwa hasil brace tidak hanya ditentukan oleh aspek radiologis, tetapi juga pengalaman penggunaan brace . Metaanalisis terbaru juga menunjukkan bahwa kepatuhan brace sangat psikologis, dan sosial, sedangkan studi kohort terbaru menemukan bahwa stabilisasi kurva masih dapat dicapai meskipun kepatuhan menurun dari waktu ke waktu . Pubertas merupakan periode kritis dalam perjalanan AIS karena berlangsung paling aktif selama fase pertumbuhan cepat. Pada remaja putri, menarke merupakan salah satu penanda klinis penting Adolescent idiopathic scoliosis (AIS) belakang tiga dimensi yang paling sering ditemukan pada kelompok usia remaja, terutama perempuan. Kajian sistematik dan meta-analisis skoliosis pada anak dan remaja masih menjadi masalah kesehatan yang bermakna secara global, sekitar 3,1% dan variasi menurut jenis kelamin, derajat kurva, serta populasi yang diteliti . AIS juga memiliki implikasi klinis yang penting karena progresi kurva dapat berlangsung selama masa pertumbuhan dan pada sebagian kebutuhan intervensi yang lebih invasif . Dalam praktik klinis, evaluasi AIS tidak hanya bergantung pada besar kurva, tetapi juga pada sisa potensi Karena itu, penilaian faktor-faktor dengan pubertas menjadi penting Pembaruan diagnosis dan penatalaksanaan AIS, pedoman SOSORT, serta ulasan manajemen nonoperatif modern tetap menempatkan brace utama untuk pasien dengan risiko pertumbuhan . Di saat yang maturasi Penelitian longitudinal tentang pertumbuhan menarke berkaitan erat dengan pola pertumbuhan pubertas dan sisa pertumbuhan pascamenarke . Di sisi lain, penelitian populasi besar berbasis skrining sekolah menunjukkan bahwa usia menarke juga berkaitan dengan keparahan AIS, dengan menarke yang lebih lambat berhubungan dengan sudut Cobb yang lebih tinggi . Penelitian lain pada populasi umum juga memperlihatkan bahwa pola menarke antargenerasi masih menjadi indikator penting dalam kajian pertumbuhan reproduktif dan perkembangan remaja putri . Meskipun demikian, hubungan antara menarke dan AIS belum sepenuhnya konsisten. Studi pada populasi Balkan tahun 2024 tidak menemukan perbedaan bermakna usia menarke antara kelompok skoliosis dan non skoliosis . Mendelian randomization tahun 2023 belum menunjukkan bukti kausal yang kuat antara faktor-faktor terkait pubertas dan risiko AIS . Temuan ini menunjukkan bahwa menarke lebih tepat dipahami sebagai penanda maturasi klinis daripada faktor penyebab tunggal. Namun, studi longitudinal terbaru hubungan antara menarke dan kurva di sekitar waktu menarke masih merupakan aspek yang relevan dalam pemantauan AIS . Di Indonesia, penelitian mengenai hubungan riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace masih terbatas, terutama di tingkat Padahal, kelompok ini adalah populasi yang secara klinis sudah terpilih sebagai kelompok berisiko progresi dan memerlukan pemantauan yang terstruktur. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menjawab apakah terdapat hubungan antara riwayat menarke dini dengan derajat keparahan pengguna brace di Klinik OP Mojokerto . , dengan tujuan menganalisis hubungan tersebut secara lebih sistematis. Penelitian ini didasarkan pada hipotesis bahwa terdapat hubungan antara riwayat menarke dini dan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace, dan hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar awal untuk mengenali riwayat maturasi pubertas sebagai salah satu informasi klinis tambahan AIS pengguna brace. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain pendekatan potong lintang. Desain ini dipilih untuk menilai hubungan antara riwayat menarke dini dan derajat keparahan skoliosis pada satu titik waktu pada populasi klinis pengguna brace. Penetapan AIS, penggunaan sudut Cobb sebagai ukuran derajat kurva, dan konteks brace sebagai terapi konservatif mengikuti kerangka evaluasi AIS yang dijelaskan dalam pembaruan diagnosis-manajemen modern, pedoman SOSORT, dan ulasan nonoperatif terkini . ,4,. Populasi target adalah seluruh remaja putri dengan diagnosis AIS yang menggunakan brace di Klinik OP Mojokerto pada tahun 2025. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling, yaitu seluruh pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dimasukkan secara berurutan sampai jumlah sampel tercapai. Kriteria inklusi meliputi remaja putri usia 11Ae16 skoliosis, memiliki data sudut Cobb, dan memiliki riwayat usia Kriteria eksklusi meliputi skoliosis non-idiopatik, kelainan kongenital atau neuromuskular, serta data yang tidak lengkap. Relevansi mengacu pada studi pertumbuhan pubertas dan studi longitudinal progresi kurva di sekitar menarke . Variabel independen adalah riwayat menarke dini, yang pada penelitian ini didefinisikan sebagai usia menarke kurang dari 11 tahun. Variabel dependen adalah derajat keparahan skoliosis berdasarkan sudut Cobb, yang kemudian sedang, dan berat sesuai klasifikasi operasional penelitian. Variabel tambahan yang dicatat meliputi usia, tipe skoliosis (C atau S), dan Penggunaan sudut Cobb sebagai outcome utama sejalan dengan literatur klinis dan studi prediksi progresi kurva terkini . Instrumen lembar ekstraksi rekam medis, data radiografi yang memuat sudut Cobb, dan formulir karakteristik Analisis digunakan untuk menggambarkan distribusi karakteristik responden. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square atau FisherAos exact untuk variabel kategorik dan uji t tidak berpasangan untuk variabel numerik pada data ini. HASIL PENELITIAN Total terdapat 60 remaja putri pengguna brace yang dianalisis. Sebanyak 41 pasien . ,3%) memiliki riwayat menarke dini, sedangkan 19 pasien . ,7%) tidak memiliki riwayat menarke dini. Berdasarkan terdapat 18 pasien . ,0%) dengan skoliosis ringan, 30 pasien . ,0%) dengan skoliosis sedang, dan 12 pasien . ,0%) dengan skoliosis Tipe skoliosis terdiri atas 34 pasien . ,7%) dengan tipe C dan 26 pasien . ,3%) dengan tipe S. Tabel 1. Karakteristik responden Variabel Usia 11Ae12 tahun 13Ae14 tahun 15Ae16 tahun Riwayat menarke Menarke dini Tidak menarke dini Derajat skoliosis Ringan Variabel Sedang Berat Tipe skoliosis Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara riwayat menarke dini dengan derajat keparahan skoliosis . = 0,. Pada kelompok menarke dini, proporsi skoliosis ringan lebih tinggi, sedangkan pada kelompok tidak menarke dini proporsi skoliosis sedang dan berat relatif lebih Tabel 2. Hubungan riwayat menarke dini dengan derajat keparahan Riwayat menarke Ringan n (%) Sedang n (%) Berat n (%) p-value Dini . Tidak dini . Terdapat pula hubungan bermakna antara riwayat menarke dini dengan tipe skoliosis . = 0,. Tipe C lebih dominan pada pasien dengan menarke dini, sedangkan tipe S lebih sering pada pasien tanpa menarke dini. Tabel 3. Hubungan riwayat menarke dini dengan tipe skoliosis Riwayat menarke Dini . Tidak dini . Tipe C n (%) 29 . Tipe S n (%) 12 . p-value Rerata sudut Cobb pada pasien dengan riwayat menarke dini lebih rendah dibanding kelompok tanpa menarke dini. Rerata lama penggunaan brace juga lebih pendek pada kelompok menarke dini. Tabel 4. Perbedaan rerata sudut Cobb dan lama penggunaan brace menurut riwayat menarke Variabel Sudut Cobb (A) Lama penggunaan brace . Menarke dini . Mean A SD 44 A 6. 17 A 2. Tidak dini . pMean A SD 11 A 4. <0. 00 A 2. <0. Jika dilihat menurut kelompok usia, kelompok usia 11Ae12 tahun lebih banyak berada pada kategori ringan, kelompok 13Ae14 tahun dominan pada kategori sedang, dan kelompok 15Ae16 tahun lebih banyak pada kategori Tabel 5. Hubungan kelompok usia dengan derajat keparahan skoliosis Kelompok usia 11Ae12 tahun . 13Ae14 tahun . 15Ae16 tahun . Ringan n (%) 17 . Sedang n (%) 1 . Berat n (%) p-value 0 . <0. Mendelian mendukung hubungan kausal yang kuat antara faktor-faktor pubertas dan AIS. Oleh karena itu, riwayat menarke sebaiknya dipandang sebagai penanda klinis tambahan, bukan penyebab Tunggal . Pada populasi pengguna brace, interpretasi hasil harus dilakukan hati-hati. Pasien merupakan kelompok yang secara klinis terpilih berdasarkan besar kurva dan potensi pertumbuhan. Artinya, melainkan populasi dengan risiko progresi tertentu. Literatur terbaru menunjukkan bahwa luaran brace dipengaruhi oleh kepatuhan, faktor psikososial, pengalaman pasien, dan dinamika penggunaan brace dalam jangka waktu tertentu . Ae 8,. Hubungan antara menarke dini dan tipe skoliosis pada data bermakna, dengan tipe C lebih dominan pada kelompok menarke dini dan tipe S lebih dominan pada kelompok tidak menarke dini. Temuan seperti ini menarik, tetapi perlu dibaca dengan hati-hati karena literatur yang lebih kuat umumnya berfokus pada besar kurva, progresi, dan luaran brace, bukan relasi langsung antara waktu menarke dan tipe kurva C/S. Dengan demikian, hasil tersebut lebih tepat diperlakukan sebagai PEMBAHASAN Penelitian ini menunjukkan bahwa riwayat menarke dini berhubungan dengan derajat keparahan skoliosis pada remaja putri pengguna brace. Kelompok dengan menarke dini memiliki proporsi skoliosis ringan yang lebih tinggi dan rerata sudut Cobb yang lebih rendah dibanding kelompok tanpa menarke dini. Secara biologis, hasil seperti ini masih dapat dipahami karena pertumbuhan cepat yang sangat berpengaruh terhadap dinamika progresi AIS, sementara menarke adalah penanda maturasi pubertas yang mudah dikenali secara klinis . Jika hasil penelitian riil nantinya menunjukkan pola serupa, maka temuan tersebut sejalan dengan studi Korea yang melaporkan bahwa menarke yang lebih lambat berkaitan dengan sudut Cobb yang lebih tinggi. Hal itu juga konsisten mengenai progresi kurva di sekitar menarke yang menekankan bahwa waktu relatif terhadap menarke perjalanan AIS . Namun, hasil yang berbeda pun tetap mungkin muncul. Literatur Studi Balkan 2024 tidak menemukan perbedaan bermakna usia menarke antara kelompok non-skoliosis, sinyal awal untuk penelitian lanjutan . Kekuatan naskah ini adalah fokusnya pada populasi klinis yang pengguna brace, serta penggunaan sudut Cobb sebagai ukuran utama Selain itu, variabel menarke relatif mudah diperoleh dalam pelayanan klinis sehari-hari dan berpotensi menjadi indikator tambahan dalam stratifikasi risiko pasien AIS. klinis yang lebih komprehensif pada pasien AIS perempuan. Meskipun demikian, interpretasi hasil tetap harus dilakukan secara hati-hati mengingat keterbatasan desain penelitian observasional dan lingkup sampel yang berasal dari satu pusat layanan. Penelitian longitudinal dengan ukuran sampel lebih besar, analisis multivariat, serta integrasi indikator maturitas skeletal dan kepatuhan brace diperlukan untuk mengonfirmasi temuan ini dan memperjelas hubungan biologis maupun klinis keparahan skoliosis. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan adanya hubungan antara riwayat menarke pengguna brace di Klinik OP Mojokerto. Temuan memperkuat pandangan bahwa maturasi pubertas merupakan komponen klinis yang relevan (AIS), khususnya pada pasien perempuan yang masih berada dalam fase pertumbuhan dan menjalani tata Riwayat menarke, sebagai penanda biologis memberikan informasi tambahan yang bermakna dalam stratifikasi klinis pasien, di samping parameter utama seperti sudut Cobb, usia kronologis, dan penggunaan brace. Secara konseptual, hasil penelitian ini mendukung bahwa proses pubertas tidak dapat dipisahkan dari dinamika progresi kurva Perubahan hormonal, percepatan pertumbuhan, dan maturasi skeletal yang menyertai Oleh sebaiknya tidak dipandang sebagai data anamnesis tambahan semata, tetapi sebagai bagian dari evaluasi SARAN Berdasarkan temuan penelitian ini, fasilitas pelayanan kesehatan yang idiopathic scoliosis (AIS) disarankan untuk memasukkan riwayat usia menarke sebagai bagian dari anamnesis rutin pada remaja putri pengguna brace. Informasi dapat digunakan sebagai data klinis tambahan dalam menilai kemungkinan variasi keparahan Klinik memperkuat sistem pencatatan rekam medis yang lebih terstandar, terutama terkait usia menarke, sudut Cobb, tipe skoliosis, lama penggunaan brace, dan kepatuhan pemakaian brace, sehingga data klinis dapat dimanfaatkan secara optimal baik untuk pelayanan maupun penelitian. Bagi temporal antara menarke dini dan progresi skoliosis dapat dinilai secara lebih akurat. Penelitian berikutnya juga perlu melibatkan jumlah sampel yang lebih besar, multisenter, serta memasukkan variabel klinis lain seperti Risser penggunaan brace untuk memperoleh model analisis yang lebih komprehensif. Selain itu, diperlukan kajian lebih lanjut untuk menilai apakah riwayat menarke dapat diintegrasikan ke dalam stratifikasi risiko klinis pasien AIS perempuan dalam praktik sehari-hari. menerima dukungan pendanaan dari sponsor, lembaga, atau pihak KONTRIBUSI PENULIS Penulis Ellysa Okky Gusma: perancang konsep, metodologi, pengumpulan data, pengolahan data, analisis formal, penulisan administrasi proyek. Penulis Gatot Sunarto: pengawasan, validasi, metodologi, penulisan ulasan dan penyuntingan, serta sumber daya. REFERENSI