PUSAKA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Volume 2 . Desember 2025 E-ISSN: 3062-942X The article is published with Open Access at: https://journal. id/index. php/pusaka Peningkatan Kemampuan Menulis Esai Argumentatif Berbahasa Indonesia melalui Topik Viral di Kalangan Mahasiswa FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe Ririn Rahayu *. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia Azhari. Universitas Bumi Persada. Lhokseumawe. Indonesia Muntazar. Universitas Bumi Persada. Lhokseumawe. Indonesia Maulidawati. Universitas Malikussaleh. Lhokseumawe. Indonesia * ririn. rahayu@unimal. Abstract: Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis esai argumentatif berbahasa Indonesia melalui pemanfaatan topik viral di kalangan mahasiswa FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe. Latar belakang kegiatan ini didasarkan pada rendahnya kemampuan mahasiswa dalam mengemukakan gagasan secara logis, kritis, dan sistematis dalam bentuk tulisan argumentatif, serta kurangnya pemanfaatan isu-isu aktual yang dekat dengan kehidupan mahasiswa sebagai sumber belajar. Metode pengabdian dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu analisis kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan pelatihan, pendampingan menulis, dan evaluasi. Subjek pengabdian terdiri atas 20 orang mahasiswa FKIP yang mengikuti kegiatan secara aktif melalui diskusi, praktik menulis, dan refleksi. Instrumen yang digunakan meliputi tes menulis esai argumentatif, rubrik penilaian esai, lembar observasi aktivitas mahasiswa, dan angket respons peserta. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk menggambarkan peningkatan kemampuan menulis dan respons mahasiswa terhadap kegiatan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa berada pada kategori baik dan sangat baik dalam kemampuan menulis esai argumentatif, dengan peningkatan yang terlihat pada aspek struktur esai, kekuatan argumen, dan relevansi isi. Selain itu, tingkat keaktifan dan kepuasan mahasiswa terhadap kegiatan tergolong tinggi. Pemanfaatan topik viral terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar, daya kritis, serta keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran menulis. Dengan demikian, pengabdian ini memberikan kontribusi positif terhadap penguatan literasi akademik mahasiswa dan dapat dijadikan alternatif model pengabdian berbasis kontekstual dalam pembelajaran bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Keywords: Menulis esai argumentatif, topik viral, bahasa Indonesia, mahasiswa FKIP. Received June 21, 2025. Accepted August 19, 2025. Published December 30, 2025 Published by Mandailing Global Edukasia A 2025. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. INTRODUCTION Kemampuan menulis esai argumentatif merupakan salah satu kompetensi akademik yang sangat penting bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) yang dipersiapkan sebagai calon pendidik. Esai argumentatif tidak hanya menuntut keterampilan kebahasaan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis dalam menyampaikan gagasan serta menanggapi suatu persoalan secara ilmiah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan menulis esai argumentatif mahasiswa masih tergolong rendah. Mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam merumuskan tesis yang jelas, menyusun argumen yang kuat dan didukung data, serta menggunakan bahasa Indonesia baku sesuai kaidah akademik. Permasalahan ini menjadi semakin kompleks di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya isuisu viral yang membentuk pola pikir dan cara berbahasa mahasiswa. Keadaan terkini menunjukkan bahwa mahasiswa hidup dalam lingkungan media sosial yang sangat dominan, seperti TikTok. Instagram. X, dan berbagai platform digital Isu-isu viral yang berkembang di media tersebut sering kali dikonsumsi secara instan tanpa proses analisis yang mendalam. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kemampuan literasi kritis mahasiswa, khususnya dalam membedakan opini dan fakta, serta dalam menyusun argumen yang rasional dan berbasis data. Penelitian yang dilakukan oleh Hobbs . menegaskan bahwa rendahnya literasi media dan informasi dapat menyebabkan mahasiswa cenderung menerima informasi secara pasif dan menuliskannya kembali tanpa proses berpikir kritis. Fenomena serupa juga ditemukan dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia, di mana mahasiswa lebih terbiasa mengekspresikan pendapat secara lisan dan informal dibandingkan menuangkannya dalam bentuk tulisan akademik yang terstruktur (Suyono & Widyastuti, 2. Dari perspektif teoretis, menulis argumentatif merupakan bagian dari keterampilan berpikir tingkat tinggi . igher order thinking skill. Menurut Bloom . evisi Anderson & Krathwohl, 2. , kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta merupakan tingkatan kognitif tertinggi yang harus dikembangkan melalui kegiatan akademik, termasuk menulis. Dalam konteks pembelajaran bahasa. Keraf . menyatakan bahwa esai argumentatif menuntut kemampuan mengemukakan pendapat dengan alasan logis dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu. Hyland . menekankan bahwa menulis akademik merupakan praktik sosial yang dipengaruhi oleh konteks, tujuan, dan audiens, sehingga pendekatan pembelajaran menulis harus bersifat kontekstual dan relevan dengan pengalaman mahasiswa. Penggunaan topik viral sebagai sumber ide dalam penulisan esai argumentatif memiliki landasan teoritis yang kuat dalam pembelajaran kontekstual. Teori Contextual Teaching and Learning (CTL) menyatakan bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika peserta didik dapat mengaitkan materi dengan pengalaman nyata dalam kehidupan mereka (Johnson, 2. Isu viral yang dekat dengan kehidupan mahasiswa dapat berfungsi sebagai jembatan antara pengalaman sehari-hari dan tuntutan akademik, sehingga mahasiswa lebih mudah memahami, menganalisis, dan mengembangkan argumen secara kritis. Selain itu, pendekatan ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun secara aktif oleh peserta didik melalui interaksi dengan lingkungan dan pengalaman sosial (Vygotsky, 1. Urgensi penelitian dan kegiatan pengabdian ini semakin kuat jika dikaitkan dengan peran mahasiswa FKIP sebagai calon guru. Guru yang memiliki kemampuan menulis argumentatif yang baik akan mampu mengembangkan pembelajaran literasi yang kritis dan reflektif di sekolah. Penelitian Kemendikbud . menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan literasi peserta didik di Indonesia salah satunya disebabkan oleh kurangnya teladan literasi dari pendidik. Oleh karena itu, peningkatan kemampuan menulis mahasiswa FKIP tidak hanya berdampak pada individu mahasiswa, tetapi juga pada kualitas pendidikan di masa depan. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kemampuan menulis argumentatif mahasiswa dapat ditingkatkan melalui pendekatan yang tepat. Penelitian Sari . menemukan bahwa latihan menulis berbasis isu aktual mampu meningkatkan kualitas argumen mahasiswa secara signifikan. Selanjutnya. Putri dan Rahmawati . membuktikan bahwa penggunaan media digital dan topik populer dapat meningkatkan motivasi mahasiswa dalam menulis akademik. Penelitian lain oleh Wahyuni dan Pratama . menunjukkan bahwa pemanfaatan isu viral dalam pembelajaran menulis argumentatif dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan menyusun argumen berbasis data. Sementara itu. Mahfuz . menekankan bahwa keberhasilan pembelajaran menulis sangat dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa dalam mengevaluasi informasi dan memilah sumber yang kredibel. Meskipun berbagai penelitian tersebut telah membahas peningkatan kemampuan menulis argumentatif, masih terbatas kajian yang secara khusus mengintegrasikan topik viral sebagai strategi sistematis dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat, khususnya di lingkungan FKIP perguruan tinggi swasta daerah seperti Universitas Bumi Persada Lhokseumawe. Oleh karena itu, penelitian dan pengabdian ini memiliki kontribusi penting dalam mengisi celah tersebut dengan menawarkan pendekatan kontekstual yang relevan dengan karakteristik mahasiswa saat ini. Dengan mengintegrasikan topik viral dalam pelatihan menulis esai argumentatif, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan literasi akademik mahasiswa sekaligus membentuk sikap kritis terhadap fenomena sosial yang berkembang di masyarakat. Menulis Esai Argumentatif Menulis esai argumentatif merupakan keterampilan menulis yang penting dalam konteks pendidikan tinggi karena tidak hanya menuntut kemampuan menyampaikan pendapat, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, logis, dan berbasis bukti. Esai argumentatif adalah jenis tulisan yang dimaksudkan untuk meyakinkan pembaca tentang sebuah posisi tertentu melalui argumentasi yang kuat dan dukungan data atau fakta yang Pada dasarnya, menulis esai argumentatif tidak sekadar menyusun kalimat. mencakup proses berpikir secara sistematis dalam merumuskan tesis, membangun argumen logis, mengutip bukti pendukung, serta mengantisipasi kontra-argumen untuk memperkuat posisi penulis. Menurut beberapa studi pendidikan bahasa yang dilakukan dalam dekade terakhir, keterampilan menulis esai argumentatif melibatkan serangkaian strategi penulisan yang harus dikuasai oleh penulis. Penelitian oleh Oktoma dan Amalia . menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan strategi penulisan seperti proses menulis yang terstruktur, pengelolaan waktu, penetapan tujuan tulisan, serta pemanfaatan sumber pengetahuan yang relevan untuk menyelesaikan esai argumentatif secara efektif. Strategistrategi ini terbukti membantu mahasiswa mengatasi kendala dalam pembuatan esai yang sistematis dan koheren. Teori lain yang mendukung pemahaman tentang penulisan esai argumentatif adalah teori proses penulisan. Menurut penelitian pengembangan bahan ajar menulis esai argumentatif yang dilakukan oleh Widianah . , pendekatan proses menulis menekankan bahwa penulisan adalah rangkaian tahapan berulang: mulai dari pra-tulis, penulisan draf awal, revisi, hingga penyuntingan akhir. Pendekatan ini mengajarkan mahasiswa untuk tidak hanya fokus pada hasil akhir karya tulis, tetapi memahami bahwa penulisan yang baik adalah hasil dari serangkaian proses berpikir kritis dan reflektif yang Dengan demikian, proses penulisan menjadi kerangka teoritis yang membantu mahasiswa berpikir secara lebih sistematis dan bertanggung jawab terhadap struktur argumentatif esai mereka. Selanjutnya, dalam konteks teori penulisan akademik, kajian pedagogis juga mengaitkan esai argumentatif dengan pembentukan pola penalaran logis. Hasil kajian terhadap kualitas paragraf esai menunjukkan bahwa pola penalaran seperti sebabAeakibat, perbandingan dan kontradiksi berperan penting dalam menyusun argumentasi yang kuat. Walaupun penelitian ini lebih banyak dilakukan pada tingkat siswa pendidikan menengah, temuan tersebut memberikan indikasi bahwa kualitas argumentasi dalam esai akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan penulis dalam menggunakan pola berpikir logis secara Penelitian ini oleh Budiyono . mengkaji sejumlah paragraf argumentatif dan menemukan variasi kualitas berdasarkan pola penalaran yang digunakan, menunjukkan pentingnya pemahaman retorika argumentatif bagi penulis. Dari sudut pandang pendidikan bahasa Indonesia, teori-teori di atas menegaskan bahwa menulis esai argumentatif bukan sekadar kegiatan menuangkan ide secara bebas, tetapi sebuah keterampilan yang melibatkan strategi berpikir kritis, tata urutan logis, dan pengetahuan bahasa yang kuat. Penulis tidak hanya dituntut untuk menyampaikan pendapat, tetapi juga untuk mengembangkan argumentasi yang didukung fakta, mempertimbangkan sisi kontra, dan menyusun tulisan sesuai standar bahasa baku. Sehingga dalam konteks pendidikan tinggi, terutama di FKIP atau jurusan pendidikan bahasa, keterampilan ini merupakan fondasi yang harus dibangun secara terus-menerus melalui proses pembelajaran dan latihan menulis yang terstruktur. Topik Viral Dalam studi media dan komunikasi, istilah AuviralAy merujuk pada fenomena ketika suatu konten informasi menyebar secara cepat dan luas dalam waktu singkat melalui jaringan digital seperti media sosial, blog, portal berita online, dan berbagai platform berbagi konten. Fenomena ini menjadi semakin penting di era digital karena dampaknya tidak hanya terbatas pada aspek hiburan, tetapi juga mempengaruhi opini publik, budaya populer, bahkan kebijakan sosial dan politik. Secara konseptual, beberapa ahli berupaya merumuskan konsep virality untuk memperjelas bagaimana dan mengapa suatu konten menyebar secara masif dalam jaringan digital. Salah satu teori penting dalam kajian viral media dikemukakan oleh Denisova . dalam studi yang membahas definisi AuviralAy dalam konteks media. Dia berargumen bahwa istilah viral bukan sekadar analogi biologis tentang penyebaran cepat, tetapi juga mencerminkan peran emosi dan psikologi pengguna digital dalam mendorong penyebaran Menurutnya, konten yang memicu respon emosional kuat Ae baik positif maupun negatif Ae cenderung memiliki peluang lebih besar untuk menjadi viral karena pengguna terdorong untuk membagikannya kepada jaringan mereka. Ini memposisikan virality sebagai fenomena yang berakar pada dinamika emosional dan interaksi sosial di media digital, bukan hanya sekadar mekanisme teknologi pure transmission. Selain pendekatan emosional, penelitian kontemporer tentang virality juga menyoroti dimensi teknis dan struktural dari fenomena viral itu sendiri. Misalnya, studi oleh Elmas. Selim, & Houssiaux . mengembangkan metrik untuk mengukur dan mendeteksi virality pada platform seperti Twitter. Mereka menunjukkan bahwa virality dapat dipahami melalui indikator kuantitatif seperti rasio retweet terhadap jumlah pengikut, di mana konten mencapai ambang tertentu untuk dikategorikan sebagai viral. Pendekatan ini menggabungkan aspek teknis platform dan perilaku pengguna sebagai indikator kuat dari apa yang membuat konten menyebar secara cepat di lingkungan Kajian lain tentang virality berasal dari penelitian Drolsbach & Pryllochs . yang melihat bagaimana karakter konten itu sendiri, seperti tingkat keterpercayaan . dan tingkat bahayanya . , dapat memengaruhi sejauh mana sebuah konten menyebar secara viral. Mereka menemukan bahwa konten yang mudah dipercaya dan tidak tampak berbahaya justru sering menjadi lebih mudah viral, karena pengguna cenderung merasa nyaman untuk menyebarkan konten tersebut. Pendekatan ini menunjukkan bahwa virality bukan hanya dipengaruhi oleh elemen emosi dan teknis, tetapi juga oleh persepsi subjektif audiens terhadap isi konten yang dibagikan. Dari ketiga pendekatan teori tersebut, kita dapat memahami virality sebagai fenomena multidimensional Ae yang melibatkan psikologi pengguna, dinamika platform digital, dan karakter isi konten itu sendiri. Pemahaman teoritis ini penting ketika kita memanfaatkan fenomena viral dalam konteks pendidikan, termasuk ketika topik viral dijadikan bahan analisis dalam menulis esai argumentatif mahasiswa. Dengan memahami mekanisme di balik viral content, mahasiswa tidak hanya mampu menganalisis fenomena viral, tetapi juga memahami bagaimana suatu isu dapat menyebar dan berdampak luas dalam masyarakat digital saat ini. METHODS Desain Pengabdian Desain pengabdian ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan menulis esai argumentatif berbahasa Indonesia melalui pemanfaatan topik viral pada mahasiswa FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe. Desain pengabdian disusun secara sistematis dan berkelanjutan, dimulai dari identifikasi masalah hingga evaluasi hasil kegiatan. Pendekatan yang digunakan dalam desain ini adalah partisipatif dan kontekstual, di mana mahasiswa tidak hanya menjadi objek kegiatan, tetapi juga terlibat aktif dalam seluruh proses pembelajaran dan praktik menulis. Pada tahap pertama, kegiatan pengabdian diawali dengan analisis kebutuhan untuk mengidentifikasi tingkat kemampuan awal mahasiswa dalam menulis esai argumentatif serta kebiasaan mereka dalam mengonsumsi dan menanggapi topik viral. Tahap ini bertujuan untuk memastikan bahwa program pengabdian yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan nyata mahasiswa. Selanjutnya, dilakukan perancangan materi dan instrumen, meliputi penyusunan modul pelatihan menulis esai argumentatif, pemilihan topik viral yang relevan dan edukatif, serta penyusunan instrumen evaluasi berupa tes menulis, rubrik penilaian, dan angket respons peserta. Tahap kedua, adalah pelaksanaan pengabdian, yang terdiri atas beberapa kegiatan inti, yaitu penyampaian materi, diskusi dan analisis topik viral, praktik menulis esai argumentatif, serta pendampingan dan revisi tulisan. Dalam tahap ini, mahasiswa diarahkan untuk mengembangkan gagasan kritis berdasarkan isu viral, menyusun tesis yang jelas, mengembangkan argumen logis, serta menggunakan bahasa Indonesia baku sesuai kaidah akademik. Pendampingan dilakukan secara intensif agar mahasiswa memperoleh umpan balik langsung terhadap hasil tulisannya. Tahap ketiga, dalam desain pengabdian ini adalah evaluasi dan refleksi, yang bertujuan untuk mengukur peningkatan kemampuan menulis mahasiswa dan menilai efektivitas pelaksanaan kegiatan. Evaluasi dilakukan melalui perbandingan hasil pretest dan posttest, serta analisis respons mahasiswa terhadap kegiatan pengabdian. Hasil evaluasi selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk perbaikan dan pengembangan kegiatan pengabdian serupa di masa mendatang. Gambar 1. Desain Pengabdian Peningkatan Kemampuan Menulis Esai Argumentatif Identifikasi Masalah iC n Analisis Kebutuhan Mahasiswa iC n Perancangan Program Pengabdian (Materi. Topik Viral. Instrume. iC n Pelaksanaan Pengabdian - Penyampaian Materi - Diskusi Topik Viral - Praktik Menulis Esai - Pendampingan & Revisi iC n Evaluasi Hasil (Pretest & Posttest. Observasi. Angke. iC n Refleksi dan Tindak Lanjut Desain pengabdian ini menunjukkan bahwa kegiatan tidak dilaksanakan secara instan, tetapi melalui tahapan yang terstruktur dan saling berkaitan. Dengan desain tersebut, diharapkan pengabdian mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kemampuan menulis esai argumentatif mahasiswa sekaligus menumbuhkan budaya literasi kritis berbasis isu aktual di lingkungan FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe. Subjek/Peserta Pengabdian Subjek dalam kegiatan pengabdian ini adalah mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bumi Persada Lhokseumawe. Partisipan dipilih dengan pertimbangan bahwa mahasiswa FKIP, khususnya calon guru, memiliki peran strategis dalam pengembangan literasi bahasa Indonesia di lingkungan pendidikan. Jumlah partisipan yang terlibat dalam kegiatan ini sebanyak 20 mahasiswa, yang berasal dari 3 program studi di lingkungan FKIP Universitas Bumi Persada. Pemilihan jumlah tersebut disesuaikan dengan efektivitas pelaksanaan pelatihan dan pendampingan agar setiap peserta memperoleh bimbingan yang optimal. Kriteria partisipan meliputi mahasiswa aktif, telah menempuh mata kuliah Bahasa Indonesia atau mata kuliah terkait keterampilan menulis, serta bersedia mengikuti seluruh rangkaian kegiatan pengabdian dari awal hingga akhir. Partisipan dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan, mulai dari asesmen awal, pelatihan, praktik menulis, hingga evaluasi akhir. Berikut ini daftar peserta yang terlibat dalam kegiatan pengabdian ini. Tabel 1. Peserta pengabdian Nama Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia ATI Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Indonesia MHS Pendidikan Bahasa Indonesia Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Bahasa Inggris RAP Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Bahasa Inggris Pendidikan Informatika Pendidikan Informatika RPG MIQ Pendidikan Informatika Pendidikan Informatika Pendidikan Informatika Pendidikan Informatika Instrumen Pengabdian Instrumen pengabdian digunakan untuk mengumpulkan data yang berkaitan dengan proses dan hasil peningkatan kemampuan menulis esai argumentatif mahasiswa FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe. Instrumen disusun secara sistematis agar mampu menggambarkan pencapaian tujuan kegiatan secara objektif dan terukur. Instrumen yang digunakan meliputi tes menulis esai argumentatif, rubrik penilaian esai, lembar observasi aktivitas mahasiswa, dan angket respons peserta. Tabel 2. Instrumen Tes Menulis Esai Argumentatif No. Indikator Penilaian Deskripsi Indikator Kejelasan tesis Kemampuan mahasiswa merumuskan pendapat utama atau posisi argumentatif secara jelas dan tegas Pengembangan argumen Kemampuan menyusun argumen yang logis, relevan, dan mendukung tesis Penggunaan data/fakta Ketepatan penggunaan contoh, fakta, atau data sebagai pendukung argumen Koherensi dan kohesi Keterpaduan antarparagraf dan kelancaran alur Kebahasaan Ketepatan penggunaan bahasa Indonesia baku, ejaan, dan tanda baca Tes menulis esai argumentatif digunakan pada tahap pretest dan posttest. Mahasiswa diminta menulis satu esai argumentatif berdasarkan topik yang ditentukan. Hasil tulisan dinilai menggunakan rubrik penilaian berdasarkan indikator-indikator yang telah ditetapkan. No. Tabel 3. Instrumen Rubrik Penilaian Esai Argumentatif Aspek Penilaian Indikator Struktur esai Kekuatan argumen Relevansi isi Bahasa akademik Ketepatan simpulan Kesesuaian dengan struktur esai argumentatif . endahuluan, isi, penutu. Ketajaman analisis dan logika argumen Kesesuaian isi dengan topik viral yang dibahas Konsistensi penggunaan bahasa Indonesia baku Kemampuan merangkum argumen secara tepat Rubrik penilaian digunakan untuk memberikan skor secara objektif terhadap esai Setiap aspek dinilai berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sehingga hasil penilaian lebih sistematis dan terstandar. No. Tabel 4. Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Mahasiswa Indikator Observasi Deskripsi Keaktifan diskusi Partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelompok dan kelas Respons terhadap topik Kemampuan mahasiswa menanggapi isu secara kritis Kerja sama kelompok Kemampuan berkolaborasi dengan anggota kelompok Antusiasme mengikuti Minat dan keterlibatan selama pelatihan berlangsung Lembar observasi digunakan untuk mencatat perilaku dan keterlibatan mahasiswa selama kegiatan pengabdian. Observasi dilakukan oleh tim pengabdian untuk mendukung data kuantitatif hasil tes menulis. Tabel 5. Instrumen Angket Respons Peserta Deskripsi No. Indikator Angket Ketertarikan terhadap Persepsi mahasiswa terhadap daya tarik kegiatan Manfaat kegiatan Penilaian mahasiswa terhadap peningkatan kemampuan Pemanfaatan topik viral Persepsi mahasiswa terhadap relevansi topik viral Kepuasan peserta Tingkat kepuasan terhadap pelaksanaan pengabdian Angket respons peserta digunakan untuk mengetahui persepsi dan kepuasan mahasiswa terhadap kegiatan pengabdian. Angket disusun menggunakan skala Likert dan diisi setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Prosedur Pengabdian Prosedur pelaksanaan pengabdian ini dilakukan secara bertahap dan sistematis agar tujuan peningkatan kemampuan menulis esai argumentatif dapat tercapai secara Dalam pebgabdian ini dilakukan 5 tahapan kegiatan. Tahap pertama adalah persiapan, yang meliputi koordinasi dengan pihak fakultas, penentuan jadwal kegiatan, penyusunan materi pelatihan, serta penyiapan instrumen pengabdian. Tahap kedua adalah pelaksanaan asesmen awal . , yaitu kegiatan menulis esai argumentatif singkat dengan topik umum untuk mengetahui kemampuan awal mahasiswa dalam menyusun tesis, argumen, dan penggunaan bahasa Indonesia baku. Tahap ketiga adalah pelaksanaan pelatihan inti, yang dilakukan melalui workshop dan diskusi interaktif. Pada tahap ini, mahasiswa diberikan pemahaman tentang konsep esai argumentatif, struktur esai, teknik merumuskan tesis, pengembangan argumen berbasis fakta, serta penggunaan bahasa Indonesia akademik. Topik viral digunakan sebagai bahan utama diskusi dan latihan menulis agar mahasiswa lebih tertarik dan kontekstual. Tahap keempat adalah praktik menulis dan pendampingan, di mana mahasiswa menulis esai argumentatif secara bertahap dan mendapatkan umpan balik langsung dari tim pengabdian. Tahap kelima adalah evaluasi dan refleksi, berupa posttest penulisan esai dan diskusi reflektif untuk mengetahui peningkatan kemampuan serta respons mahasiswa terhadap kegiatan pengabdian. Analisis Data Analisis data dalam kegiatan pengabdian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes menulis esai argumentatif pada tahap pretest dan posttest. Nilai yang diperoleh mahasiswa dianalisis dengan cara membandingkan skor rata-rata sebelum dan sesudah pelatihan untuk mengetahui tingkat peningkatan kemampuan menulis. Hasil perbandingan tersebut disajikan dalam bentuk tabel dan deskripsi naratif untuk memperjelas capaian kegiatan. Sementara itu, data kualitatif diperoleh dari hasil observasi dan angket respons Data observasi dianalisis dengan cara mengelompokkan temuan berdasarkan indikator keaktifan, keterlibatan diskusi, dan kemampuan mengemukakan argumen secara lisan. Data angket dianalisis untuk mengetahui tingkat kepuasan dan persepsi mahasiswa terhadap penggunaan topik viral sebagai media pembelajaran menulis. Seluruh hasil analisis kemudian diinterpretasikan secara komprehensif untuk menilai efektivitas pelaksanaan pengabdian serta merumuskan rekomendasi perbaikan untuk kegiatan serupa di masa mendatang. RESULTS Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dilaksanakan selama 1 bulan, yaitu pada bulan November 2025. Pelaksanaan pengabdian ini mencakup rangkaian workshop, pendampingan penulisan, diskusi analisis isu viral, dan sesi revisi terstruktur. Peserta menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan menulis esai argumentatif, terutama dalam aspek: Perumusan tesis yang lebih jelas. Penyusunan argumen yang lebih logis. Penggunaan data dan fakta sebagai pendukung. Penggunaan bahasa Indonesia baku. Hal ini terlihat pada gambar di bawah ini. Gambar 1. Pemberian materi terkait kegiatan pengabdian Gambar 2. Mahasiswa mulai menulis esai Gambar 3. Proses Penilaian esai Hasil Tes Menulis Esai Argumentatif Diagram menunjukkan bahwa: 40% mahasiswa berada pada kategori Sangat Baik 35% pada kategori Baik 20% pada kategori Cukup 5% pada kategori Kurang Hasil ini menandakan bahwa sebagian besar mahasiswa telah memiliki kemampuan menulis esai argumentatif pada kategori baik hingga sangat baik setelah mengikuti kegiatan pengabdian. Hasil Rubrik Penilaian Esai Argumentatif Diagram menggambarkan proporsi aspek penilaian yang paling dominan, yaitu: Kekuatan argumen . %) Struktur esai . %) Relevansi isi . %) Bahasa akademik . %) Ketepatan simpulan . %) Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa relatif lebih kuat dalam menyusun argumen, namun masih perlu penguatan pada aspek kebahasaan dan penulisan simpulan. Hasil Observasi Aktivitas Mahasiswa Diagram observasi aktivitas menunjukkan bahwa: 45% mahasiswa tergolong Sangat Aktif 30% Aktif 20% Cukup Aktif 5% Kurang Aktif Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan topik viral mampu meningkatkan partisipasi dan keterlibatan mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Hasil Angket Respons Peserta Diagram angket respons memperlihatkan bahwa: 50% mahasiswa menyatakan Sangat Puas 35% Puas 10% Cukup 5% Kurang Puas Hasil tersebut menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan pengabdian. DISCUSSION Hasil pelaksanaan pengabdian yang bertujuan meningkatkan kemampuan menulis esai argumentatif berbahasa Indonesia melalui pemanfaatan topik viral pada mahasiswa FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe menunjukkan capaian yang positif dan Hal ini terlihat dari hasil pengukuran menggunakan berbagai instrumen, yaitu tes menulis esai argumentatif, rubrik penilaian esai, lembar observasi aktivitas mahasiswa, dan angket respons peserta. Keempat instrumen tersebut saling melengkapi dalam menggambarkan peningkatan kemampuan mahasiswa secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Berdasarkan hasil tes menulis esai argumentatif yang disajikan dalam diagram lingkaran, mayoritas mahasiswa berada pada kategori sangat baik . %) dan baik . %). Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan yang diberikan mampu meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun esai argumentatif secara terstruktur dan logis. Mahasiswa tidak hanya mampu mengemukakan pendapat, tetapi juga dapat menyusun tesis yang jelas, mengembangkan argumen yang relevan, serta menyimpulkan tulisan secara tepat. Persentase mahasiswa yang berada pada kategori cukup . %) dan kurang . %) menunjukkan bahwa meskipun sebagian kecil mahasiswa masih mengalami kendala, secara umum kegiatan pengabdian berhasil meningkatkan kualitas menulis esai Hal ini sejalan dengan pendekatan pembelajaran kontekstual yang menempatkan topik viral sebagai pemantik berpikir kritis dan sumber gagasan yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Hasil rubrik penilaian esai argumentatif memberikan gambaran lebih rinci mengenai aspek-aspek yang paling menonjol dalam tulisan mahasiswa. Diagram lingkaran menunjukkan bahwa aspek kekuatan argumen menempati persentase tertinggi . %), diikuti oleh struktur esai . %) dan relevansi isi . %). Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa telah mampu mengembangkan argumen yang logis dan relevan terhadap topik yang dibahas. Penggunaan topik viral sebagai bahan penulisan memungkinkan mahasiswa untuk mengaitkan opini dengan fakta aktual yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian, aspek bahasa akademik . %) dan ketepatan simpulan . %) masih menunjukkan persentase yang relatif lebih rendah. Hal ini menandakan bahwa mahasiswa masih memerlukan pendampingan lebih lanjut dalam penggunaan bahasa Indonesia baku dan kemampuan merangkum argumen secara padat dan sistematis. Hasil observasi aktivitas mahasiswa selama kegiatan pengabdian memperkuat temuan dari hasil tes dan rubrik penilaian. Diagram observasi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa tergolong sangat aktif . %) dan aktif . %) dalam mengikuti Keaktifan ini terlihat dari keterlibatan mahasiswa dalam diskusi kelompok, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemampuan menanggapi isu viral secara Tingginya tingkat partisipasi mahasiswa menunjukkan bahwa penggunaan topik viral mampu meningkatkan motivasi belajar dan menciptakan suasana pembelajaran yang lebih interaktif. Mahasiswa tidak lagi pasif sebagai penerima materi, tetapi aktif sebagai subjek yang membangun pengetahuan melalui diskusi dan praktik menulis. Persentase mahasiswa yang berada pada kategori cukup aktif . %) dan kurang aktif . %) menunjukkan adanya perbedaan karakter dan tingkat kepercayaan diri, namun secara umum keterlibatan mahasiswa berada pada kategori tinggi. Sementara itu, hasil angket respons peserta menunjukkan tingkat kepuasan yang sangat tinggi terhadap pelaksanaan pengabdian. Diagram lingkaran memperlihatkan bahwa 50% mahasiswa menyatakan sangat puas dan 35% menyatakan puas terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Tingginya tingkat kepuasan ini menunjukkan bahwa mahasiswa merasakan manfaat langsung dari kegiatan pengabdian, baik dalam peningkatan kemampuan menulis maupun dalam pemahaman terhadap isu-isu aktual. Mahasiswa menilai bahwa penggunaan topik viral membuat kegiatan lebih menarik, relevan, dan mudah dipahami. Hanya sebagian kecil mahasiswa yang menyatakan cukup . %) dan kurang puas . %), yang umumnya disebabkan oleh keterbatasan waktu pendampingan dan perbedaan kemampuan awal menulis. Jika ditinjau secara keseluruhan, hasil dari keempat instrumen tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang kuat antara pendekatan pembelajaran berbasis topik viral dengan peningkatan kemampuan menulis esai argumentatif mahasiswa. Topik viral berfungsi sebagai jembatan antara dunia akademik dan realitas sosial yang dihadapi mahasiswa sehari-hari. Melalui topik tersebut, mahasiswa terdorong untuk berpikir kritis, mengevaluasi informasi, dan menyusun argumen berdasarkan sudut pandang yang logis dan rasional. Pendekatan ini juga membantu mahasiswa menghindari kejenuhan dalam pembelajaran menulis yang selama ini cenderung bersifat teoritis dan kurang kontekstual. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan menulis tidak dapat dilepaskan dari proses pendampingan dan umpan balik yang berkelanjutan. Mahasiswa yang mendapatkan bimbingan langsung dan kesempatan untuk merevisi tulisannya menunjukkan perkembangan yang lebih signifikan dibandingkan dengan mahasiswa yang hanya menerima materi secara pasif. Oleh karena itu, keberhasilan kegiatan pengabdian ini tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi juga oleh strategi pelaksanaan yang menekankan praktik, diskusi, dan refleksi. Dengan demikian, hasil pengabdian ini memperkuat pandangan bahwa pembelajaran menulis esai argumentatif akan lebih efektif apabila dilakukan melalui pendekatan kontekstual yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Pemanfaatan topik viral terbukti mampu meningkatkan kualitas tulisan, keaktifan belajar, dan kepuasan Meskipun demikian, hasil ini juga menunjukkan perlunya tindak lanjut berupa pendampingan yang lebih intensif, khususnya dalam aspek kebahasaan dan penulisan Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan literasi akademik mahasiswa FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe dan dapat dijadikan model untuk kegiatan pengabdian serupa di masa CONCLUSION Berdasarkan hasil pelaksanaan pengabdian yang bertujuan meningkatkan kemampuan menulis esai argumentatif berbahasa Indonesia melalui pemanfaatan topik viral pada mahasiswa FKIP Universitas Bumi Persada Lhokseumawe, dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini berjalan dengan baik dan memberikan dampak positif terhadap peningkatan keterampilan menulis mahasiswa. Mahasiswa menunjukkan peningkatan kemampuan dalam merumuskan tesis yang jelas, mengembangkan argumen secara logis, serta menggunakan data dan contoh yang relevan untuk mendukung pendapat mereka. Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia baku dalam esai juga mengalami perbaikan, terutama dalam aspek struktur kalimat, pemilihan diksi, dan koherensi antarparagraf. Pemanfaatan topik viral terbukti efektif sebagai pendekatan kontekstual dalam pembelajaran menulis argumentatif karena mampu meningkatkan motivasi dan partisipasi aktif mahasiswa. Mahasiswa menjadi lebih antusias dalam berdiskusi, lebih kritis dalam menganalisis isu, serta lebih mudah menemukan ide untuk dikembangkan menjadi tulisan argumentatif. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini tidak hanya meningkatkan kemampuan teknis menulis, tetapi juga mendorong penguatan literasi kritis dan kemampuan berpikir analitis mahasiswa sebagai calon pendidik. REFERENCES