Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Agustus 2025, pp. ISSN: 2721-3838. DOI: 10. 30596/jcositte. The Influence of the Gasing Learning Method on the Mathematics Learning Outcomes of Class II Students at SD Negeri 125543 Lapangan Bola Desi Lestari Gultom1. Muktar Bahruddin Panjaitan2. Janwar Tambunan3 1,2,3Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Indonesia Email: desigultom2023@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh metode pembelajaran GASING (Gampang. Asyik, dan Menyenangka. terhadap hasil belajar matematika siswa kelas II SD Negeri 125543 Lapangan Bola. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuasi eksperimen dan desain pretestAeposttest. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas II berjumlah 26 orang yang sekaligus dijadikan sampel. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar yang telah diuji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya pembeda. Data dianalisis menggunakan uji normalitas dan uji hipotesis . aired sample t-tes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pretest siswa sebesar 22,11 dengan kategori rendah, sedangkan nilai rata-rata posttest meningkat menjadi 69,03 dengan kategori baik. Uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi 0,000 kurang dari 0,05 yang berarti terdapat pengaruh signifikan antara penerapan metode GASING terhadap hasil belajar matematika siswa. Dengan demikian, metode GASING terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan hasil belajar matematika secara cepat, mudah, dan menyenangkan. Keyword: Metode Pembelajaran Gasing. Hasil Belajar. Matematika ABSTRACT This study aims to determine the effect of the GASING (Easy. Fun, and Enjoyabl. learning method on the mathematics learning outcomes of second-grade students at SD Negeri 125543 Lapangan Bola. This study uses a quantitative approach with a quasiexperimental method and a pretestAeposttest design. The study population was all 26 second-grade students who were also used as samples. The research instrument was a learning outcome test that had been tested for validity, reliability, difficulty level, and discriminatory power. Data were analyzed using a normality test and a hypothesis test . aired sample t-tes. The results showed that the average pretest score of students was 11 in the low category, while the average posttest score increased to 69. 03 in the good category. The hypothesis test showed a significance value of 0. 000 less than 0. which means there is a significant influence between the application of the GASING method on students' mathematics learning outcomes. Thus, the GASING method is proven to be effective in improving mathematics understanding and learning outcomes quickly, easily, and enjoyably. Keyword: Gasing Learning Model. Learning Outcomes. Mathematics Corresponding Author: Desi Lestari Gultom. Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar. Jl. Sangnawaluh No. Siopat Suhu. Kec. Siantar Tim. Kota Pematang Siantar. Sumatera Utara 21136. Indonesia Email: desigultom2023@gmail. INTRODUCTION Pendidikan secara umum adalah proses pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, dan penelitian. Menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 1, pendidikan merupakan usaha sadar yang diperuntukkan oleh seluruh manusia yang bersifat umum dan dapat dilakukan di mana pun dan kapan pun. Pendidikan ini Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/HS A Jurnal Nasional Holistic Science diperuntukkan bagi seluruh umat manusia guna mengembangkan potensi-potensi mereka (N. Yanti et al. Dalam konteks ini, belajar menjadi inti dari proses pendidikan itu sendiri. Pada jenjang sekolah dasar, pembelajaran matematika tidak hanya menuntut penguasaan materi, tetapi juga pemahaman guru terhadap teori-teori belajar serta karakteristik peserta didik. Hal ini penting karena matematika bagi siswa sekolah dasar sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari sekaligus untuk mengembangkan pola pikir logis. Namun, pembelajaran matematika di sekolah dasar sering menghadapi kendala karena adanya perbedaan karakteristik antara hakikat anak dan hakikat matematika. Tidak jarang peserta didik menganggap pembelajaran matematika sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Banyak siswa merasa tertekan oleh kerumitan rumus dan pendekatan konvensional . yang digunakan guru, sehingga menimbulkan ketakutan dan rendahnya minat belajar terhadap matematika (Wijaya, 2. Kondisi ini berdampak pada pencapaian hasil belajar yang belum optimal. Hasil belajar pada hakikatnya merupakan perubahan perilaku yang dialami peserta didik setelah melalui proses pembelajaran, baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Hasil belajar juga berfungsi sebagai tolok ukur untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai dan seberapa efektif proses pembelajaran yang dilakukan guru (Sudjana, 2. Oleh karena itu, hasil belajar tidak hanya mencerminkan kemampuan kognitif siswa, tetapi juga meliputi aspek afektif dan psikomotor yang relevan dengan perkembangan peserta didik. Dalam konteks pembelajaran matematika di sekolah dasar, hasil belajar menjadi indikator penting untuk menilai keberhasilan peserta didik dalam memahami konsep dasar yang akan menjadi landasan di jenjang berikutnya. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar matematika siswa SD di Indonesia masih relatif rendah. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti metode pembelajaran yang kurang variatif, rendahnya motivasi siswa, serta keterbatasan waktu belajar (Suryani & Wahyudi, 2. Berdasarkan observasi awal yang dilakukan pada tanggal 24 Januari 2025 di SD Negeri 125543 Lapangan Bola, khususnya pada kelas II, ditemukan bahwa tingkat pemahaman peserta didik terhadap pembelajaran matematika masih rendah, terutama pada materi perkalian. Hal ini disebabkan salah satunya oleh keterbatasan guru dalam menerapkan metode pembelajaran yang cenderung monoton dengan metode ceramah, sehingga peserta didik belum mampu mencapai kompetensi yang diharapkan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa capaian belajar matematika siswa kelas II belum memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan, yaitu 70. Dari 30 peserta didik, hanya 11 siswa . %) yang memperoleh nilai di atas KKM, sedangkan 19 siswa . %) masih berada di bawah KKM. Kondisi ini menunjukkan perlunya alternatif metode pembelajaran yang lebih efektif dan menyenangkan bagi peserta didik. Salah satu solusi yang dapat diterapkan adalah metode GASING (Gampang. Asyik, dan Menyenangka. Metode GASING menekankan pada penggunaan logika dalam memahami konsep matematika sehingga peserta didik tidak perlu sekadar menghafal atau bergantung pada rumus (Surya & Moss, 2. Efektivitas metode GASING telah dibuktikan melalui berbagai penelitian empiris. Penelitian di SD Negeri Gaddong II Makassar menunjukkan bahwa penerapan metode ini secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan numerasi siswa kelas IV, berdasarkan hasil analisis pre-test, post-test, dan uji-t yang menunjukkan perbedaan signifikan (Mutiara et al. , 2. Penelitian oleh Situmorang et al. menunjukkan bahwa penerapan metode GASING secara signifikan meningkatkan hasil belajar siswa kelas II pada materi penjumlahan. Rata-rata nilai post-test siswa kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol . ,67 vs 53,. Marbun et al. 3Ae2. juga melaporkan peningkatan signifikan nilai pre-test . menjadi post-test . dalam desain one-group pre-testAepost-test. Uji-t berpasangan . = 17,. menunjukkan hasil yang signifikan di atas ttabel . Temuan-temuan ini menegaskan bahwa metode GASING memiliki potensi besar dalam meningkatkan hasil belajar matematika siswa sekolah dasar. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti terdorong untuk mengangkat judul penelitian AuPengaruh Metode Pembelajaran GASING (Gampang. Asyik, dan Menyenangka. terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas II SD Negeri 125543 Lapangan Bola. RESEARCH METHOD Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif memiliki beberapa bentuk, di antaranya penelitian survei, eksperimen, dan analisis isi (Priyono, 2008:. Penelitian eksperimen sendiri terbagi ke dalam empat jenis, yaitu pra-eksperimen, kuasi-eksperimen, eksperimen sejati, dan eksperimen subjek tunggal (Creswell, 2014:. Penelitian ini menggunakan metode kuasi-eksperimen. Kuasi-eksperimen merupakan jenis penelitian yang melibatkan seluruh anggota dalam suatu kelompok belajar . ntact grou. untuk diberikan perlakuan . , bukan dengan cara memilih subjek secara acak (Sitoyo & Sodik, 2015:. Desain penelitian kuasi-eksperimen yang digunakan dalam studi ini Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Agustus 2025: 261 Ae 267 Jurnal Nasional Holistic Science adalah pre-test dan post-test. Menurut Creswell . , kuasi-eksperimental merupakan penelitian yang melibatkan satu kelompok yang diukur sebelum . re-tes. dan sesudah . ost-tes. mendapatkan perlakuan. Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang digunakan adalah pre-testAepost-test. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan metode GASING terhadap hasil belajar matematika siswa dengan membandingkan nilai pre-test dan post-test. Berikut rancangan dalam penelitian ini: Tabel 1. Rancangan Penelitian Kelompok Kelas Pretest (OCA) Tes Perlakuan (X) Penerapan metode GASING dalam pembelajaran matematika Posttest (OCC) Tes hasil belajar matematika sesudah perlakuan Keterangan OCA = Tes awal . re-tes. untuk mengetahui kemampuan awal siswa. X = Perlakuan berupa penerapan metode GASING. OCC = Tes akhir . ost-tes. untuk mengetahui hasil belajar setelah perlakuan. Populasi dan Sampel Sitoyo dan Sodik . menjelaskan bahwa populasi merupakan wilayah generalisasi yang mencakup objek atau subjek dengan kuantitas serta karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan. Sejalan dengan itu. Creswell . mendefinisikan populasi sebagai sekumpulan individu yang memiliki karakteristik serupa. Berdasarkan definisi tersebut, populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SD Negeri 125543 dengan jumlah 26 siswa. Sitoyo dan Sodik . 5:55Ae. menyatakan bahwa sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki jumlah serta karakteristik tertentu dan dipilih melalui prosedur tertentu agar dapat mewakili keseluruhan Sementara itu. Creswell . mendefinisikan sampel sebagai subkelompok dari populasi yang dipilih untuk diteliti guna merepresentasikan populasi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan sampling jenuh. Sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel apabila seluruh anggota populasi digunakan sebagai sampel penelitian (Sugiyono, 2. Teknik ini dipilih karena jumlah populasi relatif kecil sehingga memungkinkan untuk diteliti Dengan demikian, semua siswa dalam kelas yang menjadi populasi penelitian dijadikan sampel Sampel dalam penelitian ini sebanyak 26 siswa. Instrumen Penelitian Menurut Sugiyono . , instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan instrumen berupa tes. Tes merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk mengukur suatu kemampuan tertentu berdasarkan aturan yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini, tes berfungsi untuk memperoleh informasi yang berkaitan dengan jawaban peserta didik. Melalui tes tersebut, peneliti dapat mengumpulkan data mengenai pengaruh penerapan metode pembelajaran matematika GASING terhadap hasil belajar siswa kelas II sekolah dasar. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data merupakan hal yang sangat penting karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk memperoleh data. Tanpa teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar yang ditetapkan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Wawancara Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan wawancara tidak terstruktur. Tujuan wawancara yang dilakukan adalah untuk melakukan studi pendahuluan guna mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh guru mata pelajaran matematika pada siswa kelas II SD. Tes Menurut Arikunto . , tes merupakan serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok dalam penelitian. Tes yang diberikan berbentuk isian dengan jumlah 20 soal. Masing-masing soal diberikan skor 1 jika dijawab benar dan skor 0 jika salah. Berikut rumus perhitungannya: ycIycoycuyc = ycA ycu100 Keterangan B : Banyaknya butir yang dijawab dengan benar N : Banyaknya butir soal (Desi Lestari Gulto. A Jurnal Nasional Holistic Science Teknik Analisis Data . Uji Prasyarat Uji prasyarat analisis data dilakukan untuk memastikan bahwa data penelitian memenuhi asumsi dasar sebelum dilakukan pengujian statistik dalam rangka penarikan kesimpulan. Uji prasyarat yang digunakan adalah uji normalitas. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data sampel penelitian berasal dari populasi yang berdistribusi normal atau tidak. Pada penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan menggunakan metode ShapiroAeWilk. Menurut Suardi . , uji ShapiroAeWilk sesuai digunakan untuk menguji distribusi data pada sampel kecil dengan jumlah kurang dari 50 responden. Rumus uji normalitas ShapiroAeWilk: Dengan: ycaycn : Koefisien uji ShapiroAeWilk ycu. cuOeycn . : Angka ke ycu Oe ycn 1pada data ycu. : Angka ke ycn pada data ycUO : Rata-rata data . Uji Hipotesis Pengujian hipotesis menurut Sugiyono . dilakukan untuk mengetahui pengaruh signifikansi antara variabel bebas dengan variabel terikat. Hipotesis dalam penelitian ini adalah: HCA : Tidak terdapat pengaruh metode GASING terhadap hasil belajar matematika siswa. HCa : Terdapat pengaruh metode GASING terhadap hasil belajar matematika siswa. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan paired sample t-test atau uji t berpasangan. Uji ini digunakan untuk mengetahui perbedaan rata-rata dua sampel yang berhubungan, yaitu nilai pre-test dan post-test pada kelompok yang sama. Alasan penggunaan uji t berpasangan adalah karena pengukuran dilakukan terhadap subjek yang sama sebelum dan sesudah diberi perlakuan, sehingga data yang dihasilkan bersifat berpasangan . Langkah pengujian dimulai dengan menghitung selisih antara nilai post-test dan pre-test setiap siswa, kemudian mencari rata-rata selisih . ccO ) dan standar deviasinya . cIycc ). Selanjutnya, nilai thitung diperoleh dengan rumus (Budiyono, 2016:. yc=ycI / ycu ycc Oo Keterangan: yccO = Rata-rata selisih . ost-test Ae pre-tes. ycIycc = Standar deviasi selisih ycu = Jumlah sampel Derajat . ycu Oe 1. Kriteria pengambilan keputusan adalah: A Jika nilai signifikansi . -valu. < 0,05 maka hipotesis nol (HCA) ditolak, artinya terdapat pengaruh yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test. A Jika nilai p-value Ou 0,05 maka HCA diterima, artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan. RESULTS AND DISCUSSION Hasil uji hipotesis menggunakan Paired Sample t-Test menunjukkan bahwa hipotesis nol (HCA) ditolak dan hipotesis alternatif (HC. Hal ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pre-test dan post-test hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan metode pembelajaran GASING. Rata-rata skor post-test jauh lebih tinggi dibandingkan dengan skor pre-test, dengan selisih rata-rata . ean differenc. sebesar -46,92. Nilai thitung sebesar -26,397 dengan taraf signifikansi 0,000 < 0,05 memperkuat kesimpulan bahwa metode pembelajaran GASING mampu memberikan pengaruh positif yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar matematika siswa. Secara deskriptif, hasil analisis juga menunjukkan bahwa sebelum diberi perlakuan, kemampuan awal siswa . re-tes. berada pada kategori rendah. Setelah pembelajaran dengan metode GASING, terjadi Jurnal Nasional Holistic Science Vol. No. Agustus 2025: 261 Ae 267 Jurnal Nasional Holistic Science A peningkatan yang sangat jelas pada nilai siswa. Metode GASING yang dirancang dengan prinsip Gampang. Asyik, dan Menyenangkan memungkinkan siswa untuk memahami konsep matematika secara lebih sederhana dan menyenangkan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan beberapa peneliti sebelumnya yang menyatakan bahwa metode GASING efektif dalam membantu siswa memahami konsep-konsep matematika dasar secara lebih cepat, mudah, dan menyenangkan. Penelitian yang dilakukan oleh Riyanto dan Waluyo . menunjukkan bahwa penerapan metode GASING mampu meningkatkan pemahaman operasi bilangan melalui pendekatan visual dan konkret, sehingga siswa lebih percaya diri dalam menyelesaikan soal. Metode GASING (Gampang. Asyik, dan Menyenangka. menekankan pada pembelajaran berbasis pemahaman konsep melalui pendekatan yang sederhana dan logis, sehingga siswa tidak hanya menghafal prosedur, tetapi mampu menguasai esensi dari operasi hitung. Penerapan metode ini juga mampu mengurangi kecemasan matematika . ath anxiet. yang sering dialami siswa sekolah Hal ini diperkuat oleh penelitian Kusuma et al. yang menegaskan bahwa GASING dapat mengurangi kecemasan siswa terhadap matematika karena penyajiannya dikemas dengan aktivitas bermain dan eksplorasi sederhana. Karakteristik siswa sekolah dasar pada umumnya masih berada pada tahap perkembangan operasional konkret menurut teori Piaget, di mana anak lebih mudah memahami konsep melalui pengalaman langsung, pengulangan, serta visualisasi yang sederhana. Dalam konteks ini, pembelajaran matematika sering kali menjadi tantangan karena dianggap abstrak dan sulit jika disampaikan secara tradisional. Oleh karena itu, model pembelajaran yang mampu menghadirkan matematika dengan cara yang sederhana, bertahap, dan menyenangkan sangat dibutuhkan. Metode GASING (Gampang. Asyik, dan Menyenangka. hadir sebagai salah satu pendekatan yang sesuai dengan karakteristik perkembangan kognitif anak sekolah dasar. Melalui pola latihan yang berulang, penggunaan representasi konkret, serta penyajian materi yang bertahap sesuai dengan kemampuan siswa, metode GASING mampu menciptakan pengalaman belajar yang sesuai dengan dunia anak sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dalam memahami konsep-konsep dasar Lebih lanjut, hasil penelitian dari Situmorang et al. menekankan bahwa metode GASING mendorong siswa untuk berpikir sistematis melalui pola latihan berulang yang dikembangkan secara bertahap sesuai tingkat kemampuan siswa. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Aulia et al. yang mengungkapkan bahwa siswa yang belajar menggunakan metode GASING menunjukkan keterampilan berhitung yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang menggunakan metode konvensional. Selain itu, studi oleh Nugroho . menyatakan bahwa GASING bukan hanya berdampak pada peningkatan hasil belajar, tetapi juga memotivasi siswa untuk lebih aktif dan antusias dalam pembelajaran matematika. Apabila dikaitkan dengan karakteristik siswa sekolah dasar, metode GASING memiliki kesesuaian yang tinggi. Siswa SD pada umumnya berada pada tahap perkembangan operasional konkret menurut teori Piaget, di mana mereka lebih mudah memahami konsep jika disajikan melalui aktivitas langsung, contoh nyata, serta pengulangan yang sistematis. GASING sebagai singkatan dari Gampang. Asyik, dan Menyenangkan memang dirancang untuk mendekatkan konsep matematika pada dunia berpikir anak yang masih sederhana. Latihan bertahap yang dilakukan secara konsisten membantu siswa membangun pemahaman konsep secara berurutan, sehingga tidak menimbulkan beban kognitif yang berlebihan. Hal ini sejalan dengan penelitian Dewi . yang menegaskan bahwa anak usia SD lebih mudah memahami materi matematika apabila proses pembelajaran dilakukan melalui pendekatan yang menyenangkan, melibatkan aktivitas konkret, dan memperhatikan kesiapan kognitif mereka. Dalam kegiatan inti metode GASING, siswa diajak untuk memahami konsep penjumlahan secara bertahap, mulai dari membaca soal, menentukan operasi hitung yang tepat, mencoba menyelesaikan dengan cara masing-masing, hingga mendiskusikan strategi yang berbeda di kelas. Proses ini tidak hanya membuat pembelajaran lebih konkret melalui penggunaan kotak puluhan dan satuan, tetapi juga melatih kemampuan berpikir kritis dan komunikasi siswa saat menjelaskan cara berhitungnya. Kegiatan diskusi yang menekankan perbedaan maupun kesamaan strategi berhitung membantu siswa membangun pemahaman yang lebih mendalam, sehingga konsep penjumlahan tidak sekadar dihafal tetapi benar-benar dipahami. Kemenag . menyatakan bahwa siswa yang sudah mempelajari matematika dengan metode GASING mengalami peningkatan kepercayaan diri. Mereka tidak ragu lagi dalam memecahkan masalah, terutama dalam berhitung. Penerapan GASING dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa, sehingga mereka lebih berani dalam menyelesaikan soal-soal matematika yang menantang. Demikian juga, studi oleh Hidayat & Hasanudin . menegaskan bahwa: Anak-anak usia 6Ae12 tahun lebih mudah memahami pelajaran melalui pendekatan visual dan Metode GASING merupakan pendekatan yang dirancang untuk menjadikan matematika lebih mudah, asyik, dan menyenangkan. (Desi Lestari Gulto. A Jurnal Nasional Holistic Science Strategi pembelajaran dengan penggunaan alat peraga, latihan berulang, permainan edukatif, serta suasana kelas yang positif sangat efektif dalam meningkatkan interaksi dan pemahaman siswa terhadap materi matematika. Manfaat penerapan metode GASING terlihat jelas dalam peningkatan minat belajar, penguasaan konsep, kepercayaan diri, hasil akademik siswa, serta terciptanya suasana belajar yang aktif dan Dengan demikian, metode GASING tidak hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan serta mendorong perkembangan sikap positif terhadap Hal ini diperkuat oleh temuan Gou et al. dan Damopolii et al. yang menunjukkan bahwa GASING memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan minat dan keterlibatan siswa dalam belajar matematika. Kombinasi antara kesesuaian metode dengan karakteristik perkembangan siswa SD dan bukti empiris dari penelitian terdahulu memperlihatkan bahwa GASING memang efektif sebagai model pembelajaran yang dapat meningkatkan pemahaman konsep, hasil belajar, sekaligus sikap positif siswa terhadap matematika. CONCLUSION Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa: Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika pada tahap pre-test sebelum menggunakan metode GASING memiliki kategori rendah, dengan nilai rata-rata sebesar 22,11. Sebagian besar siswa memperoleh skor pada rentang 21Ae30 . siswa dari total . , yang menunjukkan bahwa pemahaman awal mereka terhadap konsep matematika masih terbatas. Setelah diberikan pembelajaran dengan menggunakan metode GASING, kemampuan siswa meningkat secara signifikan. Hasil post-test menunjukkan nilai rata-rata sebesar 69,03 dengan kategori baik, di mana mayoritas siswa mampu mencapai skor di atas 60, yang berarti mereka sudah memahami konsep-konsep matematika dasar dengan lebih cepat, mudah, dan menyenangkan. Dari hasil uji hipotesis diperoleh taraf signifikansi 0,05 . %) dengan nilai p-value 0,000, sehingga terdapat pengaruh yang signifikan antara penerapan metode GASING terhadap hasil belajar matematika siswa SD Negeri 125543 Lapangan Bola. REFERENCES