POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5 Issue 1 . , pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Problem Based Learning dan Culturally Responsive Teaching: Membangun Pemahaman Konsep Geometri melalui Anyaman Besek dan Aseupan Nelis Alfany Santiaji 1*. Mega Nur Prabawati 2 Universitas Siliwangi. Tasikmalaya *Corresponding Author: nelisalfany@gmail. Submitted: 13 December 2025 | Revised: 30 January 2026 | Accepted: 02 February 2026 Abstrak Persepsi umum yang melekat pada matematika sebagai mata pelajaran yang abstrak menyebabkan rendahnya minat siswa dalam mempelajari matematika. Untuk mengatasi hal tersebut, sinergi model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) menjadi solusi yang diajukan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses implementasi PBL dengan pendekatan CRT dan menganalisis dampaknya terhadap pemahaman konsep geometris. Konteks budaya yang diangkat yaitu kerajinan anyaman khas Sunda yaitu AobesekAo dan AoaseupanAo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengambilan sampel secara acak dengan mengambil 33 siswa kelas IX A di SMP Terpadu Al Hasan Ciamis. Instrumen penelitian yang dipakai yaitu soal LKPD berbasis budaya AobesekAo dan AoaseupanAo dan instrumen pendukung dalam Teknik penelitiannya yaitu wawancara tidak terstruktur dan observasi partisipan langsung dengan teknis analisis yang dilakukan dengan tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi PBL dan CRT melalui konteks budaya AobesekAo dan AoaseupanAo membuat siswa lebih mudah memahami konsep abstrak geometri. Proses pembelajaran lebih berpusat pada siswa yang meningkatkan keterlibatan langsung dan sebagai apresiasi terhadap budaya lokal. Kata Kunci: problem based learning, culturally responsive teaching, pemahaman konsep, geometri Abstract The common perception of mathematics as an abstract subject leads to low student interest in learning To address this, the synergy of the Problem Based Learning (PBL) model and the Culturally Responsive Teaching (CRT) approach is proposed as a solution. This study aims to describe the implementation process of PBL with a CRT approach and analyze its impact on the understanding of geometric concepts. The cultural context used is the traditional Sundanese woven crafts AobesekAo and AoaseupanAo. This research uses a descriptive qualitative approach with random sampling, taking 33 students of class IX A at Al Hasan Ciamis Integrated Junior High School. The research instruments employed are cultural-based worksheets (LKPD) on AobesekAo and AoaseupanAo and supporting observation The research techniques include unstructured interviews and direct participant observation, with analysis conducted through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion The results show that the integration of PBL and CRT through the cultural context of AobesekAo and AoaseupanAo helps students more easily understand abstract geometric concepts. The learning process becomes more student-centered, enhancing direct engagement and appreciation for local Keywords: problem based learning, culturally responsive teaching, conceptual understanding. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author | 211 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati PENDAHULUAN Bagi kalangan siswa bukan menjadi suatu yang tidak biasa bahwa matematika seringkali dianggap sebagai salah satu mata pelajaran yang sulit. Persepsi umum yang melekat pada matematika sebagai mata pelajaran yang abstrak, banyak akan rumus yang rumit, dan beberapa siswa mengatakan bahwa kurang memiliki keterkaitan dengan realitas kehidupan (Antara et al. , 2. Pandangan ini dapat menyebabkan rendahnya minat siswa dalam mempelajari matematika. Rendahnya minat tersebut berdampak yang menyebabkan kurangnya pemahaman konseptual dan kemampuan pemecahan masalah pada siswa (Septiani et al. , 2. Hal tersebut menjadi sangat krusial salah satunya pada geometri yang dapat mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Penemuan kesalahan pemahaman konsep geometri khususnya pada konsep titik, sudut hingga bangun ruang akan menghambat pemahaman materi yang lebih kompleks di kemudian hari (Hrp et al. , 2. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukannya inovasi dalam proses pembelajaran matematika dengan pendekatan pembelajaran yang mampu menjembatani kesenjangan antara konsep matematika geometri yang abstrak dan formal dengan pengalaman dan konteks realitas yang berada di sekitar kehidupan siswa. Salah satu model pembelajaran yang efektif dalam mengatasi pemahaman konsep dengan pengalaman realitas di sekitar siswa yaitu Problem Based Learning (PBL). PBL adalah pendekatan pedagogis yang proses pembelajarannya berpusat pada siswa untuk menyelesaikan masalah yang terbuka dan otentik (Nurlatifah, 2. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Mudhiah & Shodikin . bahwa Pembelajaran dengan berbasis masalah siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri dari hasil interaksi dengan lingkungannya sangat efektif untuk membangun kemampuan konsep dan penelaran geometris siswa. Proses pembelajaran dengan model PBL menjadi lebih bermakna bagi siswa, jika konteks masalah yang disajikan relevan dengan lingkungan di sekitar siswa. Penerapan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) dapat menjadi salah satu solusi untuk membangun pembelajaran yang dengan apresiasi budaya yang ada di lingkungan siswa. Pengitegrasian budaya ke dalam proses pembelajaran sama seperti mengimplementasikan konteks budaya ke dalam proses pembelajaran sama seperti mengintegrasikan budaya ke dalam kurikulum yang berarti pada proses pembelajaran di kelas pengetahuan budaya menjadi titik awal untuk mengeksplorasi konsep matematika (Udmah et al. , 2. Pendekatan CRT tidak hanya akan membuat pembelajaran menjadi lebih relevan, tetapi juga mengenalkan dan mengapresiasi budaya kepada siswa yang tujuannya melestarikan budaya itu sendiri dan meningkatkan rasa memiliki pada budaya. Penelitian ini berfokus pada implementasi model PBL yang diintegrasikan dengan pendekatan CRT dalam pembelajaran geometri bangun ruang sisi datar (Kubus/Balo. dan sisi lengkung (Kerucu. Konteks budaya yang diangkat adalah kerajinan anyaman khas Sunda, yaitu AobesekAo dan AoaseupanAo yang diambil dari hasil eksplorasi penelitian oleh Karim. Nurhayati, & Suryana . AoBesekAo merupakan kerajinan anyaman bambu berbentuk kotak yang digunakan untuk merepresentasikan konsep kubus dan balok. Sementara AoaseupanAo alat pengukus nasi yang berbentuk kerucut, digunakan untuk memberikan konsep kerucut. Selain memberikan konsep matematis, penggunaan kerajinan anyaman AobesekAo dan AoaseupanAo diharapkan mampu dikenal kepada siswa yang belum familiar bagi siswa khususnya siswa Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 212 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati yang berasal dari Ciamis. Diharapkan penggunaan konteks budaya mampu menjadi menjembatani benda konkret untuk memahami konsep abstrak geometri seperti volume dan luas permukaan. Dari beberapa penjelasan uraian yang diberikan, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam proses implementasi model PBL dengan pendekatan CRT dan menganalisis dampaknya terhadap pemahaman konsep geometri. Selain itu, diharapkan mampu menumbuhkan nilai apresiasi budaya pada siswa Kelas IX A di SMP Terpadu Al Hasan Ciamis. Temuan dari penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan wawasan tentang cara merancang pembelajaran matematika yang lebih bermakna, kontekstual, dan responsif secara METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif. Metode ini dipilih untuk memberikan gambaran yang kaya dan mendalam . hick descriptio. bagaimana proses pembelajaran terjadi di dalam kelas, interaksi antar siswa, serta respons siswa terhadap model dan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Fokusnya yaitu menganalisis fenomena dari perspektif partisipan yaitu siswa. Subjek penelitian sebanyak 33 siswa kelas IX A di SMP Terpadu Al Hasan Ciamis yang diambil dengan pengambilan sampel secara acak. Prosedur penelitian ini terdiri dari tiga tahapan yang sistematis yaitu tahap perencanaan, tahap implementasi, dan tahap analisis. Pada tahap perencanaan, merancang modul ajar yang secara spesifik mengintegrasikan model PBL dengan pendekatan CRT. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang telah divalidasi oleh ahli dikembangkan dengan menyajikan masalah-masalah kontekstual yang memuat konteks budaya AobesekAo dan AoaseupanAo. Pembuatan instrumen penelitian lain yaitu rubrik observasi sikap, keterampilan juga disiapkan pada tahapan perencanaan. Kemudian, tahapan selanjutnya dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan modul ajar yang telah dibuat. Terakhir, tahap analisis dengan mengumpulkan data dari tahap implementasi kemudian dianalisis secara kualitatif untuk menarik kesimpulan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara tidak terstruktur dan teknik observasi partisipan dimana peneliti terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Setelah itu, menganalisis hasil LKPD yang difokuskan kepada pemahaman siswa terhadap mengkomunikasikan hasil temuannya. Sedangkan untuk teknis analisis data dilakukan melalui tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL PENELITIAN Proses pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan lima fase model PBL yang telah dirancang pada Modul Ajar. Berikut merupakan deskripsi dari setiap fase berdasarkan catatan observasi lapangan dan wawancara tidak terstruktur Fase 1: Orientasi Siswa Pada Masalah Pembelajaran dimulai dengan guru menunjukkan gambar kerajinan anyaman AobesekAo dan AoaseupanAo. Suasana kelas menjadi hidup saat siswa dengan antusias merespons pertanyaan pemantik. Ausiapa yang tahu benda ini?Ay. Auada yang tau, biasanya digunakan untuk Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 213 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati apa?Ay. Hampir semua siswa mengangkat tangan dan berbagi pengalaman yang menunjukkan bahwa objek tersebut familiar. Ketiga guru mengarahkan diskusi ke konsep matematika dengan bertanya AuBentuk bangun ruang apa yang sama dengan benda-benda ini?Ay, beberapa siswa langsung menjawab AukotakAy untuk AobesekAo dan AukerucutAy untuk AoaseupanAo. Fase ini berhasil menarik perhatian dan membangun jembatan antara pengalaman sehari-hari siswa dengan konsep geometri yang akan dipelajari. Fase 2: Mengorganisasikan Siswa untuk Belajar Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, kemudian guru membagikan LKPD yang berisi tiga permasalahan utama yaitu . menghitung volume dan luas permukaan AobesekAo, . menganalisis cara menghitung luas selimut AoaseupanAo, dan . memilih AoaseupanAo dengan volume terbesar dari beberapa pilihan ukuran. Pada tahap ini, siswa langsung terlibat dalam membaca dan memahami masalah dalam LKPD. Fase 3: Membimbing Penyelidikan Kelompok Fase ini merupakan fase inti dari proses pembelajaran menggunakan model pembelajaran PBL. Siswa melakukan diskusi di setiap kelompoknya untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan seperti pada Gambar 1 Gambar 1. Penyelidikan Setiap Kelompok Pada permasalahan mengenai soal nomor pertama mengenai AobesekAo. Kelompok 1 (K. dan Kelompok 2 (K. mengidentifikasi bentuk AobesekAo yang ditunjukkan sebagai balok yang ditunjukkan pada Gambar 2. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 214 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati Gambar 2. Penyelesaian jawaban K1 dan K2 pada soal nomor satu Namun, penyelesaian jawaban berbeda seperti pada Gambar 3 dari Kelompok 3 (K. yang mengidentifikasi bahwa bentuk AobesekAo yang diberikan berbentuk seperti kubus Gambar 3. Penyelesaian jawaban K3 pada soal nomor satu Guru : AuKenapa kalian mengidentifikasi AobesekAo ini menyerupai kubus?Ay : AuKarena bentuknya kotak seperti kubus, kami juga tidak memperhatikan ukurannya, hanya bentuknya saja. Ay Pada permasalahan benda AoaseupanAo, siswa harus menganalisis bentuk geometri apa yang terbentuk dari benda AoaseupanAo dan menganalisis luas permukaanya seperti pada Gambar 4. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 215 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati Gambar 4. Permasalahan kedua pada LKPD Setiap kelompok mampu menyelesaikan permasalahan tersebut dengan menganalisis bahwa bentuk AoaseupanAo tersebut merupakan seperti bentuk kerucut sehingga untuk mencari luas permukaan AoaseupanAo setiap kelompok menggunakan rumus luas permukaan selimut kerucut seperti pada Gambar 5. Gambar 5. Penyelesaian jawaban K1. K2, dan K3 pada soal nomor dua Pada permasalahan benda AoaseupanAo yang lain, siswa harus menghitung volume dari lima kerucut yang berbeda untuk menentukan AoaseupanAo yang memiliki volume terbesar seperti pada Gambar 6. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 216 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati Gambar 5. Permasalahan ketiga pada LKPD Setiap kelompok menjawab dengan berbagai macam cara yang berbeda. Pada Gambar 6. K1 dan K3 menjawab dengan mencari semua volume AoaseupanAo yang mungkin menggunakan konsep volume kerucut. Setelah didapatkan semua hasil kemudian K1 menyimpulkan mana ukuran AoaseupanAo yang memiliki volume yang paling besar Gambar 6. Penyelesaian jawaban K1 pada soal nomor tiga Berbeda dengan K1 dan K3, penyelesaian permasalahan soal nomor tiga oleh K2 langsung memilih dengan menganalisis AoaseupanAo mana yang memiliki volume yang terbesar. Guru : AuKenapa kalian hanya mencari volume AoaseupanAo dengan ukuran tertentu saja?Ay : AuKami hanya melihat dari ukuran diameter terpanjang dan tinggi AoaseupanAo yang tertinggi juga. Karena semakin tinggi dan semakin panjang diameter, volume nya akan semakin besar. Ay Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 217 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati Gambar 6. Penyelesaian jawaban K2 pada soal nomor tiga Fase 4: Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya Setelah setiap kelompok selesai melakukan penyelidikan dan menyelesaikan permasalahan yang diberikan, kemudian setiap kelompok maju ke depan untuk mempresentasikan solusi nya. K1 menjelaskan perhitungan volume AobesekAo. K2 menjelaskan mengenai analisis bentuk geometri apa yang terbentuk dari anyaman AoaseupanAo, dan K3 menjelaskan masalah AoaseupanAo mencari volume terbesar dari beberapa ukuran yang diberikan pada LKPD. Fase ini memunculkan diskusi antar-kelompok di mana kelompok lain memberikan tanggapan atau menanyakan langkah-langkah yang kurang jelas dari presentasi setiap kelompok bahkan berdiskusi mengenai jawaban yang berbeda dari hasil penyelesaian yang telah diselesaikan oleh setiap kelompok. Fase 5: Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah Pada fase terakhir pada proses pembelajaran menggunakan PBL yaitu Fase menganalisis dan mengevaluasi ini, guru memandu siswa untuk merefleksikan pembelajaran. Siswa diajak untuk menyimpulkan konsep-konsep kunci konsep matematika yang telah setiap kelompok gunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Kemudian juga memancing siswa mengenai pengalaman menggunakan benda budaya yang konkrit yang berada di sekeliling siswa seperti. AuApa manfaat kita belajar matematika melalui benda-benda budaya seperti AobesekAo dan AoaseupanAoAy, seorang siswa menjawab Aujadi lebih mudah bu, barangnya ada beneran. Ay adapun siswa yang menjawab AuSaya jadi tau Bu. AobesekAo dan AoaseupanAo itu seperti apa. Ternyata di rumah nenek saya ada, tapi saya tidak tahu namanya Ay. Jawaban dari beberapa siswa tersebut merangkum esensi dari keberhasilan membangun pemahaman konsep geometri melalui benda budaya sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 218 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi model Problem Based Learning (PBL) yang diintegrasikan dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) melalui benda budaya sunda yaitu AobesekAo dan AoaseupanAo memberikan dampak positif terhadap kemampuan konsep geometri siswa. Temuan di lapangan dari hasil pengamatan menunjukkan bahwa kelima fase PBL berhasil diimplementasikan dan keefektifan pendekatan CRT sebagai fasilitas yang menunjang dalam proses belajar dengan konteks permasalahan sehari-hari mampu membuat proses pembelajaran menjadi berpusat pada siswa sehingga siswa aktif. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari pembelajaran PBL itu sendiri yaitu melakukan proses pembelajaran yang bertujuan siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran dengan permasalahan yang berada di lingkungan sekitar siswa (Ramadhani et , 2. Proses pembelajaran dengan PBL dimulai dari fase orientasi masalah, siswa menunjukkan antusiasme tinggi karena ada masalah yang disajikan relevan dengan pengamalan mereka. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar PBL yang menyatakan bahwa masalah otentik dan kontekstual berfungsi sebagai pemicu yang kuat untuk siswa belajar (Sunaryo et al. , 2. Peran pendekatan CRT sebagai konteks permasalahan budaya yang nyata, efektif dalam membantu mengkonkretkan konsep abstrak. Furner . menjelaskan bahwa pembelajaran matematika harus dimulai dari pengalaman benda yang nyata . Proses pembelajaran PBL menjadikan siswa secara aktif berdiskusi, berkolaborasi, dan membangun pemahaman konsep geometrinya. Seperti yang terlihat pada hasil penyelesaian setiap kelompok, terjadi proses kognitif yang beragam. Ada kelompok yang langsung menerapkan rumus dengan tepat . eperti K1 dan K2 pada soal konteks AobesekA. , ada yang melakukan kesalahan konseptual awal . eperti K3 yang menganggap soal AobesekAo pada LKPD yang diberikan sebagai kubu. , dan ada juga yang menggunakan penalaran intuitif untuk menyederhanakan masalah . eperti K2 pada soal volume AoaseupanA. Semua proses ini, termasuk kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran PBL. Kesalahan dan perbedaan jawaban siswa memberikan kesempatan bagi guru untuk memfasilitasi jalannya diskusi, sedangkan bagi siswa sebagai refleksi untuk diperbaiki. Hal tersebut mendukung penelitian oleh Ningsih. Rismen, & Haryono . yang menemukan bahwa PBL melatih siswa untuk memahami masalah, merencanakan strategi sesuai dengan pemahamannya, dan mengevaluasi solusi penyelesaian yang telah dibuat. Intervensi sinergi antara model PBL dengan pendekatan CRT menjadikan pembelajaran menjadi lebih terstruktur dan mendalam. Sebagai contoh, masalah Aumenghitung AobesekAo untuk dipakai menyimpan makanan berapa volume AobesekAo tersebut atau memilih AoaseupanAo akan dipilih Ibu untuk menanak nasi dengan jumlah porsi yang besarAy adalah masalah otentik yang menuntut penerapan konsep geometri. Tanpa konteks budaya, masalah ini hanya menjadi soal cerita biasa. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Fikri & Hartono . yang menganalisis efektivitas pembelajaran geometri berbasis budaya dengan pendekatan PBL dan hasil penelitiannya menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada disposisi matematis siswa dalam belajar matematika. Dari hasil temuan dan pembahasan, maka model PBL dengan pendekatan CRT menggunakan konteks budaya anyaman AobesekAo dan AoaseupanAo mampu membangun konsep geometri siswa. Hasil penelitian ini relevan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 219 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. 211-221, Nelis Alfany Santiaji. Mega Nur Prabawati Nursetyani & Hendriyanto . bahwa pembelajaran matematika menggunakan konteks budaya memperkaya media pembelajaran dengan konteks nyata sekaligus mendukung pelestarian budaya lokal. Selain itu penerapan Model PBL dengan pendekatan CRT berhasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa karena memecahkan masalah yang dikaitkan dengan karakteristik budaya dan kesehariannya sehingga pembelajaran lebih bermakna dan relevan bagi peserta didik (Girsang et al. , 2. Maka, sinergi integrasi model PBL dan pendekatan CRT dapat membangun pemahaman konsep geometri siswa dengan konteks budaya nyata yang berada di daerah siswa sekaligus mengenal dan menumbuhkan rasa cinta pada budaya lokal sunda, khususnya di daerah Ciamis. SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa implementasi model Problem Based Learning (PBL) yang diintegrasikan dengan pendekatan Culturally Responsive Teaching (CRT) melalui budaya anyaman AobesekAo dan AoaseupanAo terbukti efektif dalam membangun konsep geometri bangun ruang . ubus, balok, dan kerucu. pada siswa kelas IX SMP Terpadu Al Hasan Ciamis. Pendekatan ini mampu mengubah proses pembelajaran yang abstrak menjadi pengalaman yang konkret, kontekstual dan bermakna. Penggunaan kearifan lokal tidak hanya berfungsi sebagai media pembelajaran yang relevan, tapi juga berhasil meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan kemampuan pemecahan masalah, serta menumbuhkan apresiasi siswa terhadap budaya lokal. Saran untuk penelitian selanjutnya yaitu pengembangan bahan ajar digital dengan modul interaktif atau berbantuan aplikasi GeoGebra yang dapat membantu mengintegrasikan konteks budaya seperti bentuk geometri yang dapat mengembangkan dan mendukung implementasi proses pembelajaran secara lebih luas dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA